• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil

Berdasarkan data pengamatan dan hasil sidik ragam diketahui bahwa pemberian pupuk daun berpengaruh nyata terhadap terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, total luas daun, tebal daun, bobot kering tajuk dan bobot kering akar. Pada perlakuan interval penyiraman air berpengaruh nyata terhadap total luas daun dan tebal daun. Interaksi antara perlakuan pemberian pupuk daun dan interval penyiraman air berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter yang diamati.

Tinggi Tanaman

Data hasil pengamatan dan sidik ragam tinggi tanaman pada 6 – 16 MST dapat dilihat pada Lampiran 5 s/d 16. Menunjukkan bahwa perlakuan pupuk daun berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman umur 6 -16 MST, interval penyiraman air berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman. Interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman kakao.

Kakao umur 6- 16 MST pada perlakuan pupuk daun dan interval penyiraman air dapat dilihat dari Tabel 1 sebagai berikut.

Tabel 1. Rataan tinggi bibit (cm) tanaman kakao umur 6 – 16 MST pada perlakuan pupuk daun dan interval penyiraman air

Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris dan T0:1x/1hari T1 1x/3hari T21x /5hari T31x/ 7hari

6 MST

Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan pupuk daun umur 16 MST menghasilkan tanaman tertinggi pada perlakuan M3 (8 ml/l) yaitu 79.75 cm yang berbeda tidak nyata dengan M1 (4 ml/l) yaitu 79.53 cm dan M2 (6 ml/l) yaitu 79.68 cm tetapi berbeda nyata pada M0 (0 ml/l) yaitu 62.74 cm yang merupakan rataan terendah pada tinggi tanaman kakao.

Perlakuan pemberian interval penyiraman air umur 16 MST menghasilkan tanaman tertinggi pada T1(1x3hari) yaitu 77.8 cm dan terendah pada perlakuan T3 (1x7hari) yaitu 73.74 cm.

Hubungan perlakuan pupuk daun dengan tinggi tanaman pada 16 MST dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Hubungan perlakuan pupuk daun dengan tinggi bibit tanaman kakao pada 16 MST

Gambar 1 menunjukkan hubungan kuadratik positif antara tinggi tanaman

dengan pemberian beberapa dosis pupuk daun dengan persamaan

ŷ = 0.471x2- 5.824x + 62.88 dengan R= 0.988, dengan nilai maksimum tinggi tanaman 80.88 cm pada dosis pemberian pupuk daun 6.18 ml. Tinggi tanaman bibit kakao akan terus meningkat pada dosis pupuk daun yang optimum dan akan menurun setelah melebihi batas optimum.

ŷ = 0.471x2 - 5.824x + 62.88

Jumlah Daun

Data hasil pengamatan dan sidik ragam tinggi tanaman pada 6–16 MST dapat dilihat pada Lampiran 17 s/d 28. Menunjukkan bahwa perlakuan pupuk daun berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah daun pada umur 6-16 MST, dimana perlakuan interval penyiraman air berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun pada umur 6-16 MST. Sedangkan interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun tanaman kakao.

Rataan jumlah daun tanaman kakao umur 6- 16 MST pada perlakuan pupuk daun dan interval penyiraman air dapat dilihat dari Tabel 2 sebagai berikut.

Tabel 2. Jumlah daun (helai) tanaman kakao umur 6 – 16 MST pada perlakuan pupuk daun dan interval penyiraman air

Pupuk Daun

ml/L

Penyiraman Air

Rataan T0:1xsehari T1:1x3hari T2:1x5hari T3:1x7hari

6 MST

Tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan pupuk daun umur 16 MST menghasilkan jumlah daun tertinggi pada perlakuan M3 (8 ml/l) yaitu 28.35 helai berbeda tidak nyata pada M2 (6 ml/l) yaitu 26.92 helai tetapi berbeda nyata terhadap M1 (4 ml/l) yaitu 26.85 helai dan M0 (0 ml/l) yaitu 22.90 helai yang merupakan rataan terendah pada jumlah daun bibit kakao.

Perlakuan pemberian interval penyiraman air umur 16 MST menghasilkan jumlah daun tertinggi pada perlakuan T1(1x3hari) yaitu 6.6 helai dan terendah pada perlakuan T3 (1x7hari) yaitu 5.81 helai.

