• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil identifikasi tumbuhan yang dilakukan di “Herbarium Bogoriense”, Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi-LIPI Bogor menyatakan bahwa tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Belimbing Manis (Averrhoa

carambola L), family Oxalidaceae. Identifikasi dapat dilihat pada lampiran 1

halaman 50.

4.2 Hasil Karakterisasi Simplisia

Hasil pemeriksaan makroskopik buah segar belimbing manis adalah bentuknya merupakan buah buni, berusuk lima, bila dipotong melintang berbentuk bintang, berwarna kuning kehijauan atau kuning, berbiji banyak berwarna putih kotor kecoklatan, pipih, berbentuk elips dengan kedua ujung lancip. Rasanya manis sampai asam sedangkan pemeriksaan makroskopik simplisia buah belimbing manis adalah kulitnya berkeriput, panjangnya 3-5 cm, tidak berbau, tidak berasa, berwarna kuning kecoklatan.

Hasil pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia buah belimbing manis memperlihatkan adanya berkas pengangkut, perenkim, endosperm berisi butir pati, kristal kalsium oksalat bentuk druse, epidermis, serabut, sel batu. Pada penampang melintang buah belimbing manis segar memperlihatkan adanya epidermis, ruang antar sel berisi cairan, parenkim, berkas pengangkut, serabut, dan kristal kalsium oksalat bentuk druse sedangkan pada penampang melintang

biji memperlihatkan adanya epikarp, endokarp, sel batu, endosperm berisi butir pati. Gambar mikroskopik dapat dilihat pada lampiran 4 halaman 54-56.

Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia buah belimbing manis dapat dilihat pada tabel 1 berikut:

Tabel 1. Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia

No Parameter Hasil (%)

1 Kadar air 7,88 %

2 Kadar sari larut dalam air 21,71 % 3 Kadar sari larut dalam etanol 12,91 %

4 Kadar abu total 3,68 %

5 Kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,13 %

Penetapan kadar air dilakukan untuk mengetahui apakah simplisia memenuhi persyaratan, karena air merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroba, ternyata hasilnya memenuhi syarat yaitu 7,88% lebih kecil dari 10%. Penetapan kadar sari larut air untuk mengetahui kadar senyawa yang bersifat polar, sedangkan kadar sari larut dalam etanol dilakukan untuk mengetahui senyawa yang terlarut dalam etanol, baik polar maupun non polar. Penetapan kadar abu total dilakukan untuk mengetahui jumlah logam-logam berat dan mineral dalam simplisia, misalnya logam Ca, Mg, Fe, Mn, Zn dan mineral misalnya K, Na sedangkan penetapan kadar abu tidak larut dalam asam dilakukan untuk mengetahui kadar senyawa yang tidak larut dalam asam, misalnya silika, pasir. Perhitungan hasil karakterisasi simplisia dapat dilihat pada lampiran 8 halaman 60-64.

4.3 Hasil Skrining Fitokimia

Hasil skrining fitokimia serbuk simplisia buah belimbing manis menunjukkan adanya golongan senyawa glikosida, saponin, flavonoid, triterpenoid/steroid. Hasil skrining dapat dilihat pada tabel 2 berikut.

Tabel 2. Hasil Skrining Fitokimia

No Golongan senyawa yang diperiksa Hasil skrining

1 Alkaloid - 2 Glikosida + 3 Saponin + 4 Flavonoid + 5 Antrakinon _ 6 Tanin _ 7 Triterpenoid/steroid +

Keterangan : + = Mengandung senyawa yang diperiksa - = Tidak mengandung senyawa yang diperiksa

Pada serbuk simplisia buah belimbing manis yang ditambahkan pereaksi Molish dan asam sulfat pekat dimana terbentuk cincin berwarna ungu pada batas cairan menunjukkan adanya glikosida. Penambahan 10 ml air panas, didinginkan dan kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik dengan adanya buih yang mantap selama tidak kurang dari 10 menit, setinggi 1-10 cm dan tidak hilang dengan penambahan asam klorida 2N menunjukkan adanya saponin. Penambahan serbuk Mg dan asam klorida pekat dan amil alkohol, dan dibiarkan memisah memberikan warna kuning jingga, menunjukkan adanya senyawa flavonoid. Penambahan Liebermann-Burchard memberikan warna ungu menunjukkan adanya triterpenoid dan memberikan warna biru atau hijau menunjukkan adanya

steroid. Hasil skrining fitokimia simplisia buah belimbing manis memperlihatkan adanya golongan senyawa glikosida, saponin, flavonoid, triterpenoid/steroid.

Adanya kandungan senyawa flavonoid menunjukkan bahwa buah belimbing manis mempunyai aktivitas antimikroba dimana flavonoida merupakan golongan senyawa fenol (Robinson, 1995). Golongan fenol diketahui memiliki aktivitas antimikroba yang bersifat bakterisida namun tidak bersifat sporisida (Pratiwi, 2008). Senyawa fenol bekerja dengan cara mendenaturasi protein sel dan merusak dinding sel bakteri sehingga bakteri mati, juga dapat mempresipitasikan protein secara aktif dan merusak lipid pada membran sel melalui mekanisme penurunan tegangan permukaan membran sel (Pelczar dan Chan, 1986).

