• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTUMBUHAN BEBERAPA VARIETAS KELAPA SAWIT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERTUMBUHAN BEBERAPA VARIETAS KELAPA SAWIT"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

TANAM DI MAIN NURSERY UMUR 4 – 8 BULAN

SKRIPSI

OLEH :

JEREMY LAMHOT PARSAULIAN NABABAN 150301124

AGRONOMI

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PERTUMBUHAN BEBERAPA VARIETAS KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) YANG BERMESOKARP TEBAL TERHADAP PENAMBAHAN SABUT KELAPA PADA MEDIA

TANAM DI MAIN NURSERY UMUR 4 – 8 BULAN

SKRIPSI

OLEH :

JEREMY LAMHOT PARSAULIAN NABABAN 150301124

AGRONOMI

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2019

(3)

Umur 4-8 Bulan

Nama : Jeremy Lamhot Parsaulian Nababan

NIM : 150301124

Program Studi : Agroteknologi

Minat : Agronomi

Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing

(Dr. Ir. Charloq, M.P.) (Dr. Ir. Yaya Hasanah, M.Si.) Ketua Anggota

Mengetahui,

(Dr. Ir. Sarifuddin, M.P.) Ketua Program Studi Agroteknologi

(4)

ABSTRAK

JEREMY L. P. NABABAN : Pertumbuhan Beberapa Varietas Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) yang Bermesokarp Tebal Terhadap Penambahan Sabut Kelapa Pada Media Tanam di Main Nursery Umur 4 - 8 Bulan. Dibimbing oleh CHARLOQ dan YAYA HASANAH.

Kelapa sawit merupakan tanaman yang memiliki perakaran dangkal dan mudah mengalami kekeringan, sehingga diperlukan media tanam yang dapat mempertahankan kelembaban tanah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal terhadap penambahan sabut kelapa pada media tanam. Penelitian dilaksanakan di Jalan Pasar 1 Tanjung Sari, Medan pada bulan November 2018 hingga Februari 2019.

Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial, yaitu faktor pertama penambahan sabut kelapa pada media tanam terdiri dari tanpa penambahan sabut kelapa, sabut kelapa 1/5 volume polibeg, sabut kelapa 2/5 volume polibeg dan faktor kedua varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal terdiri dari Varietas DxP Avros, Varietas DxP Simalungun, Varietas DxP PPKS 540. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, total luas daun, bobot kering tajuk dan bobot kering akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal berpengaruh nyata pada jumlah daun, diameter batang, dan total luas daun.

Penambahan sabut kelapa pada media tanam menghambat pertumbuhan bibit kelapa sawit. Tidak terdapat interaksi beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal dan penambahan sabut kelapa pada media tanam terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit.

Kata Kunci : Kelapa sawit, varietas bermesokarp tebal, sabut kelapa.

(5)

(Elaeis guineensis Jacq.) which have thick mesocarp against the addition of coconut coir on the planting media in the main nursery age 4 – 8 months.

Supervised by CHARLOQ and YAYA HASANAH.

Oil palm is a plant that has shallow roots and is prone to drought, so it needs planting media that can maintain soil moisture. This study aims to determine the growth of several oil palm varieties which have thick mesocarp against the addition of coconut coir on the planting media. The research was conducted at Jalan Pasar 1 Tanjung Sari, Medan in November 2018 to February 2019. The research used Completely Randomized Factorial Design, namely the first factor was the addition of coconut coir on the planting media consists of without adding coconut coir, coconut coir 1/5 volume polybag, coconut coir 2/5 volume polybag and the second factor was oil palm varieties which have thick mesocarp consists of var.DxP Avros, var.DxP Simalungun, var.DxP PPKS 540.

The observed parameters were plant height, number of leaves, stem diameter, total leaf area, canopy dry weight and root dry weight. The results showed that several oil palm varieties which have thick mesocarp significantly affected the number of leaves, stem diameter and total leaf area. Addition of coconut coir on the planting media inhibits the growth of oil palm seedlings. There was no interaction of several oil palm varieties which have thick mesocarp and the addition of coconut coir on the planting media on the growth of oil palm seedlings.

Keywords : Oil palm, varieties which have thick mesocarp, coconut coir.

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Medan pada tanggal 27 Agustus 1998, anak keempat dari empat bersaudara dari pasangan Ayahanda Hasudungan Nababan, S.E dan Ibunda Dra. Nurmala Marbun.

Pendidikan formal yang pernah ditempuh adalah SD Negeri 010193 Kabupaten Batubara lulus pada tahun 2009, SMP Swasta Taman Asuhan Pematangsiantar lulus pada tahun 2012, SMA Negeri 4 Medan lulus pada tahun 2015 dan pada tahun yang sama lulus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pada Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Agroteknologi (Himagrotek) FP USU dan sebagai Asisten Laboratorium Dasar Agronomi, Laboratorium Perbanyakan Tanaman dan Laboratorium Tanaman Perkebunan Kelapa Sawit. Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) di Desa Silampuyang Kabupaten Simalungun pada tahun 2017 dan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di PTPN IV Kebun Berangir Kabupaten Labuhan Batu Utara pada tahun 2018.

(7)

berkat dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Adapun judul dari

skripsi ini adalah “Pertumbuhan Beberapa Varietas Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) yang Bermesokarp Tebal Terhadap Penambahan Sabut

Kelapa Pada Media Tanam di Main Nursery Umur 4 - 8 Bulan” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Charloq, M.P selaku ketua komisi pembimbing dan Dr. Ir. Yaya Hasanah, M.Si selaku anggota komisi pembimbing yang telah membimbing dan membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi serta Abu Yazid, S.P, M.Stat selaku konsultan dalam proses analisis statistik. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua penulis yang selalu mendukung dan mendoakan penulis serta seluruh staf pengajar, pegawai, dan teman teman yang telah membantu dan memberi dukungan baik moril maupun materil.

Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini bermanfaat serta dapat menjadi bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

Medan, Desember 2019

Penulis

(8)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 3

Hipotesis Penelitian ... 3

Kegunaan Penelitian ... 4

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman ... 5

Syarat Tumbuh Iklim ... 7

Tanah ... 8

Varietas Kelapa Sawit Yang Bermesokarp Tebal ... 8

Media Tanam Sabut Kelapa ... 10

Pembibitan Main Nursery ... 11

BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ... 13

Bahan dan Alat ... 13

Metode Penelitian ... 13

PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Areal Pembibitan ... 16

Persiapan Media Tanam ... 16

Penanaman ... 16

Penyiraman ... 16

Pemeliharaan Penyiangan ... 17

Pemupukan ... 17

Pengendalian Hama dan Penyakit ... 17

Peubah Amatan Tinggi Tanaman ... 17

Jumlah Daun ... 17

(9)

Bobot Kering Akar ... 18 HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil ... 19 Pembahasan ... 29 KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ... 34 Saran ... 34 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(10)

