• Tidak ada hasil yang ditemukan

Posisi Daya Saing Komparatif dan Kompetitif Ikan Olahan Indonesia ke Negara Tujuan Ekspor Utama

Udang Olahan

Udang olahan merupakan komoditas ikan olahan yang memiliki volume ekspor tertinggi kedua setelah tuna olahan dengan rata-rata volume ekspor tahun 2005-2013 sebesar 30 juta kg (UN Comtrade 2015). Potensi yang besar jelas dimiliki oleh salah satu komoditas subsektor makanan olahan untuk menjadi komoditas udang olahan unggulan di negara tujuan ekspor meliputi USA, Jepang, Thailand, UK, dan Australia. Analisis terhadap posisi daya saing komparatif udang olahan Indonesia di negara tujuan ekspor menjadi perlu dilakukan, dengan menggunakan metode Revealed Comparative Advantage (RCA).

Berdasarkan hasil perhitungan RCA pada Tabel 10, secara keseluruhan udang olahan memiliki daya saing kuat, terlihat dari nilai RCA yang lebih besar dari satu. Terutama di negara USA, Thailand dan UK, nilai RCA udang olahan selalu lebih besar dari satu, meskipun nilai RCA cenderung berfluktuasi tetapi rata-rata RCA udang olahan di negara tersebut tinggi sebesar 18.5, 11.3 dan 11.6. Hal tersebut menunjukkan bahwa udang olahan Indonesia berdaya saing kuat di negara USA, Thailand dan UK. Pada negara Jepang dan Australia pada tahun 2005 hingga tahun 2008 nilai RCA udang olahan ke negara tersebut kurang dari satu, yang berarti bahwa udang olahan berdaya saing lemah pada tahun tersebut di negara tersebut. Tabel 10 Nilai dan Rata-rata RCA Udang Olahan Indonesia ke Negara Tujuan

Utama Tahun 2005-2011

Negara Tujuan

RCA Udang Olahan Rata-rata RCA 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 USA 15.6 15.8 17.8 26.6 20.8 16.6 16.2 18.5 Jepang 0.3 0.1 0.2 0.6 1.5 1.9 1.9 0.9 Thailand 24.1 15.4 19.9 3.7 3.8 3.7 8.4 11.3 UK 3.8 10.4 10.6 15.4 15.3 14.3 11.2 11.6 Australia 0.5 0.5 0.6 0.5 7.2 1.4 1.5 1.7 Sumber: UN Comtrade 2015 (diolah)

22

Rendahnya daya saing udang olahan terjadi karena ekspor udang olahan Indonesia ke kedua negara tersebut rendah. Tetapi daya saing udang olahan di Jepang dan Australia mulai menguat mulai tahun 2008 karena mulai tahun tersebut ekspor udang olahan Indonesia ke negara tersebut meningkat (Gambar 5). Meskipun terjadi perbaikan kinerja daya saing udang olahan Indonesia di Jepang dan Australia, sayangnya di negara Jepang daya saing udang olahan masih lemah, ditunjukkan dengan rata-rata RCA yang kurang dari satu yaitu sebesar 0.9.

Sumber: UN Comtrade 2015

Gambar 5 Volume Ekspor Udang Olahan Indonesia ke Jepang Tahun 2005-2011 Peningkatan ekspor udang olahan Indonesia yang stabil yang diharapkan meningkatkan daya saing udang olahan Indonesia ke Jepang ternyata tidak membuat rata-rata daya saing udang olahan menjadi kuat. Lemahnya daya saing udang olahan Indonesia ke Jepang disebabkan oleh adanya negara pesaing yang memiliki keunggulan daya saing komparatif lebih besar dibandingkan Indonesia. Pesaing utama Indonesia yaitu Thailand, Vietnam, dan China dengan rata-rata RCA masing-masing sebesar 17, 16.4, dan 1.6.

