• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada proses pemanfaatan kulit nanas sebagai bahan pembuatan bioetanol ini digunakan ragi Sacharomyces cereviseae yaitu mikroorganisme untuk fermentasi. Pada awal fermentasi masih diperlukan oksigen untuk pertumbuhan dan perkembangan Sacharomyces cereviseae, tetapi kemudian tidak dibutuhkan lagi karena kondisi proses yang diperlukan adalah anaerob. Sesuai dengan literatur Elevri dan Putra, 2006 menyatakan bahwa Saccharomyces cerevisiae merupakan organisme fakultatif anaerob yang dapat menggunakan baik sistem aerob maupun anaerob untuk memperoleh energi dari pemecahan glukosa. Saccharomyces cerevisiae dapat menghasilkan alkohol dalam jumlah yang besar. Selain itu, juga memiliki toleransi yang tinggi terhadap alkohol.

Pada proses fermentasi, ragi sangat diperlukan untuk menghasilkan etanol. Dalam ragi banyak terdapat Saccharomyces cereviseae yang mempunyai daya konversi yang sangat tinggi. Selain itu, diperlukan juga nutrisi seperti urea untuk pertumbuhan bakteri tersebut. Hal ini dikarenakan dengan adanya penambahan nutrisi maka bakteri dapat berkembang biak lebih banyak sehingga mampu menghasilkan jumlah etanol yang banyak pula. Sesuai pernyatan Hamidah (2003) menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan ragi salah satunya adalah nutrisi (zat gizi) untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan misalnya unsur C, unsur N pada urea, Amoniak, dsb, unsur P, mineral-mineral dan vitamin. Sedangkan Buckle (1985) menyatakan bahwa proses fermentasi alkohol hanya dapat terjadi apabila terdapat sel-sel khamir. Cepat lambatnya khamir juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah formulasi media yang

digunakan sebagai proses pengembangbiakan, inokulum, tahapan fermentasi dan ketersediaan substrat yang cukup.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, secara umum dapat diketahui bahwa konsentrasi ragi memberikan pengaruh terhadap kadar alkohol setelah proses fermentasi, kadar alkohol setelah proses destilasi, jumlah etanol dan jumlah etanol perkilogram bahan baku. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 3.

Table 3. Pengaruh konsentrasi ragi terhadap parameter yang diamati Perlakuan Kadar Alkohol

Fermentasi (%) Kadar Alkohol Distilasi (%) Jumlah Etanol (ml) Jumlah etanol perkilogram bahan baku (ml/kg) C1 3.67 22.78 497.33 28.30 C2 4.22 23.89 608.44 36.51 C3 4.45 24.11 647.67 39.30

Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa kadar alkohol setelah proses fermentasi tertinggi diperoleh pada perlakuan C3 (konsentrasi 8%) sebesar 4.45% dan yang terendah pada perlakuan C1 (konsentrasi 4%) sebesar 3.67%. Kadar alkohol setelah proses destilasi tertinggi diperoleh pada perlakuan C3 sebesar 24.11% dan yang terendah pada C1 sebesar 22.78%. Jumlah etanol yang dihasilkan tertinggi diperoleh pada perlakuan C3 sebanyak 647.67 ml dan yang terendah pada C1 sebanyak 497.33 ml. Jumlah etanol perkilogram bahan baku tertinggi diperoleh pada perlakuan C3 sebesar 39.30 ml/kg dan yang terendah pada perlakuan C1 sebesar 28.30 ml/kg.

Lama waktu fermentasi memberikan pengaruh terhadap kadar alkohol setelah proses fermentasi, kadar alkohol setelah proses destilasi, jumlah etanol dan Jumlah etanol perkilogram bahan baku yang dihasilkan. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Pengaruh lama waktu fermentasi terhadap parameter yang diamati Perlakuan Kadar Alkohol Fermentasi (%) Kadar Alkohol Distilasi (%) Jumlah Etanol (ml) Jumlah etanol perkilogram bahan baku (ml/kg) T1 3.33 23.00 386.22 22.19 T2 4.22 23.67 606.11 36.02 T3 4.78 24.11 761.11 45.91

Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa kadar alkohol setelah proses fermentasi tertinggi diperoleh pada perlakuan T3 (4 hari) sebesar 4.78% dan yang terendah pada perlakuan T1 (2 hari) sebesar 3.33%. Kadar alkohol setelah proses destilasi tertinggi diperoleh pada perlakuan T3 sebesar 24.11% dan yang terendah pada T1 sebesar 23%. Jumlah etanol yang dihasilkan tertinggi diperoleh pada perlakuan T3 sebanyak 761.11 ml dan yang terendah pada T1 sebanyak 386.22 ml. Jumlah etanol perkilogram bahan baku tertinggi diperoleh pada perlakuan T3 sebesar 45.91 ml/kg dan yang terendah pada perlakuan T1 sebesar 22.19 ml/kg.

Hasil analisa statistik pengaruh konsentrasi ragi (C) dan lama waktu fermentasi (T) terhadap masing-masing parameter yang diamati dapat dilihat pada uraian berikut.

Kadar Alkohol Setelah Proses Fermentasi Pengaruh konsentrasi ragi

Daftar analisis sidik ragam pada Lampiran 3 menunjukkan bahwa konsentrasi ragi memiliki pengaruh yang nyata terhadap kadar alkohol setelah proses fermentasi. Hasil uji LSR (Least Significant Range) pengaruh konsentrasi ragi terhadap kadar alkohol setelah proses fermentasi yang dihasilkan untuk tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Uji LSR efek konsentrasi ragi terhadap kadar alkohol setelah proses fermentasi

Jarak LSR

Perlakuan Rataan Notasi

P F 0,05 F 0,01 F 0,05 F 0,01

- - - C1 3.67 a A

2 0.5041 0.6908 C2 4.22 b B

3 0.5295 0.7247 C3 4.45 c C

Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% dan berbeda sangat nyata pada taraf 1%

Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa perlakuan C1 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan C2 demikian juga terhadap perlakuan C3. Perlakuan C2 juga berbeda sangat nyata terhadap perlakuan C3. Kadar alkohol tertinggi diperoleh pada perlakuan C3 yaitu sebesar 3.67% dan kadar alkohol terendah diperoleh pada perlakuan C1 sebesar 4,44%.

Pengaruh konsentrasi ragi terhadap kadar alkohol setelah proses fermentasi mengikuti garis regresi linear seperti gambar berikut.

Gambar 2. Pengaruh konsentrasi ragi terhadap kadar alkohol setelah fermentasi Gambar 2 ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh konsentrasi ragi terhadap kadar alkohol pada saat fermentasi, semakin banyak konsentrasi ragi yang digunakan pada proses ini maka semakin tinggi pula kadar alkohol yang

dihasilkan. Hal ini dikarenakan yang mempengaruhi kadar etanol yang dihasilkan dari fermentasi adalah mikroorganisme dan media yang digunakan . Semakin banyak jumlah ragi yang ditambahkan maka akan semakin banyak mikroorganisme yang memfermentasi bahan menjadi alkohol. Pernyataan ini sesuai dengan literatur dari Tarigan (1990) Proses fermentasi tergantung pada banyak sedikitnya penambahan khamir dalam bahan. Semakin banyak jumlah ragi yang diberikan berarti semakin banyak jumlah khamir yang terlibat, sehingga kadar alkohol meningkat.

Pengaruh lama waktu fermentasi

Daftar analisis sidik ragam pada Lampiran 3 menunjukkan bahwa lama waktu fermentasi memiliki pengaruh yang sangat nyata terhadap kadar alkohol setelah proses fermentasi. Hasil uji LSR (Least Significant Range) pengaruh lama waktu fermentasi terhadap kadar alkohol setelah proses fermentasi untuk tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Uji LSR efek lama waktu fermentasi terhadap kadar alkohol setelah proses fermentasi

Jarak LSR

Perlakuan Rataan Notasi

P F 0,05 F 0,01 F 0,05 F 0,01

- - - T1 3.33 a A

2 0.5041 0.6908 T2 4.22 b B

3 0.5295 0.7247 T3 4.78 c C

Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% dan berbeda sangat nyata pada taraf 1%

Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa perlakuan T1 berbeda sangat nyata tehadap perlakuan perlakuan T2 demikian juga terhadap perlakuan T3. Perlakuan T2 juga berbeda sangat nyata terhadap perlakuan T3. Kadar alkohor tertinggi

diperoleh pada perlakuan T3 yaitu sebesar 4.78% dan kadar alkohol terendah diperoleh pada perlakuan T1 yaitu sebesar 3.33%.

