• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian Dan Pembahasan 1 Tes Awal (Pre tes)

4752 6 8 27,6% 21 72,4% Telah Berhasil

SD NEGERI 060932 MEDAN AMPLAS Misrum

IV. Hasil Penelitian Dan Pembahasan 1 Tes Awal (Pre tes)

Sebelum perencanaan tindakan disusun, terlebih dahulu diberikan pre tes kepada siswa, guna mengetahui tingkat kemampuan awal dan kesulitan siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan biasa yang berpenyebut sama dan berpenyebut berbeda. Dari hasil pre tes yang diperoleh, banyak siswa yang belum tuntas atau belum mencapai kriteria nilai (skor) yang telah ditentukan dalam menjawab setiap item soal, seperti tabel dibawah ini:

Tabel 1. Nilai Pre Tes Siswa No. Urut

Siswa Skor Nilai Persentase Keterangan

1 6 20 20% Tidak Tuntas 2 7 23 23% Tidak Tuntas 3 20 66 66% Tuntas 4 5 16 16% Tidak Tuntas 5 10 33 33% Tidak Tuntas 6 7 23 23% Tidak Tuntas 7 6 20 20% Tidak Tuntas 8 4 13 13% Tidak Tuntas 9 7 23 23% Tidak Tuntas 10 20 66 66% Tuntas 11 17 56 56% Tidak Tuntas 12 8 26 26% Tidak Tuntas 13 3 10 10% Tidak Tuntas 14 7 23 23% Tidak Tuntas 15 3 10 10% Tidak Tuntas 16 5 16 16% Tidak Tuntas 17 7 23 23% Tidak Tuntas 18 5 16 16% Tidak Tuntas 19 9 30 30% Tidak Tuntas 20 19 63 63% Tidak Tuntas 21 10 33 33% Tidak Tuntas 22 21 70 70% Tuntas 23 10 33 33% Tidak Tuntas 24 5 16 16% Tidak Tuntas 25 11 36 36% Tidak Tuntas 26 20 66 66% Tuntas 27 8 26 26% Tidak Tuntas 28 6 20 20% Tidak Tuntas 29 7 23 23% Tidak Tuntas 30 4 13 13% Tidak Tuntas 31 5 16 16% Tidak Tuntas 32 3 10 10% Tidak Tuntas Jumlah 928 Rata-rata Nilai 29

Berdasarkan hasil pre tes yang diperoleh, persentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal adalah

32

4 x 100% =

13%, sedangkan nilai rata-rata yang diperoleh siswa yaitu 29. Dari berbagai jenis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal- soal penjumlahan dan pengurangan pecahan biasa berpenyebut sama dan berpenyebut berbeda, maka dapat diketahui bahwa siswa tidak paham dalam melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan biasa yang berpenyebut sama dan

4763

berpenyebut berbeda pada soal bergambar dan dalam menjawab soal secara matematis, sehingga perlu diberikan penjelasan lagi mengenai pecahan dan contoh konkret dan pecahan.

Maka, dari hasil analisis pre tes tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa, yaitu siswa tidak paham dalam melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan biasa yang berpenyebut sama dan berpenyebut berbeda pada soal bergambar dan dalam menjawab soal secara matematis, hal ini pula yang akan menjadi masukan bagi peneliti dalam pelaksanaan tindakan di siklus I, untuk memberikan penjelasan lagi mengenai pecahan dan contoh konkret, seperti dengan menggunakan kertas lipat.

2. Siklus I

a. Pelaksanaan Tindakan I

Berdasarkan hasil pre tes yang telah di dapat, terlihat bahwa prestasi belajar siswa pada materi pecahan masih sangat rendah, sehingga peneliti menggunakan alternatif pemecahan masalah dengan menerapkan strategi pembelajaran kooperatif dan menggunakan alat peraga kertas lipat.

Pada tahap ini peneliti menerapkan strategi pembelajaran kooperatif dengan menggunakan alat peraga kertas lipat agar siswa mudah memahami kompetensi pecahan. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan merupakan pengembangan dari rencana pembelajaran yang telah disusun berdasarkan kebutuhan siswa. Peneliti memberikan motivasi kepada siswa sebelum pembelajaran dimulai, agar siswa bersemangat dalam belajar.

