• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Umum

Curah hujan selama penelitian berkisar antara 90 mm bulan-1 sampai 374 mm bulan-1 dengan rata-ratanya 244 mm bulan-1. Temperatur rata-rata bulanan 25°C sampai 26.3°C dengan kelembaban udara bulanan antara 79% sampai 99% (Lampiran 1 ). Curah hujan dan kelembaban udara terendah terjadi pada bulan Juni dengan nilai masing-masing 90 mm bulan-1 dan 79%, sedangkan curah hujan dan kelembaban udara tertinggi terjadi pada bulan Februari dengan nilai masing-masing 346 mm bulan-1 dan 88%.

Penanaman bibit dilakukan berdasarkan perlakuan jumlah bibit, yaitu 1, 5, 10, 15 dan 20 bibit per lubang. Kondisi awal tanaman dengan jumlah bibit 5, 10, 15 dan 20 cukup baik, tanaman mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Pertumbuhan perlakuan 1 bibit per lubang mengalami stagnansi, layu dan warna daun menguning. Tanaman yang mengalami pertumbuhan kurang baik, rusak atau mati harus segera diganti dengan bibit yang baru. Penyulaman dapat dilakukan pada 7 hari setelah tanam (HST). Penyulaman dilakukan bertujuan untuk mengganti tanaman yang mati, rusak dan mengisi sela ruang yang tidak tertanami saat penanaman padi.

Tanaman diserang oleh hama keong mas (Pomacea canaliculata) saat tanaman berumur 1-3 MST. Hama ini menyerang dengan cara memotong dan memakan bagian tajuk pada tanaman padi sehingga menyebabkan tanaman padi rusak bahkan sampai hilang dari pertanaman. Hama keong mas paling parah menyerang tanaman dengan perlakuan 1 bibit per lubang tanam, sedangkan pada perlakuan 20 bibit per lubang hama keong mas tidak terlalu merusak tanaman. Upaya pengendalian dilakukan sejak sebelum penanaman bibit dengan mengeringkan lahan, membuat saluran air pada petak penelitian dan memunggut secara manual keong mas dari lahan sawah. Penyulaman juga dilakukan untuk mengganti tanaman yang rusak akibat serangan keong mas. Saat tanaman berumur 4 MST, serangan hama keong mas mulai menurun karena pertumbuhan tanaman padi sudah tinggi dan tajuk sudah kuat.

8

Serangan hama putih palsu (Cnaphalocrosis medinalis) terlihat pada awal pertanaman, namun tidak terlalu berpengaruh pada kondisi pertanaman padi. Serangan hama walang sangit (Leptocorisa oratorius) terjadi pada fase masak susu. Hama ini menyerang padi dengan cara menusuk dan menghisap cairan yang terdapat dalam bulir padi. Serangan ini mengakibatkan bulir padi menjadi kosong dan berwarna kuning kecoklatan. Serangan walang sangit ini cukup banyak karena kondisi lahan padi sekitar lahan penelitian mulai dipanen, sehingga hama walang sangit berpindah dan menyerang tanaman pada penelitian ini. Upaya pengendalian serangan ini dengan satu kali aplikasi insektisida dengan dosis 1 L ha-1 pada saat malai padi keluar yaitu 8 MST. Hama lain yang menyerang adalah belalang hijau (Oxya chinensis) dan kepik hijau (Nezara viridula). Serangan hama ini tidak terlalu parah dibandingkan dengan serangan walang sangit. Belalang menyerang daun padi dengan cara menggigit dan mengunyah sedangkan kepik hijau menusuk dan menghisap cairan pada daun padi. Kerusakan yang ditimbulkan oleh belalang adalah daun padi robek atau koyak sedangkan yang ditimbulkan kepik hijau warna daun menjadi pucat, terbentuk noda bahkan mengering.

Hama lain yang menyerang adalah burung pipit. Hama burung pipit menyerang pada saat padi mulai menguning. Serangan burung pipit terjadi hampir setiap pagi dan sore hari. Burung pipit menyerang dengan cara berkelompok dan sulit dikendalikan. Hama ini memakan bulir padi yang masak penuh sehingga menyisakan batang-batang padi kosong dan mengering. Kerusakan paling parah terjadi pada tanaman pinggir. Intensitas serangan hama ini sangat tinggi karena lahan sekitar penelitian sudah dipanen, sehingga hama ini terkonsentrasi pada lahan penelitian ini. Pengaruh serangan hama ini dapat menurunkan hasil padi sawah. Upaya pengendaliannya dengan memasang jaring pada pinggiran tanaman dan mengusir secara manual burung pipit ketika akan menyerang.