Hubungan perlakuan pupuk daun dengan jumlah daun pada 16 MST dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Hubungan perlakuan pupuk daun dengan jumlah daun bibit tanaman kakao pada 16 MST

Gambar 2 menunjukkan hubungan linear positif antara jumlah daun

dengan beberapa dosis pemberian pupuk daun dengan

Diameter Batang

Data hasil pengamatan dan sidik ragam diameter batang pada 6 – 16 MST dapat dilihat pada Lampiran 29 s/d 40. Menunjukkan bahwa perlakuan pupuk daun berpengaruh nyata terhadap parameter diameter batang pada umur 6 MST -16 MST. dimana perlakuan interval penyiraman air berpengaruh tidak nyata terhadap diameter batang pada umur 6 – 16 MST. Sedangkan interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap diameter batang tanaman kakao.

Rataan diameter batang tanaman kakao umur 6- 16 MST pada perlakuan pupuk daun dan interval penyiraman air dapat dilihat dari Tabel 3 sebagai berikut.

Tabel 3. Diameter batang (mm) tanaman kakao umur 6 – 16 MST pada perlakuan pupuk daun dan interval penyiraman air

Pupuk Daun ml/L

Penyiraman Air

Rataan T0:1xsehari T1:1x3hari T2:1x5hari T3:1x7hari

6 MST

Tabel 3 menunjukkan bahwa perlakuan pupuk daun umur 16 MST menghasilkan diameter batang tertinggi pada perlakuan M3 (8 ml/l) yaitu 9.55 mm berbeda tidak nyata terhadap M1 (4 ml/l) yaitu 9.03 mm dan M2 (6 ml/l) yaitu 9.12 mm tetapi berbeda nyata terhadap M0 (0 ml/l) yaitu 7.29 mm yang merupakan rataan terendah pada diameter bibit kakao.

Perlakuan pemberian interval penyiraman air umur 16 MST menghasilkan diameter batang tertinggi pada T1 (1x3hari) yaitu 8.87 mm dan terendah pada perlakuan T3 (1x7hari) yaitu 8.64 mm.

Hubungan perlakuan pupuk daun dengan diameter batang tanaman pada 16 MST dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Hubungan perlakuan pupuk daun dengan diameter batang bibit tanaman kakao pada 16 MST

Gambar 3 menunjukkan hubungan linear positif antara diameter batang

dengan pemberian beberapa dosis pupuk daun dengan persamaan

ŷ = 0.279x + 7.489 dengan r= 0.917, dimana diameter batang tanaman akan semakin meningkat dengan meningkatnya dosis pemberian pupuk daun.

ŷ= 0.279x + 7.489

Total Luas Daun

Data hasil pengamatan dan sidik ragam total luas daun dapat dilihat pada Lampiran 41 s/d 42. Berdasarkan hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan pupuk daun dan interval penyiraman air berpengaruh nyata terhadap total luas daun. Sedangkan interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap total luas daun tanaman kakao.

Rataan total luas daun tanaman kakao umur 16 MST pada perlakuan pupuk daun dan interval penyiraman air dapat dilihat dari Tabel 4 sebagai berikut.

Tabel 4. Total luas daun (cm²) tanaman kakao 16 MST pada perlakuan pupuk T0:1xsehari T1:1x3hari T2:1x5hari T3:1x7hari

Tabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan pupuk daun menghasilkan total luas daun tertinggi pada M3 (8 ml/l) yaitu 3199.1 cm² berbeda tidak nyata terhadap M2 (8 ml/l) yaitu 2918.1 cm² dan M1(4 ml/l) yaitu 2896.7 cm² tetapi berbeda nyata terhadap M0 (0 ml/l) yaitu 2034.0 cm² yang merupakan rataan terendah total luas daun bibit kakao .

Pada perlakuan interval penyiraman air menghasilkan total luas daun tertinggi terdapat pada T0 (1xsehari) yaitu 2955.72 cm² berbeda tidak nyata pada

tetapi berbeda nyata terhadap T3(1x7sehari) yaitu 2461.95 cm² yang merupakan rataan terendah total luas daun bibit kakao.

Hubungan perlakuan pupuk daun dengan total luas daun tanaman pada 16 MST dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Hubungan perlakuan pupuk daun dengan total luas daun bibit tanaman kakao pada 16 MST

Gambar 4 menunjukkan hubungan linear positif antara total luas daun

dengan pemberian beberapa dosis pupuk daun dengan persamaan

ŷ = 142.0x + 2122 dengan r = 0.925, dimana total luas daun tanaman akan semakin meningkat dengan meningkatnya dosis pemberian pupuk daun.

