Hasil
Tingkat Stres Lobster Pasir
Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap tingkat stres lobster pasir, maka perlu diketahui indikator stres akibat perlakuan. Dalam penelitian ini, indikator stres yang diukur adalah kadar kortisol dan glukosa pada hemolim.
Kadar kortisol
Hasil pengukuran kadar kortisol lobster pasir pada setiap perlakuan disajikan pada Gambar 2 dan Lampiran 4. Kadar kortisol tertinggi adalah pada perlakuan K (kontrol tanpa kompartemen dan shelter) dengan kepadatan 20 ekor/m2 sebesar 1.59 nmol/l dan terendah pada kepadatan KM1 (kompartemen) dengan kepadatan 25 ekor/m2 sebesar 1.17 nmol/l. Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh terhadap kadar kortisol lobster pasir pada tingkat kepercayaan (p>0.05) (Lampiran 9)
13
Gambar 2 Rerata kadar kortisol lobster pasir Panulirus homarus Kadar glukosa
Hasil pengukuran kadar glukosa dan lobster pasir pada setiap perlakuan disajikan pada Gambar 3 dan Lampiran 5. Kadar glukosa tertinggi adalah pada perlakuan K (kontrol tanpa kompartemen dan shelter) dengan kepadatan 20 ekor/m2 sebesar 17.31 mg/dl dan terendah pada kepadatan KM1 (kompartemen) dengan kepadatan 25 ekor/m2 sebesar 8.34 mg/dl. Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh terhadap kadar glukosa lobster pasir pada tingkat kepercayaan (p<0.05). Berdasarkan uji lanjut, perlakuan kontrol berbeda nyata dengan perlakuan KM1 namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan KM2 (Lampiran10)
Gambar 3 Rerata kadar glukosa lobster pasir Panulirus homarus
1.59a 1.17a 1.43a 0 0.5 1 1.5 2 K KM1 KM2 K or tisol (n m ol/ l) Perlakuan 17.31a 8.34b 14.21a 0 5 10 15 20 25 K KM1 KM2 G lu k osa (m g/d l) Perlakuan
14
Pertumbuhan Laju pertumbuhan relatif
Hasil pengukuran laju pertumbuhan relatif lobster pasir pada setiap perlakuan disajikan pada Gambar 4 dan Lamiran 6. Laju pertumbuhan relatif tertinggi adalah pada perlakuan KM1 (kompartemen) dengan kepadatan 25 ekor/m2 sebesar 26.29% sedangkan terendah adalah pada perlakuan KM2 (kompartemen) dengan kepadatan 50 ekor/m2 sebesar 13.51%. Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan relatif lobster pasir pada tingkat kepercayaan (p<0.05). Berdasarkan uji lanjut, perlakuan KM1 berbeda nyata dengan perlakuan KM2 namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol (K) (Lampiran 11)
Gambar 4 Laju pertumbuhan relatif lobster pasir pada kepadatan yang berbeda
Laju pertumbuhan spesifik
Hasil pengukuran laju pertumbuhan spesifik lobster pasir pada setiap perlakuan disajikan pada Gambar 5 dan Lampiran 7. Laju pertumbuhan spesifik tertinggi adalah pada perlakuan KM1 dengan kepadatan 25 ekor/m2 sebesar 0.75% sedangkan terendah adalah pada perlakuan KM2 dengan kepadatan 50 ekor/m2 sebesar 0.33%. Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan spesifik lobster pasir pada tingkat kepercayaan (p<0.05). Berdasarkan uji lanjut, perlakuan KM1 berbeda nyata dengan perlakuan KM2 namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol (K) (Lampiran 12) . 16.15ab 26.29a 13.51b 0 5 10 15 20 25 30 35 K KM1 KM2 L a ju Pe r tu m b u h a n R e la ti f (% ) Perlakuan
15
Gambar 5 Laju pertumbuhan spesifik lobster pasir pada perlakuan yang berbeda
Tingkat Kelangsungan Hidup
Hasil pengukuran tingkat kelangsungan hidup lobster pasir pada setiap perlakuan disajikan pada Gambar 6 dan Lampiran 8. Tingkat kelangsungan hidup tertinggi adalah pada perlakuan KM2 (kompartemen) dengan kepadatan 50 ekor/m2 sebesar 95% sedangkan terendah adalah pada perlakuan K (non kompartemen) dengan kepadatan 20 ekor/m2 sebesar 62.5%. Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup lobster pasir pada tingkat kepercayaan (p<0.05). (Lampiran 13)
Gambar 6 Tingkat kelangsungan hidup lobster pasir pada perlakuan yang berbeda
Pola Hubungan Pertumbuhan dengan Tingkat Stres
Pola hubungan antara laju pertumbuhan relatif dengan kadar glukosa dan kortisol relatif disajikan pada Gambar 7. Berdasarkan scatterplot 3 dimensi terlihat bahwa pertumbuhan tertinggi diperoleh ketika ada penurunan kadar glukosa dan kortisol didalam hemolim lobster pasir.
