4.1. Hasil
Data yang diperoleh dari hasil pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis terhadap semen di BIB Tuah Sakato, yaitu :
A. Makroskopis
Data yang diperoleh dari pengamatan makroskopis yaitu : a. Volume Semen Sapi Simmental
Tabel 3. Volume Semen Segar Pada 3 Kelompok Bobot Badan Sapi Simmental
Bobot Badan Volume Rata-Rata ± SD
(Ml)
BBT 5,28 ± 1,12
BBS 4,66 ± 1,26
BBR 4,71 ± 0,98
b. Warna Semen Sapi Simmental
Tabel 4. Warna Semen Berdasarkan Kelompok Sapi Dengan BBT
Minggu ke
Warna Semen Nama Bull dan Kode Bull
Borneo (60931) Gespert (60932)
1 Kream Kream
2 Kream Kream
3 Agak Bening Kream
4 Kream Kream
Warna 87,5% Kream, 12,5% Agak Bening
Tabel 5. Warna Semen Berdasarkan Kelompok Sapi Dengan BBS
Minggu ke
Warna Semen Nama Bull dan Kode Bull
Eldiraya (61337) Zeelook (61235) 1 Kream Kream 2 Kream Kream 3 Kream Kream 4 Kream Kream Warna 100% Kream
16 Tabel 6. Warna Semen Berdasarkan Kelompok Sapi Dengan BBR
Minggu ke
Warna Semen Nama Bull dan Kode Bull
Darwin (61233) Hasvin (61234) 1 Kream Kream 2 Kream Kream 3 Kream Kream 4 Kream Kream Warna 100% Kream
c. Konsistensi Semen Sapi Simmental
Tabel 7. Konsistensi Semen Berdasarkan Kelompok Sapi Dengan BBT
Minggu ke
Konsistensi Semen Nama Bull dan Kode Bull
Borneo (60931) Gespert (60932)
1 Sedang Sedang
2 Sedang Kental
3 Kental Sedang
4 Encer Encer
Konsistensi 50% Sedang, 25% Kental, 25% Encer
Tabel 8. Konsistensi Semen Berdasarkan Kelompok Sapi Dengan BBS
Minggu ke
Konsistensi Semen Nama Bull dan Kode Bull
Eldiraya (61337) Zeelook (61235)
1 Kental Sedang
2 Kental Encer
3 Kental Kental
4 Kental Kental
Konsistensi 75% Kental, 12,5% Encer, 12,5% Sedang
Tabel 9. Konsistensi Semen Berdasarkan Kelompok Sapi Dengan BBR
Minggu ke
Konsistensi Semen Nama Bull dan Kode Bull
Darwin (61233) Hasvin (61234)
1 Kental Kental
2 Kental Kental
3 Kental Kental
4 Encer Kental
d. Derajat Kemasaman (pH) Semen Sapi Simmental
Tabel 10. Derajat Kemasaman (pH) Semen Segar Pada 3 Kelompok Bobot Badan Sapi Simmental
Bobot badan (Kg) pH rata-rata
BBT 7
BBS 7
BBR 7
B. Mikroskopis
Data yang diperoleh dari pengamatan makroskopis yaitu : a. Gerakan Massa
Tabel 11. Gerakan Massa Berdasarkan Kelompok Sapi Dengan Bobot Badan Tinggi (566,50 Kg Dan 643,56 Kg)
Minggu ke
Gerakan massa Nama Bull dan Kode Bull
Borneo (60931) Gespert (60932) 1 ++ +++ 2 ++ +++ 3 +++ ++ 4 ++ ++ Gerakan Massa 62,5% ++, 37,5 +++
Tabel 12. Gerakan Massa Berdasarkan Kelompok Sapi Dengan Bobot Badan Sedang (451,62 Kg Dan 464,50 Kg)
Minggu ke
Gerakan Massa Nama Bull dan Kode Bull
Eldiraya (61337) Zeelook (61235) 1 +++ ++ 2 +++ ++ 3 +++ ++ 4 +++ +++ Gerakan Massa 62,5% +++, 37,5% ++
18 Tabel 13. Gerakan Massa Berdasarkan Kelompok Sapi Dengan Bobot Badan
Rendah (435,60 Kg Dan 448,16 Kg)
Minggu ke
Gerakan Massa Nama Bull dan Kode Bull
Darwin (61233) Hasvin (61234) 1 +++ ++ 2 ++ ++ 3 ++ ++ 4 ++ + (%) Gerakan Massa 75% ++, 12,5% +++, 12.5% + b. Motility
Tabel 14. Gerakan Individu/Mortility Pada 3 Kelompok Bobot Badan Sapi Simmental
Bobot badan Mortility Rata-Rata ± SD (%)
BBT 59,38 ± 3,44
BBS 68,13 ± 0,17
BBR 65,00 ± 1,35
c. Konsentrasi
Tabel 15. Konsentrasi Spermatozoa Pada Semen Segar Pada 3 Kelompok Bobot Badan Sapi Simmental
Bobot badan Konsentrasi Rata-Rata ± SD (106/Ml) BBT 1.550 ± 705,69 BBS 1.988 ± 683,67 BBR 1.950 ± 578,16 4.2. Pembahasan A. Makroskopis
Evaluasi yang dilakukan dari pengamatan secara kasat mata/secara melihat langsung tanpa menggunakan bantuan mikroskop. Data di atas didapat dari pengamatan selama magang di UPTD BIB Tuah Sakato.
a. Volume Semen Sapi Simmental
Pada Tabel 3. tentang pemeriksaan volume semen menunjukan adanya perbedaan volume semen yang dihasilkan dari 3 kelompok sapi Simmental. Volume semen tertinggi didapat pada kelompok sapi dengan bobot badan tinggi dengan volume rata-rata ± sd 5,28 ± 1,12 ml, dengan kisaran volume 2,9 – 6 ml, bobot badan sedang 4,66 ± 1,26 ml, dengan kisaran volume 2,5 – 6 ml, bobot badan rendah 4,71 ± 0,98 ml, dengan kisaran volume 3,5 – 6,5 ml. Tabel 12. Menunjukan bahwa volume semen dari ketiga kelompok sapi Simmental menunjukan dalam keadaan normal. Arifiantini (2012), menyatakan bahwa volume semen sapi berkisar antara 2 – 15 ml dengan rataan 4 – 8 ml.
Volume semen yang dihasilkan dari 3 kelompok sapi Simmental menunujukan adanya perbedaan, perbedaan tersebut menunujukan bahwa volume semen yang dihasilkan dapat dipengaruhi oleh bobot badan, karena bobot badan berkaitan dengan reproduksi sapi jantan. Bobot badan sapi jantan berhubungan erat dengan besarnya testis, ukuran testis yang besar mempunyai tubuli seminiferi yang lebih banyak sehingga akan meningkatkan jumlah spermatozoa yang didukung seminal plasma yang juga lebih banyak, ukuran testis tersebut berkorelasi positif dengan bobot badan ternak (Mathevon 1998) dalam Adhyatma, Isnaini dan Nuryadi 2013). Sedangkan Ismaya (2014), volume semen dapat dipengaruhi oleh frekuensi ejakulasi. Selanjutnya dijelaskan bahwa sapi dengan tingkat frekuensi ejakulasi yang tinggi dapat menyebabkan menurunnya volume semen yang dihasilkan.
20 b. Warna Semen Sapi Simmental
Pemeriksaan warna semen sapi Simmental ditunjukan oleh Tabel 4, 5 dan 6. Menunjukan bahwa warna semen sapi Simmental lebih didominasi oleh warna kream pada 3 kelompok bobot badan sapi Simmental, dengan data tersebut menunjukan bahwa warna semen dari 3 kelompok bobot badan sapi Simmental tersebut dalam keadan normal. Susilawati (1993) dalam Wahyuningsih dkk (2013), warna semen dari ejakulasi normal adalah putih susu dan 10% yang berwarna putih bening dan krem.Ismaya (2014), menyatakan bahwa warna semen yang baik biasanya susu atau kream keputih-putihan dan keruh, namun ada juga yang berwarna kekuning-kuningan (10%). Sedangkan menurut Arifiantini (2012), warna semen adalah putih keruh, putih susu, kream, kream kekuningan, sampai warna putih keabuan, warna-warna yang disebutkan tersebut merupakan warna semen normal. Selanjutnya dijelaskan bahwa warna semen yang tidak dikehendaki adalah putih kemerahan, dimana menunjukan luka didalam saluran uretra.
Warna semen yang dihasilkan relatif sama dari 3 kelompok bobot badan sapi tersebut, warna semen yang dihasilkan tersebut tidak dipengaruhi oleh bobot badan sapi melainkan dipengaruhi oleh kualitas pakan yang diberikan (Arifiantini, 2012), selanjutnya dijelaskan bahwa warna semen dapat dipengaruhi oleh kelenjar vesikularis.
c. Konsistensi Semen Sapi Simmental
Pemeriksaan konsistensi semen sapi Simmental dilakukan dengan cara memiringkan tabung testup/tabung reaksi kemudian dikembalikan kedalam posisi semula, setelah itu maka dilihat gerakan dari semen didalam tabung testup/reaksi,
bila semen semakin cepat kembali ke posisi awal maka konsistensi semen sapi digolongkan encer, gerakan kembali kesemula lambat digolongkan sedang, gerakan kembali kesemula sangat lambat digolongkan kental. Arifiantini (2012), menilai konsistensi semen adalah dengan cara memiringkan tabung yang berisi semen dan mengembalikan ke posisi semula, konsistensi dapat dinilai dari kecepatan semen kembali ke dasar tabung penampung semen.
Tabel 7, 8 dan 9. Menunjukan adanya perbedaan dimana pada Tabel 7. % konsistensi untuk bobot badan tinggi yaitu 50% sedang, sedangkan Tabel 8 dan 9. Menunjukan bahwa % konsistensi 75% dan 87,5% kental, dengan data tersebut konsistensi semen sapi dapat dikatakan baik.
d. Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) yang ditunjukan tidak ada perbedaan yaitu pada angka 7, dari data 3 kelompok sapi Simmental berdasarkan bobot badan dapat dikatakan dalam keadaan normal. Menurut Arifiantini (2012), derajat keasaman (pH) mamalia berkisar antara 6 – 7,5.
B. Mikroskopis
Evaluasi semen dengan bantuan alat (mikroskop) untuk mengetahui kualitas dari semen sapi. Pengamatan dilakukan di UPTD BIB Tuah Sakato.
a. Gerakan massa
Hasil pemeriksaan yang ditunjukkan dari Tabel 11, 12 dan 13. Di atas menunjukan bahwa adanya perbedaan pada Tabel 11. Bobot badan sapi tinggi (566,50 dan 643, 53 kg) dan Tabel 13. Bobot badan sapi rendah (435,60 dan 448,16 kg) didapat gerakan massa ++ dan untuk Tabel 12. Bobot badan sapi sedang gerakan massanya +++, dari data tersebut menunjukan bahwa gerakan
22 massa adalah normal namun untuk bobot badan sapi sedang jauh lebih baik dari 2 kelompok sapi tersebut. Ismaya (2014), penilaian gerakan massa tersebut berdasarkan gerakan massa spermatozoa, +++ (sangat baik) gelombang besar, tampak gelap, tebal, aktif, dan cepat berpindah dengan keadaan 80 – 100% spermatozoa motil progresif, ++ (baik) gelombang tipis, kecil, jarang, kurang jelas dan lamban, 60 – 79% spermatozoa motil. Dari data pengamatan di UPTD Tuah Sakato gerakan massa spermatozoa sudah cukup baik dan gerakan massa tidak dipengaruhi oleh bobot badan sapi karena gerakan massa berkaitan dengan motility sel spermatozoa.
b. Motility
Pada Tabel 14, didapat hasil pemeriksaan motility pada 3 kelompok sapi Simmental. Dilihat dari hasil rata-rata tertinggi diperoleh oleh kelompok bobot badan sedang (451,61 dan 464,50 kg) dengan rata-rata motility ± SD (%) 68,13 ± 0,17 dengan kisaran 50 – 75% motility, kelompok bobot badan tinggi (566,60 dan 643,53 kg) dengan rata-rata motility ± SD (%) 59,38 ± 3,44 dengan kisaran 40 – 75% motility, dan kelompok bobot badan rendah (435,60 dan 448,16 kg) dengan rata-rata motility ± SD (%) 65,00 ± 1,35 dengan kisaran 40 – 75% motility.
Dari data tersebut menunjukan bahwa kelompok bobot badan sedang mempunyai nilai motilitas yang lebih tinggi. Secara keseluruhan motility spermatozoa dari ke-3 kelompok sapi yang ada di BIB Tuah Sakato mendapat nilai 3 atau sedang, menurut Haq (1949) dalam Toelihire (1979) nilai 3 artinya 50-80% spermatozoa bergerak progresif dan menghasilkan gerakan massa, sedangkan Ismaya (2014), menjelaskan bahwa motility spermatozoa pada sapi yaitu 81,3 ± 13,6%. Bila dibandingkan dengan motility yang ada dari 3 kelompok sapi yang
ada di UPTD BIB Tuah Sakato, maka motility spermatozoa lebih rendah dari pernyataan Ismaya (2014). Dijelaskan selanjutnya motility spermatozoa dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu
1. Suhu. Suhu dingin akan menghambat motility, sedangkan suhu panas meningkatkan motility.
2. Zat kimia, urine dan kotoran yang mencemari semen dapat menurunkan motility.
3. Ejakulat pertama sesudah istirahat lama biasanya banyak sel spermatozoa yang mati dan hal ini mengakibatkan menurunnya persentasi motility. c. Konsentrasi
Pada Tabel 15, menunjukan bahwa adanya perbedaan konsentrasi semen pada 3 kelompok bobot badan sapi. Dari Tabel 15. Tersebut bobot badan sedang (451,62 dan 464,50 kg) memiliki nilai yang tinggi yaitu 1.988 ± 683,67 (106/ml) dengan nilai konsentrasi 1200 – 3000 (106/ml), bobot badan sapi tinggi (566,50 dan 643,53 kg) dengan nilai 1.550 ± 705,69 (106/ml) kisaran nilai konsentrasi 1000 – 2800 (106/ml) sedangkan untuk bobot badan rendah (435,60 dan 448,16 kg) dengan nilai 1.950 ± 578,16 (106/ml) kisaran nilai konsetrasi 1200 – 2700 (106/ml).
Perbedaan konsentrasi semen yang dihasilkan oleh 3 kelompok sapi tidak dipengaruhi bobot badan. Menurut Sumeidiana dkk (2007), konsentrasi semen dipengaruhi oleh frekuensi ejakulasi, kesehatan alat reproduksi, kualitas pakan yang diberikan dan besar testes. Sedangkan menurut Ismaya (2014), kosentrasi semen dipengaruhi oleh frekuensi ejakulasi, selanjutnya dijelaskan bahwa pemakaian pejantan harus dibatasi sehingga kualitas semen terjaga dengan baik,
24 karena sapi yang sering ditampung semennya dengan frekuensi tinggi dapat menyebabkan menurunnya kosentrasi spermatozoa.
V. KESIMPULAN
Dari hasil pembahasaan data yang diperoleh selama pengalaman kerja praktek mahasiswa (PKPM) di UPTD BIB Tuah Sakato dapat disimpulkan bahwa:
1. Volume rata-rata ± SD tertinggi dihasilkan pada kelompok bobot badan sapi tinggi (566,50 dan 643,56 kg) yaitu 5,28 ± 1,12 ml.
2. Konsistensi yang terbaik didapat pada kelompok sapi bobot badan rendah (435,60 dan 448,16 kg) yaitu 87,5% konsistensi kental dari data yang diperoleh.
3. Gerakan massa, motility dan konsentrasi semen tertinggi dihasilkan pada kelompok bobot badan sapi sedang.
4. Bobot badan sapi tidak mempengaruhi konsentrasi semen, warna semen dan pH semen sapi Simmental.
26