PENGARUH CARA PEMBERIAN ROOTONE-F DAN JENIS STEK TERHADAP INDUKSI AKAR STEK GMELINA (Gmelina arborea Linn)
Oleh Nura Wiratri
A 34401055
PROGRAM STUDI PEMULIAAN TANAMAN DAN TEKNOLOGI BENIH FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PENGARUH CARA PEMBERIAN ROOTONE-F DAN JENIS STEK TERHADAP INDUKSI AKAR STEK GMELINA (Gmelina arborea Linn)
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
Oleh Nura Wiratri
PROGRAM STUDI PEMULIAAN TANAMAN DAN TEKNOLOGI BENIH FAKULTAS PERTANIAN
Judul : PENGARUH CARA PEMBERIAN ROOTONE-F DAN JENIS STEK TERHADAP INDUKSI AKAR STEK GMELINA (Gmelina arborea Linn)
Nama Mahasiswa : Nura Wiratri
NRP : A34401055
Program Studi : Pemuliaan Tanaman dan Teknologi Benih
Menyetujui
Dosen Pembimbing
Dr Tatiek Kartika Suharsi, MS NIP. 131 124 020
Mengetahui Dekan Fakultas Pertanian
Prof Dr Ir Supiandi Sabiham, M.Agr NIP. 130 422 698
RINGKASAN
NURA WIRATRI Pengaruh Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar Stek Gmelina (Gmelina Arborea Linn). (Dibimbing oleh Tatiek Kartika Suharsi)
Stek adalah cara pembiakan tanaman dengan menggunakan bagian-bagian vegetatif yang dipisahkan dari induknya, dimana apabila ditanam pada kondisi yang menguntungkan stek akan berkembang menjadi suatu tanaman yang sempurna dengan sifat yang sama dengan pohon induk dimana stek vegetatif diambil. Penggunaan Rootone-F dapat merangsang perakaran stek karena
Rootone-F tidak diklasifikasikan sebagai hormon tetapi lebih ke zat pengatur tumbuh.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara pemberian Rootone-F dan jenis stek yang sesuai agar terlihat pengaruhnya terhadap induksi akar pada stek tanaman gmelina (Gmelina arborea Linn.). Penelitian ini berlangsung selama tiga bulan mulai dari bulan Februari 2005 sampai dengan bulan April 2005 di Kebun Pangkas PT Biohutanea, Cibedug Bogor.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan menggunakan dua faktor yaitu cara pemberian
Rootone-F (kontrol, perendaman dan pasta) dan jenis stek (batang dan pucuk), digunakan tiga kali ulangan dengan 10 batang stek setiap satuan perlakuan sehingga didapatkan 180 satuan percobaan dengan dua kali pengamatan. Peubah-peubah yang diamati adalah persentase stek hidup, persentase stek berkalus, jumlah kalus, persentase stek bertunas, jumlah tunas, panjang tunas, persentase stek berakar, jumlah akar, panjang akar, berat basah akar dan berat kering akar.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bantul, Yogyakarta pada tanggal 4 Nopember 1983. Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara keluarga Bapak Sujoto Ateyuanto dan Ibu Jayapari.
Jenjang pendidikan formal penulis diwali di TK Dian Pratiwi, Bogor (1988-1989), kemudian dilanjutkan di SDN Papandayan 2, Bogor (1989-1995), SMPN 2 Bogor (1995-1998), hingga SMUN 3 Bogor (1998-2001). Pada tahun 2001, melalui jalur Ujian masuk Perguruan Tinggi (UMPTN), penulis diterima sebagai mahasiswa program Studi Pemuliaaan Ta naman dan Teknologi Benih Jurusan Budidaya Pertanian Institut Pertanian Bogor.
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan menyusun skripsi dengan sebaik-baiknya. Skripsi yang berjudul “ Pengaruh cara Pemberian
Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap InduksiAkar Stek Gmelina (Gmelina arborea
Linn)” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjan Pertanian pada Departemen Budidaya Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Selama proses penelitian dan penyusunan skripsi ini, penulis memperoleh banyak bantuan serta saran yang sangat bermanfaat dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada:
1. Dr Tatiek Kartika Suharsi, MS atas segala bimbingan dan pengarahan tentang penelitian yang dilakukan oleh penulis.
2. Dr Ir Sriani Sujiprihati, MS atas segala perhatian dan bantuan moril selama penulisan laporan ini.
3. Dr Ir Tati Budiarti, MS dan Dr Ir M. R. Suhartanto, MS selaku dosen penguji.
4. Seluruh Staf PT. Biohutanea atas segala bantuannya, terutama Pak Pri dan Mas Giyo, Mang Mamat beserta seluruh pekerja kebun PT. Biohutanea, Cibedug, Bogor atas kerjasama dan bantuannya selama penelitian berlangsung
5. Keluarga tercinta : Ibu, Bapak dan Adik-adikku (Immad dan Tyas) atas dorongan semangat dan bantuan-bantuan yang diberikan.
6. Sahabat-sahabat tercinta : Almaviva Nurjannah, Andini Arisanti, Andiarto Yanuardi, Annisa Budi Erawati, Bessy Susapti Putri, E. Zikra Habibah Iffatul Ulfah, Linggar P, Murti Nur Hidayati, Neetha Elinda P, Primaristiani Putri, Pipih Puspitasari (berdasarkan abjad). I don’t know how I’d be if I didn’t met you all..you are the best part of my journey
studying life and relationship..there’ll be no other words I could say..just
7. Teman-teman Mutant 38 : Ica, Mamat dan Iyo (as my researchmate), Tias, Tami, Tari, Uus, Ida, Hana, Ayu, Sulis, Amir, Leo, Gina, Sem, Wawan, Med, dan semua orang di kelas that bring alot of different joy to have you all.
8. Teman-teman Lanskap 38 : Bundar a.ka. Faika, Wi’doe’ri, Mia, Inke, Achi, Rinrin, Dine, Nuning, Liza, Davi (as my guard at KKP), Kiki, Sandy, Gingin, Jupri, Hijrah and the rest of the Landscape family..thanks for having me as your family too..full of joy and happiness if I
remembering all of you..
