Pola Konsumsi Rumah Tangga Miskin
Perkembangan konsumsi makanan rumah tangga miskin yang menjadi fokus penelitian ini digambarkan pada Tabel 6. Komoditas beras dan jagung merupakan komoditas makanan pokok utama bagi rumah tangga miskin di Provinsi NTT. Konsumsi bahan makanan pokok terutama beras mengalami peningkatan dari tahun 2008-2010. Dari 5.68 kg perkapita perbulan menjadi 6.61 kg perkapita perbulan. Hal ini menunjukkan permintaan beras mendominasi konsumsi rumah tangga miskin. Sastraadmaja (2007) mengemukakan bahwa beras merupakan komoditas pangan pokok penting yang sering dikonsumsi masyarakat. Konsumsi singkong cenderung mengalami penurunan dari 4.37 kg perkapita per bulan di tahun 2008 menjadi sekitar 2.29 dan 2.46 kg perkapita per bulan di tahun 2009 dan 2010.
Konsumsi lauk pauk sumber protein hewani berupa daging dan telur cenderung mengalami peningkatan dari tahun 2008-2010. Konsumsi ikan menurun di tahun 2009, namun meningkat kembali menjadi sebesar 0.72 kg perkapita perbulan. Konsumsi lauk pauk yang merupakan sumber protein relatif masih rendah. Hal ini disebabkan oleh harga komoditas lauk-pauk relatif mahal bagi rumah tangga miskin. Sehingga rumah tangga miskin hanya mencukupkan menu makanan sehari-hari dengan makanan pokok dan sayur-sayuran. Hal ini terlihat dari konsumsi sayur-sayuran bagi rumah tangga miskin di NTT relatif besar yaitu rata-rata 5.86 kg perkapita perbulan di tahun 2008. Komoditas sayur- sayuran di NTT banyak yang merupakan hasil kebun sendiri sehingga rumah tangga miskin tidak perlu mengeluarkan uang untuk mengkonsumsi komoditas ini.
23
Konsumsi daging relatif rendah dari besaran 0.58 kg perkapita perbulan pada tahun 2008, kemudian meningkat menjadi 0.66 kg perkapita perbulan. Namun angka ini masih tergolong relatif rendah dibandingkan capaian konsumsi komoditas lainnya. Hal ini mengindikasikan kurangnya konsumsi protein yang dihasilkan komoditas daging karena harganya relatif mahal yang sulit dijangkau oleh rumah tangga miskin di Provinsi NTT.
Tabel 6 Perkembangan rata-rata jumlah konsumsi makanan rumah tangga miskin perkapita perbulan menurut komoditas tahun 2008-2010 (kg)
Komoditas Tahun 2008 2009 2010 Beras 5.68 5.67 6.61 Jagung 5.49 6.27 4.05 Singkong 4.37 2.29 2.46 Ikan 0.77 0.61 0.72 Daging 0.58 0.69 0.66 Telur 0.21 0.27 0.30 Sayur 5.86 4.85 4.38 Buah 2.24 1.58 2.11 Rokok*) 78.59 68.02 82.63
Keterangan: *) dalam satuan batang
Sumber: Susenas Panel (2008-2010), diolah.
Salah satu komoditas yang menurut kesehatan seharusnya bukan merupakan konsumsi rumah tangga apalagi rumah tangga miskin adalah rokok. Rokok bukan hanya komoditas yang tidak bermanfaat bagi tubuh, melainkan juga sangat berbahaya bagi tubuh. Berdasarkan data, konsumsi rokok perkapita rumah tangga miskin per bulan masih relatif besar. Bahkan semakin meningkat dari sekitar 79 batang perkapita perbulan di tahun 2008 menjadi sekitar 83 batang perkapita perbulan pada tahun 2010.