DAFTAR TABEL

No Halaman

1. Rataan tinggi tanaman (cm) beberapa varietas kelapa sawit dengan penambahan sabut kelapa pada media tanam umur 17-32

MST ... 19 2. Rataan jumlah daun (helai) beberapa varietas kelapa sawit

dengan penambahan sabut kelapa pada media tanam umur 17-32 MST ... 22 3. Rataan diameter batang (mm) beberapa varietas kelapa sawit

dengan penambahan sabut kelapa pada media tanam umur 17-32 MST ... 24 4. Rataan total luas daun (cm2) beberapa varietas kelapa sawit

dengan penambahan sabut kelapa pada media tanam umur 17-32 MST ... 26 5. Rataan bobot kering tajuk (g) beberapa varietas kelapa sawit

dengan penambahan sabut kelapa pada media tanam umur 17-32 MST ... 27 6. Rataan bobot kering akar (g) beberapa varietas kelapa sawit

dengan penambahan sabut kelapa pada media tanam umur 17-32 MST ... 28

(11)

1. Deskripsi Varietas Kelapa Sawit Grup SP540 ... 38

2. Bagan Plot Tanaman ... 40

3. Bagan Plot Penelitian ... 41

4. Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Penelitian ... 42

5. Data Curah Hujan ... 43

6. Data Tinggi Tanaman 17 MST ... 44

7. Daftar Sidik Ragam Tinggi Tanaman 17 MST ... 44

8. Data Tinggi Tanaman 18 MST ... 45

9. Daftar Sidik Ragam Tinggi Tanaman 18 MST ... 45

10. Data Tinggi Tanaman 19 MST ... 46

11. Daftar Sidik Ragam Tinggi Tanaman 19 MST ... 46

12. Data Tinggi Tanaman 20 MST ... 47

13. Daftar Sidik Ragam Tinggi Tanaman 20 MST ... 47

14. Data Tinggi Tanaman 21 MST ... 48

15. Daftar Sidik Ragam Tinggi Tanaman 21 MST ... 48

16. Data Tinggi Tanaman 22 MST ... 49

17. Daftar Sidik Ragam Tinggi Tanaman 22 MST ... 49

18. Data Tinggi Tanaman 23 MST ... 50

19. Daftar Sidik Ragam Tinggi Tanaman 23 MST ... 50

20. Data Tinggi Tanaman 24 MST ... 51

21. Daftar Sidik Ragam Tinggi Tanaman 24 MST ... 51

22. Data Tinggi Tanaman 25 MST ... 52

23. Daftar Sidik Ragam Tinggi Tanaman 25 MST ... 52

24. Data Tinggi Tanaman 26 MST ... 53

25. Daftar Sidik Ragam Tinggi Tanaman 26 MST ... 53

26. Data Tinggi Tanaman 27 MST ... 54

27. Daftar Sidik Ragam Tinggi Tanaman 27 MST ... 54

28. Data Tinggi Tanaman 28 MST ... 55

29. Daftar Sidik Ragam Tinggi Tanaman 28 MST ... 55

30. Data Tinggi Tanaman 29 MST ... 56

31. Daftar Sidik Ragam Tinggi Tanaman 29 MST ... 56

32. Data Tinggi Tanaman 30 MST ... 57

(12)

33. Daftar Sidik Ragam Tinggi Tanaman 30 MST ... 57

34. Data Tinggi Tanaman 31 MST ... 58

35. Daftar Sidik Ragam Tinggi Tanaman 31 MST ... 58

36. Data Tinggi Tanaman 32 MST ... 59

37. Daftar Sidik Ragam Tinggi Tanaman 32 MST ... 59

38. Data Jumlah Daun 17 MST ... 60

39. Daftar Sidik Ragam Jumlah Daun 17 MST... 60

40. Data Jumlah Daun 18 MST ... 61

41. Daftar Sidik Ragam Jumlah Daun 18 MST... 61

42. Data Jumlah Daun 19 MST ... 62

43. Daftar Sidik Ragam Jumlah Daun 19 MST... 62

44. Data Jumlah Daun 20 MST ... 63

45. Daftar Sidik Ragam Jumlah Daun 20 MST... 63

46. Data Jumlah Daun 21 MST ... 64

47. Daftar Sidik Ragam Jumlah Daun 21 MST... 64

48. Data Jumlah Daun 22 MST ... 65

49. Daftar Sidik Ragam Jumlah Daun 22 MST... 65

50. Data Jumlah Daun 23 MST ... 66

51. Daftar Sidik Ragam Jumlah Daun 23 MST... 66

52. Data Jumlah Daun 24 MST ... 67

53. Daftar Sidik Ragam Jumlah Daun 24 MST... 67

54. Data Jumlah Daun 25 MST ... 68

55. Daftar Sidik Ragam Jumlah Daun 25 MST... 68

56. Data Jumlah Daun 26 MST ... 69

57. Daftar Sidik Ragam Jumlah Daun 26 MST... 69

58. Data Jumlah Daun 27 MST ... 70

59. Daftar Sidik Ragam Jumlah Daun 27 MST... 70

60. Data Jumlah Daun 28 MST ... 71

61. Daftar Sidik Ragam Jumlah Daun 28 MST... 71

62. Data Jumlah Daun 29 MST ... 72

63. Daftar Sidik Ragam Jumlah Daun 29 MST... 72

64. Data Jumlah Daun 30 MST ... 73

65. Daftar Sidik Ragam Jumlah Daun 30 MST... 73

66. Data Jumlah Daun 31 MST ... 74

67. Daftar Sidik Ragam Jumlah Daun 31 MST... 74

(13)

70. Data Diameter Batang 18 MST ... 76

71. Daftar Sidik Ragam Diameter Batang 18 MST ... 76

72. Data Diameter Batang 20 MST ... 77

73. Daftar Sidik Ragam Diameter Batang 20 MST ... 77

74. Data Diameter Batang 22 MST ... 78

75. Daftar Sidik Ragam Diameter Batang 22 MST ... 78

76. Data Diameter Batang 24 MST ... 79

77. Daftar Sidik Ragam Diameter Batang 24 MST ... 79

78. Data Diameter Batang 26 MST ... 80

79. Daftar Sidik Ragam Diameter Batang 26 MST ... 80

80. Data Diameter Batang 28 MST ... 81

81. Daftar Sidik Ragam Diameter Batang 28 MST ... 81

82. Data Diameter Batang 30 MST ... 82

83. Daftar Sidik Ragam Diameter Batang 30 MST ... 82

84. Data Diameter Batang 32 MST ... 83

85. Daftar Sidik Ragam Diameter Batang 32 MST ... 83

86. Data Total Luas Daun 32 MST ... 84

87. Daftar Sidik Ragam Total Luas Daun 32 MST ... 84

88. Data Bobot Kering Tajuk 32 MST ... 85

89. Daftar Sidik Ragam Bobot Kering Tajuk 32 MST ... 85

90. Data Bobot Kering Akar 32 MST ... 86

91. Daftar Sidik Ragam Bobot Kering Akar 32 MST ... 86

(14)

3

PENDAHULUAN Latar Belakang

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan komoditi yang memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Komoditi ini sangat berperan dalam menyediakan lapangan kerja, menghasilkan devisa negara, pengembangan wilayah serta menyediakan bahan baku bagi industri baik industri pangan maupun oleokimia (Ulfiah et al., 2018). Besarnya peranan kelapa sawit ditunjukkan dengan peningkatan luas areal perkebunan kelapa sawit. Data Direktorat Jenderal Perkebunan (2018) mencatat diperkirakan pada tahun 2019 luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah mencapai 14.677.560 hektar, dengan perkebunan rakyat seluas 5.958.502 hektar, perkebunan milik negara seluas 633.924 hektar, dan perkebunan milik swasta seluas 8.085.134 hektar.

