Hasil
Analisis data statistik diperoleh bahwa ekotipe kacang tanah dari beberapa lokasi dari daerah Tarutung memberi pengaruh nyata terhadap jumlah cabang, umur ginofor, jumlah ginofor, jumlah polong per tanaman, jumlah polong per plot dan bobot polong per plot dan berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah bunga, umur berbunga, bobot polong per tanaman, bobot biji per tanaman, bobot biji per plot dan bobot 100 biji.
Data pengamatan jumlah cabang, umur ginofor, jumlah ginofor, jumlah polong per plot dan bobot polong per plot dapat dilihat pada lampiran 3,9,7,13 dan 15, sedangkan data sidik ragam dapat dilihat pada lampiran 4,10,14 dan 16. Dari sidik ragam dapat dilihat bahwa ekotipe berpengaruh nyata terhadap jumlah cabang, umur ginofor, jumlah ginofor, jumlah polong per plot dan bobot polong per plot. Untuk 0mengetahui pengaruh ekotipe terhadap parameter tersebut dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Rataan jumlah cabang, umur ginofor dan jumlah ginofor
Ekotipe Jumlah Cabang Umur Ginofor Jumlah Ginofor
(cabang) (hari) (ginofor)
E1 5.25ab 7.5b 31.45a
E2 4.25c 8.55a 24.86b
E3 4.85b 8.84a 39.56a
E4 6.63a 7.16b 29.15ab
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 0.05
Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa jumlah cabang menunjukan perbedaan yang nyata, rataan tertinggi terdapat pada ekotipe Pancur Napitu (E4) (6.63) dan terendah terdapat pada (Simaung- Maung) (E2) (4.25).
Umur ginofor menunjukan perbedaan nyata, rataan tertinggi terdapat pada ekotpe Simaung- Maung (E2) (8.35) dan terendah pada ekotipe Pancur Napitu (E4) (7.45).
Jumlah ginofor memberikan pengaruh nyata. Rataan tertinggi terdapat pada ekotipe Pagar Batu (E3) (39.6) dan terendah terdapat pada ekotipe Simaung-Maung (E2) (24.9).
Tabel 4. Rataan Jumlah polong per tanaman, jumlah polong per plot dan bobot polong per plot.
Ekotipe
Jumlah polong per tanaman
Jumlah polong per plot
Bobot polong per plot (polong) (polong) (gr) E1 16.25ab 154.8b 228b E2 13.25b 156.4b 208b E3 12.4c 203.4a 348a E4 20.11a 159.8ab 210b
Jumlah polong per tanaman memberi pengaruh yang nyata. Rataan tertinggi terdapat pada ekotipe Pancur Napitu (E4) (20.11) dan terendah terdapat pada ekotipe Pagar Batu (E3) (12.4).
Jumlah polong/ plot menunjukan perbedaan yang nyata, rataan tertinggi terdapat pada ekotipe Pagar Batu (E3) (203) dan terendah terdapat pada ekotipe Adiankoting (E1) (155).
Bobot polong/ plot menunjukan perbedaan yang nyata, rataan tertinggi terdapat pada ekotipe Pagar Batu (E3) (348) dan terendah terdapat pada ekotipe Simaung-Maung (E2) (208).
Untuk mengetahui persentase dari jumlah ginofor yang berhasil membentuk polong dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Persentase Keberhasilan Ginofor Membentuk Polong.
Ekotipe
Jumlah Ginofor(ginofor)
Jumlah Polong/ tanaman (polong) Persentase Keberhasilan (%) E1 31.45a 16.25ab 51.67 E2 24.86b 13.25b 53.3 E3 39.56a 12.4c 31.34 E4 29.15ab 20.11a 68.99
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 0.05.
Dari tabel 5 dapat dilihat bahwa persentase keberhasilan ginofor yang membentuk polong yang paling tinggi terdapat pada ekotipe Pancur Napitu (E4) (68.99) dan terendah pada ekotipe Pagar Batu (E3) (31.34). Adapun salah satu faktor yang menyebabkan tidak terbentuknya polong antara lain letak ginofor yang terlalu jauh dari permukaan tanah dan kurangnya pembumbunan.
Keragaman Genotip dan Fenotip
Variabilitas Genetik
Hasil perhitungan varians fenotip ( 2f), varian genetik ( 2g), koefisien varians genetik (KVG) dan koefisien varians fenotip (KVF) dapat dilihat pada tabel 7. Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai varians genetik yang diperoleh
berkisar antara 0.09 - 3455.84 dan nilai KVG yang diperoleh adalah 3.27 % - 23.66%. Berdasarkan nilai koefisien varians genetik yang diperoleh
(3.27 – 23.66), maka masing-masing komponen hasil yang dievaluasi ditetapkan nilai relatifnya dimana nilai 23.66% sebagai KVG tertinggi.
Dari hasil pendugaan nilai KVG yang diperoleh pada setiap komponen hasil, maka nilai KVG tersebut dikelompokan kedalam 4 kriteria yaitu rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Masing –masing kriteria dengan nilainya dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Kriteria koefisien varians genetik (KVG).
Kriteria Nilai relative (%) Nilai absolut
Rendah 0-25 0-6.99
Sedang >25-50 >6.99-13.98
Tinggi >50-75 >13.98-20.97
Sangat tinggi >75 >20.97
Berdasarkan kriteria tersebut maka 13 komponen hasil yang dievaluasi diperoleh 1 komponen hasil yang sangat tinggi (bobot polong/ plot), 3 komponen hasil termasuk tinggi (jumlah cabang, jumlah ginofor dan jumlah polong/ tanaman) dan 3 komponen hasil termasuk sedang (umur ginofor, jumlah polong/ plot dan bobot biji/ plot) sedangkan 6 komponen hasil yang rendah (tinggi tanaman, umur brbunga, jumlah bunga bobot biji/ tanaman, bobot 100 biji dan bobot polong/ tanaman).
Tabel 7. Varians genetik ( 2), varians fenotif ( 2f), koefisien varians genetik ( KVG) dan koefisien varians fenotip ( KVF)
Komponen Hasil 2g 2f KVG (%) KVF (%) Tinggi tanaman 6.57 47.03 5.07r 13.56 Jumlah cabang 0.73 2.19 16.31t 28.24 Umur berbunga 0.09 0.55 3.79r 9.24 Umur ginofor 0.49 1.33 8.74s 14.40 Jumlah bunga 0.19 14.62 4.96r 43.45 Jumlah ginofor 27.48 80.60 16.77t 28.73
Jumlah polong/ tanaman 8.94 25.16 19.29t 32.36 Jumlah polong/plot 393.80 1137.69 11.77s 20.01
Bobot biji/ tanaman 1 30.44 4.37r 24.10
Bobot biji/ plot 527.5 4090 13.20s 36.75
Bobot 100 biji 9.17 88.34 4.12r 12.79
Bobot polong/ tanaman 0.94 65.3 3.27r 27.25
Bobot polong/ plot 3455.84 8581.64 23.66st 37.28
Komponen hasil yang memiliki variabilitas genetik sangat tinggi terdapat pada parameter bobot polong/ plot (23.66). Komponen hasil yang memiliki variabilitas tinggi terdapat pada parameter jumlah cabang (16.31), jumlah ginofor (16.77) dan jumlah polong/ tanaman (19.29). Komponen hasil yang memiliki variabilitas sedang terdapat pada parameter umur ginofor (8.74), jumlah polong/ plot (11.77) dan bobot biji/ plot (13.20) sedangkan komponen hasil yang memiliki variabilitas genetik rendah terdapat pada parameter tinggi tanaman (5.07), umur berbunga (3.79), jumlah bunga (4.96), bobot biji/ tanaman (4.37), bobot 100 biji (4.12) dan bobot polong/ tanaman (3.27).
Heritabilitas
Nilai duga heritabilitas (h2) untuk masing-masing komponen hasil yang dievaluasi dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8. Nilai duga heritabilitas
Komponen Hasil Heritabilitas Kriteria
Tinggi tanaman 0.13 Rendah
Jumlah cabang 0.33 Sedang
Umur berbunga 0.16 Rendah
Umur ginofor 0.37 Sedang
Jumlah bunga 0.01 Rendah
Jumlah ginofor 0.34 Sedang
Jumlah polong/ tanaman 0.35 Sedang
Jumlah polong/plot 0.35 Sedang
Bobot biji/ tanaman 0.03 Rendah
Bobot biji/ plot 0.13 Rendah
Bobot 100 biji 0.10 Rendah
Bobot polong/ tanaman 0.01 Rendah
Bobot polong/ plot 0.40 Sedang
Dari tabel 8 dapat dilihat bahwa nilai duga heritabilitas yang diperoleh berkisar antara 0.01 - 0.40. Berdasarkan kriteria pengelompokan heritabilitas yang dikemukakan oleh Mangoendidjojo (2003) maka dari 13 komponen hasil yang dievaluasi diperoleh 8 komponen hasil rendah (tinggi tanaman, umur berbunga, jumlah bunga, jumlah polong/ plot, bobot biji/ tanaman, bobot biji/ plot, bobot 100 biji dan bobot polong/ tanaman) dan 5 komponen hasil sedang (jumlah abang, umur ginofor, jumlah ginofor, jumlah polong/ tanaman, bobot polong/ plot).
Pembahasan
Keragaman beberapa ekotipe kacang tanah dari berbagai lokasi dari daerah Tarutung.
Ekotipe berpengaruh nyata terhadap jumlah cabang. Adanya perbedaan jumlah cabang keempat ekotipe yang diuji diduga karena keempat ekotipe tersebut memiliki keunggulan yang berbeda sesuai dengan genotip yang dimilikinya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Loveless (1989) yang menerangkan bahwa jika dua atau lebih individu dipelihara dalam lingkungan yang sama, maka perbedaan fenotip apapun yang akan muncul disebabkan oleh genotipnya.
Ekotipe berpengaruh nyata terhadap jumlah polong per tanaman. Dimana banyaknya polong yang terbentuk ditentukan oleh faktor pembungaan dan lingkungan yang mendukung pada saat pengisian polong. Somaatmadja (1993) menyatakan bahwa gangguan selama masa pembungaan akan mengurangi pembentukan polong. Salah satu faktor yang menyebabkan sedikitnya jumlah polong adalah periode pembungaan yang sangat panjang. Hal ini didukung juga oleh pernyataan Somaatmadja dan Damadjati (1978) yang menyatakan bahwa pada umunya kacang tanah berbunga sampai panen. Periode pembungaan yang sangat panjang mengakibatkan hasil menjadi rendah karena bunga yang tumbuh menjadi pesaing dalam penggunaan assimilat, sehingga polong yang terbentuk lebih sedikit.
Ekotipe berpengaruh nyata terhadap jumlah ginofor. Variasi yang timbul diduga karena perbedaan genetik dari keempat ekotipe tersebut. Masing-masing ekotipe memiliki genotip yang berbeda antara yang satu dengan yang lainya. Makmur (1992) menyatakan bahwa sesuatu genotip itu memiliki cirri-ciri khusus
yang seragam serta mengandung perbedaan yang jelas dari genotip lain. Ekotipe yang memiliki jumlah polong terbanyak didukung oleh jumlah ginofor yang banyak pula. Tidak semua ginofor yang terbentuk akan berkembang menjadi polong. Ini disebabkan karena tidak semua ginofor terutama ginofor yang terletak dibagian atas cabang dapat masuk ke dalam tanah, dikarenakan jarak kepermukaan tanah yang terlalu jauh dan akirnya tidak dapat membentuk polong. Hal ini didukung oleh pernyataan Rukmana (1998) yang menyatakan bahwa pada tanaman kacang tanah tipe tegak, ginofor yang dapat menembus kedalam tanah adalah pada ketinggian 10-15 cm dari permukaan tanah.
Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa ekotipe yang paling cepat mengeluarkan ginofor adalah ekotipe Pagar Batu (E3) (8.84), sedangkan yang paling lama mengeluarkan ginofor adalah ekotipe Adiankoting (E1) (7.5). Hal ini menunjukan bahwa ekotipe yang peling cepat mengeluarkan ginofor memiliki masa generatif yang relative panjang, sedangkan yang paling lama mengeluarkan ginofor memiliki masa generatif yang relatif lebih singkat.
Dari tabel 4 dapat dilihat bahwa persentase keberhasilan ginofor yang membentuk polong yang paling tinggi terdapat pada ekotipe Pancur Napitu (E4) (68.99) dan terendah pada ekotipe Pagar Batu (E3) (31.34). Adapun salah satu faktor yang menyebabkan tidak terbentuknya polong antara lain letak ginofor yang terlalu jauh dari permukaan tanah dan kurangnya pembumbunan.
Kergaman Genotip dan Fenotip
Variabilitas Genetik
Hasil perhitungan varians fenotip ( 2f), varian genetik ( 2g), koefisien varians genetik (KVG) dan koefisien varians fenotip (KVF) dapat dilihat pada tabel 7. Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai varians genetik yang diperoleh
berkisar antara 0.09 - 3455.84 dan nilai KVG yang diperoleh adalah 3.27 % - 23.66%. Berdasarkan nilai koefisien varians genetik yang diperoleh (3.27
– 23.66) maka masing-masing komponen hasil yang dievaluasi ditetapkan nilai relatifnya dimana nilai 23.66% sebagai KVG tertinggi.
Dari hasil pendugaan nilai KVG yang diperoleh pada setiap komponen hasil, maka nilai KVG tersebut dikelompokan kedalam 4 kriteria yaitu rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Masing –masing kriteria dengan nilainya dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Kriteria koefisien varians genetik (KVG).
