• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebaran Populasi Aren ( A. pinnata) Berdasarkan Ketinggian Di Sekitar Kawasan TAHURA Bukit Barisan Wilayah Kabupaten Deli Serdang.

Pola sebaran Aren ( A. pinnata) berdasarkan ketinggian di sekitar kawasan TAHURA Bukit Barisan wilayah Kabupaten Deli Serdang dapat dilihat dari gambar dibawah ini :

Gambar 5. Peta Sebaran Aren

Berdasarkan gambar dapat dilihat ketinggian dari masing-masing plot di setiap ketinggian yang di bedakan berdasarkan warna titik plot. Tanaman aren yang tumbuh di kawasan penelitian ada tumbuh dengan sendirinya tetapi ada juga ditanam oleh masyarakat sekitar, tetapi masyarakat juga kurang membudidayakannya. Masyarakat pada umunya hanya memanfaatkan tanaman

memfaatkan tanaman aren masih kurang. Sehingga hasil yang diperoleh dari memanfaatkan tanaman aren ini masih kecil.

Pada titik yang berwarna biru ,dilakukan pengambilan sampel sebanyak 2 plot dan pada titik biru tersebut didapatkan jumlah tanaman aren yang cukup banyak yaitu berjumlah 85 batang yang terdiri dari berbagai kelas umur dan lokasinya berada diluar kawasan Tahura tetapi masih berada dalam kawasan hutan Negara.

Titik yang berwarna kuning merupakan titik pada ketinggian 800 – 1000 mdpl dan pada titik ini dilakukan pengambilan sampel sebanyak 2 plot, jumlah tanaman aren yang didapat sebanyak 40 batang dan lokasi pengambilan titik ini sudah berada dalam kawasan tahura.

Sementara titik yang berwarna merah berada dalam ketinggian 1000-1200 mdpl , pengambilan sampel yang dilakukan sama pada titik yang sebelumnya yaitu sebanyak 2 plot, dan jumlah tanaman aren yang didapat semakin sedikit yaitu berjumlah 15 batang hal ini disebabkan bahwa tanaman aren tumbuk baik pada ketinggian 500-800 mdpl sesuai dengan pernyataan Sunanto (1993), di Indonesia tanaman aren dapat tumbuh baik pada ketinggian 500-800 mdpl. Pada daerah- daerah yang mempunyai ketinggian kurang dari 500 mdpl dan lebih dari 800 mdpl, tanaman aren tetap dapat tumbuh namun produksi buahnya hanya kurang memuaskan.

Karena lokasi tempat tumbuh aren jauh dari pemukiman warga, maka masyarakat yang memfaatkan tanaman aren tidak banyak dan banyak masyarakat belum begitu antusian dalam memamfaatkan hasil dari tanaman aren sehingga produk aren yang bisa dimamfaatkan hanya niranya yang dibuat jadi gula merah dan tuak.

Jumlah tanaman aren setiap ketinggian, semakin tinggi kawasan penelitian maka tanaman aren yang ditemukan semakin sedikit. Ini di mungkinkan karena dua komponen yaitu komponen abiotik dan biotik, salah komponen abiotik yaitu iklim. Menurut Sunanto (1993), Faktor lingkungan tumbuhnya juga berpengaruh.Daerah perbukitan yang lembab dimana disekelilingnya tumbuh banyak tanaman keras , tanaman aren dapat tumbuh dengan subur dan juga tidak membutuhkan sinar matahari yang banyak sepanjang hari.

Hal inilah yang menyebabkan berkurangnya jumlah tanaman aren pada kawasan yang semakin tinggi. Pada lokasi penelitian yang dilakukan memiliki curah hujan sekitar 1200 mm. Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Perkebunan (1998), tempat tumbuh aren yang paling baik dengan curah hujan > 1200 mm.

Hal ini juga yang dapat mempengaruhi kerapatan tiap ketinggian, semakin tinggi wilayah peneyebarannya, maka respon hewan terahadap perbedaan habitat dan cuaca musiman akan mempengaruhi penyebaran tanaman aren.