Pengaruh lama waktu fermentasi terhadap kadar alkohol setelah proses fermentasi mengikuti garis regresi linear seperti gambar berikut.

Gambar 3. Pengaruh lama waktu fermentasi terhadap kadar alkohol Gambar 3 menunjukkan bahwa semakin lama waktu fermentasi alkohol oleh ragi (Saccharomyces cerevisiae) maka kadar alkohol yang dihasilkan juga semakin tinggi. Hal ini dapat dilihat pada lama waktu fermentasi 2 hari diperoleh kadar alkohol terendah sebesar 3.33% dan mengalami peningkatan pada lama waktu fermentasi 3 hari dan 4 hari. Kadar alkohol tertinggi sebesar 4.78% diperoleh pada perlakuan lama waktu fermentasi 4 hari. Ini disebabkan karena semakin lama waktu fermentasi maka perkembang biakan ragi semakin banyak sampai pada batas tertentu ragi tersebut berkembang. Pernyataan ini sesuai dengan literatur Fardiaz (1992) yang menyatakan bahwa semakin lama fermentasi, mikroba berkembang biak dan jumlahnya bertambah sehingga kemampuan untuk memecah substrat atau glukosa yang ada menjadi asam laktat dan alkohol semakin besar.

Pengaruh interaksi

Daftar analisis sidik ragam pada Lampiran 3 menunjukkan bahwa pengaruh interaksi antara konsentrasi ragi dan lama waktu fermentasi memiliki pengaruh yang tidak nyata terhadap kadar alkohol setelah proses fermentasi. Sehingga uji LSR (Least Significant Range) pengaruh interaksi konsentrasi ragi dan lama waktu fermentasi terhadap kadar alkohol setelah proses fermentasi yang dihasilkan tidak dilanjutkan.

Kadar Alkohol Setelah Proses Destilasi Pengaruh konsentrasi ragi

Daftar analisis sidik ragam pada Lampiran 4 menunjukkan bahwa konsentrasi ragi memiliki pengaruh yang nyata terhadap kadar alkohol setelah proses destilasi. Hasil uji LSR (Least Significant Range) pengaruh konsentrasi ragi terhadap kadar alkohol setelah proses destilasi yang dihasilkan untuk tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Uji LSR efek konsentrasi ragi terhadap kadar alkohol setelah proses destilasi

Jarak LSR

Perlakuan Rataan Notasi

P 0,05 0,01 0,05 0,01

- - - C1 22.78 a A

2 0.8521 1.1676 C2 23.89 b AB

3 0.8951 1.2250 C3 24.11 b B

Keterangan : Notasi huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada taraf 5% dan 1%.

Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa perlakuan C1 berbeda sangat nyata dengan perlakuan C2. Perlakuan C2 berbeda tidak nyata terhadap perlakuan C3. Kadar alkohol setelah proses destilasi diperoleh pada perlakuan C3 sebesar 24.11%. Sedangkan kadar alkohol setelah proses destilasi terendah diperoleh pada

perlakuan C1 sebesar 22.78%. Pengaruh konsentrasi ragi terhadap kadar alkohol setelah proses destilasi mengikuti garis regresi linear seperti gambar berikut.

Gambar 4. Pengaruh konsentrasi ragi terhadap kadar alkohol setelah destilasi Gambar 4 menunjukkan bahwa semakin tinggi jumlah ragi yang ditambahkan maka kadar alkohol yang dihasilkan semakin tinggi. Kadar alkohol terendah terdapat pada perlakuan C1 sebesar 22.78% dan tertinggi terdapat pada perlakuan C3 sebesar 24.11%. Pada kenyataannya kadar alkohol setelah proses destilasi ini tidak dipengaruhi oleh konsentrasi ragi yang digunakan tetapi dipengaruhi oleh alat destilasi yang digunakan serta perlakuan terhadap alat tersebut seperti pengaturan suhu, volume alat dan air kondensat pada saat destilasi. Hal ini sesuai dengan literatur Shidik (2011) menyatakan bahwa kadar alkohol setelah proses destilasi hanya dipengaruhi oleh alat destilasi yang digunakan. Alat destilasi yang digunakan merupakan alat destilasi satu tingkat yang hanya mampu menghasilkan etanol dengan kadar alkohol 40%.

