Hasil
Sebaran Suhu Permukaan Laut di Perairan Pantai Timur Sumatera Utara Sebaran suhu permukaan laut di Perairan Pantai Sumatera Utara berdasarkan analisis citra Aqua MODIS tahun 2013 – 2017 relatif konstan dengan kisaran 30oC.Sebaran rata – rata bulanan SPL dapat dilihat pada Gambar 5.
(1) (2)
(3) (4)
(5) (6)
(7) (8)
(9) (10)
20
(11) (12)
0 10 20 30 40
Gambar 5.Distribusi suhu permukaan laut rata – rata tahun 2013 – 2017 (1) Januari (2) Februari (3) Maret (4) April (5) Mei (6) Juni (7) Juli (8) Agustus (9) September (10) Oktober (11) November (12) Desember.
Berdasarkan Gambar 5 pola sebaran suhu permukaan laut (SPL) rata – rata bulan Februari tahun 2013 – 2017 memiliki nilai 29,890C, dimana massa air didominasi warna kuning dibagian pesisir pantai timur Sumatera Utara. Pola sebaran rata – rata SPL bulan Februari menunjukkan nilai SPL paling rendah dibanding nilai SPL pada bulan lainnya.
Pada bulan Mei menunjukkan sebaran SPL lebih tinggi yaitu 31,120C, ditandai dengan massa air yang mendominasi warna merah. Nilai SPL pada bulan mei merupakan yang tertinggi dibanding nilai SPL pada bulan lainnya rata – rata bulanan suhu permukaan laut dibuat dalam Tabel 1.
Tabel 1. Rata – rata bulanan suhu permukaan laut tahun 2013 – 2017
Bulan SPL (oC)
2013 2014 2015 2016 2017
Januari 30.13 29.28 30.10 30.50 29.71
Februari 29.59 29.55 29.70 30.83 29.79
Maret 30.81 29.99 30.81 30.83 30.41
April 31.25 30.54 30.80 31.60 30.75
Mei 31.44 30.95 31.05 31.38 30.78
Juni 31.02 31.19 30.74 31.40 31.18
Juli 30.93 31.03 30.84 31.07 30.85
Agustus 30.66 30.39 30.30 31.28 30.79
September 30.48 30.19 30.83 31.00 30.74
Oktober 30.29 30.20 29.98 30.70 30.61
November 30.20 30.20 29.98 30.70 30.61
Desember 29.81 30.41 30.20 29.82 29.86
Berdasarkan tabel 1 secara umum, rata – rata bulanan suhu permukaan laut di Pantai Timur Sumatera Utara tahun 2013 – 2017 berkisar 290C – 310C.
Distibusi sebaran suhu permukaan lat rata – rata bulanan dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6.Distribusi sebaran suhu permukaan laut rata – rata bulanan di Pantai Timur Sumatera Utara tahun 2013 – 2017.
Sebaran konsentrasi klorofil – a di Perairan Pantai Timur Sumatera Utara
22
Hasil pengamatan citra satelit aqua MODIS terhadap konsentrasi klorofil –a menunjukkan nilai sebaran klorofil – a di peraran Timur Sumatera Utara pada tahun 2013- 2017 memiliki kisaran 1,3 – 4,6 mg/m3. Konsentrasi klorofil – a mengalami perubahan sertiap bulannya, warna massa air yang semakin hijau menandakan bahwa konsentrasi klorofil – a perairan Pantai Timur Sumatera Utara semakin tinggi. Sebaran rata – rata musiman klorofil – a tahun 2013 – 2017 dapat dilihat pada Gambar 7.
(1) (2)
(3) (4)
(9) (10)
(5) (6)
(7) (8)
24
(11) (12)
0.05 0.1 0.5 1 2 5 10 20 Gambar 7.Distribusi klorofil – a rata – rata tahun 2013 – 2017 (1) Januari (2) Februari (3) Maret (4) April (5) Mei (6) Juni (7) Juli (8) Agustus (9) September (10) Oktober (11) November (12) Desember
Konsentrasi klorofil – a di pantai timur Sumatera Utara pada tahun 2013 – 2017 berdasarkan analisis citra satelit Aqua MODIS menunjukkan rata – rata 3,15 mg/m3. Dibanding dengan bulanlain , bulan Mei memiliki konsentrasi terendah dengan nilai rata – rata 2,01 mg/m3. Hal ini ditunjukkan dengan sedikitnya massa air yang berwarna hijau.
