Rancangan awal yang diinginkan pada penelitian ini yaitu perlakuan level aflatoksin sampai dengan 300 ppb dan jumlah metionin yang kurang, cukup dan berlebih di dalam ransum unggas baik periode starter maupun finisher. Namun jika dilihat hasil analisis ransum yang telah dibuat (Tabel 7 dan 8), ternyata tidak sesuai dengan rancangan. Level metionin ransum pada kedua periode rata-rata hampir sama pada semua perlakuan. Hal ini bisa disebabkan karena kurangnya kehati-hatian ketika mencampur pakan, adanya DL-metionin yang terbawa angin, tumpah maupun tertinggal di mesin. Sedangkan level aflatoksin pakan yaitu pada periode starter berkisar antara 19,24-34,50 ppb dan pada finisher antara 62,35-78,50 ppb. Masing- masing perlakuan memiliki level aflatoksin faktual yang berbeda-beda dan acak jika dibandingkan dengan rancangan awal. Hal ini dikarenakan beberapa penyebab, salah satunya yaitu kemungkinan adanya penurunan karena pengaruh pengolahan. Level aflatoksin yang didapat susah untuk mencapai level yang diinginkan jika menggunakan metode kontaminasi kapang ke dalam jagung.
Ternyata untuk menumbuhkan kapang dan menghasilkan level aflatoksin yang tinggi tidak mudah karena kapang membutuhkan kondisi lingkungan tertentu untuk pertumbuhannya. Diener dan Davis (1986) menyebutkan bahwa tidak semua isolat dan strain A. flavus dan A. parasiticus menghasilkan aflatoksin ketika berada di lapangan atau di laboratorium. Sebagai contoh yaitu hasil cemaran aflatoksin B1 yang ditemukan di Lampung paling tinggi yaitu 32,2 ppb dan di Jawa Timur sebesar 134,2 ppb (Bahri et al., 2005). Selain itu, kapang membutuhkan suhu, kelembaban dan oksigen yang cukup untuk pertumbuhannya. Walaupun setiap hari jagung yang diinokulasi kapang diberikan udara namun pada penelitian ini kecukupan oksigen sulit untuk didapat karena jagung yang dikontaminasi tersebut ditutup dengan plastik untuk meminimalisir terkontaminasi oleh bahan atau mikroorganisme lain juga agar spora kapang tidak bebas berterbangan. Penelitian lain mengenai aflatoksin pada umumnya menggunakan aflatoksin murni agar levelnya dalam pakan lebih tinggi dan dapat diatur namun pada penelitian ini aflatoksin murni tidak dapat digunakan karena harganya sangat mahal. Ransum yang seharusnya memiliki level aflatoksin minimal kemungkinan terkontaminasi oleh spora kapang yang masih tersisa dari jagung yang
telah terkontaminasi. Hal tersebut bisa terjadi selama pembuatan ransum dan penyimpanan karena diletakkan di tempat yang sama.
Profil Darah
Darah adalah jaringan khusus yang berperan dalam sirkulasi (Dellman dan Brown, 1992). Fungsi utama darah yaitu mempertahankan homeostasis tubuh. Perlakuan penambahan DL-metionin ke dalam pakan yang mengandung aflatoksin akan dilihat pengaruhnya terhadap profil darah broiler. Sampel darah yang diambil adalah pada periode starter dan finisher. Pengamatan profil darah meliputi eritrosit, hemoglobin, hematokrit, leukosit dan diferensiasi leukosit.
Hemoglobin
Penambahan DL-metionin ke dalam pakan yang mengandung aflatoksin diharapkan dapat bekerja mendetoksifikasi aflatoksin dalam tubuh ternak. Nilai hemoglobin broiler periode starter dan finisher yang telah mendapat pakan perlakuan dapat dilihat pada Tabel 9. Jumlah hemoglobin yang normal menurut Mangkoewidjojo dan Smith (1988) adalah 7,3-10,9 g/100 ml sedangkan menurut Swenson (1984) berkisar antara 6,5-9,0 g/100 ml.