Pada kondisi dilapangan untuk tanaman aren yang tumbuh alami , tanaman aren ada yang tumbuh pada lahan yang miring dan cukup terjal sehingga konsini inilah yang membuat sebagian masyarakat kurang memamfaatkannya dan untuk menuju ke tempat tumbuh tanaman aren tersebut kita harus melewati lembah atau jurang.

Walapun banyak dijumpai tanaman aren yang sudah tua atau tidak mampu berproduksi lagi yang ditandai dengan warna daun yang berubah jadi cokelat dan yang sudah banyak tumbang tetapi selalu ada tunas baru yang tumbuh disampingnya sehingga dapat dipastikan bahwa tanaman aren yang tumbuh secara alami tidak akan lenyap dialam.

Penyebaran tanaman aren di alam yang dijumpai dilokasi penelitian yaitu secara mengumpul hal ini sesuai dengan pernyataan Syafe’i (1990), Penyebaran secara berkelompok, adalah yang paling umum di alam, terutama untuk hewan. Pengelompokan ini disebabkan oleh berbagai hal yaitu Respon dari organisme terhadap perbedaan habitat secara local dan respon dari organisme terhadap perubahan cuaca musiman akibat dari cara atau proses reproduksi atau regenerasi .

Pemanfaatan Tanaman Aren Oleh Masyarakat Desa Bukum dan Suka Maju Tanaman aren (A. pinnata) yang dimanfaatkan masyarakat digunakan untuk mencukupi pendapatan rumah tangga dan ada sebagian untuk digunakan pada kalangan sendiri. Jenis pemanfaatan tanaman Aren (A. pinnata) oleh masyarakat Desa Bukum dan Suka Maju yaitu gula merah dan tuak.

Tabel 3. Jenis Pemamfaatan Aren (A. pinnata) oleh masyarakat Desa Suka Maju dan Desa Bukum

No Hasil Aren MeManfaatkan (orang) Persentase (%)

Bukum Suka Maju

1 Gula Merah 17 27 68

2 Tuak 8 13 32

Di dua Desa ini, masyarakat sekitar memanfaatkan aren sebagian besar untuk membuat gula merah. Masyarakat mengambil nira dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari, sebagian untuk membuat tuak dan sebagian lagi untuk membuat gula merah, setiap air nira yang diambil pagi hari yang masih belum mencukupi untuk dibuat gula merah harus dipanasi hingga digabung dengan air nira yang diambil pada sore harinya , ini dilakukan agar air niranya tidak basi.

Dan untuk pembuatan tuak , masyarakat pemanfaat aren tinggal mengambil nira yang sudah terkumpul dan dicampur dengan raru yang sudah disediakan.

Gula Merah

Air nira dapat manfaatkan oleh masyarakat untuk dijadikan gula merah. Air nira yang telah diambil dimasukkan ke dalam satu wadah (wajan) yang diletakkan di atas tungku api kemudian dimasak. Pemasakan dilakukan hingga air nira menjadi kental dan berubah warna dari bening menjadi merah. Proses pemasakan ini membutuhkan waktu sekitar 2- 3 jam.

Setelah masak, air nira yang kental dimasukkan kedalam cetakan. Cetakan ini terbuat dari bambu yang dipotong melebar dengan tinggi sekitar 10 cm dan ditunggu hingga mengeras. Biasanya proses ini membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Harga gula merah Rp18.000/kilogram merupakan harga yang sesuai .

Gambar 6. Nira yang akan dimasak Gambar 7. Nira yang sudah mengental

Masalah yang dihadapi dalam proses pembuatan nira menjadi gula merah ini adalah produksi nira dari tanaman aren sendiri kurang maksimal disebabkan oleh pokok tanaman aren kurang dirawat dengan baik dan ada juga hama yang melanda berupa monyet, musang, serta tikus. Dan juga kayu bakar yang minim dan cukup mahal yang dibutuhkan selama proses pemasakan.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 44 orang atau 68% dari jumlah responden penduduk Desa Bukum dan Suka Maju ikut memanfaatkan gula merah, rata-rata total pembuatan dalam sebulan pada kedua desa tersebut sekitar 210 Kg/ Bulan.

