Kondisi Umum Lahan
Tanaman murbei yang terdapat di lahan pengamatan umumnya menggunakan pola penanaman secara monokultur dan jenis murbei yang ditanam adalah M. alba
var Kanva 2, M. cathayana dan M. multicaulis. Pada saat pengamatan umumnya umur murbei 45 hari setelah pangkas kecuali di Dramaga, Bogor, yang tanaman murbeinya terbagi ke dalam beberapa blok pemangkasan. Kondisi lahan di enam lokasi pengamatan disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Kondisi umum ke enam lokasi pengamatan
Karakter lokasi Pati Candiroto Kabandungan, Sukabumi Tasikmalaya Sukamantri, Bogor Dramaga, Bogor. Ketinggian tempat (m dpl) 80 600 720 550 540 245 Kisaran suhu (oC) 19-31 21-29 19-26 25-30 25-30 21-29 Kisaran kelembaban (%) 80-90 80-90 87-92 79-90 80-90 80-90 Curah hujan (mm/tahun) 1600-2000 2500-3000 2500-3000 2500-2700 2500-3000 2500-3000 Type iklim (menurut Schmidt & Ferguson) E A A A A A
Pola tanam monokultur monokultur monokultur monokultur monokultur monokultur
Gulma Kurang bergulma Kurang bergulma Kurang bergulma Kurang bergulma Kurang bergulma Gulma lebat Pemupukan Pupuk kandang dan NPK Pupuk kandang dan NPK Pupuk kandang dan NPK Pupuk kandang, mikoriza dan pupuk lambat larut
NPK Pupuk kandang dan
NPK Pengendalian hama Insektisida kontak dan sistemik Insektisida kontak dan sistemik Insektisida kontak dan sistemik Insektisida kontak dan sistemik Insektisida kontak dan sistemik Tidak dilakukan penyemprotan pestisida Tanaman di sekitarnya Jati (Tectona grandis), Randu, mangga Jati (T. grandis), Randu, mangga (M. jukut pait (Paspalum conjugatum), babadotan Jukut pait (P. conjugatum),b abadotan Jukut pait (P. conjugatum), badotan (A. Jukut pait (P. conjugatum),babadotan (A.conyzoides) calincing (Oxalis
(Mangifera indica)
indica) (Ageratum
conyzoides
(A. conyzoides conyzoides) sepium), babadotan laki-laki (Synedrella nudiflora)
Inventarisasi kutu kebul
Inventarisasi kutu kebul pada tanaman murbei dan sekitarnya hanya menemukan satu spesies kutu kebul yaitu Trialeurodes vaporariorum yang disajikan pada Gambar 3 dengan ciri-ciri sebagai berikut :
Telur
Pada saat baru diletakkan, telur berwarna hijau pucat kekuningan agak ungu, ungu gelap atau hitam. Telur tersebut memiliki tungkai yang pendek dan imago kutu kebul meletakkan telur pada permukaan daun bagian bawah, biasanya dalam bentuk melingkar atau semi melingkar dan sering ditemukan secara menyebar pada daun- daun yang memiliki banyak rambut-rambut daun pada permukaannya. Menurut Kessing & Mau (1991) Stadium telur bervariasi tergantung pada suhu dan kelembaban, umumnya 6 – 7 hari.
Nimfa
Nimfa T. vaporariorum terdiri atas tiga sampai empat instar (Kessing & Mau. 1991). Nimfa instar satu disebut crawler karena memiliki tungkai yang fungsional dan aktif bergerak mencari tempat untuk makan. Nimfa berwarna hijau terang. Setelah menemukan tempat makan yang tepat maka nimfa akan menyelesaikan tahap perkembangan hidup selanjutnya sampai menjadi imago.
Pupa
Nimfa instar akhir (instar empat) sering disebut sebagai pupa karena imago kutu kebul muncul dari fase ini (Kessing & Mau. 1991). Tubuh nimfa tersebut lebih tebal dibandingkan yang lainnya dan memiliki karakteristik filamen lilin yang panjang pada pinggir luar tubuhnya. Lama stadium pupa berkisar antara 3 dan 7 hari.
Kantong pupa (puparium) dari stadium pupa yang sudah kosong tetap berada pada tanaman inangnya. Identifikasi jenis kutu kebul berdasarkan struktur dari pupariumnya. Ciri khas T. vaporariorum sub margin umumnya ada deret papilla yang jelas.