Setelah selesai dilakukannya tahapan-tahapan pada siklus I, siswa diberikan pos tes I untuk melihat keberhasilan tindakan yang telah dilakukan dan untuk mengukur sejauh mana kesulitan yang masih dialami siswa dalam mempelajari kompetensi penjumlahan dan pengurangan pecahan biasa berpenyebut sama dan berpenyebut berbeda.

b. Observasi I

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh guru kelas IV SD Negri 060932 Medan Amplas bahwa pembelajaran yang dilakukan peneliti sudah berjalan dengan baik seperti kegiatan membuka pelajaran yaitu dengan menarik perhatian siswa, menjelaskan tujuan pembelajaran. Pada penggunaan waktu dan strategi pembelajaran yaitu menyediakan sumber belajar, mendemonstrasikan media, dalam memberikan bimbingan kepada siswa, pengungkapan pertanyaan dengan jelas, memberikan respon atas pertanyaan siswa dan dalam menyimpulkan isi pelajaran, sudah terlaksana sangat baik. Namun ada beberapa kegiatan yang masih perlu ditingkatkan, yaitu:

1) Pada kegiatan membuka pelajaran masih perlu meningkatkan pemberian motivasi pada siswa.

2) Pada kegiatan penggunaan waktu dan strategi pembelajaran masih perlu ditingkatkan yaitu pada pelaksanaan

kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran terurut dan dalam penggunaan waktu pembelajaran secara efektif dan efisien.

c. Analisis Data I

Tingkat keberhasilan siswa dalam kompetensi pecahan setelah pemberian tindakan pada siklus I yaitu penerapan strategi pembelajaran kooperatif dengan menggunakan alat peraga kertas lipat, memperoleh peningkatan, namun belum mencapai tingkat ketuntasan yang diharapkan, sebab siswa dalam menjawab soal-soal pecahan masih belum optimal. Dari hasil pos tes yang diperoleh, beberapa siswa masih belum tuntas atau belum mencapai kriteria nilai (skor) yang telah ditentukan dalam menjawab tiap item soal, seperti yang tertera pada tabel dibawah ini:

4764

Tabel 2. Nilai Pos Tes I No. Urut

Siswa Skor Nilai Persentase Keterangan

1 17 56 56% Tidak Tuntas 2 23 76 76% Tuntas 3 29 96 96% Tuntas 4 23 76 76% Tuntas 5 16 53 53% Tidak Tuntas 6 20 66 66% Tuntas 7 15 50 50% Tidak Tuntas 8 22 73 73% Tuntas 9 15 50 50% Tidak Tuntas 10 28 93 93% Tuntas 11 25 78 78% Tuntas 12 17 56 56% Tidak Tuntas 13 19 63 63% Tidak Tuntas 14 28 93 93% Tuntas 15 19 63 63% Tidak Tuntas 16 12 4 4% Tidak Tuntas 17 23 76 76% Tuntas 18 26 86 86% Tuntas 19 14 46 46% Tidak Tuntas 20 27 90 90% Tuntas 21 11 36 36% Tidak Tuntas 22 24 80 80% Tuntas 23 23 76 76% Tuntas 24 26 86 86% Tuntas 25 14 46 46% Tidak Tuntas 26 23 76 76% Tuntas 27 13 43 43% Tidak Tuntas 28 24 75 75% Tuntas 29 17 56 56% Tidak Tuntas 30 19 63 63% Tidak Tuntas 31 12 40 40% Tidak Tuntas 32 13 43 43% Tidak Tuntas Jumlah 2100 Rata-rata Nilai 65,62

Berdasarkan data pos tes I yang telah diperoleh maka dapat dinyatakan bahwa kemampuan siswa dalam memahami kompetensi pecahan sudah mengalami peningkatan yang cukup baik. Dari 32 orang siswa, 16 orang (50%) telah mencapai syarat ketuntasan belajar, sedangkan nilai rata-rata siswa yang diperoleh yaitu 65,62.

Dari pos tes I yang telah dilakukan, maka secara klasikal telah mengalami ketuntasan belajar sebesar

32

16 x 100% =

50%. Hasil pre tes dan pos tes I diperoleh peningkatan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 37%.