Flavonoida bekerja pada bakteri dengan cara merusak membran sitoplasma. Membran sitoplasma bakteri sendiri berfungsi mengatur masuknya bahan-bahan makanan atau nutrisi, apabila membran sitoplasma rusak maka metabolit penting dalam bakteri akan keluar dan bahan makanan untuk menghasilkan energi tidak dapat masuk sehingga terjadi ketidakmampuan sel bakteri untuk tumbuh dan pada akhirnya terjadi kematian.

Hasil ekstraksi dengan menggunakan pelarut metanol diperoleh ekstrak sebanyak 89,6 g dengan pH 3.

4.4 Hasil Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Metanol Buah Belimbing Manis Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

Hasil uji aktivitas antimikroba menunjukkan bahwa ekstrak metanol dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak akan menghasilkan diameter daerah hambatan yang semakin besar.

Hasil pengukuran diameter daerah hambatan ekstrak metanol, dapat dilihat pada tabel 3 berikut.

Tabel 3. Hasil Pengukuran Diameter Daerah Hambatan Pertumbuhan Bakteri

Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli

Konsentrasi (mg/ml)

Diameter daerah hambatan (mm)*

Staphylococcus aureus Escherichia coli 500 17,53 26,86 400 16,50 26,13 300 15,13 25,04 200 14,76 23,86 100 14,20 22,00 90 13,06 20,76 80 12,40 19,36 70 11,50 16,83 60 9,93 16,06 50 8,80 14,23 40 - 11,33 30 - - 20 - - 10 - - Blanko - -

Keterangan: (*) = Hasil rata-rata tiga kali pengukuran, (-) = Tidak ada hambatan

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah menentukan diameter zona hambat pertumbuhan bakteri, dimana diameter zona hambat akan meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak. Hal ini membuktikan bahwa peningkatan konsentrasi terhadap ekstrak buah belimbing manis memiliki korelasi positif terhadap peningkatan diameter zona hambat pertumbuhan bakteri

Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Dari data di atas menunjukkan

bahwa ekstrak buah belimbing manis dapat menghambat pertumbuhan bakteri

Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, sedangkan pada blanko tidak

menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap kedua bakteri yang digunakan. Aktivitas antibakteri dapat disebabkan adanya kandungan senyawa kimia yaitu flavonoida.

Hasil uji aktivitas antimikroba dari ekstrak tersebut diperoleh batas daerah hambat yang efektif pada bakteri Staphylococcus aureus dengan konsentrasi 100 mg/ml dengan diameter 14,20 mm, pada bakteri Escherichia coli dengan konsentrasi 50 mg/ml dengan diameter 14,23 mm. Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif sedangkan bakteri Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif. Dengan demikian ekstrak buah belimbing manis lebih kuat dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli, hal ini disebabkan karena buah belimbing manis mengandung asam dengan pH 3 dimana bakteri Gram negatif membran selnya mengandung lipopolisakarida yang terdiri dari lipid dan lipoprotein sehingga lipid dari bakteri Escherichia coli akan rusak pada keadaan asam dan jika dibandingkan dengan bakteri Staphylococcus aureus yaitu Gram positif dimana membran selnya mengandung peptidoglikan sehingga tahan terhadap asam. Batas daerah hambat dinilai efektif apabila memiliki diameter daya hambat lebih kurang 14 mm sampai 16 mm (Ditjen POM, 1995).

4.5 Hasil Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Metanol Buah Belimbing Manis Terhadap Jamur Candida albicans dan Microsporum gypseum

Hasil uji aktivitas antimikroba terhadap jamur Candida albicans dan

Microsporum gypseum dari ekstrak metanol tidak memberikan diameter daerah

hambatan. Hasil pengukurannya dapat dilihat pada tabel 4 berikut.

Tabel 4. Hasil Pengukuran Diameter Daerah Hambatan Pertumbuhan Jamur

Candida albicans dan Microsporum gypseum

Konsentrasi (mg/ml)

Diameter daerah hambatan (mm)*

Candida albicans Microsporum gypseum

500 - - 400 - - 300 - - 200 - - 100 - - 90 - - 80 - - 70 - - 60 - - 50 - - 40 - - 30 - - 20 - - 10 - - Blanko - -

Keterangan: (*) = Hasil rata-rata tiga kali pengukuran (-) = Tidak ada hambatan

Pengujian ekstrak metanol tidak menunjukkan adanya daerah hambatan sehingga tidak dapat dikatakan sebagai antijamur.

Berdasarkan hasil pengujian yang diperoleh dapat dikatakan bahwa buah belimbing manis memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri sedangkan pertumbuhan jamur tidak dapat dihambat. Hal ini disebabkan karena golongan senyawa kimia yang terdapat dalam buah belimbing manis yaitu senyawa fenol yang berkhasiat sebagai antibakteri saja tetapi tidak berkhasiat sebagai antijamur. Selain itu juga bakteri memiliki spora yang berfungsi sebagai

reproduksi aseksual dan seksual sehingga memperbanyak pertumbuhan jamur. Oleh karena itu, senyawa flavonoid tersebut tidak mampu menghambat pertumbuhan jamur.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait