• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Zat Ekstraktif Daun Mindi (Melia azedarach Linn.) Pada Pengendalian Fungi Schizophyllum commune

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pemanfaatan Zat Ekstraktif Daun Mindi (Melia azedarach Linn.) Pada Pengendalian Fungi Schizophyllum commune"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN ZAT EKSTRAKTIF DAUN MINDI

(Melia azedarach Linn.) PADA PENGENDALIAN FUNGI

Schizophyllum commune

HASIL PENELITIAN

Oleh :

FITRI HAYANI

031203012/TEKNOLOGI HASIL HUTAN

DEPARTEMEN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Skripsi : Pemanfaatan Zat Ekstraktif Daun Mindi (Melia azedarach Linn.) pada Pengendalian Fungi

Schizophyllum commune

Nama : Fitri Hayani

NIM : 031203012

Departemen : Kehutanan

Program Studi : Teknologi Hasil Hutan

Disetujui Oleh, Komisi Pembimbing :

Ridwanti Batubara, S.Hut, MP Iwan Risnasari, S.Hut M.Si Ketua Anggota

Mengetahui,

(3)

ABSTRACT

The purposed of this research’s were to examine of leaf extract mindi (Melia azedarach Linn.) to growth the fungi Schizophyllum commune. As amount 1500 gr of dust leaf each of 50 gr extract by aceton, methanol and aquadest. The result it became as preservated natural with various concentrate and tested to fungi

S. commune. The result of this research’s shown extractive contain of the leaf

extract mindi on three the solvent from aceton, methanol and aquadest are 24,8%; 20,2% and 18,6%. While the precentase of average growth suppression of the fungi on all solvent relative same is to give low pressure to growth the fungi S.

commune. The difference kinds of solvent, concentrate and both of interaction is

not significance effect to pressure growth of the fungi S. commune.

(4)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji zat ekstraktif daun mindi (Melia azedarach Linn.) terhadap pertumbuhan fungi Schizophyllum commune. Sebanyak 1500 gram serbuk daun mindi masing-masing 50 gram diekstrak dengan pelarut aseton, metanol dan aquades. Hasil ekstrak tersebut dijadikan sebagai bahan pengawet alami dengan berbagai taraf konsentrasi dan selanjutnya diujikan pada fungi S. commune. Hasil penelitian menunjukkan kandungan ekstrak daun mindi pada tiga pelarut dari aseton, metanol dan aquades adalah 24,8%; 20,2% dan 18,6%. Sedangkan rata-rata persentase penekanan pertumbuhan fungi pada semua pelarut relatif sama yaitu memberikan tekanan ringan terhadap pertumbuhan fungi S. commune. Perbedaan jenis pelarut, tingkat konsentrasi dan interaksi keduanya tidak memberikan pengaruh nyata terhadap penekanan pertumbuhan fungi S. commune.

(5)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Surian - SUMBAR pada tanggal 4 April 1984 dari ayah Alm. Usman Bagindo Kayo dan Ibu Nursam. Penulis merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara.

Pendidikan formal yang ditempuh selama ini : 1. Pendidikan Dasar di SD N 10 Koto Tinggi, lulus tahun 1997 2. Pendidikan Lanjutan di SLTP N 1 Pantai Cermin, lulus tahun 2000 3. Pendidikan Menengah di SMA N 1 Pantai Cermin, lulus tahun 2003

4. Tahun 2003 diterima pada Program Studi Teknologi Hasil Hutan Departemen Kehutanan Universitas Sumatera Utara melalui jalur Pemanduan Minat dan Prestasi (PMP).

Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah mengikuti organisasi Himpunan Mahasiswa Sylva (HIMAS) USU sebagai anggota, penulis juga mengikuti Organisasi BKM (Badan Kenaziran Musholla) sebagai anggota seksi dana dan usaha pada tahun 2005. Penulis juga pernah menjadi asisten praktikum Fisika kayu T.A 2007/2008, Kimia Kayu T.A 2007/2008 dan Pulp dan Kertas T.A. 2007/2008.

Penulis melakukan Praktik Kerja Lapang (PKL) di HPHTI PT. Toba Pulp Lestari, Sektor Aek Nauli, Kabupaten Simalungun, Parapat. Penulis melakukan penelitian dengan judul “Pemanfaatan Zat Ekstraktif Daun Mindi (Melia azedarach Linn.) pada Pengendalian Fungi Schizophyllum commune” untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan.

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkah dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan hasil penelitian ini tepat pada waktu yang telah ditentukan. Judul dari penelitian ini adalah “Pemanfaatan Zat Ekstraktif Daun Mindi (Melia azedarach Linn.) pada Pengendalian Jamur Schizophylum commune”.

Dalam kesempatan kali ini penulis sangat berterima kasih kepada orang tua yang telah memberikan semangat, doa, dukungan materi maupun spiritual. Penulis juga tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ridwanti Batubara, S.Hut, MP dan Ibu Iwan Risnasari, S.Hut, M.Si selaku dosen pembimbing yang banyak memberikan masukan, saran dan bantuannya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

Kiranya skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, November 2009

Penulis

(7)

DAFTAR ISI Tanaman Mindi (Melia azedarach Linn.) ... 4

Zat Ekstraktif ... 6

Penggolongan Zat Ekstraktif ... 8

Peranan Zat Ekstraktif... 8

Fungi Sebagai Organisme Perusak Kayu ... 9

Fungi Pelapuk S. commune ... 10

METODOLOGI PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian ... 14

Alat dan Bahan Penelitian ... 14

Prosedur Penelitian ... 14

HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Zat Ekstraktif ... 22

(8)

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Kandungan zat ekstraktif daun mindi ... 22

2. Penekanan pertumbuhan S.commune selama 10 hari ... 25

3. Hasil uji alkaloid ... 26

4. Hasil uji flavonoid ... 26

5. Hasil uji triterpenoida ... 27

(9)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Daun mindi ... 5

2. Serbuk daun mindi ... 15

3. Proses evaporasi ... 15

4. Hasil evaporasi ekstrak daun mindi ... 16

5. Pembiakan fungir S. commune untuk bahan innokulasi (perlakuan) ... 17

6. Pertumbuhan fungi S. commune... 26

7. Grafik rata-rata penekanan pertumbuhan fungi pada pelarut aseton ... 27

8. Grafik rata-rata penekanan pertumbuhan fungi pada pelarut metanol ... 28

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Kadar air serbuk daun mindi ... 32

2. Penekanan pertumbuhan S.commune selama 10 hari ... 33

3. Luas pertumbuhan S. commune selama 10 hari ... 34

4. Tabel rata-rata luas pertumbuhan S. commune selama 10 hari ... 35

(11)

ABSTRACT

The purposed of this research’s were to examine of leaf extract mindi (Melia azedarach Linn.) to growth the fungi Schizophyllum commune. As amount 1500 gr of dust leaf each of 50 gr extract by aceton, methanol and aquadest. The result it became as preservated natural with various concentrate and tested to fungi

S. commune. The result of this research’s shown extractive contain of the leaf

extract mindi on three the solvent from aceton, methanol and aquadest are 24,8%; 20,2% and 18,6%. While the precentase of average growth suppression of the fungi on all solvent relative same is to give low pressure to growth the fungi S.

commune. The difference kinds of solvent, concentrate and both of interaction is

not significance effect to pressure growth of the fungi S. commune.

(12)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji zat ekstraktif daun mindi (Melia azedarach Linn.) terhadap pertumbuhan fungi Schizophyllum commune. Sebanyak 1500 gram serbuk daun mindi masing-masing 50 gram diekstrak dengan pelarut aseton, metanol dan aquades. Hasil ekstrak tersebut dijadikan sebagai bahan pengawet alami dengan berbagai taraf konsentrasi dan selanjutnya diujikan pada fungi S. commune. Hasil penelitian menunjukkan kandungan ekstrak daun mindi pada tiga pelarut dari aseton, metanol dan aquades adalah 24,8%; 20,2% dan 18,6%. Sedangkan rata-rata persentase penekanan pertumbuhan fungi pada semua pelarut relatif sama yaitu memberikan tekanan ringan terhadap pertumbuhan fungi S. commune. Perbedaan jenis pelarut, tingkat konsentrasi dan interaksi keduanya tidak memberikan pengaruh nyata terhadap penekanan pertumbuhan fungi S. commune.

(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kebutuhan akan kayu semakin meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan bertambahnya penduduk, kemajuan teknologi, perindustrian dan ilmu pengetahuan. Dalam bidang konstruksi misalnya, kayu masih memiliki arti penting dalam penggunaannya meskipun mendapat saingan dari bahan-bahan lain seperti: semen, baja dan sebagainya. Kayu digunakan oleh manusia sebagai bahan bangunan dan sebagai bahan baku industri disebabkan karena kayu memiliki kelebihan, yaitu: mudah diperoleh di seluruh dunia, mudah dibentuk dan dikerjakan, sebagai isolator panas yang baik, dan memiliki sifat dekoratif yang baik.

Disamping memiliki kelebihan, kayu juga memiliki kekurangan yaitu mudah dirusak oleh organisme perusak kayu seperti fungi dan serangga dan juga oleh kondisi fisik dan kimia lingkungan. Kerusakan kayu yang disebabkan oleh faktor biologis lebih tinggi dibandingkan faktor-faktor perusak lainnya (Nandika dan Tambunan, 1989).

(14)

bahan pengawet kayu yang digunakan pada saat ini merupakan bahan kimia sintetis. Ditinjau dari aspek ekologis, penggunaan bahan kimia sintetis mempunyai dampak yang kurang menguntungkan terutama disebabkan bahan kimia tersebut tidak dapat terurai. Upaya untuk mengurangi dampak negatif tersebut dilakukan dengan pencarian bahan pengawet alternatif dari alam melalui berbagai penelitian. Pemanfaatan komponen kimia berupa zat ekstraktif yang terdapat dalam kayu merupakan salah satu alternatif sumber bahan pengawet kayu alami. Kandungan zat ekstraktif pada setiap jenis kayu berbeda satu sama lannya, baik kadarnya maupun daya racunnya. Hal ini menjadikan setiap jenis kayu memiliki kelas keawetan yang berbeda-beda (Duljapar, 2001).

Zat ekstraktif berbagai jenis kayu memang telah terbukti mengandung senyawa bio-aktif yang dapat menghambat serangan organisme perusak kayu seperti fungi dan rayap. fungi yang paling merugikan adalah fungi pembusuk dan fungi pelapuk kayu. Contoh fungi pembusuk dan pelapuk kayu adalah

Schizophylum commune, Pycnoporus sanguineus dan Dacryopynax spatularia

Marst.

(15)

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menguji zat ekstraktif daun

mindi (M. azedarach Linn.) terhadap pertumbuhan fungi pelapuk kayu

S. commune.

Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah tersedianya informasi tentang pemanfaatan daun mindi sebagai bahan fungisida alami pada fungi pelapuk kayu S. commune.

Hipotesis

(16)

TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman Mindi (Melia azedarach Linn.)

Mindi termasuk tanaman tahunan tergolong kedalam famili Meliaceae, berwarna hitam, baunya tidak sedap serta rasanya pahit sekali. Biji dan daun mindi mengandung senyawa glokosida flavonoid dengan aglikon quersetin yang bersifat sebagai insektisida botanis. Pada umumnya bahan aktif yang terkandung pada tumbuhan mindi berfungsi sebagai antifedan terhadap serangga dan menghambat perkembangan serangga. Daun dan biji mindi telah dilaporkan dapat digunakan sebagai pestisida nabati. Ekstrak daun mindi dapat digunakan pula sebagai bahan untuk mengendalikan hama termasuk belalang. Cara pemanfaatan tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan sebagai berikut yaitu daun mindi dikupas, ditumbuk lalu direndam dalam air dengan konsentrasi 25-50 g/L selama 24 jam. Larutan yang dihasilkan disaring agar didapat larutan yang siap diaplikasikan dengan cara disemprotkan (Kartasapoetra, 1987).

(17)

Gambar 1. Daun mindi

Tanaman mindi merupakan tanaman serbaguna karena dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Seluruh bagian tanaman mulai dari akar, batang yang berkayu, kulit batang, daun, buah dan bijinya dapat dimanfaatkan. Kayu mindi dapat digunakan dalam bentuk kayu utuh misalnya sebagi komponen rumah, komponen mebel dan barang kerajinan. Kayu mindi dapat juga digunakan dalam bentuk panel misalnya sebagai kayu lapis indah dan vinir lamina indah. Daun dan biji mindi digunakan sebagi pestisida alami dan kulitnya digunakan sebagai obat (Martawijaya et al, 1989).

(18)

Mindi memiliki adaptasi tinggi dan toleran dengan berbagai kondisi lingkungan yang beragam. Jenis ini tumbuh pada tempat-tempat dengan rata-rata suhu maksimum dan minimum per tahun, berturut-turut 39°C dan -5°C. Umumnya tumbuhan ini tumbuh dari ketinggian 0-1200 mdpl, dan di pegunungan Himalaya tumbuh pada ketinggian 1800 (sampai 2200) m. Curah hujan tahunan di habitat alaminya berkisar antara 600-2000 mm. Di Afrika, jenis tumbuhan ini ditanam sebagai pohon pelindung yang toleran terhadap kekeringan. Mindi tersebar luas di daerah-daerah kering di bagian selatan dan barat daya Amerika Serikat, yang memiliki curah hujan kurang dari 600 mm. Mindi dapat tumbuh pada tanah-tanah berkadar garam, tanah dengan pH basa kuat, tapi tidak terlalu asam. Jenis ini juga tumbuh pada tanah-tanah miskin, tanah marjinal, tanah miring, dan tanah berbatu atau pada tebing curam berbatu (Wardiyono, 2008).

Kandungan bahan aktif mindi sama dengan mimba (Azadirachta indica) yaitu azadirachtin, selanin dan meliantriol. Namun kandungan bahan aktifnya lebih rendah dibandingkan dengan mimba sehingga efektivitasnya lebih rendah pula. Ekstrak daun mindi dapat digunakan pula sebagai bahan untuk mengendalikan hama termasuk belalang. Kulit mindi dipakai sebagai penghasil obat untuk mengeluarkan cacing usus. Kulit daun dan akar mindi telah digunakan sebagai obat rematik, demam, bengkak dan radang (Qitanonq, 2006).

Zat Ekstraktif

(19)

tipe lipofil maupun hidrofil. Ekstraktif dapat dipandang sebagai konstiotuen kayu yang tidak struktural, hampir seluruhnya terbentuk dari senyawa-senyawa ekstraseluler dan berat molekul rendah. Tipe konstituen yang mirip disebut eksudat, yang dibentuk oleh pohon melalui metabolisme sekunder setelah kerusakan mekanik atau penyerangan oleh serangga atau fungi. Meskipun ada kesamaan terdapatnya ekstraktif kayu di dalam famili, ada perbedaan-perbedaan yang jelas dalam komposisi bahkan diantara spesies-spesies kayu yang sangat dekat (Sjöström, 1998).

Ekstraktif-ekstraktif menempati tempat-tempat morfologi tertentu dalam struktur kayu. Sebagai contoh; asam-asam resin terdapat dalam saluran resin, sedangkan lemak dan lilin terdapat dalam sel parenkim jari-jari. Ekstraktif-ekstraktif fenol terdapat terutama dalam kayu teras dan dalam kulit (Sjöström, 1998).

Menurut Achmadi (1990) bahwa zat ekstraktif berwarna atau tidak, dapat mempengaruhi keefektifan kayu atau proses pengolahan, seperti pengecetan, pengawetan, perekatan dan pembuatan komposit kayu polimer. Ekstraktif tidak hanya penting untuk mengerti taksonomi dan biokimia pohon-pohon, tetapi penting juga bila dikaitkan dengan aspek-aspek teknologi. Ekstraktif merupakan bahan dasar yang berharga untuk pembuatan bahan kimia organik dan mereka

memainkan peranan penting dalam proses pembuatan pulp dan kertas (Sjöström, 1998).

(20)

Penggolongan Zat Ekstraktif

Achmadi (1990) mengelompokkan zat ekstraktif menjadi fraksi lipofilik dan hidrofilik, walaupun batasnya kurang jelas. Yang termasuk fraksi lipofilik adalah: lemak, waxes, terpene, terpenoid dan alkohol alifatik tinggi. Cara pemisahaannya dapat dilakukan dengan pelarut non polar, seperti etil eter atau

diklorometana.