Pengaruh lama waktu fermentasi

Daftar analisis sidik ragam pada Lampiran 4 menunjukkan bahwa lama waktu fermentasi memiliki pengaruh yang tidak nyata terhadap kadar alkohol

setelah proses destilasi. Sehingga uji LSR (Least Significant Range) pengaruh lama waktu fermentasi terhadap kadar alkohol yang dihasilkan tidak dilanjutkan.

Pengaruh interaksi

Daftar analisis sidik ragam Lampiran 4 menunjukkan bahwa pengaruh interaksi antara konsentrasi ragi dan lama waktu fermentasi memiliki pengaruh yang tidak nyata terhadap kadar alkohol setelah proses destilasi. Sehingga uji LSR (Least Significant Range) tidak dilanjutkan.

Jumlah Etanol yang Dihasilkan Pengaruh konsentrasi ragi

Daftar analisis sidik ragam Lampiran 5 menunjukkan bahwa konsentrasi ragi memiliki pengaruh yang sangat nyata terhadap jumlah etanol yang dihasilkan. Hasil uji LSR (Least Significant Range) pengaruh konsentrasi ragi terhadap jumlah etanol yang dihasilkan untuk tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 8 Tabel 8. Uji LSR efek konsentrasi ragi terhadap jumlah etanol yang dihasilkan

Jarak LSR

Perlakuan Rataan Notasi

P 0,05 0,01 0,05 0,01

- - - C1 497.33 a A

2 46.30448 63.4547 C2 608.44 b B

3 48.6434 66.5729 C3 647.67 b BC

Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% dan berbeda sangat nyata pada taraf 1%

Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa perlakuan C1 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan C2. Sedangkan perlakuan C2 terhadap C3 merupakan perlakuan yang berbeda tidak nyata. Jumlah etanol yang dihasilkan tertinggi diperoleh pada perlakuan C3 sebesar 647.67 ml dan terendah pada perlakuan C1 sebesar 497.33 ml.

Pengaruh konsentrasi ragi terhadap jumlah etanol yang dihasilkan mengikuti garis regresi linear seperti gambar berikut.

Gambar 5. Pengaruh konsentrasi ragi terhadap jumlah etanol

Gambar 5 menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah ragi yang ditambahkan maka jumlah etanol yang dihasilkan semakin tinggi. Semakin tinggi kadar alkohol bahan baku hasil fermentasi (beer/sake) yang akan mengalami proses destilasi maka semakin tinggi pula jumlah alkohol yang akan dihasilkan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Astuty (1991) bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah etanol yang dihasilkan adalah mikroorganisme dan media yang digunakan, adanya komponen media yang dapat menghambat pertumbuhan serta kemampuan fermentasi mikroorganisme dan kondisi selama fermentasi.

Pengaruh lama waktu fermentasi

Daftar analisis sidik ragam pada Lampiran 5 menunjukkan bahwa lama waktu fermentasi memiliki pengaruh yang sangat nyata terhadap jumlah etanol yang dihasilkan pada proses destilasi. Hasil uji LSR (Least Significant Range) pengaruh pengaruh lama waktu fermentasi terhadap jumlah etanol yang dihasilkan pada proses destilasi untuk tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Uji LSR efek lama waktu fermentasi terhadap jumlah etanol yang dihasilkan pada proses destilasi

Jarak LSR

Perlakuan Rataan Notasi

P 0,05 0,01 0,05 0,01

- - - T1 386.22 a A

2 46.30448 63.4547 T2 606.11 b B

3 48.6434 66.5729 T3 761.11 c C

Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% dan berbeda sangat nyata pada taraf 1%

Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa perlakuan T1 berbeda sangat nyata dengan T2 dan T3. Dan perlakuan T2 dan perlakuan T3 merupakan perlakuan yang berbeda sangat nyata juga. Jumlah etanol yang dihasilkan pada proses destilasi tertinggi diperoleh pada perlakuan T3 sebesar 761.11 ml dan terendah diperoleh pada perlakuan T1 sebesar 386.22 ml.

Pengaruh lama waktu fermentasi terhadap jumlah etanol yang dihasilkan pada proses destilasi mengikuti garis regresi linear seperti gambar berikut.

Gambar 6. Pengaruh lama waktu fermentasi terhadap jumlah etanol yang dihasilkan

Gambar 6 menunjukkan bahwa semakin lama waktu fermentasi maka jumlah alkohol yang dihasilkan semakin tinggi. Hal ini dapat dilihat pada lama waktu fermentasi 2 hari jumlah alkohol yang dihasilkan sebesar 386.22 ml dan mengalami peningkatan pada lama waktu fermentasi 3 hari dan 4 hari. Jumlah

alkohol yang dihasilkan sebesar 761,11 ml diperoleh pada perlakuan lama waktu fermentasi 4 hari. Secara tidak langsung perlakuan ini berhubungan dengan parameter sebelumnya (kadar alkohol setelah fermentasi). Semakin lama waktu fermentasi maka semakin besar kadar alkohol setelah proses fermentasi, sehingga semakin besar pula jumlah etanol yang dihasilkan dan sebaliknya. Hal ini terjadi karena pada umumnya proses fermentasi itu terjadi selama 2 – 4 hari. Pernyataan ini sesuai dengan literatur dari Riegel (1992) yang menyatakan bahwa proses fermentasi membutuhkan waktu sekitar 28 - 72 jam. Dimana menurut Buckle dkk (1985) lama fermentasi berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroba.

Pengaruh interaksi

Daftar analisis sidik ragam Lampiran 5 menunjukkan bahwa pengaruh interaksi antara konsentrasi ragi dan lama waktu fermentasi memiliki pengaruh sangat nyata terhadap jumlah etanol yang dihasilkan. Hasil uji LSR (Least Significant Range) pengaruh interaksi tersebut dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Uji LSR efek utama interaksi pengaruh konsentrasi ragi dan lama waktu fermentasi terhadap jumlah etanol yang dihasilkan

Jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi

F 0.05 F 0.01 F 0.05 F 0.01 - - - C1T1 246.67 a A 2 80.20 109.91 C2T1 402.00 b B 3 84.25 115.31 C1T2 480.33 bc BC 4 86.68 115.58 C3T1 510.00 d D 5 88.30 120.44 C2T2 688.00 e DE 6 89.65 122.33 C1T3 765.00 ef EF 7 90.56 123.95 C2T3 735.33 efg EFG 8 91.00 125.30 C3T2 650.00 efgh EFGH 9 91.54 126.38 C3T3 783.00 fghi EFGHI

Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% dan berbeda sangat nyata pada taraf 1%

Dari Tabel 10 dapat dilihat bahwa jumlah etanol yang dihasilkan pada proses destilasi tertinggi diperoleh pada kombinasi perlakuan konsentrasi ragi 8% dan lama waktu 4 hari (C3T3) sebesar 783.00 ml, sedangkan yang terendah pada kombinasi pelakuan konsentrasi ragi 4% dengan lama waktu 2 hari (C1T1) sebesar 246.67 ml. Dari tabel dapat dilihat bahwa untuk parameter ini, kombinasi terbaik adalah kombinasi C3T3 jika hanya ditinjau dari jumlah etanol yang dihasilkan.

Pengaruh interaksi konsentrasi ragi dan lama waktu fermentasi terhadap jumlah etanol yang dihasilkan pada proses destilasi dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Pengaruh kombinasi konsentrasi ragi dan lama waktu fermentesi terhadap jumlah etanol yang dihasilkan

Gambar 7 menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah ragi yang ditambahkan maka jumlah etanol yang dihasilkan semakin tinggi. Jumlah etanol tertinggi diperoleh pada kombinasi perlakuan C3T3 dengan konsentrasi ragi 8% dan lama waktu fermentasi selama 4 hari yaitu sebesar 783.00 ml dan terendah diperoleh pada kombinasi perlakuan C1T1 dengan konsentrasi 4% dan lama waktu fermentasi selama 2 hari yaitu sebesar 246.67 ml. Dari gambar diatas dapat dilihat perbedaan kombinasi perlakuan berdasarkan garis regresi linear yang ada

sangat signifikan (berbeda sangat nyata). Hal ini disebabkan karena perlakuan konsentrasi ragi dan lama waktu fermentasi memiliki pengaruh yang sangat nyata terhadap jumlah etanol yang dihasilkan. Dimana semakin tinggi konsentrasi ragi dan semakin lama waktu fermentasi maka kadar alkohol bahan baku semakin tinggi sehingga semakin tinggi pula jumlah etanol yang dihasilkan. Pernyataan ini sesuai dengan literatur Astuty (1991) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah etanol yang dihasilkan adalah mikroorganisme dan media yang digunakan, adanya komponen media yang dapat menghambat pertumbuhan serta kemampuan fermentasi mikroorganisme dan kondisi selama fermentasi.

Jumlah Etanol Perkilogram Bahan Baku Pengaruh konsentrasi ragi

Daftar analisis sidik ragam pada Lampiran 6 menunjukkan bahwa konsentrasi ragi memiliki pengaruh sangat nyata terhadap jumlah etanol perkilogram bahan baku. Hasil uji LSR (Least Significant Range) tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 11

Tabel 11. Uji LSR efek konsentrasi ragi terhadap jumlah etanol perkilogram bahan baku yang dihasilkan

Jarak LSR

Perlakuan Rataan Notasi

P 0,05 0,01 0,05 0,01

- - - C1 99.51 a A

2 9.2719 12.7060 C2 121.69 b B

3 9.7402 13.3303 C3 129.53 b BC

Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% dan berbeda sangat nyata pada taraf 1%

Dari Tabel 11 dapat dilihat bahwa perlakuan C1 berbeda sangat nyata dengan C2. Sedangkan perlakuan C2 dan perlakuan C3 merupakan perlakuan yang berbeda tidak nyata. Jumlah etanol perkilogram bahan baku yang dihasilkan

tertinggi diperoleh pada perlakuan C3 dengan konsentrasi 8% sebesar 129.53 ml/kg dan terendah diperoleh pada perlakuan C1 dengan konsentrasi 4% sebesar 99.51 ml/kg.

Pengaruh konsentrasi ragi terhadap jumlah etanol perkilogram bahan baku mengikuti garis regresi linear seperti gambar berikut.

Gambar 8. Pengaruh konsentrasi ragi terhadap jumlah etanol perkilogram bahan baku

Gambar 8 menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah ragi yang ditambahkan maka jumlah etanol perkilogram bahan baku yang dihasilkan semakin tinggi hingga mencapai batas tertentu. Hal ini dapat dilihat pada lama waktu fermentasi 2 hari diperoleh jumlah etanol perkilogram bahan baku terendah sebesar 99.51 ml/kg dan mengalami peningkatan pada lama waktu fermentasi 3 hari dan 4 hari. Jumlah etanol perkilogram bahan baku tertinggi sebesar 129.53 ml/kg diperoleh pada perlakuan lama waktu fermentasi 4 hari.

Pengaruh lama waktu fermentasi

Daftar analisis sidik ragam Lampiran 6 menunjukkan bahwa lama waktu fermentasi memiliki pengaruh yang sangat nyata terhadap jumlah etanol perkilogram bahan baku yang dihasilkan. Hasil uji LSR (Least Significant Range)

pengaruh lama waktu fermentasi terhadap jumlah etanol perkilogram bahan baku untuk tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Uji LSR efek lama waktu fermentasi terhadap jumlah etanol perkilogram bahan baku

Jarak LSR

Perlakuan Rataan Notasi

P 0,05 0,01 0,05 0,01

- - - T1 77.24 a A

2 9.2719 12.7060 T2 121.27 b B

3 9.7402 13.3303 T3 152.22 c C

Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% dan berbeda sangat nyata pada taraf 1%

Dari Tabel 12 dapat dilihat bahwa masing-masing perlakuan berbeda sangat nyata. Perlakuan T1 berbeda sangat nyata dengan T2 demikian juga terhadap perlakuan T3 dan perlakuan T2 juga berbeda sangat nyata terhadap perlakuan T3. Jumlah etanol perkilogram bahan baku tertinggi diperoleh pada perlakuan T3 dengan lama waktu fermentasi 4 hari yaitu sebesar 152.22 ml/kg. Sedangkan jumlah etanol perkilogram bahan baku terendah diperoleh pada perlakuan T1 sebesar 77.24 ml/kg.

Pengaruh lama waktu fermentasi terhadap jumlah etanol perkilogram bahan baku yang dihasilkan mengikuti garis regresi linear seperti gambar berikut.

Gambar 9. Pengaruh lama waktu fermentasi terhadap jumlah etanol perkilogram bahan baku

Gambar 9 menunjukkan bahwa semakin lama waktu fermentasi maka jumlah etanol perkilogram bahan baku yang dihasilkan semakin tinggi hingga mencapai batas tertentu. Ini dikarenakan ragi akan mengalami perkembang biakan secara terus menerus sampai tingkat dimana konsentrasi alkohol yang dihasilkan menghambat pertumbuhan ragi. Sesuai dengan literatur Prescott and Dunn (1959) Waktu fermentasi yang biasa dilakukan 3-14 hari. Jika waktunya terlalu cepat

Saccharomyces cereviseae masih dalam masa pertumbuhan sehingga alkohol

yang dihasilkan dalam jumlah sedikit dan jika terlalu lama Saccharomyces cereviseae akan mati maka alkohol yang dihasilkan tidak maksimal.

Pengaruh interaksi

Daftar analisis sidik ragam pada Lampiran 6 menunjukkan bahwa pengaruh interaksi antara konsentrasi ragi dan lama waktu fermentasi memiliki pengaruh yang nyata terhadap jumlah etanol perkilogram bahan baku. Hasil uji LSR (Least Significant Range) pengaruh interaksi konsentrasi ragi dan lama waktu fermentasi terhadap jumlah etanol perkilogram bahan baku dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Uji LSR efek utama interaksi pengaruh konsentrasi ragi dan lama waktu fermentasi terhadap jumlah etanol perkilogram bahan baku

Jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi

F 0.05 F 0.01 F 0.05 F 0.01 - - - C1T1 49.33 a A 2 16.06 22.01 C2T1 80.40 b B 3 16.87 23.09 C1T2 96.20 bc BC 4 17.36 23.14 C3T1 102.00 d D 5 17.68 24.12 C2T2 137.60 de DE 6 17.95 24.49 C1T3 153.00 def DEF 7 18.11 24.82 C2T3 147.07 defg DEFG 8 18.22 25.09 C3T2 130.00 gh FGH 9 18.33 25.31 C3T3 156.60 i I

Keterangan : Notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% dan berbeda sangat nyata pada taraf 1%

Dari tabel 13 dapat dilihat bahwa rendemen alkohol tertinggi diperoleh pada kombinasi perlakuan konsentrasi ragi 8% dan lama waktu 4 hari (C3T3) sebesar 156.60 ml/kg, sedangkan yang terendah pada kombinasi pelakuan konsentrasi ragi 4% dengan lama waktu 2 hari (C1T1) sebesar 49.33 ml/kg.

Pengaruh interaksi kombinasi konsentrasi ragi dan lama waktu fermentasi terhadap jumlah etanol perkilogram bahan baku dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10. Pengaruh interaksi kombinasi konsentrasi ragi dan lama waktu fermentesi terhadap jumlah etanol perkilogram bahan baku.

Gambar 10 menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah ragi yang ditambahkan maka jumlah etanol perkilogram bahan baku yang dihasilkan semakin tinggi. Jumlah etanol perkilogram bahan baku tertinggi diperoleh pada kombinasi perlakuan C3T3 dengan penambahan ragi sebanyak 70.12 gr dan lama waktu fermentasi selama 4 hari yaitu sebesar 156.60 ml/kg dan terendah diperoleh pada kombinasi perlakuan C1T1 penambahan ragi sebanyak 35.06 gr dan lama waktu fermentasi selama 2 hari yaitu sebesar 49.33 ml/kg. Dari gambar diatas kita dapat melihat perbedaan kombinasi perlakuan berdasarkan garis regresi linear

yang ada sangat signifikan. Hal ini menunjukkan jumlah etanol perkilogram bahan baku yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh konsentrasi ragi dan lama waktu fermentasi. Selain itu, jumlah etanol perkilogram bahan baku yang dihasilkan juga dipengaruhi oleh kemampuan alat dalam mendestilasi larutan hasil fermentasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Briggs, et al., (1981) yang menyatakan bahwa proses fermentasi dalam pembuatan alkohol sulit untuk dikontrol.

Dokumen terkait