Bab ini menjelaskan uraian hasil penelitian pelaksanaan cuci tangan di ruangan ICU RS St. Elisabeth Medan dari kuesioner dan observasi pada responden yang sudah menyetujui tindakan penelitian.Berdasarkan hasil penelitian analisis univariat dengan satu variable tingkat keberhasilan dalam suatu tindakan proses keperawatan khususnya pelaksanaan tindakan cuci tangan di Ruangan ICU dengan berbagai prosedur tindakan keperawatan dasar pada klien di sesuaikan dengan tingkat kepatuhan dan tanggung jawap penuh yang di berikan kepada masing-masing individu untuk memperoleh hasil yang maksimal.
Untuk menunjang hasil yang memuaskan khususnya perawatan dasar seperti pelaksanaan cuci tangan sesuai dengan SOP , dari berbagai tindakan prosedur perawatan di ruangan ICU di butuhkan kepatuhan dan ketaatan. Aturan prosedur yang sudah di tetapkan dari hasil penelitian yang di lakukan oleh peneliti dengan observasi analitik di temukan beberapa data yang di perlukan untuk perbaikan pelayanan kesehatan di bidang perawatan dasar untuk perkembangan kesehatan masyarakat.dari hasil penelitian di peroleh data distribusi sebagai berikut:
5.1.1. Data demografi
Tabel 5.1 distribusi data demografi berdasarkan umur, jenis kelamin, pendidikan, status pernikahan, lama kerja Bulan November 2013 (n=37)
Variabel Kategori F (%) Umur 20-39 40-59 31 6 84 16
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 4 33 10,8 89,2 Pendidikan Terakhir S1 D3 Keperawatan SPK 2 34 1 0,5 99,3 0,2 Status Pernikahan Menikah Belum Menikah 16 21 43,2 56,8
Lama Kerja <1 tahun 1-5 tahun 6-10 tahun 11-19 tahun 20-37 tahun 4 11 9 7 6 10,9 29,7 24,3 18,9 16,2
Berdasarkan hasil pada tabel 5.1 di dapatkan bahwa mayoritas umur perawat pada kategori 20-39 tahun 84%, mayoritas jenis kelamin perempuan, 89,2% dengan tingkat pendidikan mayoritas 99,3% status pernikahan belum menikah 56,8%, dan lama kerja 1-5 tahun 29,7% lebih banyak daripada lama kerja perawat lainnya.
Tabel 5.2 distribusi pelaksanaan cuci tangan perawat di ruangan ICU Dari hasil perhitungan data di temukan jumlah perawat yang mendapat nilai 76-100 sebanyak 29 responden, 65-75 sebanyak 6 responden dan <dari 65 sebanyak 2 responden.
Variabel Kategori Frekuensi Persenta se % Pelaksanaan cuci tangan perawat di ruangan ICU Baik dilakukan Kurang baik Tidak dilakukan 29 6 2 78 17 5
Berdasarkan tabel 5.2 didapatkan bahwa pelaksanaan cuci tangan perawat di ruang ICU mayoritas 78% sudah baik dilakukan
5.2 PEMBAHASAN
Cuci tangan dapat diartikan sebagai tindakan perawat untuk menggosok tangan dengan sabun secara bersama eluruh kulit permukaan tangan dengan kuat dan ringkas sesuai dengan prosedur pelaksanaan yang benar dan dibilas di bawah aliran air dengan menggunakan sabun antimikroba, dan bertujuan untuk membebaskan tangan dari kuman serta mencegah kontaminasi silang, memindahkan angka maksimum kulit dari kemungkinan adanya infeksi pathogen (kusyati 2010).
Berdasarkan pelaksanaan cuci tangan perawat di ruangan ICU Rumah Sakit Elisabeth Medan didapatkan mayoritas 78% sudah baik dilakukan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Supratman (2008) didapatkan hasil 80% tindakan cuci tangan dilakukan dengan baik. Begitu juga pada penelitian dari Purnama, (2009) didapatkan hasil 78,8% yang tindakan cuci tanganperawatdilakukan dengan baik. Berdasarkan hasil-hasil tersebut dapat di uraikan bahwa pelaksanaan cuci tangan perawat mayoritas telah dilakukan oleh perawat dengan baik. Hal ini juga telah didukung oleh data dari RS St.Elisabeth Medan bahwa perawat telah mendapatkan pelatihan tentang cuci tangan. (Survey awal, 2013) dan telah ada aturan yang mengharuskan perawat cuci tangan.
