• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kandungan Zat Ekstraktif

Serbuk daun mindi memiliki kadar air rata-rata sebesar 11,11 % (Lampiran 1). Zat ekstraktif dari serbuk daun mindi yang direndam dengan pelarut aseton, metanol dan aquades menghasilkan ekstrak yang berwarna coklat kehitaman. Kandungan zat ekstraktif tertinggi diperoleh dari jenis pelarut aseton dan yang terendah diperoleh dari jenis pelarut aquades. Secara lengkap kandungan zat ekstraktif dari daun mindi tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan zat ekstrak daun mindi (M. azedarach Linn.)

Jenis Pelarut Berat padatan ekstrak (gram) Persentase kadar zat ekstrak (%)

Aseton 124 24,8

Metanol 101 20,2

Aquades 93 18,6

Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa besarnya persentase masing-masing ekstrak dihitung berdasarkan berat serbuk daun mindi kering udara, dimana pada proses ekstraksi daun mindi yang digunakan dalam kondisi kering udara. Hal ini karena serbuk tersebut merupakan bahan yang higroskopis, sehingga akan sulit menganalisanya bebas air, dimana ada kemungkinan proses perubahan kadar air selama proses pengeringan dan sulitnya menimbang sampel bebas air. Karena serbuk yang masih basah tidak dapat diekstrak secara efektif dengan menggunakan pelarut yang tidak larut air. Sering terjadi persentase bahan yang dapat larut dalam suatu pelarut (ekstraksi tahap pertama) diperoleh hasil yang sangat rendah, tetapi jumlah ekstraksi berikutnya dengan pelarut yang lain akan diperoleh hasil ekstrak yang lebih tinggi (Browning, 1963 dalam Batubara, 2006).

Kandungan ekstraktif yang dihasilkan tersebut bukan merupakan nilai yang mutlak. Karena dalam penentuan kandungan ekstraktif tidak terlepas dari beberapa faktor yang mempengaruhinya. Menurut Browning (1967) dalam Mariyati (2000) kadar ekstraktif yang diperoleh tergantung pada pengeringan dan pengkondisian serbuk kayu sebelum diekstrak. Kadar air serbuk mempengaruhi proses ekstraksi. Banyaknya zat ekstraktif yang dapat larut dalam pelarut polar biasanya lebih sedikit, namun adanya pengeringan serbuk sebelum proses ekstraksi, jumlah bahan yang akan terlarut lebih banyak. Zat ekstraktif yang terkandung di dalam kayu bisa bersifat sebagai fungisida atau insektisida. Sifat ini membantu dalam membentuk keawetan alami kayu. Zat yang berperan antara lain

zat fenol, terpentene, saponin, flavonoid dan tanin. Faktor lain yang cukup

berpengaruh pada proses ekstraksi adalah suhu, dimana adanya pemanasan akan membantu proses ekstraksi berjalan dengan baik, dan penguraian akan lebih seragam.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi jumlah zat ekstraktif yang didapat dari proses ekstraksi, karena kandungan zat ekstraktif tidak terlepas dari beberapa faktor yaitu : jenis kayu, jenis pelarut, proses ekstraksinya dan ukuran dari serbuk yang digunakan. Guenther (1987) dalam Batubara (2006) menyatakan banyaknya zat ekstraktif yang dapat larut tidak terlepas dari faktor pemilihan pelarutnya. Pelarut yang ideal digunakan untuk proses ekstraksi harus memenuhi syarat-syarat yaitu dapat melarutkan zat ekstraktif, pelarut harus bersifat inert (tidak bereaksi dengan zat yang akan diekstraksi) dan mempunyai titik didih yang rendah agar pelarut mudah diuapkan tanpa menggunakan suhu yang tinggi.

Jenis pelarut yang digunakan dalm penelitian ini mempunyai fungsi yang berbeda meskipun jenis pelarut yang digunakan dalam penelitian ini merupakan jenis pelarut yang netral yang sering digunakanuntuk memfraksi zat kimia pada tanaman. Aseton sering digunakan untuk mengekstraksi serbuk kayu untuk pestisida alami, begitu juga dengan metanol dan aquades.

Ukuran serbuk akan memepengaruhi pula keberhasilan proses ekstraksi. Oleh karena itu bahan perlu digiling atau dihaluskan terlebih dahulu, agar penetrasi pelarut berlangsung sempurna. Penyaringan perlu dilakukan untuk menjamin keseragaman partikel sehingga reaksi berlangsung seragam. Menurut Achmadi (1989) bahwa ukuran partikel yang digunakan dalam analisis kayu berkisar antara 40-80 mesh atau berukuran 0,005-0,4 mm. Proses ekstraksi dilakukan berulang-ulang, sampai larutan menjadi bening, sehingga kecil kemungkinan tertinggalnya zat ekstraktif pada ampas bahan yang digunakan.

Uji Fungi

Hasil penekanan pertumbuhan fungi menunjukkan bahwa ketiga pelarut yang digunakan memberikan hasil yang hampir sama atau dengan kata lain penekanan yang diberikan terhadap fungi relatif sama yaitu memberikan tekanan ringan terhadap penekanan pertumbuhan fungi S. commune (Tabel 2). Ini membuktikan bahwa pengaruh ekstrak ketiga pelarut kurang beracun terhadap fungi S. commune. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan penekanan pertumbuhan fungi S. commune adalah tingkat keganasan dari fungi S. commune. Hal ini didukung oleh Martawijaya (1962) dalam Batubara (2006) bahwa pengujian pada 25 jenis kayu yang berasal dari komplek Gunung Bunder

memberikan kesimpulan bahwa fungi ini merupakan fungi perusak kayu yang ganas. Sumarni dan Jasni (1989) dalam Batubara (2006) melakukan penelitian tentang resistensi kayu plastik terhadap tiga jenis fungi perusak kayu yaitu

S. commune, Pycnoporus sanguineus, Dacryopynax spatularia Marst. Dari

penelitian ini diperoleh keterangan bahwa fungi S. commune merupakan fungi yang paling ganas menyerang kayu dibandingkan dua jenis lainnya. Rata-rata persentase penurunan berat kayu yang disebabkan oleh fungi ini adalah tertinggi dibandingkan dua yang lainnya yaitu sebesar 19,19 %.

Tabel 2. Rata-rata penekanan pertumbuhan S.commune selama 10 Hari Pelarut Konsentrasi (%) Luas Pertumbuhan (mm2) Penekanan Pertumbuhan Fungi (%) Keterangan Aseton 0 6362 0 Sehat 1 6209 2,41 tertekan ringan 2 6187 2,76 tertekan ringan 3 6163 3,13 tertekan ringan 4 6143 3,45 tertekan ringan Metanol 0 6362 0 Sehat 1 6179 2,87 tertekan ringan 2 6176 2,92 tertekan ringan 3 6154 3,27 tertekan ringan 4 6101 4,11 tertekan ringan Aquades 0 6362 0 Sehat 1 6191 2,68 tertekan ringan 2 6362 0 Sehat 3 6156 3,24 tertekan ringan 4 6129 3,67 tertekan ringan

Tabel 2 menunjukkan bahwa pada hari ke-10 pertumbuhan fungi

S. commune pada perlakuan kontrol memenuhi cawan petri dengan luas rata-rata

6362 mm2. Beberapa perlakuan dan tingkat konsentrasi lainnya bisa juga dilihat bahwa fungi tersebut juga memenuhi cawan petri dengan luas rata-rata 6362 mm2 (Gambar 6 ).

Gambar 6. Pertumbuhan fungi S. commune

Tabel 2 menunjukkan bahwa dari ketiga jenis pelarut yang digunakan yang memilki rata-rata persen penekanan pertumbuhan fungi paling besar adalah pelarut metanol dibandingkan dengan aseton dan aquades. Hal ini didukung dengan hasil uji fitokimia Afsari (2009), yaitu pada ekstrak daun mindi dengan pelarut metanol mengandung senyawa alkoloida, flavonoid, triterpenoida dan

saponin (dapat dilihat pada Tabel 3,4,5 dan 6).

Tabel 3. Hasil uji alkaloid Pereaksi Perubahan

Warna

Estrak Metanol

Ekstrak

Aseton Ekstrak Aquades Bouchardat Endapan coklat +++ ++ +++

Meyer Endapan putih

kekuningan ++ ++ ++ Wagner Endapan coklat + ++ + Dragendroff Endapan merah

kecoklatan ++ +++ ++ Keterangan : + = ada sedikit +++ = ada banyak

++ = ada sedang

Tabel 4. Hasil uji flavanoid Pereaksi Perubahan

Warna Estrak Metanol Ekstrak Aseton Ekstrak Aquades FeCl3 1% Endapan hitam +++ +++ +++ NaOH 1% Merah jambu + + + H2SO4 (p) Orange

kekuningan ++ ++ ++ MgHCl Merah jambu + + + Keterangan : + = ada sedikit +++ = ada banyak

++ = ada sedang

Tabel 5. Hasil uji triterpenoida

Pereaksi Perubahan Warna Estrak Metanol

Ekstrak Aseton

Ekstrak Aquades Salkowsky Orange kekuningan ++ ++ ++ CeSO4 1% Merah kecoklatan - - -

Lieberman

Bouchard Biru kehijauan ++ - ++ Keterangan: + = ada sedikit +++ = ada banyak

++ = ada sedang - = Tidak ada

Tabel 6. Hasil uji saponin

Pereaksi Ekstrak Metanol Ekstrak Aseton Ekstrak Aquades Dengan penambahan Akuades, dikocok

menghasilkan busa, ditambah HCl busa stabil.

++ ++ ++

Keterangan: + = ada sedikit ++ = ada sedang

Tabel 3,4,5 dan 6 menunjukkan bahwa uji fitokimia ekstrak daun mindi pada pelarut aseton dan aquades mengandung senyawa alkaloid, flavonoid,

triterpenoida dan saponin namun tidak bersifat aktif terhadap penekanan

pertumbuhan fungi S. commune.

Hasil rata-rata penekanan pertumbuhan S.commune pada ketiga pelarut dapat dilihat pada Grafik 7, 8 dan 9.

Gambar 7. Grafik rata-rata penekanan pertumbuhan S. commune pada pelarut aseton

Grafik 7 menggambarkan bahwa pada pengamatan hari ke-10 rata-rata penekanan pertumbuhan fungi S. commune terkecil terdapat pada perlakuan kontrol (konsentrasi 0%) dengan penekanan pertumbuhan sebesar 0% (sehat)dan rata-rata penekanan pertumbuhan terbesar terdapat pada konsentrasi 4% dengan penekanan pertumbuhan sebesar 3,45% (tertekan ringan) . Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata penekanan pertumbuhan S. commune cenderung meningkat dengan naiknya tingkat konsentrasi, dengan kata lain luas pertumbuhan fungi semakin menurun. Ini terlihat dari setiap pengamatan dari hari ke-2 sampai hari ke-10, contohnya pada pengamatan hari ke-2 rata-rata penekanan pertumbuhan terkecil terdapat pada konsentrasi 0% dengan penekanan pertumbuhan sebesar 96,06% dan rata-rata penekanan pertumbuhan terbesar terdapat pada konsentrasi 4% dengan penekanan pertumbuhan sebesar 99,05%.

Gambar 8. Grafik rata-rata penekanan pertumbuhan S. commune pada pelarut metanol

Rata-rata penekanan pertumbuhan fungi dengan ekstraksi menggunakan pelarut metanol adalah cenderung meningkat dengan bertambahnya nilai

konsentrasi, yaitu pada konsentrasi 4%. Ini terlihat dari setiap pengamatan dari hari ke-2 sampai hari ke-10, contohnya pada pengamatan hari ke-2 penekanan pertumbuhan terkecil terdapat pada konsentrasi 0% dengan penekanan pertumbuhan 96,14% dan penekanan pertumbuhan terbesar terdapat pada kondentrasi 4% dengan penekanan pertumbuhan 99,65%. Hal ini terjadi karena semakin tinggi konsentrasi senyawa pada larutan daun mindi dan cepatnya zat bioktif yang bekerja pada fungi S. commune dapat menyebabkan kematian lebih cepat pada fungi tersebut.

Gambar 9. Grafik rata-rata penekanan pertumbuhan S. commune pada pelarut aquades

Penekanan pertumbuhan fungi dengan ekstraksi menggunakan pelarut aquades yang paling rendah adalah pada konsentrasi 0% dan yang paling tinggi adalah konsentrasi 4%. Rata-rata penekanan pertumbuhan fungi yang paling rendah dari ketiga pelarut menggunakan ekstrak daun mindi adalah dengan pelarut aquades. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, ekstrak daun mindi dengan pelarut aquades menunjukkan pertumbuhan fungi yang semakin luas

bahkan ada yang sampai memenuhi cawan. Hal ini membuktikan bahwa ekstrak ini kurang efektif dalam menekan pertumbuhan fungi.

Gambar 9 menunjukkan bahwa pada pengamatan hari ke-6 penekanan pertumbuhan fungi S. commune terbesar terdapat pada konsentrasi 0% dengan nilai penekanan pertumbuhan sebesar 77,16% dan penekanan pertumbuhan terkecil terdapat pada konsentrasi 4% yaitu 49,44%.Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata penekanan pertumbuhan S. commune cenderung meningkat dengan naiknya tingkat konsentrasi.

Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa perbedaan pelarut, tingkat konsentrasi ekstrak dan interaksi keduanya tidak memberikan pengaruh nyata terhadap penekanan pertumbuhan fungi S. commune. Hal ini bukan berarti tidak memiliki sifat racun, sebab adanya kecenderungan tingkat penekanan pertumbuhan fungi yang meningkat seiring dengan pertambahan jumlah konsentrasi.

Dokumen terkait