Berdasarkan hasil jawaban siswa yang diperoleh pada pos tes I menunjukkan bahwa siswa masih kurang menguasai kompetensi pecahan, terutama pada penyelesaian operasi hitung secara sistematis, sehingga siswa masih mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal pecahan. Selanjutnya, hasil pos tes I ini digunakan sebagai acuan dalam memberikan tindakan pada siklus II untuk mengatasi rendahnya prestasi belajar siswa dalam mempelajari kompetensi pecahan.

d. Refleksi I

berdasarkan ketuntasan belajar siswa tersebut diperoleh persentase ketuntasan klasikal sebesar 50% (16%) pada siklus I ini terjadi peningkatan prestasi belajar siswa sebesar 37% dari hasil pre tes sebelumnya. Namun hasil pos tes ini menunjukkan bahwa ketuntasan belajar siswa pada kompetensi pecahan belum tercapai. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan pada siklus II, guna tercapainya peningkatan prestasi belajar siswa pada kompetensi pecahan.

4765

3. Siklus II

a. Pelaksanaan Tindakan II

Dari analisis data yang dilakukan setelah pos tes I diberikan, maka permasalahan yang dihadapi pada siklus II adalah siswa masih belum dapat menyelesaikan soal pecahan yang penyebutnya berbeda secara matematis. Pada siklus II ini dilakukan penerapan strategi pembelajaran kooperatif, dengan mengadakan tanya jawab kepada tiap-tiap kelompok mengenai soal-soal pecahan yang penyebutnya sama dan berbeda secara matematis. Kesempatan lebih diberikan kepada siswa yang memperoleh nilai paling rendah dari tiap-tiap kelompok untuk mengerjakan soal-soal di papan tulis. Hal ini bertujuan agar siswa aktif dalam pembelajaran, dan siswa yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibimbing untuk membantu teman sekelompoknya agar dapat mengerjakan soal dengan baik, sebab nilai yang diperoleh kelompok merupakan nilai yang diperoleh dari siswa yang mengerjakan soal tersebut.

Pada pelaksanaan tindakan II ini, peneliti menerapkan strategi pembelajaran kooperatif dengan mengadakan tanya jawab mengenai soal-soal pecahan yang penyebutnya berbeda secara kelompok. Kegiatan pembelajaran ini merupakan pengembangan dari rencana pembelajaran yang telah disusun. Setelah siklus ke II selesai, kemudian diberikan pos tes II yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa pada kompetensi pecahan.

b. Observasi II

Observasi ini dilakukan oleh guru kelas mulai dari awal pelaksanaan tindakan sampai akhir pelaksanaan tindakan. Dari hasil observasi yang dilakukan oleh guru kelas, menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran seperti membuka pelajaran, penggunaan waktu dan strategi pembelajaran, melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, komunikasi dengan siswa, melakukan evaluasi, dan menutup pelajaran yang dilakukan peneliti sudah baik, dan terjadi peningkatan menjadi baik sekali, dibandingkan dengan hasil observasi I pada siklus II. Pada observasi II ini siswa lebih aktif belajar, khususnya bagi siswa yang kurang paham. Siswa dalam tiap kelompok saling membantu dalam menyelesaikan soal yang diberikan sehingga pembelajaran telah terlaksana dengan optimal.

c. Analisis Data II

Setelah dilakukan beberapa tindakan untuk meningkatkan prestasi siswa dalam kompetensi pecahan, maka pada siklus II ini tingkat keberhasilan siswa dalam kompetensi pecahan setelah penerapan strategi pembelajaran kooperatif dengan mengadakan tanya jawab mengenai soal-soal pecahan yang penyebutnya sama dan berpenyebut berbeda, secara berkelompok memperoleh peningkatan, dan telah mencapai tingkat ketuntasan yang diharapkan, sebab dalam menjawab soal-soal pecahan siswa telah melakukannya secara matematis dengan benar, hanya saja ada beberapa siswa yang masih kurang teliti dalam menjawab soal, atau belum mencapai kriteria nilai (skor) yang telah ditentukan dalam menjawab tiap item soal, seperti yang tertera pada tabel dibawah ini:

Tabel 3. Nilai Pos Tes II No. Urut

Siswa Skor Nilai Persentase Keterangan

1 29 96 96% Tuntas 2 29 96 96% Tuntas 3 29 96 96% Tuntas 4 29 96 96% Tuntas 5 27 90 90% Tuntas 6 28 93 93% Tuntas 7 28 93 93% Tuntas 8 28 93 93% Tuntas 9 29 96 96% Tuntas 10 28 93 93% Tuntas

4766

11 30 100 100% Tuntas 12 30 100 100% Tuntas 13 29 96 96% Tuntas 14 30 100 100% Tuntas 15 28 93 93% Tuntas 16 19 63 63% Tidak Tuntas 17 30 100 100% Tuntas 18 29 96 96% Tuntas 19 27 90 90% Tuntas 20 30 100 100% Tuntas 21 27 90 90% Tuntas 22 30 100 100% Tuntas 23 27 90 90% Tuntas 24 28 93 93% Tuntas 25 28 93 93% Tuntas 26 30 100 100% Tuntas 27 28 93 93% Tuntas 28 19 63 63% Tidak Tuntas 29 29 96 96% Tuntas 30 28 93 93% Tuntas 31 29 96 96% Tuntas 32 18 60 60% Tidak Tuntas Jumlah 2947 Rata-rata Nilai 92,09

Dari pos tes II yang telah dilakukan, maka secara klasikal telah mengalami ketuntasan belajar sebesar

32

29 x 100% =

90,62%, sedangkan nilai rata-rata siswa yang diperoleh yaitu 92,09. Dari data yang tertera pada tabel tampak kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal pos tes II meningkat dibandingkan pos tes I, dan 29 orang siswa atau 90,62% telah mencapai tingkat ketuntasan belajar yang diharapkan. Sedangkan 3 orang siswa atau 9,37% belum mencapai tingkat ketuntasan belajar, yang disebabkan karena siswa kurang teliti dalam mengerjakan soal yang diberikan.

Peningkatan prestasi belajar secara individu dapat memberikan sumbangan kepada kelompok mereka masing-masing, sehingga dapat ditentukannya kelompok terbaik dan dapat memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki prestasi yang paling tinggi dan memiliki kerja sama yang paling baik.

d. Refleksi

Dari analisis data yang dilakukan pada siklus II terjadi peningkatan sebesar 40,62% dengan tingkat ketuntasan belajar siswa secara klasikal sebesar 90,62%. Hasil ini menunjukkan bahwa dengan penerapan strategi pembelajaran kooperatif dengan mengadakan tanya jawab mengenai soal-soal pecahan yang penyebutnya berbeda, secara berkelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam kompetensi pecahan. Dari hasil pos tes yang dikumpulkan, maka diketahui bahwa siswa telah mencapai ketuntasan secara klasikal, sehingga tidak perlu melakukan perbaikan lagi.

Pembahasan Hasil Penelitian

Sebelum pemberian tindakan, siswa diberikan pre tes dan diperoleh 4 orang siswa telah mencapai ketuntasan belajar yang diharapkan. Dari persentase diperoleh tingkat ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 13%. Dari hasil pre tes, kesulitan yang dialami siswa dalam mempelajari kompetensi pecahan yaitu siswa tidak memahami secara konkret bentuk pecahan dan operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan biasa berpenyebut sama dan berpenyebut berbeda.

Berdasarkan hasil pre tes tersebut maka upaya yang dilakukan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran kooperatif dan dengan menggunakan alat peraga kertas lipat. Setelah siklus II dilakukan, guru memberikan pos tes I. Dari hasil pos tes I diperoleh sebanyak 16 orang yang telah mencapai tingkat ketuntasan belajar, sedangkan 16 orang siswa lainnya belum mencapai tingkat ketuntasan belajar yang diharapkan. Maka pada pos tes I

4767

tingkat ketuntasan belajar secara klasikal adalah 50%, dan kesulitan yang ditemui setelah pelaksanaan siklus I yaitu siswa masih belum dapat menyelesaikan soal pecahan yang penyebutnya berbeda secara matematis.

Berdasarkan hasil pos tes I, upaya yang dilakukan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran kooperatif dengan mengadakan tanya jawab mengenai soal-soal pecahan yang penyebutnya sama dan berpenyebut berbeda secara berkelompok, membimbing siswa dalam kelompok sehingga masing-masing kelompok dapat mengerjakan soal pecahan secara matematis dengan baik dan benar. Setelah dilakukan tindakan pada siklus II, guru memberikan pos tes II. Dari hasil pos tes II diperoleh 29 orang siswa telah mencapai tingkat ketuntasan sedangkan 3 orang siswa belum mencapai tingkat ketuntasan yang diharapkan disebabkan kurang telitinya siswa dalam mengerjakan tes yang diberikan. Dari pos tes II diperoleh tingkat ketuntasan belajar klasikal sebesar 90,62%.