9. Seluruh pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu atas kebersamaan dan bantuannya selama ini.
Bogor, September 2005
DAFTAR ISI
Halaman PENDAHULUAN
Latar Belakang ... 1
Tujuan... 3
Hipotesis ... 3
TINJAUAN PUSTAKA Botani ... 4
Akar ... 5
Pembiakan Vegetatif ... 5
Faktor Bahan Tanaman ... 6
Zat Pengatur Tumbuh ... 6
Aplik asi Zat Pengatur tumbuh (ZPT)... 7
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat ... 9
Bahan dan Alat ... 9
Metode... 9
Pelaksanaan... ... 10
Pengamatan... .. 11
HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Interaksi Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) Pada 4 MST (Minggu Setelah Tanam)... 12
Persentase Stek Berkalus... 13
Berat Basah Akar ... 13
Pengaruh Cara Pemberian Rootone-F Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) Pada 4 MST ... 16
Pengaruh Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) Pada 4 MST... 18
Pengaruh Interaksi Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) Pada 8 MST ... 20
Kalus ... 22
Tunas ... 23
Persentase Stek Berakar ... 24
Pengaruh Cara Pemberian Rootone-F Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) Pada
8 MST... 25
Pengaruh Jenis Stek Induksi akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) Pada 8 MST ... 27
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan... 29
Saran ... 29
DAFTAR PUSTAKA ... 30
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
Teks
1. Rekapitulasi Nilai F dari Sidik Ragam Pengaruh cara Pemberian
Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 4 MST ... 12
2. Interaksi Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 4 MST ... 14
3. Pengaruh Faktor Tunggal Cara Pemberian Rootone-F Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan stek Tanaman Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 4 MST ... 17
4. Pengaruh Faktor Tunggal Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Tanaman Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 4 MST ... 18
5. Rekapitulasi Nilai F dari Sidik Ragam Pengaruh cara Pemberian
Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 8 MST ... 20
6. Interaksi Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 8 MST ... 21
7. Pengaruh Faktor Tunggal Cara Pemberian Rootone-F Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan stek Tanaman Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 8 MST ... 26
8. Pengaruh Faktor Tunggal Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Tanaman Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 8 MST ... 27
Lampiran
1. Sidik Ragam Pengaruh Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar Gmelina (Gmelina arborea Linn) Rata-rata Persentase Stek Hidup di Lapang... 35
PENGARUH CARA PEMBERIAN ROOTONE-F DAN JENIS STEK TERHADAP INDUKSI AKAR STEK GMELINA (Gmelina arborea Linn)
Oleh Nura Wiratri
A 34401055
PROGRAM STUDI PEMULIAAN TANAMAN DAN TEKNOLOGI BENIH FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PENGARUH CARA PEMBERIAN ROOTONE-F DAN JENIS STEK TERHADAP INDUKSI AKAR STEK GMELINA (Gmelina arborea Linn)
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
Oleh Nura Wiratri
PROGRAM STUDI PEMULIAAN TANAMAN DAN TEKNOLOGI BENIH FAKULTAS PERTANIAN
Judul : PENGARUH CARA PEMBERIAN ROOTONE-F DAN JENIS STEK TERHADAP INDUKSI AKAR STEK GMELINA (Gmelina arborea Linn)
Nama Mahasiswa : Nura Wiratri
NRP : A34401055
Program Studi : Pemuliaan Tanaman dan Teknologi Benih
Menyetujui
Dosen Pembimbing
Dr Tatiek Kartika Suharsi, MS NIP. 131 124 020
Mengetahui Dekan Fakultas Pertanian
Prof Dr Ir Supiandi Sabiham, M.Agr NIP. 130 422 698
RINGKASAN
NURA WIRATRI Pengaruh Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar Stek Gmelina (Gmelina Arborea Linn). (Dibimbing oleh Tatiek Kartika Suharsi)
Stek adalah cara pembiakan tanaman dengan menggunakan bagian-bagian vegetatif yang dipisahkan dari induknya, dimana apabila ditanam pada kondisi yang menguntungkan stek akan berkembang menjadi suatu tanaman yang sempurna dengan sifat yang sama dengan pohon induk dimana stek vegetatif diambil. Penggunaan Rootone-F dapat merangsang perakaran stek karena
Rootone-F tidak diklasifikasikan sebagai hormon tetapi lebih ke zat pengatur tumbuh.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara pemberian Rootone-F dan jenis stek yang sesuai agar terlihat pengaruhnya terhadap induksi akar pada stek tanaman gmelina (Gmelina arborea Linn.). Penelitian ini berlangsung selama tiga bulan mulai dari bulan Februari 2005 sampai dengan bulan April 2005 di Kebun Pangkas PT Biohutanea, Cibedug Bogor.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan menggunakan dua faktor yaitu cara pemberian
Rootone-F (kontrol, perendaman dan pasta) dan jenis stek (batang dan pucuk), digunakan tiga kali ulangan dengan 10 batang stek setiap satuan perlakuan sehingga didapatkan 180 satuan percobaan dengan dua kali pengamatan. Peubah-peubah yang diamati adalah persentase stek hidup, persentase stek berkalus, jumlah kalus, persentase stek bertunas, jumlah tunas, panjang tunas, persentase stek berakar, jumlah akar, panjang akar, berat basah akar dan berat kering akar.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bantul, Yogyakarta pada tanggal 4 Nopember 1983. Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara keluarga Bapak Sujoto Ateyuanto dan Ibu Jayapari.
Jenjang pendidikan formal penulis diwali di TK Dian Pratiwi, Bogor (1988-1989), kemudian dilanjutkan di SDN Papandayan 2, Bogor (1989-1995), SMPN 2 Bogor (1995-1998), hingga SMUN 3 Bogor (1998-2001). Pada tahun 2001, melalui jalur Ujian masuk Perguruan Tinggi (UMPTN), penulis diterima sebagai mahasiswa program Studi Pemuliaaan Ta naman dan Teknologi Benih Jurusan Budidaya Pertanian Institut Pertanian Bogor.
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan menyusun skripsi dengan sebaik-baiknya. Skripsi yang berjudul “ Pengaruh cara Pemberian
Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap InduksiAkar Stek Gmelina (Gmelina arborea
Linn)” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjan Pertanian pada Departemen Budidaya Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Selama proses penelitian dan penyusunan skripsi ini, penulis memperoleh banyak bantuan serta saran yang sangat bermanfaat dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada:
1. Dr Tatiek Kartika Suharsi, MS atas segala bimbingan dan pengarahan tentang penelitian yang dilakukan oleh penulis.
2. Dr Ir Sriani Sujiprihati, MS atas segala perhatian dan bantuan moril selama penulisan laporan ini.
3. Dr Ir Tati Budiarti, MS dan Dr Ir M. R. Suhartanto, MS selaku dosen penguji.
4. Seluruh Staf PT. Biohutanea atas segala bantuannya, terutama Pak Pri dan Mas Giyo, Mang Mamat beserta seluruh pekerja kebun PT. Biohutanea, Cibedug, Bogor atas kerjasama dan bantuannya selama penelitian berlangsung
5. Keluarga tercinta : Ibu, Bapak dan Adik-adikku (Immad dan Tyas) atas dorongan semangat dan bantuan-bantuan yang diberikan.
6. Sahabat-sahabat tercinta : Almaviva Nurjannah, Andini Arisanti, Andiarto Yanuardi, Annisa Budi Erawati, Bessy Susapti Putri, E. Zikra Habibah Iffatul Ulfah, Linggar P, Murti Nur Hidayati, Neetha Elinda P, Primaristiani Putri, Pipih Puspitasari (berdasarkan abjad). I don’t know how I’d be if I didn’t met you all..you are the best part of my journey
studying life and relationship..there’ll be no other words I could say..just
7. Teman-teman Mutant 38 : Ica, Mamat dan Iyo (as my researchmate), Tias, Tami, Tari, Uus, Ida, Hana, Ayu, Sulis, Amir, Leo, Gina, Sem, Wawan, Med, dan semua orang di kelas that bring alot of different joy to have you all.
8. Teman-teman Lanskap 38 : Bundar a.ka. Faika, Wi’doe’ri, Mia, Inke, Achi, Rinrin, Dine, Nuning, Liza, Davi (as my guard at KKP), Kiki, Sandy, Gingin, Jupri, Hijrah and the rest of the Landscape family..thanks for having me as your family too..full of joy and happiness if I
remembering all of you..
9. Seluruh pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu atas kebersamaan dan bantuannya selama ini.
Bogor, September 2005
DAFTAR ISI
Halaman PENDAHULUAN
Latar Belakang ... 1
Tujuan... 3
Hipotesis ... 3
TINJAUAN PUSTAKA Botani ... 4
Akar ... 5
Pembiakan Vegetatif ... 5
Faktor Bahan Tanaman ... 6
Zat Pengatur Tumbuh ... 6
Aplik asi Zat Pengatur tumbuh (ZPT)... 7
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat ... 9
Bahan dan Alat ... 9
Metode... 9
Pelaksanaan... ... 10
Pengamatan... .. 11
HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Interaksi Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) Pada 4 MST (Minggu Setelah Tanam)... 12
Persentase Stek Berkalus... 13
Berat Basah Akar ... 13
Pengaruh Cara Pemberian Rootone-F Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) Pada 4 MST ... 16
Pengaruh Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) Pada 4 MST... 18
Pengaruh Interaksi Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) Pada 8 MST ... 20
Kalus ... 22
Tunas ... 23
Persentase Stek Berakar ... 24
Pengaruh Cara Pemberian Rootone-F Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) Pada
8 MST... 25
Pengaruh Jenis Stek Induksi akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) Pada 8 MST ... 27
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan... 29
Saran ... 29
DAFTAR PUSTAKA ... 30
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
Teks
1. Rekapitulasi Nilai F dari Sidik Ragam Pengaruh cara Pemberian
Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 4 MST ... 12
2. Interaksi Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 4 MST ... 14
3. Pengaruh Faktor Tunggal Cara Pemberian Rootone-F Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan stek Tanaman Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 4 MST ... 17
4. Pengaruh Faktor Tunggal Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Tanaman Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 4 MST ... 18
5. Rekapitulasi Nilai F dari Sidik Ragam Pengaruh cara Pemberian
Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 8 MST ... 20
6. Interaksi Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 8 MST ... 21
7. Pengaruh Faktor Tunggal Cara Pemberian Rootone-F Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan stek Tanaman Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 8 MST ... 26
8. Pengaruh Faktor Tunggal Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Tanaman Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 8 MST ... 27
Lampiran
1. Sidik Ragam Pengaruh Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar Gmelina (Gmelina arborea Linn) Rata-rata Persentase Stek Hidup di Lapang... 35
3. Sidik Ragam Pengaruh Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar Gmelina (Gmelina arborea Linn) Rata-rata Persentase Stek Bertunas di Lapang... 36
4. Sidik Ragam Pengaruh Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar Gmelina (Gmelina arborea Linn) Rata-rata Persentase Stek Berakar di Lapang ... 36
5. Sidik Ragam Pengaruh Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar Gmelina (Gmelina arborea Linn) Rata-rata Panjang Tunas di Lapang ... 37
6. Sidik Ragam Pengaruh Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar Gmelina (Gmelina arborea Linn) Rata-rata Panjang Akar di Lapang ... 37
7. Sidik Ragam Pengaruh Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar Gmelina (Gmelina arborea Linn) Rata-rata Jumlah Akar di Lapang ... 38
8. Sidik Ragam Pengaruh Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar Gmelina (Gmelina arborea Linn) Rata-rata Jumlah Kalus di Lapang ... 38
9. Sidik Ragam Pengaruh Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar Gmelina (Gmelina arborea Linn) Jumlah Tunas Hidup di Lapang ... 39
10.Sidik Ragam Pengaruh Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar Gmelina (Gmelina arborea Linn) Rata-rata Berat Kering Akar di Lapang ... 39
DAFTAR GAMBAR
Teks
Nomor Halaman
1. Histogram Tolok Ukur Hidup Stek Gmelina 4 MST ... 15 2. Penanaman Stek di Pot Tray ... 17 3. Pertumbuha n Tunas Stek Gmelina 4 MST... 19 4. Histogram Tolok Ukur Hidup Stek Gmelina 8 MST ... 23 5. Tunas dan Akar Stek Gmelina 8 MST ... 28
Lampiran
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman gmelina (Gmelina arborea Linn) merupakan tanaman yang cepat tumbuh, diklasifikasikan sebagai tanaman yang hidup lama dan tidak terlalu menuntut kondisi khusus untuk hidupnya. Data Departemen Kehutanan RI tahun 2000 me nyebutkan bahwa gmelina menempati peringkat kedua dalam permintaan jumlah benih per tahun dari sepuluh peringkat benih marketable
tanaman hutan Indonesia dengan luas penanaman per tahun menempati peringkat keenam (Dephut, 2004). Pengadaan benih tanaman untuk reboisasi dan penghijauan dewasa ini telah dirasakan sebagai suatu masalah yang mendesak yang memerlukan penanganan secara serius. Hal ini timbul tidak saja karena meningkatnya kebutuhan sehubungan dengan semakin luasnya areal reboisasi dan penghijauan tapi juga karena belum adanya usaha benih bermutu dewasa ini juga disebabkan semakin berkembangnya pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI).