Imago
Imago T. vaporariorum berwarna kuning pucat, dan memiliki dua pasang sayap yang tertutup oleh lilin tepung putih.
Gambar 3 Tahapan stadia T. vaporariorum: A) telur; B) nimfa; C) pupa; D) imago. Gejala serangan T. vaporariorum pada tanaman murbei
Populasi kutu kebul yang tinggi dapat mempengaruhi kondisi tanaman dan mengganggu pertumbuhannya, tanaman murbei yang terserang kutu kebul menampakkan gejala berupa lubang-lubang gigitan kecil dan menyebar pada helai daun yaitu bagian pucuk, tengah dan pangkal. Kutu kebul mulai menyerang tanaman dari mulai tingkat persemaian namun gejala kerusakan belum nampak, gejala kerusakan nampak dengan bertambahnya umur tanaman dan populasi kutu kebul. Hasil pengamatan di lapangan, satu lembar daun dengan lebar 8 cm dan panjang 12 cm terdapat rata-rata 750 telur, 500 nimfa, 300 pupa dan 250 kantong pupa.
Gambar 4 Gejala serangan T. vaporariorum pada tanaman murbei: A) Daun murbei
yang banyak imago T. vaporariorum; B) Dampak gejala serangannya.
A B
Perkembangan Populasi T. vaporariorum
Perkembangan populasi T. vaporariorum disajikan pada Gambar 5 pengamatan dilakukan di daerah Dramaga Bogor, kondisi lahan selama pengamatan tidak dilakukan penyemprotan insektisida dan juga tidak dilakukan penyiangan sehingga gulma dibiarkan tumbuh. Pengamatan kelimpahan dimulai dari umur 15 hari sampai umur 75 hari setelah pangkas.
Gambar 5 Perkembangan populasi Trialeurodes vaporariorum.
Pengamatan parasitoid kutu kebul (T. vaporariorum)
Menurut Onstad (2008), dalam suatu perilaku hidup parasitoid, imago parasitoid hidup bebas di alam sedang pradewasa tinggal pada individu serangga lain. Selama penelitian berlangsung parasitoid yang muncul pada populasi T. vaporariorum, hanya ditemukan pada metode sungkup dengan interval waktu 8 hari setelah pemasangan sungkup. Hasil identifikasi parasitoid yang ditemukan termasuk dalam kelompok ordo Hymenoptera yang terdiri dari famili Ceraphronidae,
Eucoilidae, Scelionidae dan Eulophidae yang masing-masing mempunyai ciri sebagai berikut :
Gambar 6 Ceraphronidae: A) imago; B) patahan sayap pada stigma
Ceraphronidae ciri khasnya tibia depan 2 taji ujung; tidak ada sel-sel tertutup pada sayap depan; rangka sayap stigma jelas melengkung ke batas kosta; rangka sayap marginal meluas dari dasar sayap; tidak ada rangka sayap sub marginal (jarang tidak ada rangka sayap seluruhnya). Tibia tengah dengan 1 taji ujung; taji tibia depan besar tidak bercabang di bagian ujung; sungut-sungut yang betina 9 atau 10 ruas, sungut-sungut jantan 10 atau 11 ruas, stigma sayap depan lurus, kelihatan mirip dengan rangka sayap marginal, tetapi terpisah dengannya oleh satu pemutusan yang jelas stigma dan rangka stigma jarang tidak ada. Dominan ditemukan di setiap lokasi hal ini mungkin disebabkan kondisi yang mendukung habitatnya yang disajikan pada gambar 6, tubuhnya berwarna hitam, Parasitoid pada kelompok Diptera, Thysanoptera, Lepidoptera, Neuroptera dan Aphids (Anonim, 2009)
Scelionidae pada Gambar 7 memiliki abdomen yang pipih memanjang terdapat garis pada tepi abdomen samping dan ruas-ruas metasoma yang terbagi menjadi sebuah skerit median yang besar serta laterotergit atau laterosternit yang sempit. Struktur-struktur ini akhirnya saling bertemu membentuk satu batas sudut
A
yang sangat tajam pada metasoma, terdapat penebalan pada sayap depan tapi tidak setebal sayap belakang, sayapnya lebih panjang daripada abdomennya (Borror et al., 1996)
Gambar 7 Scelionidae (perbesaran 20 kali): A) Imago; B) penebalan sayap pada sub
marginal.