Berdasarkan hasil pos tes I dan pos tes II yang diperoleh, menunjukkan bahwa strategi pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada kompetensi operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan biasa yang penyebutnya sama dn yang penyebutnya berbeda. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan prestasi ketuntasan belajar secara klasikal dari pre tes ke pos tes I sebesar 37% dan dari pos tes I ke pos tes II peningkatan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 40.62%.

Demikian juga dengan peningkatan nilai rata-rata siswa. Dari hasil penelitian yang dilakukan sebelum diberikan tindakan (pre tes) dan setelah diberikan tindakan (pos tes I dan pos tes II) nilai rata-rata siswa pada kompetensi pecahan mengalami peningkatan yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4. Peningkatan Nilai Rata-rata Siswa

No Tes Nilai Rata-rata

1 Pre tes 29

2 Pos tes I 65,62

3 Pos tes II 92,09

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa terjadi peningkatan nilai rata-rata siswa mulai dari pre tes sampai pos tes II, dimana nilai rata-rata siswa pada pre tes sebesar 29 yang meningkat pada pos tes I menjadi 65,62 kemudian meningkat kembali pada pos tes II menjadi 92,09.

Penerapan strategi pembelajaran kooperatif yang telah dilakukan dengan diberikannya contoh konkret berupa alat peraga kertas lipat, dan dengan mengadakan tanya jawab mengenai soal-soal pecahan yang penyebutnya sama dan berpenyebut berbeda secara berkelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya dalam mempelajari operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan biasa yang penyebutnya sama dan yang penyebutnya berbeda di kelas IV SD Negeri 060932 Medan

Amplas, hal ini sesuai dengan pendapat Solihatin, dkk (2008: 13) “bahwa penggunaan strategi pembelajaran kooperatif sangat

mendorong peningkatan prestasi belajar siswa dan dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk belajar mandiri”. Para siswa lebih bersemangat dan termotivasi dalam belajar karena siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaan dan pemecahan masalah pada kompetensi pecahan sehingga pelajaran yang telah dipahami dapat bertahan lama dalam memori siswa dan

melekat dalam pola pikir dan juga tindakannya. Dengan demikina hipotesis yang diajukan sebelumnya yang berbunyi

“Strategi pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada kompetensi pecahan di kelas IV SD Negeri

060932 Medan Amplas Tahun Ajaran 2011/2012” dapat diterima kebenarannya.

V. Kesimpulan Dan Saran Kesimpulan

Berdasarkan analisis data dapat diambil kesimpulan dari hasil penelitian yaitu sebagai berikut:

4768

2. Setelah pelaksanaan tindakan siklus I dengan menerapkan strategi pembelajaran kooperatif dengan memberikan contoh

konkret alat peraga berupa kertas lipat, maka diperoleh tingkat ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 50%. Terjadi peningkatan prestasi belajar sebesar 37% dari hasil pre tes ke hasil pos tes I.

3. Setelah pelaksanaan tindakan siklus II dengan menerapkan strategi pembelajaran kooperatif dan dengan mengadakan tanya

jawab mengenai soal-soal pecahan yang penyebutnya sama dan berpenyebut berbeda secara berkelompok, serta memberikan bimbingan pada tiap-tiap kelompok, membuat siswa lebih memahami dan dapat mengerjakan soal pecahan secara matematis dengan baik dan benar. Terjadi peningkatan hasil belajar siswa sebesar 40,62% dari hasil pos tes I ke pos tes II.

Saran

1. Kepada guru yang ingin menerapkan strategi pembelajaran kooperatif hendaknya memberikan perhatian kepada siswa yang

kurang aktif dalam kelompoknya ketika proses pembelajaran.

2. Sebaiknya strategi pembelajaran kooperati didukung dengan penggunaan alat peraga sehingga siswa lebih bersemangat

dalam memecahkan masalah pada kompetensi di dalam kelompok belajar.

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara

Gulo, W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Gramedia Indonesia.

Heruman. 2007. Model Pembelajaran Matematika SD. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Isjoni. 2009. Cooperative Learning. Bandung: Alfabeta.

Sanjaya, Wina. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana.

4769

PENGARUH NILAI RELIGI TERHADAP PERILAKU MAHASISWA