Hubungan perlakuan interval penyiraman air dengan total luas daun tanaman pada 16 MST dapat dilihat pada Gambar 5.

ŷ = 142.0x + 2122 r = 0.925

0.00 500.00 1000.00 1500.00 2000.00 2500.00 3000.00 3500.00

0 2 4 6 8

Total Luas Daun (cm²)

Pupuk Daun (ml/L)

Gambar 5. Hubungan perlakuan interval penyiraman air dengan total luas daun bibit tanaman kakao pada 16 MST

Gambar 5 menunjukkan hubungan linear negatif antara total luas daun

dengan pemberian interval penyiraman air dengan persamaan

ŷ = 77.84x – 3073 dengan r = 0.890, dimana dengan semakin lama waktu interval penyiraman air maka akan semakin menurunkan total luas daun tanaman.

Tebal Daun

Data hasil pengamatan dan sidik ragam tebal daun dapat dilihat pada Lampiran 43 s/d 44. Berdasarkan hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan interval penyiraman air berpengaruh nyata terhadap tebal daun.

sedangkan perlakuan pupuk daun. interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap terhadap tebal daun.

Rataan tebal daun tanaman kakao umur 16 MST pada perlakuan pupuk daun dan interval penyiraman air dapat dilihat dari Tabel 5 sebagai berikut.

ŷ = 7.84x - 3073

Tabel 5. Tebal daun tanaman (mm) kakao 16 MST pada perlakuan pupuk daun

Tabel 5 menunjukkan bahwa perlakuan pupuk daun menghasilkan tebal daun tertinggi pada perlakuan T0 (1xsehari) yaitu 0.188 mm berbeda tidak nyata pada T1(1x3sehari) yaitu 0.184 mm tetapi berbeda nyata terhadap perlakuan T2 (1x5sehari) yaitu 0.175 mm dan T3 (1x7hari) yaitu 0.149 mm yang merupakan rataan tebal daun terendah bibit tanaman kakao.

Perlakuan pupuk daun dengan rataan tebal daun tertinggi terdapat pada perlakuan M3 (8 ml/l) yaitu 0.177 mm dan terendah pada perlakuan M0 (0 ml/l) yaitu 0.171 mm.

Hubungan perlakuan interval penyiraman air dengan tebal daun tanaman pada 16 MST dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6.Hubungan perlakuan interval penyiraman air dengan tebal daun bibit tanaman kakao pada 16 MST

Gambar 6 menunjukkan hubungan linear negatif antara tebal daun dengan interval penyiraman air dengan persamaan ŷ = 0.006x - 0.199 dengan r = 0.848, dimana dengan semakin lama waktu interval penyiraman air maka akan semakin menurunkan tebal daun tanaman.

Bobot Kering Tajuk

Data hasil pengamatan dan sidik ragam bobot kering tajuk dapat dilihat pada Lampiran 45 s/d 46. Berdasarkan hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan pupuk daun berpengaruh nyata terhadap bobot kering tajuk. Perlakuan interval penyiraman air. interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap terhadap bobot kering tajuk.

Rataan bobot kering tajuk tanaman kakao umur 16 MST pada perlakuan pupuk daun dan interval penyiraman air dapat dilihat dari Tabel 6 sebagai berikut.

ŷ = 0.006x - 0.199 r = 0.848

0.000 0.050 0.100 0.150 0.200 0.250

0 2 4 6 8

Tebal Daun (mm)

Interval Penyiraman Air (hari sekali)

Tabel 6. Bobot kering tajuk (g) tanaman kakao 16 MST pada perlakuan pupuk T0:1xsehari T1:1x3hari T2:1x5hari T3:1x7hari

M0 (0) 5.58 7.02 5.22 6.75 6.14c

Tabel 6 menunjukkan bahwa perlakuan pupuk daun menghasilkan bobot kering tajuk tertinggi pada perlakuan M3 (8 ml/l) yaitu 14.79 g berbeda tidak nyata pada M2 (6ml/l) yaitu 13.59 g tetapi berbeda nyata pada perlakuan M1 (4 ml/l) yaitu 13.37 g dan M0 (0 ml/l) yaitu 6.14 g yang merupakan rataan bobot kering tajuk terendah pada bibit kakao.

