• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan hasil pengamatan kejadian penyakit 9 MST sampai 12 MST, aplikasi bakterisida sintesis berpengaruh nyata terhadap kejadian penyakit pada tanaman padi yang terserang penyakit hawar malai pada padi yang disebabkan oleh bakteri Burkholderia glumae. Data pengamatan dan sidik ragam kejadian penyakit 9 MST – 12 MST dapat dilihat pada lampiran 6-13. Rataan kejadian penyakit 9 MST sampai 12 MST tanaman padi dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rataan Kejadian Penyakit 9 MST – 12 MST (%) Perlakuan Umur menunjukkan berbeda nyata pada Uji DMRT pada taraf α = 5%.

Tabel 1 menunjukkan pengamatan kejadian penyakit 9 MST sampai 12 MST, didapat bahwa perlakuan bakterisida memberi perngaruh yang nyata terhadap kejadian penyakit pada 9 MST dan 12 MST. Pada MST 9 dan MST 10 perlakuan pemberian bakterisida Starner 20 WP (konsentrasi 0,2% dan 0,3%), Kuproxat 345 SC (konsentrasi 0,2% dan 0,3%), dan Nordox 56 WP memiliki nilai persentase kejadian penyakit terendah yaitu 0,71%. Hal ini dikarenakan tanaman padi berada

sintesis mampu mencegah bakteri Burkholderia glumae menyerang malai tanaman padi yang masih dalam proses pembentukan serta pembungaan. Hal ini sesuai dengan literatur Suryani (2017) yang menyatakan bahwa aplikasi oxolinic acid (OA) pada stadia keluarnya malai dari batang (heading stage) mempunyai efikasi yang tinggi terhadap pengendalian busuk biji dan bibit, bahan kimia menghambat pertumbuhan bakteri pada plumula dan spikelet.

Pada pengamatan 11 MST perlakuan A3 (Starner 20 WP, konsentrasi 0,3%) memiliki nilai kejadian penyakit yang terendah yaitu 1,40%, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan A6 (Kuproxat 345 SC, konsentrasi 0,3%) dan A9 (Nordox 56 WP, konsentrasi 0,3%). Pada pengamatan 12 MST perlakuan A3 (Starner 20 WP, konsentrasi 0,3%) memiliki nilai persentase terendah yaitu 1,35%, namun tidak berbeda nyata pada perlakuan A6 (1,63%) dan A9 (1,93%) hal ini dikarenakan pemberian bakterisida dengan konsentrasi 0,3% sudah mampu menekan serangan bakteri Burkholderia glumae serta bakterisida Starner 20 WP memiliki bahan aktif asam oksolinik 20%, Kuproxat 345 SC dan Nordox 50 WP memiliki bahan aktif tembaga yang paling efektif menghambat pertumbuhan bakteri Burkholderia glumae pada tanaman padi. Katsube dan Takeda (1998) menyatakan bahwa banyak bakterisida dapat secara efektif mengontrol atau menekan terjadinya bibit busuk dan malai membusuk disebabkan oleh patogen tanaman Burkholderia spp. termasuk antibiotik, tembaga dan senyawa yang mengandung tembaga.

23

Gambar 4. Gambar malai yang terserang Burkholderia Glumae pada perlakuan A0 (a), A1 (b), A2 (c), A3 (d), A4 (e), A5 (f), A6 (g), A7 (h), A8 (i), A9 (j).

Pada pengamatan 9 MST-12 MST didapat bahwa perlakuan A3 (Starner 20 WP, konsentrasi 0,3%) memiliki nilai persentase kejadian penyakit terendah hal ini dikarenakan bakterisida Starner 20 WP memiliki bahan aktif asam oksolinik dan merupakan bakterisida sistemik yang efektif menekan serangan penyakit hawar malai yang disebabkan oleh bakteri Burkholderia glumae. Hal ini sesuai dengan literatur Hikichi et al (1989) yang menyatakan bahwa asam oksolinik dapat digunakan dalam perlakuan benih atau aplikasi daun, dan merupakan satu-satunya bahan kimia yang dapat mengontrol Busuk Bulir Bakteri (BBB). Senyawa ini

a b c d

e f g h

i j

sangat berkhasiat untuk kontrol penyakit padi ini, baik dengan perawatan benih atau semprotan pada daun.