0.495ab 0.77a 0.42b 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1 K KM1 KM2 Laju Pe rtu mb u h an S p e si fi k (% ) Perlakuan 62.5b 84ab 95a 0 20 40 60 80 100 120 K KM1 KM2 Kel a n g su n g a n Hi d u p ( % ) Perlakuan
16 1 1.75 1.50 10 15 20 .25 25 9 12 15 1.00 18 Pe rtu m bu h an re l ati f (%) kortisol (nmol/l) Glukosa (mg/dl)
Pola hubungan laju pe rtumbuhan re latif de ngan kadar glukos a dan kortis ol
Gambar 7 Pola hubungan laju pertumbuhan relatif dengan tingkat stress
Tingkah Laku Lobster Pasir
Pengamatan tingkah laku lobster pasir yang dipelihara didalam kompartemen selama penelitian menujukkan aktivitas yang normal. Adapun tingkah laku dominan lobster pasir yang teridentifikasi didalam kompartemen dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Tingkah laku lobster pasir selama pemeliharan
No Tingkah laku Keterangan Gambar
1 Lobster pasir cenderung berlindung pada shelter pada pagi – siang hari
2 Lobster pasir cenderung bergerombol antar sesama
3 Lobster pasir budidaya tidak bersifat nokturnal, lobster cenderung mengambil pakan walaupun pakan diberikan pada pagi dan siang hari, sebagian lobster ada yang membawa pakan tersebut ke dalam shelter
17
No Tingkah laku Keterangan Gambar
4 Lobster pasir merambat ke atas kompartemen
5 Lobster pasir melakukan aktivitas molting
Parameter Kualitas Air
Kisaran mengenai parameter kualitas air yang diukur selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 8 - Gambar 13. Data pengamatan kualitas harian menunjukkan bahwa terjadi fluktuasi suhu, salinitas, TDS, DO dan pH air laut. Suhu air laut cenderung meningkat pada hari ke-3 dan ke-28 dan salinitas cenderung meningkat pada hari ke-14. Sedangkan untuk parameter TDS, DO dan pH menunjukan grafik yang sama, yaitu terjadi peningkatan pada hari ke-14 tapi menurun di hari ke-28. Nilai kualitas air selama pemeliharaan pasir berada dalam kisaran yang cukup baik. Suhu air berkisar antara 27.79-29.670C, salinitas berkisar antara 32.57-34.09 ppt, TDS berkisar antara 32.46-33.76 mg/l, kandungan oksigen terlarut (DO) berkisar antara 5.24 hingga 6.74 mg/l dan kandungan pH berkisar antara 8.2- 8.3.
Gambar 8 Data suhu harian Gambar 9 Data salinitas harian 26 27 28 29 30 31 0 7 14 30 S u h u (0C) Hari Ke-31 31.5 32 32.5 33 33.5 34 34.5 35 0 7 14 30 S al in itas (p p t) Hari
Ke-18
Gambar 10 Data TDS harian Gambar 11 Data DO harian
Gambar 12 Data pH harian Gambar 13 Data rata-rata kualitas air
Pembahasan
Kadar kortisol dan glukosa lobster pasir yang dipelihara tanpa kompartemen dan shelter pada kepadatan 20 ekor/m2 cenderung tinggi dibandingkan lobster pasir yang dipelihara menggunakan kompartemen dengan kepadatan 25 ekor/m2 dan 50 ekor/m2, hal ini menunjukkan bahwa lobster pasir yang dipelihara tanpa menggunakan kompartemen dan shelter cenderung stres, diduga lobster pasir tidak mempunyai tempat berlindung ketika akan melakukan molting, sehingga lobster yang lain cenderung bersifat kanibalisme.
