PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA PENINGKATAN USAHA KERAJINAN BATIK JAMBI
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kegiatan
Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan utama untuk meningkatkan produktivitas para pengrajin Batik Jambi yang tergabung dalam UKM
I ”Batik Maryana” di Muara Bulian Kabupaten Batang Hari, dan UKM II “Batik
Diana “ di Kota Jambi. Adapun hasil kegiatan yang telah dilaksanakan adalah
sebagai berikut:
1. Pelatihan administrasi dan pembukuan sederhana
Pelatihan administrasi dan pembukuan sederhana yang telah dilakukan sudah dapat meningkatkan kemampuan, pengetahuan dan semangat wirausaha para pengrajin batik. Meningkatnya kemampuan yang dimiliki para pengrajin batik dalam menyusun pembukuan usaha. Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan para pengrajin batik dalam manajemen usaha terutama manajemen pemasaran dalam rangka meningkatkan pendapatan usaha.
Para pengrajin mampu mengaplikasikan strategi dalam menentukan harga, sehingga laba dan rugi sangat mudah untuk diketahui. Para pengrajin mampu menyusun 3 buku/neraca pembukuan yang rapi, yaitu buku pembelian, buku penjualan, dan buku neraca laba rugi. Tabel 1 menunjukkan bahwa sudah ada perbaikan manajemen dan pembukuan sehingga dapat dilihat arus kas IKM. (Tabel 1).
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, dari keseluruhan pengrajin maka sekitar 60% pengrajin telah memiliki kemampuan dalam manajemen usaha. Menurut Doellah (2008), Devina (2010), dan Tirta (2008) bahwa UKM yang memiliki tata kelola dan manajemen yang bagus akan dapat bertahan di tengah-tengah krisis global.
Ekonomi, Sosial Budaya, dan Kesehatan | 170 Tabel 1. Rugi Laba IKM Batik Diana Tahun 2017
2. Pelatihan metode pewarnaan batik
Pelatihan metode pewarnaan batik lebih diutamakan untuk perwarnaan dengan bahan alam. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pengrajin mampu melakukan pewarnaan dengan menggunakan pewarna alami maupun kimia, dengan komposisi dan prosedur yang benar dan aman. Pengrajin memiliki pengetahuan tentang berbagai tumbuhan yang dapat digunakan sebagai pewarna alami.
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, dari keseluruhan pengrajin maka 100% pengrajin telah memiliki kemampuan melakukan pewarnaan dengan benar, baik dengan pewarna alami maupun kimia.
3. Pelatihan dan pendampingan pengembangan motif dan design batik
Pengembangan motif dan design batik bertujuan menambah wawasan dan design-design batik Jambi agar lebih variatif dan disukai oleh semua kalangan masyarakat. Pengrajin mampu melakukan pengembangan design-design motif batik sehingga dihasil 10 motif batik hasil pengembangan. Kkegiatan ini juga memberikan kesadaran kepada pengrajin batik untuk ikut menjaga kelestasian batik Jambi
Ekonomi, Sosial Budaya, dan Kesehatan | 171 melalui pengembangan motif khas Jambi. Menurut Asikin (2008) bahwa suatu motif batik merupakan ungkapan kultur daerah atau memiliki filosofi yang kental dengan budaya daerah. Sedangkan motif dan design batik merupakan salah factor yang mempengaruhi pengembangan kreativitas Industri Kerajinan Batik (Arfan et al, 2009; dan Indrojarwo (2008).
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, dari keseluruhan pengrajin maka sekitar 80% pengrajin telah memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam pengembangkan motif batik dalam bentuk batik tulis dan batik cap, maupun modifikasi batik tulis dan batik cap.
4. Pelatihan dab pendampingan manajemen pemasaran
Penyuluhan dan pendampingan dalam manajemen pemasaran dapat membantu mitra dlam memasarkan batik Jambi.Pengrajin memiliki kartu nama UKM sebagai salah satu media pemasaran yang efektif dan murah. Pengrajin memiliki brosur sebagai media informasi dan komunikasi.
Tabel 2. Kondisi eksisting mitra sebelum dan sesudah program IbPUD
Target Luaran Sebelum IbPUD Sesudah IbPUD
Omzet 80 juta-180 juta
Produksi / bulan 25 – 30 satuan 40 – 60 satuan Jumlah penjualan 30 satuan 40-50 satuan Pengembangan motif Tidak ada / monoton 10 motif baru Cap batik 12 unit 17 unit Bak celup Bahan kayu Bak semen Komputer dan printer Belum ada -
Jumlah tenaga kerja 4-5 orang 6-8 orang Pewarnaan alam ± 15 % ± 40 %
Pembukuan Belum ada Ada pembukuan sederhana; buku kas keluar, kas masuk, buku besar
Pemasaran langsung Ada kartu nama, online Antar kota dalam
Provinsi
Pemasaran ke Provinsi lain
Packing dan Nota Belum ada Sudah ada
Tercipta akun Facebook dan instragram yang dimiliki pengrajin. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, dari keseluruhan pengrajin maka sekitar 40% pengrajin telah memiliki kemampuan memasarkan batik sampai ke luar daerah. Menurut Peter dan Olson (2013) perilaku masyarakat alam pemasaran suatu produk
Ekonomi, Sosial Budaya, dan Kesehatan | 172 ditentukan oleh pengetahuan dan wawasan, serta lebih dipengaruhi oleh kualitas produk dan kelayakan serta besarnya ketertarikan konsumen.
