• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanpa Proteksi Minyak Flaxseed Sabun Kalsium

MIkroenkapsulasi Gambar 2 Desain rancangan percobaan

Analisis Data

Data profil asam lemak cairan rumen dianalisa secara deskriptif dan data karakteristik fermentasi, populasi mikroba, produksi metan, dan keseimbangan hidrogen dianalisa secara statistik menggunakan analisis ragam (ANOVA). Perbedaan nyata diantara perlakuan dilakukan uji lanjut DUNCAN (Steel dan Torrie 1993). Analisis data menggunakan software statistik SPSS 16.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Produk Proteksi Sabun Kalsium dan Mikroenkapsulasi dari Minyak Wijen, Kanola, dan Flexseed

Produk sabun kalsium memiliki bentuk yang sedikit lebih lembek sehingga diperlukan carrier dalam aplikasi penggunaannya, sementara produk mikronkapsulasi bentuknya serbuk dan berukuran sangat kecil (Gambar 3). Metode proteksi sabun kalsium menghasilkan rendemen produk yang tidak jauh

berbeda antara ketiga jenis minyak yang digunakan. Rendemen produk yang didapatkan sekitar 95.60-97.30%, penggunaan minyak flaxseed cenderung menghasilkan rendemen produk yang paling tinggi. Metode proteksi mikroenkapsulasi menghasilkan rendemen produk sekitar 51.64-64.17%, dimana penggunaan minyak wijen menghasilkan rendemen produk yang paling tinggi (Tabel 3). Rendemen produk mikroenkapsulasi lebih rendah dibandingkan produk sabun kalsium, hal ini dikarenakan imbangan minyak dan penyalut yang digunakan yaitu 1:2, sementara sabun kalsium yaitu 9:1. Rendemen produk mikroenkapsulasi yang dihasilkan hampir sama dengan hasil penelitian yang dilaporkan oleh Calvo (2010), kombinasi bahan penyalut karbohidrat (laktosa) dan protein (sodium caseinat) dengan imbangan 1:1 dan imbangan bahan inti dan bahan penyalut 1:2 menghasilkan rendemen produk sebesar 49.49%.

Proteksi minyak dengan mikroenkapsulasi menghasilkan ketahanan yang lebih tinggi dalam mempertahankan profil asam lemak dibandingkan dengan sabun kalsium (Tabel 4). Hal ini diduga karena suhu yang digunakan dalam proses pembuatan mikroenkapsulasi lebih rendah dibandingkan dengan sabun kalsium. Suhu yang digunakan dalam pembuatan mikroenkapsulasi dengan metode spry dryer yaitu 175 ± 5 oC (suhu inlet) dan 55 ± 5 oC (suhu outlet), sedangkan sabun kalsium suhu yang digunakan 200 oC. Menurut Stender dan Jorn (2003), proses pemanasan dengan suhu 200oC lebih memudahkan kerusakan pada minyak terutama dengan derajat ketidakjenuhan tinggi karena adanya reaksi oksidasi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa penurunan profil asam lemak paling tinggi terjadi pada PUFA, kemudian MUFA dan SFA paling rendah.

Sabun kalsium wijen Sabun kalsium kanola Sabun kalsium Flaxseed

Mikroenkapsulasi wijen Mikroenkapsulasi kanola Mikroenkapsulasi Flaxseed

Gambar 3 Karakteristik produk sabun kalsium dan mikroenkapsulasi minyak wijen, kanola, dan flaxseed

10

Minyak flaxseed dan kanola lebih tahan dalam mempertahankan profil asam lemak dibandingkan dengan minyak wijen (Tabel 4). Hal ini diduga karena minyak flaxseed dan kanola yang digunakan dalam penelitian ini memiliki antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan minyak wijen sehingga berpengaruh terhadap tingginya indek stabilitas oksidasi. Menurut Choe dan Min (2006) salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingkat oksidasi minyak adalah kandungan antioksidan. Antioksidan dapat menghambat oksidasi makanan dengan cara menangkap radikal bebas, kelatisasi logam yang terperoksidasi,

quenching oksigen singlet dan photosensitizers, menginaktifkan lipoxygenase

(Choe dan Min 2009). El-Beltagi et al. (2007) melaporkan bahwa flaxseed mengandung tocopherol, selain itu menurut Katose (2013), flaxseed mengandung banyak fenol dengan berbagai tipe yang berbeda diantaranya yaitu lignans, asam phenol, flavonoid, phenylpropanoids, dan tanin yang berpotensi sebagai antioksidan. Minyak kanola menurut O’Brien (2009) mengandung tocopherol

tinggi yang terdiri atas α-tocopherol (233 ppm), -tocopherol (421 ppm), dan δ-tocopherol (13 ppm). Tocopherol merupakan antioksidan yang paling penting pada lemak dan minyak yang dapat dimakan (Choe dan Min 2009). Hasil penelitian Hashemi et al. (2013) melaporkan bahwa penggunaan minyak kanola sebagai agen antioksidan lebih efisien dibandingkan dengan antioksidan sintetis BHT (butylated hydrozyttoluene), minyak kanola yang mengandung minyak essensial terutama carvacrol (88.6%) terbukti mampu menurunkan parameter oksidasi (PV/peroxide value dan TBA/asam thiobarbiturat) yang lebih tinggi.