Peningkatan luas areal perkebunan kelapa sawit harus diikuti dengan tersedianya bibit kelapa sawit yang unggul. Bibit yang baik diperoleh jika benih kelapa sawit berasal dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) atau sumber benih lainnya yang ditangani dengan benar dan menerapkan kaidah kultur teknis pembibitan (Darmosarkoro et al., 2008). Dalam pembibitan kelapa sawit dikenal dengan adanya pembibitan double stage. Pembibitan awal dilakukan selama 3 bulan dan membutuhkan naungan. Pembibitan awal bertujuan untuk mendapatkan tanaman yang pertumbuhannya seragam saat dipindahkan ke pembibitan utama.

Pembibitan utama dilakukan untuk menyiapkan tanaman agar cukup kuat sebelum dipindahkan ke lapangan (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2005).

Salah satu bahan tanam unggul yang dapat digunakan dalam pembibitan kelapa sawit adalah grup varietas turunan SP540 yang dihasilkan dari tetua

(15)

pisifera keturunan SP540 murni milik Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) yang disilangkan dengan tetua dura Deli terbaik. Varietas-varietas yang termasuk dalam grup ini adalah varietas Avros, Simalungun, dan PPKS 540. Karakter unggulan dari kelompok ini adalah quick starter dan persentase mesokarp per buah yang relatif tinggi dibandingkan varietas lain serta produktivitas yang baik. Dengan adanya daya adaptasi yang cukup luas, varietas ini dapat ditanam di berbagai tipe lahan kelapa sawit (PPKS, 2019).

Kelapa sawit termasuk tanaman yang mempunyai perakaran dangkal (akar serabut) sehingga mudah mengalami kekeringan yang disebabkan oleh transpirasi tinggi dan diikuti ketersediaan air tanah yang terbatas pada saat musim kemarau (Maryani, 2012). Sementara kebutuhan air pada bibit kelapa sawit di main nursery cukup banyak yaitu 2 liter/hari dengan frekuensi penyiraman 2 kali sehari (PPKS, 2014), sehingga penyiraman merupakan salah satu pos biaya yang besar dalam pembibitan kelapa sawit (Lubis, 2008). Untuk mengatasi masalah tersebut maka dapat dilakukan manipulasi volume media dengan membuat komposisi media tanam yang dapat mempertahankan kelembaban tanah dalam waktu relatif lebih lama dan mampu menyediakan unsur hara bagi tanaman (Fikri et al., 2012).

Salah satu limbah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai komposisi media tanam adalah sabut kelapa. Sabut kelapa mempunyai daya penyimpanan air sangat baik serta mengandung unsur-unsur yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman (Suhaila et al., 2013). Sabut kelapa merupakan limbah lignoselulosa yang mempunyai potensi yang sedemikian besar namun belum dimanfaatkan sepenuhnya untuk kegiatan produktif yang dapat meningkatkan nilai tambahnya.

Sabut kelapa memiliki kandungan lignin (35%-45%) dan selulosa (23%-43%).

(16)

3

Jumlah hara dalam serabut kelapa antara lain unsur N 0,975%, P 0,095%, K 0,29% dan C 54,89% (Purnamasari, 2013).

Hasil penelitian Siahaan et al (2017) menunjukkan bahwa penambahan sabut kelapa pada media tanam menghasilkan pertumbuhan yang lebih besar terhadap bibit kelapa sawit di pre nursery pada kombinasi perlakuan topsoil + sabut kelapa 2/10 volume polibeg. Penambahan sabut kelapa membantu menjaga kelembaban media tanam sehingga ketersediaan air yang cukup akan melancarkan proses metabolisme dan menghasilkan pertumbuhan bibit yang lebih baik.

Penambahan sabut kelapa juga bermanfaat dalam menghemat penyiraman yaitu hanya satu kali sehari dengan volume 1 liter air.

Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan penelitian tentang pertumbuhan beberapa varietas kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacg) yang bermesokarp tebal terhadap penambahan sabut kelapa pada media tanam di main nursery umur 4-8 bulan.

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pertumbuhan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal terhadap penambahan sabut kelapa pada media tanam di

main nursery umur 4-8 bulan.

Hipotesis Penelitian

Ada pengaruh nyata pada beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal dan penambahan sabut kelapa pada media tanam serta interaksinya terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di main nursery umur 4-8 bulan.

(17)

Kegunaan Penulisan

Sebagai bahan untuk penyusunan skripsi yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini juga diharapkan berguna untuk pihak yang berkepentingan didalam budidaya pembibitan kelapa sawit dan sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

(18)

6

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman

Elaeis berasal dari kata Elaion berarti minyak dalam bahasa Yunani.

Guineensis berasal dari Guinea (pantai barat Afrika), Jacq berasal dari nama

Botanist Amerika Jacquin. Taksonomi dari kelapa sawit adalah Kingdom : Plantae, Divisi : Spermatophyta, Subdivisi : Angiospermae, Kelas : Monocotyledoneae, Ordo : Arecales, Famili : Arecaceae, Genus : Elaeis, Spesies : Elaeis guineensis Jacq. (Lubis, 1992).

Akar kelapa sawit berasal dari pangkal batang dan terdiri dari 4 jenis akar.

Akar primer memiliki diameter 8-10 mm panjangnya dapat mencapai 18 meter.

Akar sekunder memiliki diameter 2-4 mm, akar tersier berdiameter 0,7-1,5 mm memiliki panjang sekitar 15 cm. Akar kwartier memiliki diameter 0,1-0,5 mm dengan panjang sekitar 1-4 mm. Akar primer dan sekunder secara umum berfungsi untuk menyerap air, sedangkan akar kwartier berfungsi untuk menyerap nutrisi. Sistem perakaran membentuk sudut siku-siku terhadap jenis akar berikutnya. Akar sekunder berasal dari akar primer dan tegak lurus terhadap akar sekunder. Akar tersier berasal dari akar sekunder dan tegak lurus terhadap akar sekunder, demikian juga dengan akar kwartier (Lubis dan Winarko, 2011).

Batang kelapa sawit tumbuh tegak lurus (phototropi) dan pelepah daun (frond base) menempel membalut batang. Pada tanaman dewasa diameternya dapat mencapai 40 cm–60 cm, bagian bawah batangnya lebih gemuk disebut bongkol bawah (bowl). Kecepatan tumbuh berkisar 35 cm–75 cm/tahun. Sampai tanaman berumur 3 tahun batang belum terlihat karena masih terbungkus pelepah yang belum ditunas. Karena sifatnya yang phototropi dan heliotropi (menuju

(19)

cahaya dan arah matahari) maka pada keadaan terlindung, tumbuhnya akan lebih cepat akan tetapi diameter (tebal) batang lebih kecil (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2005).

