• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Interaksi Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea

Linn) Pada 4 MST (Minggu Setelah Tanam)

Setelah dilakukan analisis ragam terhadap pengaruh cara pemberian

Rootone-F dan jenis stek terhadap induksi akar stek gmelina (Gmelina arborea

Linn) (Tabel lampiran 1 sampai 13.), didapatkan bahwa pada minggu ke-4 setelah penanaman, pemberian Rootone-F dan jenis stek hanya berpengaruh nyata pada tolok ukur berat basah akar stek gmelina (Gmelina arborea Linn). Rekapitulasi sidik ragam pengaruh cara pemberian Rootone-F dan jenis stek terhadap induksi akar gmelina pada 4 MST disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Rekapitulasi Nilai F dari Sidik Ragam Pengaruh Cara Pemberian

Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi akar dan Tolok Ukur keberhasilan stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) Pada 4 MST

Parameter/

Tolok Ukur Keberhasilan Stek

Perlakua n

Cara Pemberian Jenis Stek Interaksi

Rootone -F

(R) (J) (RxJ)

Persentase Stek Hidup (%) tn tn tn

Persentase Stek Berkalus (%) tn tn *

Jumlah Kalus * ** tn

Persentase Stek Bertunas (%) tn ** tn

Jumlah Tunas tn ** tn

Panjang Tunas (cm) tn tn tn

Persentase Berakar (%) * ** tn

Jumlah Akar Stek * ** tn

Panjang Akar (cm) tn ** tn

Berat Basah Akar (g) ** ** **

Berat Kering Akar (g) * * tn

Keterangan

* Berbeda nyata

** Berbeda sangat nyata tn Tidak berbeda nyata

Penelitian ini menggunakan dua cara pemberian Rootone-F yang sering digunakan oleh masyarakat juga kontrol sebagai pembandingnya terhadap tolok ukur induksi perakaran stek gmelina.. Tolok ukur yang lain selain berat basah akar

dan persentase stek berkalus seperti persentase stek hidup, jumlah kalus, persentase stek bertunas, jumlah tunas, panjang tunas, persentase berakar, jumlah akar stek, panjang akar, berat basah dan berat kering akar tidak dipengaruhi secara nyata oleh pemberian Rootone-F dan jenis stek. Hal ini disebabkan pada 4 MST tanaman yang berada di lapangan belum menunjukkan tanda-tanda yang signifikan sehingga belum terdapat keragaman yang nyata.

Persentase Stek Berkalus

Kalus adalah jaringan yang belum teroganisir sebagai respon tumnuhan untuk menutupi luka. Diketahuinya stek telah berkalus adalah dengan mencabut stek terutama stek yang telah bertunas karena menurut Waluyo (2000) stek yang telah betunas pasti berkalus. Munculnya kalus setelah stek bertunas yaitu pada minggu ke-1 dan ke-2 setelah tanam. Nilai rata persentase stek berkalus sampai dengan minggu ke-4 setelah tanam didapatkan bahwa kombinasi stek pucuk dengan ketiga aplikasi pemberian Rootone-F memiliki persentase 100% dan stek batang dengan ketiga aplikasi tersebut memiliki nilai diatas 95% (Tabel 2.).

Berat Basah Akar

Cara pemberian Rootone-F dan jenis stek pada tanaman gmelina 4 MST hanya berpengaruh nyata terhadap rata-rata berat basah akar (Tabel 2.). Interaksi cara pemberian Rootone-F dengan cara perendaman dan jenis stek pucuk merupakan kombinasi cara yang paling baik dalam pembiakan vegetatif tanaman gmelina, setelah 4 MST ini terlihat pada tolok ukur berat basah akar stek. Pada Tabel 2. dapat dilihat bahwa stek pucuk dengan pemberian melalui perendaman dalam larutan Rootone-F 100 ppm selama 24 jam memiliki rata-rata berat basah akar yang paling tinggi yaitu 8.95 g dibandingkan dengan stek pucuk dengan kontrol yaitu sebesar 5.75 g, stek pucuk dengan pasta sebesar 0.95 g, stek batang dengan cara direndam sebesar 0.97 g, stek batang kontrol sebesar 0.77 g dan stek batang dengan pasta sebesar 0.21 g. Ini menunjukkan bahwa stek pucuk dengan cara direndam merupakan cara yang paling efektif diterapkan dalam pembiakan vegetatif tanaman gmelina.

