• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil dan Pembahasan 1 Hasil Penelitian

Berdasarkan analisis, pembahasan, dan kesimpulan di atas peneliti mengajukan saran-saran sebagai berikut:

PENDEKATAN INQUIRY-BASED LEARNING (IBL) DALAM MENINGKATKAN PEMBELAJARAN FISIKA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS

3. Hasil dan Pembahasan 1 Hasil Penelitian

Siswa yang telah mengikuti pembelajaran tiga kali pertemuan (postest) sesuai dengan pendekatan IBL dilakukan ujian.

Berdasarkan hasil ujian tersebut diperoleh rata-rata skor pretest siswa kelompok eksperimen yaitu 50 dari skala 100 dan rata-

rata skor posttest-nya yaitu 85,50. Dengan menggunakan uji perbedaan dua rata-rata (uji-t) diperoleh hasil skor rata-rata pretest

dan posttest pada kelompok eksperimen berbeda secara signifikan pada taraf kepercayaan 99%. Dengan demikian dapat disimpulkan, pembelajaran Astronomi dengan pendekatan inkuiri dan eksplorasi dalam penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan siswa secara signifikan. Besarnya peningkatan yang diperoleh cukup tinggi yaitu rata-rata 47,33 poin dari skala

100 atau diperoleh normalized gain skor rata-rata sebesar 72%.

Tabel 1. Uji Perbedaan Skor rata-rata Ujian

Kelompok Uji Kelompok perlakuan Rata- rata SD Selisih t Sig. Keterangan Kelompok Eksperimen Pretest 50,00 18,25 35,50 9,211 0,000 Signifikan Posttest 85,50 19,63

Pretest Eksperimen 33,00 18,25 0,50 -0,082 0,935 Tidak signifikan

Kontrol 33,50 19,23

Posttest Eksperimen 85,50 20,66 25,50 4,123 0,000 Signifikan

Kontrol 60,50 14,72

N-Gain Eksperimen 0,70 0,21 0,40 4,673 0,000 Signifikan

4657

Kelompok kontrol adalah kelompok yang memperoleh pembelajaran secara reguler. Pada kelompok kontrol pembelajaran fisika yang dilaksanakan dengan menggunakan metode IBL. Pertemuan pertama dan kedua, guru memberikan ceramah mengenai topik-topik tertentu. Selanjutnya siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok yang beranggotakan 8 orang diminta membuat makalah mengenai topik tertentu. Setiap kelompok diwakili oleh satu orang mempresentasikan makalahnya di depan kelas.

Berdasarkan hasil tes pada kelas kontrol, yaitu kelas yang memperoleh pembelajaran secara reguler, diperoleh rata-rata

skor pretest 50,50 dan rata-rata skor posttest 60,50 atau diperoleh normalized gain skor rata-rata sebesar 30%. Dengan

membandingkan hasil pretest pada kelompok kontrol dan eksperimen, diperoleh hasil skor rata-rata kedua kelompok tidak

berbeda secara signifikan pada taraf kepercayaan 95%. Artinya pengetahuan awal kedua kelompok sebelum diberi perlakuan

adalah sama. Selanjutnya dilakukan uji perbedaan skor rata-rata posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen serta

uji perbedaan rata-rata normalized gain pada kedua kelompok tersebut dengan menggunakan uji-t. Hasilnya, skor rata-rata

posttest kedua kelompok berbeda secara signifikan pada taraf kepercayaan 95%. Demikian juga skor rata-rata normalized gain

antara kedua kelompok, hasilnya berbeda secara signifikan taraf kepercayaan 95%. Artinya, setelah mengalami pembelajaran IBL pelajaran fisika pada kelompok eksperimen menjadi berbeda secara signifikan dibandingkan dengan pada kelompok

kontrol. Kelompok eksperimen memperoleh skor rata-rata yang jauh lebih tinggi dan memperoleh normalized gain yang jauh

lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol. Dengan demikian dapat disimpulkan, pembelajaran fisika pendekatan IBL lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran secara reguler.

3.2. Pembahasan

Perolehan skor posttest rata-rata yang cukup tinggi yaitu 85,50 atau memperoleh normalized gain yang berbeda

signifikan dengan kelas kontrol pada hasil penelitian ini dimungkinkan karena semua tahap pelaksanaan proses pembelajaran mendukung ke arah peningkatan hasil belajar siswa. Dalam pembelajaran fisika dengan menggunakan model pembelajaran dengan pendekatan IBL, dimana siswa diberi tugas untuk mencari pengetahuannya sendiri sehingga dalam diri siswa akan tumbuh pemahaman dan pengetahuan yang dibangun oleh diri mereka sendiri. Dengan pengetahuan tersebut dapat menjadikan tumbuhnya kepercayaan diri pada siswa dan dapat mereka aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat membantu dalam menjaga dan melestarikan kelangsungan hidup umat manusia beserta lingkungannya.