Perlakuan interval penyiraman air dengan bobot kering tajuk tertinggi terdapat padapada perlakuan T1(1x3hari) yaitu 12.08 g dan terendah pada perlakuan T3(1x7hari) yaitu 11.86 g.

Hubungan perlakuan pupuk daun dengan bobot kering tajuk tanaman pada 16 MST dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Hubungan perlakuan pupuk daun dengan bobot kering tajuk bibit tanaman kakao pada 16 MST

Gambar 7 menunjukkan hubungan kuadratik positif antara bobot kering

tajuk dengan pemberian beberapa dosis pupuk daun dengan persamaan

ŷ = 0.153x2- 2.267x + 6.232 dengan R = 0.981, dengan nilai maksimum 14.62 g pada dosis pupuk daun 7.40 ml. Bobot kering tanaman akan terus meningkat pada dosis pupuk daun yang optimum dan akan menurun setelah melebihi batas optimum.

Bobot Kering Akar

Data hasil pengamatan dan sidik ragam bobot kering akar dapat dilihat pada Lampiran 47 s/d 48. Berdasarkan hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan pupuk daun berpengaruh nyata terhadap bobot kering akar. Perlakuan interval penyiraman air. interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap terhadap bobot kering akar.

Rataan bobot kering akar tanaman kakao umur 16 MST pada perlakuan pupuk daun dan interval penyiraman air dapat dilihat dari Tabel 7 sebagai berikut.

ŷ = 0.153x2 - 2.267x + 6.232

Tabel 7: Bobot kering akar (g) tanaman kakao 16 MST pada perlakuan pupuk daun dan interval penyiraman air

T0:1xsehari T1:1x3hari T2:1x5hari T3:1x7hari

Tabel 7 menunjukkan bahwa pada perlakuan pupuk daun menghasilkan bobot kering akar tertinggi pada perlakuan M3 (8 ml/l) yaitu 2.23 g yang berbeda nyata pada M2 (6 ml/l) yaitu 1.88 g. M1 (4 ml/l) yaitu 1.87 g dan M0 (0 ml/l) yaitu 1.05 yang merupakan rataan terendah bobot kering akar bibit kakao.

Perlakuan interval penyiraman air dengan berat kering akar tertinggi terdapat padaperlakuan T1(1x3hari) yaitu 1.81g dan terendah pada perlakuan T3(1x7hari) yaitu 1.7 g.

Hubungan perlakuan pupuk daun dengan bobot kering akar tanaman pada 16 MST dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8. Hubungan perlakuan pupuk daun dengan berat kering akar bibit tanaman kakao pada 16 MST

Gambar 8 menunjukkan hubungan linear positif antara berat kering akar

dengan pemberian beberapa dosis pupuk daun dengan persamaan

ŷ = 0.142x + 1.117 dengan r = 0.938, dimana bobot kering akar tanaman akan semakin meningkat dengan meningkatnya dosis pemberian pupuk daun.

Rasio Tajuk – Akar

Data hasil pengamatan dan sidik ragam panjang akar dapat dilihat pada Lampiran 49 s/d 50. Berdasarkan hasil sidik ragam menunjukkan bahwa.

perlakuan pupuk daun dan interval penyiraman air serta interaksi antara kedua perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap terhadap rasio tajuk akar.

Rataan rasio tajuk akar tanaman kakao umur 16 MST pada perlakuan pupuk daun dan interval penyiraman air dapat dilihat dari Tabel 8 sebagai berikut.

ŷ = 0.142x + 1.117 r = 0.938

0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50

0 2 4 6 8

Bobot Kering Akar (g)

Pupuk Daun (ml/L)

Tabel 8. Rasio tajuk akar tanaman kakao 16 MST pada perlakuan pupuk daun dan interval penyiraman air

Pupuk Daun (ml/L)

Penyiraman Air

Rataan T0:1xsehari T1:1x3hari T2:1x5hari T3:1x7hari

Tabel 8 dapat dilihat bahwa pada perlakuan pupuk daun M2 (6 ml/l) yaitu 7.47 dan terendah pada perlakuan M0 (0 ml/l) yaitu 5.97. Rataan tertinggi pada perlakuan interval penyiraman air pada perlakuan T3 (1x7hari) yaitu 7.22 dan terendah T2 (1x5hari) yaitu 5.97.

Pembahasan

Pengaruh Pemberian Pupuk Daun Terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao L.)