Akar memiliki perananan yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan pembiakan vegetatif terutama dengan stek. Rata-rata berat basah akar sampai dengan 4 MST adalah 2.94 gram. Ini menunjukkan bahwa media yang dipergunakan yaitu campuran tanah dan arang sekam cukup lembab mengingat lokasi penelitian yang berada di daerah dengan kelembaban yang tinggi dan intensifnya penyiraman yang dilakukan untuk menjaga kesegaran stek gmelina tersebut. Media pun tidak boleh terlalu lembab karena dikhawatirkan akan menyebabkan kebusukan pada stek.

Pembentukan akar dapat melalui bakal akar yang terdapat pada buku batang (akar primordia) dan kalus terlebih dahulu (wounded root). Dari Tabel 1. didapatkan bahwa rata-rata berat basah akar pada 4 MST berpengaruh nyata sehingga dilakukan pengujian lanjut dengan DMRT 5% yang dapat dilihat pada Tabel 2. Akar dapat terbentuk apabila kondisi lingkungan dan faktor internal yang menguntungkan. Kondisi lingkungan adalah suhu udara pada media dan kisarannya 21° - 27° C, sedangkan faktor internal adalah kandungan hormon endogen tanaman (Waluyo, 2000) dan faktor eksternal berupa penambahan hormon eksogen, dalam hal ini dapat disediakan oleh Rootone-F berupa auksin.

Tabel 2. Interaksi Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Persentase Stek Berkalus dan Berat Basah Akar Gmelina (Gmelina arborea Linn) Pada 4 MST

Tolok Ukur Cara Pemberian

Jenis stek Batang Pucuk Persentase Stek Berkalus (%) Kontrol 95.83a 100.00a

Rendam 81.48b 100.00a

Pasta 93.33a 100.00a

Berat Basah Akar (g) Kontrol 0.77a 5.75c Rendam 0.97a 8.95b

Pasta 0.21a 0.95a

Keterangan Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%

Dari hasil pengamatan, stek yang telah berakar pasti telah bertunas, menurut Hartman and Kester (1978) efek dari terbentuknya daun dan tunas akan memacu terbentuknya akar karena daun menghasilkan auksin yang langsung

ditransfer ke pangkal stek. Interaksi dari cara pemberian Rootone-F dan jenis stek belum menunjukkan pengaruh pada semua tolok ukur kecuali pada tolok ukur berat basah akar pada 4 MST, hal ini disebabkan karena pertumbuhan akar, tunas dan kalus pada stek hampir seragam sehingga belum terdapat perbedaaan yang signifikan antar perlakuan.

Kombinasi perlakuan tersebut menunjukkan bahwa stek pucuk lebih mudah berakar dibandingkan dengan stek batang karena jaringan yang berada pada stek pucuk lebih banyak mengandung auksin dibandingkan dengan bagian batang. Hasil pengamatan menunjukkan stek yang berasal dari batang mengalami kekeringan, menurut Fitter dan Hay (1992) tanaman yang banyak mengalami kehilangan air akan mengalami penurunan biosintesis klorofil, bukaan stomata dan asimilasi CO2, akibatnya fotosintat yang terdapat di batang lebih rendah daripada pucuk. Prawiranata et al. (1992) menambahkan, transpirasi yang tinggi akan membuat sel-sel kehilangan turgornya sehingga ukuran sel-sel panjang akan berkurang, stomata menutup, difusi CO2 menurun dan fotosintesis juga menurun sehingga fotosintat yang dihasilkan juga menurun. Hal ini menjelaskan mengapa pada stek batang hasil fotosintat yang sedikit akan dikuras habis sebagai cadangan makanan selama stek membentuk akar sehingga perakarannya tidak lebih baik daripada stek yang berasal dari pucuk.