Gulma yang terdapat pada areal penelitian terdiri dari gulma rumput dan gulma berdaun lebar. Jenis gulma rumput yang ditemukan adalah gulma jajagoan

(Echinochloa crusgalli) dan gulma bobontengan (Leptochloa chinensis)

Pengendalian gulma dilakukan secara manual pada 3 MST dengan cara mencabut dan memotong dengan sabit kecil hingga tidak terlihat lagi pada lahan penelitian. Pematang sawah juga dibersihkan pada 6 MST yang bertujuan untuk memudahkan berjalan saat perawatan. Penyakit yang menyerang adalah penyakit tungro namun secara umum hanya sedikit menyerang kecuali pada perlakuan 1 bibit per lubang tanam. Pemanenan dilakukan pada saat padi berumur 112 HST dengan cara manual. Padi dipotong bawah kemudian dirontokkan dengan cara digebot.

Analisis Kandungan Hara Tanah

Analisis kandungan hara tanah dilakukan sebelum dan setelah panen. Sebelum penelitian dilakukan pengambilan sampel tanah awal dengan pengambilan contoh tanah secara komposit. Setelah penelitian sampel tanah diambil pada masing-masing petak perlakuan dan dilakukan secara komposit. Analisis kandungan hara tanah dilakukan terhadap kandungan N total, P total dan K total (Tabel 1).

9 Tabel 1 Hasil analisis kandungan hara tanah sebelum dan setelah penelitian

Perlakuan Peubah Kriteria

N Total (%) Sebelum 0.24 Sedang Setelah (N kg ha-1) 90 0.19 Rendah 120 0.19 Rendah 150 0.20 Rendah 180 0.21 Sedang P Total (ppm)

Sebelum 5.39 Sangat rendah

Setelah (N kg ha-1) 90 4.12 Sangat rendah 120 4.84 Sangat rendah 150 3.63 Sangat rendah 180 3.78 Sangat rendah K Total (me/100g) Sebelum 0.96 tinggi Setelah (N kg ha-1) 90 0.28 Sedang 120 0.34 Sedang 150 0.36 Sedang 180 0.46 Sedang

Keterangan: analisis tanah tidak dilakukan uji statistik.

Berdasarkan kriteria sifat tanah berdasarkan sifat PPT dalam Amrah (2008), hasil analisis tanah sebelum penelitian menunjukan bahwa N total sedang, P total sangat rendah dan K total tinggi. Hasil analisis tanah pada akhir penelitian mengalami penurunan pada semua unsur hara yang dianalisis, namun terdapat kecenderungan bahwa peningkatan dosis pupuk N akan meningkatkan kandungan hara N total dan K total pada akhir penelitian.

Rekapitulasi Sidik Ragam

Hasil rekapitulasi sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk N berpengaruh sangat nyata terhadap peubah pertumbuhan tanaman seperti tinggi tanaman pada 6 MST, bagan warna daun pada 4 dan 6 MST, serta pada komponen hasil seperti persentase gabah bernas dan hampa. Perlakuan dosis pupuk N berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan pada 4 MST dan bobot basah ubinan. Perlakuan jumlah bibit berpengaruh sangat nyata pada peubah pertumbuhan tanaman seperti tinggi tanaman, jumlah anakan, biomassa kering tanaman, serta pada komponen hasil dan hasil seperti jumlah anakan produktif , bobot basah ubinan, bobot kering ubinan, GKP dan GKG. Perlakuan jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap jumlah gabah per malai dan bobot 1000 butir. Interaksi antara perlakuan dosis pemupukan N dengan jumlah bibit per lubang tanam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada saat 7 MST (Tabel 2). Nilai koefisien keragaman menunjukkan tingkat ketepatan perlakuan dalam suatu percobaan dan menunjukkan pengaruh lingkungan dan faktor lain yang tidak dapat dikendalikan

10

dalam percobaan. Nilai KK yang tinggi menunjukkan semakin rendah nilai keandalan suatu percobaan, sedangkan KK yang rendah menunjukkan semakin tinggi keandalan sutu percobaan (Gomez dan Gomez 1995).

Tabel 2 Rekapitulasi sidik ragam pengaruh dosis pupuk N dan jumlah bibit terhadap pertumbuhan dan hasil pada padi tipe baru IPB 3S

Peubah Dosis Pupuk N Jumlah bibit Interaksi Koefisien Keragaman (%) Pertumbuhan Tanaman Tinggi Tanaman 3 MST tn ** tn 5.76 4 MST tn ** tn 5.87 5 MST tn ** tn 4.54 6 MST ** ** tn 3.41 7 MST tn ** * 3.32 Jumlah Anakan 3 MST tn ** tn 15.03 4 MST * ** tn 14.39 5 MST tn ** tn 9.93 6 MST tn ** tn 8.64 7 MST tn ** tn 7.78

Bagan Warna Daun

3 MST tn tn tn 9.62 4 MST ** tn tn 7.53 5 MST tn tn tn 6.14 6 MST ** tn tn 6.25 7 MST tn tn tn 3.24 Biomassa kering (14 MST) tn ** tn 27.21 Laju fotosintesis tn tn tn 17.67

Komponen Hasil dan Hasil

Jumlah anakan produktif tn ** tn 14.42

Jumlah gabah per malai tn * tn 10.89

Bobot 1000 butir tn * tn 2.34

Bobot kering gabah per rumpun tn tn tn 14.04

Gabah bernas ** tn tn 5.96

Gabah hampa ** tn tn 25.68

Bobot basah ubinan * ** tn 15.58

Bobot kering ubinan tn ** tn 14.76

Gabah kering panen tn ** tn 15.58

Gabah kering giling tn ** tn 17.76

11

Pertumbuhan Tanaman

Tinggi tanaman

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk nitrogen berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada saat 6 MST. Perlakuan jumlah bibit berpengaruh nyata dari 3-7 MST terhadap tinggi tanaman. Aplikasi dosis 180 kg N ha-1 pada saat 6 MST menghasilkan tinggi tanaman paling tinggi jika dibandingkan dengan dosis 150 kg N ha-1 , namun tidak berbeda nyata dengan dosis 90 dan 120 kg N ha-1. Perlakuan jumlah bibit 15 per lubang pada akhir pengamatan menghasilkan tinggi tanaman paling tinggi jika dibandingkan dengan jumlah bibit 1,5, dan 20 bibit per lubang tanam, namun tidak nyata meningkatkan tinggi tanaman jika dibandingkan dengan 10 bibit per lubang tanam.

Terdapat kecenderungan bahwa apabila jumlah bibit yang ditanam banyak maka tinggi tanamannya lebih tinggi daripada perlakuan jumlah bibit sedikit, namun jika ditanam melebihi 15 bibit per lubang tanam akan menurunkan tinggi tanaman. Hal ini terjadi karena jumlah anakan yang banyak dan rapat menyebabkan anakan tidak semuanya mendapat sinar matahari sehingga terjadi etiolasi. Etiolasi terjadi karena adanya produksi dan distribusi auksin yang tinggi, sehingga merangsang pemanjangan sel yang mendorong meningkatnya tinggi tanaman (Gardner et al 1985). Jumlah bibit sedikit mengalami pertumbuhan yang melebar dan memperbanyak jumlah anakannya. Hal ini sesuai dengan penelitian Burbey et al. (2014) mengatakan bahwa penanaman jumlah bibit 1 per lubang memperlihatkan pertumbuhan yang melebar, sedangkan jumlah bibit banyak memperlihatkan pertumbuhan yang cenderung meninggi.

Tabel 3 Pengaruh dosis pupuk N dan jumlah bibit terhadap tinggi tanaman

Perlakuan Umur Tanaman (MST)

3 4 5 6 7 ...cm... Dosis (Kg) 90 53.43 67.27 82.72 98.25ab 107.41 120 53.16 66.85 83.41 97.49ab 107.92 150 51.37 65.12 79.73 94.80b 105.22 180 52.21 66.05 81.98 98.71a 108.85 Jumlah Bibit 1 46.20d 60.60c 76.65b 90.91c 100.20c 5 49.27c 65.08b 81.23a 96.67b 105.97b

10 53.50b 66.75ab 84.02a 99.48ab 110.28a

15 57.18a 69.82a 84.15a 100.85a 111.57a

20 56.57a 69.35a 83.76a 98.65ab 108.97b

Interaksi tn tn tn tn **

Keterangan: angka-angka sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT taraf 5 %.