Thailand adalah negara pesaing terberat Indonesia di pasar Jepang. Gambar 6 menunjukkan nilai ekspor udang olahan Thailand ke Jepang jauh lebih besar dibandingkan Indonesia. Meskipun pada tahun 2005-2007 nilai ekspor Thailand rendah, mulai tahun 2008 terjadi peningkatan cukup besar tiap tahunnya. Pada tahun 2011, nilai ekspor tertinggi yang dicapai Thailand yaitu sebesar 427 juta US$, sedangkan Indonesia hanya mampu mencapai 60 juta US$. Selain nilai ekspor Thailand yang jauh lebih tinggi daripada Indonesia, rata-rata harga ekspor udang olahan Thailand ke Jepang tahun 2005-2011 lebih rendah dibandingkan Indonesia. Harga ekspor udang olahan Thailand dan Indonesia ke Jepang berturut-turut yaitu sebesar 8.2 US$/Kg dan 8.4 US$/Kg. Kondisi tersebut mengindikasi bahwa ekspor udang olahan Thailand sebagai negara pesaing utama Indonesia lebih digemari oleh pasar Jepang. 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Vo lu m e E k sp o r (R ib u Kg ) Tahun

Sumber: UN Comtrade 2015

Gambar 6 Nilai Ekspor Udang Olahan Indonesia dan Negara Pesaing ke Jepang Tahun 2005-2011

Namun, meskipun daya saing udang olahan Indonesia ke Jepang yang lemah, Indonesia masih memiliki kesempatan untuk meningkatkan daya saing komparatifnya dengan nilai dan volume ekspor yang secara kontinu meningkat. Kondisi tersebut didukung dengan keunggulan kompetitif yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan hasil estimasi EPD pada Tabel 11, daya saing udang olahan Indonesia ke Jepang berada pada posisi Rising Star yang artinya Indonesia memiliki keunggulan kompetitif yang baik dengan rata-rata pertumbuhan pangsa pasar ekspor sebesar 53.4%, tertinggi kedua setelah Australia.

Tabel 11 Hasil Estimasi EPD Udang Olahan Indonesia ke Negara Tujuan Utama Tahun 2005-2011

Negara Tujuan Rata-rata Pertumbuhan Pangsa Pasar Ekspor (%)

Rata-rata Pertumbuhan

Pangsa Pasar Produk (%) EPD

USA 7.1 4.3 Rising Star

Jepang 53.4 2.2 Rising Star

Thailand 12.1 5.4 Rising Star

UK 31.3 0.2 Rising Star

Australia 189.2 4.3 Rising Star

Sumber: UN Comtrade 2015 (diolah)

Pada Tabel 11, hasil estimasi EPD menunjukkan bahwa secara keseluruhan posisi pangsa pasar udang olahan berada pada posisi rising star. Artinya udang olahan Indonesia mampu bersaing dengan sangat baik dalam memenuhi permintaan pasar dunia, sehingga udang olahan memiliki keunggulan kompetitif yang tinggi di pasar global. Keunggulan kompetitif udang olahan Indonesia terbaik yaitu ke pasar Australia dengan rata-rata pertumbuhan pangsa pasar ekspor tertinggi yaitu sebesar 189.2% dan rata-rata pertumbuhan pangsa pasar produk sebesar 4.3%.

0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Nilai E k sp o r (j u ta US$ ) Tahun Indonesia Thailand

24

Kepiting Olahan

Kepiting merupakan komoditi perikanan yang diperhitungkan dalam meningkatkan ekspor perikanan Indonesia karena memiliki nilai ekspor yang tinggi. Diantara jenis kepiting olahan, beku dan segar, rata-rata nilai ekspor kepiting olahan Indonesia tahun 2005-2012 adalah yang tertinggi. Pada Tabel 12, rata-rata volume ekspor kepiting olahan sebesar 10.3 juta kg terbesar kedua setelah kepiting segar. Namun rata-rata nilai ekspor kepiting olahan Indonesia jauh lebih besar daripada kepiting segar yaitu sebesar 199.7 juta US$, sedangkan rata-rata nilai ekspor kepiting segar hanya sebesar 76.0 juta US$. Sehingga penting untuk mengetahui posisi daya saing kepiting olahan Indonesia secara komparatif dan kompetitif menggunakan metode RCA dan EPD.

Tabel 12 Rata-rata Nilai dan Volume Ekspor Kepiting Beku, Segar dan Olahan Tahun 2005-2012

Satuan Kepiting Beku Kepiting Segar Kepiting Olahan Volume (juta kg) 3.3 12.3 10.3 Nilai (juta US$) 38.7 76.0 199.7 Sumber: UN Comtrade 2015

Pada Tabel 13, secara keseluruhan RCA kepiting olahan Indonesia memiliki nilai yang tinggi. Hal tersebut berarti bahwa kepiting olahan Indonesia memiliki daya saing komparatif yang tinggi di negara tujuan ekspor, yaitu di negara USA, Kanada, Hongkong, dan Australia. Terutama di negara Kanada dan Hongkong, kepiting olahan memiliki rata-rata RCA tertinggi sebesar 44.84 dan 21.68. Namun, di negara Jepang, nilai RCA kepiting olahan Indonesia pada tahun 2005-2010 kurang dari satu, artinya daya saing kepiting olahan Indonesia lemah pada tahun tersebut. Rata-rata nilai RCA kepiting olahan Indonesia di negara Jepang juga rendah yaitu sebesar 0.78, sehingga secara keseluruhan daya saing kepiting olahan Indonesia di negara Jepang lemah.

Tabel 13 Nilai dan Rata-rata RCA Kepiting Olahan Indonesia ke Negara Tujuan Utama Tahun 2005-2012 Negara Tujuan RCA Rata-rata RCA 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 USA 7.48 10.71 17.11 15.43 17.01 17.49 21.33 26.66 16.65 Jepang 0.05 0.03 0.62 0.97 0.77 0.71 1.05 2.01 0.78 Kanada 19.95 7.15 36.00 43.17 35.24 16.80 90.20 110.25 44.84 Hongkong 18.07 19.40 41.86 71.34 14.90 6.00 0.70 1.20 21.68 Australia 4.65 1.30 8.93 3.26 1.68 1.68 8.00 7.73 4.65 Sumber: UN Comtrade 2015 (diolah)

Ekspor kepiting olahan memiliki daya saing lemah ke negara Jepang karena adanya negara pesaing yaitu Rep. Korea yang memiliki keunggulan komparatif tertinggi. Perbandingan nilai RCA Indonesia dan negara pesaing di Jepang dapat dilihat pada Tabel 14. Negara pesaing eksportir kepiting olahan Indonesia dengan rata-rata RCA tertinggi adalah Rep. Korea sebesar 3.52.

Tabel 14 Nilai RCA Kepiting Olahan Indonesia dan Negara Pesaing ke Jepang Tahun 2005-2012

Eksportir Nilai RCA Rata-Rata RCA 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

Indonesia 0.05 0.03 0.62 0.97 0.77 0.71 1.05 2.01 0.78 Rep. Korea 3.02 3.19 3.01 3.77 3.63 4.09 3.66 3.82 3.52 Sumber: UN Comtrade 2015 (diolah)

Salah satu faktor yang menyebabkan kepiting olahan Indonesia kalah bersaing dengan Rep. Korea adalah harga ekspor. Pada Gambar 7 terlihat jelas perbedaan harga ekspor kepiting olahan Indonesia dengan Rep. Korea ke Jepang selama tahun 2005-2012. Harga ekspor kepiting olahan Indonesia yang lebih murah tidak menjamin daya saingnya di Jepang lebih baik. Meskipun harga eskpor kepiting olahan Rep. Korea ke Jepang lebih mahal, namun cenderung lebih stabil daripada Indonesia.

Sumber: UN Comtrade 2015 (diolah)

Gambar 7 Harga Ekspor Kepiting Olahan Indonesia dan Negara Pesaing ke Jepang Tahun 2005-2012

Semakin stabil harga ekspor kepiting olahan Rep. Korea, mengindikasi bahwa ekspor kepiting olahan Rep. Korea memiliki daya saing yang lebih stabil daripada kepiting olahan Indonesia di Jepang. Harga ekspor yang stabil juga membuat konsumen di negara Jepang lebih memilih untuk melakukan impor kepiting olahan dari negara Rep. Korea daripada Indonesia. Meskipun harga ekspor kepiting olahan Rep. Korea lebih mahal, tetapi harga ekspornya lebih stabil daripada Indonesia. Harga ekspor Indonesia sangat berfluktuasi dan cenderung meningkat tiap tahunnya, terutama pada tahun 2012 harga ekspor kepiting olahan Indonesi menjadi lebih mahal daripada Rep. Korea yaitu sebesar 12.4 US$. Selain berdaya saing lemah secara komparatif, kepiting olahan Indonesia juga berdaya saing lemah secara kompetitif di negara Jepang. Sehingga perlu perhatian khusus dari pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk meningkatkan lagi daya saing kepiting

4.0 5.5 7.0 8.5 10.0 11.5 13.0 14.5 16.0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Har g a E k sp o r (US$ /k g ) Tahun

26

olahan Indonesia di Jepang agar mampu berdaya saing dengan negara pesaing yang memiliki daya saing kuat.

Hasil estimasi daya saing kepiting olahan Indonesia secara kompetitif menggunakan metode EDP menunjukkan posisi pangsa pasar yang berbeda-beda pada Tabel 15. Negara yang berada pada posisi daya saing Rising Star yaitu USA, Kanada dan Australia, artinya kepiting olahan Indonesia berdaya saing kompetitif yang baik dan mampu bersaing dalam memenuhi permintaan pasar dunia. Namun, di negara Jepang, kepiting olahan Indonesia berada pada posisi Falling Star, sedangkan di negara Hongkong berada pada posisi Lost Opportunity.

Tabel 15 Hasil Estimasi EPD Kepiting Olahan Indonesia ke Negara Tujuan Utama Tahun 2005-2012

Negara Tujuan Rata-rata Pertumbuhan Pangsa Pasar Ekspor (%)

Rata-rata Pertumbuhan

Pangsa Pasar Produk (%) EPD

USA 23.5 1.9 Rising Star

Jepang 292.0 -0.1 Falling Star

Kanada 111.7 2.9 Rising Star

Hongkong -2.4 0.6 Lost Opportunity

Australia 118.3 1.1 Rising Star

Sumber: UN Comtrade 2015 (diolah)

Kondisi Falling Star kepiting olahan Indonesia di negara Jepang berarti bahwa meskipun rata-rata pertumbuhan pangsa pasar ekspor tinggi sebesar 292.0%, tetapi terjadi penurunan permintaan kepiting olahan dari pasar Jepang sebesar 0.1%. Penurunan tersebut terjadi karena terdapat negara pesaing Indonesia yaitu China yang memiliki daya saing kompetitif lebih baik daripada Indonesia. Hasil EPD kepiting olahan China ke Jepang menunjukkan secara berturut-turut rata-rata pertumbuhan pangsa pasar ekspor dan produknya sebesar 2.12% dan 0.94%, yang artinya posisi daya saing kepitimg olahan China ke Jepang berada pada posisi

Rising Star.

Apabila dibandingkan dengan Indonesia, China merupakan eksportir kepiting olahan tertinggi ke Jepang dengan rata-rata volume ekspor dari tahun 2005-2012 sebesar 10.2 juta kg, sedangkan rata-rata volume ekspor kepiting olahan Indonesia ke Jepang hanya sebesar 882.1 ribu kg. Selain tingginya volume ekspor kepiting olahan China ke Jepang, harga ekspor kepiting olahan juga diperkirakan berpengaruh terhadap daya saing. Perbandingan harga ekspor kepiting olahan Indonesia dan China ke Jepang dapat dilihat pada Gambar 8.

Sumber: UN Comtrade 2015 (diolah)

Gambar 8 Harga Ekspor Kepiting Olahan Indonesia dan Negara Pesaing China ke Jepang Tahun 2005-2012

Gambar 8 menunjukkan bahwa harga ekspor kepiting olahan China ke Jepang lebih besar daripada harga ekspor kepiting olahan Indonesia ke Jepang. Namun apabila dilihat dari rata-rata pertumbuhan pangsa pasar produknya, China sebesar 0.94% lebih besar dari pada Indonesia sebesar -0.10%. Artinya, permintaan ekspor kepiting olahan dari Jepang ke China lebih besar daripada Indonesia meskipun harga ekspor kepiting olahan lebih mahal daripada Indonesia. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kualitas kepiting olahan yang diekspor oleh China ke Jepang lebih unggul daripada Indonesia, sehingga daya saing kepiting olahan Indonesia kalah dengan Jepang.