Gambar 8 Eucoilidae (perbesaran 20 kali): a) imago; b) penebalan sayap secara merata dari sub marginal sampai marginal, sel costa dan sel median.
Gambar 8 menunjukkan bahwa Eucoilidae ciri khasnya sayap belakang menyempit, bagian pinggir sayap atas berambut, terdapat penebalan venasi sayap di tepi sayap depan, anthena panjang dasar-dasar sungut secara lebar terpisah, terselip
A B
A
lebih dekat dengan mata daripada dengan masing-masing lainnya; frons dengan satu lekuk transversal yang jelas di atas penyelipan sungut, dan dengan sepasang lekuk longitudinal sepanjang batas bagian tengah. Pinggang tampak jelas, mesosoma dan metasoma hampir sama besar. Merupakan jenis yang lembut sampai kecil, biasanya kurang dari 1 mm.
Gambar 9 Eulophidae (Perbesaran 20 kali): a) imago; b) penebalan sayap merata dari sub marginal sampai marginal dan penebalan pada sel kosta
Eulophidae merupakan internal parasitoid larva pernah ditemukan di Pacific (Hawaii, Guam) dan Florida juga sudah ditemukan di Indonesia. Parasitoid Eulophidae umum di Asia Tenggara dan mempunyai peluang potensial sebagai agen kontrol (musuh alami). Mempunyai ciri khas pinggang tampak jelas, yang disajikan pada Gambar 9 selain itu nampak pada vena terdapat patahan bersambung, mata agak merah, abdomen hampir sama dengan Scelio tapi agak cembung. Sayap berwarna metalik cemerlang.
Perbedaan nimfa normal dan nimfa terparasit
Morfologi nimfa T. vaporariorum yang sehat terlihat pada Gambar 10a berbentuk datar pada permukaan daun, dan cukup sulit dilihat karena warna tubuhnya yang hijau transparant. Nimfa instar akhir berwarna kuning kehijauan dengan bakal mata berwarna coklat.
A
Bila nimfa T. vaporariorum terparasit pada Gambar 10b nampak bagian dalam nimfa tampak berwarna hitam, karena parasitoid menghisap dan merusak jaringan inang menyebabkan nimfa mengalami gangguan dalam pertumbuhan yang pada akhirnya menyebabkan kematian pada nimfa tersebut.
Gambar 10 Morfologi nimfa (perbesaran 20 kali): A) Nimfa yang normal ; B) Nimfa yang terparasit
Berdasarkan indikator gejala yang terparasit didapatkan data tingkat parasitisasi total disajikan pada Tabel 2, yang menunjukkan keempat lokasi pengamatan tingkat parasitasi relatif rendah. Kondisi lokasi Dramaga berbeda dengan yang lain dimana pada saat pengamatan tidak dilakukan pengolahan tanah dan penyemprotan insektisida. Keadaan pertanaman di sekitar tanaman murbei inilah yang kemungkinan menjadi pendukung bagi tersedianya makanan berupa nektar bagi parasitoid.
Tabel 2 Rata-rata tingkat parasitisasi tanaman murbei pada empat daerah pengamatan
Telur Kulit pupa Nimfa normal Nimfa terparasit
Lokasi
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
Kabandungan (Sukabumi) 450 42,45 250 23,58 100 9,43 10 0,94 Tasikmalaya 0 0 89,04 68,43 6.30 8,21 2,11 2,7 Sukamantri (Bogor) 0 0 15 42,86 20 57,14 0 0 Dramaga (Bogor) 1500 54,54 500 18,18 600 21,82 150 5,45
Pengamatan selanjutnya untuk mengetahui tingkat penyebaran parasitoid di tiap lokasi pengamatan maka dilaksanakan melalui penjaringan parasitoid pada lokasi pengamatan yang dilakukan bersamaan dengan penyebaran predator
Tabel 3 Penyebaran parasitoid di empat lokasi pengembangan sutera alam selama pengamatan
Parasitoid
Ceraphronidae Scelionidae Eucoilidae Eulophidae
Lokasi
sungkup jaring sungkup jaring sungkup jaring sungkup jaring Kabandungan (Sukabumi) 1 8 1 8 0 3 0 3 Tasikmalaya 1 2 1 10 0 5 0 5 Sukamantri (Bogor) 0 0 0 3 0 0 0 5 Dramaga 9 30 10 30 5 10 5 15 A B
(Bogor)
Pengamatan predator kutu kebul (T. vaporariorum)
Predator dari kelompok serangga yang tertangkap saat penjaringan adalah dari kelompok ordo Coleoptera, Family Coccinellidae. Dari hasil penjaringan ditemukan 3 spesies serangium dan satu spesies micraspis . Serangium sp 1. ditemukan dominan di semua lokasi pengamatan (Tabel 4) Uji pemangsaan di laboratorium selama 24 jam menunjukkan bahwa ke tiga spesies Coccinellidae yaitu Serangium sp 1, Serangium sp 2dan Serangium sp 3 dapat memangsa nimfa T. vaporariorum rata- rata 4,33 individu nimfa, sedangkan Micraspis sp dapat memangsa rata-rata 14,6 individu nimfa. Cara pemangsaan keempat predator tersebut bersifat aktif, dimulai dari menindih mangsanya, sasaran pertama adalah mata kemudian menggigit (menarik) mangsanya dimulai dari bagian pinggir tubuh mangsa.