Hasil analisis regresi penggunaan bibit per lubang tanam nyata pada 3 dan 4 MST. Pola yang dihasilkan adalah linier dengan persamaan Y = 0.5932x + 46.494 R² = 0.9066 (3 MST) dan Y = 0.457x + 61.658 R² = 0.8628 (4 MST). Hasil ini

12

menunjukkan bahwa penggunaan bibit per lubang tanam semakin tinggi akan meningkatkan tinggi tanaman padi pada saat umut 3 dan 4 minggu setelah tanam.

Gambar 1 Hubungan antara jumlah bibit dengan tinggi tanaman pada saat 3 dan 4 MST

Terdapat interaksi antara dosis pemupukan N dan jumlah bibit per lubang tanam pada saat 7 MST. Interaksi antara dosis pupuk N dan jumlah bibit secara umum menunjukkan hasil yang tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Interaksi antara dosis 90 kg N ha-1 dengan bibit 1 per lubang menunjukkan hasil yang nyata lebih tinggi jika dibandingkan dengan interaksi dosis 120 kg N ha-1 dengan jumlah bibit yang sama, namun tidak berbeda nyata dengan dosis 150 dan 180 kg N ha-1 .

Tabel 4 Pengaruh interaksi dosis pupuk N dan jumlah bibit terhadap tinggi tanaman pada saat 7 MST

Perlakuan

Jumlah bibit

1 5 10 15 20

Dosis N (kg) ...cm... 90 108.07abc 105.73abc 109.00abc 109.00abc 108.87abc 120 94.53d 109.87ab 111.53ab 113.867a 109.80ab 150 97.87cd 104.80abcd 107.40abc 109.53ab 106.53abc 180 100.33bcd 100.33bcd 113.20a 114.00a 113.20a

Keterangan: angka-angka sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT taraf 5 %.

Jumlah anakan

Pengaruh dosis pemupukan N hanya berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan pada saat berumur 4 MST, sebaliknya jumlah anakan dari 3-7 MST dipengaruhi secara nyata oleh perlakuan jumlah bibit per lubang tanam. Perlakuan jumlah bibit 20 per lubang tanam nyata menghasilkan jumlah anakan lebih banyak jika dibandingkakan dengan jumlah bibit 1,5, dan 10 pada saat 3-7 MST, namun tidak berbeda nyata jika dibandingkan dengan bibit 15 per lubang tanam pada saat 5-7 MST (Tabel 5). y = 0.5932x + 46.494 R² = 0.9066 (3 MST) y = 0.457x + 61.658 R² = 0.8628 (4 MST) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 0 5 10 15 20 tin g g i tan am an ( cm ) Jumlah Bibit 3 MST 4 MST

13 Tabel 5 Pengaruh dosis pupuk N dan jumlah bibit terhadap jumlah anakan

Perlakuan Umur Tanaman (MST)

3 4 5 6 7 ...batang... Dosis (Kg) 90 13.33 15.67b 21.27 21.93 22.73 120 15.20 17.73a 22.60 23.13 23.40 150 14.13 16.00b 21.73 22.27 24.27 180 14.73 17.67a 22.07 23.67 24.60 Jumlah Bibit 1 5.83e 8.75e 15.92d 17.83d 19.67d 5 10.75d 14.00d 19.42c 21.08c 21.50c 10 14.50c 16.92c 22.50b 23.25b 24.33b

15 19.00b 20.92b 25.00a 25.58a 26.50a

20 21.67a 23.25a 26.75a 26.00a 26.75a

Interaksi tn tn tn tn tn

Keterangan: angka-angka sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT taraf 5 %.

Hasil analisi regresi hubungan penggunaan jumlah bibit per lubang tanam terhadap jumlah anakan menunjukkan pola linier dengan persamaan Y = 0.8281+5.9032 R² = 0.9845 (3 MST), Y = 0.7434x + 9.1851 R² = 0.972 (4 MST), Y = 0.5641x + 16.164 R² = 0.9741 (5 MST), Y = 0.4302x + 18.36 R² = 0.9321 (6 MST), dan Y = 0.3974x + 19.697 R² = 0.9441 (7 MST). Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan jumlah bibit semakin banyak akan meningkatkan jumlah anakannya, sehingga tanaman padi juga dapat meningkatkan jumlah anakan poduktif yang dihasilkan.