Daun pertama yang keluar pada stadium benih berbentuk lanset, beberapa minggu kemudian terbentuk daun berbelah dua dan beberapa bulan kemudian terbentuk daun seperti bulu atau menyirip. Misalnya pada bibit berumur lima bulan susunan daun terdiri atas lima lanset, empat berbelah dua dan sepuluh berbentuk bulu. Susunan daun kelapa sawit membentuk daun menyirip. Letak

daun pada batang mengikuti pola tertentu yang disebut filotaksis (Sastrosayono, 2008).

Pada kelapa sawit, letak bunga jantan dan bunga betina terpisah, masing masing tersusun pada tandan yang berbeda tetapi masih satu pohon. Oleh karena itu kelapa sawit disebut tanaman berumah satu atau monoceous. Namun demikian, terkadang dalam satu tandan terdapat bunga jantan sekaligus bunga betina. Bunga ini disebut hermaprodit. Satu tandan bunga jantan terdiri dari 150-200 spinkelet atau manggar. Dalam satu spinkelet (manggar) terdapat 600-1.500 bunga jantan (Hadi, 2004).

Buah kelapa sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung jenis bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelepah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang kandungan asam lemak bebas akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya. Kelapa sawit mengandung kurang lebih 80 % perikarp dan 20% buah yang dilapisi kulit yang tipis, kadar minyak dalam perikarp sekitar 34-40 %. Buah terdiri dari tiga lapisan : eksokarp

(20)

7

bagian kulit bewarna kemerahan dan licin ; mesokarp serabut buah ; endokarp cangkang pelindung inti (Adi, 2013).

Biji kelapa sawit merupakan bagian buah yang telah terpisah dari daging buah dan sering disebut sebagai noten atau nut yang memiliki berbagai ukuran tergantung tipe tanaman. Biji terdiri atas cangkang, embrio dan inti atau endosperm. Embrio panjangnya 3 mm berdiameter 1,2 mm berbentuk silindris seperti peluru dan memiliki 2 bagian utama. Bagian yang tumpul permukaannya berwarna kuning dan bagian lain agak tajam berwarna putih (Lubis, 2008).

Syarat Tumbuh Iklim

Curah hujan yang ideal bagi pertumbuhan kelapa sawit adalah 2.500–

3.000 mm per tahun dengan distribusi merata sepanjang tahun, tidak terdapat bulan kering berkepanjangan dengan curah hujan dibawah 120 mm dan tidak terdapat bulan basah dengan hujan lebih dari 20 hari. Kelapa sawit masih dapat tumbuh dengan baik di daerah yang curah hujannya sekitar 1.800 mm per tahun, asal distribusinya merata sepanjang tahun dan dan tidak terdapat bulan kering.

Kelapa sawit juga dapat tumbuh baik pada daerah dengan curah hujan diatas 3.000 mm pertahun, asal distribusinya tidak merata sepanjang tahun karena curah hujan yang terlalu tinggi akan berpengaruh buruk terhadap proses penyerbukan (Hadi, 2004).

Temperatur yang optimal bagi tanaman kelapa sawit 24–28°C, terendah 18°C dan tertinggi 32°C. Kelembaban 80% dan penyinaran matahari 5–7 jam/hari.

Penyinaran matahari kurang dari 5 jam akan mengakibatkan berkurangnya asimilasi, timbulnya gangguan penyakit, gagalnya pembukaan lahan, dan lain lain.

(21)

Ketinggian (elevasi) yang optimal adalah 0-500 m dpl. Kecepatan angin 5-6 km/jam sangat baik untuk membantu proses penyerbukan (Lubis, 2008).

Tanah

Secara umum kelapa sawit dapat tumbuh pada jenis tanah podzolik, latosol, hidromorfik kelabu, regosol, andosol, organosol dan alluvial. Secara umum kelapa sawit berproduksi dengan baik pada jenis tanah ultisol, inceptisol, andisol, dan histosol. Kelapa sawit menghendaki tanah yang gembur, subur, datar, berdrainase baik dan memiliki lapisan solum yang dalam tanpa lapisan padas.

Tanaman kelapa sawit membutuhkan unsur hara dalam jumlah besar untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif (Hartanto, 2011).

Sifat fisik tanah yang baik untuk kelapa sawit adalah solum tebal 80 cm.

Solum yang tebal merupakan media yang baik bagi perkembangan akar sehingga efisiensi penyerapan hara tanaman akan lebih baik. Tekstur ringan, dikehendaki memiliki pasir 20-60%, debu 10-40%, liat 20-50%. Perkembangan stuktur baik, konsistensi gembur sampai agak teguh dan permeabilitas sedang. Kelapa sawit dapat tumbuh pada pH 4,0-6,0 namun yang terbaik adalah 5-5,5 (Lubis, 2008).

Varietas Kelapa Sawit yang Bermesokarp Tebal

Ada beberapa varietas tanaman kelapa sawit yang telah dikenal. Varietas- varietas itu dapat dibedakan berdasarkan tebal tempurung dan daging buah, atau berdasarkan warna kulit buahnya. Selain varietas-varietas tersebut, ternyata dikenal juga beberapa varietas unggul yang mempunyai beberapa keistimewaan, antara lain mampu menghasilkan produksi yang lebih baik dibandingkan dengan varietas lain (Handayani, 2013).

(22)

9

Berdasarkan tebal tipis cangkang sebagai faktor homozigot tunggal yaitu dura yang bercangkang tebal jika disilangkan dengan pisifera yang bercangkang tipis akan menghasilkan varietas baru yaitu tenera yang memiliki ketebalan cangkang diantara keduanya (tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis) (Lubis, 2008).

Dura x Pisifera (DxP) Avros merupakan hasil seleksi awal pada program pemuliaan di PPKS. Varietas ini dirililis pada 25 april 1985 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 315/kpts/TP.240/4/1985. Varietas DxP Avros menjadi material bahan tanamaan yang digunakan dalam pengembangan industri kelapa sawit di Indonesia. Varietas ini dirakit dari Dura Deli yang disilangkan dengan pisifera turunan SP540T. Potensi produksi CPO varietas ini relatif tinggi mencapai 7,8 ton/ha/tahun. Produksi TBS rata-rata 24-27 ton/ha/tahun dan potensinya dapat mencapai 30 ton/ha/tahun. Rendemen minyak 23-26%

(PPKS, 2019).

Varietas DxP Simalungun merupakan hasil perbaikan dan rekombinasi dari tetua-tetua terbaik pada program pemuliaan Reciprocal Recurrent Selection (RRS) siklus pertama. Sebagai material induk digunakan dura-dura Deli terbaik, sedangkan untuk tetua jantan digunakan pisifera keturunan SP 540 murni.