Gula merah yang dihasilkan pada desa Bukum dan Suka maju merupakan gula merah yang asli atau dengan kata lain memiliki kualitas yang bagus karena murni dimasak seutuhnya dari nira yang diambil tanpa ada campuran tambahan.

Tuak

Tuak adalah minuman beralkohol yang terbuat dari air nira aren. Minuman ini pembuatanya masih tradisional ,tetapi peminat dari tuak ini cukup banyak dan kebanyakan dari kalangan orang batak, hal ini dikarenakan bahwa tuak merupakan minuman yang memiliki rasa dan bau yang khas yang banyak memikat peminumnya. Tuak biasanya paling enak diminum saat malam dan lagi berkumpul dengan teman-teman. Efek dari tuak hamper sama dengan minuman beralkohol yang lainnya, memabukkan dan memberikan rasa panas di badan.

Pada prosesnya air nira diambil dari pokoknya yaitu tanaman aren,nira diambil dari pelepah tanaman aren yang sudah dipotong dan ditampung dengan menggunakan bambu yang sudah dibentuk sedemikian rupa untuk tempat nira, setelah itu masyarakat memanjat pokok aren dengan menggunakan batang bambu

yang besar serta panjang yang sudah diikat dengan batang aren dengan menggunakan tali pengikat dan disetiap bagian bilur batangnya dibuat lubang tempat pemijakan.

Gambar 11. Pemanjatan Poho Aren Gambar 12. Pengambilan Nira

Pada dasarnya pembuatan tuak tidak terlalu sulit, air nira di biarkan lebih kurang satu hari saja pasti menjadi tuak. Sunanto (1993) mengatakan nira aren segar yang manis itu jika dibiarkan masih di dalam bumbung bambu akan mengalami proses fermentasi. Akan tetapi kualitas atau rasa tuak kurang enak, ada bahan yang harus dicampurkan. bahan yang digunakan adalah raru yang merupakan salah satu jenis kulit tanaman, dan sebagian besar raru yang didapat didatangkan dari Pekanbaru dengan nama istilah “Raru Sibolga”.

Air Nira yang sudah dicampur dengan raru , rasanya akan berubah total menjadi sepat atau pahit . Air nira yang berwarna bening menjadi kuning kecoklatan, harumnya pun juga berubah.

Tuak juga memberikan efek ketergantungan, sehingga orang yang sering meminum tuak, akan selalu ingin meminumnya lagi. Masyarakat yang telah ketergantungan tuak mengatakan, jika tidak meminum tuak secara berlebihan maka efek yang di dapat antara lain tidak selera makan dan tidak enak tidur, tetpai apabila diminum tidak berlebihan maka akan maka efek yang ditimbulkan adalah tidur menjadi nyeyak .

Gambar 15. Raru yang sudah diiris.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 21 orang atau 32% dari jumlah responden penduduk Desa Bukum dan Suka Maju ikut memanfaatkan tanaman aren untuk membuat tuak , rata-rata pembuatan dalam sebulan sekitar 450 liter/ Bulan.

Kualitas tuak yang dihasilkan dari desa Bukum dan Suka Maju cukup baik tetapi tergantung kondisi iklim yang ada didaerah tersebut . Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan kepada beberapa responden peminum tuak, tuak dari desa Bukum dan Suka Maju yang kualitas baik apabila dibawa ke Medan belum tentu masih tetap kulaitas baik dikarenakan perbedaan suhu kedua daerah.

Sehingga untuk mengatisipasinya , tergantung pada kamampuan sipengelola tuak meracik atau mencampur nira dengan raru yang dipakai.