Pembangunan HTI merupakan salah satu program penting yang mendapat prioritas dalam pembangunan kehutanan. Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan potensi hutan produksi sebagai sumber penyediaan bahan baku bagi industri perkayuan dan perluasan lapangan pekerjaan dengan menanam jenis-jenis pohon bernilai komersial. Gmelina merupakan salah satu jenis prioritas untuk pembangunan HTI meskipun pohon ini termasuk jenis pohon asing (eksotik). Perbanyakan tanaman dalam pembangunan HTI selama ini sebagian besar dilaksanakan secara generatif (benih).
Permasalahan yang dihadapi dalam pengadaan bibit gmelina adalah tidak tersedianya benih yang memadai, baik secara kualitas maupun kuantitas. Permasalahan lain adalah kurangnya pengetahuan dalam menerapkan teknik vegetatif yang tepat untuk menghasilkan bibit yang lebih cepat dalam produksi, lebih efektif dalam penerapan teknik yang dipakai dan lebih efisien secara finansial.
dalam pemanfaatan dan pelestarian pohon-pohon plus yang telah ada, sehingga bibit yang diproduksi lebih cepat, mempunyai karakter yang sama dengan induknya dan mempercepat rencana pembangunan kebun benih (Harahap, 1972). Sebagai langkah pemecahannya, telah dikembangkan metode pembiakan tanaman secara vegetatif, terutama untuk jenis-jenis tanaman yang sulit dibiakkan secara generatif salah satunya adalah perbanyakan tanaman dengan teknik stek pucuk, batang atau cabang utama. Stek merupakan proses perbanyakan tanaman yang menggunakan bagian vegetatif tanaman (akar, batang dan daun) yang berkembang membentuk bagian tanaman lain bila berada pada kondisi tanaman yang sesuai. Stek yang biasa digunakan untuk memperbanyak tanaman gmelina adalah stek batang atau cabang utama (Iriantono, 1993).
Zat pengatur tumbuh adalah senyawa organik selain hara yang dalam jumlah kecil dapat mendukung, menghambat maupun mengubah proses fisiologis tumbuhan. Sudah lama sekali diketahui bahwa auksin dalam konsentarasi rendah dapat merangsang pertumbuhan, keadaan sebaliknya terjadi pada konsentrasi tinggi. Beberapa macam zat pengatur tumbuh golongan auksin yang sering digunakan dalam pembiakan vegetatif tanaman antara lain IAA, IBA dan NAA. IBA dan NAA memiliki sifat lebih stabil daripada IAA serta mobilitas dalam tanaman rendah. Untuk merangsang perakaran IBA lebih baik daripada IAA dan NAA karena sifatnya yang stabil dan persistensinya lebih lama dalam tanaman. Zat pengatur tumbuh yang dipakai dalam penelitian ini adalah Rootone-F dengan bahan aktif auksin berupa IBA,ABA dan IAA dengan konsentrasi yang berbeda-beda sehingga kita mendapatkan konsentrasi yang tepat untuk induksi akar bibit gmelina
Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui cara pemberian
Rootone-F dan jenis stek yang sesuai agar terlihat pengaruhnya terhadap induksi akar pada stek tanaman gmelina (Gmelina arborea Linn.).
Hipotesis
Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan diatas maka, dapat disusun suatu rumusan hipotesis sebagai berikut :
a. Penggunaan bagian tanaman yang berbeda akan memberikan pengaruh yang berbeda pada induksi akar stek gmelina.
b. Cara pemberian Rootone-F tertentu akan memberikan pengaruh terbaik terhadap induksi akar stek gmelina.
c. Terdapat interaksi antara jenis stek dan cara pemberian Rootone-F
TINJAUAN PUSTAKA
Botani
Gmelina arborea Linn adalah salah satu jenis pohon berdaun lebar dari famili Verbenaceae yang cepat tumbuh dan tumbuh luas secara alami di daerah tropika seperti India, Thailand, Myanmar dan Srilanka (Suhaendi, 1985). Menurut Alrasjid (1991), Gmelina arborea dikenal dengan nama daerah gmelina (Indonesia), gambar (India) dan gamar (Bangladesh), Khaerudin (1993) menambahkan gmelina juga biasa disebut yemane, malina, gamari dan jati putih.
Menurut Lamb (1968), Gmelina arborea mudah ditanam, pertumbuhannya cepat dan dapat ditanam secara campuran. Pohonnya lurus tinggi dengan tinggi batang bebas cabang antara 6-9 m. Tinggi pohon gmelina dapat mencapai 20-30 m dan diameter setinggi dada sampai dengan maksimalnya 60 cm. Khaerudin (1993) menambahkan bentuk pohon ini bulat, lurus dan tidak berbanir, tajuk menyerupai kerucut atau tidak teratur dengan percabangan banyak.
Kasmudjo (1990) menyebutkan bahwa pohon gmelina dapat tumbuh baik dengan curah hujan rata-rata tahunan berkisar 750-4800 mm dan ketinggian tempat tumbuh 5-1000 m di atas permukaan laut Gmelina arborea Linn juga dapat tumbuh baik di daerah-daerah dengan iklim basah sampai kering dengan tipe hujan B, C dan D (tipe iklim Smichdt dan Ferguson). Tanaman ini tumbuh dengan baik pada tanah aluvial basah serta berkapur dimana lapisan permukaan bersifat basa dan semakin ke bawah semakin tinggi tingkat kemasamannya (Soerianegara dan Indrawan, 1985).