Sifat kanibalisme ini sering timbul pada lobster yang sehat. Sasaran pemangsaan adalah lobster yang sedang dalam proses ganti kulit (molting). Lobster yang baru molting badannya masih lembek, berwarna putih kepucatan dan mengeluarkan aroma yang menarik selera pemangsa. Makin tinggi kadar glukosa pada hemolim mengindikasikan meningkatnya level stres akibat tingginya kepadatan. Pada level stres yang sangat tinggi, peningkatan yang cepat dari glukosa dan bertahan pada level tinggi akan diikuti dengan kematian (Brown 1993).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar kortisol dan glukosa meningkat setelah diberi perlakuan. Woodward and Strange (1987) mengamati kortisol ikan trout pelangi mengalami peningkatan 3 kali lebih besar dari ikan hatchery saat terkena perlakuan wadah yang bersih dan kejutan listrik. Di sisi lain seperti yang dinyatakan sebelumnya, stres hormon seperti katekolamin, kortisol dan lain-lain dapat dipengaruhi oleh faktor internal atau kondisi eksternal (Anoxia, polusi, stres nutrisi, stres fisik). Sedangkan menurut Pickering (1981), penyebab
31 32 33 34 35 0 7 14 30 TD S ( g /l ) Hari Ke-8.05 8.1 8.15 8.2 8.25 8.3 8.35 0 3 14 28 Oksi g e n Te rl ar u t (m g /l ) Hari Ke 8.05 8.1 8.15 8.2 8.25 8.3 8.35 0 3 14 28 pH Hari Ke-0 10 20 30 40 Minimum Maksimum Rata-rata
19
stres atau stressor diakibatkan oleh perubahan lingkungan (perubahan suhu, kepadatan, salinitas, perubahan tekanan air, polusi, pH, penyakit, perubahan arus air, muatan-muatan sedimen, konsentrasi DO dan ketersediaan makanan, penanganan/handling (pemeliharaan tank, transportasi dan pemindahan ikan dengan serok atau ember) dan penangkapan (capture) dengan pukat harimau, trammel net, dan gill net,
Selain penggunaan kompartemen, syarat lain yang harus dipenuhi dalam rangka meminimalisir tingkas stres adalah nilai nutrisi pakan dan faktor lingkungan yang sesuai selama pemeliharaan. Menurut Barton et al. (1987) status kelengkapan nutrisi dapat mempengaruhi respon stres dan glukosa. Asupan diet dengan lipid yang berbeda dan kadar protein mengakibatkan berbagai respon glukosa (Cheng et al. 2006).
Perbedaan nilai pertumbuhan dan kelangsungan hidup antar perlakuan disebabkan perbedaan tipe wadah yang digunakan lobster pasir selama pemeliharaan, dimana pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup lobster pasir yang menggunakan kompartemen dan shelter cenderung lebih tinggi dibandingkan lobster pasir yang dipelihara tanpa menggunakan kompartemen dan shelter. Hal ini diduga kanibalisme lebih banyak terjadi pada lobster pasir yang dipelihara tanpa kompartemen dan shelter. Menurut Rao et al. (2010), shelter pipa dapat mencegah terjadinya kanibalisme saat terjadi molting, sehingga perlakuan kontrol dengan kepadatan 20 ekor/m2 tanpa menggunakan shelter, memungkinkan terjadi kanibalisme lebih besar dibandingkan lobster pasir yang dipelihara dikompartemen menggunakan shelter pipa. Namun demikian, tingkat kelangsungan hidup lobster pasir yang dipelihara didalam kompartemen dengan kepadatan 50 ekor/m2 lebih tinggi dibandingkan kepadatan 25 ekor/m2, hal ini dikarenakan lobster pasir cenderung bersifat agresif dan akan mempertahankan sifat soliter dan territorial atau penguasaan wilayah, sehingga peluang kanibalisme lebih besar terjadi pada kepadatan 25 ekor/m2 (Marx and Herrnkind 1985)
Pada budidaya lobster dengan kepadatan yang cukup tinggi (intensif), peningkatan padat penebaran akan diikuti dengan meningkatnya kebutuhan pakan, oksigen, dan kotoran (metabolit dan sisa pakan), sehingga pertumbuhan lobster pasir cenderung menurun dengan kepadatan tinggi. Hal ini terlihat pertumbuhan lobster pasir pada perlakuan KM2 cenderung lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan KM1.
Laju pertumbuhan juga bergantung dari frekuensi molting dan perubahan ukuran per molting. Secara periodik lobster akan berganti kulit (molting) yaitu kulit yang lama akan ditanggalkan dan diganti dengan kulit yang baru. Pada saat pergantian kulit tersebut bisanya diikuti dengan pertumbuhan dan pertambahan berat. Menurut Quackenbush (1986), diketahui bahwa ada 2 faktor yang mempengaruhi molting pada krustasea yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal diantaranya; adanya stressor, nutrisi, photoperiod dan temperatur sedangkan faktor internal terkait dengan produksi hormon ekdisteroid dan Molt Inhibiting Hormone (MIH).