Berdasarkan hasil sidik ragam pemberian pupuk daun berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan diameter batang. Tinggi tanaman dengan rataan tertinggi dihasilkan pada perlakuan M3(8 ml/l) yaitu 79.75 cm dan terendah pada perlakuan M0 (0 ml/l) yaitu 62.74 cm. Sedangkan untuk diameter batang dengan rataan tertinggi didapat pada perlakuan M3(8 ml/) yaitu 9.55 mm dan terendah pada perlakuan M0 (0 ml/l) yaitu 7.29 mm. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan nitrogen yang tinggi terdapat pada pupuk daun yaitu N: 4% P: 3% K:

3% mampu mencukupi kebutuhan hara tanaman. Dimana kandungan N akan

merangsang pertumbuhan vegetatif tanaman seperti tinggi dan diameter batang.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Hansen et al., (2017) yang menyatakan ketersediaan nitrogen yang cukup mempunyai peran utama untuk merangsang pertumbuhan secara keseluruhan dan khususnya pertumbuhan batang yang dapat memacu pertumbuhan tinggi tanaman. Tersedianya unsur hara yang cukup dapat meningkatkan proses fotosintesis dan metabolisme tanaman yang akan memacu pertumbuhan tinggi yang diikuti dengan pertambahan lilit batang yang besar.

Berdasarkan hasil sidik ragam diketahui bahwa pemberian pupuk daun berpengaruh nyata terhadap jumlah daun dan total luas daun.Jumlah daun dengan rataan tertinggi dihasilkan pada perlakuan M3 (8 ml/l) yaitu 28.35 helai dan terendah terdapat pada perlakuan M0 (0 ml/l) yaitu 22.90 helai. Sedangkan untuk total luas daun dengan rataan tertinggi dihasilkan pada perlakuan M3 (8 ml/l) yaitu 3199.13 cm² dan terendah pada perlakuan M0 (0 ml/l) yaitu 2034.0 cm². Hal ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk supermes melalui daun lebih efektif dilakukan, karena unsur hara yang dikandung pupuk supermes cepat diserap tanaman melaui mulut daun dan celah kutikula sehingga perbaikan tanaman cepat terlihat didukung oleh pemberian dosis yang tepat. jenis pupuk yang tepat, sasaran yang tepat. dan waktu yang tepat pada saat mengaplikasikannya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kurniastuti dan Palupi (2018) yang menyatakan bahwa unsur hara yang terkandung dalam bentuk ion-ion yang ada dipermukaan daun akan bergerak masuk secara difusi dan osmosis ke dalam sel setelah stomata membuka.

Pupuk daun lebih efisien jika diaplikasikan pada tanaman sesuai kebutuhan, bila pupuk diberikan melebihi konsentrasi optimum, maka dapat mengakibatkan

Berdasarkan hasil sidik ragam diketahui bahwa pemberian pupuk daun berpengaruh nyata terhadap bobot kering tajuk dan bobot kering akar. Bobot kering tajuk dengan rataan tertinggi dihasilkan pada perlakuan M3 (8 ml/l) yaitu 14.79 g dan terendah terdapat pada perlakuan M0 (0 ml/l) 6.14 g. Sedangkan pada bobot kering akar dengan rataan tertinggi dihasilkan pada perlakuan M3 (8 ml/l) yaitu 2.23 g dan terendah pada perlakuan M0 (0 ml/l) yaitu 1.05 g. Hal ini menunjukkan bahwa terjadinya peningkatan tinggi bibit, jumlah daun, diameter batang, tebal daun dan total luas daun disebabkan unsur hara yang diberikan dapat diserap baik oleh tanaman sehingga menghasilkan bobot kering yang baik pula.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Lamawulo et al.,(2017) yang menyatakan bahwa ketersediaan unsur hara akan menentukan produksi bobot kering tanaman yang merupakan hasil dari tiga proses yaitu proses penumpukan asimilat melalui proses fotosintesis, respirasi dan akumulasi senyawa organik. Tersedianya unsur hara yang cukup dapat menunjang proses fotosintesis dengan baik. sehingga hasil fotosintat dapat terakumulasi secara maksimal keseluruh bagian tanaman sehingga terjadi peningkatan bobot kering tanaman.