Akar
Menurut Hidayat (1995), akar adalah organ tumbuhan yang berfungsi untuk menyerap dan menyalurkan air, nutrisi dan mineral untuk memperkokoh dan mendukung tanaman serta tempat menyimpan makanan. Keragaman bentuk dan struktur akar sering terkait dengan fungsinya. Berdasarkan fungsinya dikenal beberapa akar antara lain akar penyimpanan, akar sukulen, akar udara (aerial), pneumetofor (akar udara pada mangroove), akar panjat, akar pembelit, akar tunjang dan lain- lain. Kondisi lingkungan sering mempengaruhi sistem akar.
Terbentuknya akar adventif adalah dasar dari perbanyakan secara vegetatif sebab akar adventif adalah akar yang berkembang bukan dari hipokotil. Akar adventif dapat muncul pada bagian tanaman selain batang seperti dari tangkai, potongan daun bahkan dari potongan akar. Hartmann and Kester (1978), menyatakan bahwa pembentukan akar adventif dapat terjadi dalam dua tahap yaitu pertama adalah inisiasi yang dicirikan atas pembelahan sel dan diferensiasi sel-sel tertentu kedalam bakal akar dan tahap kedua adalah pertumbuhan bakal akar yang memanjang di pembelahan dan pemanjangan sel.
Pembiakan Vegetatif
Pembiakan vegetatif adalah proses pembiakan tanaman tanpa adanya peleburan sel kelamin jantan dengan sel kelamin betina, hanya menggunakan bagian-bagian vegetatif tanaman induk. Bagian-bagian tanaman yang biasa digunakan adalah batang, cabang, akar daun dan pucuk (Rochiman dan Harjadi, 1973).
Penyetekan adalah cara pembiakan tanaman dengan menggunakan bagian-bagian vegetatif yang dipisahkan dari induknya, dimana apabila ditanam pada kondisi yang menguntungkan stek akan berkembang menjadi suatu tanaman yang sempurna dengan sifat yang sama dengan pohon induk dimana stek vegetatif diambil (Soerianegara dan Djamhuri, 1979). Tingkat perkembangan jaringan tanaman, umur tanaman dan kandungan zat tumbuh memepengaruhi kemampuan stek membentuk akar (Mahlstede and Haber, 1976).
dapat diperoleh dalam jumlah dan waktu yang diinginkan, 2). Tanaman cukup homogen dan dapat dipilih dari bahan tanaman yang berkualiatas tinggi dan nilai genetik yang diturunkan sesuai dengan induknya, 3). Beberapa tanaman baru dapat dibuat dari sedikit induk, 4). Dihasilkan populasi tanaman dengan kemampuan tumbuh yang relatif seragam, 5). Tidak mahal dan tidak memerlukan teknik khusus (Hartmann and Kester, 1978).
Faktor Bahan Tanaman
Menurut Rochiman dan Harjadi (1973), stek dapat dibedakan menurut bagian tanaman yang diambil sebagai bahan stek, yaitu stek akar, stek batang, stek daun dan stek bentuk-bentuk khusus seperti stek akar tunggal. Mahlstede dan Haber (1976) menambahkan, bahwa tingkat perkembangan jaringan tanaman, umur tanaman dan kandungan zat tumbuh mempengaruhi kemampuan stek membentuk akar
Perkembangan akar dan tunas stek dipengaruhi oleh kandungan bahan makanan terutama persediaan karbohidrat dan nitrogen, Hartmann dan Kester (1978) mengatakan bahwa stek yang mengandung karbohidrat tinggi dan nitrogen cukup akan mempermudah terbentuknya akar dan tunas stek.
Stek batang pada umumnya lebih mudah dan sangat menguntungkan, karena batang mempunyai persediaan bahan makanan yang cukup, terdapat tunas-tunas dan jaringan meristem yang membentuk akar. Pada kondisi lingkungan tumbuh yang sesuai, stek batang lebih mudah membentuk bagian-bagian vegetatif yang lain dan tumbuh menjadi individu yang sempurna (Hartmann dan Kester, 1978).
Zat Pengatur Tumbuh
hormon-hormon yang sama, mempengaruhi sintesis hormon, perusakan translokasi atau dengan cara perubahan tempat pembentukan hormon. Menurut Heddy (1986), auksin adalah senyawa organik yang dapat mengatur segala bentuk gejala pertumbuhan tanaman dan dapat aktif diluar titik tumbuhnya dalam jumlah yang sangat sedikit sehingga auksin tidak dapat terlepas dari proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Rootone-F merupakan hormon pemacu pertumbuhan akar yang sudah umum digunakan. Rootone-F terdiri atas senyawa-senyawa yang menjadi bahan aktifnya yaitu 1- naphtalene-acetamide (NAD) 0,067%, 2- methyl-1-naphtalene-acetic acid (MNAA) 0,333%, 3- methyl-1-naphtalene-acetamide (MNAD) 0,013%, indole-3-butiric acid (IBA) 0,051% serta tetramethyl-thiuram disulfide (Thiram) 4%. Dengan memperhatikan komposisi bahan aktif yang ada dalam
Rootone-F tersebut maka Rootone-F tidak digolongkan dalam hormon tetapi lebih tepat sebagai zat pengatur tumbuh karena kandungan Thiram yang relatif tinggi dibandingkan bahan aktif lainnya (Manurung, 1987), hal ini juga didukung oleh Wudianto (1996) yang menyatakan bahwa hormon yang bersifat merangsang pertumbuhan akar, tunas dan lain sebagainya disebut dengan zat tumbuh.
Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)
Ada tiga cara yng sering digunakan dalam pengaplikasian ZPT yaitu : 1.)
