• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian

Pada bab ini diuraikan hasil penelitian serta pembahasan mengenai hubungan kontrol diri (self-control) dengan perilaku nyeri pada pasien dengan nyeri kronis di RSUP H. Adam Malik Medan. Penelitian ini dilakukan Juni hingga Juli 2013 sebanyak 18 orang responden. Peneliti akan menguraikan hasil penelitian dan pembahasan antara lain deskripsi karakteristik responden, deskripsi kontrol diri (self-control), deskripsi perilaku nyeri, serta analisa hubungan kontrol diri (self-control) dengan perilaku nyeri pada pasien dengan nyeri kronis di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan.

1.1 Analisa Univariat

1.1.1 Deskripsi Karakteristik Demografi Responden.

Karakteristik demografi responden yang diperoleh dari hasil penelitian adalah sebagai berikut: dari responden sebanyak 18 diketahui bahwa mayoritas responden yang berada pada rentang usia 18 tahun sampai 40 tahun, yaitu dewasa madya (72,2 %). Mayoritas responden laki-laki (55,6%). Mayoritas responden suku Batak (88,9%) dan sudah menikah (94,4%). Tingkat pendidikan terakhir responden adalah SD (11,1%), SMP (27,8%), SMA (33,3%), dan D3/Sarjana (27,8%). Mayoritas pekerjaan responden adalah petani (27,8%) dan pedagang/wiraswasta (27,8%).

Tabel 1.1.1 Distribusi Frekuensi dan Persentasi Karakteristik Demografi Responden (n=18)

No Karakteristik Responden Frekuensi (f) Persentase ( %)

1 Usia

Dewasa awal (18-40 tahun) Dewasa akhir (41-60 tahun)

5 13 27.8 72.2 2 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 10 8 55.6 44.4 3 Status Perkawinan Menikah Belum Menikah 17 1 94.4 5.6 4 Suku Bangsa Jawa Batak 2 16 11.1 88.9 5 Pendidikan terakhir SD SMP SMA D3/Sarjana 2 5 6 5 11.1 27.8 33.3 27.8 6 Pekerjaan Petani Pedagang/wiraswasta POLRI/TNI PNS

Ibu Rumah Tangga Pensiunan PNS Teknikal listrik 5 5 1 2 2 2 1 27.8 27.8 5.6 11.1 11.1 11.1 5.6 7 Diagnosa Angina Pectoris Ca Mamae Ca Nasofaring Ca Hepar Colitis Unspesifik Diabetes Efusi Pleura Gagal Ginjal Gatritis Kronis 1 4 1 1 1 5 2 1 2 5.6 22.2 5.6 5.6 5.6 27.8 11.1 5.6 11.1

1.1.2 Kontrol diri pada pasien dengan nyeri kronis.

Kontrol diri pada pasien nyeri kronis di RSUP Haji Adam Malik Medan diidentifikasi dengan menggunakan kuesioner dimana setiap pernyataan ditanyakan langsung kepada responden. Berdasarkan hasil analisa data menunjukkan distribusi frekuensi dan persentasi kontrol diri (self-control) pada pasien yang mengalami nyeri kronis secara keseluruhan didapati bahwa pasien memiliki kontrol diri rendah (33.3%), sangat rendah (38.9%), sedang (22.2 %) dan tinggi (5.6 %). Tidak ada pasien yang memiliki kontrol diri (self-control) sangat tinggi Tabel 2.

Tabel 1.1.2 Distribusi frekuensi dan persentasi kontrol diri (self-control) pasien yang mengalami nyeri kronis.

Tingkatan Frekuensi (f) Persentasi (%)

Kontrol diri sangat rendah (122-131) 7 38.9

Kontrol diri rendah (132-141) 6 33.3

Kontrol diri sedang (142-151) 4 22.2

Kontrol diri tinggi (152-161) 1 5.6

Kontrol diri sangat tinggi (162-170) 0 0

Kuesioner yang digunakan untuk mengukur kontrol diri (self-control) terdiri dari 34 pernyataan umum yang mewakili kemampuan responden untuk dalam kontrol perilaku (behavioral control), kontrol kognitif (cognitive control), kontrol keputusan (desicional control). Dari hasil analisa data diperoleh bahwa pernyataan dengan nilai paling tinggi adalah pernyataan nomor 23 (lebih baik

saya berpikir dulu sebelum bertindak) dengan mean=4,5 dan SD= 1.14.

Sementara pernyataan yang paling rendah adalah pernyataan 18 (saya sering terbawa perasaan) dengan mean= 2.5 dan SD= 1.24 dan pernyataan 31 (saya

kurang sabar dan mudah marah) dengan mean= 3.4 dan SD= 1.75. Pernyataan dengan nilai tertinggi mewakili kontrol kognitif (cognitive control) pasien terhadap stimulus.

1.1.3. Perilaku nyeri pada pasien dengan nyeri kronis.

Perilaku nyeri pada pasien dengan nyeri kronis di RSUP Haji Adam Malik Medan diidentifikasi dengan menggunakan lembar observasi. Dari hasil analisa data maka diperoleh hasil distribusi frekuensi dan persentasi perilaku nyeri pasien dengan nyeri kronis yaitu, perilaku nyeri rendah (0-3) (44.4 %), dan perilaku nyeri sedang (4-7) (55.6%) Tabel 3.

Tabel 1.1.3. Distribusi frekuensi dan persentasi perilaku nyeri pasien yang mengalami nyeri kronis.

Perilaku nyeri Frekuensi (f) Presentasi (%)

Perilaku nyeri rendah 8 44.4

Perilaku nyeri sedang 10 55.6

Perilaku nyeri tinggi 0 0

Parameter perilaku nyeri meliputi: menjaga (guarding), menahan nyeri (bracing), menggosok bagian yang nyeri (rubbing), meringis (grimace), dan mendesah (sighing). Pada penelitian ini, meringis (grimace) adalah perilaku yang paling sering muncul (mean= 1.111 dan SD= 0.758) dan menggosok bagian yang nyeri (rubbing) adalah perilaku yang paling jarang muncul (mean= 0.555) dan (SD= 0.783).

Tabel 1.1.4. Nilai mean, Standar Deviasi dan tingkat parameter perilaku nyeri (n=18)

Perilaku Nyeri Actual score Mean SD Level

Menjaga (guarding) 0-2 0.77 0.64 Sedang

Menahan nyeri (bracing) 0-2 0.77 0.73 Sedang

Menggosok bagian yang nyeri (rubbing)

0-2 0.55 0.78 Rendah

Meringis (grimace) 0-2 1.11 0.75 Sedang

Mendesah (sighing) 0-2 0.83 0.78 Sedang

2. Pembahasan

Dari hasil penelitian, peneliti membahas mengenai kontrol diri ( self-control), perilaku nyeri dan hubungan antara kontrol diri (self-control) dengan perilaku nyeri pada pasien yang mengalami nyeri kronis di RSUP Haji Adam Malik Medan.

2.1 Karakteristik demografi

Berdasarkan usia responden, sebagian besar responden berada pada rentang usia dewasa madya (72,2 %). Hal ini menunjukkan bahwa pada rentang usia ini, angka kejadian terkena peyakit kronis cukup tinggi. International Diabetes Federation

(IDF) (2011 dalam Trisnawati & Setyorogo, 2012) menyebutkan bahwa jumlah penderita penyakit kronis Diabetes Melitus banyak terjadi pada rentang usia 40-59 tahun. Hal itu disebabkan karena pada usia tersebut mulai terjadi peningkatan intoleransi glukosa. Supriyono (2008) menyatakan bahwa prevalensi penyakit kronis kardiovaskuler banyak terjadi pada kelompok umur 40-49 tahun, dewasa madya.

Perbandingan jumlah responden antara laki-laki dan perempuan dalam penelitian ini tidak jauh berbeda yakni laki-laki (55,6%) dan perempuan (44.4 %). Hal ini berkaitan dengan mayoritas diagnosa penyakit responden yaitu: Diabetes (27.8%) lebih sering terjadi pada laki-laki, Ca Mamae (22.2 %) pada perempuan, Gastritis Kronis (11.1%) dan Efusi Pleura (11.1%) pada keduanya. Pusat data dan informasi Perumahsakitan Indonesia (PERSI, 2011) menyebutkan bahwa Indonesia berada pada peringkat empat jumlah penderita Diabetes terbanyak di dunia.

Persentase responden yang sudah menikah 94% berhubungan dengan tugas perkembangan responden pada usia dewasa madya. Mayoritas responden bersuku Batak, dikarenakan lokasi penelitian yang berada di daerah yang mayoritas bersuku Batak. Selain itu, untuk data demografi pendidikan terakhir, pekerjaan dan diagnosa penyakit responden cukup bervariasi.

2.2 Kontrol diri (self-control) pada pasien yang mengalami nyeri kronis.

Hasil penelitian ini menyebutkan sebagian besar responden memiliki kontrol diri sangat rendah (38.9%) dan kontrol diri rendah (33.3%). Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari 50% responden memiliki kemampuan yang rendah untuk mengontrol perilaku (behavioral control), mengontrol kognitif (kognitif control) dan mengontrol keputusan (decision control) terkait dengan penyakit. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat depresi pasien akibat penyakit, lama rawat/proses pengobatan dan kelemahan fisik. Hal ini juga didapati dari pernyataan responden tentang lamanya proses pengobatan dan kelemahan fisik yang dialami menurunkan semangat responden yang pada umumnya bekerja sebagai petani dan

pedagang. Terkait dengan status pernikahan, responden juga menyatakan bahwa tidak berada dekat dengan anak dan tidak mampu beraktivitas seperti biasanya membuat responden merasa tidak mampu dan putus asa.

Individu yang mengalami penyakit kronis, akan mengalami nyeri sebagai bagian dari proses penyakit, proses pemeriksaan dan pengobatan (Brunner & Suddarth, 2000). Hal ini yang sering diperburuk dengan kejadian depresi dan peningkatan perilaku nyeri individu sehingga mempengaruhi fungsi fisik, mental dan kualitas hidup responden.

Terkait dengan diagnosa penyakit, sebagian besar responden mengidap penyakit Diabetes (27.8%), dan Ca Mamae (22.2%). Diabetes merupakan salah satu diagnosa penyakit yang dapat mengakibatkan pasien mengalami nyeri kronis non-maligna. Nyeri kronis non-maligna merupakan akibat dari cedera jaringan yang tidak sembuh atau yang tidak progresif akan tetapi nyeri berlangsung terus dan sering kali tidak berespon terhadap pengobatan yang diberikan (Potter & Perry, 2006). Pada penderita Diabetes nyeri terjadi disertai dengan tanda-dan gejala distress psikologi dan ketidakmampuan fisik (Krein et al, 2005).

Nyeri kronis maligna seperti Ca mamae bersifat konstan yang bertahan sampai pada periode waktu yang lama (Potter & Perry, 2006). Kedua diagnosa tersebut menimbulkan intensitas nyeri yang berat dan berlangsung lama sehingga mempengaruhi psikologis individu, menimbulkan depresi dan penurunan kemampuan mengontrol diri (kognitif dan perilaku).

Hal ini juga didukung Nicholas et al (2009) dalam jurnalnya tentang gejala depresif pada pasien nyeri kronis bahwa gejala depresi sangat erat hubungannya

dengan perilaku negatif (catastrophising), kontrol diri terhadap hidup, keyakinan diri (self-efficacy), ketidakmampuan fisik penerimaan dukungan social dan manajemen diri yang tidak efektif. Kontrol diri mempengaruhi kemampuan individu untuk mengatasi masalah yang dialami pasien dengan nyeri kronis antara lain

VanDellen (2008) menyatakan bahwa tingkat kontrol diri individu bersumber dari tiga hal yakni, pengaruh social/interpersonal, pengaruh personal/individual dan pengaruh lingkungan /situasional. Kemampuan untuk berinteraksi secara positif dengan orang lain secara interpersonal meningkatkan kontrol diri individu yang mengalami kelemahan secara fisik. Interaksi dengan kelompok social memberikan motivasi bagi individu meningkatkan kontrol individu terhadap kognitif, emosi dan perilaku. Hal ini terkait dengan mayoritas responden penelitian sudah menikah (94.4 %) dengan rentang usia dewasa awal dan dewasa madya, dukungan sosial dari anggota keluarga maupun social berkurang sehingga pasien cenderung merasa tidak mampu dan sulit dimotivasi.

Penelitian oleh Hayes & Bissett (1999) tentang Acceptance (penerimaan), kontrol rasional dan roleransi terhadap nyeri menyebutkan bahwa kontrol diri berdasarkan rasional menunjukkan pengaruh yang besar terhadap evaluasi subjektif terhadap sensasi, nyeri dan ketidaknyamanan karena target dari kontrol diri (self-control) adalah perubahan kognitif dan emosi

Peningkatan kontrol diri (self-control) individu terhadap stimulus nyeri akan meningkatkan kemampuan indiviu mengontrol perilaku sehingga individu menunjukkan perilaku nyeri rendah..

2.3 Perilaku nyeri pada pasien dengan nyeri kronis

Hasil penelitian diperoleh bahwa responden menunjukkan perilaku nyeri sedang (55.6%) dan perilaku nyeri rendah (44.4%). Perilaku nyeri adalah perilaku-perilaku yang dapat diobservasi sebagai respon dari kerusakan sel dan pengalaman yang tidak menyenangkan dalam hal ini nyeri (Fields, 1987). Pada tinjauan teoritis telah disebutkan bahwa factor-faktor yang mempengaruhi perilaku nyeri antara lain: nilai etnik dan budaya, tahap perkembangan, lingkukan dan orang pendukung, pengalaman nyeri sebelumnya dan makna nyeri saat ini, serta ansietas dan stress.

Pada penelitian ini, masing-masing responden mengalami nyeri selama lebih dari 6 bulan dan sudah melakukan terapi pengobatan dalam waktu yang lama. Brunner & Suddarth (2002) menyebutkan bahwa individu yang mengalami nyeri hebat dan berkepanjangan dapat menjadi toleran terhadap nyeri yang dialaminya apabila individu menerima terapi nyeri yang adekuat.

Terkait dengan tugas perkembangan mayoritas responden telah menikah (94.4%) yang menunjukkan adanya dukungan dari lingkungan social yakni keluarga (pendamping hidup dan anak). Pasien yang menghadapi nyeri sendiri tanpa dukungan dari orang lain akan merasa bahwa nyeri yang dialami sangat berat (Kozier, et al, 2010). Salah satu manajemen nyeri nonfarmakologik yang efektif untuk menurunkan intensitas nyeri adalah dengan mengalihkan perhatian individu terhadap hal yang lain (distraksi) (Potter & Perry, 2006). Interaksi dengan keluarga terdekat dapat mengalihkan perhatian pasien dari nyeri yang dihadapinya sehingga dapat mengurangi kecemasan dan depresi berkepanjangan.

Walaupun hal ini bertentangan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Yulianta (2010) tentang perbandingan perilaku nyeri antara pasien nyeri kronis yang didampingi suami dan tidak didampingi suami, bahwa tidak ada perbandingan perilaku nyeri yang signifikan antara keduanya. Terkait dengan nilai etnik dan budaya, mayoritas responden adalah masyarakat suku bangsa Batak. Responden yang menunjukkan perilaku nyeri rendah kemungkinan dipengaruhi oleh tingkat kecemasan menghadapi proses penyakit dan stress menghadapi proses pengobatan dan lingkungan rumah sakit.

Pada penelitian ini tidak ditemukan adanya pengaruh usia dan perbedaan jenis kelamin terhadap perilaku nyeri. Berdasarkan usia, tidak terdapat perbedaan yang berarti antara perilaku nyeri usia dewasa awal dan perilaku nyeri pada pasien dewasa madya. Hal ini mungkin dikarenakan karena jarak usia responden dalam penelitian ini yang tidak bervariasi. Pada tahap perkembangan dewasa awal hingga madya individu sudah mampu mengatakan pengalaman nyeri dan kebutuhan mereka terkait dengan nyeri yang dialaminya, berbeda dengan anak (usia dibawah 18 tahun) dan dewasa akhir (di atas 60 tahun) (Kozier, 2010).

BAB 6

Dokumen terkait