Kriteria Nilai relative (%) Nilai absolut
Rendah 0-25 0-6.99
Sedang >25-50 >6.99-13.98
Tinggi >50-75 >13.98-20.97
Sangat tinggi >75 >20.97
Berdasarkan kriteria tersebut maka 13 komponen hasil yang dievaluasi diperoleh 1 komponen hasil yang sangat tinggi (bobot polong/ plot), 3 komponen hasil termasuk tinggi (jumlah cabang, jumlah ginofor dan jumlah polong/ tanaman) dan 3 komponen hasil termasuk sedang (umur ginofor, jumlah polong/ plot dan bobot biji/ plot) sedangkan 6 komponen hasil yang rendah (tinggi
tanaman, umur brbunga, jumlah bunga bobot biji/ tanaman, bobot 100 biji dan bobot polong/ tanaman).
Komponen hasil yang memiliki variabilitas genetik sangat tinggi dan tinggi termasuk kedalam keragaman genetik bervariabilitas luas. Dengan luasnya variabilitas genetik maka peluang untuk memperbaiki keragaman yang dimiliki melalui seleksi dapat dilakukan dan peluang untuk mendapatkan varietas unggul baru semakin besar. Seperti pernyataan Ruchjaningsih dkk (2000) yang mengatakan bahwa dalam pemuliaan tanaman nilai variabilitas genetik yang luas memberi peluang seleksi yang lebih efektif terhadap keragaman tanaman.
Komponen hasil yang memiliki variabilitas sedang dan rendah termasuk kedalam keragaman bervariabilitas sempit yang menunjukan bahwa perbedaan genetik dari keragaman tersebut masih kecil atau dapat dikatakan bahwa keragaman tersebut memiliki genetik yang hampir seragam. Hal ini didukung dengan literatur Ruchjaningsih dkk (2002) yang menyatakan bahwa bila suatu keragaman genetik yang dimiliki tanaman bervariabilitas sempit, maka setiap individu dalam populasi tersebut hampir seragam sehingga tidak mungkin dilakukan perbaikan keragaman genetik melalui seleksi.
Heritabilitas
Nilai duga heritabilitas (h2) untuk masing-masing komponen hasil yang dievaluasi dapat dilihat pada tabel 8.
Dari tabel 8 dapat dilihat bahwa nilai duga heritabilitas yang diperoleh berkisar antara 0.1-0.81. Berdasarkan kriteria pengelompokan heritabilitas yang dikemukakan oleh Mangoendidjojo (2003) maka dari 13 komponen hasil yang dievaluasi diperoleh 1 komponen hasil rendah (bobot 100 biji), 1 komponen hasil
rendah (jumlah polong/ plot) dan 11 komponen hasil tinggi (tinggi tanaman, jumlah cabang, umur berbunga, umur ginofor, jumlah bunga, jumlah ginofor, jumlah polong/ tanaman, bobot polong/ tanaman, bobot polong/ plot, bobot biji/ tanaman dan bobot biji/ plot ).
Upaya dalam melakukan seleksi untuk melakukan genotip-genotip yang diharapkan tidak hanya melihat varians genetik semata, namun parameter genetik yang lain seperti heritabilitas harus diperhatikan sehingga genotip-genotip yang terpilih benar-benar unggul. Heritabilitas sangat penting mengingat bahwa fenotip merupakan interaksi antara genotip dengan lingkunga, sedangkan heritabilitas merupakan rasio antara varians genetik dengan varians fenotip. Nilai heritabilitas yang diperoleh berkisar antara 0.06 - 0.89. Dari hasil analis diperoleh 3 kriteria heritabilitas yaitu tinggi,sedang dan rendah. Menurut Mangoendidjojo (2003) kriteria heritabilitas ada 3 yaitu tinggi (h2>50%), sedang (20%<h2>50%) dan rendah (h2<20%).
Dari hasil analisis yang diperoleh bahwa nilai heritabilitas rendah menunjukan keragaman genetik yang dievaluasi didominasi oleh faktor lingkungan. Poespodarsono (1988) yang menyatakan bahwa heritabilitas dengan nilai 0 berarti keragaman fenotip hanya disebabkan oleh lingkungan, sedangkan heritabilitas dengan nilai 1 berarti keragaman fenotip hanya disebabkan oleh genotip. Makin mendekati 1 dinyatakan heritabilitas tinggi, sebaliknya makin mendekati 0 heritabilitasnya semakin rendah. Hal ini juga didukung oleh pernyataan Hermiati dkk (1990) yang menyatakan bahwa nilai heritabilitas memberi petunjuk sederhana terhadap besar kecilnya pengaruh genetik dan lingkungan suatu populasi.