Commercial Powder Preparation (pasta); 2.) Dilute Solution Soaking Method
(perendaman); 3.) Concentrated Solution Dip Method (pencelupan cepat). Pada pencelupan cepat konsentrasi yag digunakan adalah 500-10000 ppm, pangkal batang dicelupkan dalan larutan ZPT selama lima detik. Cara perendaman menggunakan kons entrasi 20-200 ppm, pangkal batang direndam dalam larutan selama 24 jam. Kedua cara ini menggunakan bahan pelarut alkohol. Bila menggunakan cara serbuk, konsentrasi yang digunakan adalah 200-1000 ppm untuk stek berbatang lunak sedangkan stek berbatang keras membutuhkan konsentrasi lima kali lebih tinggi (Weaver, 1972).
jumlah air yang diabsorbsi, karena itu metode perendaman sangat sesuai digunakan untuk tanaman herbaceus guna mencegah terjadinya keracunan pada tanaman (Audus, 1963). Avery and Johnson (1947), menyatakan bahwa metode perendaman dilakukan dengan cara merendam stek selama kira-kira 24 jam pada kedalaman 1 inchi, dengan konsentrasi ZPT 10-100 ppm. Menurut Leopold (1963), biasanya konsentrasi auksin yang digunakan berkisar antara 25-100 ppm, kemudian Hartmann dan Kester (1978), menambahkan pada umumnya konsentrasi auksin yang digunakan berkisar antara 20 untuk spesies yang mudah berakar dan 200 ppm untuk spesies yang sulit berakar.
Penggunaan metode tepung atau bubuk merupakan metode yang paling sederhana, tidak memerlukan perendaman dan jumlah auksin yang diaplikasikan relatif konstan tetapi sifat fisik zat pembawa (carrier) berpengaruh besar terhadap bahan aktif dan zat pembawa yang berbeda dapat menyebabakan respon tanaman yang sangat berbeda walaupun pada konsentrasi yang sama (Audus, 1963). Disamping itu, hasil yang seragam sulit diperoleh mengingat adanya keragaman dalam jumlah tepung atau bubuk yang dilekatkan pada stek (Weaver, 1972).
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian berlangsung selama tiga bulan mulai dari bulan Februari 2005 sampai dengan bulan April 2005. Penelitian dilakukan di dua lokasi penelitian yaitu di laboratorium Teknologi Benih IPB, Darmaga Bogor dan di kebun pangkas PT. Biohutanea Ciawi, Bogor.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah batang dan pucuk tanaman gmelina yang telah berumur kurang lebih dua tahun. Sedangkan alat-alat yang digunakan antara lain rumah stek, pot tray, gunting stek, hand sprayer,
thermohygrometer, oven, alat timbang, Rootone-F dan fungisida (dithane).
Metode
Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan menggunakan dua faktor yaitu cara pemberian
Rootone-F (kontrol, perendaman dan pasta) dan jenis stek (batang dan pucuk), digunakan tiga kali ulangan dengan 10 batang stek setiap satuan perlakuan sehingga didapatkan 180 satuan percobaan dengan dua kali pengamatan. Denah tata letak percobaan dapat dilihat pada Gambar Lampiran 1.
Selanjutnya akan dilakukan uji ragam dengan menggunakan uji F, jika terdapat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji lanjutan menggunakan
Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Model rancangannya adalah :
Yijk = µ + Ai + dik + Bj + (AB)ij + eijk Dimana :
Yijk Nilai pengamatan (respon pada kelompok ke-k yang memperoleh taraf ke- i dari faktor cara pemberian Rootone-F, taraf ke-j dari faktor jenis stek)
µ Nilai rata-rata umum
dik Pengaruh galat yang muncul pada taraf ke-i dari faktor cara pemberian
Rootone-f dalam kelompok ke-k, sering disebut galat petak utama (galat A)
Bj Pengaruh aditif dari taraf ke-j faktor jenis stek
(AB)ij Pengaruh interaksi taraf ke- i dari faktor cara pemberian Rootone-F dan taraf ke-j faktor jenis stek
eijk Pengaruh galat pada kelompok ke-k yang memperoleh taraf ke-i dari faktor cara pemberian Rootone-F dan taraf ke-j dari faktor jenis stek, sering disebut galat anak petak (galat B)
Pelaksanaan
Persiapan yang pertama dilakukan dalam penelitian ini adalah pengambilan bahan stek yaitu dengan cara memotong batang tanaman gmelina sepanjang 10 cm pucuknya dengan potongan miring (± 45°) juga pada bagian
batangnya yang diperoleh dari tanaman gmelina yang berumur kurang lebih dua tahun, kemudian persiapan larutan Rootone-F yang berupa pasta dan larutan
Rootone-F 100 ppm untuk perendaman selama kurang lebih 24 jam. Larutan
Rootone-F 100 ppm dibuat dengan melarutkan 1 g serbuk Rootone-F dalam 10 liter air, pasta dibuat dengan melarutkan serbuk Rootone-F 100-200 g / 120 stek dalam sedikit air hingga mengental dan berbentuk pasta.
Persiapan kedua persiapan media tanam di rumah stek, dalam penelitian ini digunakan tanah dan arang sekam karena menurut penelitian yang dilakukan Wijiyati (1995) media tanah dan arang sekam memiliki kemampuan lebih baik dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan stek gmelina dibandingkan dengan media lain.
Media yang telah disiapkan diatas dipindahkan ke bak stek yang berupa
Pengamatan
Pengamatan dilakukan setiap hari dilihat dari penampakan tanaman kemudian setelah 4 MST (empat minggu setelah tanam) dilakukan pencatatan data, lalu pencatatan data dilakukan lagi setelah tanaman berusia 8 MST. Data diperoleh dengan mengukur peubah-peubah sebagai berikut :
1. Persentase stek hidup, dilihat apabila stek masih segar dan telah tumbuh akar, tunas atau kalus, dari kesepuluh stek yang ditanam setiap satuan percobaannya.
Persentase stek hidup = ?stek total - ? stek mati x 100% ? stek total
2. Persentase stek berkalus, dihitung apabila stek masih hidup dan telah tumbuh kalus.
Persentase stek berkalus = ?stek hidup - ?stek tidak berkalus x 100% ?Stek berkalus
3. Jumlah kalus, dihitung dari jumlah kalus yang muncul minimal satu buah kalus.
4. Persentase stek bertunas, dihitung apabila stek masih hidup dan telah tumbuh tunas.
Persentase stek bertunas = ?stek hidup - ?stek tidak bertunas x 100% ? stek hidup
5. Jumlah tunas, dihitung dari jumlah tunas yang telah muncul minimal satu buah.
6. Panjang tunas (cm), diukur dari ketiak batang sampai dengan ujung tunas 7. Persentase stek berakar, dihitung apabila stek masih hidup dan telah
tumbuh akar.
