• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Konsumsi Pakan

Konsumsi pakan adalah kemampuan ternak untuk menghabiskan sejumlah pakan yang diberikan . Rataan konsumsi pakan yang diperoleh selama penelitian tertera pada Tabel 12.

Tabel 12. Rataan konsumsi pakan sapi Peranakan Ongole (g/ekor/minggu)

Perlakuan Ulangan Total Rataan

I II III IV V VI P1 47.375,8 47.832,92 46.008,3 42.770 49.379 50.569 283.935 47.323 P2 47.775,8 51.385,83 53.108,3 50.966 56.107 49.876 309.219 51.536 P3 50.397,8 45.619,16 49.672,5 46.953 47.004 46.565 286.211 47.702 Total 145.549,4 144.837,9 148.789,1 140.689 152.490 147.010 879.365 146.561 Rataan 48.854

Dari data konsumsi pakan pada Tabel 12. dapat dilihat bahwa rataan konsumsi yang tertinggi adalah 51.536 g/ekor/minggu untuk perlakuan P2 yaitu pada pakan berbasis jerami padi fermentasi dan konsumsi terendah adalah sebesar 47.323 g/ekor/minggu untuk perlakuan P1 yaitu pada pakan berbasis pelepah

daun kelapa sawit fermentasi. Rataan konsumsi seluruhnya yaitu sebesar 48.854 g/ekor/minggu.

Pertambahan Bobot Badan

Kemampuan ternak untuk merubah zat-zat makanan yang terdapat dalam pakan menjadi daging, ditunjukkan dengan pertambahan bobot badan dari ternak tersebut. Dari hasil penelitian diperoleh rataan pertambahan bobot badan seperti yang tertera pada Tabel 13.

Tabel 13. Rataan pertambahan bobot badan sapi Peranakan Ongole (kg/ekor/hari)

Perlakuan Ulangan Total Rataan

I II III IV V VI P1 0,52 0,51 0,37 0,2 0,38 0,71 2,69 0,45 P2 0,11 0,31 0,45 0,57 0,73 0,37 2,54 0,42 P3 0,4 0,29 0,4 0,37 0,33 0,29 2,08 0,34 Total 7,31 1,21 Rataan 0,40

Dari Tabel 13. dapat dilihat bahwa pertambahan bobot badan tertinggi yaitu sebesar 0,45 kg/ekor/hari pada perlakuan P1 yaitu pakan berbasis pelepah daun kelapa sawit fermentasi, dan pertambahan bobot badan yang terendah adalah sebesar 0,34 kg/ekor/hari pada perlakuan P3 yaitu pada pakan berbasis jerami jagung fermentasi. Rataan pertambahan bobot badan seluruhnya yaitu 0,4 kg/ ekor hari.

Konversi Pakan

Konversi pakan adalah perbandingan antara jumlah pakan yang dikonsumsi pada waktu tertentu dengan produksi yang dihasilkan (pertambahan bobot badan) dalam kurun waktu yang sama. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh hasil rataan konsumsi pakan seperti tertera pada Tabel 14.

Tabel 14. Rataan konversi pakan sapi Peranakan Ongole

Perlakuan Ulangan Total Rataan

I II III IV V VI P1 12,9 13,3 17,8 30,2 18,5 10,1 102,9 17,15 P2 63,7 23,7 16,8 12,7 11,0 19,3 147,3 24,54 P3 17,8 22,8 17,5 18,2 20,1 21,6 118,0 19,67 Total 368,2 61,36 Rataan 20,45

Dari rataan konversi pakan pada Tabel 14. dapat dilihat bahwa konversi pakan yang tertinggi adalah sebesar 24,54 untuk perlakuan P2 yaitu pakan yang berbasis jerami padi fermentasi dan konversi yang terendah adalah 17,15 untuk perlakuan P1 yaitu pakan yang berbasis pelepah daun sawit fermentasi. Rataan konversi pakan seluruhnya yaitu sebesar 20,45.

PEMBAHASAN

Konsumsi Pakan

Untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan berbasis daun kelapa sawit, jerami padi dan jerami jagung fermentasi terhadap konsumsi pakan sapi Peranakan Ongole, maka dilakukan analisis keragaman yang dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Analisis keragaman konsumsi pakan sapi Peranakan Ongole

SK DB JK KT Fhit Ftabel 0,05 0,01 Perlakuan 2 65.211.219,99 32.605.609,99 5,10* 3,68 6,36 Galat 15 95.922.428,09 6.394.828,54 Total 17 161.133.648,08 kk = 5,17% * = nyata

Dari hasil analisis keragaman pada Tabel 15. menunjukkan bahwa F hitung lebih besar dari F tabel pada taraf 0,05 yang berarti perlakuan P1, P2 dan

P3 pada sapi Peranakan Ongole memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P>0,05) terhadap konsumsi pakan sapi Peranakan Ongole, hal ini berarti pemberian pakan berbasis daun kelapa sawit, jerami padi dan jerami jagung yang difermentasi dengan Phanerochaete chryososporium memberikan jumlah konsumsi yang berbeda. Perbedaan jumlah konsumsi ini disebabkan oleh palatabilitas ketiga pakan tersebut berbeda karena hasil fermentasi dapat mengubah kandungan gizi dan flavour bahan pakan menjadi lebih baik, yang nantinya dapat meningkatkan palatabilitas pakan sehingga tingkat konsumsi pakan sapi menjadi berbeda dan juga komposisi pakan yang berbeda menyebabkan kualitas pakan yang berbeda hal ini sesuai dengan pernyataan Wahyu (1992)

warna dan tekstur), sistem tempat pakan dan pemberian pakan serta kepadatan kandang.

Untuk mengetahui kualitas pemberian pakan berbasis daun kelapa sawit,

jerami padi dan jerami jagung yang difermentasi dengan

Phanerochaete chryososporium terhadap konsumsi pakan sapi Peranakan Ongole

dilakukan uji beda nyata terkecil (BNT) seperti tertera pada Tabel 16.

Tabel 16. Hasil uji beda nyata terkecil (bnt) untuk konsumsi pakan

Perlakuan Rata-rata Notasi

P1 47.322,50 a

P2 51.536,49 b

P3 47.701,91 a

Ket. Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh berbeda nyata

Pada Tabel 16. dapat dilihat bahwa ternyata P2 menunjukkan tingkat konsumsi yang paling tinggi, ini berarti P2 memiliki kualitas yang terbaik dintara ketiga pakan tersebut. hal ini mungkin selain disebabkan oleh kualitas pakan yang berbeda seperti yang saya utarakan sebelumnya, adanya ternak yang sakit pada saat penelitian jug amempengaruhi tingkat konsumsi ternak hal ini sesuai dengan Parakkasi (1995) bahwa tingkat perbedaan konsumsi dipengaruhi oleh beberapa antara lain faktor ternak dan kualitas pakan (bobot badan, umur, kesehatan, tingkat kecernaan pakan dan palatabilitas).

Pertambahan Bobot Badan

Untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan yang berbasis daun kelapa sawit, jerami padi dan jerami jagung fermentasi terhadap pertambahan bobot badan sapi Peranakan Ongole, maka dilakukan analisis keragaman yang dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Analisis keragaman pertambahan bobot badan sapi Peranakan Ongole SK DB JK KT Fhit Ftabel 0,05 0,01 Perlakuan 2 0,0337 0,0168 0,64tn 3,68 6,36 Galat 15 0,3930 0,0262 Total 17 0,4266 kk = 5,6% tn = tidak nyata

Dari hasil analisis keragaman pada Tabel 17. dapat diketahui bahwa pemberian pakan yang berbasis daun kelapa sawit, jerami padi dan jerami jagung fermentasi tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan bobot badan, ini berarti bahwa dengan pemberian ketiga pakan tersebut menghasilkan pertambahan bobot yang sama, walaupun secara angka pertambahan bobot badannya berbeda antar perlakuan. Hal ini dapat disebabkan karena dalam penyusunan pakan untuk tiap perlakuan menggunakan persentase protein dan serat kasar yang sama, sehingga pertambahan bobot badan sapi hampir sama. Menurut cole (1982) laju pertumbuhan ditentukan oleh beberapa faktor antara lain potensi pertumbuhan dari masing-masing individu ternak dan pakan yang tersedia.

Apabila dilihat dari data konsumsi dan pertambahan bobot badan (Tabel 12 dan Tabel 13) seharusnya P2 menghasilkan pertambahan bobot badan yang tertinggi sesuai dengan tingkat konsumsi yang tinggi pada P2, namun pertambahan bobot badan tertinggi dihasilkan oleh P1 yamg memiliki tingkat konsumsi lebih rendah. Ketidak konsistenan data ini dikarenakan adanya ternak yang tidak menunjukkan pertambahan bobot badan yang sesuai dengan jumlah pakan yang dikonsumsi, hal ini dapat dilihat pada Tabel data konsumsi dan pertambahan bobot badan yaitu pada ternak P2. Penyebab hal ini diketahui pada akhir penelitian yaitu pada saat pemotongan ternak, pada rumen ternak tersebut

didapati plastik. Adanya plastik tersebut menyebabkan daya cerna ternak tersebut menurun karena laju perjalanan pakan dan pengabsorbsian nutrisi terhalang oleh plastik yang tidak dapat dicerna oleh ternak tersebut hal ini sesuai dengan Anggorodi (1990) yang menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi daya cerna adalah laju perjalanan pakan melalui alat pencernaan, bentuk fisik pakan dan komposisi pakan.

Konversi Pakan

Untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan yang berbasis daun kelapa sawit, jerami padi dan jerami jagung fermentasi terhadap konversi pakan sapi Peranakan Ongole maka dilakukan analisis keragaman seperti yang tertera pada tabel 18.

Tabel 18. Analisis keragaman konversi pakan sapi Peranakan Ongole

SK DB JK KT Fhit Ftabel 0,05 0,01 Perlakuan 2 169,61 84,80 0,57tn 3,68 6,36 Galat 15 2.222,29 148,15 Total 17 2.391,90 kk = 59.51% tn = tidak nyata

Hasil analisis keragaman pada tabel 17. menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil dari F tabel pada taraf 0,05 yang berarti perlakuan P1, P2, dan P3 pada sapi Peranakan Ongole memberikan pengaruh yang tidak berbedaanyata (P>0,05) terhadap konversi pakan sapi Peranakan Ongole. Seperti yang diungkapkan oleh Anggorodi (1984), bahwa konversi pakan adalah perbandingan antara jumlah yang dikonsumsi pada waktu tertentu dengan produksi yang dihasilkan dalam kurun waktu yang sama.

Angka konversi pakan menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan pakan. Dari hasil di atas menunjukkan bahwa pemberian pakan yang berbasis daun kelapa sawit, jerami padi dan jerami jagung fermentasi dalam tingkat efisiensi penggunaan pakan yang hampir sama karena tingkat konversi pakan dari tiap perlakuan hampir sama. Menurut anggorodi (1984), bahwa konversi ransum adalah suatu indikator teknis yang dapat menggambarkan tingkat efisiensi penggunaan ransum.

Dari Tabel 14. dapat dilihat bahwa angka konversi pakan tertinggi ditunjukkan oleh P2 yaitu sebesar 24,54 hal ini karena adanya ternak yang mengalami gangguan pencernaan seperti yang sudah dijelaskan diatas. Besarnya konsumsi tidak diimbangi dengan pertambahan bobot yang sesuai dan mengakibatkan angka konversi yang tinggi, sehingga penggunaan pakan menjadi tidak efisien.

Rekapitulasi Hasil Penelitian

Hasil penelitian secara keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 19.

Tabel 19. Rekapitulasi hasil penelitian sapi Peranakan Ongole yang diberi pakan berbasis daun kelapa sawit, jerami padi dan jerami jagung yang difermentasi dengan Phanerochaete chryososporium

Perlakuan konsumsi (g/ekor/minggu) PBB (kg/ekor/hari) Konversi P1 47.322,50a 0,45tn 17,15tn P2 51.536,49b 0,42tn 24,54tn P3 47.701,91a 0,35tn 19,67tn

Dokumen terkait