Tabel 7 Pangsa pengeluaran rumah tangga miskin terhadap total pengeluaran perbulan tahun 2008-2010 (%) Komoditas Tahun 2008 2009 2010 Beras 18.10 23.68 27.01 Jagung 16.25 10.33 6.99 Singkong 2.06 1.04 1.49 Ikan 2.75 2.18 3.02 Daging 1.21 1.83 1.42 Telur 0.32 0.48 0.51 Sayur 8.59 9.67 7.97 Buah 1.94 1.41 1.82 Rokok 2.32 2.33 2.51 Makanan lain 18.12 17.60 17.54 Bukan makanan 28.33 29.45 29.71
24
Tabel 7 menunjukkan bahwa konsumsi makanan pokok terutama beras merupakan kebutuhan utama bagi rumah tangga miskin di NTT. Rata-rata rumah tangga miskin di Provinsi NTT membelanjakan sekitar 27.01% dari total pengeluaran rumah tangganya untuk konsumsi beras pada tahun 2010. Selain beras, jagung juga merupakan komoditas makanan penting bagi rumah tangga miskin di NTT. Total pengeluaran rumah tangga miskin untuk jagung mencapai 16.25% di tahun 2008. Hal yang menarik lainnya terlihat bahwa pengeluaran untuk rokok hampir setara dengan pengeluaran untuk komoditas ikan bahkan lebih tinggi bila dibandingkan dengan pengeluaran untuk daging maupun telur.
Perkembangan pangsa pengeluaran untuk konsumsi beras mengalami peningkatan selama periode tahun 2008-2010 dengan diiringi penurunan konsumsi jagung. Hal ini mengindikasikan diversifikasi pangan belum berjalan sepenuhnya meskipun jagung bisa dijadikan komoditas pangan pokok lokal NTT. Konsumsi daging dan telur juga mengalami peningkatan meskipun masih dalam komposisi yang relatif rendah. Hal ini mengindikasikan rendahnya permintaan pangan hewani yang sejalan dengan hasil penelitian Daud (2006).
Selain itu, konsumsi sayur mengalami peningkatan selama periode tahun 2008-2010 dan penurunan selama periode tahun 2009-2010, namun pangsa pengeluaran sayur menempati posisi keempat dari seluruh komoditas makanan yang dikonsumsi rumah tangga miskin. Sementara itu, konsumsi buah menduduki peringkat ketiga terbawah dari seluruh komoditas makanan yang dikonsumsi rumah tangga miskin. Adapun konsumsi rokok juga mengalami peningkatan yang signifikan sepanjang tahun 2008-2010. Hal ini menunjukkan pengetahuan tentang kesehatan dan kesadaran hidup sehat belum dimiliki rumah tangga miskin di NTT.
Tabel 8 Pengeluaran makanan perbulan rumah tangga miskin menurut wilayah tempat tinggal tahun 2008-2010 (rupiah)
Komoditas Wilayah Perdesaan Perkotaan Rata-rata % Rata-rata % Beras 157 836.67 23.05 217 779.72 21.17 Jagung 72 984.17 11.73 39 567.09 4.82 Singkong 10 421.88 1.58 9 166.17 1.07 Ikan 17 510.88 2.44 53 635.21 5.43 Daging 10 863.65 1.53 9 532.75 0.80 Telur 2 715.97 0.40 8 568.36 0.90 Sayur 55 645.98 8.79 77 924.90 7.88 Buah 12 128.01 1.78 11 120.00 1.21 Rokok 17 078.45 2.32 34 748.38 3.27
Sumber: Susenas Panel (2008-2010), diolah.
Tabel 8 menunjukkan adanya perbedaan pola konsumsi antara rumah tangga miskin yang tinggal di perdesaan dan perkotaan. Pengeluaran perkapita rumah tangga miskin di perkotaan lebih besar untuk komoditas beras, ikan, telur, sayur dan rokok bila dibandingkan dengan rumah tangga miskin di perdesaan. Sedangkan pengeluaran untuk mengkonsumsi jagung, singkong, daging dan buah
25
rumah tangga miskin di perdesaan lebih besar dibandingkan dengan rumah tangga miskin di perkotaan.
Rumah tangga miskin di perdesaan mengeluarkan uang rata-rata sebesar Rp 157 836.67 per bulan untuk konsumsi beras atau 23.05% dari total pengeluaran. Sedangkan rumah tangga miskin di perkotaan mengeluarkan uang rata-rata sebesar Rp 217 779.72 per bulan untuk konsumsi beras atau 21.17% dari total pengeluaran. Pangsa pengeluaran beras untuk rumah tangga miskin di perkotaan lebih rendah daripada perdesaan. Hal ini menunjukkan komoditas beras merupakan komoditas yang banyak dikonsumsi masyarakat perdesaan dan menjadi komoditas penting bagi pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari.
Tingkat pendidikan Kepala Rumah Tangga (KRT) menentukan dalam mengambil keputusan mengenai komoditas-komoditas yang akan dikonsumsi rumah tangga. Pendidikan KRT yang tinggi lebih memahami mengenai kebutuhan gizi anggota rumah tangganya. Tabel 6 memperlihatkan bahwa proporsi konsumsi makanan pokok berupa beras lebih besar untuk rumah tangga miskin yang memiliki KRT berpendidikan SMP ke atas. Sedangkan rumah tangga miskin dengan KRT berpendidikan SD ke bawah proporsi konsumsi makanan pokok berupa jagung dan singkong lebih besar bila dibandingkan dengan rumah tangga miskin dengan KRT berpendidikan SMP ke atas. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa rumah tangga miskin dengan KRT berpendidikan SD ke bawah lebih bisa untuk mensubstitusi konsumsi beras dengan konsumsi makanan pokok lainnya berupa jagung dan singkong.
Tabel 9 Pengeluaran makanan perbulan rumah tangga miskin menurut tingkat pendidikan kepala rumah tangga tahun 2008-2010 (rupiah)
Komoditas
Pendidikan Kepala Rumah Tangga
≤SD >SD Rata-rata % Rata-rata % Beras 160 890.19 22.91 171 831.66 22.95 Jagung 71 610.64 11.49 62 959.58 9.34 Singkong 10 925.21 1.63 6 293.28 0.95 Ikan 19 219.62 2.55 26 833.62 3.42 Daging 10 670.52 1.50 11 400.31 1.33 Telur 2 730.90 0.39 5 996.96 0.76 Sayur 57 198.82 8.83 58 021.75 7.94 Buah 12 203.74 1.77 11 033.52 1.49 Rokok 18 142.55 2.39 20 095.18 2.36
Sumber: Susenas Panel (2008-2010), diolah.
Konsumsi protein berupa ikan, daging dan telur untuk rumah tangga miskin yang memiliki KRT berpendidikan SMP ke atas lebih besar dibandingkan dengan konsumsi protein rumah tangga miskin dengan KRT berpendidikan SD ke bawah. Hal ini dapat mengindikasikan pengetahuan tentang pentingnya asupan protein mendorong untuk mengkonsumsi protein lebih banyak. Demikian pula untuk konsumsi sayur-sayuran.
Konsumsi rokok untuk rumah tangga miskin yang memiliki KRT berpendidikan SMP ke atas lebih besar dibandingkan dengan konsumsi rokok
26
rumah tangga miskin dengan KRT berpendidikan SD ke bawah. Hal ini menunjukkan bahwa untuk menghentikan konsumsi rokok tidak cukup dengan pengetahuan namun juga kesadaran seperti yang ditampilkan Tabel 9.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Rumah Tangga Miskin Pendugaan model LA-AIDS pada sampel rumah tangga miskin Provinsi NTT berdasarkan harga komoditas, pendapatan, jumlah anggota rumah tangga, wilayah tempat tinggal, dan tingkat pendidikan kepala rumah tangga. Hasil dari estimasi model pola konsumsi makanan di Provinsi NTT tersaji pada Tabel 10.