Gambar 2 Hubungan antara jumlah bibit dengan jumlah anakan

Penggunaan jumlah bibit 1 per lubang secara visual menghasilkan anakan yang relatif lebih homogen dibandingkan menggunakan jumlah bibit yang lebih banyak, sehingga tingkat keseragaman tanaman relatif lebih baik (Burbey et al.

y = 0.8281x + 5.9032 R² = 0.9845 (3 MST) y = 0.7434x + 9.1851 R² = 0.972 (4 MST) y = 0.5641x + 16.164R² = 0.9741 (5 MST) y = 0.4302x + 18.36R² = 0.9321 (6 MST) y = 0.3974x + 19.697R² = 0.9441 (7 MST) 0 5 10 15 20 25 30 0 5 10 15 20 Jum lah anaka n Jumlah bibit 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST 7 MST

14

2014). Anakan yang terbentuk dari jumlah bibit 1 adalah anakan primer, sekunder dan tersier, sebaliknya pada perlakuan jumlah bibit banyak yang terbentuk kemungkinan anakan primer, sedangkan anakan sekunder dan tersier tidak mampu berkompetisi dan mati. Menurut Sumardi (2010), padi bersifat merumpun melalui pembentukan anakan, maka penanaman dengan jumlah bibit banyak dan rapat mengakibatkan ruang tumbuh yang terbatas dan menghambat pertumbuhan anakan.

Bagan warna daun

Bagan Warna Daun (BWD) berguna untuk mengetahui kecukupan N pada tanaman padi sehingga dapat diketahui apakah tanaman perlu diberikan pupuk N atau tidak dan berapa takaran N yang perlu diberikan (Amirullah 2014). Perlakuan dosis pupuk N nyata mempengaruhi nilai bagan warna daun pada saat 4 MST dan 6 MST, tetapi pada 6 MST masing-masing perlakuan tidak menghasilkan hasil yang nyata setelah di uji lanjut dengan DMRT. Dosis 90 kg N ha-1 menghasilkan nilai bagan warna daun paling rendah jika dibandingkan perlakuan dosis lainnya, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan 150 dan 180 kg N ha-1. Umur 4 MST merupakan fase pembentukan anakan aktif dan umur 6 MST tanaman padi menuju ke fase primordia sehingga membutuhkan pupuk N yang cukup besar. Perlakuan jumlah bibit per lubang tanam tidak berpengaruh pada nilai bagan warna daun (Tabel 6).

Tabel 6 Pengaruh dosis pupuk N dan jumlah bibit terhadap bagan warna daun

Perlakuan Umur Tanaman (MST)

3 4 5 6 7 ...skor... Dosis (Kg) 90 3.00 3.53b 3.93 3.60a 4.00 120 3.20 4.00a 3.87 3.86a 4.00 150 3.27 3.93ab 4.00 4.00a 4.00 180 3.40 3.87ab 3.93 4.00a 3.93 Jumlah Bibit 1 3.25 3.92 3.91 3.92 4.00 5 3.08 3.83 4.00 3.92 4.00 10 3.25 3.92 3.92 3.92 4.00 15 3.25 3.83 3.92 3.83 4.00 20 3.25 3.67 3.92 3.75 3.92 Interaksi tn tn tn tn tn

Keterangan: angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata menurut uji DMRT taraf 5%.

Panjang akar, biomassa kering tanaman dan laju fotosintesis

Perlakuan dosis pupuk N tidak berpengaruh terhadap panjang akar dan bobot biomassa kering tanaman pada saat 14 MST. Perlakuan jumlah bibit per lubang tanam tidak berpengaruh pada panjang akar, tetapi berpengaruh sangat nyata pada biomassa kering tanaman. Jumlah bibit 1 per lubang tanam menghasilkan biomassa kering tanaman lebih tinggi jika dibandingkan dengan

15 perlakuan jumlah bibit 10, 15, dan 20 bibit per lubang tanam, namun tidak berbeda nyata dengan jumlah bibit 5 per lubang tanam. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah bibit yang digunakan akan menurunkan biomassa kering tanaman padi.

Perlakuan jumlah bibit 1 per lubang tidak terjadi persaingan antar anakan dalam rumpun sehingga batang dan tajuk yang dihasilkan lebih besar dan kuat. Persaingan antar anakan dalam rumpun dalam memanfaatkan hara, cahaya dan ruang tumbuh terjadi pada perlakuan jumlah bibit yang banyak. Meskipun jumlah anakan banyak namun pertumbuhan batang dan tajuk kecil dan busuk pada bagian tengahnya.