Tabel 9. Nilai Hemoglobin (g %) Broiler Periode Starter dan Finisher yang Mendapat Perlakuan Periode DL-Met (%) Aflatoksin (ppb) 0 150 300 Rata-rata 0 7,27 ± 0,41 7,86 ± 0,93 7,81 ± 0,84 7,65 ± 0,33 Starter 0,25 7,62 ± 0,04 7,55 ± 0,90 8,19 ± 0,76 7,79 ± 0,35 0,35 7,34 ± 1,12 7,49 ± 0,47 6,95 ± 0,62 7,26 ± 0,28 Rata-rata 7,41 ± 0,19 7,63 ± 0,20 7,65 ± 0,64 0 7,19 ± 1,26 8,28 ± 0,36 6,72 ± 1,08 7,40 ± 0,80 Finisher 0,20 8,20 ± 0,83 7,92 ± 1,02 7,72 ± 0,89 7,95 ± 0,24 0,30 7,63 ± 1,68 7,30 ± 0,73 7,55 ± 1,62 7,49 ± 0,17 Rata-rata 7,67 ± 0,50 7,84 ± 0,49 7,33 ± 0,54
Nilai hemoglobin dalam penelitian ini masih berada di dalam kisaran normal meskipun dalam nilai yang minimum. Level aflatoksin berada di bawah batas aman menurut SNI yaitu sebesar 50 ppb (starter) dan 60 ppb (finisher). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terlihat adanya interaksi antara level aflatoksin dan penambahan DL-metionin dalam pakan. Perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai hemoglobin broiler baik pada periode starter maupun finisher.
Nilai hemoglobin yang tidak berbeda ini berarti bahwa penambahan DL-metionin maupun aflatoksin tidak mengganggu nilai hemoglobin. Hal ini terjadi karena level aflatoksin yang memang masih dalam batas aman, sejalan dengan Leeson et al. (1995), yaitu penurunan hemoglobin baru terjadi pada level aflatoksin sebesar 1,25 ppm. Korelasi (R2) antara jumlah hemoglobin dengan eritrosit menunjukkan nilai yang kecil yaitu 35,44% pada periode starter dan 15,49% pada periode finisher. Hal ini menunjukkan bahwa nilai eritrosit ayam pada penelitian ini hanya sedikit dipengaruhi oleh jumlah hemoglobinnya.
Hematokrit
Nilai hematokrit yaitu persentase eritrosit (berdasarkan volume) terhadap total darah. Persentase hematokrit pada ayam normal yaitu 24% - 43% dan 30% - 33% (Mangkoewidjojo dan Smith (1988) dan Swenson (1984)). Nilai hematokrit broiler yang mendapat perlakuan dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Nilai Hematokrit (%) Broiler Periode Starter dan Finisher yang Mendapat Perlakuan Periode DL-Met (%) Aflatoksin (ppb) 0 150 300 Rata-rata 0 24,63 ± 1,65 25,69 ± 2,38 26,50 ± 2,13 25,61 ± 0,94 Starter 0,25 25,50 ± 0,54 25,94 ± 1,85 27,94 ± 2,44 26,46 ± 1,30 0,35 24,50 ± 2,98 25,69 ± 2,73 24,39 ± 2,91 24,86 ± 0,72 Rata-rata 24,88 ± 0,54 25,77 ± 0,14 26,28 ± 1,79 0 25,38 ± 3,06 26,38 ± 1,45 23,81 ± 2,93 25,19 ± 1,29 Finisher 0,20 27,44 ± 3,18 27,06 ± 2,63 26,13 ± 2,21 26,88 ± 0,68 0,30 27,56 ± 2,57 24,94 ± 3,13 27,06 ± 1,71 26,52 ± 1,39 Rata-rata 26,79 ± 1,23 26,13 ± 1,08 25,67 ± 1,67
Pada periode starter nilai hematokrit broiler pada penelitian ini masih berada di dalam kisaran normal, namun pada periode finisher rataan nilai hematokrit sedikit di bawah kisaran normal. Akan tetapi, hasil sidik ragam tidak menunjukkan adanya pengaruh nyata perlakuan terhadap nilai hematokrit dan tidak terjadi pengaruh interaksi pada kedua periode tersebut. Hasil penelitian Aravind et al. (2003) menunjukkan penurunan hematokrit terjadi pada level aflatoksin 168 ppb. Korelasi antara nilai hematokrit dan eritrosit pada periode starter dan finisher adalah sebesar 17,56% dan 54,11%. Hal ini berarti bahwa nilai hematokrit pada kedua periode tersebut hanya sedikit dipengaruhi oleh nilai eritrosit.
Kenaikan jumlah eritrosit akan diikuti dengan kenaikan hematokrit dan biasanya akan meningkatkan volume darah total (Guyton dan Hall, 1996). Tung et al. (1975) memperkirakan bahwa mekanisme penurunan nilai hematokrit saat terjadi aflatoksikosis terkait dengan destruksi pada eritrosit. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada pengaruh terhadap nilai hematokrit dari level aflatoksin dan metionin.
Eritrosit
Hasil sidik ragam menunjukkan terjadinya interaksi antara level metionin dan aflatoksin terhadap jumlah eritrosit pada broiler periode starter. Namun nilai eritrosit pada periode finisher tidak menunjukkan terjadinya interaksi. Gambaran nilai eritrosit pada periode starter dan finisher dapat dilihat pada Gambar 6 dan 7.
Gambar 6. Nilai Eritrosit Periode Starter (0-3 minggu)
Gambar 6 menunjukkan bahwa nilai eritrosit broiler yang diberi pakan tanpa penambahan DL-metionin tidak berbeda dengan yang diberi pakan dengan penambahan DL-metionin 0,35%. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan metionin yang berlebih tidak mempengaruhi eritrosit selama level aflatoksin berada dalam batas normal. Namun pada level aflatoksin 300 ppb terjadi penurunan nilai eritrosit yang signifikan. Penambahan 0,25% DL-metionin menunjukkan penurunan pada level aflatoksin 150 ppb dan peningkatan eritosit pada level aflatoksin yang lebih tinggi yaitu 300 ppb. Pada level aflatoksin 300 ppb, penambahan DL-metionin 0,25% signifikan lebih tinggi dari pada tanpa penambahan DL-metionin maupun penambahan sebesar 0,35% DL-metionin pada pakan.
Kisaran normal eritrosit menurut Mangkoewidjojo dan Smith (1988) adalah 2,0-3,2 x 106/mm3. Guyton dan Hall (1996) menyebutkan bahwa ketinggian dan kontak tubuh dengan oksigen akan mempengaruhi jumlah pembentukan eritrosit. Semakin dewasa umur ayam maka eritrosit semakin meningkat. Produksi sel darah merah diatur oleh salah satu hormon eritropoietin yang dihasilkan ginjal. Selain itu eritrosit dipengaruhi juga oleh aktivitas, nutrisi, produksi telur, bangsa, panjang hari, suhu lingkungan dan faktor iklim. Ketebalan dan diameter eritrosit dipengaruhi oleh status nutrisi dan spesies hewan (Swenson, 1984).
Perlakuan tanpa penambahan DL-metionin dan penambahan 0,35% DL- metionin pada level aflatoksin 300 ppb periode starter memiliki jumlah eritrosit yang di bawah normal, begitu pula dengan beberapa perlakuan pada periode finisher. Gambar 7 menunjukkan nilai eritrosit pada periode finisher. Tidak ada pengaruh interaksi yang terjadi pada periode finisher dan tidak terjadi perbedaan yang nyata terhadap nilai eritrositnya walaupun terdapat beberapa perlakuan yang nilainya berada di bawah kisaran normal. Nilai eritrosit yang lebih kecil pada periode finisher ini berbanding dengan rataan bobot ginjal ayam hasil penelitian, dimana terjadi peningkatan bobot ginjal pada ayam periode finisher. Hal ini dikarenakan level aflatoksin pakan yang memang di atas batas SNI sehingga mengganggu kerja ginjal dan berpengaruh terhadap penurunan produksi eritrosit.
Leukosit
Leukosit berperan dalam sistem kekebalan tubuh ternak. Tabel 11 menunjukkan jumlah leukosit yang terdapat dalam darah broiler hasil penelitian pada periode starter dan finisher.
Tabel 11. Nilai Leukosit (103/mm3) Broiler Periode Starter dan Finisher yang Mendapat Perlakuan Peubah DL-Met (%) Aflatoksin (ppb) 0 150 300 Rata-rata 0 10,25 ± 5,18 6,60 ± 1,51 10,35 ± 4,93 9,07 ± 2,14A Starter 0,25 5,75 ± 2,28 4,00 ± 2,10 4,55 ± 2,65 4,77 ± 0,89B 0,35 5,40 ± 2,35 6,65 ± 1,18 5,00 ± 0,63 5,68 ± 0,86B Rata-rata 7,13 ± 2,70 5,75 ± 1,52 6,63 ± 3,23 0 14,65 ± 8,03 9,40 ± 2,89 6,95 ± 4,37 10,33 ± 3,93 Finisher 0,20 6,90 ± 3,85 6,75 ± 1,44 7,30 ± 3,11 6,98 ± 0,28 0,30 11,60 ± 1,51 4,15 ± 1,08 5,90 ± 3,27 7,22 ± 3,90 Rata-rata 11,05 ± 3,90a 6,77 ± 2,63b 6,72 ± 0,73b
Keterangan: Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan sangat nyata (P<0.01). Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0.05). huruf kapital menunjukkan perbedaan pada faktor A dan huruf kecil menunjukkan perbedaan pada faktor B.
Pada periode starter, penambahan DL-metionin 0,25% dan 0,35% nyata menurunkan nilai leukosit. Namun kandungan aflatoksin tidak berpengaruh terhadap nilai leukosit. Pada periode finisher, level aflatoksin dalam ransum menurunkan leukosit darah. Pakan yang terkontaminasi aflatoksin menunjukkan penurunan yang nyata terhadap jumlah leukosit pada darah broiler. Hal ini disebabkan karena level aflatoksin dalam pakan periode finisher yang melebihi batas aman menurut SNI. Pengaruh penambahan DL-metionin dan interaksi tidak terlihat pada periode ini.
Jumlah leukosit ayam kedua periode pada semua perlakuan rendah. Menurut Mangkoewidjojo dan Smith (1988) dan Swenson (1984) jumlah leukosit normal yaitu antara 16,00-40,00 ribu/mm3 dan 20,00-30,00 ribu/mm3. Hal ini terjadi diduga karena beberapa faktor seperti strain ayam yang dipakai, kondisi ayam yang tidak baik atau karena faktor luar seperti lingkungan. Namun, jika dibandingkan antara ayam yang mendapat perlakuan dengan ayam yang diberi ransum komersil dan dipelihara pada saat bersamaan, ternyata ayam yang diberikan ransum komersil juga memiliki jumlah leukosit yang berada di bawah kisaran pada literatur yaitu sebesar 4,25 ribu/mm3 pada starter dan 11,35 ribu/mm3 pada finisher. Nilai hematologi darah
ayam broiler yang diberikan ransum komersil dan dipelihara pada tempat dan waktu yang sama dengan ayam perlakuan dapat dilihat pada Lampiran.
Diferensiasi Leukosit
Data nilai diferensiasi leukosit periode starter dan finisher ayam broiler yang mendapat perlakuan dapat dilihat pada Tabel 12. Secara umum dapat dilihat bahwa nilai limfosit periode starter lebih tinggi daripada finisher dan kebalikannya dapat dilihat bahwa nilai heterofil periode starter lebih kecil daripada finisher. Hal tersebut menyebabkan rata-rata rasio heterofil limfosit pada periode finisher lebih besar.
Heterofil. Heterofil dan makrofag adalah sel yang terutama menyerang dan
menghancurkan bakteri, virus dan bahan-bahan merugikan lain yang menyerbu masuk ke dalam tubuh (Guyton dan Hall, 1996). Hasil sidik ragam terhadap nilai heterofil broiler periode starter menunjukkan hasil yang signifikan (P<0,05) pada level aflatoksin yang berbeda sedangkan pada periode finisher tidak berbeda nyata. Level aflatoksin yang lebih tinggi menyebabkan peningkatan heterofil yang signifikan namun masih berada di dalam kisaran normal. Kisaran normal heterofil menurut Swenson (1984) yaitu 25% - 30%. Hampir semua nilai heterofil pada periode starter berada di bawah kisaran normal, berbeda dengan periode finisher yang justru berada di atas normal. Nilai heterofil yang meningkat di atas normal ini karena level aflatoksin pada periode finisher yang sudah melebihi batas menurut SNI. Campbell (1995) mengatakan bahwa heterofilia sering dikaitkan dengan penyakit infeksius yang disebabkan oleh bakteri, fungi (seperti Aspergillus spp.) dan klamidia.
Limfosit. Persentase normal limfosit yaitu 24% - 84% (Mangkoewidjojo dan Smith,
1988). Nilai limfosit hasil penelitian ini sebagian besar masih berada di dalam kisaran normal. Hasil sidik ragam tidak menunjukkan adanya pengaruh penambahan DL-metionin dan level aflatoksin serta interaksi keduanya pada kedua periode perlakuan. Limfosit berperan dalam merespon antigen dan pengembangan imunitas. Pembentukan limfosit terutama terjadi di berbagai organ limfogen seperti kelenjar limfe, limpa, timus, tonsil dan berbagai kantong jaringan limfoid di tubuh (Guyton dan Hall, 1996). Level aflatoksin pada penelitian tidak menyebabkan tubuh merasa
perlu meningkatkan sel-sel ini sehingga jumlahnya dalam darah masih berada dalam batas normal.
Tabel 12. Nilai Diferensiasi Leukosit Broiler Periode Starter dan Finisher yang Mendapat Perlakuan Peubah DL-Met (%) Aflatoksin (ppb) 0 150 300 Rata-rata Starter 0 82,00 ± 10,23 86,00 ± 5,48 76,75 ± 14,55 81,58 ± 4,64 Limfosit 0,25 89,25 ± 8,58 69,75 ± 5,91 77,00 ± 10,86 78,67 ± 9,86 (%) 0,35 78,25 ± 12,61 80,00 ± 7,62 64,00 ± 18,71 74,08 ± 8,78 Rata-rata 83,17 ± 5,59 78,58 ± 8,22 72,58 ± 7,43 Finisher 0 50,75 ± 9,07 41,50 ± 28,59 58,50 ± 21,63 50,25 ± 8,51 Limfosit 0,20 56,25 ± 24,72 63,00 ± 12,75 61,50 ± 28,90 60,25 ± 3,54 (%) 0,30 49,25 ± 20,12 75,00 ± 6,78 53,25 ± 17,25 59,17 ± 13,86 Rata-rata 52,08 ± 3,69 59,83 ± 16,97 57,75 ± 4,18 Starter 0 15,75 ± 9,91 10,50 ± 5,20 19,50 ± 14,43 15,25 ± 4,52 Heterofil 0,25 4,25 ± 2,63 25,75 ± 6,80 18,50 ± 10,85 16,17 ± 10,94 (%) 0,35 17,25 ± 12,89 16,00 ± 4,69 34,75 ± 18,23 22,67 ± 10,48 Rata-rata 12,42 ± 7,11B 17,42 ± 7,72B 24,25 ± 9,11A Finisher 0 45,00 ± 10,23 54,50 ± 26,99 33,50 ± 25,05 44,33 ± 10,52 Heterofil 0,20 34,75 ± 23,16 33,50 ± 14,62 34,50 ± 30,65 34,25 ± 0,66 (%) 0,30 47,00 ± 20,46 20,00 ± 6,27 43,25 ± 17,75 36,75 ± 14,63 Rata-rata 42,25 ± 6,57 36,00 ± 17,39 37,08 ± 5,36 Starter 0 2,00 ± 0,82 2,25 ± 1,71 3,75 ± 0,96 2,67 ± 0,95 Monosit 0,25 3,25 ± 1,50 3,50 ± 2,08 3,50 ± 2,38 3,42 ± 0,14 (%) 0,35 3,00 ± 1,83 3,75 ± 2,99 1,25 ± 0,50 2,67 ± 1,28 Rata-rata 2,75 ± 0,66 3,17 ± 0,80 2,83 ± 1,38 Finisher 0 4,00 ± 2,45 4,00 ± 2,71 5,75 ± 5,07 4,58 ± 1,01 Monosit 0,20 6,50 ± 5,07 3,00 ± 2,16 3,50 ± 2,38 4,33 ± 1,89 (%) 0,30 2,25 ± 1,89 5,00 ± 2,45 3,50 ± 0,58 3,58 ± 1,38 Rata-rata 4,25 ± 2,14 4,00 ± 1,00 4,25 ± 1,30 Starter 0 0,25 ± 0,50 0,75 ± 0,50 0,00 ± 0,00 0,33 ± 0,38 Eosinofil 0,25 1,00 ± 0,82 1,00 ± 1,41 1,00 ± 1,41 1,00 ± 0,00 (%) 0,35 1,50 ± 1,00 0,25 ± 0,50 0,00 ± 0,00 0,58 ± 0,80 Rata-rata 0,92 ± 0,63 0,67 ± 0,38 0,33 ± 0,58 Finisher 0 0,25 ± 0,50 0,00 ± 0,00 2,25 ± 3,20 0,83 ± 1,23 Eosinofil 0,20 2,50 ± 5,00 0,50 ± 0,58 0,50 ± 0,58 1,17 ± 1,15 (%) 0,30 1,50 ± 1,73 0,00 ± 0,00 0,25 ± 0,50 0,58 ± 0,80 Rata-rata 1,42 ± 1,13 0,17 ± 0,29 1,00 ± 1,09 Starter 0 0,21 ± 0,16 0,13 ± 0,07 0,29 ± 0,29 0,21 ± 0,08 Heterofil/Limfosit 0,25 0,05 ± 0,04 0,38 ± 0,13 0,26 ± 0,20 0,23 ± 0,17 (%) 0,35 0,25 ± 0,21 0,21 ± 0,08 0,68 ± 0,65 0,38 ± 0,27 Rata-rata 0,17 ± 0,10 0,13 ± 0,13 0,41 ± 0,24 Finisher 0 0,93 ± 0,33 2,48 ± 2,33 0,77 ± 0,71 1,39 ± 0,95 Heterofil/Limfosit 0,20 0,89 ± 0,94 0,58 ± 0,31 1,07 ± 1,49 0,85 ± 0,25 (%) 0,30 1,23 ± 0,96 0,27 ± 0,11 0,99 ± 0,75 0,83 ± 0,50 Rata-rata 1,02 ± 0,19 1,11 ± 1,20 0,94 ± 0,15
Rasio heterofil limfosit. Rasio ini berguna dalam menunjukkan tingkat stres yang terjadi pada broiler. Rasio ini pada periode starter masih berada pada angka normal sedangkan pada periode finisher hampir semua berada di atas normal, yang berarti bahwa terjadi tingkat stres yang tinggi pada ayam. Stres pada ayam ini dapat disebabkan karena kebutuhan nutrien yang tidak tercukupi dan juga karena berbagai faktor lingkungan.
Eosinofil. Persentase eosinofil normal menurut Swenson (1984) yaitu 3% - 8%.
Eosinofil merupakan sel fagosit lemah dan masih diragukan fungsinya dalam pertahanan tubuh terhadap infeksi umum jika dibandingkan dengan heterofil. Namun, eosinofil akan banyak diproduksi pada penderita infeksi parasit (Guyton dan Hall, 1996). Nilai eosinofil ayam pada kedua periode tidak menunjukkan perbedaan yang nyata yang menandakan tidak terjadinya infeksi parasit pada ayam perlakuan. Penambahan aflatoksin maupun metionin tidak menimbulkan pengaruh terhadap nilai sel darah ini.
Monosit. Monosit adalah sel imatur dengan sedikit kemampuan untuk melawan
bahan-bahan infeksius. Namun, saat masuk ke jaringan kadang diameternya akan membesar menjadi makrofag, yang mempunyai kemampuan hebat dalam memberantas agen penyakit. Kisaran normal monosit yaitu 0% - 30% (Mangkoewidjojo dan Smith, 1988). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada persentase monosit tidak ada perbedaan yang signifikan dan masih berada di dalam kisaran normal.
Basofil. Basofil dan sel mast sangat berperan pada beberapa tipe reaksi alergi.
Basofil tidak terdapat pada darah broiler yang telah mendapat perlakuan baik pada periode starter maupun finisher. Hal ini menunjukkan bahwa level aflatoksin dan penambahan DL-metionin tidak memicu pembentukan sel darah ini. Aflatoksin dalam pakan tidak menyebabkan reaksi alergi pada ayam.
IgY
Nilai imunoglobulin Y (IgY) pada broiler periode starter dan finisher berdasarkan hasil penelitian dipaparkan pada Tabel 13. Pengaruh level aflatoksin dan penambahan DL-metionin saat periode starter ke dalam pakan tidak terlihat namun terjadi interaksi pada kedua faktor tersebut. Penambahan DL-metionin pada level
optimum yaitu 0,25% ke dalam pakan tanpa kandungan aflatoksin menyebabkan nilai IgY ayam nyata lebih rendah daripada semua perlakuan lainnya. Ketika kandungan aflatoksin meningkat maka nilai IgY juga meningkat pada perlakuan dengan penambahan 0,25% DL-metionin. Sehingga terlihat bahwa level metionin yang
Tabel 13. Nilai IgY (µg/ml) Broiler Periode Starter dan Finisher yang Mendapat Perlakuan Peubah DL-Met (%) Aflatoksin (ppb) Rata-rata 0 150 300 0 9,80 ± 1,33Aa 8,75 ± 0,69Aa 8,95 ± 0,82Aa 9,17 ± 0,56 Starter 0,25 8,48 ± 0,85Bb 10,30 ± 0,94Aa 9,53 ± 0,75Aa 9,43 ± 0,92 0,35 10,45 ± 1,34Aa 9,28 ± 1,17Aa 9,73 ± 1,25Aa 9,82 ± 0,59 Rata-rata 9,58 ± 1,01 9,44 ± 0,79 9,40 ± 0,40 0 10,23 ± 1,39 9,40 ± 1,15 9,70 ± 1,16 9,78 ± 0,42 Finisher 0,20 9,73 ± 0,57 10,33 ± 2,50 10,20 ± 0,87 10,08 ± 0,32 0,30 10,55 ± 1,25 10,28 ± 1,74 10,15 ± 3,50 10,33 ± 0,32 Rata-rata 10,17 ± 0,42 10,00 ± 0,52 10,02 ± 0,28
Keterangan: Superskrip yang berbeda menunjukkan perbedaan nyata (P<0.05). Superskrip huruf kapital menunjukkan perbedaan pada faktor A dan huruf kecil menunjukkan perbedaan pada faktor B.
optimum pada pakan yang tidak terkontaminasi aflatoksin menyebabkan tubuh ayam tidak meningkatkan respon kebalnya. Sedangkan pada level metionin yang tidak sesuai dan adanya aflatoksin pakan mengakibatkan kenaikan kekebalan tubuh ayam dilihat dari nilai IgY tersebut.
Nilai IgY pada periode finisher tidak berbeda nyata. Hal ini menunjukkan bahwa nilai IgY tidak dipengaruhi oleh level metionin maupun aflatoksin dan tidak ada pengaruh dari interaksi keduanya. Namun begitu, jika dilihat pada tabel, nilai IgY pada periode finisher lebih besar dari pada periode starter. Pada fase starter tubuh ayam lebih rentan sehingga kekebalan tubuhnya lebih rendah. Selain itu terkait juga dengan nilai aflatoksin periode finisher yang memang lebih besar daripada periode starter.
MCV dan MCHC
MCV (Mean Corpuscular Volume) dan MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) berperan dalam menentukan tipe anemia. MCV adalah cara yang sering digunakan untuk mengukur volume rata-rata sel darah merah yaitu
dengan membagi hematokrit dengan eritrosit. MCHC digunakan untuk mengukur konsentrasi rata-rata hemoglobin dalam sel darah merah yaitu dengan membagi hemoglobin dengan hematokrit.
MCV membagi eritrosit berdasarkan ukuran, dimana sel berukuran normal disebut normositik, sel berukuran kecil disebut mikrositik dan sel berukuran besar disebut makrositik (Nordenson, 2007). MCHC mengkategorikan eritrosit berdasar kosentrasi hemoglobin. Sel darah merah dengan konsentrasi hemoglobin normal disebut normokromik dan konsentrasi hemoglobin yang rendah disebut hipokromik. Pada Tabel 14 dapat dilihat nilai MCV dan MCHC darah broiler yang mendapat perlakuan.
Tabel 14. Nilai MCV dan MCHC Broiler Periode Starter dan Finisher
Peubah DL-Met (%) Aflatoksin (ppb) Rata-rata 0 150 300 Starter 0 115,58 ± 3,47 119,10 ± 4,79 147,34 ± 19,91 127,34 ± 17,41 MCV 0,25 124,27 ± 12,94 129,48 ± 8,04 122,32 ± 6,39 125,36 ± 3,70 (fl) 0,35 117,24 ± 13,48 124,88 ± 4,40 140,18 ± 8,17 127,43 ± 11,68 Rata-rata 119,03 ± 4,61 124,49 ± 5,20 136,61 ± 12,89 0 29,55 ± 1,39 30,55 ± 1,15 29,43 ± 1,16 29,84 ± 0,61 MCHC 0,25 29,87 ± 0,57 29,10 ± 2,50 29,30 ± 0,87 29,43 ± 0,40 (%) 0,35 29,91 ± 1,25 29,27 ± 1,74 28,74 ± 3,50 29,31 ± 0,58 Rata-rata 29,78 ± 0,20 29,64 ± 0,79 29,16 ± 0,37 Finisher 0 132,20 ± 12,38 149,30 ± 16,99 132,65 ± 21,88 138,05 ± 9,75 MCV 0,20 128,62 ± 23,02 129,39 ± 9,88 136,00 ± 15,03 131,33 ±4,06 (fl) 0,30 137,13 ± 16,82 154,61 ± 14,08 139,58 ± 39,07 143,77 ± 9,47 Rata-rata 132,65 ± 4,27 144,43 ± 13,30 136,07 ± 3,47 0 28,32 ± 3,54 31,43 ± 1,48 28,83 ± 7,50 29,53 ± 1,67 MCHC 0,20 30,38 ± 5,86 29,69 ± 6,15 29,51 ± 1,49 29,86 ± 0,46 (%) 0,30 27,43 ± 3,67 29,43 ± 2,54 27,74 ± 4,30 28,20 ± 1,08 Rata-rata 28,71 ± 1,52 30,18 ± 1,09 28,69 ± 0,89
Keterangan: MCV= Mean Corpuscular Volume; MCHC= Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration
Hasil sidik ragam pada kedua periode tidak menunjukkan pengaruh nyata level aflatoksin dan penambahan DL-metionin dalam pakan terhadap nilai MCV dan MCHC pada broiler. Nilai MCV yang normal berkisar antara 90-140 fl (Hodges, 1997). Perlakuan 300 ppb aflatoksin tanpa penambahan DL-metionin dan dengan penambahan 0,35% pada periode starter memiliki nilai MCV yang lebih besar dari kisaran tersebut karena itu pada kedua perlakuan dapat disimpulkan terjadi anemia
makrositik atau sel darah merah yang berukuran besar. Begitu pula perlakuan level aflatoksin 150 ppb tanpa penambahan dan dengan penambahan 0,30% DL-metionin pada periode finisher. Hal ini bisa dikarenakan kegagalan pematangan dan pembelahan inti sel dimana penyebab utamanya adalah keadaan nutrisi yaitu seperti kurangnya vitamin B12 atau asam folat (Guyton dan Hall, 1996). Nilai MCHC normal yaitu antara 26% - 35% (Hodges, 1997). Pada tabel dapat dilihat bahwa nilai MCHC semua perlakuan pada kedua periode berada di dalam kisaran normal dan termasuk ke dalam anemia normokromik atau ayam tidak menderita anemia.
Performa dan Organ Dalam
Penelitian mengenai aflatoksin telah banyak dilakukan mulai dari awal munculnya pada tahun 1960. Di Indonesia sendiri telah dilakukan bermacam kajian mengenai aflatoksin (Sudjadi et al., 1999; Ahmad et al., 1999; Purwoko et al., 1991). Aflatoksin yang terdapat dalam pakan dan termakan oleh ternak akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan ternak serta menjadi bahaya potensial penyebab kanker hati pada manusia (Leeson et al., 1995). Hal ini bisa dibuktikan dari berbagai penelitian yang telah dilakukan.
Ketika ternak pertama kali terpapar oleh aflatoksin maka akan terjadi mekanisme dalam tubuh ternak sebagai reaksinya terhadap aflatoksin yang masuk ke dalam tubuh. Hal pertama yang terlihat yaitu melalui penampilan fisik atau performa ternak. Ketika toksin sudah diserap oleh tubuh, maka akan diangkut oleh darah sebagai media pengangkut ke organ yang berperan dalam mekanisme detoksifikasi yaitu terutama organ hati dan ginjal untuk selanjutnya dikeluarkan dari tubuh (Leeson, 1995). Selain dilihat pada parameter darah, pada penelitian ini juga dilihat pengaruh perlakuan terhadap parameter performa dan organ dalam broiler.
Hasil performa ayam pada penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan DL-metionin pada ransum mengandung aflatoksin tidak berpengaruh terhadap performa ayam broiler periode starter. Namun pada periode finisher, penambahan DL-metionin 0,20% pada ransum dengan level aflatoksin hingga 78,50 ppb mampu meningkatkan konsumsi air minum, konsumsi ransum, dan pertambahan bobot badan walaupun tidak memperbaiki konversi ransumnya. Level aflatoksin tidak berpengaruh terhadap performa ayam. Tidak terjadi interaksi antara penambahan DL-metionin dan aflatoksin terhadap peubah yang diukur (Lotong, 2010).
Parameter organ dalam yang diamati tidak terlihat adanya pengaruh aflatoksin terhadap bobot organ dalam dan organ pencernaan pada periode starter. Ransum yang terkontaminasi aflatoksin 62,35-78,50 ppb periode finisher memberikan efek negatif yaitu meningkatkan berat organ dalam (ginjal, limpa, dan gizzard) serta saluran pencernaan. Penambahan DL-metionin 0,35% dalam ransum periode starter serta penambahan DL-metionin 0,20% dan 0,30% dalam ransum periode finisher mampu menetralisir efek negatif aflatoksin (Nurhalimah, 2010). Pengamatan hanya dilakukan berdasarkan bobot organ. Tidak dilakukan pemeriksaan histopatologi pada organ dalam yang diamati sehingga tidak diketahui kelainan yang terjadi jikalau ada.
Pengaruh perlakuan level aflatoksin terhadap profil darah ayam tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Hal ini terkait juga dengan hasil performa dan organ dalam pada ayam penelitian yang tidak menunjukkan perbedaan. Penyebab tidak terjadinya pengaruh aflatoksin adalah dikarenakan level aflatoksin pada perlakuan yang memang rendah sehingga belum mengganggu ternak yaitu pada periode starter 19,24-34,50 ppb dan level aflatoksin yang sedikit di atas batas aman menurut SNI pada periode finisher yaitu 62,35-78,50 ppb. Penambahan DL-metionin secara umum tidak mempengaruhi profil darah broiler.