Keunggulan yang dimiliki varietas ini adalah produksi CPO rata-ratanya sangat tinggi mencapai 7,53 ton/ha/tahun dan potensinya mencapai 8,7 ton/ha/tahun.

Produksi CPO yang tinggi ini dicapai karena rendemen minyak pertandannya yang mencapai 26,5 %. Varietas DxP Simalungun dirilis pada 14 Februari 2003 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 137/Kpts/TP.240/2/2003 (PPKS, 2019).

(23)

Varietas DxP PPKS 540 merupakan varietas yang dihasilkan dari persilangan antara Dura Deli lini PA 131 D self / TI 221 D x GB 30 D dengan tetua pisifera keturunan SP540T murni. Karakter unggulan dari varietas ini adalah quick starter dan persentase mesokarp per buah yang sangat tinggi (88-90%).

Potensi produksi CPO dari varietas ini mencapai 8-9 ton/ha/tahun. Dengan daya adaptasi yang luas, varietas ini dapat ditanam di berbagai tipe lahan mulai dari areal datar hingga bergelombang. Varietas DxP PPKS 540 hasil pemuliaan PPKS ini dirilis pada tahun 2007 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.

371/Kpts/Sr.120/7/2007 (PPKS, 2019).

Media Tanam Sabut Kelapa

Pembibitan merupakan tahap budidaya kelapa sawit setelah diperoleh bahan tanam berupa kecambah kelapa sawit. Tahap pembibibitan akan menjadi penentu apakah bibit yang tumbuh sesuai dengan kriteria pertumbuhan bibit yang baik atau tidak. Salah satu yang menentukan hal tersebut adalah media tanam yang digunakan. Komposisi pembentuk media tanam diupayakan agar media

tersebut dapat cukup menyediakan unsur hara dan air bagi tanaman (Ariyanti et al., 2018).

Keunggulan penggunaan bahan organik sebagai media tumbuh yaitu memiliki struktur yang dapat menjaga keseimbangan aerase. Bahan-bahan organik terutama yang berasal dari limbah yang ketersediaannya melimpah dan murah dapat dimanfaatkan untuk alternatif media tumbuh. Bahan organik mempunyai sifat remah sehingga udara, air, dan akar mudah masuk dalam tanah dan dapat mengikat air (Putri, 2008).

(24)

11

Salah satu limbah organik yang dapat digunakan sebagai tambahan pada media tanam adalah sabut kelapa. Sabut kelapa merupakan bagian yang terbesar dari buah kelapa yaitu sekitar 35% dari bobot buah kelapa. Ketebalan sabut kelapa berkisar 5-6 cm yang terdiri atas lapisan terluar (exocarpium) dan lapisan dalam (endocarpium). Endocarpium mengandung serat serat halus. Satu butir kelapa menghasilkan 0,4 kg serabut yang mengandung 30% serat. Komposisi kimia sabut kelapa terdiri atas selulosa, lignin, gas, tanin, dan potasium. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki sabut kelapa antara lain tidak gampang membusuk, tidak mudah berjamur, dan tahan lama (Lisan, 2015).

Sabut kelapa tersebut tersusun atas senyawa lignoselulosa (senyawa kompleks lignin, selulosa, dan hemiselulosa). Hemiselulosa bersifat hidrofibril (mudah menyerap air) yang mengakibatkan strukturnya yang kurang teratur dan pada selulosa dalam keadaan kering bersifat higroskopik (baik menyerap air), keras, juga rapuh. Sifat dari selulosa ini tidak larut didalam air dan mudah menyerap air (Nisa dan Widya, 2014).

Menurut Priono (2013) sabut kelapa mempunyai kapasitas memegang air yang baik, dapat mempertahankan kelembaban (80%), memiliki kapasitas tukar kation dan porositas yang baik, mempunyai rasio C/N rendah yang mempercepat N tersedia dan mengandung unsur-unsur hara esensial, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), natrium (Na) dan fosfor (P).

Pembibitan Main Nursery

Pembibitan adalah hal yang sangat penting karena merupakan tahap awal dalam rangkaian kegiatan pembudidayaan kelapa sawit. Pembibitan merupakan periode kritis yang sangat menentukan keberhasilan tanaman dalam

(25)

mencapai pertumbuhan yang baik. Diharapkan melalui pembibitan, dihasilkannya bibit yang baik dan berkualitas sehingga kelak mampu tumbuh dengan baik di lapangan, dan memiliki produksi yang tinggi (Usman et al., 2014).

Pembibitan tanaman kelapa sawit terdapat dua cara, yaitu pembibitan dengan satu tahap (single stage) dan pembibitan dengan dua tahap (double stage).

Pada pembibitan satu tahap, kecambah yang telah diseleksi, langsung ditanam di kantung plastik besar (large polybag dengan ukuran 40 cm x 50 cm lay flat) yang sudah berisi media tumbuh dan dipelihara selama 12 bulan. Sedangkan pada pembibitan dua tahap, kecambah yang telah diseleksi ditanam dan dipelihara di pembibitan awal (pre nursery) selama tiga bulan dan setelah berumur tiga bulan bibit di pindah tanamkan ke pembibitan utama (main nursery) (Suryanto, 2016).

Bibit yang berasal dari pembibitan pendahuluan (pre nursery) ditanam ditengah kantongan dengan lebih dahulu membuat lobang sedikit lebih besar dari kantong bibit yang akan dipindah dengan diameter 10-12 cm. Bibit ditanam setelah kantung plastiknya dirobek dan dibuang. Dengan hati-hati tanahnya ditekan agar bibit menyatu dengan media tanah. Pangkal bibit (bowl) agar berada 1,5-2 cm dibawah permukaan tanah. Menekan kebawah dan kesamping perlu dilakukan dengan sempurna agar bibit tidak mudah terbongkar jika dilakukan penyiraman. Kebutuhan air per pokok pada pembibitan utama diperlukan 1-3 liter/bibit/hari (Lubis, 2008).

(26)

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di lahan milik masyarakat yang terletak di Jalan Pasar 1 Tanjung Sari, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl. Penelitian ini berlangsung pada bulan November 2018 sampai Februari 2019.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit kelapa sawit grup varietas SP540 yaitu varietas DxP Avros, varietas DxP Simalungun dan varietas DxP PPKS 540 sebagai objek pengamatan, polibeg, topsoil, sabut kelapa, fungisida insektisida, kertas label perlakuan dan alat-alat pendukung lainnya.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, meteran, timbangan, gembor, jangka sorong digital, kalkulator, bambu, oven dan alat-alat pendukung lainnya.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor perlakuan, yaitu :

Faktor 1 : Penambahan sabut kelapa pada media tanam (S) dengan 3 taraf, yaitu : S0 : Topsoil tanpa penambahan sabut kelapa

S1 : Topsoil 4/5 volume polibeg + sabut kelapa 1/5 volume polibeg S2 : Topsoil 3/5 volume polibeg + sabut kelapa 2/5 volume polibeg Faktor 2 : Bibit kelapa sawit grup varietas SP540 (V) dengan 3 jenis, yaitu :

