• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil

Jumlah Anakan (anakan)

Pengamatan jumlah anakan dilakukan setelah 2 MST. Pengamatan pertama dilakukan pada tanggal 09 Februari 2010. Pada pengamatan ini jumlah anakan yang tumbuh masih 25 % dan pertambahan anakan berkisar 1 sampai 3 anakan jumlah anakan yang terbanyak terdapat pada perlakuan N2 (2,60 g/tanaman) sedangkan pada perlakuan lain anakannya belum tumbuh.

Sama halnya dengan pengamatan pertama pada pengamatan kedua (23 Februari 2010) pertambahan anakan belum mencapai 100 % tetapi sudah mencapai 52 %. Jumlah anakan setelah 4 MST berkisar antara 1-5 anakan dan jumlah anakan yang terbanyak terdapat pada perlakuan N2 (2,60 g/tanaman).

Untuk pengamatan 6 MST pertumbuhan anakan mulai seragam dan pertambahan anakannya juga cukup besar bila dibandingkan dengan pertambahan anakan dari 2 MST - 4 MST. Jumlah anakan pada 8 MST berkisar antara 1- 14 anakan. Tetapi sampai dengan pengamatan ketiga untuk perlakuan N1 (kontrol) anakan vetiver belum juga ada. Sementara jumlah anakan yang terbanyak terdapat pada perlakuan N3 (5,20 g/tanaman).

Pada pengamatan berikutnya dilakukan pada tanggal 23 Maret 2010 (10 MST) pertumbuhan anakan sudah mencapai 100 %. Jumlah anakan yang terbanyak terdapat pada perlakuan N3 (5,20 g/tanaman) dengan jumlah anakan rata-rata 18 anakan dan yang terendah pada perlakuan N1 (kontrol).

Pengamatan terakhir dilakukan pada tanggal 09 April 2010. Jumlah anakan pada umur 10 MST berkisar antara 9 – 43 anakan. Jumlah anakan yang tertinggi

terdapat pada perlakuan N3 (5,20 g/tanaman) dengan rata-rata pertumbuhan 36 anakan dan pertumbuhan anakan yang terendah terdapat pada perlakuan N1

(kontrol) dengan rata-rata pertumbuhan anakan yaitu 10 anakan.

Data hasil pengamatan jumlah anakan pada pengamatan minggu terakhir (10 MST) dapat dilihat pada Lampiran 9, sedangkan hasil analisis sidik ragamnya dapat dilihat pada lampiran 10. Dari tabel sidik ragam jumlah anakan 10 MST pada lampiran 10 menunjukkan bahwa pemberian nitrogen dapat meningkatkan jumlah anakan vetiver sedangkan ZPT-IBA dan interaksi kedua perlakuan tidak berpengaruh besar terhadap peningkatkan pertumbuhan anakan vetiver.

Hasil pengamatan rataan jumlah anakan 10 MST terhadap pemberian pupuk nitrogen dan ZPT-IBA dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rataan jumlah anakan 10 MST pada pemberian pupuk nitrogen dan konsentrasi ZPT-IBA terhadap pertumbuhan vetiver.

Urea (g/tanaman) ZPT - IBA (ppm) Rataan

I0 = 0 I1= 100 I2 = 200 I3 = 300 N1 = 0,00 10,67 17,00 17,67 10,00 13,83 c N2 = 2,60 30,67 30,00 26,33 26,67 28,42 ab N3 = 5,20 23,67 36,33 28,33 35,33 30,92 a N4 = 7,80 17,33 32,00 22,00 24,67 24,00 b Rataan 20,58 28,83 23,58 24,17

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf uji 5%.

Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan pupuk nitrogen memberikan pengaruh terhadap jumlah anakan. Bila dibandingkan antara kontrol (N1) dengan perlakuan lain yang diberikan pupuk N (N2, N3 dan N4) dapat diketahui bahwa perlakuan pupuk N memberikan pengaruh terhadap pertambahan jumlah anakan vetiver, pertambahan jumlah anakan vetiver mampu mencapai 55,27%.

Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa perlakuan N3 (5,20 g/tanaman) berpengaruh terhadap pertambahan jumlah anakan tetapi tidak memberikan pengaruh yang besar dalam meningkatkan jumlah anakan vetiver bila dibandingkan dengan perlakuan N2 (2,60 g/tanaman) dan perlakuan N4 (7,80 g/tanaman).

Hubungan jumlah anakan pada 10 MST terhadap pemberian pupuk nitrogen dan konsentrasi ZPT-IBA terhadap pertumbuhan vetiver dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Hubungan jumlah anakan 10 MST terhadap pertumbuhan vetiver dengan pemberian pupuk nitrogen.

Bobot Segar Tajuk Atas (g)

Data hasil pengamatan bobot segar tajuk atas dapat dilihat pada Lampiran 11, sedangkan hasil analisis sidik ragamnya dapat dilihat pada lampiran 12. Dari tabel sidik ragam bobot segar tajuk atas pada lampiran 12 menunjukan bahwa pemberian nitrogen dapat meningkatkan bobot segar tajuk atas, sedangkan

Ŷ= -0.79x2+ 7.47x + 13.96 R² = 0.99 y optimum = 66.47 x = 4.69 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 0 2,6 5,2 7,8 Ju m la h a n a k a n 1 0 M S T ( a n a k a n ) Dosis N (g/tanaman)

pemberian ZPT-IBA dan interaksi kedua perlakuan tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap pertambahan bobot segar tajuk atas.

Hasil pengamatan rataan bobot segar tajuk atas terhadap pemberian pupuk nitrogen dan ZPT-IBA dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rataan bobot segar tajuk atas pada pemberian pupuk nitrogen dan konsentrasi ZPT-IBA terhadap pertumbuhan vetiver.

Urea (g/tanaman) ZPT - IBA (ppm) Rataan

I0 = 0 I1 = 100 I2 = 200 I3 = 300 N1 = 0,00 59,01 83,15 86,37 79,82 77,09 b N2 = 2,60 174,81 144,67 155,52 180,56 163,89 a N3 = 5,20 103,39 132,54 76,61 179,38 122,98 ab N4 = 7,80 161,20 152,42 101,34 96,14 127,78 ab Rataan 124,60 128,20 104,96 133,98

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama pada baris dan kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf uji 5%.

Tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan pupuk N memberikan pengaruh terhadap bobot segar tajuk atas. Bila dibandingkan dengan N1 (kontrol) dengan perlakuan lain yang menggunakan pupuk N (N2, N3 dan N4) dapat dilihat bahwa pemberian pupuk N mampu menambah anakan vetiver hingga 52,96 %.

Pada tabel 2 dapat dilihat bahwa perlakuan N2 (2,60 g/tanaman) berpengaruh terhadap pertambahan bobot segar tajuk atas tetapi tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap pertambahan bobot segar tajuk atas bila dibandingkan dengan perlakuan N3 (5,20 g/tanaman) danN4 (7,80 g/tanaman).

Hubungan bobot tajuk atas terhadap pemberian pupuk nitrogen dan konsentrasi ZPT-IBA terhadap pertumbuhan vetiver dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Hubungan bobot segar tajuk atas (g) terhadap pertumbuhan vertiver dengan pemberian pupuk nitrogen.

Panjang Akar (cm)

Data hasil pengamatan panjang akar dapat dilihat pada Lampiran 13, sedangkan hasil analisis sidik ragamnya dapat dilihat pada lampiran 14. Dari tabel sidik ragam panjang akar pada lampiran 14 menunjukkan bahwa pemberian nitrogen dapat meningkatkan panjang akar, tetapi pemberian ZPT-IBA dan interaksi kedua perlakuan tidak berpengaruh besar terhadap penambahan panjang akar.

Hasil pengamatan rataan panjang akar terhadap pemberian pupuk nitrogen dan ZPT-IBA dapat dilihat pada Tabel 3.

Ŷ= -3.03x2+ 27.93x + 85.75 R² = 0.60 y optimum = 182.43 x = 4.60 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00 160,00 180,00 0 2,6 5,2 7,8 B o b o t S e g a r T a ju k A ta s (g ) Dosis N (g/tanaman)

Tabel 3. Rataan panjang akar pada pemberian pupuk nitrogen dan konsentrasi ZPT-IBA terhadap pertumbuhan vetiver

Urea (g/tanaman) ZPT-IBA (ppm) Rataan

I0 = 0 I1 = 100 I2 = 200 I3 = 300 N1 = 0,00 151,72 146,02 148,04 123,72 142,38 ab N2 = 2,60 171,38 163,06 164,05 171,04 167,38 a N3 = 5,20 168,01 174,40 175,36 160,06 169,46 a N4 = 7,80 133,71 157,71 143,39 134,02 142,21 b Rataan 156,20 160,30 157,71 147,21

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama pada baris dan kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf uji 5%.