Gambar 11 Empat predator T. vaporariorum dengan perbesaran 20 kali: A)
Serangium sp 1; B) Serangium sp 2; C) Serangium sp 3; D) Micraspis
sp.
Tabel 4 Ciri-ciri umum predator T. vaporariorum yang tampak secara langsung Ciri-ciri Serangium sp 3 Serangium sp 3 Serangium sp3 Micraspis sp Ukuran tubuh 2,0 – 2,7 mm 2,0 – 2,7 mm 1,8 – 2,2 mm 3,7 – 4,5 mm Warna elytra Coklat tua
mengkilap
Orange mengkilap
Hitam pekat Hitam mengkilap
Corak elytra Bagian tengah terdapat celah hitam yang sempit Bagian tengah terdapat garis orange yang lebih tebal.
Tidak bercorak Tidak bercorak
Rambut abdomen
Sedikit Berambut halus terutama pada bagian thorak Penuh dengan rambut halus, daerah sekitar thorak rambutnya nampak lebih jelas. Tidak berambut
Warna abdomen coklat orange hitam hitam
Kemampuan Coccinellidae terhadap mangsanya dapat ditunjukkan oleh besarnya proporsi mangsa yang dimakan dan terbunuh dari sejumlah individu mangsa yang tersedia. Data percobaan kemampuan makan Coccinellidae disajikan pada Gambar 12
Berdasarkan kemampuan makan Coccinellidae memangsa nimfa T. vaporariorum yang disajikan pada Gambar 16, hasilnya menunjukkan bahwa ke tiga spesies Coccinellidae yaitu Serangium sp 1, Serangium sp 2dan Serangium sp 3 dapat memangsa nimfa T. vaporariorum rata-rata 4,33 individu nimfa, sedangkan
Micraspis sp dapat memangsa rata-rata 14,6 individu nimfa. Cara pemangsaan keempat predator tersebut bersifat aktif, dimulai dari menindih mangsanya, sasaran pertama adalah mata kemudian menggigit (menarik) mangsanya dimulai dari bagian pinggir tubuh mangsa.
Gambar 12 Rata-rata kemampuan makan Coccinellidae terhadap nimfa T. vaporariorum.
Untuk mengetahui penyebaran predator dilakukan penjaringan predator pada semua lokasi pengamatan hasilnya disajikan pada Tabel 4 hasil penjaringan di lapangan menunjukkan bahwa ke empat predator tersebut ditemukan di semua lokasi. Hal ini menunjukkan ke empat predator memiliki daerah penyebaran yang luas. Willemse (2001) melaporkan bahwa Serangium sp di India berperan sebagai predator nimfa T. vaporariorum.