Laju fotosintesis tanaman padi diukur pada saat masak susu atau 9 MST. Perlakuan dosis pupuk N dan jumlah bibit tidak berpengaruh pada laju fotosintesis, namun jika dilihat nilai laju fotosintesis semakin menurun dengan peningkatan dosis pupuk N. Penelitian yang dilakukan Hidayati (2015) menunjukkan nilai laju fotosintesis pada padi varietas Ciherang berkisar pada 15-20 µmol CO2 m-2 s-1, sedangkan pada penelitian ini yang menggunakan varietas IPB 3S berkisar 38-44 µmol CO2 m-2 s-1. Laju fotosintesis yang dihasilkan oleh varietas IPB 3S lebih besar daripada varietas Ciherang. Long et al. (2006) mengatakan terdapat hubungan erat antara peningkatan fotosintesis, biomassa, dan hasil. Peningkatan laju fotosintesis akan meningkatkan produksi hasil tanaman padi dan sebaliknya, penurunan laju fotosintesis akan menurunkan produksi tanaman padi.

Tabel 7 Pengaruh dosis pupuk N dan jumlah bibit terhadap panjang akar, bobot kering biomassa dan laju fotosintesis

Perlakuan Panjang Akar Bobot Kering Biomassa Laju Fotosintesis ...cm... ...g... µmol CO2 m-2 s-1 ...14 MST... ...9 MST... Dosis (Kg) 90 21.16 80.73 44.46 120 21.65 69.13 42.68 150 21.01 82.87 40.67 180 21.08 80.93 39.89 Jumlah Bibit 1 21.89 97.50a 38.94 5 21.40 82.22ab 41.31 10 21.11 74.06b 46.63 15 20.21 66.17b 42.50 20 21.52 72.00b 40.54 Interaksi tn tn tn

Keterangan: angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata menurut uji DMRT taraf 5%.

16

Komponen Hasil dan Hasil

Jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai dan bobot 1 000 butir

Perlakuan dosis pupuk N terlihat tidak berpengaruh pada komponen hasil jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah malai-1 dan bobot 1 000 butir (Tabel 8). Perlakuan jumlah bibit per lubang memberikan pengaruh nyata terhadap komponen hasil jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah malai-1 dan bobot 1 000 butir. Perlakuan jumlah bibit 20 per lubang menghasilkan jumlah anakan produktif yang paling tinggi daripada yang lain. Jumlah anakan produktif yang dihasilkan sebesar 14.17 anakan produktif, tetapi terjadi penurunan anakan produktifnya jika dibandingkan dengan jumlah bibit yang ditanam. Hal ini terjadi karena adanya kepadatan rumpun dan kompetisi sehingga pertumbuhan dan perkembangan anakan produktif tidak optimal. Sumardi (2010) mengatakan kepadatan rumpun yang tinggi membatasi ruang tumbuh untuk menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan organ tanaman secara optimal.

Perlakuan 1 bibit per lubang tanam menghasilkan panjang malai paling panjang tetapi tidak berbeda nyata dengan jumlah bibit 5, 10, dan 20. Jumlah gabah malai-1 paling banyak juga dihasilkan oleh perlakuan 1 bibit per lubang tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan 5 dan 20 bibit per lubang tanam. Semakin panjang malai yang dihasilkan maka jumlah gabah malai-1 yang dihasilkan juga lebih banyak. Kepadatan rumpun dan kompetisi antar anakan diduga menjadi penyebab penurunan panjang malai pada perlakuan dengan jumlah bibit yang lebih banyak sehingga akan menurunkan jumlah gabah malai-1. Zeng and Shannon (2000) mengatakan bahwa jumlah gabah per tanaman akan menurun dengan meningkat kepadatan populasi anakan dalam rumpun.

Perlakuan dosis pupuk N tidak berpengaruh pada bobot 1 000 butir, sedangkan jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap bobot 1 000 butir. Terdapat kecenderungan bahwa peningkatan jumlah bibit per lubang akan meningkatkan bobot 1 000 butir padi. Hal ini terjadi karena malai yang dihasilkan jumlah bibit yang banyak lebih pendek sehingga asimilat digunakan untuk pengisian bulir padi lebih banyak. Bobot 1 000 butir padi lebih ditentukan oleh sifat genetik dari Padi Tipe Baru (PTB) varietas IPB 3S dan tingkat kemasakan pada bulir padi. Bulir padi yang masak penuh akan memiliki bobot yang lebih besar daripada bulir yang belum masak penuh. Menurut Siregar et al. 2013, varietas IPB 3S memiliki bobot 1 000 butir sebesar ± 28.2 gram. Penelitian ini menghasilkan rata-rata bobot 1 000 butir yang sesuai dengan deskripsi varietas IPB 3S.