Menurut Suyitno (2005:6) keterlibatan siswa untuk turut belajar aktif melalui merupakan salah satu indikator keefektifan belajar. Siswa tidak hanya menerima materi pengajaran yang diberikan oleh guru melainkan siswa berusaha menggali dan mengembangkannya sendiri. Dengan demikian hasil pengajaran tidak hanya menghasilkan pengetahuan tetapi juga meningkatkan ketrampilan berpikir. Hal ini dikuatkan oleh Eggen dan Kauchack dalam Suyitno (2005:9) yang menulis bahwa

Effective learning occurs when student are actively in organizing and finding relationship in the information by inquiry. The encounter rather than being passive recipient of teacher-delivered bodies of knowledge. The activity results not only increased learning and retention of content but also in improved thinking skills.

Adanya peningkatan ketertarikan dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran diduga karena siswa memperoleh hal- hal baru yang menarik dan tidak menjenuhkan bagi siswa karena dalam pembelajaran dengan pendekatan IBL dituntut keaktifan yang tinggi pada diri siswa. Peningkatan dan pencapaian hasil belajar yang sudah sesuai dengan yang diharapkan tidak lepas dari peran guru selama proses pembelajaran, karena guru merupakan salah satu komponen yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Untuk itu upaya yang dapat dilakukan guru agar hasil belajar siswa dapat lebih optimal adalah dengan mempertinggi mutu penmgajaran dan kualitas proses pembelajaran. Sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar, guru terlebih dahulu menjelaskan hal-hal yang harus dikerjakan oleh siswa, yaitu siswa diberi tugas untuk mencari informasi tentang

4658

materi yang akan dibahas baik melalui buku, internet, maupun literature lain. Dari informasi yang mereka dapatkan kemudian siswa disuruh membuat pertanyaan yang disertai dengan jawabannya. Kegiatan selanjutnya adalah siswa melakukan percobaan untuk membuktikan informasi yang mereka peroleh. Berdasarkan percobaan tersebut kemudian ditarik kesimpulan tentang materi yang dibahas dengan bimbingan guru. Untuk lebih memotivasi siswa, guru memberikan penghargaan atas hasil yang telah dicapai oleh siswa. Penghargaan tersebut diberikan kepada siswa yang mau mempresentasikan hasil penemuannya di depan kelas. Hal tersebut sesuai dengan peranan guru dalam menciptakan kondisi yang mendukung yaitu motivator, fasilitator dan rewarder (Gulo, 2005: 86-87).

4. Kesimpulan dan Saran 4.1. Kesimpulan

1. Dibandingkan dengan pembelajaran reguler yang menggunakan pendekatan IBL jauh lebih unggul dalam meningkatkan pengetahuan astronomi siswa.

2. Tanggapan siswa terhadap implementasi program pembelajaran dengan pendekatan IBL sangat positif, dimana dengan cara ini menurut siswa lebih bermakna, baik untuk bekal hidup mereka maupun untuk modal mengajar kelak. Proses belajar menarik dan tidak membosankan. Seluruh siswa merasa tidak perlu menghapalkan konsep/prinsip pada materi, karena konsep/prinsip yang diperoleh selama pembelajaran seperti ini tidak akan terlupakan. Selama proses pembelajaran siswa merasa diajak untuk aktif berpikir dan menjadi lebih memahami cara kerja ilmiah.

4.2. Saran

Disarankan kepada guru pengampu mata pelajaran fisika agar mengintegrasikan pembelajaran materi tersebut dengan pengembangan kemampuan merencanakan pembelajaran dengan pendekatan IBL.

Daftar Pustaka

Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 SMA: Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Fisika.

Jakarta: Puskur

Erlendsson, J .2001. Learning Motivation. Educational Productivity,

http://www.hi.is/~joner/eaps/wh.sdlmo.htm

Hungeford . 1990. Science-Technology-Society: Investigating and Evaluating STS Issues and Solution. Illinois: STIPES

Publ.

Loucks and Horsely, S. 1997. Reforming Teaching and Reforming Staff Development. Journal of Staff Development No.

18 (pp. 20-22)

McDermott L C, Shaffer P S, Constantinou C P. 2000. Preparing Teachers to Teach Physics and Physical Science by

Inquiry. Physics Education. Vol. 35 No. 6

NSTA. 1998. Standar for Science Teacher Preparation, Washington, DC: NSTA and AETS

Pyle, EJ. and Moffatt JA. 1998. The Effects of Visually-Enhanced Instructional Environments on Students' Conceptual

Growth. Journal of Science Education, Vol. 3, No. 3

Ramsey, J. 1993. Reform Movement Implication Social Responsibility. Science Education, Vol. 77 No. 2 (pp. 235-258)

Rutherford, F.J. and Ahlgren, A. 1990. Science for All Americans. New York: Oxford University Press

Susanto, Hadi. 2004. Pembelajaran Fisika dengan Pendekatan Inquiry. Makalah. Disajikan dalam rangka perencanaan

dan implementasi kurikulum fisika 2004.

Tim Pelatih Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Reseach). Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi PGSM IBRD Loan No. 3979-Ind.

Trowbridge, L.W and Rodger W. B. 1990. Becoming a Secondary School Science Teacher. Columbus: Merrill Publishing

4659

Wahyudi. 2001. Tingkatan Pemahaman Siswa Terhadap Materi Pembelajaran IPA. Editorial Jurnal Pendidikan dan

Kebudayaan Edisi 36

Yager, E. Robert, Ed. 1996. Science/Technology/Society As Reform In Science Education. Albany: State University of

4660

KAJIAN HUKUM PERLINDUNGAN ANAK