Tabel 5 Penyebaran dan jumlah predator T. vaporariorum yang tertangkap di enam lokasi pengamatan
Predator
Serangium sp 1 Serangium sp 2 Serangium sp 3 Microspis sp
Lokasi Dalam areal murbei Luar areal murbei Dalam areal murbei Luar areal murbei Dalam areal murbei Luar areal murbei Dalam areal murbei Luar areal murbei Pati 15 0 0 0 10 0 2 0 Candiroto 50 10 0 0 25 7 10 5 Kabandungan (Sukabumi) 20 3 1 1 10 5 3 1 Tasikmalaya 20 1 1 1 15 5 3 2 Sukamantri 10 10 0 0 10 5 2 0
(Bogor)
Dramaga (Bogor) 100 89 50 62 25 85 25 34
Pembahasan Inventarisasi kutu kebul
Pengambilan contoh kutu kebul pada tanaman murbei di setiap lokasi pengamatan (Bogor, Sukabumi, Tasikmalaya, Candiroto dan Pati) hanya menemukan satu spesies kutu kebul yaitu T. vaporariorum. Hasil tersebut tidak menunjukkan adanya populasi campuran (mix population) antara beberapa spesies kutu kebul. Hal ini diduga terjadi karena adanya kompetisi interspesifik antara spesies kutu kebul yang berlainan pada tanaman murbei di lokasi yang sama. Onstad (2008) mendefinisikan kompetisi sebagai suatu kebutuhan yang kurang aktif dalam hal berlimpahnya suplai langsung dari materi dan atau suatu kondisi untuk dimanfaatkan bersama-sama oleh dua atau lebih organisme.
Adanya kompetisi kerapkali menyebabkan organisme-organisme yang mempunyai hubungan pertalian yang erat dan kebiasaan atau corak hidup yang sama, tidak berada pada suatu tempat yang sama. Kalaupun didapatkan pada tempat yang sama, maka masing-masing akan menggunakan jenis makanan yang berlainan, atau sekurang-kurangnya aktif pada waktu-waktu yang berbeda ataupun menempati nich
yang agak berlainan (Onstad, 2008).
Rata-rata populasi T. vaporariorum bervariasi untuk setiap tingkat perkembangan hidup, tetapi umumnya menunjukkan pertambahan populasi menurut waktu pertumbuhan tanaman (Gambar 5). Setiap tingkat perkembangan hidup kutu kebul dapat ditemukan pada saat pengambilan tanaman contoh, kecuali pupa yang belum ditemukan pada saat pengambilan contoh pertama (umur 15 hari setelah pangkas).
Rata-rata populasi telur T. vaporariorum per tanaman murbei meningkat seiring dengan bertambahnya umur tanaman tapi sedikit menurun pada umur 75 hari setelah pangkas. Populasi tertinggi terjadi pada umur 60 hari setelah pangkas.
Rata-rata populasi nimfa dan pupa T. vaporariorum per tanaman murbei terus meningkat seiring dengan bertambahnya umur tanaman hingga akhir pengamatan. Populasi tertinggi terjadi waktu pengamatan ke tiga (60 hari setelah pangkas).
Secara kumulatif, kurva perkembangan populasi T. vaporariorum pada tanaman murbei menunjukkan pola perkembangan populasi yang sigmoid (Gambar 5). Pada permulaan pertumbuhan terjadi peningkatan yang wajar kemudian meningkat dengan cepat sampai pada suatu saat pertumbuhan menjadi stabil dan kurva menjadi datar. Keadaan seperti ini kemampuan lingkungan untuk menunjang pertumbuhan sudah mencapai titik maksimum (Resosoedarmo et al., 1993). Kurva sigmoid menurut Storer & Usinger (1957 dalam Sunjaya, 1970) terjadi dalam keadaan lingkungan yang serba konstan.
Suatu populasi dapat bertambah atau berkurang menurut waktu dan keadaan lingkungan (Onstad, 2008). Pertumbuhan kutu kebul cenderung untuk melaju terus dengan cepat karena ruang dan bahan-bahan makanan berlimpah. Kemudian populasi akan menurun bila kedua faktor tersebut berkurang dan mendatar bila kedua faktor tersebut menjadi pembatas (Resosoedarmo et al., 1993).
Perkembangan populasi telur menunjukkan peningkatan yang cepat terjadi pada umur 60 hari setelah pangkas. Peningkatan ini terjadi diduga karena pertambahan populasi imago yang memang sudah ada pada tanaman tersebut dan kedatangan imago dari tanaman yang lain. Menurut Kessing & Mau (1991) satu imago betina serangga ini mampu meletakkan telur rata-rata lebih dari 100 telur selama masa hidupnya, sehingga dengan bertambahnya populasi imago akan meningkatkan populasi telur dengan cepat. Tumbuhnya tunas-tunas baru pada tanaman murbei juga mempengaruhi peningkatan populasi telur. Imago kutu kebul ini
menunjukkan pemilihan yang sangat tinggi untuk makan dan bertelur pada daun muda (daun pucuk), sedikit lebih rendah dari permukaan atas daun.