Hasil analisis regresi hubungan antara jumlah bibit dengan jumlah anakan produktif menunjukkan pola linier dengan persamaan Y = 0.1435x + 10.853 R² = 0.8353. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah bibit yang ditanam maka akan menghasilkan jumlah anakan produktif yang lebih banyak sehingga dapat meningkatkan produktivitas pada tanaman padi.

17 Tabel 8 Pengaruh dosis pupuk N dan jumlah bibit terhadap jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai dan bobot 1 000 butir Perlakuan

Jumlah

Anakan Panjang Jumlah Bobot

Produktif Malai Gabah/Malai 1 000 butir ...batang... ...cm... ...butir... ...g... Dosis (Kg) 90 12.40 31.50 280.47 28.07 120 12.00 31.68 284.13 27.93 150 11.93 31.40 265.73 28.47 180 12.93 31.18 282.89 27.87 Jumlah Bibit

1 11.58b 32.45a 301.33a 27.91ab

5 11.08b 32.06a 292.08ab 27.67b

10 12.08b 31.05ab 266.58bc 28.17ab

15 12.67b 30.18b 253.92c 28.17ab

20 14.17a 31.47ab 277.63abc 28.50a

Interaksi tn tn tn tn

Keterangan: angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata menurut uji DMRT taraf 5%.

Gambar 3 Hubungan antara jumlah bibit dengan jumlah anakan produktif

Bobot kering gabah per rumpun, persentase gabah bernas dan gabah hampa

Perlakuan dosis pupuk N dan jumlah bibit tidak berpengaruh secara statistik terhadap bobot kering gabah per rumpun. Terdapat kecenderungan bahwa hasil bobot kering gabah per rumpun mengalami peningkatan dengan pertambahan dosis pupuk N tetapi akan mengalami penurunan pada dosis 180 kg N ha-1 . Penurunan tersebut diduga terjadi karena unsur N yang berlebih sehingga meracuni tanaman padi dan dapat menurunkan gabah per rumpunnya (Duan et al. 2007). Hal yang berbeda terdapat pada perlakuan jumlah bibit. Terdapat kecenderungan bahwa semakin banyak bibit yang digunakan akan menurunkan bobot kering gabah per rumpun. Penurunan bobot kering gabah terjadi karena

y = 0,1435x + 10,853 R² = 0,8353 5 7 9 11 13 15 0 5 10 15 20 Juml ah ana ka n produ kti f Jumlah bibit

18

adanya kompetisi antara tanaman dalam memanfaatkan faktor lingkungan seperti air, cahaya serta ruang rumbuh (Evans and De Datta 1979).

Perlakuan dosis pupuk berpengaruh sangat nyata pada persentase gabah bernas dan gabah hampa. Perlakuan dosis 90 kg N ha-1 menghasilkan persentase gabah bernas paling tinggi dan gabah hampa paling rendah masing-masing 84.14% dan 15.85% namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan 120 dan 150 kg N ha-1. Dosis 180 kg N ha-1 memberikan hasil gabah bernas paling rendah dan gabah hampa paling tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase gabah bernas menurun dengan peningkatan jumlah dosis pupuk nitrogen yang diberikan. Hal ini terjadi karena kelebihan unsur N akan membuat daun bendera menjadi terkulai sehingga tidak dapat menyerap sinar matahari secara optimal. Hasil penelitian Pirngadi et al. (2007) juga mengemukakan bahwa pemberian dosis N di atas 90 kg N ha-1 menurunkan gabah bernas. Perlakuan jumlah bibit tidak berpengaruh secara statistik pada hasil gabah bernas dan gabah hampa. Jumlah bibit 1 per lubang tanam menghasilkan hasil gabah kering rumpun-1 tertinggi namun persentase gabah hampa yang dihasilkan juga tertinggi. Hal tersebut dapat menurunkan hasil gabah hektar-1 karena tingginya persentase gabah hampa. Tabel 9 Pengaruh dosis pupuk N dan jumlah bibit terhadap hasil gabah kering per

rumpun, persentase gabah bernas dan gabah hampa

Dokumen terkait