Hasil penelitian diperoleh dari data bobot karkas, persentase karkas dan bobot non karkas ayam kampung umur 12 minggu.
Bobot Karkas
Bobot karkas adalah berat bagian tubuh unggas barsama kulit setelah dipotong dan dibuang bulu, lemak abdomen, organ dalam, kaki, kepala, leher dan darah, kecuali paru-paru dan ginjal (Rizal, 2006). Rataan bobot karkas ayam kampung umur 12 minggu dapat dilihat pada gambar 1 berikut.
Gambar 1. Grafik bobot karkas ayam kampung umur 12 minggu (g)
Dari gambar 1 dapat dilihat bahwa rata-rata bobot karkas tertinggi adalah perlakuan P0 (667,5 g), kemudian diikuti berturut-turut oleh perlakuan P2 (645,3 g), perlakuan P4 (640,15 g), perlakuan P3 (627,65 g) dan rata-rata bobot karkas yang paling rendah adalah ayam kampung yang diberi perlakuan P1 yaitu sebesar 614,5 g. 667,5 614,5 645,3 627,65 640,15 500 520 540 560 580 600 620 640 660 680 700 P0 P1 P2 P3 P4 B ob ot K ar k as Perlakuan
Dari gambar 1 juga menunjukkan rataan umum bobot karkas adalah sebesar 639,02 g. Angka tersebut dipengaruhi oleh faktor genetis dan lingkungan. Faktor lingkungan dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu fisiologi dan kandungan zat makanan dalam pakan. Zat makanan merupakan faktor penting
yang mempengaruhi komposisi karkas terutama proporsi kadar lemak (Lesson, 2000).
Rataan bobot karkas ayam kampung umur 12 minggu hasil penelitian ini lebih tinggi dibandingkan hasil penelitian yang dilaporkan oleh Hendra (2011) bahwa rataan bobot karkas ayam kampung dengan pemanfaatan bungkil biji jarak pagar yaitu sebesar 620,33 gram. Rataan bobot karkas hasil penelitian ini lebih rendah dari hasil penelitian yang dihasilkan oleh Petrus (2013) yaitu sebesar 715,16 gram dengan pemanfaatan tepung ikan pora-pora dan limbah industri pengolahan ikan nila.
Pengaruh pemberian limbah ampas sagu fermentasi memberi pengaruh tidak berbeda nyata terhadap bobot karkas ayam kampung, ini dapat diartikan bahwa pakan perlakuan baik fermentasi maupun non fermentasi hasilnya sama. Hal ini dapat disebabkan oleh kandungan nutrisi dalam pakan yaitu energi dan protein yang mendukung dalam pembentukan karkas. Pada perlakuan P0 berat karkas yang tertinggi yaitu sebesar 667,50 g serta kandungan energi dan proteinnya tertinggi juga terdapat dalam perlakuan P0. Hal ini sesuai dengan hasi penelitian Dewi et al., (2009) bahwa ayam kampung yang diberi ransum dengan imbangan energi dan protein lebih tinggi, menghasilkan bobot badan lebih tinggi secara nyata dibanding ransum yang mengandung imbangan energi dan protein yang rendah.
Penelitian ini juga memberikan hasil bahwa bobot badan berkaitan erat dengan bobot karkas. Dari hasil penelitian ini didapat bahwa rataan bobot badan tertinggi terdapat pada perlakuan P0 dan rataan bobot karkas yang tertinggi juga terdapat pada P0. Hal ini sesuai dengan pernyataan Soeparno (1994) yang menyatakan bahwa produksi karkas erat hubungannya dengan bobot badan. Selain faktor bobot badan, bobot karkas juga mempengaruhi genetis, umur, mutu ransum, tata laksana dan kesehatan ternak.
Bobot karkas yang diperoleh dari hasil penelitian ini yaitu sebesar 71,53 % dari bobot hidup. Angka ini sesuai dengan pernyataan Siregar et al., (1982) yang menyatakan bahwa bobot karkas yang normal adalah 65-75% dari bobot hidup.
Persentase Karkas
Persentase karkas dihitung dengan membandingkan bobot karkas dengan bobot potong. Hasil ini diperoleh dari proses pemotongan hingga pemisahan masing-masing. Rataan hasil persentase karkas ayam kampung umur 12 minggu dapat dilihat pada Gambar 2 berikut.
Gambar 2. Grafik persentase karkas ayam kampung umur 12 minggu (%)
71,02 70,51 75,35 70,41 70,42 50,00 55,00 60,00 65,00 70,00 75,00 80,00 P0 P1 P2 P3 P4 Kombinasi Perlakuan P ersen ta se K a rk a s
Dari gambar 2 dapat dilihat bahwa rata-rata persentase karkas tertinggi adalah perlakuan P2 (75,35%), kemudian disusul berturut-turut oleh perlakuan P0 (71,01%), perlakuan P1 (70,51%), perlakuan P4 (70,42%) dan rata-rata bobot badan yang paling rendah adalah ayam kampung yang diberi perlakuan P3 yaitu sebesar 70,41%.
Dari gambar 2 juga dapat dilihat bahwa rataan umum persentase karkas adalah sebesar 71,53 % dan masih tergolong normal. Angka ini sesuai dengan pernyataan Supraptini dan Martojo (1977) yang menyatakan bahwa persentase karkas ayam kampung umur 12 minggu sekitar 76,95 %. Variasi jumlah daging yang dihasilkan dari karkas seperti halnya kualitas daging dan produk daging dipengaruhi oleh faktor genetik termasuk faktor fisiologi dan nutrisi. Umur dan berat hidup juga dapat mempengaruhi jumlah daging yang dihasilkan dari berbagai spesies ternak.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa rataan persentase karkas tertinggi terdapat pada P2 yaitu sebesar 75,35%, ini dapat disebabkan kandungan protein didalam pakan. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Lubis (1992) yang menyatakan bahwa kandungan protein ransum yang tinggi akan mendapatkan persentase karkas yang tinggi pula.
Berdasarkan tabel diperoleh bahwa rataan persentase karkas tertinggi terdapat pada perlakuan P2 yaitu sebesar 75,35%, sedangkan persentase terkecil pada P3 sebesar 70,41%. Persentase terbesar tidak dihasilkan dari bobot karkas yang terbesar. Hal ini dipengaruhi oleh non karkas ternak itu sendiri, hal itu juga dikarenakan ternak tersebut mendeposisikan protein berbeda-beda. Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Maynard dan Loosli (1969) bahwa meningkatkan
kandungan protein dalam karkas, dan meningkatnya deposisi protein yang merupakan indikasi dari proses pemanfaatan protein pakan. Deposisi protein yang bernilai positif, berarti ternak tersebut memanfaatkan protein yang tinggal di
tubuh untuk meningkatkan bobot badan. Hal ini juga sesuai pernyataan Boorman (1980) menyatakan bahwa energi yang cukup bagi tubuh ternak akan
mencegah pemanfaatan protein tubuh, sehingga deposisi protein tidak menurun. Pemberian pakan dengan kadar protein tinggi diharapkan dapat meningkatkan jumlah protein yang terdeposisi di dalam tubuh.
Berdasarkan tabel diatas juga diperoleh bahwa rataan persentase karkas yang terendah terdapat pada perlakuan P3 yaitu sebesar 70,41 % dan berat hidup terendah terdapat pada perlakuan P1 yaitu sebesar 870,90 g. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lubis (1992) yang menyatakan bahwa berat hidup yang rendah tidak selalu memperlihatkan persentase yang rendah pula.
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa ransum perlakuan dengan perbedaan level ampas sagu fermentasi dan non fermentasi menghasilkan data yang tidak berbeda nyata pada tingkat persentase karkas ayam kampung umur 12 minggu. Menurut Lubis (1992) bahwa kandungan protein dalam pakan serta berat hidup memberi pengaruh terhadap produksi daging.
Variasi berat dan persentase karkas dipengaruhi oleh bobot hidup, kualitas dan kuantitas ransum serta kemampuan yang berbeda dari masing-masing ternak dalam mengubah nutrien yang dimakan menjadi komponen karkas, non karkas atau jaringan tubuh lain.
Menurut Syamsuhaidi (1997) kemampuan ternak dalam mencerna serat kasar akan meningkat dengan bertambahnya umur ayam, namun penggunaan serat
kasar yang terlampau tinggi menyebabkan penurunan konsumsi sehingga terjadi penurunan berat jarigan pada karkas.
Bobot Non Karkas
Hasil pemotongan ternak terdiri atas karkas dan non karkas yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam tujuan. Di luar negeri bagian non karkas tidak dikonsumsi dan diusahakan sekecil mungkin, namun di negara berkembang seperti Indonesia bagian non karkas seperti kepala, kaki dan organ bagian dalam tidak sedikit orang yang menyukainya. Rataan bobot non karkas dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Histogram bobot non karkas ayam kampung umur 12 minggu (g) Dari Gambar 3 diatas diketahui bahwa rataan umum berat kepala adalah 47,26 gram, organ dalam (78,32 gram), kaki (44,81 gram), darah (26,68 gram) dan bulu (55,44 gram).
Kepala merupakan bagian organ yang masak dini artinya kepala tumbuh lebih awal, persentasenya menurun dengan bertambahnya umur karena
0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00
Kepala Organ dalam Kaki Darah Bulu
meningkatnya bobot hidup (Amrullah, 2003). Rataan persentase kepala-leher yang meningkat diduga dipengaruhi oleh berat kepala yang meningkat dengan menurunnya bobot hidup. Kaki digunakan untuk menopang tubuh ternak. Bulu digunakan untuk melindungi tubuh dari kerusakan fisik, panas tubuh dan untuk terbang. Darah berfungsi sebagai zat antara membawa zat-zat makanan ke berbagai bagian tubuh kemudian membuang sisa-sisa metabolisme.
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa ransum perlakuan memberikan hasil tidak berbeda nyata terhadap bobot non karkas. Hal
ini dapat disebabkan oleh kualitas dan kuantitas ransum. Menurut Scott et al., (1982) bahwa bobot non karkas dipengaruhi oleh pakan, jika
kandungan nutrien di dalam ransum melebihi rekomendasi yang telah ditetapkan, pembentukan komponen non karkas akan lebih tinggi bila kebutuhan untuk produksi dan hidup pokok telah dipenuhi hingga mencapai tingkat maksimal.
Rekapitulasi Hasil Peneltian
Rekapitulasi penelitian terhadap bobot karkas, persentase karkas, dan bobot non karkas, dapat dilihat pada tabel 8 di bawah ini.
Perlakuan Rataan Parameter
Bobot Karkas (g) Persentase Karkas (%) Bobot Non Karkas (g) P0 667,50tn 71,02 tn 257,45 tn P1 614,50 tn 70,51 tn 256,90 tn P2 645,30 tn 75,35 tn 247,10 tn P3 627,65 tn 70,41 tn 248,05 tn P4 640,15 tn 70,42 tn 255,75 tn
Tabel 8. Tabel rekapitulasi hasil penelitian
Tabel 8 diatas menunjukkan bahwa ransum perlakuan memberikan hasil tidak berbeda nyata terhadap setiap parameter yaitu bobot karkas, persentase karkas dan bobot non karkas. Dilihat dari tabel di atas dapat diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antar perlakuan terhadap setiap parameter sehingga limbah dapat digunakan sebagai pakan alternatif untuk ayam kampung.