Nilai Ekonomi Hasil Aren

Nilai ekonomi adalah nilai suatu barang atau jasa jika diukur dengan uang. Nilai ekonomi hasil aren dapat juga diartikan sebagai nilai / harga hasil aren yang dimanfaatkan yang dapat ditukarkan dengan uang. Aren termasuk sumber daya hutan yang nilai ekonomi yang sangat menjanjikan. Ichwandi (1996) mengatakan bahwa penelitian ekonomi sumber daya hutan adalah suatu metode atau teknik untuk mengekstimasi nilai uang dari barang atau jasa yang diberikan oleh suatu kawasan hutan.

Nilai ekonomi hasil aren diperoleh dari perkalian total pengambilan per jenis pertahun dengan harga perjenis. Hasil penelitian (lampiran 3) menunjukkan bahwa nilai ekonomi dari hasil pemanfaatan aren oleh masyarakat Desa Bukum dan Suka Maju Kecamatan Bandar Baru sebesar Rp 1.166.616.000 di tahun 2013. Nilai ini diperoleh dari pemanfaatan hasil aren seperti gula merah dan tuak.

Jenis pemanfaatan aren yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan masyarakat adalah gula merah dengan nilai ekonomi sebesar Rp 924.696.000,- atau persentase jenis sebesar 68% dari jumlah total keseluruhan nilai hasil aren yang dimanfaatkan. Hal ini disebabkan karena frekuensi pengambilan sebanyak 36 kali dalam setahun dan harga jual gula merah juga sangat tinggi yaitu sebesar Rp 18.000,- persatuan unitnya (kg). Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 2

Pemanfaatan aren yang memiliki kontribusi lain yaitu : tuak sebesar Rp 241.920.000,- atau 32 % dan frekuensi pengambilannya sebesar 48 kali dalam

setahun serta harga jual dari tuak yang dihasilkan sebesar Rp.1.400,- per satuan unitnya (liter) dan hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 2.

Tabel 4. Persentase Nilai Ekonomi Hasil Aren yang Dimanfaatkan Masyarakat No Jenis Pemamfaatan Aren Jumlah (Rp) Persentase NE

(%)

1 Gula Merah 924.696.000 68

2 Tuak 241.920.000 32

Total 1.166.616.000 100

Hal ini juga dapat dilihat selengkapnya pada lampiran 2. Besar dan kecilnya nilai ekonomi hasil pemanfaatan aren tergantung kepada jumlah pengambilan, frekuensi pengambilan dan harga tiap satuan jenis hasil aren.

Masyarakat di desa Bukum dan Suka Maju belum secara maksimal memamfaatkan hasil atau produk dari tanaman aren tersebut, terbukti masyarakat pemamfaat tanaman aren masih hanya memamfaatkan niranya saja dengan produk turunannya ialah gula merah dan tuak , didukung dengan permintaan akan gula merah dan tuak selalu ada dan berkelanjutan.

Sehingga untuk memamfaatkan produk tanaman aren yang lain seperti kolang-kaling dan ijuk seperti terabaikan dikarenakan permintaan untuk kedua produk tersebut tidak ada atau jarang ada permintaan didukung juga karena pengetahuan akan pengelolaan akan kolang-kaling dan ijuk belum paham.

Pada produk kolang-kaling, dari hasil wawancara yang dilakukan pada responden pemamfaat tanaman aren, masalah yang dihadapi diantaranya adalah permintaan akan kolang-kaling hanya pada bulan tertentu saja seperti lebaran dan tahun baru. Dan untuk pengelolaanya cukup sulit karena apabila salah prosedur maka kolang-kaling yang dihasilkan akan rusak atau kualitas yang buruk sehingga tidak memiliki harga jual.

Sedangkan untuk produk ijuk, permintaan konsumen atau pengumpul jarang atau tidak ada ke desa Bukum dan Suka Maju, sehingga masyarakat yang memamfaatkan tanaman aren tidak begitu tertarik atau tidak memamfaatkan ijuk dari tanaman tersebut.

Oleh karena kondisi tersebut maka petani yang memamfaatka tanaman aren di desa Bukum dan Suka Maju hanya mengelola produk yang bisa menjanjikan atau menambah pengahasilan sehingga dapat dikelola secara turun temurun.

Dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap masyarakat pemamfaat tanaman aren, yang paling besar mendapat kontribusi nilai terhadap pendapatan ialah bapak Dian Ginting karena bertindak sebagai pengumpul tuak yaitu sebesar Rp.90.720.000,- per tahun. Dan petani aren yang mendapat kontribusi dari tanaman aren yang palin sedikit ialah bapak Hendrianus Barus dan Candra Barus sebesar Rp. 4.704.000,- , disebabkan karena tidak memiliki pokok aren yang cukup banyak dan hanya memamfaatkan yang tumbuh di alam saja.

Kontribusi Nilai Ekonomi Aren Terhadap pendapatan Masyarakat

Aren (A. pinnata) memberikan mamfaat kepada masyarakat baik itu dari segi ekonomi maupun dari segi ekologi. Kontribusi nilai ekonomi aren terhadap pendapatan masyarakat sebesar 44,23% dari total keseluruhan pendapatan yaitu Rp.1.166.616.000,-. Nilai ini hanya berasal dari salah satu produk aren yaitu nira yang diolah menjadi gula merah dan tuak, gula merah memberikan nilai kontribusi sebesar 35,06% dari seluruh total pendapatan masyarakat yang memanfaatkan tanaman aren yaitu 924.696.000.

Sedangkan tuak memberikan nilai kontribusi sebesar 9,17% dari total seluruh pendapatan masyarakat pemanfaat tanaman aren yaitu 241.920.000. Sehingga apabila diolah secara maksimal maka dapat dipastikan total pendapatan dari aren akan bertambah. Dari hasil yang diperoleh bahwa bukan hanya aren yang merupakan mata pencaharian utama masyarakat di desa tersebut, tetapi masih ada mata pencaharian lain yang utama juga.

Mata pencaharian utama masyarakat selain aren memiliki kontribusi sebesar 55,77% dari total seluruh pendapatan masyarakat yaitu 1.470.638.000,- yang berasal dari berbagai tingkat pekerjaan seperti bersawah, menanam kopi, cabai, karet, menanam jagung ,berkerja sebagai honor, dan PNS. Dari bersawah memberikan kontribusi sebesar 25,72% yaitu Rp.678.408.000,-, untuk kontribusi kopi sebesar 15,35% yaitu Rp.404.916.000,- untuk kontribusi cabai sebesar 3,19% yaitu Rp.84.242.000,-.

Untuk kontribusi tanaman Karet sebesar 1,93% yaitu Rp. 51.072.000,-, untuk kontribusi Tanaman jagung sebesar 0,45% yaitu Rp.12.000.000,-,untuk kontrisi dari pendapatan sebagai honor sebesar 2,95% yaitu Rp.78.000.00,-,Dan untuk kontribusi sebagai PNS sebesar 6,14% yaitu Rp.162.000.00,- Dan pendapatan masyarakat yang paling besar selain dari tanaman aren ialah bertani yaitu sebesar Rp.678.408.000,- karena mayoritas masyarakat di desa Bukum dan Suka Maju adalah bertani.

Setelah melakukan wawancara dan menganalisis data, ternyata kontribusi dari tanaman aren terhadap pendapatan masyarakat petani aren di desa Bukum dan Suka Maju sangatlah besar dan merupakan mata pencaharian yang menjanjikan dan turun- temurun.

Jalur Pemasaran Hasil Aren oleh Masyarakat

Nilai ekonomi juga tercipta karena adanya pasar. Bahkan besar dari pada nilai tersebut dapat dipengaruhi oleh kondisi pasar, maksudnya banyak permintaan atau penawaran yang ada. Hal ini didukung oleh pernyataan Wirakusumah (2003), pasar merupakan jawaban terhadap masalah-masalah ekonomi yang secara konsekuensi ditempuh dalam sistem ekonomi bebas karena di pasarlah terjadi interaksi antara produsen dan konsumen secara leluasa.