Ada yang menarik dari posisi daya saing kepiting olahan Indonesia ke Hongkong. Secara komparatif, ekspor kepiting olahan Indonesia ke Hongkong memiliki daya saing yang kuat, tetapi secara kompetitif daya saing kepiting olahan Indonesia ke Hongkong lemah yaitu berada pada posisi Lost Opportunity. Posisi tersebut menunjukkan bahwa kepiting olahan Indonesia di Hongkong mengalami penurunan rata-rata pertumbuhan pangsa pasar ekspor sebesar 2.4% sehingga tidak mampu memenuhi permintaan yang meningkat sebesar 0.6%. Dengan kata lain, Indonesia kehilangan kesempatan bersaing dengan negara lain dalam mengoptimalkan pasar yang dimanis untuk memperoleh keuntungan.

Negara pesaing utama Indonesia sebagai eksportir kepiting olahan ke Hongkong adalah China. China memiliki daya saing kompetitif yang baik dengan rata-rata pertumbuhan pangsa pasar ekspor dan produknya sebesar 52.7% dan 1.6%. salah satu penyebab Indonesia kalah bersaing dengan China adalah volume ekspor kepiting olahan China ke Hongkong jauh lebih besar daripada Indonesia dengan rata-rata volume ekspor China sebesar 3.2 juta kg, sedangkan Indonesia hanya sebesar 69.9 juta kg. Selain itu, kualitas ekspor kepiting olahan China jauh lebih unggul dibandingkan Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan tingginya permintaan ekspor Hongkong terhadap China meskipun harga ekspor kepiting olahan China ke Hongkong lebih tinggi daripada harga ekspor Indonesia dengan rata-rata harga ekspor China sebesar 16.6 US$/kg sedangkan Indonesia sebesar 11.6 US$/kg.

4.0 5.5 7.0 8.5 10.0 11.5 13.0 14.5 16.0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Har g a E k sp o r (US$ /Kg ) Tahun Indonesia China

28

Diperlukan perhatian khusus terhadap mutu dan kualitas kepiting olahan Indonesia agar dapat bersaing dengan negara-negara lain di pasar dunia.

Tuna Olahan

Tuna olahan Indonesia merupakan komoditas ikan olahan yang memiliki volume ekspor tertinggi diantara ikan olahan lainnya. Rata-rata volume ekspor tuna olahan Indonesia ke dunia sepanjang tahun 2005-2012 sebesar 58.1 juta US$. Sehingga sangat penting dilakukan analisis terhadap posisi daya saing tuna olahan Indonesia secara komparatif dan kompetitif karena tuna olahan Indonesia sangat potensial untuk diekspor ke pasar dunia.

Tabel 16 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki daya saing yang kuat terhadap ekspor tuna olahan di negara-negara tujuan ekspor utama. Hal tersebut ditunjukkan oleh rata-rata RCA sejak tahun 2005 sampai 2012 yang memiliki nilai diatas satu dan cukup tinggi. Daya saing tuna olahan Indonesia tertinggi yaitu di negara Jordania dengan nilai rata-rata RCA sebesar 34.3., kemudian Saudi Arabia sebesar 21.7, dan USA sebesar 9.1.

Tabel 16 Nilai dan Rata-rata RCA Tuna Olahan Indonesia ke Negara Tujuan Utama Tahun 2005-2013 Negara Tujuan RCA Rata-rata RCA 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 USA 12.3 12.0 11.5 8.3 8.7 7.6 6.1 6.3 9.1 Jepang 5.0 4.9 5.5 4.3 5.6 5.3 4.6 4.8 5.0 Saudi Arabia 24.7 16.8 17.3 18.9 23.8 19.8 25.4 26.5 21.7 UK 4.7 1.8 2.6 3.0 2.6 3.7 8.6 21.1 6.0 Jordania 27.2 30.3 55.5 11.7 26.3 42.6 55.0 25.5 34.3 Sumber: UN Comtrade 2015 (diolah)

Meskipun keseluruhan RCA tuna olahan di negara tujuan ekspor menunjukkan daya saing yang kuat, tetapi rata-rata RCA tuna olahan Indonesia ke Jepang adalah yang paling rendah diantara negara lain yang menjadi tujuan ekspor tuna olahan Indonesia. Padahal ekspor tuna olahan Indonesia ke Jepang adalah tertinggi kedua setelah ke USA. Jordania sebagai negara tujuan ekspor tuna olahan Indonesia dengan ekspor paling rendah diantara negara lain yang menjadi tujuan ekspor Indonesia, memiliki rata-rata RCA tertinggi.