Pelaksanaan cuci tangan perawat ICU jika dikaitkan dengan data demografi perawat ICU Rumah Sakit Elisabeth Medan, dapat dikarenakan hampir seluruh perawat berpendidikan D-III Keperawatan 99,3%, dengan lama kerja berada pada rentang 1-5 tahun 29,6%, dan lama kerja 6-10 tahun
24,3%. Hal ini berarti pendidikan dan lama kerja dapat mendukung pelaksanaan cuci tangan perawat menjadi baik.
Menurut Handoko (2002), pendidikan merupakan faktor penting dalam menentukan kemampuan kerja seseorang. Oleh karena pendidikan adalah langkah awal untuk melihat kemampuan sesorang. Sementara Hasibuan (2007), pendidikan merupakan indikator yang mencerminkan kemampuan seseorang untuk dapat menyelesaikan pekerjaan. Dengan latar belakang pula seseorang dianggap akan mampu menduduki suatu jabatan. Selain itu pendidikan juga merupakan suatu pembinaan dalam proses berkembangnya kemampuan dasar yang ada padanya. Berdasarkan definisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan cerminan seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan berdasarkan kemampuan dasar yang ada padanya.
Apabila dikaitkan dengan umur perawat ruangan ICU Rumah Sakit Elisabeth Medan mayoritas 84% berada pada kategori umur 20-29 tahun yang berarti usia tersebut masih dapat menerima suatu bentuk aturan-aturan dari Rumah Sakit.
Menurut Robbin (2002) factor usia pada pelaksanaan kinerja sangat erat kaitannya, alasannya adalah adanya keyakinan yang meluas bahwa pelaksanaan kinerja menurun akibat bertambahnya usia. (Robbin) Pada pekerja yang berusia tua dianggap kurang luwes dan menolak teknologi baru. (Robbin) Tetapi di lain pihak ada kualitas positif pada pekerja yang berusia tua, meliputi pengalaman, pertimbangan, etika kerja yang kuat, dan komitmen terhadap mutu. Namun hasil ini tidak sesuai dengan Melcher
(1995), bahwa usia 30-40 tahun umumnya memiliki nilai motivasi, ambisi dan kerja keras untuk mencapai kesuksesan atau prestasi.
Berdasarkan pada item kuesioner dari pelaksanaan cuci tangan perawat, berdasarkan observasi didapat bahwa perawat melakukan pelaksanaan cuci tangan di ruangan ICU saat melakukan tindakan seperti pemasangan infus, pemasangan NGT, pemasangan kateter, penyuntikan, pembebasan jalan napas dengan suction, penggantian balutan infus, walaupun masih ada beberapa perawat yang tidak melakukan ataupun kurang baik melakukan cuci tangan di ruangan ICU Rumah Sakit Elisabeth Medan. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 17% kurang baik pelaksanaan cuci tangan yang dilakukan perawat ICU.
Berdasarkan data bagian PIN RS St. Elisabeth Medan (2013) bahwa resiko infeksi nasokomial di rumah sakit sangat besar seperti tahun 2008 infeksi phlebitis mencapai 7% ,pada tahun 2009 infeksi kateter 4%, pada tahun 2012 infeksi decubitus 3,6 % terjadi di ruangan ICU. Sesuai dengan kebijakan dan program yang dilakukan oleh pihak rumah sakit Elisabeth Medan, khusus untuk penanganan infeksi nasokomial dilakukan pelatihan dan tuntutan program dari rumah sakit. Beberapa responden mengatakan bahwa pihak rumah sakit melakukan pelatihan kepada perawat ICU tentang pencegahan infeksi nasokomial seperti cara mencuci tangan.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN