Hasil
Tinggi Tanaman
Data pengamatan dan sidik ragam tinggi tanaman dapat dilihat pada Lampiran 6-37 yang menunjukkan bahwa perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam berpengaruh nyata pada 17-32 MST, sedangkan perlakuan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal berpengaruh nyata pada 17-25 MST, namun berpengaruh tidak nyata pada 26-32 MST, serta interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata pada 17-32 MST.
Tabel 1.Rataan tinggi tanaman (cm) beberapa varietas kelapa sawit dengan penambahan sabut kelapa pada media tanam umur 17-32 MST.
MST Media Tanam
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 22,90 22,55 19,96 21,80a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 20,93 21,60 20,21 20,91b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 20,57 20,61 19,02 20,07c
Rataan 21,47a 21,59a 19,73b
18
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 24,08 23,78 20,97 22,94a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 21,77 22,76 20,97 21,83b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 21,64 21,42 19,85 20,97c
Rataan 22,50a 22,65a 20,60b
19
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 25,07 24,69 21,83 23,86a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 22,51 23,50 21,83 22,61b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 22,44 22,10 20,59 21,71c
Rataan 23,34a 23,43a 21,42b
20
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 25,81 25,31 22,52 24,55a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 23,13 24,13 22,38 23,21b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 22,96 22,63 21,16 22,25c
Rataan 23,97a 24,02a 22,02b
21
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 26,48 26,11 23,32 25,30a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 23,78 24,82 23,19 23,93b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 23,64 23,28 21,77 22,89c
Rataan 24,63a 24,74a 22,76b
22
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 27,44 27,12 24,21 26,26a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 24,64 25,66 24,15 24,82b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 24,48 24,08 22,72 23,76c
Rataan 25,52a 25,62a 23,69b
23
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 28,34 27,97 25,00 27,10a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 25,23 26,43 24,93 25,53b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 25,15 24,71 23,52 24,46c
Rataan 26,24a 26,37a 24,48b
Tabel 1. Lanjutan
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 30,09 29,81 27,61 29,17a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 26,51 28,00 27,08 27,20b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 26,46 26,62 25,29 26,12c
Rataan 27,69b 28,14a 26,66c
26
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 31,76 31,58 29,71 31,01a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 27,67 29,46 28,74 28,63b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 27,84 27,86 26,84 27,51c
Rataan 29,09 29,63 28,43
27
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 33,58 33,25 31,38 32,74a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 29,29 30,56 30,37 30,07b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 28,88 29,31 28,06 28,75c
Rataan 30,58 31,04 29,94
28
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 34,98 35,02 32,99 34,33a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 30,57 32,17 32,06 31,60b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 30,04 30,56 29,38 29,99c
Rataan 31,86 32,58 31,47
29
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 37,13 37,12 35,03 36,43a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 32,41 34,14 34,15 33,57b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 31,89 32,40 31,05 31,78c
Rataan 33,81 34,55 33,41
30
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 39,52 39,80 37,56 38,96a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 34,03 36,82 36,55 35,80b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 33,97 34,03 32,91 33,63c
Rataan 35,84 36,88 35,67
31
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 40,93 41,72 39,22 40,62a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 35,33 38,10 38,43 37,29b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 35,11 34,80 34,38 34,76c
Rataan 37,12 38,21 37,34
32
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 43,04 44,20 42,05 43,10a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 36,90 40,16 40,66 39,24b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 36,58 36,87 36,25 36,57c
Rataan 38,84 40,41 39,65
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5 %.
Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa pada 32 MST perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam menghasilkan rataan tertinggi pada topsoil tanpa penambahan sabut kelapa (S0) yaitu 43,10 cm yang berbeda nyata dengan S1 (39,24 cm) dan S2 (36,57 cm). Perlakuan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal cenderung menghasilkan rataan yang lebih tinggi
21
pada varietas DxP Simalungun (V2) yaitu 40,41 cm dibanding varietas lainnya yaitu secara berturut V3 (39,65 cm) dan V1 (38,84 cm).
Kombinasi perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam dengan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal menghasilkan interaksi yang tidak nyata pada 17-32 MST. Namun pada 32 MST kombinasi perlakuan S0V2 cenderung menghasilkan rataan yang lebih tinggi yaitu 44,20 cm dibanding kombinasi perlakuan lainnya yaitu secara berturut-turut S0V1 (43,04 cm), S0V3 (42,05 cm), S1V3 (40,66 cm), S1V2 (40,16 cm), S1V1 (36,90 cm), S2V2 (36,87 cm), S2V1 (36,58 cm), dan S2V3 (35,25 cm).
Jumlah Daun
Data pengamatan dan sidik ragam jumlah daun dapat dilihat pada Lampiran 38-69 yang menunjukkan bahwa perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam berpengaruh nyata pada 17 MST dan 19-32 MST, namun berpengaruh tidak nyata pada 18 MST, sedangkan perlakuan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal berpengaruh nyata pada 17 MST, 26-28 MST dan 30-32 MST, namun berpengaruh tidak nyata pada 18-25 MST dan 29 MST, serta interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata pada 17-32 MST.
Tabel 2.Rataan jumlah daun (helai) beberapa varietas kelapa sawit dengan penambahan sabut kelapa pada media tanam umur 17-32 MST.
MST Media Tanam
23
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5 %.
Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa pada 32 MST perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam menghasilkan rataan tertinggi pada topsoil tanpa penambahan sabut kelapa (S0) yaitu 7,57 helai yang berbeda nyata dengan S1 (6,58 helai) dan S2 (6,76 helai). Perlakuan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal menghasilkan rataan tertinggi pada varietas DxP Simalungun (V2) yaitu 7,29 helai yang berbeda tidak nyata dengan V1 (7,26 helai) namun berbeda nyata dengan V3 (6,63 helai).
Kombinasi perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam dengan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal menghasilkan interaksi yang tidak nyata pada 17-32 MST. Namun pada 32 MST kombinasi perlakuan S0V2 cenderung menghasilkan rataan yang lebih tinggi yaitu 7,97 helai dibanding kombinasi perlakuan lainnya yaitu secara berturut-turut S0V1 (7,81 helai), S1V1 (7,01 helai), S2V2 (6,98 helai), S2V1 (6,96 helai), S0V3 (6,92 helai), S1V2 (6,92 helai), S1V3 (6,63 helai), dan S2V3 (6,34 helai).
Diameter Batang
Data pengamatan dan sidik ragam diameter batang dapat dilihat pada Lampiran 70-85 yang menunjukkan bahwa pada 18-32 MST perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam dan perlakuan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal berpengaruh nyata, sedangkan interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata.
Tabel 3.Rataan diameter batang (mm) beberapa varietas kelapa sawit dengan penambahan sabut kelapa pada media tanam umur 18-32 MST.
MST Media Tanam
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 13,18 14,53 11,45 13,05a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 11,56 13,25 10,82 11,88b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 11,35 12,29 9,63 11,09c
Rataan 12,03b 13,36a 10,63c
26
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 17,16 17,87 13,72 16,25a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 15,05 16,52 13,57 15,05b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 14,30 15,56 11,69 13,85c
Rataan 15,50b 16,65a 12,99c
28
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 19,83 20,05 16,21 18,70a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 17,51 19,05 15,86 17,47b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 17,28 17,67 13,47 16,14c
Rataan 18,21b 18,92a 15,18c
30
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 22,18 23,59 19,67 21,81a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 19,90 22,19 17,83 19,97b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 20,01 21,03 16,18 19,07c
Rataan 20,70b 22,27a 17,89c
32
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 26,24 29,58 22,64 26,15a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 23,53 25,01 20,91 23,15b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 22,26 23,40 18,84 21,50c
Rataan 24,01b 26,00a 20,80c
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5 %.
25
Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa pada 32 MST perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam menghasilkan rataan tertinggi pada topsoil tanpa penambahan sabut kelapa (S0) yaitu 26,15 mm yang berbeda nyata dengan S1 (23,15 mm) dan S2 (21,50 mm). Perlakuan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal menghasilkan rataan tertinggi pada varietas DxP Simalungun (V2) yaitu 26,00 mm yang berbeda nyata dengan V1 (24,01 mm) dan V3 (20,80 mm).
Kombinasi perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam dengan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal menghasilkan interaksi yang tidak nyata pada 18-32 MST. Namun pada 32 MST kombinasi perlakuan S0V2 cenderung menghasilkan rataan yang lebih tinggi yaitu 29,58 mm dibanding kombinasi perlakuan lainnya yaitu secara berturut-turut S0V1 (26,24 mm), S1V2 (25,01 mm), S1V1 (23,53 mm), S2V2 (23,40 mm), S0V3 (22,64 mm), S2V1 (22,26 mm), S1V3 (20,91 mm), dan S2V3 (18,84 mm).
Total Luas Daun
Data pengamatan dan sidik ragam total luas daun dapat dilihat pada Lampiran 86-87 yang menunjukkan bahwa perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam dan perlakuan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal berpengaruh nyata, sedangkan interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata.
Tabel 4. Rataan total luas daun (cm2) beberapa varietas kelapa sawit dengan penambahan sabut kelapa pada media tanam umur 32 MST.
Media Tanam
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 946,69 987,00 792,82 908,83a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 693,65 830,42 745,56 756,54b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 647,30 692,38 582,85 640,84c
Rataan 762,54b 836,60a 707,08c
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5 %.
Tabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam menghasilkan rataan tertinggi pada topsoil tanpa penambahan sabut kelapa (S0) yaitu 908,83 cm2 yang berbeda nyata dengan S1 (756,54 cm2) dan S2 (640,84 cm2). Perlakuan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal menghasilkan rataan tertinggi pada varietas DxP Simalungun (V2) yaitu 836,60 cm2 yang berbeda nyata dengan V1 (762,54 cm2 ) dan V3 (707,08 cm2).
Kombinasi perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam dengan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal menghasilkan interaksi yang tidak nyata. Namun kombinasi perlakuan S0V2 cenderung menghasilkan rataan yang lebih tinggi yaitu 987,00 cm2 dibanding kombinasi perlakuan lainnya yaitu secara berturut-turut S0V1 (946,69 cm2), S1V2 (830,42 cm2), S0V3 (792,82 cm2), S1V3 (745,56 cm2), S1V1 (693,65 cm2), S2V2 (692,38 cm2), S2V1 (647,30 cm2), dan S2V3 (582,85 cm2).
Bobot Kering Tajuk
Data pengamatan dan sidik ragam bobot kering tajuk dapat dilihat pada Lampiran 88-89 yang menunjukkan bahwa perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam berpengaruh nyata sedangkan perlakuan beberapa varietas
27
kelapa sawit yang bermesokarp tebal berpengaruh tidak nyata, serta interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata.
Tabel 5. Rataan bobot kering tajuk (g) beberapa varietas kelapa sawit dengan penambahan sabut kelapa pada media tanam umur 32 MST.
Media Tanam
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 21,95 22,86 17,97 20,93a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 18,37 15,32 15,14 16,28b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 12,52 13,73 11,19 12,48c
Rataan 17,62 17,30 14,77
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5 %
Tabel 5 menunjukkan bahwa perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam menghasilkan rataan tertinggi pada topsoil tanpa penambahan sabut kelapa (S0) yaitu 20,93 g yang berbeda nyata dengan S1 (16,28 g) dan S2 (12,48 g). Perlakuan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal cenderung menghasilkan rataan yang lebih tinggi pada varietas DxP Avros (V1) yaitu 17,62 g dibanding varietas lainnya yaitu secara berturut V2 (17,30 g) dan V3 (14,77 g).
Kombinasi perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam dengan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal menghasilkan interaksi yang tidak nyata. Namun kombinasi perlakuan S0V2 cenderung menghasilkan rataan yang lebih tinggi yaitu 22,86 g dibanding kombinasi perlakuan lainnya yaitu secara berturut-turut S0V1 (21,95 g), S1V1 (18,37 g), S0V3 (17,97 g), S1V2 (15,32 g), S1V3 (15,14 g), S2V2 (13,73 g), S2V1 (12,52 g), dan S2V3 (11,19 g).
Bobot Kering Akar
Data pengamatan dan sidik ragam bobot kering akar dapat dilihat pada Lampiran 90-91 yang menunjukkan bahwa perlakuan penambahan sabut kelapa
pada media tanam berpengaruh nyata sedangkan perlakuan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal berpengaruh tidak nyata, serta interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata.
Tabel 6. Rataan bobot kering akar (g) beberapa varietas kelapa sawit dengan penambahan sabut kelapa pada media tanam umur 32 MST.
Media Tanam
S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 12,29 13,52 10,60 12,14a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 9,89 7,70 7,54 8,38b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 6,90 7,65 5,22 6,59c
Rataan 9,69 9,62 7,79
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5 %
Tabel 6 menunjukkan bahwa perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam menghasilkan rataan tertinggi pada topsoil tanpa penambahan sabut kelapa (S0) yaitu 12,14 g yang berbeda nyata dengan S1 (8,38 g) dan S2 (6,59 g).
Perlakuan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal cenderung menghasilkan rataan yang lebih tinggi pada varietas DxP Avros (V1) yaitu 9,69 g dibanding varietas lainnya yaitu secara berturut V2 (9,62 g) dan V3 (7,79 g).
Kombinasi perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam dengan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal menghasilkan interaksi yang tidak nyata. Namun kombinasi perlakuan S0V2 cenderung menghasilkan rataan yang lebih tinggi yaitu 13,52 g dibanding kombinasi perlakuan lainnya yaitu secara berturut-turut S0V1 (12,29 g), S0V3 (10,60 g), S1V1 (9,89 g), S1V2 (7,70 g), S2V2 (7,65 g), S1V3 (7,54 g), S2V1 (6,90 g), dan S2V3 (5,22 g).
29
Pembahasan
Respon Pertumbuhan Beberapa Varietas Kelapa Sawit Bermesokarp Tebal Berdasarkan data pengamatan dan hasil sidik ragam diketahui bahwa perlakuan beberapa varietas kelapa sawit bermesokarp tebal berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, diameter batang dan total luas daun, namun berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, bobot kering tajuk dan bobot kering akar.
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa varietas DxP Simalungun (V2) menghasilkan rataan yang lebih tinggi pada tinggi tanaman. Pada jumlah daun, diameter batang dan total luas daun menghasilkan rataan tertinggi yang berbeda nyata dengan varietas DxP Avros (V1) dan DxP PPKS 540 (V3). Hal ini diduga karena varietas DxP Simalungun (V2) berasal dari material induk betina Dura Deli terbaik sedangkan untuk tetua jantan digunakan pisifera keturunan SP540 murni, dimana varietas ini merupakan hasil perbaikan dan rekombinasi dari tetua-tetua terbaik pada program pemuliaan Reciprocal Recurrent Selection (RRS) siklus pertama (PPKS, 2019). Menurut Lubis (2008) yang melaporkan bahwa program RRS siklus pertama menunjukkan hasil yang baik karena populasi diantara grup dura deli memiliki daya gabung umum (general combining ability) yang baik.