Hal tersebut terjadi karena ada negara pesaing Indonesia yang melakukan ekspor tuna olahan dengan nilai ekspor yang lebih tinggi daripada Indonesia ke negara Jepang, yaitu Thailand. Negara Thailand memiliki rata-rata RCA yang lebih tinggi dibandingkan Indonesia, yaitu sebesar 19.3, sehingga daya saing ekspor tuna olahan Thailand ke Jepang lebih kuat dan lebih unggul dibandingkan Indonesia. Perbandingan nilai ekspor tuna olahan Indonesia dan Thailand ke Jepang dapat dilihat dalam Gambar 9.

Sumber: UN Comtrade 2015

Gambar 9 Nilai Ekspor Tuna Olahan Indonesia dan Negara Pesaing Thailand ke Jepang Tahun 2005-2012

Nilai ekspor tuna olahan Thailand ke Jepang yang memiliki kecenderungan meningkat setiap tahunnya menunjukkan permintaan ekspor tuna olahan dari Jepang terus meningkat. Namun Indonesia, nilai ekspor tuna olahan ke Thailand cenderung stabil sejak tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai ekspor tuna olahan Thailand dan Indonesia memiliki perbedaan yang jauh dengan nilai ekspor Thailand sebesar 199.7 juta US$ dan Indonesia sebesar 60.1 juta US$, selisih nilai ekspor kedua negara tersebut mencapai 139.6 juat US$. Perbedaan nilai ekspor yang cukup jauh tersebut harus diperhatikan oleh Indonesia untuk terus meningkatkan kinerja dan daya saing ekspor tuna olahan terutama ke Jepang.

Hasil analisis daya saing tuna olahan Indonesia secara komparatif menunjukkan daya saing yang kuat dan tinggi di semua negara tujuan ekspor utama tuna olahan Indonesia. Daya saing yang baik secara komparatif belum tentu memberikan hasil yang baik pula secara kompetitif. Posisi daya saing tuna olahan Indonesia berdasarkan hasil estimasi EDP ditunjukkan pada Tabel 17.

Tabel 17 Hasil Estimasi EPD Tuna Olahan Indonesia ke Negara Tujuan Utama Tahun 2005-2013

Negara Tujuan Rata-rata Pertumbuhan Pangsa Pasar Ekspor (%)

Rata-rata Pertumbuhan

Pangsa Pasar Produk (%) EPD USA -6.9 1.9 Lost Opportunity

Jepang 0.1 -0.1 Falling Star

Saudi Arabia 6.3 3.9 Rising Star

UK 43.0 0.5 Rising Star

Jordania -1.6 3.4 Lost Opportunity

Sumber: UN Comtrade 2015 (diolah)

Berdasarkan Tabel 17, posisi daya saing tuna olahan Indonesia di negara tujuan ekspor utama berbeda-beda. Posisi daya saing terbaik yaitu Rising Star

berada di negara Saudi Arabia dan UK. Tetapi, ekspor tuna olahan Indonesia

0 50 100 150 200 250 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Nilai E k sp o r (j u ta US$ ) Tahun Indonesia Thailand

30

kehilangan kesempatan bersaing di negara USA dan Jordania karena terjadi penurunan rata-rata pertumbuhan pangsa pasar ekspor sebesar 6.9% di USA dan 1.6% di Jordania sehingga ekspor tuna olahan Indonesia tidak mampu memenuhi peningkatan permintaan dari kedua negara tersebut. Penurunan rata-rata pertumbuhan pangsa pasar ekspor terbesar terjadi di USA karena ada negara pesaing yang memiliki daya saing kompetitif yang baik dan dinamis, yaitu Filipina dan Thailand dengan rata-rata pertumbuhan pangsa pasar ekspor sebesar 33.5% di Filipina dan 4.1% di Thailand.

