• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karateristik Responden

Responden dalam penelitian ini adalah masyarakat yang sudah memanfaatkan dan mengusahakan bambu secara turun-temurun. Adapun karakteristik responden berdasarkan umur dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Jumlah masyarakat pemanfaat bambu berdasarkan umur

Kelas umur (Tahun) Jumlah Persentase (%)

< 15 0 0

15 – 64 43 100

>65 0 0

Total 43 100

Berdasarkan data pada Tabel 3 di atas, 100 % masyarakat pemanfaat bambu berusia produktif. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sudarmi dan Waluyo (2008) bahwa Komposisi penduduk berdasarkan aspek biologi, bahwa umur kurang dari 15 tahun merupakan muda/usia belum produktif. Umur 15 – 64 tahun dinamakan usia dewasa/usia kerja/usia produktif. Umur 65 tahun keatas dinamakan usia tua/usia tak produktif/usia jompo. Pada umur 15 - 64 menunjukkan tersedianya sumber tenaga kerja yang baik, karena umur yang produktif akan lebih mudah dan cekatan dalam bekerja.

Berdasarkan tabel diatas tidak adanya pengrajin bambu pada umur 65 tahun ke atas disebabkan oleh tingkat produktivitas untuk menghasilkan kerajinan bambu sudah berkurang karena umur yang sudah tua serta tenaga yang sudah berkurang. Pengrajin bambu pada kisaran umur tersebut tidak ada karena pandangan masayarakat di Suku Karo yang memandang kurang layak untuk membiarkan orang tua yang telah lanjut usianya untuk terus bekerja.

Hal ini sesuai dengan pernyataan yang didapat dari hasil wawancara bahwa masyarakat Suku Karo adalah kelompok sosial yang tinggal di daerah pegunungan yang memiliki tanah yang subur. Pada tatanan hidup dan kebudayaan masyarakat Suku Karo sangat menghormati orang tua yang telah lanjut usianya, hal tersebut terlihat jelas pada adanya pandangan bahwa kurang layak bagi pihak keluarga jika tetap membiarkan orang tuanya yang telah lanjut usia tetap bekerja.

Berdasarkan hasil di lapangan maka diketahui usaha kerajinan bambu di Desa Tiga Panah Kabupaten Karo dikelompokkan menjadi 2 jenis yaitu usaha pokok, usaha sampingan. Adapun jenis usaha bambu di Desa Tiga Panah dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Jenis usaha bambu di Desa Tiga Panah

No Jenis usaha bambu Persentase (%) 1. Usaha Pokok 25,58 2. Usaha Sampingan 74,42

Usaha pokok maksudnya usaha kerajinan bambu tersebut menjadi usaha utama sehingga pihak pengelola usaha tersebut hanya memanfaatkan bambu sebagai penghasilan dan pekerjaan utamanya. Usaha sampingan maksudnya para pengrajin bambu tersebut memiliki pekerjaan lainnya misalnya sebagai petani atau berladang. Usaha kerajinan bambu yang dilakukan masyarakat setempat tidak diperoleh dari pendidikan formal namun umumnya pemahaman pembuatan kerajinan bambu tersebut diperoleh secara turun temurun.

Persentase usaha sampingan di Desa Tiga Panah adalah 74,42 lebih besar dari usaha pokok yang hanya 25,58 persen. Hal ini dikarenakan usaha bambu belum dapat menjadi andalan mata pencaharian masyarakat di desa Tiga Panah

sehingga untuk mencukupi kebutuhan, masyarakat memiliki pekerjaan lain yaitu berladang atau bertani.

Jenis-Jenis Bambu Yang Digunakan Di Desa Tiga Panah

Masyarakat Desa Tiga Panah sebagian besar mendapatkan bahan baku dengan cara membeli dari daerah lain yaitu dari Dolok Saribu hal itu disebabkan oleh sulitnya mendapat bahan baku dari daerah sendiri serta harga yang mahal. Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan metode kuisioner bahwa 75,74% responden pemanfaat bambu mendapatkan bahan baku dengan cara membeli dan 23,26% responden mendapatkan bahan baku dengan mengambil sendiri atau memiliki lahan bambu sendiri. Penebangan bambu mereka lakukan dengan cara tebang pilih yaitu menebang bambu dengan cara memilih bambu yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan.

Berikut ini adalah jenis-jenis bambu yang terdapat di desa Tiga Panah melalui penyesuaian dengan hasil identifikasi menurut Widjaja (2001). Adapun klasifikasi dan ciri-ciri bambu betung dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5. Klasifikasi dan ciri-ciri Bambu Betung

Nama Genus Spesies ciri-ciri Bambu Betung (Indonesia), Buluh Belin (Karo), awi betung (Sunda), pring petung (Jawa) Dendrocalamus Dendrocalamus asper - Berbuluh tegak

- Batang berwarna coklat tua - Tinggi buluh mencapai 30m - Diameter 8-15 cm

- Panjang ruas 30-40 cm - Tebal dinding batangnya

mencapai 1 cm

- Rebungnya berwarna coklat kemerahan yang ditutupi oleh bulu hitam.

Adapun gambar Bambu Betung yang tumbuh di Desa Tiga Panah dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini.

Gambar 1. Bambu Betung

Adapun klasifikasi dan ciri-ciri Bambu Regen dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 6. Klasifikasi dan ciri-ciri Bambu Regen

Nama Genus Spesies ciri-ciri Bambu Regen (Indonesia), buluh belangke (Melayu), buluh regen (Karo), buluh yakyak (Gayo) Gigantochloa Gigantochloa pruriens - Berbuluh tegak

- Batang berwarna hijau kekuning-kuningan

- Tinggi buluh mencapai 15 m - Diameter batang 6-12 cm - Panjang ruas 40-60 cm - Tebal dinding batangnya

mencapai 10 mm

Gambar 2. Bambu regen

Pemanfaatan Tanaman Bambu

Menurut Duryatmo (2000) bambu merupakan tanaman yang memiliki manfaat yang sangat penting bagi kehidupan. Semua bagian tanaman bambu yakni mulai dari akar, batang, kelopak, bahkan rebungnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan. Hasil penelitian pemanfaatan bambu di Desa Tiga Panah adalah sebagai berikut

a. Keranjang

Hasil penelitian menunjukan bahwa setelah bambu regen tua maka bambu tersebut kemudian ditebang dan kemudian dibersihkan. Batang bambu yang telah ditebang dan dibersihkan tersebut kemudian dipotong-potong dengan ukuran masing-masing 2 meter dan kemudian dibelah kecil-kecil. Hasil belahan tersebut kemudian dibelah lagi menjadi bagian luar bambu dan daging bambu atau bagian dalam yang merupakan bahan baku kerajinan keranjang bambu. Untuk mengasilkan 3 keranjang bambu dibutuhkan 2 batang bambu berukuran 6 meter yang kemudian dipotong lagi menjadi ukuran 2 meter. Untuk satu batang bambu ukuran 6 meter pengrajin membelinya dengan harga Rp. 8000. Dalam satu harinya pada kondisi santai seorang pengrajin keranjang bambu dapat menghasilkan 3-5 keranjang bambu, namun apabila di Kabupaten Karo sedang musim buah dimana permintaan keranjang meningkat seorang pengrajin keranjang bambu dapat menghasilkan 5-10 keranjang bambu per hari.

Harga untuk satu buah keranjang bambu jika dijual ke agen, dihargai sebesar Rp. 13.000 dan setelah sampai ke konsumen mencapai Rp. 15.000. Keranjang hasil olahan masyarakat di Desa Tiga Panah umumnya digunakan untuk petani jeruk warga setempat dan ada juga dijual ke Kabupaten Karo (Berastagi dan

Kaban Jahe) untuk keranjang kemasan dan keperluan lainnya. Gambar dan hasil dari pembuatan kerajinan keranjang dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3. kerajinan keranjang bambu

Keranjang bambu dibuat dengan cara mengayam lembaran-lembaran bambu yang telah dibelah terlebih dahulu. Menurut Duryatmo (2000) mengayam bambu adalah adalah menyatukan helaian-helaian bambu untuk menghasilkan suatu bentuk. Selain faktor desain dan motif, bahan baku merupakan faktor utama penentu kualitas dan harga jual dari ayaman bambu. Bambu yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan keranjang bambu adalah bambu jenis bambu regen

(Gigantochloa pruriens) atau buluh regenbahasa setempat.

Bambu regen digunakan karena bambu tersebut memiliki kekuatan dan kelenturan yang tinggi sehingga dalam proses pengayamannya menjadi keranjang pengrajin tidak memperoleh kesulitan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sudarnadi (1996) yang menyatakan bahwa bambu ini memiliki beberapa kelebihan, misalnya memiliki serat panjang, kuat dan memiliki kelenturan yang baik sehingga sangat bagus untuk kerajinan anyaman. Bentuk batang bambu regen dapat dilihat pada gambar 4, dibawah ini.

Gambar 4.Bambu Regen bahan baku Keranjang

b. Dinding Rumah (Tepas)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk menghasilkan satu lembar tepas dengan ukuran 2 x 2 meter dibutuhkan 8 potong bambu (satu potong bambu berukuran 2 meter). Untuk satu batang bambu regen pengrajin membelinya dengan harga Rp.10.000 atau Rp. 8.000 tergantung dari panjangnya, dan untuk satu lembar tepas berukuran 2 x 2 meter pengrajin bambu menjualnya dengan harga Rp. 70.000 pada tingkat agen dan setelah sampai ke konsumen seharga Rp. 75.000. Dalam satu harinya pengrajin tepas dapat menghasilkan 4 - 6 anyaman tepas, namun jika permintaan membutuhkan waktu yang singkat dan jumlah yang besar pergrajin tepas mampu juga menghasilkan helaian anyaman tepas 6 - 8 helaian per hari. Daerah yang merupakan konsumen dari tepas ini adalah masyarakat setempat dan juga dipasarkan ke sekitar Kabupaten Karo.

Bambu merupakan jenis tanaman yang memiliki sifat yang elastis dan kuat. Widjaja dkk. (1994), menyatakan bahwa bambu merupakan bahan baku kerajinan anyaman yang sangat potensial untuk dimanfaatkan, karena selain bambu sangat mudah diperoleh dan harga bahan bakunya yang relatif rendah bambu juga sangat

kuat dan awet. Di Desa Tiga Panah bambu dapat juga di olah menjadi bahan baku dinding perumahan. Dinding yang terbuat dari bahan baku bambu tersebut berasal dari jenis bambu regen atau bahasa setempat buluh regen (Gigantochloa

pruriens).

Masyarakat memanfaatkan bambu regen sebagai bahan baku dinding rumah adalah karena jenis bambu tersebut tidak terlalu tebal, sehingga mudah untuk dibuat menjadi tepas. Walaupun tidak begitu tebal namun jenis bambu ini cukup kuat untuk di jadikan dinding rumah. Dinding rumah atau tepas bahasa setempat dibuat dari lembaran-lebaran bambu yang dianyam berbentuk bujur sangkar. Setelah ditebang dan dibersihkan kemudian di potong-potong dengan ukuran 2 x 2 meter. Bambu yang telah dipotong-potong tersebut kemudian dibelah menjadi dua bagian. Kedua bagian hasil belahan bambu tersebut kemudian dibersihkan bagian dalamnya (daging bambunya) dan kemudian dipukul-pukul dengan palu untuk melunakkan atau meremukannya, sehigga mudah untuk dianyam.

Bambu-bambu yang telah dibelah kemudian dianyam mendatar hingga membentuk persegi panjang. Adapun masayarakat setempat memakai jenis bambu ini sebagai bahan baku pembuatan dinding rumah karena sifatnya elastis dan mudah dibentuk. Hal ini sesuai dengan pernyataan Duryatmo (2000), yang menyatakan bahwa di luar Jawa khususnya, bambu regen popular digunakan sebagai bahan baku anyaman, karena jenis bambu ini memiliki serat yang sangat halus dan lebih mudah untuk diperoleh untuk bahan baku. Bambu regen yang dimanfaatkan untuk bahan baku dinding rumah umumnya bambu regen yang sudah tua. Pemanfaatan bambu regen yang belum tua dapat menurunkan kualitas dari dinding rumah tersebut. Gambar dan bentuknya dapat dilihat pada gambar 5.

Gambar 5. Bentuk tepas

Pemanfaatan tepas sebagai dinding rumah saat ini masih umum di temukan di daerah-daerah pedesaan. Tepas umumnya digunakan oleh masyarakat pedesaan karena harga yang relatif terjangkau dan dan daya tahannya yang cukup lama atau memili kelas awet cukup tinggi terhadap serangan hama, mencapai usia penggunaan sampai 5 tahun. Untuk dapat dijadikan dinding rumah masayarakat pedesaan umumnya menyambung lembaran-lembaran tepas tersebut satu persatu dengan tiang rangka bambu atau kayu sebagai penghubungnya.

c. Bahan Bangunan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Desa Tiga Panah Kabupaten Karo, bahan bangunan yang menggunakan bambu adalah jenis bambu betung. Penggunaan bambu betung disebabkan oleh tingkat kekuatan yang tinggi serta kuat. Untuk harga jual bambu betung yang ada di Desa Tiga Panah dapat dilihat pada tabel 7 di bawah ini

Tabel 7. Harga bambu betung

No Diameter (cm) panjang (m) harga(Rp)

1. 5 – 17 5 8.000 2. 7 – 12 5 10.000

Bambu yang digunakan untuk bahan bangunan rumah di desa Tiga Panah umumnya digunakan sebagai tiang kerangka bangunan dan juga tiang pondok- pondok yang ada di pinggir jalan. Jenis bambu yang digunakan adalah jenis bambu betung karena lebih kuat sehingga dapat menahan beban bangunan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Tri (1996) bambu betung termasuk jenis bambu berbuluh besar dan tebal, tingginya bisa mencapai 15 meter dan bila sudah tua bambu ini sangat kuat.

Pemanfaatan bambu betung di Desa Tiga Panah adalah untuk pembuatan pondok tempat berjualan, penggunan bambu disebabkan harganya murah dan mudah didapatkan. Hal ini sependapat dengan pernyataan Duryatmo (2000) yang menyatakan bahwa bambu betung lazim dipakai untuk bahan bangunan dan jembatan karena bambu ini bersifat keras dan dinding batangnya relatif tebal, yakni mencapai 1,5 cm sehingga dapat lebih awet jika digunakan. Bambu betung yang telah cukup tua umumnya berwarna hijau kehitaman, sedangkan bambu betung yang masih muda umumnya berwarna hijau kecoklatan.

Bentuk bambu betung tersebut dapat dilihat pada gambar 6 di bawah ini.

d. Bambu sebagai ajir tanaman

Adapun penggunaan ajir yang dipakai masyarakat di Desa Tiga Panah yaitu untuk menopang tanaman cabe atau tomat yang ditanam agar tahan terhadap tiupan angin serta untuk menopang tanaman agar tetap berdiri tegak dan tidak miring karena dalam waktu berbuah. Ajir dari bambu ditancapkan ke tanah kemudian diikatkan ke batang tanaman yang ingin diberi penopang. Ukuran ajir yang digunakan berbeda-beda, panjang ajir untuk tanaman cabe berukuran 1,2 meter dengan ketebalan bambu kira-kira 3 - 4 cm dihargai Rp.700/batang, untuk ukuran panjang 1,9 meter dengan ketebalan 3 – 4 cm harganya Rp. 900/batang dan untuk ajir tomat dengan panjang 2,2 meter dan ketebalan bambu kira-kira 4 – 5 cm harganya Rp. 1500/batang. Penggunaan ajir banyak digunakan oleh masyarakat di Desa Tiga Panah sehingga pemanfaatan bambu dari waktu ke waktu tetap berlangsung. Bentuk ajir dapat dilihat pada gambar 7 di bawah ini.

e. Bambu sebagai media lukisan

Adapun bentuk ketrampilan masyarakat di desa Tiga Panah yang memanfaatkan bambu adalah sebagai media untuk dilukis atau digambar. Hasil karya berupa lukisan yang dibuat adalah lukisan tentang adat istiadat karo misalnya ulos gara dan alat musik tradisional karo. Bahan bambu yang digunakan sebagai media untuk dilukis adalah bambu betung, bambu yang dipakai harus memiliki diameter yang besar sehingga permukaan bambunya luas kemudian bambu tersebut dibelah menjadi dua bagian. Kedua bagian dari bambu itu kemudian dilukis di bagian permukaannya. Untuk harga dari sebuah hasil lukisan adalah Rp. 10.000. Tingkat permintaan yang rendah serta penjualan yang sedikit menyebabkan produksi untuk kerajinan ini rendah. Berikut ini gambar kerajinan lukisan dengan media bambu.

Teknologi Pengolahan Bambu

Masyarakat Desa Tiga Panah melakukan pemanenan bambu dengan sistem tebang pilih untuk menjaga kelangsungan hidup rumpun-rumpun bambu sehingga produksinya dapat dipertahankan. Bambu yang telah dipanen tersebut ada yang diberi perlakuan berupa pengeringan atau penjemuran di bawah sinar matahari selama 3 sampai 4 jam. Kegiatan ini dilakukan untuk membuat bambu tersebut lebih awet dan kadar airnya semakin rendah.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Tim Elsspat (1997) yang menyatakan bahwa, penyebab kerusakan non biologis yang terpenting adalah kadar air, kadar air yang tinggi menyebabkan kekuatan bambu menurun dan mudah lapuk, karena itu biasanya bambu segar dikeringkan lebih dahulu sampai kadar air tertentu sebelum digunakan. Bambu yang dipanen ada juga yang tidak diberi perlakuakan yaitu dengan cara penebangan langsung dari rumpunnya, kemudian dijual kepada pengumpul maupun pengrajin.

Pengetahuan masyarakat tentang teknologi pengolahan bambu masih tradisional. Hal ini sesuai dari hasil pengamatan di lapangan bahwa masyarakat dalam mengolah bambu masih menggunakan peralatan berupa parang, pisau dan gergaji. Masyarakat pemanfaat bambu di Desa Tiga Panah ini sangat rendah pengetahuan akan teknologi bambu. Sehingga hasil kerajinan yang dihasilkan juga terbatas. Usaha kerajinan bambu di Desa Tiga Panah masih tergolong usaha kecil oleh sebab itu pemilik usaha kerajinan tidak terlalu berniat untuk meningkatkan usahanya.

Permasalahan Masyarakat Dalam Pengusahaan Bambu

1. Pemasaran produk bambu

Jangkauan pemasaran produk hasil kerajinan bambu di Desa Tiga Panah sangat sempit. Produk kerajinan bambu yang dihasilkan hanya menjadi konsumsi daerah itu saja, kurangnya permintaan atau kebutuhan daerah lain akan kerajinan bambu menyebabkan pemasaran hasil-hasil kerajinan bambu tidak dapat meluas. Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya informasi yang didapat oleh daerah lain tentang kerajinan bambu yang ada di desa Tiga Panah. Peran serta pemerintah untuk memperkenalkan hasil-hasil kerajinan bambu di desa Tiga Panah sangat dibutuhkan yang didukung dengan masyarakat akan lebih meningkatkan jangkauan pemasaran produk bambu di desa Tiga Panah.

2. Tingkat teknologi dan inovasi

Sampai saat ini para pengrajin bambu masih memanfaatkan bambu sebagai bahan baku kerajinan dan bahan bangunan. Adapun kerajinan bambu yang dihasilkan oleh pengrajin bambu masih sebatas pada pembuatan keranjang, tepas dan bahan bangunan, hal ini disebabkan karena masih rendahnya sumberdaya masyarakat pengrajin bambu untuk dapat menghasilkan ragam jenis kerajinan bambu. Rendahnya sumberdaya pengrajin tersebut, disebabkan karena rendahnya perhatian pemerintah terhadap mereka. Sampai saat ini kemampuan mengayam atau mengolah bambu yang dimiliki oleh pengrajin di Desa Tiga Panah masih diperoleh secara turun temurun, akibatnya hasil dari kerajinan masyarakat hingga saat ini belum mampu menghasilkan model atau inovasi yang lebih unik, sehingga pasar penjualan dari produk kerajinan tersebut masih sangat terbatas.

3. Kurangnya pengetahuan tentang pengawetan bambu

Pengetahuan masyarakat tentang pengawetan hanya berupa penjemuran di bawah sinar matahari. Teknologi pengawetan bambu kurang mereka ketahui sehingga produk-produk kerajianan bambu atau bahan baku berupa bambu sering diserang oleh kumbang bubuk. Dalam hal ini masyarakat khususnya di Desa Tiga Panah sangat membutuhkan informasi tentang teknik-teknik pengawetan bambu.

4. Peralatan masih tradisional

Peralatan yang dipakai oleh pengrajin bambu masih tradisional sehingga kemampuan produksi juga rendah sehingga apabila terjadi peningkatan permintaan akan kebutuhan keranjang, pengrajin tidak dapat mencapai target secara maksimal.

Dokumen terkait