Secara umum perkembangan populasi T. vaporariorum pada tanaman murbei di Dramaga Bogor juga didukung oleh kondisi agroekosistem yang kondusif. Lahan pengamatan merupakan lokasi budidaya ulat sutera yang telah diusahakan selama beberapa tahun. Pola pangkas yang tidak serempak, sistem monokultur dan tidak dilakukan penyemprotan insektisida selama pengamatan menyebabkan di lokasi tersebut selalu tersedia sumber makanan kutu kebul dalam jumlah berlimpah.
Beberapa tumbuhan lain yang ada di dalam lahan pengamatan adalah gulma (Digitaria adsendens, Amaranthus dubius, Borreria laevis dan Ageratum conyzoides). Tumbuhan yang terdapat di pinggir lahan pengamatan antara lain tumbuhan bambu. Tumbuhan tersebut baik yang berada di dalam lahan maupun di pinggir lahan kemungkinan turut mempengaruhi perkembangan populasi kutu kebul sebagai inang alternatif maupun sebagai tempat berlindung dari radiasi matahari. Pengamatan parasitoid kutu kebul (T. vaporariorum)
Tabel 2 tingkat parasitisasi di Dramaga adalah 5,45%, walaupun tertinggi dibanding daerah lain tingkat parasitisasi tersebut dikatakan rendah dibandingkan dengan populasi T. vaporariorum karena di sekitar tanaman murbei tersebut banyak ditumbuhi gulma dan sedikit tumbuhan yang menghasilkan polen atau nektar.
Menurut Flint dan Dreistadt (1998), tanaman penutup tanah atau gulma lebih menguntungkan predator generalis dibandingkan parasitoid spesialis. Tingkat parasitisasi di daerah ini berarti masih relatif rendah.
Ke tiga lokasi yang lain tingkat parasitisasi sangat rendah karena keadaan kebun murbei dalam kondisi yang bersih sehingga ketersediaan nektar sebagai pakan parasitoid tidak ada. Selain itu petani rutin melakukan pencegahan serangan hama yaitu dengan melakukan penyemprotan insektisida. Tingkat parasitisasi yang relatif rendah di masing-masing lokasi kemungkinan dipengaruhi oleh cara budidaya tersebut. Tampaknya tingkat parasitisasi ini dipengaruhi oleh ketersediaan sumber
makanan bagi imago parasitoid. Menurut Hoelmer and Goolsby (2002) sebagian besar tanaman monokultur tidak menyediakan makanan yang cukup bagi parasitoid sehingga parasitoid lebih banyak pada tanaman tumpangsari dibandingkan tanaman monokultur. Di daerah Sukamantri (Bogor) tidak ditemukan nimfa yang terparasit. Kemungkinan kondisi lingkungan di daerah ini kurang menguntungkan bagi perkembangan hidup parasitoid karena murbei ditanam secara monokultur dan kondisi lahan bersih. Tanah yang berbatu secara tidak langsung mempengaruhi keberadaan parasitoid. Menurut Litsinger (1991) dalam Speight et al. (1999), parasitoid membutuhkan suhu rendah, kelembaban tinggi dan naungan pada habitat yang komplek dibandingkan dengan habitat yang sederhana.
Jenis parasitoid yang ditemukan tersebar di semua lokasi pengamatan, walaupun ada spesies tertentu yang ditemukan hanya pada satu lokasi. Tingginya keanekaragaman parasitoid di Dramaga mungkin disebabkan oleh kondisi umum lahan dan bersebelahan dengan hutan bambu dengan beranekaragam tumbuhan bawah, sehingga akan meningkatkan keanekaragaman parasitoid. Selain itu dengan tidak dilakukan pembersihan lahan pada kebun murbei menyebabkan parasitoid dapat memperoleh makanan tambahan sehingga kelangsungan hidup terjaga. Penggunaan pestisida dapat berpengaruh negatif terhadap keberadaan dan keanekaragam parasitoid.