Gambar 1. Histogram Tolok Ukur Hidup Stek Gmelina 8 MST

Keterangan : 1 = stek batang kontrol 4 = stek pucuk kontrol 2 = stek batang direndam 5 = stek pucuk direndam 3 = stek batang dengan pasta 6 = stek pucuk dengan pasta

0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 100.00 1 2 3 4 5 6 Perlakuan Persentase % stek hidup % stek berkalus % stek bertunas % stek berakar

Pada Gambar 1. dapat dilihat bahwa pada tolok ukur hidup stek gmelina pada 4 MST interaksi terbaik didapat dari stek pucuk dengan perendaman dalam larutan Rootone-F 100 ppm selama 24 jam. Ini terlihat pada semua tolok ukur keberhasilan stek bahwa stek pucuk dengan perendaman memiliki nilai yang paling tinggi dibandingkan kombinasi perlakuan lainnya. Interaksi stek pucuk kontrol memiliki nilai lebih rendah dibandingkan dengan kombinasi stek pucuk dengan perendaman kemudian diikuti oleh kombinasi stek pucuk dengan pasta.

Pengaruh Cara Pemberian Rootone-F Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 4 MST

Secara tunggal, faktor cara pemberian Rootone-F pada minggu ke-4 setelah tanam mempengaruhi tolok ukur persentase stek berakar, berat kering akar, berat basah akar, jumlah akar, jumlah tunas, jumlah akar dan jumlah kalus, sedangkan persentase stek hidup, persentase stek bertunas, persentase stek berkalus, panjang tunas dan panjang akar belum menunjukkan pengaruh yang nyata.

Persentase stek berakar menunjukkan bahwa cara pemberian Rootone-F

dengan cara perendaman memiliki nilai yang paling tinggi yaitu 66.67% diikuti oleh kontrol dengan 50.19% kemudian dengan cara pemberian pasta sebesar 25.34%. pengaruh nyata juga terlihat pada tolok ukur berat kering akar, berat basah akar, jumlah kalus, jumlah tunas dan jumlah akar yang dapat dilihat pada Tabel 3.

Tolok ukur persentase stek hidup, berkalus, bertunas, panjang tunas dan akar tidak dipengaruhi secara nyata oleh pemberian Rootone-F karena pada 4 MST tanaman memiliki persentase yang ha mpir seragam dalam tolok ukur tersebut. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kondisi stek tanaman gmelina tanpa cara pemberian Rootone-F masih memiliki persentase stek hidup dan bertunas diatas 80%. Adapun hasil pengujian statistik secara keseluruhannya dapat dilihat pada Tabel lampiran 3. sampai dengan tabel Lampiran 13

Hasil penelitian menunjukkan stek yang direndam dengan larutan

Rootone-F 100 ppm lebih baik dibandingkan dengan pemberian pasta pada stek. Pengamatan dilapangan menunjukkan, ini terjadi karena saat stek ditanam dalam

media yang berupa tanah dan arang sekam yang menyebabkan persentasenya jauh lebih rendah dibandingkan stek yang telah menyerap lebih banyak larutan

Rootone-F 100 ppm karena telah direndam selama 24 jam. Dapat kita lihat kondisi stek gmelina selama di rumah stek sampai dengan umur 4 MST (Gambar 2.).

(A) (B)

Gambar 2. Penanaman Stek di Pot Tray, (A) stek batang, (B) stek pucuk

Cara pemberian Rootone-F berpengaruh hampir di seluruh tolok ukur keberhasilan stek, ini menunjukkan bahwa pada 4 MST Rootone-F telah memberikan hasil yang baik bagi pertumbuhan stek gmelina. Rata-rata persentase stek berakar yang tinggi pun dapat diperoleh pada 4 MST yaitu diatas 50% (Tabel 3.).