Pada Tabel 3 menunjukkan bahwa pemberian pupuk nitrogen memberikan pengaruh terhadap panjang akar. Bila dibandingkan perlakuan kontrol (N1) dengan perlakuan lain yang menggunakan pupuk N (N2, N3 dan N4) dapat dilihat bahwa pemberian N dapat meningkatkan panjang akar hingga 15,98%.

Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa perlakuan N2 (2,60 g/tanaman) dan N3

(5,20 g/tanaman)berpengaruh terhadap perlakuan N1 (kontrol) tetapi tidak mampu memberikan pengaruh yang besar terhadap pertambahan panjang akar. Tetapi bila

dibandingkan antara perlakuan N1 (kontrol) dengan perlakuan N4 (7,80 g/tanaman) pemberian pupuk N tidak dapat meningkatkan panjang akar

bahkan cenderung tidak terjadi pertambahan panjang akar.

Hubungan panjang akar terhadap pemberian pupuk nitrogen dan konsentrasi ZPT-IBA terhadap pertumbuhan vetiver dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Hubungan panjang akar (cm) terhadap pertumbuhan vertiver dengan pemberian pupuk nitrogen.

Bobot Basah Akar (g)

Data hasil pengamatan bobot basah akar dapat dilihat pada lampiran 15, sedangkan hasil sidik ragamnya dapat dilihat pada lampiran 16. Dari tabel sidik ragam bobot basah akar menunjukkan bahwa pemberian pupuk nitrogen, ZPT-IBA dan interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap bobot basah akar.

Hasi penelitian bobot basah akar terhadap pemberian pupuk nitrogen dan ZPT-IBA dapat dilihat pada Tabel 4.

Ŷ= -1.93x2+ 15.13x + 142.00 R² = 0.997 y optimum = 230.84 x = 3.91 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00 160,00 180,00 200,00 0 2,6 5,2 7,8 P a n ja n g A k a r (c m ) Dosis N (g/tanaman)

Tabel 4. Bobot basah akar pada pemberian pupuk nitrogen dan konsentrasi ZPT-IBA terhadap pertumbuhan vetiver

Urea (g/tanaman) ZPT-IBA (ppm) Rataan

I0 = 0 I1 = 100 I2 = 200 I3 = 300 N1 = 0,00 63,95 112,47 99,61 95,99 93,01 N2 = 2,60 200,54 204,47 124,94 139,70 167,41 N3 = 5,20 111,21 207,77 216,69 201,49 184,29 N4 = 7,80 137,13 201,11 85,77 110,85 133,71 Rataan 128,21 181,45 131,75 137,01

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama pada baris dan kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf uji 5%.

Bobot Kering Akar (g)

Data hasil pengamatan bobot kering akar dapat dilihat pada lampiran 17, sedangkan hasil sidik ragamnya dapat dilihat pada lampiran 18. Dari tabel sidik ragam bobot kering akar menunjukkan bahwa pemberian pupuk nitrogen, ZPT-IBA dan interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap bobot kering akar.

Hasil penelitian rataan bobot kering akar terhadap pemberian pupuk nitrogen dan ZPT-IBA dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Rataan bobot kering akar pada pemberian pupuk nitrogen dan konsentrasi ZPT-IBA terhadap pertumbuhan vetiver

Urea (g/tanaman) ZPT - IBA (ppm) Rataan

I0 = 0 I1 = 100 I2 = 200 I3 = 300 N1 = 0,00 23,99 46,52 43,31 49,11 40,73 N2 = 2,60 89,32 50,60 52,56 93,09 71,39 N3 = 5,20 58,46 77,46 81,77 80,93 74,65 N4 = 7,80 63,95 90,69 45,65 51,05 62,83 Rataan 58,93 66,32 55,82 68,54

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang tidak sama pada baris dan kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf uji 5%.