Melalui program IbPUD ini telah dihasilkan 2 unit bak celup untuk proses pewarnaan kain mori untuk membatik. Bak celup dibuat secara permanen pada UKM I dan UKM II. Diharapkan dengan adanya penambahan bak celup ini dapat meningkatkan kualitas pencelupan oleh pengrajin dan menambah kapasitas produksi.
Sikap positif dan motivasi yang tinggi dari para pengrajin selama mengikuti kegiatan. Ini ditunjukkan kehadiran dan minat para pengrajin pada setiap diskusi dan pelatihan.
SIMPULAN
Berdasarkan kegiatan IbPUD yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pembinaan yang diberikan kepada UKM pengrajin Batik Jambi berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan kemampuan teknologi dengan mengenalkan web untuk berbisnis dan pengembangan motif atau corak corak batik demikian juga menghantarkan pada pembinaan pada design yang inovatif dengan bahan tidak hanya katun tapi juga dikembangkan pada bahan lain mengangkat motif Jambi yang dituangkan didalam kain sutra, semi sutra dikembangkan, visconse, sifon, dan organdi dengan warna-warna, hitam, putih, abu dan biru sebagai khas, agar batik jambi bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat.
2. Pemberdayaan terhadap pengrajin Batik Jambi dapat memberikan manfaat seperti dapat memberikan banyak pengetahuan dan ketrampilan bagi pengrajin serta mendapatkan motivasi yang lebih tinggi, sehingga dapat berdampak pada pemasaran yang semakin luas, desain yang semakin inovatif, dan produk yang semakin berkualitas.
3. Pemberdayaan yang diberikan berdampak pada kesejahteraan sosial pengrajin batik yang dilihat dari peningkatan omset para pengrajin, sehingga dengan adanya pemberdayaan maka para pengrajin dapat meningkatkan kualitas kehidupan. Selain itu juga terdapat perbedaan sebelum dan sesudah Pemberdayaan dan Pembinaan yang dilakukan yaitu peningkatan dalam hal pembukuan, promosi, dan pemasaran.
Ekonomi, Sosial Budaya, dan Kesehatan | 173
UCAPAN TERIMA KASIH
Artikel ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang penulis laksanakan pada Tahun 2017. Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada pihak Dikti yang telah mendanai kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat melalui Program IbPUD. Terima kasih juga kepada Rektor Universitas Jambi dan Ketua LP2M Universitas Jambi yang telah memfasilitasi kegiatan IbPUD yang penulis laksanakan.
DAFTAR REFERENSI
Anonim. (2005). Sedikit Asal Usul Batik Jambi, Pemerhati Budaya Jambi, Jambi Independen, 11 April 2005
Arfan, B., Sriyanto & Amalia. (2009). Analisa Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Kreativitas Industri Kerajinan Batik. J@TI Undi, IV(1) Asikin, Saroni. (2008). Ungkapan Batik di Semarang: Motif Batik Semarang 16,
Semarang, Citra Prima Nusantara.
Atmojo, Heriyanto Timbol P., D. Eka (2008). Batik Tulis Tradisional Kauman, Solo: Pesona Budaya nan Eksotik, Solo, Tiga Serangkai
Devina, R. (2010). Analisis Strategi Positioning “Ethnic Batik” Dalam Komunikasi
Pemasaran (Studi Kasus: CV. Erfas Jaya–Ethnic Batik). Tesis Tidak Dipublikasikan. Surabaya: Universitas Airlangga
Doellah, Santosa. 2008. Batik, Pengaruh Zaman dan Lingkungan. Solo. Danar Hadi Press.
Fokus Jambi. (2017). Zola Harap Pengrajin Batik Jambi Bisa Sinergikan Produk Kreatif Dengan Budaya Jambi. FokusJambi Peristiwa & Umum – Nasional. Media Online Masyarakat Jambi. Jumat, 24 Maret 2017
Hasanudin. (2001). Batik Pesisiran; Melacak Pengaruh Etos Dagang Santri pada Ragam Hias Batik, Bandung, Kiblat Buku Utama.
Indrojarwo, Baroto T. (2008), Desain Batik ITS, Surabaya, ITS.
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. (1998). Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 1998 Tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kecil, Jakarta, Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia.
Kumalasari, Y.Y., A. Suryono., dan Rozikin, M. 2014. Pembinaan Dan Pemberdayaan Pengrajin Batik. Jurnal Administrasi Publik, Vol.2, No.1
Ekonomi, Sosial Budaya, dan Kesehatan | 174 Musman A dan Ambar, Arini. (2011). Batik: Warisan Adiluhung Nusantara.
Yogyakarta: G-Media.
Peter, J Paul dan Jerry C.Olson. 2013 Perilaku Konsumen & Stategi Pemasaran 2. Penerbit Salemba
Susanty A, Arfan Bakhtiar, dan Sriyanto. (2009). Customer Preferences Analysis for DevelopingCreativity In Batik Industry. Proceeding, International Seminar on Industrial Engineering and Management. Hotel Inna Beach Kuta, Bali Tambunan, I. (2011). Ketika Batik Jambi Mengalami “Booming”.
(http://nasional.kompas.com/read/ 2011/04/01/04373767/),diakses 12 Juli 2011.
Tirta, Iwan. (2008). Batik, Sebuah Lakon, Jakarta, Gaya Favorit Press.
Wulandari, Ari. (2011). Batik Nusantara: Makna Filosofis, Cara Pembuatan dan Industri Batik. Yogyakarta: ANDI.
Ekonomi, Sosial Budaya, dan Kesehatan | 175