Tabel 3. Pengaruh Faktor Tunggal Cara Pemberian Rootone-F Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea

Linn) pada 4 MST

Tolok Ukur Perlakuan

Kontrol Rendam Pasta Persentase Stek Hidup (%) 81.67 86.67 70.00

Jumlah Kalus 3.75b 4.91a 4.65ab

Persentase Stek Bertunas (%) 92.59 80.37 73.61

Jumlah Tunas 3.06 4.18 2.85

Panjang Tunas (cm) 2.51 4.14 2.33

Persentase Stek Berakar (%) 50.19ab 66.67a 25.34b

Jumlah Akar 1.94ab 3.08a 1.29b

Panjang Akar (cm) 5.94 6.95 4.40

Berat Kering Akar (g) 0.46a 0.55a 0.07b Keterangan Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama tidak

Konsentrasi zat pengatur tumbuh (ZPT) yang tepat sangat diperlukan agar ZPT dapat bereaksi dengan enzim dan menimbulkan respon pertumbuhan akar. Konsentrasi yang berlebihan justru akan menimbulkan ketidakseimbangan kondisi auksin dengan enzim sehingga menghambat pertumbuhan akar (Thimann, 1969). Cara perendaman memungkink an Rootone-F yang diserap lebih bayak daripada dengan pengolesan pasta yang kadang-kadang tidak merata.

Pengaruh Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 4 MST

Tabel 4. menunjukkan jenis stek berpengaruh nyata pada tolok ukur persentase stek bertunas, persentase stek berakar, berat kering akar, berat basah akar, panjang akar, jumlah akar, jumlah tunas dan jumlah kalus. Dapat dilihat bahwa stek pucuk pada tanaman gmelina memiliki persentase stek bertunas dan berakar lebih tinggi daripada stek batang. Faktor jenis stek secara nyata mempengaruhi jumlah kalus, persentase stek bertunas, jumlah tunas, persentase stek berakar, jumlah akar, panjang akar, berat basah dan berat kering stek. Tolok ukur keberhasilan stek yang lain tidak dipengaruhi secara nyata oleh jenis stek (Tabel 4.).

Tabel 4. Pengaruh Faktor Tunggal Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) (Gmelina arborea Linn) ada 4 MST

Tolok Ukur

Perlakuan Batang Pucuk Persentase Stek Hidup (%) 73.33 85.56

Jumlah Kalus 2.86b 6.01a

Persentase Stek Bertunas (%) 66.24b 98.15a

Jumlah Tunas 2.05b 4.68a

Panjang Tunas (cm) 2.29 3.7

Persentase Stek Berakar (%) 13.74b 81.60a

Jumlah Akar 0.74b 3.47a

Panjang Akar (cm) 1.46b 10.07a

Berat Kering Akar (g) 0.17b 0.55a

Keterangan Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%.

Jenis stek yang sering digunakan oleh para petani adalah stek batang, tetapi pada tanaman tertentu dapat digunakan bagian tanaman lain berupa pucuk

dan akar sebagai bahan stek. Pada tanaman gmelina yang berumur 4 MST terlihat bahwa stek pucuk memiliki tingkat keberhasilan lebih baik dibandingkan dengan stek gmelina yang berasal dari batang, dapat dilihat pada Tabel 4. bahwa rata-rata persentase stek berakar tertinggi didapat dari stek yang berasal dari pucuk dengan rata-rata stek berakar sebesar 81.60%. Pada Gambar 3. dapat dilihat bahwa pada 4 MST sudah terlihat perbedaan pertumbuhan tunas stek yang berasal dari batang dan stek yang berasal dari pucuk. Pertumbuhan tunas terbaik didapat dari stek yang berasal dari pucuk, beberapa stek yang berasal dari batang mengalami kematian karena stek mengering.

(A) (B)

Gambar 3. Pertumbuhan Tunas Stek Gmelina Pada 4 MST, (A) Blok I Batang Celup, Batang Oles, Pucuk Celup (dari kiri ke kanan), (B) Blok II Batang Kontrol, Pucuk Oles, Pucuk Kontrol (dari kiri ke kanan)

Stek batang pada umumnya lebih mudah dan sangat menguntungkan karena batang mempunyai persediaan bahan makanan yang cukup, terdapat tunas- tunas dan jaringan meristem yang membentuk akar pada kondisi lingkungan tumbuh yang sesuai. Stek batang lebih mudah membentuk bagian-bagian vegetatif yang lain dan tumbuh menjadi individu yang sempurna. Persediaan makanan yang terdapat didalam stek berupa persenyawaan karbohidrat dan senyawa-senyawa nitrogen diperlukan bagi pembentukan akar dan pertumbuhan tunas. Stek yang kandungan nitrogennya tinggi dan karbohidratnya rendah tidak menghasilkan akar yang baik karena pertumbuhannya berlebihan, sukulen dan lunak. Stek tersebut memiliki warna batang hijau, lunak dan lentur (Hartmann and Kester, 1978).

Pengamatan dilapangan menunjukkan stek yang berasal dari batang memiliki struktur seperti Gambar 3. sehingga dapat dipastikan pertumbuhan akarnya terhambat dibandingkan stek yang berasal dari bagian pucuk. Dijelaskan

oleh Prawiranata et al. (1992) bahwa auksin diproduksi dalam jumlah besar di bagian pucuk dan ditranspor secara polar ke bagian bawah tanaman (basipetal). Komposisi auksin berubah secara gradual dari bagian pucuk, bagian batang yang masih membesar hingga bagian batang yang telah tua.

Pengaruh Interaksi Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina Pada 8 MST

Hasil uji statistik menunjukkan terdapat pengaruh nyata pada beberapa tolok ukur keberhasilah stek gmelina. Tabel sidik ragam disajikan pada Tabel Lampiran 3. sampai dengan Tabel Lampiran 13., sampai dengan pengamatan minggu ke-8 interaksi antara cara pemberian Rootone-F dan jenis stek terhadap pembentukan akar dan tunas stek menunjukkan pengaruh yang nyata pada rata- rata jumlah tunas, jumlah kalus, berat kering akar, berat basah akar dan persentase stek berakar (Tabel 5.). Ini menunjukkan bahwa dengan jenis stek yang tepat dan cara pemberian Rootone-F yang tepat akan mampu meningkatkan keberhasilan stek gmelina di lapangan.

Tabel 5. Rekapitulasi Nilai F dari Sidik Ragam Pengaruh Cara Pemberian

Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) Pada 8 MST

Parameter/

Perlakuan Tolok Ukur Keberhasilan Stek

Cara Pemberian Jenis Stek Interaksi

Rootone -F

(R) (J) (RxJ)

Persentase Stek Hidup (%) tn * tn

Persentase Stek Berkalus (%) tn tn tn

Jumlah Kalus tn ** *

Persentase Stek Bertunas (%) tn ** tn

Jumlah Tunas tn ** *

Panjang Tunas (cm) tn * tn

Persentase Berakar (%) ** ** *

Jumlah Akar tn tn tn

Panjang Akar (cm) tn * tn

Berat Basah Akar (g) ** ** **

Berat Kering Akar (g) ** ** **

Keterangan * Berbeda nyata

** Berbeda sangat nyata tn Tidak berbeda nyata

Rata-rata persentase stek hidup, stek bertunas, stek berkalus, jumlah akar, panjang tunas dan akar pada minggu ke-8 tidak berbeda nyata antar perlakuan. Hal ini dapat disebabkan sudah mulai munculnya tunas dan kalus serta akar pada setiap stek yang telah diberi perlakuan hampir sama sehingga tidak terdapat keragaman dalam rata-rata tersebut. Interaksi cara pemberian Rootone-F dan jenis stek terhadap induksi akar stek gmelina sampai dengan 4 MST sudah memperlihatkan hasil yang baik, pada 8 MST interaksi paling baik juga ditunjukkan oleh kombinasi perlakuan stek pucuk dengan direndam dalam larutan

Rootone-F. Hasil uji lanjut cara pemberian Rootone-F dan jenis stek ini dapat kita lihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Interaksi Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea

Linn) pada 8 MST

Tolok Ukur Cara Pemberian

Jenis stek Batang Pucuk

Jumlah Kalus Kontrol 3.47a 9.41c

Rendam 2.54a 11.44b

Pasta 3.09a 6.98a

Jumlah tunas Kontrol 2.33a 4.03a

Rendam 2.00a 5.37b

Pasta 2.67a 3.17a

Berat Kering Akar (g) Kontrol 0.05a 1.77a

Rendam 0.20a 2.33b

Pasta 0.07a 0.49c

Berat Basah Akar (g) Kontrol 0.31a 7.56c

Rendam 1.16a 8.81b

Pasta 0.51a 2.41a

Persentase Stek Berakar (%) Kontrol 17.90a 100.00b Rendam 32.10ab 100.00b

Pasta 14.80a 58.90a

Keterangan Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%

Tabel 6. menunjukkan bahwa setelah pengujian statistik lanjutan dengan menggunaakan DMRT taraf 5% terdapat beberapa tolok ukur yang berpengaruh nyata terhadap induksi akar dan keberhasilan stek gmelina. Tolok ukur tersebut menunjukkan bahwa interaksi terbaik yang didapatkan dari hasil penelitian ini

adalah stek pucuk dengan perendaman dengan larutan Rootone-F 100 ppm selama 24 jam.

Pemilihan jenis stek sangat berpengaruh terhadap persentase stek berakar, ini ditunjukkan pada stek pucuk persentase berakarnya lebih besar dibandingkan dengan stek batang gmelina. Dari tabel diatas, kita juga dapat melihat bahwa kontrol memiliki persentase berakar lebih tinggi daripada pemberian Rootone-F

dengan pasta, ini disebabkan antara lain batang dan pucuk yang dijadikan kontrol merupakan tanaman yang sehat sehingga resiko kematiannya relatif kecil dibandingkan dengan stek yang diberi pasta. Penyebab lainnya adalah letak tanaman yang dijadikan kontrol lebih intensif pemeliharaannya dibandingkan dengan stek dengan pasta yang letaknya agak dibelakang rumah stek. Faktor penyebab lainnya adalah terkurasnya cadangan makanan pada stek sehingga stek tidak mampu menumbuhkan akar.

Kalus

Munculnya kalus setelah stek bertunas berpengaruh nyata pada sampai dengan minggu ke-8 setelah stek ditanam. Menurut Waluyo (2000), pada potongan atas ada yang berkalus dan tidak, yang berkalus lama kelamaan kalus tersebut berubah menjadi jaringan kulit atau floem. Kalus yang di pangkal stek terus berkembang sejalan dengan pertumbuhan tunas. Jika tunas layu maka hal itu menunjukkan kalus tersebut telah mati, yang dicirikan dengan warna kalus yang gelap atau kehitaman. Kalus ini dapat berkembang membentuk akar jika kondisi internal dan lingkungan menguntungkan, ini dapat dilihat pada Tabel 6.

Rata-rata jumlah kalus pada kombinasi perlakuan stek pucuk dengan direndam adalah 11.44 buah tiap tanaman atau sekitar 11 buah kalus per tanaman, ini menunjukkan bahwa banyaknya kalus akan menentukan juga banyaknya akar pada stek. pada stek yang berkalus terlihat adanya tonjolan-tonjolan kecil yang merupakan awal terbentuknya wounded root. Apabila wounded root ini tidak berkembang maka stek tidak akan tumbuh akar ditunjang dengan faktor internal yang tidak menguntungkan akan menyebabkan stek mati (Waluyo, 2000).

Masih menurut Waluyo (2000), adanya bentuk kalus yang terlalu lama tidak terbentuk akar merupakan hal yang tidak menguntungkan bagi stek karena jaringan kalus tidak dapat menyerap air dan unsur hara yang ada pada media.

Kalus dan tunas sama-sama menyerap cadangan makanan yang ada pada batang sehingga mempercepat habisnya cadangan makanan sebelum stek tumbuh akar. Akar yang tidak terbentuk ini menjadi penyebab seluruh stek akhirnya mati karena kehabisan cadangan makanan yang tersedia pada batang.

Tunas

Dari Gambar 4. histogram, dapat dilihat bahwa rata-rata persentase stek bertunas pada perlakuan stek pucuk dengan direndam dan stek pucuk kontrol adalah 100%. Ini menunjukkan bahwa interaksi cara pemberian stek dan jenis stek memiliki hasil yang baik pada tolok ukur keberhasilan stek. Angka paling rendah didapatkan dari interaksi perlakuan stek batang dengan pasta, ini menunjukkan bahwa cara pemberian Rootone-F dengan pasta untuk stek batang gmelina menunjukkan nilai rendah yait u 18.50% pada 8 MST. Cara pemberian Rootone-F

dengan pasta tidak begitu baik hasilnya, dikarenakan salah satunya adalah tidak meratanya pemberian Rootone-F pada pangkal batang atau bisa juga disebabkan hilangnya Rootone-F pada saat akan ditanam dalam pot tray.

Gambar 4. Histogram Tolok Ukur Hidup Stek Gmelina 8 MST

Keterangan : 1 = stek batang kontrol 4 = stek pucuk kontrol 2 = stek batang direndam 5 = stek pucuk direndam 3 = stek batang dengan pasta 6 = stek pucuk dengan pasta

Perbedaan persentase stek bertunas sangat dipengaruhi oleh jenis stek, dapat dilihat bahwa stek pucuk memiliki persentase paling tinggi karena kandungan C/N rasionya juga kandungan hormon endogen yang dimilikinya.

0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 100.00 1 2 3 4 5 6 Perlakuan Persentase % stek hidup % stek berkalus % stek bertunas % stek berakar

Nilai C/N rasio merupakan suatu nilai yang menyatakan perbandingan antara karbohidrat dengan nitrogen yang dikandung dalam stek (Waluyo, 2000). Hormon endogen yang mendukung pertumbuhan stek adalah hormon-hormon dari golongan auksin, apabila tidak mencukupi maka hormon tersebut dapat kita tambahkan dengan pemberian Rootone-F, cara perendaman menyebabkan tanaman menyerap Rootone-F lebih banyak dibandingkan tanaman dengan cara pemberian pasta. Perendaman dilakukan 24 jam, sedangkan pasta dioleskan sebelum tanaman ditanam dalam media, pengolesan pasta yang tidak rata dan menempelnya pasta pada media dapat menyebabkan perbedaan persentase stek bertunas. Stek yang memiliki hormon auksin yang cukup akan mampu bertunas, sedangkan fungsi dari C/N rasio adalah untuk mendukung pertumbuhan tunas tersebut.

Interaksi ini berpengaruh pada jumlah tunas 8 MST sehingga dilakukan uji lanjut. Rata-rata jumlah tunas tertinggi didapat dari kombinasi perlakuan stek pucuk dengan direndam sebesar 5.97 atau sekitar enam buah tunas setiap tanaman diikuti oleh stek pucuk kontrol sebesar 4.21 atau sekitar empat buah tunas setiap

Dokumen terkait