V1 : DxP Avros V2 : DxP Simalungun V3 : DxP PPKS 540

(27)

Sehingga diperoleh 9 kombinasi perlakuan, yaitu :

S0V1 S1V1 S2V1

S0V2 S1V2 S2V2

S0V3 S1V3 S2V3

Jumlah ulangan : 4 ulangan

Jumlah plot : 36 plot

Jumlah tanaman/plot : 9 tanaman

Jumlah sampel/plot : 9 tanaman Jumlah tanaman destruktif : 3 tanaman/plot Jumlah tanaman destruktif seluruhnya : 108 tanaman Jumlah tanaman seluruhnya : 324 tanaman Jumlah sampel seluruhnya : 324 tanaman

Ukuran plot : 130 cm x 100 cm

Jarak polybag : 25 cm x 10 cm

Jarak antar plot : 30 cm

Jarak antar ulangan : 50 cm

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam berdasarkan model linier sebagai berikut :

𝑌𝑖𝑗𝑘 = 𝜇 + 𝛼𝑖 + 𝛽𝑗 + (𝛼𝛽)𝑖𝑗+ 𝜀𝑖𝑗𝑘 i = 1,2,3 j = 1,2,3 k = 1,2,3,4

𝑌𝑖𝑗𝑘 : Hasil pengamatan penambahan sabut kelapa (S) taraf ke-i dan varietas ii(V) taraf ke-j pada ulangan ke-k

μ : Nilai tengah umum

αi : Efek penambahan sabut kelapa (S) taraf ke-i

(28)

15

βj : Efek varietas (V) taraf ke-j

(αβ)ij : Efek interaksi penambahan sabut kelapa (S) taraf ke-i dan varietas (V) taraf ke-j

εijk : Efek galat penambahan sabut kelapa (S) taraf ke-i dan varietas (V) taraf ke-j pada ulangan ke-k

Jika hasil sidik ragam menunjukkan pengaruh yang nyata, maka analisis dilanjutkan menggunakan Uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) taraf 5%

(Steel dan Torrie, 1995).

(29)

PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Areal Pembibitan

Lahan dipersiapkan sebaik mungkin dilahan datar, terbuka, strategis dan aman. Areal yang digunakan dibersihkan dari gulma dan sisa akar tanaman.

Dibuat plot percobaan dengan ukuran 130 x 100 cm dengan jarak antar ulangan 50 cm dan jarak antar plot 30 cm.

Persiapan Media Tanam

Media tanam yang digunakan adalah topsoil dan sabut kelapa. Untuk sabut kelapa sesuai dengan perlakuan, yaitu 1/5 volume polibeg (50 g sabut kelapa) dan 2/5 volume polibeg (100 g sabut kelapa). Sabut kelapa dicuci berkali-kali hingga tidak terdapat lagi kandungan tanin. Selanjutnya dijemur hingga kering dan ditaburkan fungisida berbahan aktif propinep dan insektisida berbahan aktif boric acid. Topsoil terlebih dahulu diayak dan diaduk sampai homogen. Sabut kelapa dimasukkan terlebih dahulu kedalam polibeg lalu diisi dengan topsoil sesuai dengan perlakuan, yaitu 4/5 volume polibeg (4 kg topsoil) dan 3/5 volume polibeg (3 kg topsoil).

Penanaman

Benih kecambah yang digunakan adalah benih kelapa sawit grup varietas SP540 yaitu varietas DxP Avros, DxP Simalungun, dan DxP PPKS 540. Tiap polibeg ditanam 1 benih dengan kedalaman 2 cm dari permukaan media tanam.

Penyiraman

Penyiraman dilakukan pada pagi hari sebanyak 1 liter air/polibeg. Namun juga melihat kondisi lingkungan, bila telah terjadi atau sedang terjadi hujan maka tidak dilakukan penyiraman.

(30)

17

Pemeliharaan Penyiangan

Penyiangan gulma dilakukan secara manual dengan mencabut gulma yang ada dalam polibeg dan lahan percobaan. Penyiangan disesuaikan dengan kondisi media tanam dan lahan penelitian.

Pemupukan

Pemupukan dilakukan sesuai dengan petunjuk teknis pembibitan kelapa sawit dari PPKS. Pupuk yang digunakan adalah pupuk NPKMg dan Kieserit yang ditaburkan merata dalam lingkaran sekeliling bibit.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan sesuai dengan kondisi tanaman pada lahan penelitian.

Peubah Amatan Tinggi Tanaman

Tinggi tanaman diukur dari permukaan tanah yang telah diberi tanda sampai daun tertinggi dengan interval 1 minggu menggunakan penggaris atau meteran.

Jumlah Daun

Jumlah daun yang dihitung adalah daun yang telah membuka sempurna membentuk helaian daun dengan interval 1 minggu.

Diameter Batang

Diameter batang diukur pada ketinggian 2 cm diatas patok standar dengan interval 2 minggu menggunakan alat jangka sorong digital (Calliper).

(31)

Total Luas Daun

Pengukuran total luas daun dilakukan pada akhir penelitian yaitu setelah bibit berumur 32 minggu setelah tanam (MST). Panjang daun diukur dari pangkal sampai ujung daun dan lebar daun diukur pada bagian tengah daun yang terlebar.

Pengukuran dilakukan dengan menggunakan meteran. Luas daun dihitung dengan menggunakan rumus A = p x l x k, dimana : A = Luas daun (cm2), p = Panjang daun (cm), l = Lebar daun (cm), dan k = konstanta = 0,57 (daun belum membelah/lanset pada tahap pre nursery), 0,51 (untuk daun yang telah membelah) dihitung luas setiap daun dari satu tanaman kemudian ditotalkan seluruhnya (Dartius et al., 1991).

Bobot Kering Tajuk

Pengukuran dilakukan pada akhir penelitian setelah bibit berumur 32 minggu setelah tanam (MST). Tanaman dibersihkan dari tanah kemudian dipisahkan tajuk dan akarnya. Tajuk dimasukkan kedalam amplop coklat dan diovenkan pada suhu 70°C selama 48 jam atau sampai tajuk tidak mengalami penurunan berat lagi. Kemudian ditimbang bobot keringnya dengan timbangan analitik. Pengukuran dilakukan pada tanaman destruktif.

Bobot Kering Akar

Pengukuran dilakukan pada akhir penelitian setelah bibit berumur 32 minggu setelah tanam (MST). Akar yang telah dipisahkan dengan tajuk kemudian dibersihkan. Akar dimasukkan kedalam amplop coklat dan diovenkan pada suhu 70°C selama 48 jam atau sampai akar tidak mengalami penurunan berat lagi.

Kemudian ditimbang bobot keringnya dengan timbangan analitik. Pengukuran dilakukan pada tanaman destruktif.

(32)

27

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Tinggi Tanaman

Data pengamatan dan sidik ragam tinggi tanaman dapat dilihat pada Lampiran 6-37 yang menunjukkan bahwa perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam berpengaruh nyata pada 17-32 MST, sedangkan perlakuan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal berpengaruh nyata pada 17-25 MST, namun berpengaruh tidak nyata pada 26-32 MST, serta interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata pada 17-32 MST.