Pada bulan Desember konsentrasi klorofil – a di pantai timur Sumatera Utara memiliki nilai yang sangat tinggi dengan nilai rata – rata 3,63mg/m3.Hal ini ditandai dengan massaair yang didominasi warna hijau.Rata – rata bulanan klorofil a dapat dilihat di tabel 2.
Tabel 2. Rata – rata bulanan klorofil – a tahun 2013 – 2017
Bulan Klorofil – a (mg/m3)
2013 2014 2015 2016 2017
Januari 2.34 2.35 2.68 2.02 3.38
Februari 3.36 3.56 3.96 3.75 3.53
Maret 3.54 3.31 3.54 3.50 3.65
April 3.30 2.86 2.38 1.62 1.92
Mei 2.17 2.03 2.15 2.12 1.56
Juni 2.29 2.14 2.25 2.13 2.13
Juli 3.27 2.70 2.35 3.75 3.34
Agustus 2.34 3.28 3.36 3.36 3.39
September 2.98 2.38 2.26 2.88 2.96
Oktober 2.06 2.06 2.97 2.52 2.45
November 3.33 3.55 3.72 3.29 3.43
Desember 2.85 2.85 2.66 2.51 4.65
Berdasarkan Tabel 2 rata – rata bulanan klorofil – a tahun 2013 – 2017 adalah 2 – 5 mg/m3.Distribusi konsentrasi klorofil – a rata – rata bulanan dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Distribusi konsentrasi klorofil – a rata – rata bulanan di Perairan Pantai Timur Sumatera Utara.
26
Tangkapan Ikan Kembung di Pantai Timur Sumatera Utara
Hasil tangkapan yang digunakan adalah data statistik PPS Belawan mulai dari Januari 2013 – Desember 2017 pada wilayah penangkapan Pantai Timur Sumatera Utara.Ikan kembung (Rastrelliger kanagurta) merupakan salah satu ikan pelagis yang banyak didaratkan di PPS Belawan.Keberadaannya di laut yang tidak bergantung kepada musim membuat ikan menjadi salah satu ikan dominan di daerah ini. Ikan kembung biasanya ditangkap menggunakan alat tangkap Purse Seine, Pukat Ikan, Pancing, Pukat kantong, Pukat Hela, Bouke Ami dan Gillnet.Total Tangkapan ikan kembung dapat dilat pada Tabel 3.
Tabel 3. Total Tangkapan bulanan ikan kembung tahun 2013 – 2017 di Pantai Timur Sumatera Utara
Bulan Total Tangkapan (Ton)
Rata – rata
2013 2014 2015 2016 2017
Januari 233,347 223,661 216,109 226,173 252,561 230,370 Februari 215,299 229,057 252,096 250,903 213,513 232,174 Maret 227,671 228,370 232,053 223,345 215,697 225,427 April 202,240 232,154 244,697 245,495 202,770 225,471 Mei 192,072 198,209 200,982 202,200 213,824 201,457 Juni 239,641 235,921 248,905 204,986 159,412 217,773 Juli 240,044 214,846 201,206 243,564 229,318 225,796 Agustus 236,048 222,019 217,223 215,076 221,813 222,436 September 215,871 207,894 217,701 208,908 176,897 205,454 Oktober 214,982 217,924 219,862 224,439 189,639 213,369 November 200,497 204,429 212,703 221,872 203,847 208,670 Desember 224,821 223,153 230,201 226,656 235,875 228,141
Tangkapan ikan kembung mengalami fluktuasi setiap bulannya, Tangkapan tertinggi mencapai 232,174 ton yang terjadi pada bulan Februari.Tangkapan ikan kembung terendah yaitu 201,457 yang terjadi di bulan Mei.Tangkapan ikan kembung dapat dilihat pada Gambar 9.
a Gambar 9.Tangkapan Ikan Kembung
Hubungan SPL dengan Hasil Tangkapan
Secara umum peningkatan volume Tangkapan ikan kembung di Pantai Timur Sumatera Utara terjadi pada saat SPL menurun. Tingginya hasil tangkapan ikan pada saat SPL terendah terdapat pada bulan Februari.Sebaliknya pada saat SPL tertinggi hasil tangkapan ikan menurun yang terjadi pada bulan Mei.Hubungan antara SPL dan Tangkapan Ikan Kembung dapat dilihat pada gambar 10.