Perlakuan beberapa varietas kelapa sawit bermesokarp tebal menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap tinggi tanaman, walaupun varietas DxP Simalungun (V2) cenderung menghasilkan rataan yang lebih tinggi dibanding varietas DxP Avros (V1) dan varietas DxP PPKS 540 (V3). Hal ini diduga karena sifat dari ketiga varietas kelapa sawit bermesokarp tebal yang memiliki daya adaptasi yang luas dan dapat ditanam di berbagai tipe lahan kelapa sawit
(PPKS, 2019), sehingga pertumbuhan meninggi dari ketiga varietas hampir seragam dan selalu mengalami peningkatan. Perlakuan beberapa varietas kelapa sawit bermesokarp tebal juga menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap bobot kering tajuk dan bobot kering akar. Hal ini diduga bahwa dari segi biomassa, ketiga varietas kelapa sawit tetap menghasilkan penampilan pertumbuhan yang cukup baik dan seragam. Hal ini sesuai pendapat Sitompul dan Guritno (1995) yang menyatakan bahwa biomassa tanaman merupakan ukuran yang digunakan untuk menggambarkan dan mempelajari pertumbuhan tanaman karena merupakan integrasi dari hampir semua peristiwa yang dialami tanaman sebelumnya. Parameter ini merupakan indikator pertumbuhan yang paling representatif apabila tujuan utama adalah untuk mendapatkan penampilan keseluruhan pertumbuhan tanaman. Menurut Barker and Pilbeam (2007) bahwa biomassa tanaman mencerminkan hasil fotosintesis bersih (net photosynthesis) yang terkait dengan ketersediaan nutrien yang dapat diserap oleh tanaman.
Respon Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit Terhadap Penambahan Sabut Kelapa Pada Media Tanam
Berdasarkan data pengamatan dan hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam berpengaruh nyata terhadap seluruh peubah amatan.
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan tanpa penambahan sabut kelapa (S0) menghasilkan rataan tertinggi yang bebeda nyata dengan S1 dan S2 pada seluruh peubah amatan. Hal ini diduga karena media tanam dengan penambahan sabut kelapa memiliki potensi menahan air lebih lama yang mengakibatkan media tanam menjadi kelebihan air dikarenakan sifat sabut kelapa yang mudah menyimpan dan menahan air lebih lama. Hal ini sesuai pendapat
31
Nisa dan Widya (2014) yang menyatakan bahwa sabut kelapa bersifat hidrofibril (mudah menyimpan air) dan memiliki struktur yang kurang teratur serta bersifat higroskopik (baik menyerap air). Perlakuan penambahan sabut kelapa menunjukkan bahwa semakin tinggi taraf sabut kelapa pada media tanam akan menghasilkan rataan pertumbuhan yang semakin rendah terhadap seluruh peubah amatan. Hal ini diduga karena taraf sabut kelapa yang semakin tinggi akan dapat menyimpan air yang lebih banyak. Hal ini didukung hasil laporan Siahaan et al (2017) bahwa penyiraman sekali sehari (pagi) cenderung menghasilkan rataan pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding dua kali sehari (pagi dan sore), dikarenakan sabut kelapa pada media tanam dapat menyimpan kandungan air yang lebih besar, sehingga penyiraman sekali sehari sudah dapat memenuhi kebutuhan air bagi bibit kelapa sawit. Hal ini juga dikarenakan sifat dari sabut kelapa yang memiliki kemampuan mengikat air (water holding capacity) yang sangat besar yaitu 82-83% (Jacques dan Walden, 2015), dimana mampu menghambat pergerakan air keluar dari media tanam. Namun sifat sabut kelapa yang dapat mengikat air yang besar, ditambah curah hujan dan hari hujan yang tinggi pada saat penelitian (Lampiran 5), mengakibatkan media tanam mengalami jenuh air yang menghambat pertumbuhan tanaman sehingga pertumbuhan bibit kelapa sawit yang diberikan sabut kelapa mengalami penurunan (dibawah standar deskripsi varietas), kendati telah mengurangi frekuensi penyiraman yaitu hanya sekali sehari. Hal ini sesuai pendapat Nurbaiti et al (2012) yang menyatakan bahwa kondisi jenuh air pada media tanam memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman karena mengakibatkan proses
pembelahan dan pembesaran sel menjadi terganggu sehingga menghambat pertumbuhan tanaman serta mempengaruhi perkembangan bibit.
