• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ada beberapa parameter yang dapat dijadikan gambaran pengaruh pakan perlakuan pada uji biologis terhadap domba, yaitu meliputi: konsumsi pakan, kecernaan pakan, pertambahan bobot badan, efisiensi pakan dan karakteristik rumen. Selama empat bulan percobaan tidak dijumpai kematian pada semua perlakuan.

Konsumsi Pakan

Konsumsi merupakan tolok ukur menilai palatabilitas suatu bahan pakan. Palatabilitas pakan bagi ternak akan terlihat dari tinggi rendahnya konsumsi pakan tersebut. Berikut ini adalah gambaran tingkat konsumsi pakan selama 12 minggu penelitian. 0.0 100.0 200.0 300.0 400.0 500.0 600.0 Kons um si B K ( g r/ e/ hr ) Kombinasi I (0.5%) 244.5 299.7 544.2 Kombinasi I (1.0%) 249.9 293.5 543.5 Kombinasi II (0.5%) 237.1 291.9 529.0 Kombinasi II (1.0%) 251.2 296.7 547.9

Rumput Konsentrat Total Pakan

Keterangan :

Kombinasi I : Mengandung probion + suplemen katalitik

Kombinasi II: Mengandung mikroba rumen kerbau + suplemen katalitik

Gambar 3 Rataan konsumsi bahan kering harian selama 12 minggu. Dari Gambar 3 di atas terlihat konsumsi bahan kering konsentrat lebih besar dibandingkan dengan rumput. Perbandingan tingkat konsumsi kedua jenis pakan tersebut adalah 45.3% rumput : 54.7% konsentrat atau sedikit berbeda dengan yang direncanakan yaitu 50%:50%. Kondisi ini merupakan akibat dari teknik pemberian pakan secara terpisah antara hijauan dengan konsentrat sehingga memberikan kesempatan ternak untuk memilih.

25 Rataan konsumsi bahan kering pakan selama 12 minggu lebih besar dibandingkan dengan yang dicapai selama uji kecernaan. Perbedaan tersebut disebabkan karakteristik umur, bobot badan serta lingkungan yang berbeda ketika pengambilan data antara uji kecernaan dengan uji performa. Uji kecernaan dilakukan lebih awal yaitu tujuh hari sebelum uji performa. Data konsumsi bahan kering selama uji kecernaan mempunyai relevansi terhadap pembahasan tingkat kecernaan yang lebih tepat. Berikut ini adalah rataan konsumsi bahan kering pakan selama uji kecernaan.

Tabel 5 Pengaruh perlakuan terhadap rataan konsumsi bahan kering (g/e/hr) Taraf

Suplementasi campuran probiotik dengan

suplemen katalitik pada konsentrat Rataan Kombinasi I Kombinasi II

0.5 % 415.52 ± 65.88 443.04 ± 53.02 429.28 ± 57.28 a 1.0 % 442.62 ± 36.63 462.86 ± 15.33 452.74 ± 28.15 a Rataan 429.07 ± 51.43 a 452.95 ± 37.65 a

R=Keterangan :

Kombinasi I: Mengandung probion + suplemen katalitik

Kombinasi II: Mengandung mikroba rumen kerbau + suplemen katalitik

Superskrip yang berbeda pada baris atau kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf uji 5%. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa kombinasi penggunaan probiotik dengan suplemen katalitik pada dua taraf suplementasi dalam konsentrat tidak menyebabkan perbedaan konsumsi bahan kering (P>0.05) dan selera makan ternak domba. Kondisi ini menggambarkan bahwa suplemen katalitik tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap aktivitas mikroba rumen, ketika penggunaannya dikombinasikan dengan dua jenis probiotik. Apalagi bahan dasar dari kedua probiotik tersebut mempunyai kemiripan yaitu sama-sama berasal dari cairan rumen. Hanya saja probiotik I berasal dari rumen sapi (probion), sedangkan probiotik II berasal dari rumen kerbau.

Pengaruh perlakuan yang tidak nyata terhadap konsumsi bahan kering kemungkinan besar diakibatkan status protein pakan yang hampir sama, mengingat masing-masing perlakuan menggunakan jenis bahan penyusun pakan dan proporsi penggunaan yang hampir sama pula, sehingga memungkinkan tingkat palatabilitas yang tidak jauh berbeda. Wallace dan Newbold (1992)

26 menjelaskan bahwa tingkat palatabilitas dan status protein pakan serta tingkat kecernaan pakan dapat mempengaruhi jumlah konsumsi pakan.

Kecernaan Pakan

Kecernaan merupakan perubahan fisik dan kimia yang dialami bahan makanan dalam alat pencernaan. Mikroflora dalam rumen menyebabkan pakan mengalami perombakan sehingga sifat-sifat kimianya berubah secara fermentatif menjadi senyawa lain yang berbeda dengan zat makanan asalnya (Sutardi 1980). Data rataan kecernaan bahan kering dari semua kombinasi perlakuan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Pengaruh perlakuan terhadap kecernaan bahan kering (%) Taraf

Suplementasi campuran probiotik dengan

suplemen katalitik pada konsentrat Rataan Kombinasi I Kombinasi II

0.5 % 58.79 ± 2.81 61.06 ± 6.47 59.93 ± 4.78 a 1.0 % 58.89 ± 4.54 59.58 ± 3.34 59.23 ± 3.71 a Rataan 58.84 ± 3.49 a 60.32 ± 4.83 a

Keterangan :

Kombinasi I: Mengandung probion + suplemen katalitik

Kombinasi II: Mengandung mikroba rumen kerbau + suplemen katalitik

Superskrip yang berbeda pada baris atau kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf uji 5%. Analisis sidik ragam memperlihatkan tidak ada pengaruh perlakuan yang nyata (P>0.05) terhadap nilai kecernaan bahan kering. Kondisi ini kemungkinan besar disebabkan adanya suplemen katalitik yang memberikan pengaruh yang sama terhadap aktivitas mikroba rumen pada setiap kombinasi perlakuan. Berbagai organisme memerlukan mineral untuk pertumbuhannya, termasuk pula mikroorganisme dalam rumen. Church (1988) melaporkan bahwa Zn dibutuhkan oleh mikroba rumen dan merupakan kofaktor sejumlah enzim. Co yang terdapat pada suplemen katalitik juga merupakan mineral esensial untuk perkembangan mikroba rumen terutama berkaitan dengan biosintesis vitamin B12. Kardaya (2000) melaporkan bahwa dengan adanya penambahan Zn dalam pakan, terjadi peningkatan kecernaan pakan yang menunjukkan adanya peningkatan aktivitas pencernaan oleh mikroba rumen.

Pengaruh perlakuan yang tidak nyata (P>0.05) terjadi pula pada nilai kecernaan protein seperti yang terlihat pada Tabel 7. Rataan kecernaan protein

27 pada penelitian ini cukup tinggi. Penelitian Uhi (2005) mendapatkan rataan kecernaan protein pakan hanya 37.41% pada domba apabila diberikan suplemen katalitik sebesar 10-30 %. Hasil tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan data pada Tabel 7.

Tabel 7 Pengaruh perlakuan terhadap kecernaan protein kasar (%) Taraf

Suplementasi campuran probiotik dengan

suplemen katalitik pada konsentrat Rataan Kombinasi I Kombinasi II

0.5 % 61.16 ± 1.91 57.55 ± 4.57 59.35 ± 3.77 a 1.0 % 58.60 ± 4.59 61.55 ± 5.36 60.08 ± 4.88 a Rataan 59.88 ± 3.53 a 59.55 ± 5.09 a

Keterangan :

Kombinasi I: Mengandung probion + suplemen katalitik

Kombinasi II: Mengandung mikroba rumen kerbau + suplemen katalitik

Superskrip yang berbeda pada baris atau kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf uji 5%. Nilai kecernaan protein mempunyai hubungan dengan kondisi populasi bakteri cairan rumen terutama yang bersifat proteolitik. Kemungkinan besar proporsi bakteri proteolitik dari masing-masing perlakuan tidak jauh berbeda. Adanya kombinasi antara unsur probiotik dengan suplemen katalitik yang diperkaya mineral Zn dinilai mampu meningkatkan aktivitas bakteri proteolitik yang cukup baik. Larvor (1983) menyatakan Zn sebagai kofaktor metalloenzim banyak melibatkan enzim antara lain DNA polimerase, karboksi peptidase A dan B serta alkalin fosfatase. Enzim-enzim tersebut berperan dalam proliferasi DNA yang selanjutnya berpengaruh pada sintesis protein, proses pencernaan protein dan absorpsi asam amino serta metabolisme energi (Church 1988).

Nilai kecernaan bahan makanan erat hubungannya dengan komposisi kimianya, dalam hal ini serat kasar mempunyai pengaruh paling besar terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik. Stensig et al. (1994) melaporkan bahwa tingginya kandungan komponen serat kasar akan memperlambat laju alir pakan dalam saluran pencernaan. Pengaruh perlakuan terhadap nilai kecernaan serat dapat dilihat pada Tabel 8. Hasil analisis sidik ragam terhadap data kecernaan NDF tidak menunjukkan pengaruh interaksi kedua faktor perlakuan. Namun, perbedaan jenis probiotik dalam campurannya dengan suplemen katalitik (Faktor A) menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (P<0.05) terhadap tingkat kecernaan NDF.

28 Tabel 8 Pengaruh perlakuan terhadap kecernaan NDF (%)

Taraf

Suplementasi campuran probiotik dengan

suplemen katalitik pada konsentrat Rataan Kombinasi I Kombinasi II

0.5 % 52.09 ± 3.27 56,71 ± 6,56 54.40 ± 5.40 a 1.0 % 51.03 ± 3.85 56.06 ± 3.27 53.54 ± 4.26 a Rataan 51.56 ± 3.35 a 56.38 ± 4.81 b

Keterangan :

Kombinasi I: Mengandung probion + suplemen katalitik

Kombinasi II: Mengandung mikroba rumen kerbau + suplemen katalitik

Superskrip yang berbeda pada baris atau kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf uji 5%. Perlakuan yang mengkombinasikan mikroba rumen kerbau dengan suplemen katalitik (Kombinasi II) menghasilkan rataan kecernaan NDF yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan yang mengkombinasikan probion dengan suplemen katalitik (Kombinasi I). Kondisi ini kemungkinan besar berkaitan dengan karakteristik mikroba rumen terutama yang bersifat selulolitik. Dugaan ini dipertegas dengan melihat proporsi molar asetat yang dihasilkan perlakuan Kombinasi II yang lebih tinggi dibandingkan Kombinasi I. Hobson (1988) menjelaskan bahwa asam asetat banyak dihasilkan atau merupakan produk utama fermentasi bakteri selulolitik.

Hasil penelitian ini selaras dengan Suryahadi et al. (1996) bahwa mikroba cairan rumen kerbau mempunyai daya degradasi selulosa yang lebih baik dibandingkan mikroba cairan rumen sapi. Disamping itu, adanya mineral Zn dan Co pada suplemen katalitik yang dikombinasikan dengan probiotik yang berasal dari mikroba rumen kerbau memberikan pengaruh yang baik terhadap aktivitas enzim selulase mikroba rumen domba. Pernyataan ini didukung oleh penelitian Kardaya (2000) yang melaporkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas selulase cairan rumen domba akibat suplementasi Zn proteinat 35 ppm dibandingkan kontrol. Hal serupa diungkapkan Djajanegara et al. (1996) bahwa penambahan 5 ppm Zn dapat meningkatkan kecernaan NDF substrat rumput raja secara in vitro.

Kecernaan merupakan ukuran tinggi rendahnya kualitas suatu bahan pakan karena umumnya bahan pakan dengan kandungan zat-zat makanan yang mudah dicerna akan tinggi nilai gizinya. Disamping itu, kecernaan bahan pakan mencerminkan tingkat ketersediaan energi bagi ternak, sehingga sering juga

29 digunakan untuk menilai kualitas pakan (Van Soest 1994). Pengamatan secara keseluruhan terhadap nilai kecernaan pada penelitian ini, baik kecernaan bahan kering, kecernaan protein maupun kecernaan serat (NDF) memperlihatkan hasil yang cukup baik.

Penelitian Haryanto et al. (2007) dapat dijadikan pembanding, mengingat materi penelitian hampir sama dengan yang digunakan pada penelitian ini, hanya saja perlakuannya tidak diberi suplementasi campuran probiotik dengan suplemen katalitik. Penelitian tersebut mendapatkan hasil kecernaan sebagai berikut: 51.44% kecernaan bahan kering, 44.32% kecernaan protein dan 45.15% kecernaan NDF. Nilai ini masih lebih rendah dibanding data penelitian pada Tabel 6, 7 dan 8. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa perlakuan suplementasi kombinasi probiotik dengan suplemen katalitik pada taraf penggunaan 0.5% hingga 1.0% efektif meningkatkan nilai kecernaan pakan. Hal ini sekaligus menunjukkan adanya peningkatan efektivitas kinerja rumen dalam mencerna dan memfermentasikan bahan pakan.

Pertambahan Bobot Badan

Pertambahan bobot badan merupakan manifestasi dari kualitas pakan yang dikonsumsi. Semakin berkualitas suatu pakan, maka pertambahan bobot badan akan semakin tinggi. Pengaruh perlakuan terhadap pertambahan bobot badan harian (pbbh) dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Pengaruh perlakuan terhadap pertambahan bobot badan harian (g/e/hr) Taraf penggunaan

Suplementasi campuran probiotik dengan suplemen katalitik pada konsentrat

Kombinasi I Kombinasi II 0.5 % 71.73 ± 11.72 b 66.07 ± 11.36 ab 1.0 % 59.23 ± 15.29 a 69.64 ± 14.17 b Keterangan :

Kombinasi I: Mengandung probion + suplemen katalitik

Kombinasi II: Mengandung mikroba rumen kerbau + suplemen katalitik

Superskrip yang berbeda pada baris atau kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf uji 1%. Hasil analisis sidik ragam terhadap data pertambahan bobot badan harian (pbbh) memperlihatkan pengaruh interaksi kedua faktor perlakuan yang sangat nyata (P<0.01). Perlakuan Kombinasi I pada taraf penggunaan 1.0%

30 menghasilkan pbbh yang lebih kecil dibandingkan pada taraf 0.5%. Kondisi tersebut mengindikasikan suplementasi 0.5% pada perlakuan Kombinasi I dinilai cukup memberikan ketersediaan nutrien untuk pertumbuhan mikroba rumen. Ada dugaan apabila suplementasi ditingkatkan akan menyebabkan terjadinya kompetisi penggunaan nutrien untuk pertumbuhan mikroba rumen, sehingga kemungkinan besar ada sebagian mikroba rumen yang tidak mendapatkan nutrien yang cukup untuk pertumbuhannya.

Dugaan tersebut diperjelas dengan melihat rataan kecernaan protein dan NDF serta VFA total pada perlakuan tersebut yang lebih rendah secara numerik dibandingkan perlakuan kombinasi lainnya. Hal ini juga menunjang hasil penelitian sebelumnya bahwa pemberian probiotik (probion) pada tingkat 0.5% dalam konsentrat dinilai sudah cukup optimal, sehingga tidak perlu diberikan pada tingkat yang lebih tinggi (Haryanto et al. 2004).

Data pada Tabel 9 menunjukkan kecenderungan bahwa dengan meningkatnya taraf suplementasi pada perlakuan Kombinasi I akan menghasilkan nilai pbbh yang semakin menurun. Berbeda halnya pada perlakuan Kombinasi II ternyata peningkatan taraf suplementasi justru masih berpeluang meningkatkan nilai pbbh. Kecenderungan tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.

59.23 71.73 69.64 66.07 45 50 55 60 65 70 75 80 0 0.5 1 1.5 Taraf penggunaan (%) P BB Ha ri a n ( g r/ e /h r) Kombinasi IKombinasi II

Linear (Kombinasi II) Linear (Kombinasi I)

Gambar 4 Interaksi dua faktor terhadap rataan pbbh selama 12 mg. Gambaran di atas ada kaitannya dengan efektivitas kinerja mikroba rumen dalam mendegradasi nutrien pakan menjadi sumber energi. Namun, karena hanya dua ulangan taraf suplementasi yang digunakan pada penelitian ini, menyebabkan tidak dapat diketahui titik optimal kinerja mikroba rumen dalam menghasilkan pertambahan bobot badan harian yang terbaik.

31 Pengamatan secara umum terhadap nilai pbbh pada penelitian ini menunjukkan level 0.5% merupakan taraf suplementasi yang terbaik. Pada taraf suplementasi tersebut, nilai pbbh yang dihasilkan Kombinasi II sedikit lebih kecil dibandingkan Kombinasi I, walaupun perbedaannya tidak nyata secara statistik. Hal ini diduga akibat tidak dilakukan standarisasi mikroba dari kedua probiotik yang digunakan ketika dicampurkan dengan bahan pengisi (carrier). Kombinasi I mengandung populasi mikroba hampir enam kali lebih besar dibandingkan Kombinasi II. Namun, kondisi ini justru membuktikan bahwa perlakuan probiotik yang mengandung mikroba rumen kerbau (Kombinasi II) yang dikemas dengan jumlah mikroba lebih kecil dibandingkan perlakuan probiotik probion (Kombinasi I) mampu menghasilkan pbbh yang hampir sama.

Pertambahan bobot badan harian pada penelitian ini dinilai cukup tinggi bila dibandingkan dengan beberapa hasil penelitian yang tidak mendapat perlakuan probiotik maupun suplemen katalitik. Salah satunya adalah penelitian yang dilaporkan Haryanto et al. (2007) pada ternak domba dengan status ternak dan bahan penyusun pakan yang sama, tetapi tidak diberikan tambahan probiotik maupun suplemen katalitik, ternyata menunjukkan pbbh hanya 54.76 g/ekor/hari. Angka tersebut masih lebih kecil sekitar 17.86% dibandingkan pbbh yang dicapai pada penelitian dengan perlakuan probiotik dan suplemen katalitik (Tabel 9).

Konversi Pakan

Konversi pakan merupakan perbandingan antara jumlah pakan yang dikonsumsi (kg) dengan pertambahan bobot badan (kg). Semakin kecil nilai konversi pakan, maka semakin efisien pakan yang dikonsumsi.

Tabel 10 Pengaruh perlakuan terhadap konversi pakan Taraf penggunaan

Suplementasi campuran probiotik dengan suplemen katalitik pada konsentrat

Kombinasi I Kombinasi II 0.5 % 7.76 ± 1.42 b 8.20 ± 1.57 b 1.0 % 9.62 ± 2.35 a 8.11 ± 1.60 b Keterangan :

Kombinasi I: Mengandung probion + suplemen katalitik

Kombinasi II: Mengandung mikroba rumen kerbau + suplemen katalitik

32 Hasil analisis sidik ragam terhadap nilai rataan konversi pakan sangat nyata (P<0.01) dipengaruhi oleh adanya interaksi kedua faktor penelitian. Meningkatnya taraf penggunaan campuran probion dan suplemen katalitik pada konsentrat menurunkan efisiensi pemanfaatan pakan. Sedangkan pemberian probiotik mikroba rumen kerbau dan suplemen katalitik menunjukkan efisiensi pakan yang tidak berbeda nyata bila terjadi peningkatan taraf penggunaan.

Sebagaimana ditunjukkan data Tabel 7 dan 8, secara numerik perlakuan Kombinasi I pada taraf penggunaan 1.0% menghasilkan tingkat kecernaan protein dan serat kasar (NDF) yang relatif lebih rendah. Hal ini memungkinkan ketersediaan energi yang lebih sedikit untuk pertumbuhan, sehingga pertambahan bobot badan harian yang dihasilkan oleh perlakuan ini nyata lebih rendah. Kondisi inilah yang menyebabkan perlakuan yang mengkombinasikan probion dengan suplemen katalitik pada taraf penggunaan 1.0% mempunyai nilai efisiensi pakan yang lebih rendah dibandingkan perlakuan kombinasi lainnya.

Karakteristik Cairan Rumen

Nilai pH cairan rumen merupakan salah satu faktor yang berperanan penting dalam mengatur proses fermentasi dalam rumen, baik dalam mendukung pertumbuhan mikroba rumen maupun dalam menghasilkan produk asam lemak terbang (VFA) dan amonia (NH3). Data Tabel 11 menunjukkan derajat keasaman (pH) cairan rumen domba mendekati netral, berkisar dari 6.76 hingga 6.94. Analisis sidik ragam memperlihatkan tidak ada pengaruh perlakuan (P>0.05) terhadap nilai pH cairan rumen.

Tabel 11 Pengaruh perlakuan terhadap pH rumen domba Taraf

Suplementasi campuran probiotik dengan

suplemen katalitik pada konsentrat Rataan Kombinasi I Kombinasi II

0.5 % 6.80 ± 0.18 6.84 ± 0.19 6.82 ± 0.17 a 1.0 % 6.76 ± 0.19 6.94 ± 0.11 6.85 ± 0.17 a Rataan 6.78 ± 0.17 a 6.89 ± 0.16 a

Keterangan :

Kombinasi I: Mengandung probion + suplemen katalitik

Kombinasi II: Mengandung mikroba rumen kerbau + suplemen katalitik

33 Nilai pH pada penelitian ini termasuk dalam kategori yang baik untuk aktivitas mikroba rumen, karena rataan pH rumen yang normal berada pada kisaran antara 6–7 (Yokohama & Johnson 1988; France & Siddon 1993). Kisaran pH yang ideal untuk pencernaan selulosa antara 6.4 – 6.8 (Erdman 1988). Pencernaan serat mulai terhambat bila pH cairan rumen berada dibawah kisaran 6.0-6.2 (Piwonka & Firkins 1996). Kesesuaian nilai pH akan membantu pelekatan bakteri pada dinding sel tanaman dan mendorong aktivitas selulase bakteri. Pelekatan sel bakteri pada substrat merupakan syarat mutlak pada pencernaan selulosa (Grand & Weidner 1992).

Beberapa hasil penelitian lain sebagai pembanding dilaporkan bahwa pengamatan pH cairan rumen domba yang diberi pakan jerami padi fermentasi dengan suplementasi zinc organik mendapatkan nilai pH antara 5.93 sampai 6.20 (Haryanto et al. 2005). Sementara itu Sugoro et al. (2005) mendapatkan nilai pH berkisar dari 6.35 hingga 6.56 pada cairan rumen secara in vitro apabila ditambahkan khamir. Uhi (2005) melaporkan kisaran pH cairan rumen domba antara 6.15 hingga 6.85 apabila diberikan suplemen katalitik yang terbuat dari gelatin sagu dengan kandungan mineral 0.2 ppm Co dan 35 ppm Zn ke dalam pakannya.

Pada ternak ruminansia sebagian protein yang masuk ke dalam rumen akan mengalami deaminasi oleh enzim proteolitik yang dihasilkan oleh mikroba rumen menjadi amonia (NH3). Hasil analisis sidik ragam menunjukkan tidak terdapat pengaruh perlakuan (P>0.05) terhadap konsentrasi NH3 cairan rumen domba seperti terlihat pada Tabel 12.

Tabel 12 Pengaruh perlakuan terhadap konsentrasi NH3 (mM) Taraf

Suplementasi campuran probiotik dengan

suplemen katalitik pada konsentrat Rataan Kombinasi I Kombinasi II

0.5 % 5.46 ± 2.89 5.97 ± 3.31 5.71 ± 2.89 a 1.0 % 6.64 ± 1.57 5.26 ± 1.66 5.95 ± 1.66 a Rataan 6.05 ± 2.24 a 5.62 ± 2.45 a

Keterangan :

Kombinasi I: Mengandung probion + suplemen katalitik

Kombinasi II: Mengandung mikroba rumen kerbau + suplemen katalitik

34 Konsentrasi NH3 yang dihasilkan cukup baik yaitu berkisar antara 5.26–6.64 mM. Menurut Erwanto et al. (1993) bahwa konsentrasi normal NH3 untuk mendukung sintesis protein mikroba rumen berkisar 4-12 mM. Sementara itu, menurut Satter dan Slyter (1974) konsentrasi amonia yang dibutuhkan untuk pertumbuhan optimal mikroba rumen secara in vitro

seharusnya tidak kurang dari 50mg/liter atau setara 3.57 mM.

Menurut Haryanto (1994) konsentrasi amonia dalam rumen ikut menentukan efisiensi sintesa protein mikroba yang akhirnya akan mempengaruhi hasil fermentasi bahan organik pakan berupa VFA. Asam lemak mudah terbang atau VFA merupakan produk utama yang dihasilkan oleh fermentasi di dalam rumen. Produk VFA mencerminkan fermentabilitas pakan dan sekaligus merupakan sumber energi utama bagi ternak. Pengaruh perlakuan terhadap konsentrasi VFA (mM) disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13 Pengaruh perlakuan terhadap konsentrasi VFA total (mM) Taraf

Suplementasi campuran probiotik dengan

suplemen katalitik pada konsentrat Rataan Kombinasi I Kombinasi II

0.5 % 58.60 ± 6.58 48.75 ± 6.54 53.67 ± 8.04 a 1.0 % 53.03 ± 11.46 50.57 ± 3.35 51.80 ± 7.92 a Rataan 55.81 ± 9.15 a 49.66 ± 4.91 a

Keterangan :

Kombinasi I: Mengandung probion + suplemen katalitik

Kombinasi II: Mengandung mikroba rumen kerbau + suplemen katalitik

Superskrip yang berbeda pada baris atau kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf uji 5%. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0.05) terhadap konsentrasi VFA total. France dan Siddon (1993) mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi pola fermentasi dalam rumen adalah: jenis karbohidrat ransum, bentuk fisik ransum, dan jumlah pakan yang dikonsumsi. Jenis karbohidrat dan bentuk fisik ransum penelitian yang relatif sama pada penelitian ini serta tidak berbedanya jumlah ransum yang dikonsumsi, menyebabkan pola fermentasi dalam rumen sama untuk semua perlakuan, sehingga konsentrasi VFA total tidak berbeda.

Pola fermentasi yang sama ini berkaitan pula dengan tidak berbedanya pH rumen. Fluktuasi pada pH rumen (Church 1988) menunjukkan adanya

perubahan-35 perubahan dalam kuantitas asam-asam organik yang berakumulasi dalam rumen dan juga saliva yang diproduksi. Konsentrasi VFA berhubungan negatif dengan pH rumen (Church 1988; France & Siddons 1993), berarti peningkatan konsentrasi VFA akan diikuti dengan pH yang menurun.

Church (1988) menyatakan bahwa konsentrasi VFA total umumnya memberikan nilai yang kurang akurat dibandingkan dengan proporsi VFA parsialnya. France dan Siddon (1993) mengemukakan selain VFA total, VFA parsial merupakan penentu yang penting dalam penggunaan pakan bagi ternak ruminansia. Rasio asetat-propionat perlu mendapat perhatian karena pengaruhnya cukup luas, baik terhadap fungsi rumen maupun metabolisme jaringan tubuh ternak.

Proporsi molar asam lemak mudah terbang (VFA) secara umum mengikuti kondisi normal (Hungate 1966) dimana asetat merupakan komponen terbesar yaitu sekitar 65%, asam propionat 20%, isobutirat 1%, butirat 10%, isovalerat dan valerat dibawah 3% seperti terlihat dalam Tabel 14.

Tabel 14 Proporsi molar asam lemak mudah terbang (%) Jenis VFA Taraf

Suplementasi campuran probiotik dengan

suplemen katalitik pada konsentrat Rataan Kombinasi I Kombinasi II Asetat ** 0.5% 67.36 ± 2.65 72.22 ± 2.04 69.79 ± 3.40 a 1.0% 68.18 ± 2.36 70.23 ± 2.21 69.21 ± 2.38 a Rataan 67.77 ± 2.36 a 71.23 ± 2.24 b Propionat 0.5% 19.80 ± 2.73 17.58 ± 1.42 18.69 ± 2.34 a 1.0% 19.40 ± 1.87 19.09 ± 0.77 19.24 ± 1.33 a Rataan 19.60 ± 2.18 a 18.34 ± 1.33 a Isobutirat 0.5% 1.72 ± 0.19 1.26 ± 0.31 1.49 ± 0.34 a 1.0% 1.57 ± 0.13 1.57 ± 0.23 1.57 ± 0.17 a Rataan 1.64 ± 0.17 a 1.42 ± 0.30 a Butirat ** 0.5% 8.94 ± 1.04 7.42 ± 0.99 8.18 ± 1.24 a 1.0% 9.16 ± 0.68 7.34 ± 1.38 8.25 ± 1.40 a Rataan 9.05 ± 0.82 a 7.38 ± 1.11 b Isovalerat 0.5% 1.44 ± 0.49 1.36 ± 0.39 1.40 ± 0.41 a 1.0% 1.59 ± 0.32 1.76 ± 1.09 1.67 ± 0.75 a Rataan 1.51 ± 0.39 a 1.56 ± 0.79 a Valerat * 0.5% 0.73 ± 0.56 0.15 ± 0.31 0.44 ± 0.52 a 1.0% 0.11 ± 0.22 0.00 ± 0.00 0.06 ± 0.16 b Rataan 0.42 ± 0.51 a 0.08 ± 0.22 b Keterangan :

Kombinasi I: Mengandung probion + suplemen katalitik

Kombinasi II: Mengandung mikroba rumen kerbau + suplemen katalitik

Superskrip yang berbeda pada baris atau kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf uji * (5% ) dan ** (1%)

36 Perlakuan suplementasi Kombinasi II cenderung menyebabkan proporsi molar asam asetat lebih tinggi dibandingkan suplementasi perlakuan Kombinasi I. Asetat dan propionat serta butirat adalah komponen VFA yang proporsinya cukup besar dalam cairan rumen. Hasil analisis sidik ragam terhadap proporsi molar VFA parsial menunjukkan pengaruh interaksi kedua faktor perlakuan yang tidak berbeda nyata (P>0.05). Namun, perbedaan jenis probiotik dalam campurannya dengan suplemen katalitik (Faktor A) berpengaruh nyata terhadap proporsi molar asam asetat, butirat dan valerat, sedangkan perbedaan taraf penggunaan (Faktor B) nyata berpengaruh (P<0.05) pada proporsi molar asam valerat.

Proporsi molar asam asetat pada perlakuan Kombinasi II lebih tinggi dibandingkan perlakuan Kombinasi I, sedangkan proporsi molar asam butirat terjadi sebaliknya yaitu perlakuan Kombinasi I lebih tinggi dibandingkan perlakuan Kombinasi II. Taraf suplementasi 0.5% mengakibatkan proporsi molar asam valerat yang nyata (P<0.05) lebih tinggi dibandingkan taraf 1.0%.

Tingginya proporsi molar asam asetat berkaitan erat dengan tingkat konsumsi hijauan yang cukup tinggi. Data konsumsi rumput pada penelitian ini tidak berbeda nyata, namun nilai kecernaan serat (NDF) yang berbeda nyata kemungkinan besar mengakibatkan proporsi molar asetat pada perlakuan Kombinasi II lebih tinggi dibandingkan perlakuan Kombinasi I. Hal ini mengindikasikan perlakuan yang mendapatkan tambahan campuran probiotik mikroba rumen kerbau dengan suplemen katalitik menyebabkan proses fermentasi mikroba rumen terhadap nutrien serat yang lebih baik dibandingkan perlakuan penambahan campuran probion dengan suplemen katalitik.

Parameter lain yang perlu diamati dari karakteristik rumen selain nilai pH, VFA dan NH3 adalah populasi bakteri dan protozoa rumen. Mikroba rumen berpengaruh besar terhadap status nutrisi ternak ruminansia karena berperan pada pencernaan pakan dan sekaligus merupakan sumber zat nutrisi utama yaitu protein bagi ternak ruminan. Kemampuan menyediakan amonia yang cukup untuk pertumbuhan mikroba rumen merupakan salah satu tolok ukur penting dalam

Dokumen terkait