Gambar 10. Hubungan Antara SPL dan Tangkapan Ikan Kembung
28
Hubungan Klorofil – a dengan Hasil Tangkapan
Secara umum peningkatan Tangkapan ikan sejalan dengan meningkatnya konsentrasi klorofil – a di perairan.Semakin tinggi klorofil – a semakin tinggi hasil tangkapan dan begitu sebaliknya.Hasil tangkapan tertinggi didapat pada bulan Februari sejalan dengan tingginya konsentrasi klorofil – a di perairan Pantai Timur Sumatera Utara. Hasil tangkapan terendah didapat pada bulan mei sejalan dengan menurunnya konsentrasi klorofil – a di perairan. Hubungan klorofil –a di perairan dengan Tangkapan ikan kembung dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11. Hubungan Klorofil – a dengan Tangkapan Ikan Kembung
Hubungan Hasil Tngkapan Ikan Kembung dengan SPL dan Klorofil – a Berdasarkan Korelasi Pearson
Analisis terhadap hubungan hasil tangkapan ikan kembung dengan SPL dan Klorofil – a dilakukan menggunakan korelasi pearson dari Software SPSS 21. Hasil tangkapan ikan sebagai variabel terikat dengan SPL dan Klorofil – a sebagai variabel bebas dengan signifikan <0,05. Hubungan hasil tangkapan ikan kembung dengan SPL dan Klorofil – a dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Hubungan hasil tangkapan ikan kembung dengan SPL dan Klorofil – a
Berdasarkan Tabel 4 hasil korelasi antara Tangkapan ikan Kembung dengan SPL menunjukkan hubungan yang negatif (-) atau berkorelasi berlawanan dengan nilai korelasi sebesar -0,365memiliki hubungan lemah dan tidak searah.
Hal tersebut berarti jika SPL meningkat maka hasil tangkapan ikan kembung menurun demikian pula sebaliknya jika SPL menurun maka hasil tangkapan ikan cenderung meningkat.
Hubungan klorofil-a dengan hasil tangkapan diperoleh nilai korelasi positif (+) sebesar 0,660 yang menunjukkan bahwa antara klorofil-a dengan hasil tangkapan memiliki hubungan yang kuat dan searah. Hal tersebut berarti jika kandungan klorofil-a diperairan meningkat maka hasil tangkapan ikan Kembungakan meningkat demikian pula jika klorofil-a diperairan menurun makan hasil tangkapan ikan kembung juga akan menurun.
30
Pembahasan
Sebaran Suhu Permukaan Laut di Perairan Timur Sumatera Utara
Dari citra satelit Aqua MODIS Distribusi Suhu Permukaan Laut pada Perairan Pantai Timur Sumatera Utara dalam kurun lima tahun (2013-2017) berkisar 29oC-31oC. Menurut Zianida (2017), suhu maksimum rata-rata Selat Malaka pada tahun 2013 mencapai 23° Celcius hingga 35° Celcius, dengan kelembaban nisbi udara mencapai 65% hingga 75 %. Secara umum kawasan Selat Malaka memiliki ketinggian rata-rata 125 m di atas permukaan laut.Sebaran suhu permukaan laut di pantai timur Sumatera Utara memiliki nilai tertinggi pada musim peralihan I sebesar 30,87oC dan terendah pada musim barat dengan nilai sebaran sebesar 30,02oC.
Suhu tertinggi yang terdapat di perairan Pantai Timur berdasarkan citra satelit Aqua MODIS terdapat pada bulan Mei dengan rata-rata 31,12oC dan suhu terendah terdapat pada bulan Februari dengan rata-rata 29,89oC. Hal ini disebabkan bulai Mei termasuk dalam musim peralihan barat yang mengakibatkan suhu diperiaran cendrung panas.Hal ini sesuai dengan Ali et al (2015), yang menyatakan bahwa (Maret, April, Mei) suhupermukaan laut cenderung membentukperairan hangat.Citra satelit pada bulan Mei 2014menunjukkan sebaran suhu permukaanlaut didominansi 31oC.