Persentase stek berakar = ? stek hidup - ? stek tidak berakar x 100% ? stek hidup
8. Jumlah akar, dihitung dari jumlah akar adventif yang keluar dari pangkal akar minimal satu buah akar adventif.
9. Panjang akar (cm), diukur dari pangkal sampai ujung akar.
10.Berat basah akar, dihitung dari berat akar setelah pengamatan dilakukan. 11.Berat kering akar, dihitung dari berat setelah dioven di suhu 105º C selama
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Interaksi Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea
Linn) Pada 4 MST (Minggu Setelah Tanam)
Setelah dilakukan analisis ragam terhadap pengaruh cara pemberian
Rootone-F dan jenis stek terhadap induksi akar stek gmelina (Gmelina arborea
[image:34.596.103.514.396.625.2]Linn) (Tabel lampiran 1 sampai 13.), didapatkan bahwa pada minggu ke-4 setelah penanaman, pemberian Rootone-F dan jenis stek hanya berpengaruh nyata pada tolok ukur berat basah akar stek gmelina (Gmelina arborea Linn). Rekapitulasi sidik ragam pengaruh cara pemberian Rootone-F dan jenis stek terhadap induksi akar gmelina pada 4 MST disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Rekapitulasi Nilai F dari Sidik Ragam Pengaruh Cara Pemberian
Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi akar dan Tolok Ukur keberhasilan stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) Pada 4 MST
Parameter/
Tolok Ukur Keberhasilan Stek
Perlakua n
Cara Pemberian Jenis Stek Interaksi
Rootone -F
(R) (J) (RxJ)
Persentase Stek Hidup (%) tn tn tn
Persentase Stek Berkalus (%) tn tn *
Jumlah Kalus * ** tn
Persentase Stek Bertunas (%) tn ** tn
Jumlah Tunas tn ** tn
Panjang Tunas (cm) tn tn tn
Persentase Berakar (%) * ** tn
Jumlah Akar Stek * ** tn
Panjang Akar (cm) tn ** tn
Berat Basah Akar (g) ** ** **
Berat Kering Akar (g) * * tn
Keterangan
* Berbeda nyata
** Berbeda sangat nyata tn Tidak berbeda nyata
dan persentase stek berkalus seperti persentase stek hidup, jumlah kalus, persentase stek bertunas, jumlah tunas, panjang tunas, persentase berakar, jumlah akar stek, panjang akar, berat basah dan berat kering akar tidak dipengaruhi secara nyata oleh pemberian Rootone-F dan jenis stek. Hal ini disebabkan pada 4 MST tanaman yang berada di lapangan belum menunjukkan tanda-tanda yang signifikan sehingga belum terdapat keragaman yang nyata.
Persentase Stek Berkalus
Kalus adalah jaringan yang belum teroganisir sebagai respon tumnuhan untuk menutupi luka. Diketahuinya stek telah berkalus adalah dengan mencabut stek terutama stek yang telah bertunas karena menurut Waluyo (2000) stek yang telah betunas pasti berkalus. Munculnya kalus setelah stek bertunas yaitu pada minggu ke-1 dan ke-2 setelah tanam. Nilai rata persentase stek berkalus sampai dengan minggu ke-4 setelah tanam didapatkan bahwa kombinasi stek pucuk dengan ketiga aplikasi pemberian Rootone-F memiliki persentase 100% dan stek batang dengan ketiga aplikasi tersebut memiliki nilai diatas 95% (Tabel 2.).
Berat Basah Akar
Akar memiliki perananan yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan pembiakan vegetatif terutama dengan stek. Rata-rata berat basah akar sampai dengan 4 MST adalah 2.94 gram. Ini menunjukkan bahwa media yang dipergunakan yaitu campuran tanah dan arang sekam cukup lembab mengingat lokasi penelitian yang berada di daerah dengan kelembaban yang tinggi dan intensifnya penyiraman yang dilakukan untuk menjaga kesegaran stek gmelina tersebut. Media pun tidak boleh terlalu lembab karena dikhawatirkan akan menyebabkan kebusukan pada stek.
Pembentukan akar dapat melalui bakal akar yang terdapat pada buku batang (akar primordia) dan kalus terlebih dahulu (wounded root). Dari Tabel 1. didapatkan bahwa rata-rata berat basah akar pada 4 MST berpengaruh nyata sehingga dilakukan pengujian lanjut dengan DMRT 5% yang dapat dilihat pada Tabel 2. Akar dapat terbentuk apabila kondisi lingkungan dan faktor internal yang menguntungkan. Kondisi lingkungan adalah suhu udara pada media dan
[image:36.596.112.513.504.633.2]kisarannya 21° - 27° C, sedangkan faktor internal adalah kandungan hormon endogen tanaman (Waluyo, 2000) dan faktor eksternal berupa penambahan hormon eksogen, dalam hal ini dapat disediakan oleh Rootone-F berupa auksin.
Tabel 2. Interaksi Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Persentase Stek Berkalus dan Berat Basah Akar Gmelina (Gmelina arborea Linn) Pada 4 MST
Tolok Ukur Cara Pemberian
Jenis stek Batang Pucuk Persentase Stek Berkalus (%) Kontrol 95.83a 100.00a
Rendam 81.48b 100.00a
Pasta 93.33a 100.00a
Berat Basah Akar (g) Kontrol 0.77a 5.75c Rendam 0.97a 8.95b
Pasta 0.21a 0.95a
Keterangan Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris dan kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%
ditransfer ke pangkal stek. Interaksi dari cara pemberian Rootone-F dan jenis stek belum menunjukkan pengaruh pada semua tolok ukur kecuali pada tolok ukur berat basah akar pada 4 MST, hal ini disebabkan karena pertumbuhan akar, tunas dan kalus pada stek hampir seragam sehingga belum terdapat perbedaaan yang signifikan antar perlakuan.