Dari hasil sidik ragam diketahui bahwa pemberian pupuk daun berpengaruh tidak nyata terhadap tebal daun dan rasio tajuk akar.Tebal daun dengan rataan tertinggi didapat pada perlakuan M3 (8 ml/l) yaitu 0.177 mm dan terendah didapat pada perlakuan M0 (0 ml/l) yaitu 0.71 mm. Sedangkan untuk rasio tajuk akar dengan rataan tertinggi didapat pada perlakuan M2 (6 ml/l) yaitu 7.47 g dan terendah didapat pada perlakuan M0 (0 ml/l) yaitu 5.97 g. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan yang terdapat pada pupuk daun N: 4% P2O5: 3%

K2O: 3% belum mampu mencukupi kebutuhan tanaman untuk mempengaruhi tebal daun dan rasio tajuk akar pada bibit tanaman kakao.

Pengaruh Interval Penyiraman Air Terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao L.)

Dari hasil sidik ragam diketahui bahwa perlakuan interval penyiraman air berpengaruh nyata terhadap total luas daun dan tebal daun.Total luas daun dengan rataan tertinggi terdapat pada perlakuan penyiraman T0(1xsehari) 2955.72 cm² dan terendah terdapat pada perlakuan T3 (1x7hari) yaitu 2461.95 cm². Sedangkan tebal daun dengan rataan tertinggi terdapat pada perlakuan penyiraman T0 (1xsehari) yaitu 0.188 mm dan terendah terdapat pada perlakuan T3(1x7hari) yaitu 0.149 mm. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian air dengan interval sekali sehari dalam kapasitas lapang mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman khususnya daun yang akan mempengaruhi total luas daun dan tebal daun.

Sedangkan semakin menurunnya tingkat pemberian air, maka tanaman mulai menunjukkan penurunan pertumbuhan tanaman termasuk daun. Hal ini sesuai dengan pernyataan dengan pernyataan Kurniasari et al., (2010) yang menyatakan bahwa tanaman yang mengalami kekurangan air secara umum mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan tanaman yang tumbuh normal. Tanaman yang mengalami defisit (kekurangan) air, menyebabkan tekanan turgor pada sel tanaman menjadi kurang maksimum, akibatnya penyerapan hara dan pembelahan sel menjadi terhambat yang dapat menurunkan laju pertumbuhan tanaman.

Dari hasil sidik ragam diketahui bahwa perlakuan interval penyiraman air tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun 6-14 MST

ketersediaan air tanaman.dimana jika kandungan air dalam jaringan tanaman cukup, maka proses metabolisme tanaman dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Destari et al., (2013) yang menyatakan bahwa kapasitas penyimpanan air (KPA) adalah jumlah air maksimum yang dapat disimpan oleh tanah. Keadaan ini dapat dicapai jika memberi air sampai terjadi kelebihan air, maka semua rongga tanah terisi air. Karena itu kandungan air volume maksimum menggambarkan porositas total tanah. Setelah pori terisi air (tercapai kapasitas penyimpanan air maksimum), pemberian air kita hentikan.

Pada keadaan ini tanah dalam keadaan kapasitas lapang, tercukupinya kebutuhan air pada tanaman tidak menyebabkan perbedaan pertumbuhan yang signifikan dikarenakan pemberian interval penyiraman air dilakukan dengan menjaga kapasitas lapang tanaman.

Pengaruh Pertumbuhan Bibit Kakao Terhadap Interaksi Antara Pemberian Pupuk Daun Dan Interval Penyiraman Air.

Interaksi antara perlakuan pemberian pupuk daun dan interval penyiraman air berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter yang diamati. Hal ini menunjukkan bahwa antara pemberian pupuk daun dengan interval penyiraman air belum mampu mempengaruhi satu sama lain secara nyata, kedua perlakuan hanya memberikan respon masing-masing sebagai faktor tunggal tanpa adanya interaksi.

Hal ini dikarenakan antara faktor pemberian pupuk daun dan interval penyiraman air mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman kakao. Pemberian pupuk daun berpengaruh positif terhadap pertumbuhan kakao yaitu dengan meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun. diameter batang,

interval penyiraman air justru menghambat pertumbuhan tanaman kakao yaitu dengan menurunkan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, berat kering tajuk. dan berat kering akar. Hal ini disebabkan masing-masing perlakuan tidak saling mempengaruhi sesuai dengan pernyataan Safei et al., (2014) yang menyatakan bila pengaruh berbeda tidak nyata dapat disimpulkan kedua faktor perlakuan tersebut bertindak bebas atau pengaruhnya berdiri sendiri.

Dokumen terkait