Setiap pihak memutuskan sendiri berapa banyak komoditi yang akan dibeli atau dijual dan pada tingkat harga yang mana transaksi pembelian/penjualan itu diputuskan yang biasanya disebut harga pasar.

Lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran adalah tengkulak, pedagang besar, agen penjualan dan pengecer (Soekartawi, 2002). Jalur pemasaran manfaat hasil aren pada kawasan Desa Bukum dan Suka Maju tidak terlalu banyak melibatkan lembaga atau pelaku pasar. Umumnya jalur pemasaran pemanfaatan hasil aren pada kawasan Desa Bukum dan Suka Maju hanya melibatkan pengumpul pertama dan pengecer. Jumlah masyarakat yang menjadi pengumpul cukup banyak. Pengumpul Pertama sudah mengolah hasil aren seperti menjadi gula merah dan tuak. Pada tingkat pengecer hasil pemanfaatan nira yang diperoleh sudah dalam bentuk olahan seperti menjadi gula merah dan tuak. Pengecer ada yang dari dalam desa ada juga yang dari luar desa.

Gula Merah .

Pada pemasaran untuk air nira yang telah diolah menjadi gula merah , dapat dilihat pada gambar 7. Gambar 7 menunjukkan Pengumpul mendapatkan

gula merah dari rumah pembuat gula, pengumpul lalu memasarkanya ke pengecer, proses ini terjadi di pasar dari pengecer lalu gula di pasarkan ke konsumen.

Gambar 7. Jalur Pemasaran Gula merah .

Pengumpul merupakan individu yang memiliki modal besar, karena dia akan mengumpulkan barang-barang yang dibelinya lalu dijual kembali kepengecer atau pedagang kecil. Biasanya yang menjadi pengumpul di sebut sebagai toke. Toke bukan penduduk asli desa, melainkan orang luar yang datang membeli. Dari toke inilah lalu gula aren di pasarkan ke pengecer atau pedagang kecil, yang di sebut pengecer adalah warung-warung atau kedai-kedai kecil.

Air nira yang telah diolah menjadi gula merah dipasarkan dengan harga Rp18.000/kilogram.

Tuak

Untuk air nira yang diolah untuk minuman beralkohol atau biasa di sebut sebagai tuak, tidak hanya dipasarkan hanya didalam desa tetapi ada keluar desa bahkan lekuar kecamatan . Terkadang tidak ada perantara antara pembuat tuak dan konsumen. Konsumen biasanya membeli tuak langsung ke pembuat tuak tersebut. Hal ini terjadi karena konsumen lebih percaya kepada pembuat langsung karena tuak yang dihasilkan masih asli, makanya konsumen langsung membeli langsung ke rumah pembuat tuak.

Pengumpul Air Nira Pembuat Gula Merah Pengumpul Pengecer Konsumen

Gambar 8. Jalur Pemasaran Tuak

Tuak juga di pasarkan lewat pengecer, yang menjadi pengecer adalah kedai tuak. Biasanya ramai pada malam hari, ada juga yang membelinya untuk dibawa pulang, di minum di tempat lain. Konsumen tuak ini umumnya meminum tuak dengan makanan lain seperti kacang atau daging atau sering di sebut juga dengan tambul.

Tuak dipasarkan dengan harga Rp 4.000 per botol atau Rp 3000/ liter, umumnya yang menjadi konsumen adalah orang dewasa Tuak biasanya di minum saat malam hari.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapat juga beberapa manfaat aren yang belum dimanfaatkan maupun yang tidak dimanfaatkan. manfaat aren tersebut antara lain daun aren, rambut aren (ijuk), batang aren, buah aren dan akar aren. Berdasarkan hasil wawancara manfaat aren ini tidak dimanfaatkan karena kurangnya pengetahuan mengenai pengolahannya dan harga jualnya yang relatif rendah di bandingkan dengan manfaat aren yang telah dimanfaatkan. Pengumpul Nira Pembuat Tuak Pengecer Konsumen Pengumpul Nira Pembuat Tuak Konsumen

Dokumen terkait