• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seluruh anjing pada penelitian ini; yang diduga terinfeksi virus rabies setelah menggigit hewan atau manusia tidak dilakukan tindakan observasi terlebih dahulu. Seluruh anjing dengan sejarah menggigit hewan lain maupun manusia langsung di-eutanasioleh pemilik atau petugas peternakan setempat. Gejala klinis yang dapat dilaporkan yaitu anjing tiba-tiba menjadi agresif kemudian menggigit manusia ataupun hewan yang ada disekitarnya, tanpa ada provokasi terlebih dulu.

Patologi Anatomi

Pemeriksaan patologi anatomi dilakukan pada saat nekropsi, yaitu pada bagian permukaan otak setelah membuka tulang kranium. Empat belas sampel otak anjing positif rabies menunjukkan perubahan patologi anatomi yang bervariasi dengan derajat ringan. Hiperemi pembuluh darah meningen secara konsisten ditemukan pada semua sampel otak yang diperiksa (14/14). Perdarahan pada selaput meningen juga terlihat dengan variasi mulai ptekia (6/14) dan ekimosa (2/14) (Gambar 1). Pembengkakan sulkus dan girus serebrum ditemukan pada 2 dari 14 otak anjing yang diduga terinfeksi virus rabies. Data lengkap perubahan patologi anatomi disajikan pada Tabel 1.

Hiperemi ditemukan pada seluruh sampel yang diperiksa. Hal tersebut merupakan perubahan awal yang terjadi pada pembuluh darah sebagai respon akibat terjadinya reaksi radang. Hiperemi terjadi akibat dilatasi pembuluh darah yang mengakibatkan peningkatan aliran darah dalam kapiler. Dilatasi terjadi karena pelepasan zat vasoaktif yang dapat merangsang saraf vasodilator atau hambatan hantaran saraf vasokonstriktor (McGavin & Zachary 2007).

Perdarahan yang terjadi pada sistem saraf pusat terlihat sangat jelas dikarenakan jaringan ini berwarna putih sehingga kontras dengan darah yang berwarna merah. Pada penelitian ini juga terjadi perdarahan ptekia dan ekimosa pada lapisan selaput otak (meningen). Rossiter & Jackson (2007) berpendapat bahwa perdarahan yang terjadi pada bagian subaraknoid dan parenkim otak bukan merupakan ciri khas penyakit rabies. Perdarahan yang lebih luas juga ditemukan pada permukaan sulkus dan girus. Hal ini diakibatkan trauma yang terjadi

22

sebelum hewan mati. Anjing yang diduga terinfeksi virus rabies setelah terjadi kasus gigitan, segera dieutanasi tanpa dilakukan observasi terlebih dulu. Eutanasi dilakukan dengan cara memukul bagian kepala atau menjerat bagian leher. Tindakan ini mengakibatkan trauma pada tulang kranium dan rusaknya dinding pembuluh darah sehingga menyebabkan perdarahan secara spontan.

Keberadaan benda asing (kayu, pasir dan tanah) pada saluran pencernaan merupakan salah satu indikasi infeksi virus rabies pada anjing (Summers et al. 1995). Namun dalam penelitian ini tidak dilakukan pengamatan pada organ pencernaan dikarenakan sampel yang diperoleh hanya berupa kepala anjing.

Tabel 1 Perubahan patologi anatomi pada otak anjing yang diduga terinfeksi virus rabies secara alami

Nomor Kongesti Pembengkakan Perdarahan

Ptekia Ekimosa 1 √ - √ - 2 √ - √ - 3 √ - - - 4 √ - - - 5 √ √ √ √ 6 √ √ √ √ 7 √ - - - 8 √ - √ - 9 √ - - - 10 √ - - - 11 √ - √ - 12 √ - - - 13 √ - - - 14 √ - - -

Pembengkakan yang terjadi pada otak mengakibatkan peningkatan tekanan intrakranial yang disebabkan vasodilatasi dan diikuti akumulasi cairan intraselular. Otak yang bengkak menyebabkan girus terlihat membengkak dan datar (McGavin & Zachary 2007). Menurut pendapat Iwasaki & Tobita (2002) pada kasus rabies pembengkakan pada otak disertai kongesti pembuluh darah meningen dan parenkim lebih disebabkan karena kegagalan sistem respirasi dan jantung.