Tabel 1.Rataan tinggi tanaman (cm) beberapa varietas kelapa sawit dengan penambahan sabut kelapa pada media tanam umur 17-32 MST.

MST Media Tanam

Varietas

Rataan V1

(Avros)

V2 (Simalungun)

V3 (PPKS 540) 17

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 22,90 22,55 19,96 21,80a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 20,93 21,60 20,21 20,91b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 20,57 20,61 19,02 20,07c

Rataan 21,47a 21,59a 19,73b

18

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 24,08 23,78 20,97 22,94a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 21,77 22,76 20,97 21,83b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 21,64 21,42 19,85 20,97c

Rataan 22,50a 22,65a 20,60b

19

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 25,07 24,69 21,83 23,86a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 22,51 23,50 21,83 22,61b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 22,44 22,10 20,59 21,71c

Rataan 23,34a 23,43a 21,42b

20

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 25,81 25,31 22,52 24,55a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 23,13 24,13 22,38 23,21b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 22,96 22,63 21,16 22,25c

Rataan 23,97a 24,02a 22,02b

21

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 26,48 26,11 23,32 25,30a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 23,78 24,82 23,19 23,93b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 23,64 23,28 21,77 22,89c

Rataan 24,63a 24,74a 22,76b

22

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 27,44 27,12 24,21 26,26a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 24,64 25,66 24,15 24,82b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 24,48 24,08 22,72 23,76c

Rataan 25,52a 25,62a 23,69b

23

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 28,34 27,97 25,00 27,10a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 25,23 26,43 24,93 25,53b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 25,15 24,71 23,52 24,46c

Rataan 26,24a 26,37a 24,48b

(33)

Tabel 1. Lanjutan

MST Media Tanam

Varietas

Rataan V1

(Avros)

V2 (Simalungun)

V3 (PPKS 540) 24

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 29,10 28,63 26,40 28,05a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 25,98 27,22 25,86 26,36b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 25,90 25,75 24,34 25,33c

Rataan 27,00a 27,20a 25,53b 25

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 30,09 29,81 27,61 29,17a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 26,51 28,00 27,08 27,20b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 26,46 26,62 25,29 26,12c

Rataan 27,69b 28,14a 26,66c

26

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 31,76 31,58 29,71 31,01a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 27,67 29,46 28,74 28,63b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 27,84 27,86 26,84 27,51c

Rataan 29,09 29,63 28,43

27

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 33,58 33,25 31,38 32,74a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 29,29 30,56 30,37 30,07b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 28,88 29,31 28,06 28,75c

Rataan 30,58 31,04 29,94

28

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 34,98 35,02 32,99 34,33a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 30,57 32,17 32,06 31,60b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 30,04 30,56 29,38 29,99c

Rataan 31,86 32,58 31,47

29

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 37,13 37,12 35,03 36,43a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 32,41 34,14 34,15 33,57b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 31,89 32,40 31,05 31,78c

Rataan 33,81 34,55 33,41

30

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 39,52 39,80 37,56 38,96a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 34,03 36,82 36,55 35,80b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 33,97 34,03 32,91 33,63c

Rataan 35,84 36,88 35,67

31

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 40,93 41,72 39,22 40,62a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 35,33 38,10 38,43 37,29b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 35,11 34,80 34,38 34,76c

Rataan 37,12 38,21 37,34

32

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 43,04 44,20 42,05 43,10a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 36,90 40,16 40,66 39,24b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 36,58 36,87 36,25 36,57c

Rataan 38,84 40,41 39,65

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5 %.

Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa pada 32 MST perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam menghasilkan rataan tertinggi pada topsoil tanpa penambahan sabut kelapa (S0) yaitu 43,10 cm yang berbeda nyata dengan S1 (39,24 cm) dan S2 (36,57 cm). Perlakuan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal cenderung menghasilkan rataan yang lebih tinggi

(34)

21

pada varietas DxP Simalungun (V2) yaitu 40,41 cm dibanding varietas lainnya yaitu secara berturut V3 (39,65 cm) dan V1 (38,84 cm).

Kombinasi perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam dengan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal menghasilkan interaksi yang tidak nyata pada 17-32 MST. Namun pada 32 MST kombinasi perlakuan S0V2 cenderung menghasilkan rataan yang lebih tinggi yaitu 44,20 cm dibanding kombinasi perlakuan lainnya yaitu secara berturut-turut S0V1 (43,04 cm), S0V3 (42,05 cm), S1V3 (40,66 cm), S1V2 (40,16 cm), S1V1 (36,90 cm), S2V2 (36,87 cm), S2V1 (36,58 cm), dan S2V3 (35,25 cm).

Jumlah Daun

Data pengamatan dan sidik ragam jumlah daun dapat dilihat pada Lampiran 38-69 yang menunjukkan bahwa perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam berpengaruh nyata pada 17 MST dan 19-32 MST, namun berpengaruh tidak nyata pada 18 MST, sedangkan perlakuan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal berpengaruh nyata pada 17 MST, 26-28 MST dan 30-32 MST, namun berpengaruh tidak nyata pada 18-25 MST dan 29 MST, serta interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata pada 17-32 MST.

(35)

Tabel 2.Rataan jumlah daun (helai) beberapa varietas kelapa sawit dengan penambahan sabut kelapa pada media tanam umur 17-32 MST.

MST Media Tanam

Varietas

Rataan V1

(Avros)

V2 (Simalungun)

V3 (PPKS 540) 17

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 3,41 3,39 3,03 3,28a

S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 3,13 3,16 3,14 3,14b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 3,15 3,13 2,78 3,02c

Rataan 3,23a 3,23a 2,98b

18

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 3,57 3,83 3,64 3,68

S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 3,46 3,51 3,50 3,49 S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 3,43 3,56 3,36 3,45

Rataan 3,49 3,63 3,50

19

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 3,79 3,93 3,93 3,88a

S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 3,56 3,69 3,71 3,65b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 3,70 3,60 3,44 3,58c

Rataan 3,68 3,74 3,70

20

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 3,99 4,03 4,08 4,03a

S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 3,84 3,75 3,94 3,84b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 3,80 3,83 3,64 3,76c

Rataan 3,87 3,87 3,89

21

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 4,43 4,51 4,25 4,40a

S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 4,07 4,17 4,23 4,15b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 4,09 4,20 3,97 4,09c

Rataan 4,19 4,29 4,15

22

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 4,65 4,78 4,63 4,69a

S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 4,23 4,28 4,47 4,33b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 4,34 4,47 4,17 4,33b

Rataan 4,41 4,51 4,42

23

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 5,02 5,04 4,91 4,99a

S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 4,59 4,64 4,79 4,68b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 4,58 4,69 4,43 4,57c

Rataan 4,73 4,79 4,71

24

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 5,16 5,35 5,10 5,20a

S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 4,88 4,85 5,00 4,91b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 4,87 4,94 4,63 4,82c