Berdasarkan scatterplot 3 dimensi terlihat bahwa pertumbuhan tertinggi diperoleh ketika ada penurunan kadar kortisol dan glukosa didalam hemolim lobster pasir. Laju pertumbuhan relatif memiliki hubungan yang kuat dengan kadar kortisol dan glukosa, artinya peningkatan pertumbuhan disebabkan oleh penurunan tingkat stres (kadar kortisol dan glukosa). Kadar kortisol dan glukosa
20
pun memiliki hubungan yang positif, artinya peningkatan kadar kortisol diikuti oleh peningkatan kadar glukosa, hal ini sesuai dengan pendapat Hemre and Krogdahl (1996) dan Falahatkar and Barton (2007) bahwa kortisol dapat meningkatkan kadar glukosa pada hemolim, gangguan pada sekresi kortisol dapat merubah respon nilai glukosa dan peningkatan glukosa dapat dikaitkan dengan perbedaan mekanisme aksi dari kortisol.
Keberhasilan usaha budidaya lobster pasir di keramba jaring apung tidak dapat terlepas dari kondisi lingkungan sekitarnya, terutama kualitas air sebagai media yang secara langsung mempengaruhi aktivitas budidaya lobster pasir. Kandungan oksigen terlarut (DO) yang diukur selama penelitian berkisar antara 5.24 hingga 6.74 mg/l. Nilai ini masih pada kisaran yang baik, kisaran nilai optimum oksigen terlarut bagi pertumbuhan krustacea adalah 5 mg/l. Meskipun demikian, kandungan oksigen telarut 4.21 hingga 5.43 mg/l masih dapat memberikan pertumbuhan dan kelangsungan hidup yang baik (Boyd 1982). Kebutuhan oksigen lobster juga akan meningkat saat mengkonsumsi makanan dan kebutuhan oksigen pada malam hari jauh lebih tinggi dibandingkan siang hari. Namun, tingkat oksigen yang rendah (0.5 dan 3.0 mg/l) dapat mematikan lobster. (Philips and Kiitaka 2000).
Tingkat pertumbuhan antar spesies lobster bervariasi, suhu air sangat mempengaruhi pertumbuhan juvenil lobster. Secara umum lobster dalam air hangat dapat tumbuh pada tingkat tercepat. Berbagai macam suhu telah ditolerir oleh lobster. Suhu di atas ambien (tetapi sampai maksimum) biasanya menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat, lebih besar daripada yang terlihat di alam liar. Pertumbuhan yang lebih cepat terutama berasal dari frekuensi molting yang tinggi. Suhu air laut yang diukur selama penelitian berkisar antara 27.79-29.670C, nilai ini masih pada kisaran yang baik. Menurut (Philips and Kiitaka, 2000), pertumbuhan optimal dalam juvenil terjadi pada sekitar 18-200C (untuk J. edwardsii dari Australia) sampai 29-300C (P.argus dari Antigua).
Salinitas perairan selama penelitian berkisar antara 32.57-34.09 ppt, masih pada kisaran yang baik, lobster pasir masih bisa mentolerir nilai salinitas, karena lobster pasir merupakan spesies palinurid poikilosmotik yaitu masih bisa mentolerir salinitas di perairan laut sampai 20% dibawah salinitas laut selama beberapa hari. Salinitas air laut dapat mempengaruhi rasa daging lobster berduri (Philips and Kiitaka, 2000).
5 SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Tingkat stres lobster pasir yang dipelihara tanpa kompartemen dan shelter lebih
tinggi dibandingkan lobster pasir yang dipelihara menggunakan kompartemen dan shelter
2. Laju pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup lobster pasir yang dipelihara di dalam kompartemen lebih tinggi dibandingkan lobster pasir yang dipelihara tanpa kompartemen
21
3. Lobster pasir yang dipelihara didalam kompartemen menunjukkan aktivitas yang normal seperti berlindung pada shelter pada pagi – siang hari, bergerombol antar sesama, mengambil pakan walaupun pakan diberikan pada pagi dan siang hari, membawa pakan tersebut ke dalam shelter, merambat ke atas kompartemen dan melakukan aktivitas molting
Saran
Perlu dilakukan pemeliharaan lobster pasir di kompartemen sampai periode panen untuk melihat efisiensi pemanfaatan kompartemen di dalam sistem budidaya lobster pasir.