Hasil destruktif pada bibit kelapa sawit menunjukkan bahwa perakaran pada bibit yang diberikan sabut kelapa pada media tanam tidak mengalami perubahan warna (tetap berwana putih). Hal ini diduga bahwa walaupun kondisi media tanam mengalami jenuh air yang telah menghambat pertumbuhan tanaman, namun kondisi tanaman tidak sampai mengalami hipoksia (cekaman kekurangan oksigen). Hal ini sesuai pendapat Firmansyah (2018) bahwa akar bibit kelapa sawit yang mengalami cekaman genangan akan mengakibatkan perubahan warna yaitu pencoklatan (browning) yang selanjutnya diikuti oleh kerusakan dan kematian akar.
Interaksi Beberapa Varietas Kelapa Sawit Bermesokarp Tebal dan Penambahan Sabut Kelapa Pada Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit
Berdasarkan data pengamatan dan hasil sidik ragam diketahui bahwa kombinasi perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam dengan beberapa varietas kelapa sawit bermesokarp tebal menghasilkan interaksi yang berpengaruh tidak nyata terhadap seluruh peubah amatan.
Interaksi yang berpengaruh tidak nyata menunjukkan bahwa antara perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam dengan perlakuan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal bersifat bebas satu sama lain. Hal ini diduga bahwa perbedaan taraf penambahan sabut kelapa pada media tanam tidak saling mempengaruhi terhadap pertumbuhan varietas kelapa sawit, dikarenakan ketiga varietas yang digunakan merupakan varietas unggul milik PPKS yang telah memiliki sifat genetis yang kuat dan daya adaptasi yang luas.
33
Hal ini sesuai dengan pernyataan PPKS (2019) bahwa PPKS telah memproduksi bahan tanam kelapa sawit unggul yang berstandar internasional sesuai dengan Sistem Manajemen Mutu (ISO 9001:2008) sehingga terjamin mutunya, dimana bahan tanam unggul berupa kecambah, bibit klon dan bibit komersial kelapa sawit siap tanam, telah melalui seleksi dan pengujian dari program pemuliaan tanaman dalam waktu puluhan tahun secara berkesinambungan.
Kombinasi perlakuan topsoil tanpa penambahan sabut kelapa dengan varietas DxP Simalungun (S0V2) cenderung menghasilkan rataan yang tertinggi dibanding kombinasi perlakuan lainnya terhadap seluruh peubah amatan. Hal ini diduga bahwa perlakuan topsoil tanpa penambahan sabut kelapa pada media tanam memiliki kondisi ketersediaan air yang cukup terhadap kebutuhan bibit dikarenakan musim hujan yang terjadi pada saat penelitian, sehingga proses metabolisme pada tanaman dapat berlangsung dengan lancar dan menghasilkan pertumbuhan bibit kelapa sawit yang baik. Hal ini sesuai pendapat Valentino (2012) yang menyatakan bahwa media tanam yang mempunyai aerasi dan drainase yang baik memiliki daya pegang air dan mampu memfasilitasi pertukaran gas yang keluar masuk melalui media sehingga penyerapan hara menjadi optimal dan proses fisiologis akan berlangsung baik dan dapat mengimbangi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Namun apabila kondisi kadar air tanah diatas kapasitas lapang, maka pertumbuhan akan lambat karena terhambatnya perkembangan akar yang disebabkan oleh kurangnya oksigen dalam tanah (Pasaribu et al., 2012).