KESULITAN MEMBACA DI SEKOLAH DASAR
HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil
Penelitian ini dilaksanakan kepada salah seorang anak yang mengalai kesulitan membaca permulaan di kelas 2 SD, penelitian dilaksanakan dengan mengamati dan mengasesmen kemampuan awal anak yang mengalami kesulitan membaca permulaan dan pengamatan langsung proses pembelajaran membaca dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Berikut secara garis besar dipaparkan tentang profil kemampuan anak dan profil pembelajaran sebelum diberikan program:
Tabel 1.1
Kondisi Objektif Anak yangMengalami Kesulitan Membaca Permulaan
Kemampuan Kesulitan Kebutuhan
Mampu membaca huruf vokal
Secara dominan anak belum mampu melafalkan huruf konsonan
Pengenalan kembali konsep huruf konsonan, baik huruf besar
maupun huruf kecil Mampu membaca vocal Anak secara umum Diberikan pemahaman
2016. Vol. 1 No. 1
31
rangkap membaca huruf konsonan
dengan penambahan vocal “a”
tentang membaca huruf tanpa ditambah huruf “a”
Mampu membaca beberapa huruf konsonan
Pembalikan huruf,
beberapa huruf dibalikkan konsepnya, misalnya : b dan d, u,v,dan n, p dan q, j dan h
Latihan diskriminasi dan identifikasi huruf
Dilihat dari segi social dan interaksi, Patuh kepada tugas yang diberikan guru
Ketidakkonsistenan membaca huruf, selama test membaca, jawaban anak berubah-berubah, padahal soal yang diberikan sama
Bimbingan intensif membaca permulaan kepada anak selama dan setelah pembelajaran
Terlihat kurang percaya diri dan kurang
berinteraksi dengan temannya
Bimbingan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan interaksi
Tabel 1.2
Profil Proses Pembelajaran Membaca Permulaan
Kekuatan Kelemahan Kebutuhan
Guru mampu
memberikan keceriaan dan semangat belajar kepada siswa
Tidak ada rencana pembelajaran
Pengetahuan tentang cara
perumusan dan
penyusunan program pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak Guru selalu memberikan
penghargaan atas hasil pekerjaan siswa, walaupun berupa tepuk tangan
Pada saat pembelajaran, gaya mengajar guru kurang variasi. Alokasi waktu pembelajaran tidak jelas
Modifikasi dan
penyesuaian silabus dan
RPP yang mampu
mengakomodasi
pembelajaran secara umum dan anak-anak yang mengalami kesulitan membaca permulaan. Penyampaian materi
jelas dan melayani semua pertanyaan siswa
Metode dan media kurang variatif, metode hanya ceramah dan tanya jawab serta sekali permainan, dan media hanya buku teks
Adanya variasi metode pembelajaran dan media pembelajaran yang menarik bagi anak dalam pembelajaran
2016. Vol. 1 No. 1
32 pelajaran.
Kurang melibatkan keaktifan siswa secara keseluruhan
Pembelajaran kelompok atau metode permainan sehingga meningkatkan keaktifan siswa
Pembelajaran bersifat keseluruhan, tidak mengakomodasi anak-anak yang memiliki kesulitan belajar, seperti kesulitan membaca permulaan
Perlunya bimbingan khusus kepada anak yang mengalami kesulitan membaca permulaan selama pembelajaran
Tidak adanya penarik kesimpulan diakhir pembelajaran
Memberikan informasi akhir dari pelajaran
Evaluasi belajar hanya berpatok kepada hasil, dan tidak ada evaluasi khusus
untuk anak yang
mengalami kesulitan membaca permulaan serta tidak adanya format evaluasi.