Manusia ataupun hewan yang terinfeksi virus rabies secara alami tidak menunjukkan perubahan patologi anatomi pada sistem saraf pusat meskipun gejala saraf yang ditimbulkan terlihat jelas (Jackson & Rossiter 2007). Hal ini diduga virus bertahan pada organ non saraf atau penurunan respon kekebalanhost selama masa inkubasi (Iwasaki & Tobita 2002). Namun pada penelitian ini secara konsisten ditemukan hiperemi serta ptekia pembuluh darah meningen. Hal ini dapat dijadikan sebagai petunjuk awal adanya infeksi virus rabies, khususnya kejadian di daerah endemis.

Gambar 7 Perubahan patologi anatomi otak anjing yang diduga terinfeksi virus rabies secara alami. Hiperemia (panah hitam), ptekia (panah orange) perdarahan (panah biru), pembengkakan girus (bintang).

Histopatologi

Berdasarkan perubahan histopatologi dengan menggunakan pewarnaan hematoksilin eosin, seluruh hewan menunjukkan ensefalitis non-suppuratif ringan disertai perivascular cuffing (PVC) dengan dominasi sel limfosit pada bagian korteks serebrum. Sel-sel saraf terlihat mengalami degenerasi dan nekrosis meskipun jumlahnya sedikit. Korteks serebrum dan talamus merupakan bagian otak yang banyak mengalami degenerasi dan iskemia.

Degenerasi sel paling banyak terjadi pada lobus frontalis serebrum 6/14, lalu talamus (4/14), kemudian pada lobus parietalis serebrum (3/14), namun pada hipokampus dan oksipitalis tidak ditemukan sel yang mengalami degenerasi. Sel saraf yang mengalami degenerasi (kromatolisis) terlihat neuron membengkak

24

serta badan nisl tersebar. Gangguan saraf pada infeksi virus rabies lebih disebabkan karena disfungsi sel saraf daripada kematian sel saraf (Jackson 2002). Namun infeksi virus rabies yang telah dilemahkan dapat menginduksi reaksi inflamasi, degenerasi, apoptosis dan nekrosis sel saraf (Miyamoto 1968). Infeksi virus rabies strain patogen baik secara in vitro maupun in vivo dapat menyebabkan kerusakan pada prosesus neuron (akson dan dendrit) dengan cara merusak keutuhan sitoskeleton, sehingga mengakibatkan gangguan pada neurotransmisi (Li et al.2005).

Menurut Jackson dan Roositer (1997) disfungsi sel saraf pada infeksi virus rabies lebih disebabkan karena apoptosis. Hal ini ditunjukkan oleh banyaknya sel piramida hipokampus dan korteks neuron yang mengalami apoptosis pada tikus yang diinfeksi virus rabies strain CVS secara intraserebral berdasarkan uji TUNEL. Infeksi virus rabies strain alam (street rabies virus) pada hewan dan manusia, serta infeksi buatan intramuskular pada tikus menunjukkan sedikit neuron yang mengalami apoptosis meskipun antigen virus rabies tersebar pada seluruh area sistem saraf pusat. Virus rabies strain alam hanya menginduksi apoptosis pada sel radang dengan cara mempengaruhi pelepasan sitokin sitotoksik dan mencegah sel lisis (Iwasaki & Tobita 2002). Usaha mencegah terjadinya apoptosis pada sel saraf merupakan strategi virus rabies untuk tetap bertahan dan melanjutkan tahapan infeksi dalam tubuh host (Suja et al. 2011). Perubahan histopatologi pada masing-masing bagian otak disajikan pada Tabel 2.

Negri body (badan inklusi) merupakan ciri khas adanya infeksi virus rabies, berdasarkan uji histopatologi lebih banyak ditemukan pada sitoplasma sel saraf hipokampus (12/14), kemudian lobus frontalis korteks serebrum (10/14), serta pada bagian talamus (7/14). Negry bodies lebih mudah ditemukan pada sel saraf yang berukuran besar antara lain sel piramida hipokampus, piramida korteks, sel purkinje serebelum, disekitar sel saraf yang tidak mengalami degenerasi dan area yang tidak mengalami inflamasi (Iwasaki & Tobita 2002). Namun tidak semua anjing positif antigen virus rabies didapatkan bentukannegri bodypada sel sarafnya. Infeksi intraserebral pada mencit dengan menggunakan virus rabies strain CVS tidak didapatkannegri bodypada sitoplasma, namun hal tersebut tidak dapat disimpulkan tidak ada infeksi virus rabies (Sinchaisriet al. 1992). Semakin

lama seiring dengan perjalanan penyakit jumlahnegri body akan semakin banyak serta ukuran akan semakin bertambah besar (Sandyamaniet al. 1981).