Tinggi rendahnya suhu yang terdapat pada perairan Pantai Timur disebabkan oleh adanya musim peralihan. Pada musim peralihan barat suhu periaran laut cendrung mengalami peningkatan yang menyebabkan suhu diperairan laut menjadi penas sedangkan pada musim peralihan timur suhu perairan cendrung lebih dingin. Menurut Fadika et al (2014), pada musim
peralihan barat arus permukaan menuju arah timur. Sedangkan suhu permukaan laut pada musim ini massa air yang lebih rendah berada di periran sebalah Selatan, semakin menuju ke daratan suhu permukaan laut semakin tinggi. Sehingga pada musim Barat belum tampak adanya keterkaitan anatara sebaran suhu permukaan laut dengan arah gerak arus pemukaan.
Sebaran Konsentrasi Klorofil-a di Perairan Timur Sumatera Utara
Dari citra satelit Aqua MODIS diketahui bahwa seberan kolofil-a pada Perairan Pantai Timur Sumatera Utara dalam kurun lima tahun (2013-2017) berkisar 2-5 mg/m3. Tinggi rendahnya klorofil-a yang ada diperairan akan mempengaruhi tingkat kesuburan periaran. Dimana semakin tinggi klorofil-a di perairan maka tingkat kesuburan periaran juga semakin tinggi. Menurut Kuswanto et al (2017), kolofil-a merupakan salah satu indikasi kesuburan perairan. Perairan
yang subur tentunya mengandung klorofil-a dengan konsentrasi yang tinggi.
Klorofil-a tertinggi yang terdapat di perairan Pantai Timur berdasarkan citra satelit Aqua MODIS terdapat pada bulan Februari dengan rata-rata 3,63 mg/m3 dan klorofil-a terendah terdapat pada bulan Meidengan rata-rata 2,01 mg/m3. Hasil ini tidak berbeda jauh dengan Siregaret al (2015) dimana klorofil-a yang didapatkan berkisar anatar 1,5-2,5 mg/m3. Nilai konsentrasi klorofil-a yang terdapat diperairan juga dipengaruhi oleh keberadaan fitoplankton namun tidak selalu berpengaruh nyata terhadap periran. Menurut Fadika et al (2014), fitoplankton mengandung klorofil-a di suatru perairan. Tetapi masih ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kelimpahan fitoplankton disuatu periaran tidak selalu berpnegaruh nyata dengan kandungan klorofil-a. Beberapa alasan yang dapat dikemukaan antara lain adalah proporsi klorofil-a yang dapat berbeda pada
32
setiap jenis fitoplankton yang berbeda, adanya sel fitoplankton yang sangat kecul yang tidak tertangkap dengan dengan jaraing plankton yang digunakan sehingga tidak semya sel fitoplankton terkuantifikasi.
Dari citra satelit Aqua MODIS diketahui bahwa seberan kolofil-a pada Perairan Pantai Timur Sumatera termasuk dalam katagori tinggi dengan nilai konsentarsi berkisar anatara 2-5 mg/m3.Tingginya nilai konsentrasil kolrofil-a yang terdapat di Pantai Timur Sumatera Utara diduga karena adanya pengaruh langsung dari daratan yang membawa zat hara mauk ke periran laut.Menurut Azani et al (2013) distribusi klorofil-a dengan nilai konsentrasi maksimum cendrung berada di kawasan pantai pulau sumatera.Diduga hal ini disebabkan karena sebagian besar sungai-sungai yang ada di pulau Sumatera bermuara ke pantai Timur Sumatera. Air sungai yang mengalir kelautan kaya akan nutrient dan mineral dari daratan yang menyebabkan perairan nutrient dan pantai menjadi subur.