Tabel 10 Koefisien penduga parameter model LA-AIDS Provinsi NTT
Parameter w beras w ja gung w sing kong w ikan w da ging w telur w sa yur w buah w ro kok konstanta -0.1375 1.3333 0.1602 -0.3315 -0.0509 0.0027 0.1261 0.1538 -0.2561 (0.6350) (0.6750) (0.0486) (0.0010) (0.4696) (0.9190) (0.4717) (0.0149) (0.0100) ln(pberas) 0.0209 -0.0100 -0.0014 -0.0011 -0.0018 -0.0004 -0.0047 -0.0007 -0.0008 (<0.0001) (<0.0001) (<0.0001) (<0.0001) (<0.0001) (<0.0001) (<0.0001) (0.0001) (0.0035) ln(pjagung) -0.0100 0.0126 -0.0005 -0.0006 -0.0006 -0.0002 0.0002 -0.0001 -0.0007 (<0.0001) (<0.0001) (0.0005) (<0.0001) (<0.0001) (0.0001) (0.4815) (0.1916) (0.0002) ln(psingkong) -0.0014 -0.0005 0.0034 -0.0002 -0.0003 -0.0001 -0.0008 -0.0002 0.0001 (<0.0001) (<0.0001) (<0.0001) (0.0129) (0.0008) (0.0078) (0.0013) (0.0158) (0.4137) ln(pikan) -0.0011 -0.0006 -0.0002 0.0045 -0.0005 0.0000 -0.0013 -0.0004 -0.0004 (<0.0001) (<0.0001) (0.0129) (<0.0001) (<0.0001) (0.7939) (<0.0001 (<0.0001) (0.0033) ln(pdaging) -0.0018 -0.0006 -0.0003 -0.0005 0.0087 -0.0001 -0.0044 -0.0003 -0.0007 (<0.0001) (<0.0001) (0.0008) (<0.0001) (<0.0001) (0.0287) (<0.0001) (0.0008) (<0.0001) ln(ptelur) -0.0004 -0.0002 -0.0001 0.0000 -0.0001 0.0024 -0.0014 -0.0001 -0.0001 (<0.0001) (<0.0001) (0.0078) (0.7939) (0.0287) (<0.0001) (<0.0001) (0.2306) (0.1211) ln(psayur) -0.0047 0.0015 -0.0008 -0.0013 -0.0044 -0.0014 0.0142 -0.0013 -0.0017 (<0.0001) (<0.0001) (0.0013) (<0.0001) (<0.0001) (<0.0001) (<0.0001) (<0.0001) (<0.0001) ln(pbuah) -0.0007 -0.0001 -0.0002 -0.0004 -0.0003 -0.0001 -0.0013 0.0036 -0.0005 (0.0001) (0.0001) (0.0158) (<0.0001) (0.0008) (0.2306) (<0.0001) (<0.0001) (<0.0001) ln(prokok) -0.0008 -0.0020 0.0001 -0.0004 -0.0007 -0.0001 -0.0005 -0.0005 0.0047 (0.0035) (0.0045) (0.4137) (0.0033) (<0.0001) (0.1211) (<0.0001) (<0.0001) (<0.0001) ln(y riil) 0.0302 -0.0903 -0.0091 0.0352 0.0167 0.0034 -0.0043 -0.0089 0.0272 (0.2253) (0.2263) (0.1928) (<0.0001) (0.0055) (0.1370) (0.7716) (0.0991) (0.0014) ln(jart) 0.0018 0.0787 0.0079 -0.0406 -0.0132 -0.0050 -0.0151 0.0070 -0.0217 (0.9443) (0.9453) (0.2809) (<0.0001) (0.0372) (0.0344) (0.3368) (0.2173) (0.0151) WIL -0.0508 -0.0035 0.0088 0.0199 -0.0116 -0.0009 0.0162 0.0108 0.0111 (0.0105) (0.0115) (0.1135) (0.0038) (0.0154) (0.6106) (0.1756) (0.0121) (0.1005) KRT 0.0035 -0.0014 -0.0053 0.0066 -0.0056 0.0049 -0.0030 -0.0024 0.0025 (0.7932) (0.7942) (0.1620) (0.1549) (0.0852) (<0.0001) (0.7122) (0.4122) (0.5828) T 0.0597 -0.0602 -0.0003 0.0004 0.0023 0.0016 -0.0045 0.0018 -0.0008 (<0.0001) (<0.0001) (0.8548) (0.8313) (0.0761) (0.0012) (0.1663) (0.1261) (0.6766)
Sumber: Susenas Panel (2008-2010), diolah. Angka dalam kurung merupakanp-value.
27
Berdasarkan hasil pengolahan, diperoleh nilai System Weighted R-Square
sebesar 0.5917 (Lampiran 1). Secara sistem, proporsi total keragaman dari konsumsi tiap komoditas dapat dijelaskan oleh variabel penjelas sebesar 59.17%. Kesimpulan secara umum bahwa pola konsumsi makanan rumah tangga miskin NTT dipengaruhi oleh harga komoditas sendiri, harga komoditas lain, pendapatan (pengeluaran), wilayah tempat tinggal (perdesaan/perkotaan), dan tingkat pendidikan kepala rumah tangga.
Jika dilihat secara rinci maka dapat disimpulkan bahwa proporsi pengeluaran beras dipengaruhi oleh harga komoditas jagung, singkong, ikan, daging, telur, sayur, buah dan rokok pada taraf nyata 1%. Sedangkan pendapatan, jumlah anggota rumah tangga, wilayah tempat tinggal (WIL) dan pendidikan kepala rumah tangga (KRT) tidak signifikan pada taraf nyata 1%.
Adapun proporsi pengeluaran jagung dipengaruhi oleh harga komoditas beras, jagung, ikan, daging, telur, sayur, buah pada taraf nyata 5%. Sedangkan pendapatan, jumlah anggota rumah tangga, tingkat pendidikan kepala rumah tangga (KRT) tidak signifikan pada taraf nyata 5%.
Proporsi pengeluaran singkong dipengaruhi oleh harga komoditas beras, jagung, ikan, daging, telur, sayur, buah pada taraf nyata 5%. Sedangkan pendapatan, jumlah anggota rumah tangga, wilayah tempat tinggal (WIL) dan pendidikan kepala rumah tangga (KRT) tidak signifikan pada taraf nyata 5%.
Permintaan ikan dipengaruhi oleh harga komoditas beras, jagung, ikan, daging, sayur, buah pada taraf nyata 5%. Sedangkan harga telur dan pendidikan kepala rumah tangga (KRT) tidak signifikan pada taraf nyata 5%.
Permintaan daging dipengaruhi secara signifikan oleh hampir seluruh variabel penjelas kecuali pendidikan kepala rumah tangga (KRT) yang tidak signifikan pada taraf nyata 5%. Hal ini menunjukkan kurangnya pengetahuan kepala rumah tangga terhadap pentingnya konsumsi daging sebagai sumber protein yang utama dan harga daging relatif mahal sehingga sulit dipenuhi rumah tangga miskin NTT.
Elastisitas Konsumsi Pangan Rumah Tangga Miskin Elastisitas Harga Sendiri
Secara umum elastisitas harga sendiri bernilai negatif yang berarti peningkatan perubahan harga suatu komoditas mendorong penurunan perubahan permintaan komoditas itu sendiri. Tabel 11 menunjukkan besaran elastisitas harga sendiri untuk beberapa komoditas makanan pada rumah tangga miskin di NTT secara total serta menurut wilayah tempat tinggal (perdesaan/perkotaan) dan
tingkat pendidikan kepala rumah tangga (≤SD dan >SD). Secara total, permintaan
komoditas beras bersifat lebih elastis dibandingkan komoditas lainnya. Hal ini mengindikasikan komoditas beras berperan sebagai komoditas penting dan utama yang dikonsumsi rumah tangga miskin serta permintaan komoditas beras sangat sensitif terhadap gejolak harga.
28
Tabel 11 Elastisitas harga sendiri komoditas makanan rumah tangga miskin menurut wilayah dan pendidikan KRT di Provinsi NTT tahun 2008- 2010 (%)
Komoditas Total Wilayah Pendidikan KRT
Perdesaan Perkotaan ≤SD >SD Beras -0.981 -0.981 -0.984 -0.981 -0.983 Jagung -0.850 -0.852 -0.788 -0.851 -0.841 Singkong -0.876 -0.878 -0.844 -0.882 -0.808 Ikan -0.947 -0.937 -0.997 -0.942 -0.971 Daging -0.678 -0.689 -0.441 -0.679 -0.669 Telur -0.727 -0.694 -0.885 -0.682 -0.862 Sayur -0.912 -0.912 -0.914 -0.913 -0.908 Buah -0.883 -0.885 -0.858 -0.884 -0.875 Rokok -0.925 -0.921 -0.960 -0.925 -0.928
Sumber: Susenas Panel (2008-2010), diolah.
Berdasarkan wilayah tempat tinggal, maka dapat disimpulkan bahwa elastisitas harga sendiri di daerah perdesaan dan perkotaan tidak jauh berbeda untuk semua komoditas kecuali komoditas daging dan telur. Peningkatan harga daging di wilayah perdesaan direspon lebih tinggi daripada perkotaan dengan menurunkan permintaan daging. Hal ini mengingat harga daging yang relatif mahal sehingga rumah tangga miskin di wilayah perdesaan lebih memilih untuk mengurangi konsumsi daging dan beralih ke konsumsi komoditas lain.
Kesimpulan penting yang berkenaan dengan tingkat pendidikan kepala rumah tangga adalah elastisitas harga sendiri bagi KRT berpendidikan SD ke bawah dan SMP ke atas terhadap permintaan semua komoditas tidak jauh berbeda kecuali komoditas daging. Permintaan daging lebih elastis bagi KRT berpendidikan SD ke bawah daripada SMP ke atas. Ini berarti peningkatan perubahan harga daging direspon lebih tinggi oleh KRT berpendidikan SD ke bawah daripada SMP ke atas dengan menurunkan permintaan daging. Hal ini mengingat pengetahuan tentang gizi bagi KRT berpendidikan SMP ke atas lebih baik daripada KRT berpendidikan SD ke bawah.
Elastisitas Harga Silang
Nilai elastisitas harga silang ada yang bertanda positif maupun negatif yang menyatakan hubungan antara komoditas yang bersifat substitusi (pengganti) maupun komplementer (pelengkap). Tabel 12 menyajikan besaran elastisitas harga silang untuk beberapa komoditas makanan pada rumah tangga miskin di NTT. Secara umum disimpulkan bahwa jagung, singkong dan buah merupakan barang substitusi bagi beras. Sedangkan komoditas ikan, daging, telur, sayur dan rokok merupakan komplementer (pelengkap) bagi beras. Kenaikan harga beras 1% akan menyebabkan kenaikan permintaan jagung sebesar 0.135% dan singkong 0.084%. Provinsi NTT dikenal sebagai provinsi penghasil jagung perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah NTT untuk mengembangkan potensi jagung. Komoditas jagung memiliki peran ganda, tidak hanya sebagai makanan pokok, tetapi juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku industri (Pasandaran dan Kasryno 2005).
29
Tabel 12 Elastisitas harga silang komoditas makanan rumah tangga miskin di Provinsi NTT tahun 2008-2010 (%)
Komoditas Elastisitas harga silang
Beras Jagung Singkong Ikan Daging Telur Sayur Buah Rokok Beras -0.038 -0.005 -0.006 -0.006 -0.002 -0.023 -0.004 -0.005 Jagung 0.135 0.010 0.019 0.008 0.003 0.080 0.014 0.011 Singkong 0.084 0.048 0.008 -0.003 -0.001 0.027 0.003 0.018 Ikan -0.313 -0.156 -0.025 -0.027 -0.006 -0.142 -0.030 -0.039 Daging -0.345 -0.160 -0.031 -0.052 -0.010 -0.281 -0.033 -0.056 Telur -0.211 -0.104 -0.024 -0.021 -0.023 -0.232 -0.019 -0.027 Sayur -0.017 0.007 -0.004 -0.006 -0.025 -0.008 -0.007 -0.002 Buah 0.094 0.051 -0.004 0.005 0.005 -0.038 0.006 -0.002 Rokok -0.266 -0.137 -0.015 -0.038 -0.029 -0.007 -0.137 -0.029
Sumber: Susenas Panel (2008-2010), diolah.
Elastisitas Pendapatan
Berdasarkan hasil pengolahan dapat disimpulkan bahwa secara umum nilai elastisitas pendapatan (didekati dengan pengeluaran) dapat mencerminkan sifat suatu barang apakah termasuk barang normal (pokok), inferior atau mewah. Komoditas beras, jagung, singkong, sayur dan buah termasuk barang normal. Sedangkan komoditas ikan, daging, telur dan rokok termasuk barang mewah. Artinya peningkatan pendapatan rumah tangga miskin mendorong pemenuhan konsumsi ikan, daging, telur untuk menambah asupan protein. Ironisnya peningkatan konsumsi rokok pun akan dilakukan rumah tangga miskin meskipun berbahaya bagi kesehatan. Komoditas beras lebih elastis daripada komoditas jagung dan singkong. Hal ini dapat diartikan bahwa peningkatan pendapatan rumah tangga miskin mendorong peningkatan permintaan beras lebih tinggi daripada jagung dan singkong seperti yang disajikan Tabel 13.
Tabel 13 Elastisitas pendapatan komoditas makanan rumah tangga miskin menurut wilayah dan pendidikan KRT di NTT tahun 2008-2010 (%)
Komoditas Total Wilayah Pendidikan KRT
Perdesaan Perkotaan ≤SD >SD Beras 1.071 1.071 1.067 1.071 1.068 Jagung 0.570 0.586 0.126 0.578 0.504 Singkong 0.693 0.698 0.606 0.709 0.510 Ikan 1.685 1.765 1.297 1.725 1.499 Daging 1.647 1.626 2.099 1.644 1.663 Telur 1.389 1.436 1.166 1.453 1.199 Sayur 0.974 0.974 0.975 0.975 0.973 Buah 0.730 0.734 0.666 0.733 0.709 Rokok 1.584 1.610 1.383 1.586 1.569
Sumber: Susenas Panel (2008-2010), diolah.
Elastisitas pendapatan untuk komoditas jagung dan singkong bernilai antara 0 dan 1 yaitu berturut-turut sebesar 0.570 dan 0.690. Ini artinya kenaikan
30
pendapatan 1% akan meningkatkan permintaan jagung dan singkong sebesar 0.570% dan 0.690%. Sehingga komoditas jagung dan singkong termasuk barang normal. Begitu juga komoditas beras bisa diartikan memiliki elastisitas mendekati 1. Hal ini menunjukkan komoditas beras juga termasuk barang normal atau kebutuhan pokok.
Elastisitas Jumlah Anggota Rumah Tangga
Jumlah anggota rumah tangga merupakan salah satu karakteristik sosial demografi yang mempengaruhi pola konsumsi rumah tangga miskin. Elastisitas jumlah anggota rumah tangga ada yang bertanda positif maupun negatif. Elastisitas jumlah anggota rumah tangga yang bertanda positif berarti peningkatan jumlah anggota rumah tangga menyebabkan peningkatan pangsa pengeluaran untuk komoditas tersebut. Adapun elastisitas jumlah anggota rumah tangga yang bertanda negatif berarti peningkatan jumlah anggota rumah tangga menyebabkan penurunan pangsa pengeluaran untuk komoditas tersebut.
Tabel 14 memperlihatkan secara umum elastisitas jumlah anggota rumah tangga bernilai positif pada komoditas beras, jagung, singkong dan buah. Hal ini dapat diartikan bahwa peningkatan jumlah anggota rumah tangga menyebabkan peningkatan pangsa pengeluaran komoditas beras, jagung, singkong dan buah. Sementara itu elastisitas jumlah anggota rumah tangga untuk komoditas ikan, daging, telur, sayur dan rokok bertanda negatif yang berarti peningkatan jumlah anggota rumah tangga menyebabkan penurunan pangsa pengeluaran komoditas komoditas ikan, daging, telur, sayur dan rokok.
Tabel 14 Elastisitas jumlah anggota rumah tangga pada komoditas makanan rumah tangga miskin di Provinsi NTT tahun 2008-2010 (%)
Komoditas Total Wilayah Pendidikan KRT
Perdesaan Perkotaan ≤SD >SD Beras 0.004 0.004 0.004 0.004 0.004 Jagung 0.375 0.361 0.763 0.368 0.432 Singkong 0.269 0.264 0.344 0.255 0.429 Ikan -0.790 -0.882 -0.343 -0.836 -0.575 Daging -0.510 -0.494 -0.867 -0.508 -0.523 Telur -0.579 -0.648 -0.247 -0.673 -0.297 Sayur -0.089 -0.089 -0.086 -0.088 -0.093 Buah 0.212 0.209 0.263 0.210 0.229 Rokok -0.466 -0.486 -0.305 -0.468 -0.454
Sumber: Susenas Panel (2008-2010), diolah.
Berdasarkan wilayah tempat tinggal rumah tangga miskin dapat dijelaskan bahwa elastisitas jumlah anggota rumah tangga baik di perdesaan maupun perkotaan bertanda positif bagi komoditas beras, jagung, singkong dan buah. Hal ini mengindikasikan bertambahnya jumlah anggota rumah tangga berimplikasi terhadap bertambahnya konsumsi beras, jagung, singkong dan buah. Selanjutnya, peningkatan jumlah anggota rumah tangga direspon rumah tangga miskin baik di perdesaan maupun perkotaan dengan menurunkan permintaan ikan, daging, telur, sayur dan rokok. Respon penurunan permintaan ikan, telur, sayur dan rokok lebih
31
tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan akibat bertambahnya jumlah anggota rumah tangga. Hal ini menunjukkan komoditas ikan, telur, sayur dan rokok sering dikonsumsi rumah tangga miskin perdesaan daripada perkotaan.
Berdasarkan tingkat pendidikan kepala rumah tangga dapat diartikan bahwa elastisitas jumlah anggota rumah tangga untuk pendidikan KRT SD ke bawah dan SMP ke atas bertanda positif bagi komoditas beras, jagung, singkong dan buah. Hal ini mengindikasikan bertambahnya jumlah anggota rumah tangga berimplikasi terhadap bertambahnya konsumsi beras, jagung, singkong dan buah. Selanjutnya, peningkatan jumlah anggota rumah tangga direspon rumah tangga miskin untuk pendidikan KRT SD ke bawah dan SMP ke atas dengan menurunkan permintaan ikan, daging, telur, sayur, dan rokok.
Permintaan daging di perkotaan lebih elastis dibandingkan di perdesaan. Keadaan ini dimungkinkan karena harga daging mudah dijangkau oleh masyarakat perkotaan daripada perdesaan, selain itu juga adanya kemudahan akses pemenuhan daging di wilayah perkotaan lebih tinggi daripada di perdesaan.
Permintaan rokok di perdesaan lebih elastis dibandingkan di perkotaan. Begitu pula jika dilihat dari tingkat pendidikan kepala rumah tangga (KRT), maka disimpulkan rumah tangga miskin yang dikepalai oleh kepala rumah tangga berpendidikan SD ke bawah lebih cenderung menambah konsumsi rokok dibandingkan dengan kepala rumah tangga berpendidikan SMP ke atas. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran akan pentingnya kesehatan bagi tubuh.
Dampak Subsidi Raskin dan BLT terhadap Konsumsi Pangan
Program pemerintah dalam bentuk subsidi raskin dan pemberian BLT sangat dirasakan manfaatnya oleh rumah tangga miskin di Provinsi NTT. Selanjutnya pada tataran kenyataan di lapangan ditemukan adanya rumah tangga miskin yang hanya menikmati subsidi raskin saja, atau hanya menikmati program BLT, dan ada juga yang dapat menikmati kedua program pemerintah tersebut, sehingga disusunlah 3 skema simulasi untuk melihat dampaknya terhadap perubahan permintaan komoditas yang dikonsumsi rumah tangga miskin.
Ketiga skema simulasi tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut:
- Simulasi 1 : subsidi raskin sehingga menurunkan harga beras 28 persen; - Simulasi 2 : pemberian BLT sehingga meningkatkan pendapatan 21 persen; - Simulasi 3 : gabungan subsidi raskin dan BLT.
Hasil ketiga simulasi yang disajikan oleh Tabel 15 merupakan alternatif kebijakan pemerintah yang diharapkan dapat meningkatkan permintaan atau konsumsi makanan bagi rumah tangga miskin di Provinsi NTT. Ketiga simulasi ini merupakan bentuk pendekatan kebijakan pemerintah yang dianggap masih relevan untuk meningkatkan kesejahteraan rumah tangga miskin di Provinsi NTT,
Hasil simulasi 1 yang menerapkan kebijakan raskin menyebabkan penurunan harga beras sehingga berdampak terhadap peningkatan permintaan beras menjadi 27.47% yang diiringi penurunan permintaan jagung, singkong, dan buah masing-masing sebesar 3.79% , 2.35%, dan 2.64%.
32
Tabel 15 Perubahan permintaan komoditas berdasarkan hasil simulasi di Provinsi NTT tahun 2008-2010 (%)
Komoditas Simulasi 1 Simulasi 2 Simulasi 3
Beras 27.47 22.49 49.96 Jagung -3.79 11.96 8.17 Singkong -2.35 14.54 12.19 Ikan 8.76 35.38 44.14 Daging 9.67 34.58 44.26 Telur 5.90 29.17 35.07 Sayur 0.46 20.46 20.93 Buah -2.64 15.33 12.70 Rokok 7.46 33.26 40.72
Sumber: Susenas Panel (2008-2010), diolah.
Hasil simulasi 2 menunjukkan bahwa program pemerintah terkait pemberian BLT kepada rumah tangga miskin dianggap mampu meningkatkan permintaan komoditas pangan terutama komoditas beras, ikan, daging, telur, sayur, dan rokok secara signifikan, sedangkan komoditas makanan lainnya juga mengalami peningkatan yang relatif kecil. Adapun hasil simulasi 3 yang merupakan kombinasi program raskin dan BLT menunjukkan peningkatan permintaan komoditas makanan yang sangat signifikan, sehingga simulasi 3 ini dinilai simulasi kebijakan yang paling efektif untuk meningkatkan konsumsi rumah tangga miskin di Provinsi NTT.
33