Rataan 4,97 5,05 4,91

25

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 5,49 5,64 5,26 5,46a

S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 5,12 5,17 5,15 5,14b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 5,20 5,17 4,68 5,02c

Rataan 5,27 5,33 5,03

26

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 5,81 5,88 5,38 5,69a

S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 5,32 5,30 5,29 5,30b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 5,47 5,42 4,80 5,23c

Rataan 5,53a 5,53a 5,16b

27

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 6,08 6,03 5,49 5,87a

S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 5,60 5,65 5,54 5,59b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 5,49 5,71 4,85 5,35c

Rataan 5,72a 5,80a 5,30b

28

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 6,15 6,32 5,61 6,02a

S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 5,67 5,74 5,61 5,67b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 5,49 5,80 5,03 5,44c

Rataan 5,77b 5,95a 5,42c

(36)

23

Tabel 2. Lanjutan

MST Media Tanam

Varietas

Rataan V1

(Avros)

V2 (Simalungun)

V3 (PPKS 540) 29

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 6,77 6,96 6,38 6,71a

S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 6,00 6,22 6,13 6,12b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 5,99 6,19 5,83 6,00c

Rataan 6,25b 6,46a 6,12c

30

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 7,14 7,32 6,57 7,01a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 6,34 6,40 6,42 6,39b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 6,16 6,48 5,95 6,20c

Rataan 6,55b 6,73a 6,31c

31

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 7,49 7,68 6,75 7,31a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 6,73 6,72 6,45 6,63b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 6,48 6,77 6,20 6,48c

Rataan 6,90b 7,06a 6,47c

32

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 7,81 7,97 6,92 7,57a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 7,01 6,92 6,63 6,85b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 6,96 6,98 6,34 6,76b

Rataan 7,26a 7,29a 6,63b

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5 %.

Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa pada 32 MST perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam menghasilkan rataan tertinggi pada topsoil tanpa penambahan sabut kelapa (S0) yaitu 7,57 helai yang berbeda nyata dengan S1 (6,58 helai) dan S2 (6,76 helai). Perlakuan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal menghasilkan rataan tertinggi pada varietas DxP Simalungun (V2) yaitu 7,29 helai yang berbeda tidak nyata dengan V1 (7,26 helai) namun berbeda nyata dengan V3 (6,63 helai).

Kombinasi perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam dengan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal menghasilkan interaksi yang tidak nyata pada 17-32 MST. Namun pada 32 MST kombinasi perlakuan S0V2 cenderung menghasilkan rataan yang lebih tinggi yaitu 7,97 helai dibanding kombinasi perlakuan lainnya yaitu secara berturut-turut S0V1 (7,81 helai), S1V1 (7,01 helai), S2V2 (6,98 helai), S2V1 (6,96 helai), S0V3 (6,92 helai), S1V2 (6,92 helai), S1V3 (6,63 helai), dan S2V3 (6,34 helai).

(37)

Diameter Batang

Data pengamatan dan sidik ragam diameter batang dapat dilihat pada Lampiran 70-85 yang menunjukkan bahwa pada 18-32 MST perlakuan penambahan sabut kelapa pada media tanam dan perlakuan beberapa varietas kelapa sawit yang bermesokarp tebal berpengaruh nyata, sedangkan interaksi antara kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata.

Tabel 3.Rataan diameter batang (mm) beberapa varietas kelapa sawit dengan penambahan sabut kelapa pada media tanam umur 18-32 MST.

MST Media Tanam

Varietas

Rataan V1

(Avros)

V2 (Simalungun)

V3 (PPKS 540) 18

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 7,44 8,05 6,02 7,17a

S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 6,41 7,47 6,00 6,63b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 6,72 7,22 5,45 6,46c

Rataan 6,85b 7,58a 5,82c

20

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 8,05 8,67 6,85 7,86a

S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 7,11 7,95 6,67 7,25b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 7,33 7,87 6,03 7,08b

Rataan 7,50b 8,16a 6,52c

22

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 11,08 11,95 9,62 10,88a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 9,79 11,20 9,11 10,03b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 9,72 10,45 7,90 9,36c

Rataan 10,20b 11,20a 8,88c

24

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 13,18 14,53 11,45 13,05a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 11,56 13,25 10,82 11,88b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 11,35 12,29 9,63 11,09c

Rataan 12,03b 13,36a 10,63c

26

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 17,16 17,87 13,72 16,25a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 15,05 16,52 13,57 15,05b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 14,30 15,56 11,69 13,85c

Rataan 15,50b 16,65a 12,99c

28

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 19,83 20,05 16,21 18,70a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 17,51 19,05 15,86 17,47b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 17,28 17,67 13,47 16,14c

Rataan 18,21b 18,92a 15,18c

30

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 22,18 23,59 19,67 21,81a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 19,90 22,19 17,83 19,97b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 20,01 21,03 16,18 19,07c

Rataan 20,70b 22,27a 17,89c

32

S0 (topsoil tanpa sabut kelapa) 26,24 29,58 22,64 26,15a S1 (4/5 top soil : 1/5 sabut kelapa) 23,53 25,01 20,91 23,15b S2 (3/5 top soil : 2/5 sabut kelapa) 22,26 23,40 18,84 21,50c

Rataan 24,01b 26,00a 20,80c

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5 %.

Gambar

Tabel 1. Lanjutan    MST  Media Tanam  Varietas  Rataan  V1  (Avros)  V2  (Simalungun)  V3             (PPKS 540)  24
Tabel  2.Rataan  jumlah  daun  (helai)  beberapa  varietas  kelapa  sawit  dengan  penambahan sabut kelapa pada media tanam umur 17-32 MST

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan data pengamatan dan hasil sidik ragam (lampiran 36 dan 37), diketahui bahwa perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap terhadap bobot umbi per plot, pemberian

Berdasarkan hasil data pengamatan dan sidik ragam (Lampiran 5 – 34) diketahui bahwa konsentrasi air kelapa berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah daun pada umur

Data pengamatan dan sidik ragam jumlah daun per rumpun tanaman bawang merah dapat dilihat pada lampiran 33 – 44 yang menunjukkan bahwa perlakuan varietas

Data Pengamatan Bobot Kering Tanaman (g) Beberapa Varietas Kacang Buncis pada Umur 14 Hari Setelah Tanam pada Perlakuan Dosis K yang Berbeda... Daftar Sidik Ragam Bobot Kering

Chriso Juanda , “Penambahan Sabut Kelapa Pada Media Tanam Dan Frekuensi Penyiraman Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit ( Elaeis guineensis Jacq. ) Di Main Nursey” ,

penambahan sabut kelapa pada media tanam kelapa sawit dan frekuensi penyiraman terhadap pertumbuhan benih kelapa sawit ( Elais Guineensis Jacq.) di pre nursery.

Step pertama yaitu penambahan sabut kelapa terdiri dari 1/5 sabut kelapa dan 1/10 sabut kelapa, step kedua yaitu perlakuan frekuensi penyiraman terdiri dari sekali penyiraman ,dan

penambahan sabut kelapa pada media tanam kelapa sawit dan frekuensi penyiraman. terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elais