Perlu adanya evaluasi proses dan pelaksanaan evaluasi hasil dengan memperhatikan
kemampuan siswa
Setelah dilaksanakan asesmen kepada anak dan pengamatan langsung proses pembelajaran membaca permulaan, disusunlah sebuah program pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak yang mengalami kesulitan membaca permulaan. Program disusun dan disesuaikan dengan profil siswa dan pembelajaran. Program pembelajaran membaca permulaan ini disusun dengan guru sebagai target utama, yang diharapkan guru mampu meningkatkan proses pembelajaran sehingga kemampuan membaca anak pun dapat ditingkatkan. Program pembelajarannya meliputi : 1) petunjuk penyusunan program pembelajaran, seperti menyusun silabus dan menyusun rencana pembelajaran yang mampu mengakomodasi anak yang mengalami kesulitan membaca permulaan untuk bisa belajar bersama dengan temannya yang tidak mengalami kesulitan membaca permulaan, 2) Penyusunan perencanaan pembelajaran yang telah disesuaikan sehingga mampu
2016. Vol. 1 No. 1
33 mengakomodasi semua kemampuan siswa. Berikut hasil keterlaksanaan program yang telah dilaksanakan :
Tabel 1.3
Keterlaksanaan Program Pembelajaran pada Siswa
No Aspek Kondisi Sebelum Pelaksanaan Program Kondisi Setelah Pelaksanaan Program Perubahan 1 2 3 4 5 1. Pelaksanaan Pembelajaran AG selama pembelajaran duduk di belakang dan tidak adanya teman yang membantu dalam belajar
Posisi duduk AG dipindah ke depan dan diberikan tutor sebaya selama pembelajaran
AG bisa
berinteraksi dengan temannya dan tutor sebaya mampu
membantu AG belajar membaca selama di kelas Khusus untuk AG,
kegiatan inti pembelajaran mengikuti materi temannya dan mengerjakan instruksi guru tentang materi yang dia tidak mengerti Dalam kegiatan inti pembelajaran AG diberikan materi tentang mengenal bentuk-bentuk huruf konsonan dan dalam pembelajaran AG diberikan media berupa kartu huruf dan latihan mengenal huruf selama pembelajaran yang dibimbing oleh guru. AG mendapatkan materi sesuai dengan kemampuannya dan mampu mengikuti materi yang diberikan oleh guru Selama pembelajaran AG tidak dilibatkan secara penuh dalam pembelajaran Dengan adanya program khusus untuk AG, selama pembelajaran AG mempu berpartisipasi aktif Meningkatnya kepercayaan diri dan semangat belajar AG
2016. Vol. 1 No. 1 34 dalam pembelajaran dan berani tampil di depan kelas Bimbingan belajar diakhir pelajaran kepada AG tidak sesuai dengan kemampuan dasarnya Setelah adanya asesmen, bimbingan belajar AG disesuaikan dengan hasil asesmen, dan diberikan dengan media yang menarik Konsep tentang pengenalan huruf AG sudah meningkat, dimana AG sudah mampu mengenal huruf konsonan dengan lebih baik 2. Pembahasan
Berdasarkan hasil asesmen yang telah dilakukan, baik itu dengan melaksanakan tes, wawancara kepada guru, dan observasi selama anak belajar, diketahui bahwa kemampuan membaca permulaan anak baru menguasai huruf vokal, anak belum menguasai huruf konsonan secara keseluruhan, dan belum mampu membaca suku kata dengan baik dan benar.
Menurut Hargrove & Poteet dalam Abdurrahman (2012), perilaku anak yang mengalami kesulitan membaca atau kesulitan membaca adalah : (1) Tidak mampu memahami simbol bahasa, (2) Kesulitan mengurutkan kata dan huruf-huruf, (3) Tidak mampu menganalisa huruf-huruf, (4) Membaca secara terbata-bata.
Selanjutnya sesuai dengan hasil observasi, terlihat bahwa anak selama pembelajaran cendrung pendiam, kurang kepercayaan diri, kurang antusias untuk belajar. Hal ini mungkin terjadi karena anak kurang dilibatkan oleh guru selama pembelajaran, diberikan materi yang tidak sesuai dengan kemampuannya, serta ketidakmampuan siswa untuk mengikuti pembelajaran bersama dengan teman-teman yang lain. Menurut McCombs (dalam Santrock,2007) menemukan bahwa siswa yang didukung dan diperhatikan oleh guru lebih termotivasi untuk melakukan kegiatan akademik daripada siswa yang tidak didukung dan diperhatikan oleh guru. Dari teori
2016. Vol. 1 No. 1
35 diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa pemberian materi yang sesuai dengan anak dapat meningkatkan motivasi belajar.