Hubungan SPL dan Klorofil-a terhadap Hasil Tangkapan Ikan Kembung Hasil tangkapan Ikan Kembung yang dilakukan di Pantai Timur Sumatera Utara menunjukkan hasil yang berbeda disetiap bulannya. Hal ini dapat disebabkan oleh nilai SPL yang juga berbeda dimana peningkatan nilai SPL diikuti oleh penurunan hasil tangkapan. Pada Bulan Mei SPL memiliki nilai tertinggi yaitu sebesar 31,12 oC diikuti dengan hasil tangkapan ikan yang rendah yaitu 201.457 ton sedangkan nilai SPL terendah terdapat pada Bulan Februari yakni 29,89 oC dengan hasil tangkapan ikan yang tinggi yaitu mencapai 232.174 ton. Hal ini duduga karena Ikan Kembung memiliki kemampuan adapatasi terhadap kisaran suhu permukaan laut. Menurut Sahidi et al (2015), fluktuasi SPL
berpengaruh terhadap pengkonsentrasian gerombolan ikan. Suhartono (2009) menyatakan bahwa suhu optimal untuk penangkapan ikan kembung berada pada suhu 29,77-30,01 oC. Hal ini sejalan dengan penelitian Halim et al (2017), bahwa Ikan Kembung di perairan Kabupaten Pati memiliki jumlah tangkapan yang tinggi pada kisaran suhu 29-30 oC.
Hubungan antara klorofil-a dengan hasil tangkapan Ikan Kembung pada Gambar 8 menunjukkan bahwa tingginya klorofil-a diikuti pula dengan tingginya hasil tangkapan begitu juga sebaliknya, rendahnya klorofil-a diikuti pula dengan rendahnya hasil tangkapan. Hal ini disebabkan karena tingginya klorofil mengindikasikan tingginya kelimpahan fitoplankton yang merupakan sumber makanan bagi ikan pelagis. Menurut Akhlak et al., (2015), banyaknya ikan pelagis diduga karena banyaknya ketersediaan makanan di suatu perairan. Sebagai produser primer fitoplankton yang memiliki hubungan dengan produktivitas perairan merupakan makanan bagi ikan – ikan pelagis kecilsehingga tercipta suatu rantai makanan yang menunjang produktifitas ikan di perairan. Hal ini juga didukung oleh penelitian Halim et al (2017), dimana tingginya klorofil-a pada bulan Desember, Januari, Februari diikuti pula dengan tingginya hasil tangkapan Ikan Kembung pada bulan tersebut di Perairan Kabupaten Pati.
Berdasarkan Gambar 8 terlihat bahwa terdapat perbedaan beberapa bulan dimana hasil tangkapan Ikan Kembung justru menurun ketika sebaran klorofil-a meningkat seperti pada bulan Maret dan November. Hal tersebut diduga terjadi karena adanya time lag pada rantai makanan. Menurut Fitriah (2008) kenaikan hasil tangkapan Ikan Kembung tidak selalu langsung dipengaruhi oleh tingginya konsentrasi klorofil-a di suatu perairan, dikarenakan adanya selang waktu (time
34
lag) sekitar satu bulan antara naiknya konsentrasi klorofil dengan naiknya hasil
tangkapan Ikan Kembung. Tangke et al (2015) berpendapat bahwa konsentrasi klorofil yang terdapat di perairan tidak langsung mempengaruhi jumlah ikan yang berada pada daerahtersebut karena adanya lag atau waktu dimana konsentrasi klorofil-a di suatu perairan terlebih dahulu dimakan oleh struktur organisme herbivora, sebagai contohnya zooplankton, atau crustacea kecil (juvenil), dan selanjutnya dimakan oleh tingkat trofik diatasnya.
Pada saat nilai SPL normal maka nilai konsentrasi klorofil-a juga akan bernilai normal, tetapi apabila nilai SPL tinggi maka konsentrasi klorofil bernilai kecil. Kedua variabel ini berhubungan negatif. Hal ini dikarenakan apabila suhu permukaan laut terlalu tinggi maka dapat mengakibatkan rusaknya klorofil sehingga fotosintesis menjadi terganggu. Hal ini sesuai dengan Utari (2013), yang menyatakan bahwa besar nilai suhu meningkatnya intensitas cahaya yang diterima. Intintensitas cahaya yang tinggi akan merusakkan klorofil, sehingga proses fotosintesis akan mengalami gangguan dan tidak berjalan dengan baik.
Begitu pula sebaliknya jika intensitas cahaya sangat rendah.