Pembahasan

Jumlah Anakan (anakan)

Untuk penghitungan jumlah anakan dilakukan pada sore hari dengan interval pengamatan satu kali dalam dua minggu. Penghitungan jumlah anakan dilakukan dengan cara menghitung jumlah anakan yang bertambah dari tanaman induk.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa jumlah anakan yang terbanyak terdapat pada pemberian urea sebanyak 5,20 g/tanaman yaitu rata-rata 30 anakan. Pada pemberian 2,60 g/tanaman jumlah anakan yang dihasilkan rata-rata 28 anakan tetapi pemberian urea sebanyak 7,80 g/per tanaman cenderung menghasilkan anakan yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan pemberian urea dengan dosis yang lebih rendah, jumlah anakan yang dihasilkan rata-rata 24 anakan. Hal ini dikarenakan tanaman mengalami kelebihan unsur nitogen yang mengakibatkan daun anakan vetiver menjadi kekuningan dan pertumbuhan anakan juga menjadi terhambat. Tetapi bila dibandingkan dengan tanpa pemberian urea (kontrol) dapat dilihat bahwa pemberian urea memiliki pengaruh yang cukup besar dalam pertambahan anakan karena dapat meningkatkan kadar protein (asam amino) dalam tubuh tanaman dan meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun.

Bobot Segar Tajuk Atas (g)

Untuk pengamatan bobot segar tajuk atas dilakukan pada akhir penelitian. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa bobot segar tajuk atas dengan pemberian urea sebanyak 2,50 g/tanaman yaitu sebesar 163,89 g yang merupakan bobot segar tajuk yang tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya, walaupun pada parameter jumlah anakan lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan N3 (5,20 g/tanaman). Hal ini disebabkan anakannya lebih besar

dibandingkan dengan perlakuan lain yang menyebabkan berat tajuk atas dari tanaman menjadi lebih berat. Hasil fotosintesis juga terbagi antara induk dengan anakannya, dimana tanamana yang banyak menghasilkan anakan, batang dan daunnya lebih kecil dibandingkan dengan tanaman yang menghasilkan sedikit anakan kecuali pada perlakuan kontrol dan N4 (7,80 g/tanaman) yang terjadi kelebihan nitrogen sehingga terjadi dampak pada daun yang menyebabkan bobotnya rendah.

Panjang Akar (cm)

Vetiver merupakan tanaman yang memiliki perakaran yang panjang. Pada penelitian ini dapat dilihat bahwa pemberian ZPT-IBA berpengaruh terhadap pertambahan panjang akar vetiver. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pemberian ZPT-IBA yang dapat menghasilkan akar yang paling panjang terdapat pada konsentrasi 200 ppm dengan panjang 169,46 cm dimana pada konsentrasi 100 ppm juga tidak memberikan pengaruh yang berbeda, pada konsentrasi 100 ppm panjang akar mampu mencapai 167,38 sementara untuk konsentrasi 300 ppm hasilnya sama dengan tanpa menggunakan ZPT-IBA (kontrol) yaitu berkisar antara 142,21 cm - 142,38 cm. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Danu dan Tampubolon (1993) tentang penggunaan IBA 100 ppm, 200 ppm, 300 ppm dan 500 ppm terhadap stek pucuk meranti dapat diketahui bahwa persentase stek yang berakar pada konsentrasi 100 ppm dan 200 ppm lebih baik dibandingkan dengan konsentrasi 300 ppm dan 500 ppm. Sama halnya dengan hasil penelitian ini, dimana konsentrasi yang paling baik adalah 200 ppm dan bukan 300 ppm dimana konsentrasi yang berlebihan dapat menjadi penghambat untuk pertumbuhan dan perkembangan perakaran tanaman. Hal ini

sesuai dengan literatur (Kusumo,1984) yang menyatakan bahwa pengaruh hormon pada kadar yang lebih tinggi akan menghambat pertumbuhan, meracuni bahkan mematikan tanaman.

Bobot Basah dan Kering Akar (g)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa pemberian unsur nitrogen dan ZPT-IBA tidak berpengaruh nyata terhadap perakaran tanaman. Tanaman vetiver merupakan tanaman yang memiliki akar yang panjang, dimana unsur nitrogen berperan didalam pertumbuhan vegetatif yang mempengaruhi pertumbuhan tajuk tanaman sedangkan untuk ZPT-IBA memang untuk pertumbuhan akar tetapi pada konsentrasi yang diberikan pada penelitian ini belum memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot basah dan kering akar. Dimana, pada penelitian ini dalam media tanam pertumbuhan akar memanjang kebawah dimana akar utama panjangnya tidak berbeda jauh pada setiap perlakuan kecuali kontrol sehingga bertanya juga tidak berbeda jauh dan tidak berpengaruh nyata.

Dokumen terkait