Sedangkan fraksi hidrofilik meliputi senyawa fenolik (tannin, lignin), karbohidrat terlarut, protein, vitamin dan garam anorganik. Bahan jenis kayu yang mempunyai kadar resin tinggi, misalnya resin (damar) yang banyak terdapat pada famili Dipterocarpaceae. Resin ini berfungsi patologis (melindungi terhadap kerusakan, tedapat pada saluran resin) dan fungsi fisiologis (sebagai cadangan energi, terdapat dalam sel-sel jari dan sering ditemukan pada daun) (Achmadi, 1990).

Peranan Zat Ekstraktif

(21)

Fungi Sebagai Organisme Perusak Kayu

Fungi adalah mikroorganisme tidak berklorofil, berbentuk hifa atau sel tunggal, eukariotik, berdinding sel dari kitin atau selulosa, bereproduksi seksual dan aseksual. Dalam dunia kehidupan fungi merupakan kingdom tersendiri, karena cara mendapatkan makanannya berbeda dari organism eukariotik lainnya, yaitu melalui absorpsi. Sebagian besar tubuh fungi terdiri atas benang-benang yang disebut hifa, yang saling berhubungan menjalin semacam jala, yaitu miselium. Miselium dapat dibedakan atas miselium vegetatif yang berfungsi menyerap nutrisi dari lingkungan, dan miselium fertil yang berfungsi dalam reproduksi. Fungi dapat ditemukan pada aneka substrat, baik di lingkungan darat, pereairan, maupun udara. Tidaklah sulit menemukan fungi di alam, karena bagian vegetatifnya yang umumnya berupa miselium berwarna putih mudah terlihat pada substrat yang membusuk (kayu lapuk, buah-buahan yang terlalu masak, makanan yang membusuk), konidia atau tubuh buahnya dapat mempunyai aneka warna (merah, hitam, jingga, kuning, krem, putih, abu-abu, coklat, kebiru-biruan dan sebagainya) pada daun, batang, kertas, tetkstil, kulit dan lain-lain. Tubuh buah fungi lebih mencolok karena langsung dapat dilihat dengan mata kasat, sedangkan miselium vegetatif yang menyerap makanan hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop (Gandjar et al, 1999).

(22)

bidang farmasi fungi dimanfaatkan untuk menghasilkan anti biotik, di industri kimia untuk proses-proses biotransformasi tertentu untuk menghasilkan aneka enzim dan senyawa-senyawa asam organik tertentu, di bidang kedokteran sejumlah fungi memang patogen bagi manusia, antara lain menyebabkan alergi, di bidang kesehatan masyarakat spora fungi di udara menyebabkan pengotoran udara yang bila dihirup menyebabkan batuk-batuk dan alergi, disamping itu diketahui pula bahwa fungi dapat merusak lukisan cat, minyak bumi, kertas dan tekstil (Gandjar et al, 1999).

Fungi Pelapuk S. commune

Fungi ini termasuk famili Schizophyllaceae. S.commune tersebar luas di dunia (kosmopolitan). Fungi ini termasuk jenis white-rot fungi. Fungi ini dikenal dengan tanda buah tidak berangkai, bagian bawah meyempit hingga berbentuk kipas, bagian atas berwarna putih keabu-abuan pada waktu muda dan setelah tua berwarna abu-abu, ujung tubuh buah kadang-kadang pecah pada arah memanjang, ujung pecah ini melengkung pada waktu segar. S. commune liat dan kenyal dan setelah kering menjadi kaku (Martawijaya, 1962 dalam Batubara, 2006).

(23)

kayu. Perubahan warna kayu tersebut disebabkan oleh reaksi yang terjadi dengan enzim yang dikeluarkan oleh miselium fungi.

Menurut Alexopoulos dan Mims (1979) dalam Dirgantara (1998)

S. commune diklasifikasikan sebagai beikut :

Ragnum = Meceteae Divisi = Amastigomycota Sub. Divisi = Basidiomycotina Kelas = Basidiomycetes Sub. Kelas = Holobasidiomycetes I. Ordo = Aphyllophorales Famili = Schizophyllaceae Genus = Schizophylum

Spesies = Schizophylum commune

(24)

Menurut Kollman (1968) diacu oleh Nandika dan Tambunan (1989) pada garis besarnya ada tiga jenis fungi pelapuk kayu, yaitu :

1. Brown-rot fungi, yaitu fungi tingkat tinggi dari kelas Basidiomycetes. Golongan fungi ini menyerang holosellulosa kayu.

2. White-rot fungi, yaitu fungi dari kelas Basidiomycetes yang menyerang holosellulosa dan lignin pada kayu.

3. Soft-rot fungi, fungi ini berasal dari kelas Ascomycetes yang menyerang holosellulosa dan lignin pada kayu.

Menurut Nandika dan Tambunan (1989) fungi pewarna pada umumnya tidak mempengaruhi keteguhan kayu, sebaliknya fungi pelapuk kayu berpengaruh terhadap sift-sifat keteguhan, terutama keteguhan banting. Pada umunya serangan fungi pelapuk kayu terhadap sifat-sifat kayu dapat mempengaruhi sifat-sifat kayu berupa pengurangan bobot, pengurangan kekuatan, peningkatan kadar air, penurunan nilai kalori, perubahan warna, perubahan bau, dan perubahan struktur mikroskopis. Beberapa faktor biologis yang dibutuhkan untuk pertumbuhan fungi pelapuk kayu adalah temperatur yang cocok, persediaan oksigen yang cukup, kadar air kayu diatas titik jenuh serat, kelembaban, pH dan nutrisi yang cocok.

(25)

Manion (1981) dalam Satmoko (1995) membagi penyebaran pelapukan kayu berdasarkan letak fungi pada bagian pohon menjadi 5 macam yaitu :

1. Pelapukan kayu teras yang terdapat pada bagian atas pohon (Top rot) 2. Pelapukan kayu pada akar (Root rot)

3. Pelapukan kayu pada bagian pangkal batang pohon (Butt rot)

4. Pelapukan kayu gubal pada bagian pohon yang sudah mati pada pohon hidup (Slash rot)

5. Pelapukan kayu teras pada pohon yang sudah tumbang (Product rot).

Pengujian pada 25 jenis kayu yang berasal dari komplek Gunung Bunder memberikan kesimpulan bahwa fungi ini merupakan fungi perusak kayu yang ganas (Martawijaya, 1962) dalam (Batubara, 2006). Sumarni dan Jasni (1989)

dalam (Batubara, 2006) melakukan penelitian tentang resistensi kayu plastik

terhadap tiga jenis fungi perusak kayu yaitu S.commune, Pycnoporus sanguineus,

Dacryopynax spatularia Marst. Dari penelitian ini diperoleh keterangan bahwa

(26)

METODOLOGI PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Polimer FMIPA USU, di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan dan di laboratorium Bioteknologi Departemen Kehutanan Universitas Sumatera Utara. Waktu pelaksanaan dilaksanakan pada bulan Juni 2009 sampai bulan Agustus 2009.

Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah: blender untuk menghaluskan serbuk, saringan dengan ukuran 40-60 mesh, batang pengaduk untuk mengaduk larutan, labu erlemeyer, autoclave, labu separator, cawan petri,

rotary evaporator, timbangan, oven, kamera dan kantong plastik.

Bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah serbuk daun mindi (Melia azedarach Linn.), fungi pelapuk kayu S. commune, pelarut sseton, metanol, aquades, kertas saring, kentang, agar-agar, dekstrosa, kain katun yang tipis, kapas steril, aluminium foil, tissu steril.

Prosedur Penelitian Persiapan Bahan Baku

(27)

40-60 mesh dan dimasukkan masing-masing bahan kedalam kantong plastik yang berukuran besar.

Gambar 2. Serbuk daun mindi

Ekstraksi Daun Mindi

Gambar 3. Proses evaporasi

(28)

kemudian dievaporasi sampai kering setelah itu baru dioven untuk mengetahui kadar ekstraknya.

Gambar 4. Hasil evaporasi ekstrak daun mindi

Penyediaan Biakan Fungi S. commune

Pembuatan Potato Dextrose Agar (PDA)

Kentang yang telah dikupas dan dipotong-potong dengan ukuran 1 cm x 1 cm x 1 cm sebanyak 200 gram direbus dalam 500 ml air suling sampai cukup empuk. Hal ini dapat diketahui dengan menusuk kentang dengan garpu jika ditusuk terasa mudah berarti kentang telah mengeluarkan sarinya. Kemudian 15 gram agar-agar dimasak dengan menggunakan air steril sebanyak 500 ml sampai agar-agar larut, selanjutnya dekstrosa (dapat diganti dengan gula pasir) sebanyak 15 gram dimasukkan ke dalamnya. Air ekstrak kentang selanjutnya dituangkan ke dalam larutan agar-agar. Larutan ini kemudian disaring dengan kain katun yang tipis. Larutan ditambahkan air steril sampai volumenya menjadi 1000 ml.

Kadar Ekstrak (%) = x100%

Ekstraksi Sebelum

Serbuk Kering

Bobot

Ekstrak Kering

(29)

Setelah dididihkan, larutan PDA dimasukkan ke dalam erlemeyer kemudian ditutup dengan kapas steril dan ditutup lagi dengan menggunakan

alumunium foil. Kemudian disterilkan di dalam autoclave selama lebih kurang 15

menit dengan suhu 121-124 oC pada tekanan 1,25 atm. Setelah itu, PDA dikeluarkan dan dibiarkan hingga dingin (10-20 oC), kemudian dituangkan ke dalam cawan petri.

Pembiakan Fungi

Fungi yang digunakan dalam penelitian ini adalah S. commune. Fungi tersebut diperoleh dari isolat yang ada di Lab. Perlindungan Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Karena fungi tersebut berada dalam penyimpanan suhu rendah maka diaktifkan kembali di Lab. Bioteknologi Departemen Kehutanan USU dengan cara dibiakkan kembali dalam cawan petri yang berisi media PDA. Setelah tumbuh memenuhi cawan, isolat tersebut menjadi bahan yang akan diinokulasi pada media PDA baru (perlakuan) yang telah disiapkan (Gambar 5).

(30)

Pembuatan Konsentrasi Larutan untuk Aplikasi

Tahap selanjutnya setelah melakukan ekstraksi dan diperoleh padatan ekstraktif yang dilakukan dengan pengeringan oven pada suhu 35 oC adalah pembuatan konsentrasi larutan zat ekstraktif dengan menggunakan pelarut aseton, metanol dan aquades. Masing-masing ekstraktif terlarut (pada aseton, metanol, dan aquades) dibuat 5 taraf konsentrasi larutan ekstraktif, yaitu : 0%, 1%, 2%, 3% dan 4%. Penentuan konsentarsi larutan berdasarkan volume aplikasi.

Perlakuan Fungi S. commune dengan Ekstraktif Daun Mindi

Media PDA yang berada di dalam cawan petri diinokulasi dengan cendawan yang telah tumbuh aktif, dengan cara meletakan satu isolat seukuran 12 mm2 (berbentuk lingkaran). Sebelumnya pada media tersebut diteteskan 1 tetes ekstraktif kulit mindi (0,5 ml) sesuai konsentrasinya dan digoyang-goyang supaya merata pada seluruh media cawan petri tersebut. Sedangkan kontrol ditetesi pelarut (aseton, metanol, aquades) untuk mengetahui pengaruh murni dari fungisida terhadap pertumbuhan fungi. Masing-masing perlakuan terdiri dar 3 cawan petri sebagai ulangan.

Pengukuran Penekanan Pertumbuhan Fungi S. commune

(31)

Perhitungan Penekanan Pertumbuhan Fungi

Perhitungan penekanan pertumbuhan fungi didasarkan pada rumus :

Keterangan :

MK = Luas pertumbuhan miselium fungi dari perlakuan kontrol (mm2) MP = Luas pertumbuhan miselium fungi dari perlakuan fungisida (mm2)

Tingkatan penekanan pertumbuhan terhadap pertumbuhan fungi ditentukan sebagai berikut :

a. Sehat, bila pertumbuhan fungi tidak tertekan sama sekali b. Tertekan ringan, bila penekanan pertumbuhan fungi 0-25% c. Tertekan sedang, bila penekanan pertumbuhan fungi 25-50% d. Tertekan berat, bila penekanan pertumbuhan fungi 50-75% e. Tertekan sangat berat, bila penekanan pertumbuhan fungi 75-99% f. Mati, bila tidak ada tanda-tanda pertumbuhan fungi.

(Philip, 1994 dalam Batubara, 2005).

Analisa Data

Analisa data dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan jenis pelarut dan konsentrasi zat ekstraktif daun mindi digunakan statistik Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan menggunakan 2 faktor yaitu :

(32)

Faktor Konsentrasi (K) bahan pelarut yang dibuat menjadi 5 taraf terdiri dari :

K1 = 0% K4 = 3%

K2 = 1% K5 = 4%

K3 = 2%

Dengan ulangan sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 45 satuan percobaan. Kombinasi perlakuan yang dibuat adalah sebagai berikut :

P1K1 P1K2 P1K3 P1K4 P1K5 P2K1 P2K2 P2K3 P2K4 P2K5 P3K1 P3K2 P3K3 P3K4 P3K5 Model analisa yang digunakan dalam percobaan ini adalah :

Yijk = μ + αi + βj + (αβ)ij + Σijk

Yijk = nilai pengamatan bahan pelarut ke-i, dengan konsentrasi ke-j, dan pada ulangan ke-k

μ = rata-rata umum

αi = pengaruh jenis pelarut ke-i βj = pengaruh konsentrasi larutan ke-j

(αβ)ij = pengaruh interaksi antara jenis pelarut ke-i dengan konsentrasi ke-j

Σijk = pengaruh acak (galad) percobaan pelarut ke-i dan konsentrasi larutan

ke-j serta pada ulangan ke-k Hipotesis yang digunakan adalah : 1. Pengaruh utama jenis pelarut

H0 : Jenis pelarut tidak berpengaruh terhadap penekanan pertumbuhan

(33)

H1 : Jenis pelarut berpengaruh terhadap penekanan pertumbuhan S. commune.

2. Pengaruh utama variasi konsentrasi

H0 : Variasi konsentrasi tidak berpengaruh terhadap penekanan pertumbuhan S. commune.

H1 : Variasi konsentrasi berpengaruh terhadap penekanan pertumbuhan S. commune.

3. Pengaruh interaksi jenis pelarut dan variasi konsentrasi

H0 : Interaksi jenis pelarut dan variasi konsentrasi tidak berpengaruh

terhadap penekanan pertumbuhan S. commune.

H1 : Interaksi jenis pelarut dan variasi konsentrasi berpengaruh terhadap

penekanan pertumbuhan S. commune

Untuk mengetahui pengaruh dari faktor perlakuan yang dicoba, dilakukan analisis keragaman dengan kriteria uji jika F hitung ≤ F tabel maka H0 diterima

dan jika F hitung > F tabel maka H0 ditolak. Untuk mengetahui taraf perlakuan

(34)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kandungan Zat Ekstraktif

Serbuk daun mindi memiliki kadar air rata-rata sebesar 11,11 % (Lampiran 1). Zat ekstraktif dari serbuk daun mindi yang direndam dengan pelarut aseton, metanol dan aquades menghasilkan ekstrak yang berwarna coklat kehitaman. Kandungan zat ekstraktif tertinggi diperoleh dari jenis pelarut aseton dan yang terendah diperoleh dari jenis pelarut aquades. Secara lengkap kandungan zat ekstraktif dari daun mindi tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan zat ekstrak daun mindi (M. azedarach Linn.)

Jenis Pelarut Berat padatan ekstrak (gram) Persentase kadar zat ekstrak (%)

Aseton 124 24,8

Metanol 101 20,2

Aquades 93 18,6

(35)

Kandungan ekstraktif yang dihasilkan tersebut bukan merupakan nilai yang mutlak. Karena dalam penentuan kandungan ekstraktif tidak terlepas dari beberapa faktor yang mempengaruhinya. Menurut Browning (1967) dalam Mariyati (2000) kadar ekstraktif yang diperoleh tergantung pada pengeringan dan pengkondisian serbuk kayu sebelum diekstrak. Kadar air serbuk mempengaruhi proses ekstraksi. Banyaknya zat ekstraktif yang dapat larut dalam pelarut polar biasanya lebih sedikit, namun adanya pengeringan serbuk sebelum proses ekstraksi, jumlah bahan yang akan terlarut lebih banyak. Zat ekstraktif yang terkandung di dalam kayu bisa bersifat sebagai fungisida atau insektisida. Sifat ini membantu dalam membentuk keawetan alami kayu. Zat yang berperan antara lain

zat fenol, terpentene, saponin, flavonoid dan tanin. Faktor lain yang cukup

berpengaruh pada proses ekstraksi adalah suhu, dimana adanya pemanasan akan membantu proses ekstraksi berjalan dengan baik, dan penguraian akan lebih seragam.

(36)

Jenis pelarut yang digunakan dalm penelitian ini mempunyai fungsi yang berbeda meskipun jenis pelarut yang digunakan dalam penelitian ini merupakan jenis pelarut yang netral yang sering digunakanuntuk memfraksi zat kimia pada tanaman. Aseton sering digunakan untuk mengekstraksi serbuk kayu untuk pestisida alami, begitu juga dengan metanol dan aquades.

Ukuran serbuk akan memepengaruhi pula keberhasilan proses ekstraksi. Oleh karena itu bahan perlu digiling atau dihaluskan terlebih dahulu, agar penetrasi pelarut berlangsung sempurna. Penyaringan perlu dilakukan untuk menjamin keseragaman partikel sehingga reaksi berlangsung seragam. Menurut Achmadi (1989) bahwa ukuran partikel yang digunakan dalam analisis kayu berkisar antara 40-80 mesh atau berukuran 0,005-0,4 mm. Proses ekstraksi dilakukan berulang-ulang, sampai larutan menjadi bening, sehingga kecil kemungkinan tertinggalnya zat ekstraktif pada ampas bahan yang digunakan.

Uji Fungi

(37)

memberikan kesimpulan bahwa fungi ini merupakan fungi perusak kayu yang ganas. Sumarni dan Jasni (1989) dalam Batubara (2006) melakukan penelitian tentang resistensi kayu plastik terhadap tiga jenis fungi perusak kayu yaitu

S. commune, Pycnoporus sanguineus, Dacryopynax spatularia Marst. Dari

penelitian ini diperoleh keterangan bahwa fungi S. commune merupakan fungi yang paling ganas menyerang kayu dibandingkan dua jenis lainnya. Rata-rata persentase penurunan berat kayu yang disebabkan oleh fungi ini adalah tertinggi dibandingkan dua yang lainnya yaitu sebesar 19,19 %.

Tabel 2. Rata-rata penekanan pertumbuhan S.commune selama 10 Hari Pelarut Konsentrasi (%)

S. commune pada perlakuan kontrol memenuhi cawan petri dengan luas rata-rata

(38)

Gambar 6. Pertumbuhan fungi S. commune

Tabel 2 menunjukkan bahwa dari ketiga jenis pelarut yang digunakan yang memilki rata-rata persen penekanan pertumbuhan fungi paling besar adalah pelarut metanol dibandingkan dengan aseton dan aquades. Hal ini didukung dengan hasil uji fitokimia Afsari (2009), yaitu pada ekstrak daun mindi dengan pelarut metanol mengandung senyawa alkoloida, flavonoid, triterpenoida dan

saponin (dapat dilihat pada Tabel 3,4,5 dan 6).

Tabel 3. Hasil uji alkaloid Pereaksi Perubahan

Warna

Estrak Metanol

Ekstrak

Aseton Ekstrak Aquades Bouchardat Endapan coklat +++ ++ +++

Tabel 4. Hasil uji flavanoid Pereaksi Perubahan

(39)

Tabel 5. Hasil uji triterpenoida

Pereaksi Perubahan Warna Estrak Metanol

Tabel 6. Hasil uji saponin

Pereaksi Ekstrak Dengan penambahan Akuades, dikocok

menghasilkan busa, ditambah HCl busa stabil.

++ ++ ++

Keterangan: + = ada sedikit ++ = ada sedang

Tabel 3,4,5 dan 6 menunjukkan bahwa uji fitokimia ekstrak daun mindi pada pelarut aseton dan aquades mengandung senyawa alkaloid, flavonoid,

triterpenoida dan saponin namun tidak bersifat aktif terhadap penekanan

pertumbuhan fungi S. commune.

Hasil rata-rata penekanan pertumbuhan S.commune pada ketiga pelarut dapat dilihat pada Grafik 7, 8 dan 9.

(40)

Grafik 7 menggambarkan bahwa pada pengamatan hari ke-10 rata-rata penekanan pertumbuhan fungi S. commune terkecil terdapat pada perlakuan kontrol (konsentrasi 0%) dengan penekanan pertumbuhan sebesar 0% (sehat)dan rata-rata penekanan pertumbuhan terbesar terdapat pada konsentrasi 4% dengan penekanan pertumbuhan sebesar 3,45% (tertekan ringan) . Hal ini menunjukkan

bahwa rata-rata penekanan pertumbuhan S. commune cenderung meningkat dengan naiknya tingkat konsentrasi, dengan kata lain luas pertumbuhan fungi semakin menurun. Ini terlihat dari setiap pengamatan dari hari ke-2 sampai hari ke-10, contohnya pada pengamatan hari ke-2 rata-rata penekanan pertumbuhan terkecil terdapat pada konsentrasi 0% dengan penekanan pertumbuhan sebesar 96,06% dan rata-rata penekanan pertumbuhan terbesar terdapat pada konsentrasi 4% dengan penekanan pertumbuhan sebesar 99,05%.

Gambar 8. Grafik rata-rata penekanan pertumbuhan S. commune pada pelarut metanol

(41)

konsentrasi, yaitu pada konsentrasi 4%. Ini terlihat dari setiap pengamatan dari hari ke-2 sampai hari ke-10, contohnya pada pengamatan hari ke-2 penekanan pertumbuhan terkecil terdapat pada konsentrasi 0% dengan penekanan pertumbuhan 96,14% dan penekanan pertumbuhan terbesar terdapat pada kondentrasi 4% dengan penekanan pertumbuhan 99,65%. Hal ini terjadi karena semakin tinggi konsentrasi senyawa pada larutan daun mindi dan cepatnya zat bioktif yang bekerja pada fungi S. commune dapat menyebabkan kematian lebih cepat pada fungi tersebut.

Gambar 9. Grafik rata-rata penekanan pertumbuhan S. commune pada pelarut aquades

(42)

bahkan ada yang sampai memenuhi cawan. Hal ini membuktikan bahwa ekstrak ini kurang efektif dalam menekan pertumbuhan fungi.

Gambar 9 menunjukkan bahwa pada pengamatan hari ke-6 penekanan pertumbuhan fungi S. commune terbesar terdapat pada konsentrasi 0% dengan nilai penekanan pertumbuhan sebesar 77,16% dan penekanan pertumbuhan terkecil terdapat pada konsentrasi 4% yaitu 49,44%.Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata penekanan pertumbuhan S. commune cenderung meningkat dengan naiknya tingkat konsentrasi.

(43)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Hasil uji zat ekstraktif terhadap fungi S.commune menunjukkan bahwa rata-rata penekanan pertumbuhan fungi relatif sama pada ketiga pelarut yaitu memberikan tekanan ringan terhadap penekanan pertumbuhan fungi S. commune. Rata-rata penekanan yang paling tinggi terdapat pada pelarut metanol dengan nilai 2,63% (tertekan ringan), selanjutnya pelarut aseton dengan rata-rata 2,35% (tertekan ringan) dan pelarut aquades `1,91% (tertekan ringan).

Saran

(44)

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, S. S. 1989. Kimia Kayu. Pusat Antar Universitas. Institut Pertanian Bogor

Achmadi, S. S. 1990. Kimia Kayu. Pusat Antar Universitas. Institut Pertanian Bogor

Batubara, R. 2006. Identitfikasi Ekstrak Kulit Kayu Medang Hitam

(Cinnamomum porrectum Roxb.) sebagai Bahan Pengawet Kayu. Tesis

Pasca Sarjana. Universitas Mulawarman. Samarinda. (Tidak dipublikasikan).

Duljapar. K. 2001. Pengawetan Kayu. Penebar Swadaya. Jakarta.

Dirgantara, U. 1998. Pengaruh Proses Radiasi dan Posisi Bambu Betung yang Diimpregnasi Polimerisasi Radiasi dengan Stirena Terhadap Serangan Jamur Pelapuk Kayu (Schizophyllum commune). Skripsi Jurusan Teknologi Hasil Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.(Tidak dipublikasikan).

Gandjar, I., Oetari, A., Samson, A., Santoso, I. 1999. Pengenalan Kapang Tropik Umum. Universitas Indonesia. Depok.

Kartasapoetra, H.G. 1987. Hama Tanaman dan Perkebunan. Bina Aksara Jakarta. Mariyati, D. 2000. Daya Racun Zat Ekstraktif Kulit Kayu Jati (Tectona grandis).

Skripsi Jurusan Teknologi Hasil Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. (Tidak dipublikasikan).

Martawijaya, A., I. Kartasujana, Y. I. Mandang, S. A. Prawira dan K. Kadir. 1989. Atlas kayu Indonesia. Jilid II. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor.

Nandika, D. dan B. Tambunan. 1989. Deteriorasi Kayu oleh Faktor Biologis. Pusat Antar Universitas. Institut Pertanian Bogor.

Nicholas, D.D. 1987. Kemunduran (Deteriorasi) Kayu dan Pencegahannya dengan Perlakuan Pengawetan. Jilid I. Degradasi dan Proteksi Kayu. Terjemahan. Airlangga University Press.

(45)

Satmoko, E. Jenis-Jenis Jamur Pelapuk Kayu Koleksi Laboratorium Perlindungan Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sjöström, E. 1998. Kimia Kayu: Dasar-Dasar Penggunaan. Edisi Kedua. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Syafi’i. 2001. Sifat Anti Rayap Zat Ekstraktif Kulit Kayu Jati (Tectona grandis). Jurnal Teknologi Hasil Hutan. Fakultas Kehutanan. IPB.

Wardiyono. 2008. Melia azedarach Linn. Diambil dari:

tanggal 27

(46)

Lampiran 1. Kadar air serbuk daun mindi

Ulangan Berat Awal (g) Berat Kering (g) Kadar Air (%)

1 2 1,8 11,11

2 2 1,8 11,11

3 2 1,8 11,11

4 2 1,8 11,11

(47)
(48)

Lampiran 3. Luas pertumbuhan S. commune selama 10 hari

Pelarut Konsentrasi Ulangan Luas Pertumbuhan (mm

(49)

Lampiran 4. Tabel rata-rata luas pertumbuhan S. commune selama 10 hari

Pelarut Konsentrasi (%) Lama Pengamatan (Hari)

2 4 6 8 10

Gambar

Gambar 1. Daun mindi
Gambar 2. Serbuk daun mindi
Gambar 4. Hasil evaporasi ekstrak daun mindi
Tabel 1. Kandungan zat ekstrak daun mindi (M. azedarach Linn.) Jenis Pelarut Berat padatan ekstrak (gram) Persentase kadar zat ekstrak (%)
+6

Referensi

Dokumen terkait