Keparahan Penyakit (%)

Berdasarkan hasil pengamatan keparahan penyakit 9 MST sampai 12 MST, aplikasi bakterisida sintesis berpengaruh nyata terhadap keparahan penyakit pada tanaman padi yang terserang penyakit hawar malai pada padi yang disebabkan oleh bakteri Burkholderia glumae. Data pengamatan dan sidik ragam kejadian penyakit 9 MST – 12 MST dapat dilihat pada lampiran 14-21. Rataan keparahan penyakit 9 MST sampai 12 MST tanaman padi dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rataan Keparahan Penyakit Tanaman Padi (%)

Perlakuan Umur menunjukkan berbeda nyata pada Uji DMRT pada taraf α = 5%.

Tabel 2 menunjukkan pengamatan keparahan penyakit pada 9 MST sampai 12 MST. Didapat bahwa pada umur tanaman 9 MST dan 10 MST perlakuan A2, A3, A5, A6, A8, A9 memiliki nilai persentase keparahan penyakit terendah yaitu 0,71%, hal ini dikarenakan aplikasi perlakuan bakterisida dengan konsentrasi 0,2%

dan 0,3% pada tanaman padi berada pada fase pembentukan malai dan pembungaan

25

sehingga mampu menekan keparahan penyakit akibat serangan bakteri Burkholderia glumae. Suryani (2017) yang menyatakan bahwa aplikasi oxolinic acid (OA) pada stadia keluarnya malai dari batang (heading stage) mempunyai efikasi yang tinggi terhadap pengendalian busuk biji dan bibit, bahan kimia menghambat pertumbuhan bakteri pada plumula dan spikelet.

Berdasarkan pengamatan pada tabel 2 menunjukkan perlakuan A3 ( 3 g/l Starner 20 WP) adalah perlakuan yang memiliki nilai persentase keparahan penyakit terendah pada 11 MST yaitu 1,40% akan tetapi tidak berbeda nayata pada perlakuan A6 (1,91%) dan A9 (2,06%). Pada 12 MST secara statistik aplikasi perlakuan bakterisida A3 memiliki nilai persentase keparahan penyakit terendah yaitu 1,35%, namun tidak berbeda nyata pada perlakuan A9 (3,97%), A6 (4,03%), A2 (5,30%), A5 (7,10%) hal dikarenakan pemberian bakterisida dengan konsentrasi yang tinggi serta kandungan bahan aktif yang tepat mampu menekan keparahan dari serangan bakteri Burkholderia glumae pada tanaman padi. Hal ini sesuai dengan literatur Katsube dan Takeda (1998) yang menyatakan bahwa banyak bakterisida dapat secara efektif mengontrol atau menekan terjadinya bibit busuk dan malai membusuk disebabkan oleh patogen tanaman Burkholderia spp. termasuk antibiotik, tembaga dan senyawa yang mengandung tembaga.

Pada pengamatan 9 MST-12 MST didapat bahwa perlakuan A3 (Starner 20 WP, konsentrasi 0,3%) memiliki nilai persentase keparahan penyakit terendah hal ini dikarenakan bakterisida Starner 20 WP memiliki bahan aktif asam oksolinik dan merupakan bakterisida sistemik yang efektif menekan serangan penyakit hawar malai yang disebabkan oleh bakteri Burkholderia glumae. Hal ini sesuai dengan literatur Hikichi et al (1989) yang menyatakan bahwa asam oksolinik dapat

digunakan dalam perlakuan benih atau aplikasi daun, dan merupakan satu-satunya bahan kimia yang dapat mengontrol Busuk Bulir Bakteri (BBB). Senyawa ini sangat berkhasiat untuk kontrol penyakit padi ini, baik dengan perawatan benih atau semprotan pada daun.

