Bobot Potong
Bobot potong merupakan bobot yang diperoleh setelah ternak dipuasakan selama 12 jam. Data rataan bobot potong dapat dilihat pada Tabel 7:
Tabel 7. Rataan bobot potong itik peking umur 8 minggu (g/ekor).
Perlakuan Ulangan Total Rataan±sd 1 2 3 4 P0 731,00 855,33 789,67 801,33 3177,33 794,33±51,00 P1 834,67 830,67 728,67 879,67 3273,67 818,42±63,82 P2 826,67 725,00 759,33 966,00 3277,00 819,25±106,56 P3 947,33 962,00 983,00 974,00 3866,33 966,58±15,45 P4 905,67 791,00 891,67 969,00 3557,33 889,33±73,69
Dari Tabel di atas rataan bobot potong tertinggi diperoleh dari hasil penelitian ada pada perlakuan P3 (Ransum dengan 30% Roti Afkir) sebesar 966,58g dan terendah pada perlakuan P0 (Ransum tanpa Roti Afkir) sebesar 794,33g.
Untuk mengetahui pengaruh pemberiaan roti afkir dalam ransum terhadap bobot potong, maka dilakukan analisis keragamaan yang tertera pada Tabel 8:
Tabel 8. Analisis keragaman bobot potong umur 8 minggu.
SK dB JK KT F hitung F Tabel 0,05 0,01 Perlakuan 4 79572,39 19893,1 4,19734* 3,06 4,89 Galat 15 71091,81 4739,45 Total 19 150664,19 keterrangan : * = nyata
Penelitian ini memberikan hasil bahwa itik peking yang memiliki bobot potong paling besar terdapat pada perlakuan P3. Bobot itik peking pada P0 memiliki bobot potong paling kecil dikarenakan bobot hidupnya juga merupakan bobot paling
kecil diantara P1, P2, P3 dan P4. Pendapat tersebut didukukung oleh Anggorodi (1985) yang menyatakan bahwa energi dalam menentukan banyaknya jumlah ransum yang dikonsumsi.
Bobot Karkas
Bobot karkas merupakan bobot yang diperoleh dari selisih bobot tubuh setelah dipuasakan (bobot potong) dengan daging bersama tulang hasil pemotongan setelah dipisahkan bulu dan darah, kepala sampai batas pangkal leher, kaki sampai batas lutut dan isi rongga bagian dalam. Data rataan bobot karkas dapat dilihat dari Tabel 9: Tabel 9. Rataan bobot karkas itik peking umur 8 minggu(g/ekor).
Perlakuan Ulangan Total Rataan±Sd
1 2 3 4 P0 394,33 479,00 423,33 447,67 1744,33 436,08±35,97 P1 465,00 462,33 334,00 497,33 1758,67 439,67±72,22 P2 457,00 384,67 428,67 491,67 1762,00 440,50±45,27 P3 553,67 538,33 539,67 513,33 2145,00 536,25±16,78 P4 512,00 422,00 478,33 567,67 1980,00 495,00±61,08
Tabel di atas rataan bobot karkas tertinggi yang diperoleh dari hasil penelitian ada perlakuan P3 (Ransum dengan 30% Roti Afkir) yaitu sebesar 604,33g dan terendah pada perlakuan P0 (Ransum tanpa Roti Afkir ) sebesar 458,00g.
Untuk mengetahui pengaruh pemberiaan roti afkir dalam ransum terhadap bobot karkas, maka dilakukan analisis keragamaan yang tertera pada Tabel 10:
Tabel 10. Analisis keragaman bobot karkas umur 8 minggu.
Penelitian ini memberikan hasil bahwa itik peking yang memiliki bobot potong besar akan memiliki bobot karkas yang besar juga. Bobot itik peking pada P3 memiliki bobot paling besar dikarenakan bobot potong yang dimiliki oleh itik peking besar juga. Bobot itik peking pada P0 memiliki bobot potong paling kecil dikarenakan bobot hidupnya juga merupakan bobot paling kecil diantara P1, P2, P3 dan P4. Penelitian ini memberikan hasil bahwa semakin besar bobot potong akan menghasilkan bobot karkas yang besar juga.
Faktor lain yang berpengaruh pada bobot karkas adalah tingkat konsumsi unggas itu sendiri, semakin tinggi konsumsi maka akan semakin baik pula bobot karkas yang dihasilkan. Akan tetapi hal tersebut juga akan dipengaruhi oleh daya cerna ternak terhadap bahan pakan yang dikonsumsinya. Jenis kelamin ternak juga sangat berpengaruh pada bobot karkas. Hal ini sesuai dengan pernyataan Siregar (1994) yang menyatakan bahwa bobot, mutu dan kualitas karkas juga dipengaruhi oleh genetik, jenis kelamin dan umur.
Pemberian ransum yang berenergi tinggi dengan imbangan yang baik antara protein, vitamin dan mineral akan menghasilkan bobot karkas yang tinggi. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh (Nataamidjaya et al., 1995) yang menyatakan bahwa produksi karkas sangat erat kaitannya dengan bobot badan, dimana pertambahan bobot badan dipengaruhi oleh bahan pakan penyusun ransum. Adapun bahan-bahan pakan penyusun ransum dilakukan dua kali seminggu, sehingga ketengikan pakan tersebut dapat dihindari.
Persentase Karkas
Persentase karkas merupakan perbandingan antara bobot karkas dengan bobot potong dikalikan 100 (%). Data rataan persentase karkas itik peking dapat dilihat pada Tabel 11:
Tabel 11. Rataan persentase karkas itik peking umur 8 minggu.
Perlakuan Ulangan Total Rataan±Sd
1 2 3 4 P0 53,94 56,00 53,61 55,87 219,42 54,86±1,25 P1 55,71 55,66 45,84 56,54 213,74 53,44±5,08 P2 55,28 53,06 56,45 50,90 215,69 53,92±2,46 P3 58,16 55,96 53,54 52,70 220,36 55,09±2,47 P4 56,06 53,35 53,64 58,58 221,64 55,41±2,44
Tabel di atas diperoleh bahwa rataan persentase karkas tertinggi terdapat pada perlakuan P4 sebesar 55,41%, sedangkan persentase terkecil pada P2 53,92%. Persentase terbesar tidak dihasilkan dari bobot hewan yang terbesar.
Untuk mengetahui pengaruh pemberian roti afkir terhadap persentase karkas dapat dilihat pada Tabel 12:
Tabel 12. Analisis keragaman persentase karkas itik peking umur 8 minggu. ,
SK Db JK KT Fhitung F Tabel
0,05 0,01 Perlakuan 4 11,04 2,75948 0,30tn 3,06 4,89 Galat 15 136,465 9,09766
Total 19 147,50
yang disitasi oleh Srigandono (1997) yang menyatakan bahwa itik peking pada umur 50-56 hari mencapai persentase karkas sampai 65%, namun tingkat pertumbuhan tersebut terjadi pada keadaan suhu lingkungan pemeliharaan 13-27 C. Didaerah yang suhunya lebih tinggi, misalnya didaerah tropis yang suhu udaranya berada diantara 28-29 C, tingkat pertumbuhan yang dapat kira-kira 10% lebih rendah.
Rekapitulasi Hasil Penelitian
Rekapitulasi penelitian terhadap bobot potong, bobot karkas, dan persentase karkas dapat dilihat pada tabel 13:
Tabel 13. Rekapitulasi hasil penelitian pemanfaatan roti afkir dalam ransum Karkas itik peking umur 1-8 minggu.
Perlakuan Bobot Potong (g/ekor) Bobot Karkas (g/ekor) Persentase karkas (%) P0 794,33* 436,08* 54,86 tn P1 818,42* 439,67* 53,44 tn P2 819,25* 440,50* 53,92 tn P3 966,58* 536,25* 55,09 tn P4 889,33* 495,00* 55,41 tn
Keterangan : tn = berbeda tidak nyata
Berdasarkan hasil penelitian di atas diperoleh bahwa pemanfaatan roti afkir memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot potong, bobot karkas pada perlakuan P3 memberikan pengaruh nyata dibandingkan dengan perlakuan P0, P1, P2, P4 dan tidak berpengaruh nyata terhadap persentase karkas.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pemberian roti afkir dalam ransum itik peking umur 8 minggu dengan pemberian level 30 % roti afkir berpengaruh nyata meningkatkan bobot potong, bobot karkas dan tidak berpengaruh nyata terhadap persentase karkas umur 8 minggu. Saran
Pemanfaataan roti afkir dalam ransum untuk peternak itik peking disarankan level 30%.
DAFTAR PUSTAKA
Anggorodi, R, 1995 Ilmu Makanan Ternak Unggas Kemajuan Mutakhir Fakultas Peternkan IPB, Bogor.
Anggorodi, R,. 1997. Nutrisi Aneka Ternak Unggas. Gramedia Pustaka,Jakarta. Astawan, M. 2007. Kandungan serat dan Gizi pada Roti Ungguli Mie dan Nasi.
Kompas Cyber Media, Bogor.
Daghir, N.J.,1992. Poultry Production in Hot Climates. Singapore.
Direktorat Jendral peternakan, 1991. Pemanfaatan Limbah Industri Rumah Tangga Sebagai Pakan.
Ensminger, M.E.,1992.Poultry Science. Interstate Publisher. Danville, Illionis. Hasibuan, J., 1996. Pengaruh Isi Rumen Sapi Sebagai Subtitusi Dedak Halus
Dalam Ransum Terhadap Bobot Badan, Karkas, dan Lemak Abdominal Ayam Broiler. Skripsi jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Usu, Medan. Hanafiah, A.H,. 2000. Rancangan Percobaan Raja Grafindo Persada,Jakarta. Kartadisastra, H.R., 1998. Beternak Kelinci Unggul. Kansius, Yogyakarta. Laboratorium Ilmu Nutrisi Dan Pakan Ternak, 2013. Hasil Analisa Roti Afkir.
Program studi Peternakan FP USU,Medan.
Murtidjo, B,A., 1992. Bahan Makanan Unggas. Kansius,Yogyakarta. Murtidjo, B,A., 1996. Mengelola Itik. Kansius, Yogyakarta.
NRC, 1994. Nutrient Requirements for Poultry. National Research Council, Washington D. C. USA.
Prawirokusumo, Y . B., 1994. Ilmu Usaha Tani. BPFE, Yogyakarta. Priyatno, M.A., 1997. Mendirikan Usaha Pemotongan Ayam.
Penebar swadaya, Jakarta.
Rasyaf, 1982. Beternak itik. Kansius, Yogyakarta.
Srigandono, B., 1996. Beternak Itik Pedaging. PT. Trubus Agrywudya, Ungaran. Srigandono, 1997. Ilmu Unggas Air. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Wahyu, J., 1992. Ilmu Nutrisi Unggas. UGM Press, Yogyakarta.
Yuniastuti, A.,2002. Efek Pakan Berserat Pada Ransum Ayam terhadap Kadar Lemak Dan kolesterol Daging Ayam Broiler, Jurnal Ilmiah Sainteks, Vol IX No. 3 hal 175. Semarang.