Jenis gangguan yang sering terjadi pada agroekosistem adalah praktek budidaya misalnya pengolahan tanah, penyiangan, pemakaian insektisida dan pemanenan. Praktek budidaya tersebut secara ekologi sering tidak mendukung kehidupan musuh alami. Aplikasi insektisida menyebabkan musuh alami terbunuh, dan praktek budidaya bersih menyebabkan inang dan sumber daya tambahan berkurang ketersediaannya. Keadaan tersebut pada akhirnya berdampak terhadap agroekosistem (Harwanto, 2002)
Predator sebagai spesies serangga yang mempunyai ciri-ciri : (1) memangsa serangga spesies lain; (2) menyerang langsung dan menyebabkan kematian mangsanya secara cepat; (3) dalam menyelesaikan perkembangan hidupnya memerlukan lebih dari satu individu mangsa; (4) larva dan imago predator mempunyai jenis mangsa yang sama; (5) hidupnya bebas; dan (6) mempunyai tubuh lebih besar daripada mangsanya (Onstad, 2008).
Kemampuan Coccinellidae terhadap mangsanya dapat ditunjukkan oleh besarnya proporsi mangsa yang dimakan dan terbunuh dari sejumlah individu mangsa yang tersedia. Uji pemangsaan di laboratorium selama 24 jam menunjukkan bahwa ke tiga spesies Coccinellidae yaitu Serangium sp1, Serangium sp2 dan
Serangium sp3 dapat memangsa nimfa T. vaporariorum rata-rata 4,33 individu nimfa, sedangkan Micraspis sp dapat memangsa rata-rata 14,6 individu nimfa.
Serangium merupakan kumbang predator yang efektif sebagai musuh alami T. vaporariorum seperti dalam yang pernah dikemukakan oleh Al-Zyoud (2006).
Micraspis sp merupakan predator aktif memangsa kutu daun pada tanaman cabe, Kemampuan memangsa nimfa T. vaporariorum paling banyak dibanding ketiga jenis kumbang lainnya, namun populasinya relatif lebih sedikit dibanding yang lain.
Hasil penjaringan di lapangan menunjukkan bahwa ke empat predator tersebut ditemukan di semua lokasi. Hal ini menunjukkan ke empat predator memiliki daerah penyebaran yang luas mulai dari dataran rendah (80 m dpl) sampai dataran tinggi (750 m dpl). Willemse (2001) melaporkan bahwa Serangium sp di India berperan sebagai predator nimfa T. vaporariorum.
Berdasarkan data pada Tabel 5 ternyata ke empat predator ditemukan di semua lokasi yang berarti memiliki daerah penyebaran yang luas mulai dari dataran rendah (80 m dpl) sampai ke dataran tinggi (750 m dpl). Serangium sp1 merupakan jenis yang dominan didapatkan pada semua lokasi hal ini menunjukkan jenis tersebut memiliki daya adaptasi yang lebih baik dibandingkan jenis yang lainnya.
Penyebaran Coccinellidae di beberapa lokasi tergantung pada kemampuan untuk mendeteksi isyarat dari lingkungannya. Kemampuan musuh alami untuk menemukan sumber inang atau mangsa ditentukan oleh jarak visual jauh dan dekat,
olfactory (penciuman), gustatory (pencicipan), mekanoreseptor dan sinyal audio yang dijalankan pada beberapa skala ruang. Olfactory, visual dan sinyal audio digunakan untuk menemukan habitat inang atau mangsa. Gustatory dan sinyal mekanoreseptor untuk melakukan respon jarak dekat, seperti menemukan inang atau mangsa setelah memasuki habitatnya. (Van Dreische dan Bellows, 1996).
Populasi Coccinellidae paling banyak di Dramaga (Bogor), hal ini disebabkan oleh tersedianya mangsa yang cukup melimpah. Populasi T. vaporariorum di daerah Dramaga, Bogor, cukup tinggi karena tanaman murbei di blok pengamatan pemangkasan tidak serentak sehingga tersedia daun murbei muda sebagai pakannya dalam jumlah yang melimpah, serta tidak dilakukan penyemprotan insektisida selama pengamatan. Kondisi ke lima daerah pengamatan hampir homogen, lahan dalam keadaan bersih karena rutin dilakukan penyiangan dan pencegahan serangan hama dengan melakukan penyemprotan insektisida sehingga akan berdampak berkurangnya musuh alami bagi hama sasaran.