Tabel 3 Rendemen dan profil asam lemak minyak, sabun kalsium, dan mikroenkapsulasi minyak wijen, kanola, dan flexseed

Parameter Tanpa Proteksi Sabun kalsium Mikroenkapsulasi

Wijen Kanola Flaxseed Wijen Kanola Flaxseed Wijen Kanola Flaxseed

Rendeman (%) - - - 95.60 96.81 97.30 64.17 53.74 51.64 Asam Lemak Jenuh (%) 34.75 6.22 9.03 30.53 5.80 9.30 31.29 6.26 8.89 Kaprilat (C8:0) 0.00 0.00 0.00 0.13 0.06 0.06 0.03 0.03 0.02 Kaprat (C10:0) 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.02 0.02 0.00 Laurat (C12:0) 0.10 0.00 0.00 0.07 0.00 0.03 0.10 0.03 0.02 Miristat (C14:0) 0.72 0.04 0.05 0.63 0.04 0.05 0.70 0.12 0.09 Palmitat (C16:0) 30.59 4.5 4.59 27.29 4.18 4.70 27.32 4.41 4.55 Stearat (C18:0) 3.44 1.68 4.42 3.04 1.52 4.46 3.12 1.65 4.21 Asam Lemak Takjenuh (%) 46.42 73.18 72.64 36.24 62.1 61.1 41.53 62.59 68.21 Oleat (C18:1) 34.57 43.38 18.13 29.03 38.66 18.11 30.75 40.06 17.54 Linoleat (C18:2) 10.76 23.52 11.63 6.70 18.9 10.17 9.57 21.32 11.07 Linolenat (C18:3) 1.09 6.28 42.88 0.51 4.54 32.82 1.21 5.60 39.60

Tabel 4 Besarnya penurunan rendeman dan profil asam lemak dari minyak sampai terbentuknya sabun kalsium dan mikroenkapsulasi

Parameter Sabun kalsium Mikroenkapsulasi

Wijen Kanola Flaxseed Wijen Kanola Flaxseed

SFA (%) 12.14 6.75 -2.99 9.96 - 0.64 1.55

MUFA (%) 16.03 10.88 0.11 11.05 7.65 3.25

PUFA (%) 39.16 21.34 21.13 9.03 9.66 7.04

Karakteristik Fermentasi Nilai pH Rumen

Tidak ada interaksi antara penggunaan jenis minyak nabati dan metode proteksi terhadap nilai pH rumen. Penggunaan jenis minyak nabati yang berbeda tidak nyata (P>0.05) mempengaruhi nilai pH rumen. Metode tanpa proteksi nyata menurunkan (P<0.05) nilai pH rumen dibandingkan dengan metode proteksi sabun kalsium dan mikroenkapsulasi (Tabel 5). Rataan nilai pH rumen pada penelitian ini berkisar dari 6.00-6.33 yang masih dalam kisaran normal nilai pH rumen yaitu 5.4-7.8 (Dehority 2005).

Tabel 5 Nilai pH rumen dari penggunaan jenis minyak nabati dan metode proteksi yang berbeda

Jenis Minyak Nabati

Metode Proteksi Rataan

Jenis Minyak Nabati

Tanpa Proteksi Sabun

Kalsium Mikroenkapsulasi

Wijen 5.89 ± 0.16 6.25 ± 0.27 6.27 ± 0.25 6.14 ± 0.22

Kanola 6.03 ± 0.09 6.24 ± 0.28 6.33 ± 0.28 6.20 ± 0.20

Flaxseed 6.09 ± 0.04 6.25 ± 0.26 6.38 ± 0.27 6.24 ± 0.19

Rataan Metode

Proteksi 6.00 ± 0.10b 6.25 ± 0.27a 6.33 ± 0.26a

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan ada perbedaaan nyata (P<0.05)

Penggunaan jenis minyak nabati yang berbeda tidak mengganggu kondisi pH rumen. Nilai pH rumen berkisar 6.14-6.24 yang masih dalam kisaran normal pH rumen, sehingga tidak mengganggu aktifitas fermentasi mikroba rumen. Respon yang sama juga dilaporkan oleh Onetti et al. (2001) yang menunjukkan bahwa penambahan tallow dan choice white grease (CWG) sebanyak 4% tidak nyata mempengaruhi (P>0.05) nilai pH rumen pada pakan berbasis silase jagung. Nilai pH rumen berkisar 6.2-6.3 yang masih dalam kisaran nilai pH normal.

Penggunaan metode proteksi pada minyak nabati baik dalam bentuk sabun kalsium ataupun mikroenkapsulasi memberikan efek yang positif terhadap aktivitas mikroba rumen dibandingakan tanpa diproteksi. Penambahan minyak nabati tanpa proteksi menurunan nilai pH rumen yang diduga karena adanya penurunan aktivitas mikroba rumen terutama protozoa. Menurut Jenkins (1993), penambahan lemak pada pakan dapat mengganggu fungsi sel membran, aktivitas dan ekspresi enzim hidrolitik mikroba, dan penyerangan sel mikroba pada

12

permukaan tanaman. Penurunan aktivitas protozoa ini akan menyebabkan kemampuan dalam menstabilkan pH menurun. Jouany dan Ushida (1999) menyatakan bahwa protozoa memiliki kemampuan dalam menstabilkan nilai pH dan menurunkan potensial redoks kecernaan rumen. Protozoa memiliki efek

buffer yang cenderung menstabilkan pH, mencerna granula pati secara cepat yang mengakibatkan lambatnya laju fermentasi bakteri (Slyter, 1976).

Hasil penelitian yang sama dilaporkan oleh Bhatt et al. (2011) bahwa penambahan minyak kelapa pada pakan domba Malpura secara in vivo dengan level 7.5% cenderung (P=0.108) menurunkan nilai pH rumen secara liniear dibandingkan dengan penambahan 2.5% dan 5% minyak kelapa yaitu dari 6.31 ke 6.62. Jalc et al. (2007) melaporkan hasil yang berbeda, yaitu penambahan sebesar 3.5% asam lemak tak jenuh (oleat, linoleat, dan α-linolenat) pada pakan berbasis 80% lucerne and 20% barley belum memberikan perubahan terhadap nilai pH rumen yaitu berkisar 6.73-6.93. Hasil yang berbeda juga dilaporkan oleh Bhatt et al. (2013) yang menyatakan bahwa penambahan 4% minyak rice bran secara in vivo dalam bentuk sabun kalsium ataupun bentuk bebas memiliki nilai pH rumen yang sama. Nilai pH rumen berkisar 5.73-5.93 yang masih dalam kisaran nilai pH normal. Perbedaan respon ini diduga disebabkan adanya perbedaan level dan konsentrasi profil sumber asam lemak yang digunakan dalam penelitian. Menurut (Onetti et al. 2001) respon yang berbeda pada beberapa parameter dapat disebabkan oleh level dan profil sumber asam lemak atau interaksi antara sumber lemak dan bahan pakan pada subtrat yang digunakan.

Konsentrasi Amonia (NH3)

Tidak ada interaksi antara penggunaan jenis minyak nabati dan metode proteksi terhadap konsentrasi amonia. Penggunaan jenis minyak nabati yang berbeda tidak nyata (P>0.05) mempengaruhi konsentrasi amonia. Metode mikroenkapsulasi nyata meningkatkan (P<0.05) konsentrasi amonia dibandingkan dengan metode proteksi sabun kalsium dan tanpa proteksi (Tabel 6). Rataan konsentrasi amonia pada penelitian ini berkisar dari 7.81-9.70 mM yang masih dalam kisaran optimum untuk menunjang sintesis protein mikroba. McDonald

et al. (2002) menyatakan bahwa konsentrasi optimum dari amonia yaitu berkisar 85 sampai 300 mg/l yang setara dengan 6-21 mM.

Tabel 6 Konsentrasi NH3 dari penggunaan jenis minyak nabati dan metode proteksi yang berbeda

Jenis Minyak Nabati

Metode Proteksi Rataan

Jenis Minyak Nabati Tanpa Proteksi Sabun Kalsium Mikroenkapsulasi --- mM --- Wijen 8.26 ± 0.64 8.28 ± 0.55 9.90 ± 1.40 8.81 ± 1.15 Kanola 7.23 ± 1.53 7.87 ± 1.84 9.12 ± 1.02 8.07 ± 1.55 Flaxseed 7.96 ± 0.58 9.06 ± 0.86 10.08 ± 1.07 9.03 ± 1.18 Rataan Metode Proteksi 7.81 ± 0.99b 8.40 ± 1.17b 9.70 ± 1.11a

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan ada perbedaaan nyata (P<0.05)

Penggunaan jenis minyak nabati yang berbeda tidak mempengaruhi konsentrasi amonia rumen. Menurut hasil penelitian yang dilakukan Beauchemin

et al. (2007) hanya penambahan lemak pada pakan yang menurunkan konsentrasi amonia, jenis lemak yang berbeda tidak berpengaruh. Hasil penelitian tersebut melaporkan bahwa penambahan 3.4% lemak dari biji bunga matahari, tallow, dan bunga matahari menurunkan konsentrasi amonia dibandingkan dengan kontrol (tanpa penambahan minyak) dan konsentrasi amonia tidak berbeda nyata diantara jenis minyak yang berbeda. Hasil yang sama dilaporkan oleh Sitoresmi et al.

(2009) bahwa penambahan minyak yang berbeda yaitu minyak kelapa, biji bunga matahari, dan kelapa sawit dengan berbagai level (0%; 2.5%; 5%; dan 7.5%) tidak mempengaruhi rata-rata konsentrasi amonia rumen (33.84 mg/100 ml; 33.57 mg/100 ml, dan 34.62 mg/100 ml). Onetti et al. (2001) juga melaporkan hasil yang sama bahwa penambahan sumber asam lemak yang berbeda pada pakan berbasis silase jagung yaitu tallow dan choice white grease (CWG) sampai level 4% tidak berpengaruh terhadap konsentrasi NH3 rumen (17.0 dan 14.4 mg/dl). Menurut Sirohi et al. (2001) penambahan sabun kalsium dari minyak yang berbeda yaitu minyak kedelai dan mustard plus mahua pada pakan berbasis jerami gandum tidak berpengaruh terhadap konsentrasi amonia rumen in vitro.

Tingginya konsentrasi amonia dengan metode proteksi mikroenkapsulasi menandakan peningkatan degradasi oleh mikroba rumen. Peningkatan degradasi ini disebabkan adanya kontribusi sodium caseinat yang digunakan sebagai bahan pelapis yang kandungan proteinnya kurang lebih 90% dan sekitar 80% total protein berasal dari α-s1 Casein, α-sβ Casein, -Casein, and κ-Casein sehingga menyebabkan tingginya kandungan protein kasar dari produk mikroenkapsulasi yaitu 27.64-30.22%. Tingginya protein produk mikroenkapsulasi akan berpengaruh terhadap tingginya kandungan protein dalam ransum yaitu 19.49-22.64% yang akan mengakibatkan peningkatan produksi NH3. McDonald et al. (2002) menyatakan bahwa jumlah protein ransum merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi NH3.

Penambahan minyak tanpa proteksi dan dengan proteksi sabun kalsium menurunkan konsentrasi amonia rumen dibandingkan dengan proteksi mikroenkapsulasi. Penurunan ini diduga karena penambahan minyak tanpa proteksi sebesar 4% sudah mulai mengganggu aktivitas mikroba rumen, terutama bakteri proteolitik dan protozoa. Menurut (Hristov et al. 2004), konsentrasi amonia sangat berhubungan dengan jumlah total protozoa serta aktivitas protozoa dan bakteri di rumen. Penambahan lemak terutama MCFA (Medium Chain Fatty Acid) menurunkan pertumbuhan dan aktivitas protozoa, menurunkan proteolisis dan konsentrasi amonia secara in vitro serta menghambat aktivitas degradasi polisakarida. Penurunan aktivitas mikroba dengan penambahan minyak tanpa proteksi ini linear dengan produksi total VFA yang dihasilkan yaitu produksinya paling kecil (44.17 mM) dibandingkan proteksi sabun kalsium (68.51 mM) dan mikroenkapsulasi (51.48 mM) (Tabel 7). Hasil penelitian Bhatt et al. (2011) melaporkan bahwa semakin tinggi level penambahan minyak kelapa yang diberikan secara kuadratik sangat nyata menurunkan (P=0.003) konsentrasi amonia rumen yaitu 0% (6.2 mg/100ml), 2.5% (6.0 mg/100ml), 5% (5.8 mg/100ml), dan 7.5% (3.4 mg/100ml).

Penurunan konsentrasi amonia pada penggunaan sabun kalsium diduga karena kemampuan sabun kalsium dalam melindungi protein dari degradasi

14

mikroba rumen yang berlebihan. Menurut Sklan dan Tinsky (1993), sabun kalsium asam lemak mampu digunakan untuk memproteksi protein sehingga dapat menurunkan degradasi rumen. Hasil penelitian Kowalski et al. (1997) melaporkan bahwa semakin tinggi rasio penggunaan sabun kalsium dari asam lemak rape seed yang dikombinasikan dengan bungkil kedelai semakin menurunkan (P<0.001) tingkat degradasi protein di dalam rumen. Hasil penelitian Adawiah et al. (2007) melaporkan bahwa penambahan minyak ikan sebesar 1.5% dalam ransum nyata menurunkan (P<0.05) konsentrasi amonia dibandingkan dengan penambahan minyak ikan dalam bentuk sabun kalsium sebesar 3% dalam ransum yaitu 8.00 mM dan 9.30 mM. Penambahan minyak jagung sebesar 1.5% dalam bentuk bebas dan 3% dalam bentuk sabun kalsium memberikan pengaruh yang sama terhadap konsentrasi amonia yaitu 8.30 mM dan 11.00 mM. Hal ini menandakan bahwa penambahan minyak nabati sebesar 3% dalam bentuk sabun kalsium masih belum nyata meningkatkan konsentrasi amonia dibandingkan penambahan minyak nabati dalam bentuk bebas karena level minyak yang digunakan masih rendah.

Produksi VFA Total dan Parsial serta Produksi Metan dan Keseimbangan Hidrogen

Terjadi interaksi antara penggunaan jenis minyak nabati dan metode proteksi yang sangat nyata (P<0.01) pada konsentrasi produksi VFA total, proporsi asetat, propionat, rasio asetat : propionat (A:P), produksi metan, dan penggunaan H2 nyata (P<0.05) pada proporsi isovalerat. Minyak flaxseed yang diproteksi dengan sabun kalsium menghasilkan produksi VFA total tertinggi sedangkan produksi terendah ketika minyak flaxseed diproteksi dengan mikroenkapsulasi. Minyak flaxseed yang diproteksi dengan mikroenkapsulasi menghasilkan proporsi asetat, A:P, dan produksi metan terendah serta proporsi propionat, proporsi isovalerat, dan penggunaan H2 tertinggi (Tabel 7, 8, dan 9).

Tingginya produksi VFA total dengan suplementasi sabun kalsium minyak flaxseed menandakan bahwa minyak flaxseed yang diproteksi dengan metode sabun kalsium mampu memberikan sumbangan energi paling tinggi untuk ternak ruminansia. Hal ini diduga disebabkan tingginya kandungan asam linolenat (C18:3) pada minyak flaxseed yang rantai gandanya lebih banyak dibandingkan dengan minyak nabati yang lain, sehingga menyebabkan banyaknya mineral kalsium yang terperangkap. Peningkatan ketersedian mineral kalsium ini akan meningkatkan populasi dan aktivitas bakteri rumen sehingga dapat meningkatkan fermentasi pakan. Menurut Ruckebusch dan Thivend (1980) mineral kalsium berperan dalam sintesis dan stabilitas struktur dinding sel mikroba, mampu

mengaktifkan berbagai macam enzim mikroba seperti α-amilase dan mineral kalsium yang diperlukan oleh mikroba rumen untuk mencerna selulosa. Hasil ini linier dengan data populasi bakteri pada Tabel 13 yang menunjukkan terjadinya peningkatan penggunaan sabun kalsium walaupun tidak nyata. Selain itu tingginya TDN pada ransum dengan suplementasi sabun kalsium minyak flaxseed juga berpengaruh terhadap peningkatan VFA total karena mampu meningkatkan ketersediaan nutrien untuk proses degradasi bakteri rumen. Bhatt et al. (2013) melaporkan bahwa penambahan 4% minyak rice bran dalam bentuk sabun kalsium secara in vivo nyata meningkatkan (P<0.05) produksi VFA total,

pertambahan bobot badan, bobot badan, konsumsi bahan kering dan menurunkan rasio konsumsi pakan (FCR) dibandingkan dengan penambahan minyak dalam bentuk bebas ataupun kontrol (tanpa penambahan minyak).

Tabel 7 Kadar VFA total dan proporsi vfa parsial cairan rumen dari penggunaan jenis minyak nabati dan metode proteksi yang berbeda

Parameter

Jenis Minyak

Nabati

Metode Proteksi Rataan

Tanpa Proteksi Sabun Kalsium Mikroenkapsulasi

VFA Total Wijen 47.65 ± 7.67def 55.79 ± 3.67cd 52.67 ± 10.62cde 52.04 ± 7.68

(mM) Kanola 42.84 ± 4.84ef 69.84 ± 6.15ab 62.75 ± 6.25bc 58.48 ± 13.12

Flaxseed 42.02 ± 6.19ef 79.90 ± 2.48a 39.03 ± 5.53f 53.65 ± 20.20

Rataan 44.17 ± 6.09 68.51 ± 11.15 51.48 ± 12.33

Asetat Wijen 62.17 ± 3.02a 62.24 ± 2.78a 58.94 ± 4.81ab 61.12 ± 3.56

(% mM) Kanola 55.64 ± 1.26bc 58.49 ± 4.44ab 61.40 ± 3.86a 58.51 ± 3.91

Flaxseed 57.84 ± 5.54abc 62.07 ± 1.51a 53.34 ± 2.79c 57.75 ± 4.95

Rataan 58.55 ± 4.32 60.93 ± 3.28 57.90 ± 4.93

Propionat Wijen 26.26 ± 4.01c 27.25 ± 2.71bc 30.04 ± 4.96abc 27.85 ± 3.86

(% mM) Kanola 32.39 ± 0.73a 29.29 ± 2.99abc 27.27 ± 3.03bc 29.65 ± 3.11

Flaxseed 30.86 ± 4.10ab 27.10 ± 1.37bc 33.22 ± 2.31a 30.40 ± 3.63

Rataan 29.84 ± 4.00 27.88 ± 2.38 30.18 ± 4.05

Butirat Wijen 8.14 ± 1.57 8.11 ± 0.59 8.68 ± 0.36 8.31 ± 0.90

(% mM) Kanola 9.25 ± 0.92 9.07 ± 1.13 8.42 ± 0.76 8.91 ± 0.90

Flaxseed 8.67 ± 1.45 8.12 ± 0.28 9.81 ± 0.53 8.87 ± 1.08

Rataan 8.69 ± 1.26 8.43 ± 0.81 8.97 ± 0.81

IsoValerat Wijen 2.12 ± 0.14AB 1.67 ± 0.26BC 1.53 ± 0.69C 1.73 ± 0.45

(% mM) Kanola 1.96 ± 0.25BC 2.10 ± 0.29AB 1.95 ± 0.13BC 2.00 ± 0.21 Flaxseed 1.89 ± 0.36BC 1.83 ± 0.13BC 2.50 ± 0.06A 2.07 ± 0.36 Rataan 1.97 ± 0.26 1.87 ± 0.28 1.99 ± 0.55 Valerat Wijen 0.95 ± 0.24 0.73 ± 0.18 0.81 ± 0.24 0.81 ± 0.20 (% mM) Kanola 0.76 ± 0.21 1.05 ± 0.21 0.96 ± 0.04 0.92 ± 0.20 Flaxseed 0.74 ± 0.29 0.88 ± 0.02 1.13 ± 0.06 0.91 ± 0.22 Rataan 0.80 ± 0.23 0.88 ± 0.19 0.96 ± 0.19 A : P Wijen 2.40 ± 0.35a 2.31 ± 0.32ab 2.02 ± 0.53abc 2.24 ± 0.39 Kanola 1.72 ± 0.08c 2.02 ± 0.37abc 2.28 ± 0.37ab 2.01 ± 0.36 Flaxseed 1.92 ± 0.47bc 2.30 ± 0.17 ab 1.61 ± 0.19c 1.94 ± 0.40 Rataan 2.10 ± 0.42 2.21 ± 0.29 1.97 ± 0.44

Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf kecil menunjukkan ada perbedaaan sangat nyata (P<0.01) ; Angka yang diikuti oleh huruf besar menunjukkan ada perbedaaan nyata (P<0.05)

Kisaran produksi VFA total pada penelitian ini (39.03-79.90 mM) hampir sama dengan yang dilaporkan oleh Wang et al. (2005) bahwa dengan menggunakan subtrat silase 60% dan konsentrat 40% produksi VFA totalnya sebesar 48.52-52.70 mM pada inkubasi 3 jam dan meningkat menjadi 55.63-58.79 mM pada inkubasi 6 jam pada semua perlakuan. Produksi VFA total ini lebih rendah dibandingkan dengan kisaran normal VFA total menurut McDonald et al.

16

menyatakan bahwa ternak sapi yang mengkonsumsi pakan dengan proporsi hijauan (60%) dan konsentrat (40%) menghasilkan VFA sebesar 96 mmol/l dengan perbandingan 61% asetat (C2), 18% propionat (C3), 13% butirat (C4) dan 8% lainnya. Perbedaan respon ini diduga karena adanya perbedaan komposisi ransum yang digunakan sehingga akan mengakibatkan adanya perbedaan populasi mikroba yang berakibat berbedanya produksi VFA total yang dihasilkan. Menurut McDonald et al. (2002) yang mempengaruhi besarnya komponen VFA total dan proporsi relatifnya antara lain yaitu komposisi ransum, rasio hijauan dan konsentrat, bentuk fisik makanan, tingkat konsumsi, frekuensi pemberian pakan, dan tipe fermentasi pakan.

Tabel 8 Produksi gas metan dari penggunaan jenis minyak nabati dan metode proteksi yang berbeda

Model Estimasi

Jenis Minyak

Nabati

Metode Proteksi Rataan

Tanpa Proteksi Sabun Kalsium Mikroenkapsulasi

---

mol/100mol---Moss et al. Wijen 24.01 ± 1.55a 23.76 ± 1.82a 21.74 ± 3.40abc 23.17 ± 2.34

(2000) Kanola 19.83 ± 0.49bc 21.89 ± 2.40ab 23.50 ± 2.27a 21.74 ± 2.31

Flaxseed 21.01 ± 3.09abc 23.73 ± 0.94a 18.79 ± 1.73c 21.17 ± 2.82

Rataan 21.62 ± 2.56 23.13 ± 1.83 21.34 ± 3.03

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf menunjukkan ada perbedaaan sangat nyata (P<0.01) Tabel 9 Keseimbangan hidrogen dari penggunaan jenis minyak nabati dan metode

proteksi yang berbeda Model

Estimasi

Jenis Minyak

Nabati

Metode Proteksi Rataan

Tanpa Proteksi Sabun Kalsium Mikroenkapsulasi

Mitsumori Wijen 187.27 ± 2.16 188.98 ± 2.00 187.32 ± 4.53 187.85 ± 2.83

et al. (2012) Kanola 186.10 ± 1.32 188.85 ± 1.36 188.18 ± 2.00 188.18 ± 2.00

Produksi H2 Flaxseed 186.48 ± 1.73 189.13 ± 0.83 187.34 ± 1.88 187.34 ± 1.88

Rataan 186.62 ± 1.62b 188.99 ± 1.2a 187.77 ± 2.91ab

Matsumori Wijen 69.43 ± 6.76d 71.45 ± 6.16cd 78.24 ± 10.26abcd 73.04 ± 7.95

et al. (2012) Kanola 84.05 ± 2.99ab 77.76 ± 8.24bcd 72.33 ± 7.52cd 78.05 ± 7.69

Penggunaan Flaxseed 79.80 ± 10.99abc 71.33 ± 3.27cd 87.19 ± 5.44a 79.44 ± 9.36

H2 Rataan 77.76 ± 9.29 73.51 ± 6.27 79.26 ± 9.48

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf menunjukkan ada perbedaaan sangat nyata (P<0.01) Suplementasi minyak flaxseed yang diproteksi dengan teknologi mikroenkapsulasi menghasilkan proporsi asetat, rasio A:P, dan produksi metan terendah serta proporsi propionat, isovalerat, dan penggunanaan H2 tertinggi. Tingginya produksi propionat dan isovalerat diduga karena rendahnya produksi metan (CH4) yang disebabkan oleh asam lemak linolenat (C18:3) dari minyak flaxseed yang diproteksi dengan mikroenkapsulasi memiliki sifat slow release

sehingga mampu menurunkan aktivitas archae metanogen. Penurunan aktivitas

archae metanogen ini akan mengakibatkan produksi H2 yang dihasilkan dari aktivitas fermentasi digunakan dalam pembentukan propionat dan isovalerat. Menurut Moss et al. (2000) melaporkan bahwa jalur pembentukan propionat dan

isovalerat merupakan jalur metabolisme rumen yang menggunakan H2. Hal ini linier dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa penggunaan H2, produksi propionat dan isovalerat tertinggi terdapat pada perlakuan minyak flaxseed yang diproteksi dengan metode mikroenkapsulasi.

Hasil penelitian Dan Li et al. (2012) melaporkan bahwa penambahan asam lemak linoleat (C18:2) dan asam lemak linolenat (C18:3) sangat nyata (P<0.01) menurunkan populasi Methanobacterium formicicum dibandingkan dengan penambahan asam lemak oleat. Dan Li et al. (2012) menyatakan bahwa aktivitas antimetanogen pada asam lemak dapat disebabkan karena efek toksik asam lemak pada metanogen dan kompetisi metanogen dengan proses biohidrogenasi asam lemak tak jenuh dalam penggunaan H2. Menurut Zhang et al. (2008) penurunan produksi metan meningkat dengan peningkatan derajat asam lemak tidak jenuh. Czerkawski et al. (1966) melaporkan bahwa oleat dengan 1 rantai ganda/mole menurunkan produksi metan 1.70 moles/mole asam lemak, asam linoleat dengan 1.72 rantai ganda/mole menurunkan produksi metan 1.79 moles/mole, asam lemak dan asam linolenat dengan 2.4 rantai ganda/mole menurunkan produksi metan 2.05 moles/mole.

Kecernaan Bahan Kering dan Organik

Tidak ada interaksi antara penggunaan jenis minyak nabati dan metode proteksi terhadap kecernaan bahan kering (KCBK) dan kecernaan bahan organik (KCBO). Penggunaan jenis minyak nabati yang berbeda tidak nyata (P>0.05) menurunkan KCBK dan KCBO. Metode proteksi yang berbeda tidak nyata (P>0.05) meningkatkan KCBK dan KCBO (Tabel 10 dan 11). Rataan KCBK pada penelitian ini berkisar dari 60.03-64.96% dan KCBO 60.47-63.04%. Rataan kecernaan pakan ini masih tergolong tinggi karena lebih dari 60%. Menurut Sutardi (1980) bahan pakan dikatakan memiliki nilai kecernaan yang tinggi apabila nilai kecernaannya lebih dari 60%.

Perbedaaan minyak yang digunakan yaitu minyak wijen, kanola, dan flaxseed tidak berpengaruh terhadap KCBK dan KCBO pakan. Hasil yang sama dilaporkan oleh Jalc et al. (2007) yang menambahankan asam lemak tak jenuh berberda yaitu oleat, linoleat, dan α-linolenat sebesar 3.5% pada pakan berbasis 80% lucerne and 20% barley tidak menurunkan kecernaan bahan kering dan degradasi NDFnya. Sirohi et al. (2001) melaporkan bahwa penambahan minyak yang diproteksi dalam bentuk sabun kalsium dengan jenis berbeda yaitu minyak kedelai dan mustard plus mahua pada pakan berbasis jerami gandum memberikan respon sama terhadap kecernaan bahan pakan (KCBK dan KCBO).

Penambahan minyak dengan level 4% baik dalam bentuk bebas (tanpa proteksi) dan proteksi (sabun kalsium dan mikroenkapsulasi), memberikan pengaruh yang sama terhadap KCBK dan KCBO. Hal ini menandakan bahwa penambahan minyak pada level 4% dalam bentuk bebas belum mengganggu kecernaan bahan pakan. Menurut hasil penelitian Alexander et al. (2002), penambahan 5% minyak bunga matahari dalam bentuk bebas secara in vivo pada pakan 60% hay Brazilian napier dan 40% konsentrat sangat nyata (P<0.01) menurunkan kecernaan bahan kering, PK, NDF, ADF, hemiselulosa, dan selulosa dibandingkan dengan kontrol (tanpa penambahan minyak). Penurunan kecernaan bahan pakan semakin meningkat dengan penambahan 10% minyak bunga

18

matahari dalam bentuk bebas. Penambahan minyak bunga matahari dalam bentuk sabun kalsium sampai 10% tidak menurunkan kecernaan bahan kering, PK, NDF, dan ADF namun meningkatkan konsumsi TDN pakan. Hasil yang sama juga dilaporkan oleh Tangendjaja et al. (1993) bahwa penambahan minyak rice brand

pada pakan berbasis rumput gajah secara in vitro dalam bentuk bebas menurunkan sebanyak 45% bahan kering, sementara sabun kalsium hanya menurunkan kecernaan sebanyak 16% dibandingkan tanpa penambahan minyak. Penambahan sabun kalsium dari minyak palm merah sampai 15% pada domba Decani yang diberi pakan 56% jerami sorghum dan 44% konsentrat nyata menurunkan (P<0.05) kecernaan selulosa dibandingkan dengan penambahan sabun kalsium 5% dan 10% (Kumar et al. 2006).

Tabel 10 Nilai kecernaan bahan kering dari penggunaan jenis minyak nabati dan metode proteksi yang berbeda

Jenis Minyak Nabati

Metode Proteksi Rataan

Jenis Minyak Nabati

Tanpa Proteksi Sabun

Kalsium Mikroenkapsulasi --- % --- Wijen 62.30 ± 5.10 64.10 ± 1.57 65.68 ± 3.75 64.03 ± 3.47 Kanola 66.31 ± 1.38 64.64 ± 5.22 63.93 ± 4.85 64.96 ± 3.82 Flaxseed 63.67 ± 0.20 66.01 ± 1.76 64.22 ± 4.50 64.63 ± 2.15 Rataan Metode Proteksi 64.09 ± 2.22 64.92 ± 2.85 64.61 ± 4.36

Tabel 11 Nilai kecernaan bahan organik dari penggunaan jenis minyak nabati dan metode proteksi yang berbeda

Jenis Minyak Nabati

Metode Proteksi Rataan

Jenis Minyak Nabati

Tanpa Proteksi Sabun

Kalsium Mikroenkapsulasi --- % --- Wijen 60.00 ± 3.60 59.37 ± 3.41 62.03 ± 0.17 60.47 ± 2.39 Kanola 66.52 ± 1.71 66.17 ± 1.58 60.42 ± 3.93 64.37 ± 2.41 Flaxseed 62.12 ± 0.76 63.59 ± 2.22 60.58 ± 4.30 62.10 ± 2.43 Rataan Metode Proteksi 62.88 ± 2.02 63.04 ± 2.40 61.01 ± 2.80

Populasi Mikroba Rumen Populasi Protozoa

Tidak ada interaksi antara penggunaan jenis minyak nabati dan metode proteksi terhadap populasi protozoa. Penggunaan jenis minyak nabati yang

Dokumen terkait