Tabel 2 Perubahan histopatologi pada masing-masing bagian otak anjing yang terinfeksi virus rabies secara alami

Jaringan Negri Bodies PVC Degenerasi Nekrosis Gliosis Peradangan Lobus Frontalis 10/14 7/14 6/14 5/14 7/14 8/14 Lobus Parietalis 5/14 7/14 3/14 3/14 8/14 8/14 Lobus Temporalis 5/14 2/14 2/14 1/14 3/14 5/14 Lobus Oksipitalis 2/14 1/14 0/14 0/14 2/14 2/14 Hipokampus 12/14 0/14 0/14 0/14 4/14 8/14 Talamus 3/14 8/14 4/14 4/14 7/14 10/14 Amigdala 2/14 0/14 0/14 0/14 2/14 1/14

* PVC = Perivascular cuffing, Gliosis = Proliferasi sel-sel glia,

x / x = Hewan yang mengalami perubahan histopatologi / total sampel.

Perivascular cuffing (PVC) dapat dijadikan sebagai pedoman adanya infeksi virus rabies jika tidak didapatkan negri body dan nekrosis sel saraf pada hewan yang diduga terinfesi virus rabies (Hicks et al. 2009). Evaluasi pada studi ini menunjukkan PVC banyak ditemukan di daerah talamus (10/14). Komponen PVC terdiri atas sel-sel mononuklear terutama sel limfosit, sedikit sel polimorfonukler, gliosis dan neuronofagi. Distribusi PVC banyak terdapat pada otak bagian kauda antara lain medula, ponds dan talamus (Hicks et al.2009). Hal ini disebabkan otak bagian kauda merupakan lokasi awal replikasi virus pada inokulasi di perifer, sehingga proses inflamasi terjadi lebih dulu dibandingkan otak bagian depan (Hicks et al. 2009). Kajian sebelumnya tentang infeksi buatan virus rabies strain alam pada mencit menjelaskan bahwa infiltrasi sel limfosit T lebih banyak ditemukan disekitar PVC dan parenkim, sedangkan limfosit B sama sekali tidak ditemukan (Kojima et al. 2009). Hal tersebut sama dengan yang dilaporkan oleh Iwasaki et al. (1993) pada manusia yang terinfeksi virus rabies, 70% sel mononuklear adalah limfosit T dan lebih dari 2/3 nya adalah sel T helper.

26

Gambar 8 Perubahan histopatologi masing-masing bagian otak (Hematoksilin Eosin). (a) Korteks serebrum: perivascular cuffing (panah hitam), disertai infiltrasi sel mononuklear khususnya limfosit (panah orange) dan degenerasi sel saraf (panah biru); (b). Hipokampus; inklusion bodies intrasitoplasmik (negri bodies) pada sitoplasma sel piramida amons horn (panah); (c). Korteks serebrum; perivascular cuffing (panah orange) disertai proliferasi sel glia, neuronofagi (panah hitam), serta sel-sel saraf yang mengalami nekrosis (panah orange) (d); Selaput meningen; perivascular cuffing (panah hitam) ditandai dengan infiltrasi sel limfosit (panah orange (Bar = 50 µm).

Hasil penelitian ini juga menunjukkan proliferasi sel glia (gliosis) terutama mikroglia dan astrosit. Gliosis paling banyak terjadi pada bagian lobus parietalis (8/14) dan lobus frontalis (7/14) korteks serebrum. Pada sistem saraf pusat mikroglia merupakan makrofag pada jaringan otak yang berfungsi neuroprotektif dan fagosit sel-sel saraf yang mati. Adanya infeksi sistem saraf pusat mengaktifkan sel mikroglia sehingga sel ini merubah morfologi menjadi lebih amuboid dan bercabang-cabang. Mikroglia menginduksi pengeluaran faktor neuroprotektif seperti plasminogen dan IL-6, namun aktivasi mikroglia ini juga menginduksi sitokin (IL-1, TNF-α, dan nitric oxide) yang menyebabkan kematian sel baik secara langsung maupun tidak langsung (Kojimaet al. 2009, Kojima et

al. 2010). Astrosit berfungsi menjaga struktur dan metabolisme sel saraf. Pada infeksi virus rabies strain CVS intramuskular terjadi proliferasi astrosit yang sejalan dengan nekrosis yang terjadi pada sel saraf medula spinalis (Kojimaet al. 2009).

Infeksi buatan intraserebral dengan virus yang sama menunjukkan bahwa proliferasi astrosit sejalan dengan terjadinya apoptosis pada sel saraf. Proliferasi sel glia akibat infeksi virus rabies strain CVS pada tikus berpengaruh penting pada patogenesa virus rabies secara eksperimental (Kojima et al. 2010). Proliferasi astrosit dan oligodendroglia tidak biasa terjadi pada infeksi virus rabies strain alam meskipun masa inkubasi penyakit berjalan lama. Ada dugaan bahwa astrosit bertindak hanya sebagaiantigen-presenting cells(APC) sehingga memicu reaksi mikroglia (Sujaet al. 2009).

Evaluasi histopatologi juga dilakukan pada kelenjar saliva dengan pewarnaan hematoksilin-eosin yaitu kelenjar parotid dan mandibula. Pengamatan histopatologi menunjukkan infiltrasi sel mononuklear terutama sel limfosit dengan derajat sedang hingga berat pada septa asini disertai nekrosis sel epitel asinus (Gambar 9a). Berbeda dengan kelenjar mandibula, pada kelenjar parotid hanya menunjukkan infiltrasi sel radang limfosit dengan derajat ringan serta tidak didapatkan adanya nekrosis sel (Gambar 9b).

Gambar 9 Perubahan Histopatologi kelenjar saliva (HE) (a). Kelenjar mandibula: Infiltrasi sel limfosit pada septa sel epitel mukogenik asini (panah hitam), nekrosis sel epitel (panah biru); (b). Kelenjar parotid: tidak terdapat Perubahan histopatologi pada kelenjar parotid.

28

Distribusi Antigen Virus Rabies pada Jaringan

Teknik pewarnaan imunohistokimia dikenal untuk mengidentifikasi antigen virus rabies pada sel saraf secara akurat (Damayanti 2009). Hasil evaluasi pada seluruh sampel otak ditemukan antigen virus rabies berbentuk titik maupun granula berwarna coklat. Antigen terdeposit pada sitoplasma sel saraf, akson maupun dendrit dengan jumlah dan pola penyebaran berbeda. Rata-rata skor antigen virus rabies terbanyak ditemukan di hipokampus, kemudian talamus dan lobus frontalis korteks serebrum. Namun tidak terdapat perbedaan yang nyata antara jumlah antigen pada talamus jika dibandingkan dengan lobus frontalis korteks serebrum. Diantara empat lobus serebrum, deposit antigen virus rabies terbanyak ditemukan pada lobus frontalis, sedangkan pada lobus temporalis, parietalis dan oksipitalis juga ditemukan antigen namun dalam jumlah yang lebih sedikit, begitu juga pada bagian amígdala. Seluruh bagian talamus (anterior, ventrolateral, medial dan posterior) ditemukan antigen virus rabies dalam jumlah yang hampir sama, hal tersebut sesuai dengan yang disampaikan Sujaet al.(2009) dan Jackson & Reimer (1989). Rata-rata distribusi antigen virus rabies secara lengkap disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3 Rata-rata skor distribusi antigen pada masing-masing bagian otak

Bagian Otak Skor

Lobus Frontalis 1.57bc Lobus Parietalis 1.28cd Lobus Temporalis 1.14cd Lobus Oksipitalis 1.21cd Hipokampus 2.50a Talamus 1.86b Amigdala 1.00d

Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan adanyaperbedaan yang nyata, α = 0,05.

Lobus frontalis merupakan bagian dari serebrum yang paling banyak ditemukan deposit antigen virus rabies jika dibandingkan lobus parietalis, temporalis dan oksipitalis. Granula antigen virus rabies terletak pada sitoplasma

sel piramida, khususnya pada lapisan granular. Lapisan ini banyak ditemukan sel piramida dengan ukuran kecil, medium hingga besar. Hasil pengamatan lebih lanjut menunjukkan bahwa pada lapisan molekular jarang ditemukan antigen karena lapisan ini terdiri dari neuropil yang merupakan gabungan dari akson, dendrit, serabut sel glia dan cabang akhir serabut saraf aferen. Lobus frontalis serebrum bertanggung jawab terhadap fungsi motorik tubuh, dan tingkah laku sadar. Wilayah tersebut secara anatomi merupakan bagian terdepan dari serebrum. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini tidak terdapat perbedaan yang nyata skor distribusi antigen virus rabies pada lobus frontalis serebrum dan talamus. Dengan mempertimbangkan kemudahan dalam koleksi sampel dan jumlah antigen virus yang cukup banyak, maka lobus frontalis korteks serebrum dapat dijadikan alternatif lokasi pengambilan sampel untuk pengujian rabies di lapangan selain hipokampus.

Granula antigen pada bagian hipokampus terbanyak ditemukan pada sitoplasma sel piramida hipokampus khususnya bagian CA1 (cornua ammons 1) dan CA3 (cornua ammons 3) sedangkan pada bagian girus dentatus jarang ditemukan. Menurut Park et al. (2006) infeksi buatan pada telapak kaki mencit menunjukkan bahwa antigen virus rabies pertama kali ditemukan pada hipokampus (CA3) pada hari ke 8 dan pada CA1 pada hari ke 10; sedangkan pada girus dentatus ditemukan dalam jumlah sedikit. Inokulasi intraserebral memberikan hasil bahwa antigen virus rabies terbanyak ditemukan pada CA3, yaitu 2 hari setelah infeksi. Hal ini menunjukkan indikasi bahwa hipokampus relatif lebih lambat terinfeksi pada inokulasi perifer dibandingkan dengan inokulasi intraserebral. Sinchaisri et al. (1992) menyatakan, pada kejadian infeksi alami virus rabies dengan gejala klinis saraf yang jelas, sering mendapatkan hasil negatif dengan uji dFAT pada preparat sentuh hipokampus. Setelah dikonfirmasi dengan uji imunohistokimia, hanya ditemukan sedikit antigen pada hipokampus. Sebaliknya pada serebelum ditemukan antigen dalam jumlah banyak. Berdasarkan hasil-hasil penelitian tersebut sangat dianjurkan agar pengambilan sampel dilakukan lebih dari satu bagian otak untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.

Hasil lain dari penelitian ini menjelaskan bahwa jumlah antigen virus rabies pada bagian amígdala adalah lebih sedikit jika dibandingkan dengan

30

hipokampus. Distribusi antigen pada anjing yang terinfeksi virus rabies secara alami di India menunjukkan tidak ada perbedaan jumlah antigen antara hipokampus dan amígdala (Sujaet al. 2009). Berbeda dengan hasil penelitian ini, bahwa antigen virus rabies lebih banyak ditemukan pada hipokampus dibandingkan amígdala. Hal ini dimungkinkan karena terdapat perbedaan asal virus rabies yang ada di Indonesia dan di India. Virus rabies di Indonesia satu grup dengan isolat yang berasal dari Cina dan Filipina, sedangkan isolat dari India satu grup dengan isolat Srilangka (Sugiyama 2007). Adaptasi virus terhadap kondisi lingkungan menyebabkan virus rabies yang berasal dari daerah geografik berbeda mempunyai patogenitas yang berbeda terhadap inangnya (Suwarno 2005).

Gambar 10 Distribusi antigen pada hipokampus (a). Antigen berbentuk granula dengan bagian tengah cenderung bening pada sitoplasma sel piramida ammons horn (panah hitam); (b). Antigen berbentuk titik pada sitoplasma sel saraf serta akson dan dendrit (panah).

Amigdala berfungsi mengontrol tingkah laku sadar dan nonsadar, emosi serta tingkah laku sosioseksual sedangkan hipokampus berfungsi sebagai pusat memori. Fungsi bagian ini saling berhubungan erat dengan korteks serebrum (Sherwood 2001). Adanya lesi pada hipokampus dan amigdala pada anjing yang terinfeksi virus rabies menyebabkan peningkatan agresifitas sehingga anjing tidak mengenali lagi tuannya. Akibatnya seringkali yang menjadi korban gigitan pertama adalah keluarga pemilik atau orang yang berada disekitar anjing penderita rabies.

Mikroglia, astrosit, oligodendroglia dan ependim merupakan sel glia (neuroglia) yang terdapat pada sistem saraf pusat. Neuroglia merupakan sel

penunjang sel saraf dan pembuluh darah. Sel ini berdiameter lebih kecil dari neuron, inti tidak mempunyai nukleolus. Jumlah sel glia lebih banyak daripada sel saraf, namun hanya menempati setengah bagian dari volume otak. Pada penelitian ini didapatkan mikroglia dan astrosit pada korteks serebrum positif antigen virus rabies. Hal yang sama juga dilaporkan oleh Sujaet al. (2009) pada anjing yang terinfeksi virus rabies secara alami di India, astrosit dan oligodendroglia pada bagian medula juga mengandung antigen virus rabies. Hal ini menunjukkan bahwa virus rabies juga dapat menginfeksi sel-sel yang lain selain sel saraf.

Distribusi antigen pada kelenjar saliva menunjukkan, antigen virus rabies dalam bentuk massa yang tebal pada sel epitel asinus kelenjar mandibula (Gambar 11a), sedangkan pada kelenjar parotis antigen ditemukan pada lumen duktus striata dengan bentuk titik dan granula (Gambar 11b). Dierks et al. (1969) melakukan pemeriksaan fluorescence terhadap kelenjar saliva serigala yang diinfeksi virus rabies, menemukan masa antigen virus dalam jumlah besar pada bagian tengah asinus; sedangkan pada bagian granular dan duktus striata antigen rabies ditemukan di lumen. Hasil selanjutnya menjelaskan bahwa virion rabies pada kelenjar saliva berbentuk seragam dan tidak ditemukan reruntuhan sel. Diduga tingkat infektifitas virusnya lebih tinggi dibandingkan yang terdapat pada jaringan saraf. Virion kelenjar saliva berkembang secara khusus dari bagian apical membran plasma pada permukaan lumen sel mukus untuk kemudian dilepaskan dalam konsentrasi yang tinggi pada saliva (Murphyet al. 2006).

Gambar 11 Antigen virus rabies pada kelenjar saliva (a). Kelenjar mandibula: Deposit antigen virus rabies pada sel epitel mukogenik (panah hitam); (b). Kelenjar parotid: antigen virus rabies pada lumen duktus striata (panah hitam).

32

Antigen virus rabies pada infeksi alami dapat ditemukan di seluruh bagian saraf pusat dan kelenjar saliva dengan bentuk yang berbeda-beda. Antigen virus pada bagian korteks serebrum dan talamus ditemukan dalam bentuk titik (Gambar 12). Ada kecenderungan bahwa antigen virus pada hipokampus berbentuk bulatan atau granula (Gambar 10a), sedangkan di kelenjar saliva antigen berbentuk seperti massa yang tebal (Gambar 11).

Gambar 12 Distribusi antigen virus rabies pada talamus dan korteks serebrum (a). Talamus: antigen pada sitoplasma neuron (panah hitam), sel glia mengandung antigen (panah orange); (b). Talamus: antigen pada prosesus neuron (panah hitam); (c). Lobus parietalis korteks serebrum. antigen virus rabies intrasitoplasma (panah orange), antigen dalam sitoplasma dan prosesus neuron (panah hitam); (d). Lobus temporalis korteks serebrum: antigen dalam sitoplasma (panah orange), sel astrosit mengandung antigen virus rabies (panah putih).

Perbedaan bentuk antigen ini menunjukkan perkembangan virus, proses replikasi dan kepadatan protein virus dalam membentuknegri bodies (Sujaet al. 2009). Selain itu perbedaan bentuk antigen diduga berhubungan dengan kandungan virus yang terdapat pada masing-masing bagian; pada daerah dengan antigen berbentuk masa yang tebal diduga memiliki jumlah virus yang lebih tinggi

dibanding antigen yang berbentuk granula. Sedangkan antigen yang berbentuk granula diduga kandungan virusnya lebih tinggi daripada bagian otak dengan antigen yang berbentuk titik (spot).

Di daerah endemik dan epidemik anjing yang diduga terinfeksi rabies setelah menggigit harus dilakukan tindakan observasi selama 14 hari. Hal ini dilakukan untuk mengetahui patogenesa penyakit sebelum anjing mati. Sampel kepala pada penelitian ini berasal dari anjing dengan sejarah setelah anjing menggigit tidak dilakukan tindakan observasi namun segera dilakukan eutanasi. Tindakan ini umum dilakukan pada setiap kejadian kasus gigitan HPR di wilayah kerja BPPV Regional II Bukittinggi. Hal ini disebabkan keluarga korban tergigit ingin secepatnya mengetahui hasil diagnosa untuk segera dilakukan tindakan pengobatan pada korban. Data penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun tanpa dilakukan tindakan observasi HPR, antigen virus rabies berhasil ditemukan pada seluruh bagian otak dan kelenjar saliva dengan intensitas yang berbeda. Diduga pada anjing yang telah menunjukkan gejala klinis rabies (menggigit), virus telah terdistribusi keseluruh bagian otak dan kelenjar ludah tanpa harus menunggu hewannya mati. Sehingga eutanasi HPR yang dilakukan segera setelah terjadi kasus gigitan merupakan tindakan yang tepat untuk menghasilkan diagnosa yang cepat dan akurat.

Dokumen terkait