Posisi daya saing yang terakhir yaitu Falling Star yang berada di negara Jepang. Meskipun terjadi peningkatan ekspor sebesar 0.1%, tetapi tuna olahan Indonesia di pasar Jepang juga terjadi penurunan permintaan ekspor tuna olahan sebesar 0.1%. Negara pesaing tuna olahan Indonesia di pasar Jepang yaitu Thailand dan China. Salah satu faktor yang diperkirakan membuat daya saing tuna olahan Indonesia di Jepang kalah bersaing dengan Thailand dan China adalah volume ekspor tuna olahan.

Gambar 10 menunjukkan bahwa volume ekspor tuna olahan dari negara Thailand ke Jepang adalah yang tertinggi. Artinya banyak permintaan tuna olahan dari negara Jepang ke Thailand daripada ke Indonesia. Volume ekspor tuna olahan dari negara China berada di bawah Indonesia, tetapi rata-rata permintaan ekspor tuna olahan dari Jepang ke China meningkat jauh lebih besar dari Indonesia, yaitu sebesar 12.3%. Namun, meskipun daya saing tuna olahan Indonesia secara kompetitif lemah di negara USA, Jepang dan Jordania, tetapi tuna olahan Indonesia masih memiliki peluang meningkatkan daya saing kompetitinya. Hal ini didukung oleh daya saing tuna olahan yang kuat secara komparatif di ketiga negara tersebut.

Sumber: UN Comtrade 2015 (diolah)

Gambar 10 Volume Ekspor Tuna Olahan Indonesia dan Negara Pesaing ke Jepang Tahun 2005-2012 0 5 10 15 20 25 30 35 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Vo lu m e E k sp o r (j u ta k g ) Tahun

Analisis Faktor-faktor yang Memengaruhi Daya Saing Ikan Olahan Indonesia ke Negara Tujuan Ekspor Utama

Analisis faktor yang memengaruhi daya saing ikan olahan Indonesia ke negara tujuan ekspor utama dilakukan dengan menggunakan metode panel data statis dengan aplikasi Eviews 6. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui faktor- faktor apa saja yang memengaruhi daya saing udang, kepiting, dan tuna olahan Indonesia ke negara tujuan ekspor utama.

Tabel 18 menunjukkan hasil estimasi faktor-faktor yang memengaruhi daya saing udang olahan, kepiting olahan dan tuna olahan Indonesia. Hasil Uji Chow ketiga komoditas tersebut menunjukkan bahwa nilai probabilitasChow (0.00) < α = 5%, maka tolak H0. Artinya Fixed Effect Model (FEM) adalah model terbaik yang

digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan Tabel 18, nilai R2 udang olahan dan kepiting olahan sebesar 0.99 pada model daya saing ikan olahan Indonesia ke negara tujuan ekspor. Nilai tersebut menunjukkan bahwa 99.65% dan 99.31% keragaman variabel dependen yang terdapat dalam model udang olahan dan kepiting olahan dapat dijelaskan oleh variabel independen yang terdapat dalam model, sedangkan sisanya yaitu 0.35% dan 0.69% dijelaskan oleh faktor lain di luar model penelitian. Nilai R2 tuna olahan lebih kecil dibandingkan udang dan kepiting

olahan yaitu sebesar 0.97, artinya 97.59% keragaman yang terdapat dalam variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel-variabel independen di dalam model, sisanya 2.41% dijelaskan oleh variabel lain di luar model.

Uji statistik melalui uji F dilakukan untuk melihat pengaruh variabel independen secara keseluruhan terhadap variabel dependen. Tabel 18 menunjukkan nilai probabilitas F statistik pada ketiga konoditas sebesar 0.00 lebih kecil dari taraf nyata 5%, artinya pengaruh yang ditimbulkan oleh keseluruhan variabel independen terhadap variabel dependennya adalah baik, atau model dianggap mampu mempresentasikan daya saing udang olahan, kepiting olahan dan tuna olahan Indonesia ke negara tujuan ekspor. Selanjutnya uji t-statistik pada udang olahan menunjukkan bahwa keseluruhan variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen pada taraf nyata 5%. Hal tersebut menunjukkan bahwa variabel-variabel independen secara individu berpengaruh signifikan terhadap daya saing udang olahan Indonesia.

Uji t-statistik pada kepiting olahan menunjukan bahwa hampir semua variabel

Dokumen terkait