Pengaruh bakterisida terhadap persentase gabah hampa (%), bobot gabah 100 butir (g) dan produksi (g)

Berdasarkan hasil pengamatan, aplikasi bakterisida sintesis berpengaruh nyata terhadap persentase gabah hampa (%), bobot gabah 100 butir (g) dan produksi (g) pada tanaman padi yang terserang penyakit hawar malai yang disebabkan oleh bakteri Burkholderia glumae. Sidik ragam persentase gabah hampa (%), bobot gabah 100 butir (g) dan produksi (g) dapat dilihat pada lampiran 22-24. Rataan persentase gabah hampa (%), bobot gabah 100 butir (g) dan produksi (g) dapat dilihat dari Tabel 3.

Tabel 3. Data Persentase Gabah Hampa (%), Bobot Gabah 100 Butir (g) dan Produksi (g) menunjukkan berbeda nyata pada Uji DMRT pada taraf α = 5%.

27

Berdasarkan hasil pengamatan pada data secara statistik, aplikasi perlakuan bakterisida berpengaruh nyata terhadap persentase gabah hampa pada setiap tanaman sampel uji. Pada perlakuan A0 (Kontrol) memiliki nilai persentase gabah hampa tertinggi yaitu 6,15%, perlakuan A3 memiliki nilai persentase gabah hampa terendah yaitu 0,82% namun tidak berbeda nyata pada perlakuan A9 (0,91%), A6 (1,08%), A8 (1,09%), A2 (1,22%), A5 (1,34%). Hal ini dikarenakan aplikasi perlakuan bakterisida dengan konsentrasi 0,2% serta 0,3% yang mampu menekan nilai persentase keparahan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Burkholderia glumae sehingga gabah hampa yang dihasilkan sangat sedikit. Hal ini sesuai dengan literatur Zeigler dan Alvarez (1987) yang menyatakan bahwa ada malai yang terserang bakteri ini mengakibatkan bulir menjadi hampa atau juga mengalami aborsi.

Hasil analisis data secara statistik, aplikasi perlakuan bakterisida berpengaruh nyata terhadap bobot gabah 100 butir. Bobot gabah 100 butir tertinggi pada perlakuan A3 yaitu 2,60 g, namun tidak berbeda nyata pada perlakuan A6 (2,57 g), A9 (2,56 g), A8 (2,56 g), A2 (2,56 g), A5 (2,52 g) Hal ini disebabkan oleh aplikasi perlakuan bakterisida yang berpengaruh secara nyata untuk menekan kejadian penyakit yang disebabkan oleh bakteri Burkholderia glumae sehingga mempengaruhi perubahan bobot bulir tanaman padi. Widarti et al (2020) yang menyatakan bahwa infeksi yang parah dapat mengakibatkan pelunakan pada beras, kemandulan spikelet, dan kehampaan bulir padi sehingga mengakibatkan perubahan bobot benih.

Berdasarkan hasil pengamatan pada secara statistik, aplikasi perlakuan bakterisida berpengaruh nyata terhadap produksi gabah padi pada setiap tanaman

sampel uji. Perlakuan A3 memiliki jumlah produksi tertinggi yaitu 120 g, namun tidak berbeda nyata pada perlakuan A6 (119,04 g), A8 (118,20 g), A9 (116.62 g).

Hal ini disebabkan oleh aplikasi bakterisida yang mampu menekan persentase kejadian dan keparahan penyakit akibat serangan bakteri Burkholderia glumae pada tanaman padi. Xie et al (2003) menemukan bahwa Burkholderia glumae dapat menyebabkan kehampaan pada gabah dan perubahan warna bulir. Patogen ini juga disimpulkan bertanggung jawab atas penurunan berat gabah, pembungaan steril, penghambatan perkecambahan biji dan rebah di bibit padi (Jeong et al., 2003).

29

Dokumen terkait