Kombinasi perlakuan tersebut menunjukkan bahwa stek pucuk lebih mudah berakar dibandingkan dengan stek batang karena jaringan yang berada pada stek pucuk lebih banyak mengandung auksin dibandingkan dengan bagian batang. Hasil pengamatan menunjukkan stek yang berasal dari batang mengalami kekeringan, menurut Fitter dan Hay (1992) tanaman yang banyak mengalami kehilangan air akan mengalami penurunan biosintesis klorofil, bukaan stomata dan asimilasi CO2, akibatnya fotosintat yang terdapat di batang lebih rendah daripada pucuk. Prawiranata et al. (1992) menambahkan, transpirasi yang tinggi akan membuat sel-sel kehilangan turgornya sehingga ukuran sel-sel panjang akan berkurang, stomata menutup, difusi CO2 menurun dan fotosintesis juga menurun sehingga fotosintat yang dihasilkan juga menurun. Hal ini menjelaskan mengapa pada stek batang hasil fotosintat yang sedikit akan dikuras habis sebagai cadangan makanan selama stek membentuk akar sehingga perakarannya tidak lebih baik daripada stek yang berasal dari pucuk.
Gambar 1. Histogram Tolok Ukur Hidup Stek Gmelina 8 MST
Keterangan : 1 = stek batang kontrol 4 = stek pucuk kontrol 2 = stek batang direndam 5 = stek pucuk direndam 3 = stek batang dengan pasta 6 = stek pucuk dengan pasta
0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 100.00
1 2 3 4 5 6
Perlakuan
Persentase
Pada Gambar 1. dapat dilihat bahwa pada tolok ukur hidup stek gmelina pada 4 MST interaksi terbaik didapat dari stek pucuk dengan perendaman dalam larutan Rootone-F 100 ppm selama 24 jam. Ini terlihat pada semua tolok ukur keberhasilan stek bahwa stek pucuk dengan perendaman memiliki nilai yang paling tinggi dibandingkan kombinasi perlakuan lainnya. Interaksi stek pucuk kontrol memiliki nilai lebih rendah dibandingkan dengan kombinasi stek pucuk dengan perendaman kemudian diikuti oleh kombinasi stek pucuk dengan pasta.
Pengaruh Cara Pemberian Rootone-F Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 4 MST
Secara tunggal, faktor cara pemberian Rootone-F pada minggu ke-4 setelah tanam mempengaruhi tolok ukur persentase stek berakar, berat kering akar, berat basah akar, jumlah akar, jumlah tunas, jumlah akar dan jumlah kalus, sedangkan persentase stek hidup, persentase stek bertunas, persentase stek berkalus, panjang tunas dan panjang akar belum menunjukkan pengaruh yang nyata.
Persentase stek berakar menunjukkan bahwa cara pemberian Rootone-F
dengan cara perendaman memiliki nilai yang paling tinggi yaitu 66.67% diikuti oleh kontrol dengan 50.19% kemudian dengan cara pemberian pasta sebesar 25.34%. pengaruh nyata juga terlihat pada tolok ukur berat kering akar, berat basah akar, jumlah kalus, jumlah tunas dan jumlah akar yang dapat dilihat pada Tabel 3.
Tolok ukur persentase stek hidup, berkalus, bertunas, panjang tunas dan akar tidak dipengaruhi secara nyata oleh pemberian Rootone-F karena pada 4 MST tanaman memiliki persentase yang ha mpir seragam dalam tolok ukur tersebut. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kondisi stek tanaman gmelina tanpa cara pemberian Rootone-F masih memiliki persentase stek hidup dan bertunas diatas 80%. Adapun hasil pengujian statistik secara keseluruhannya dapat dilihat pada Tabel lampiran 3. sampai dengan tabel Lampiran 13
Hasil penelitian menunjukkan stek yang direndam dengan larutan
Rootone-F 100 ppm lebih baik dibandingkan dengan pemberian pasta pada stek. Pengamatan dilapangan menunjukkan, ini terjadi karena saat stek ditanam dalam
media yang berupa tanah dan arang sekam yang menyebabkan persentasenya jauh lebih rendah dibandingkan stek yang telah menyerap lebih banyak larutan
Rootone-F 100 ppm karena telah direndam selama 24 jam. Dapat kita lihat kondisi stek gmelina selama di rumah stek sampai dengan umur 4 MST (Gambar 2.).
[image:39.596.115.511.152.318.2]
(A) (B)
Gambar 2. Penanaman Stek di Pot Tray, (A) stek batang, (B) stek pucuk
Cara pemberian Rootone-F berpengaruh hampir di seluruh tolok ukur keberhasilan stek, ini menunjukkan bahwa pada 4 MST Rootone-F telah memberikan hasil yang baik bagi pertumbuhan stek gmelina. Rata-rata persentase stek berakar yang tinggi pun dapat diperoleh pada 4 MST yaitu diatas 50% (Tabel 3.).
Tabel 3. Pengaruh Faktor Tunggal Cara Pemberian Rootone-F Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea
Linn) pada 4 MST
Tolok Ukur Perlakuan
Kontrol Rendam Pasta Persentase Stek Hidup (%) 81.67 86.67 70.00
Jumlah Kalus 3.75b 4.91a 4.65ab
Persentase Stek Bertunas (%) 92.59 80.37 73.61
Jumlah Tunas 3.06 4.18 2.85
Panjang Tunas (cm) 2.51 4.14 2.33
Persentase Stek Berakar (%) 50.19ab 66.67a 25.34b
Jumlah Akar 1.94ab 3.08a 1.29b
Panjang Akar (cm) 5.94 6.95 4.40
Berat Kering Akar (g) 0.46a 0.55a 0.07b Keterangan Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama tidak
[image:39.596.118.504.512.669.2]Konsentrasi zat pengatur tumbuh (ZPT) yang tepat sangat diperlukan agar ZPT dapat bereaksi dengan enzim dan menimbulkan respon pertumbuhan akar. Konsentrasi yang berlebihan justru akan menimbulkan ketidakseimbangan kondisi auksin dengan enzim sehingga menghambat pertumbuhan akar (Thimann, 1969). Cara perendaman memungkink an Rootone-F yang diserap lebih bayak daripada dengan pengolesan pasta yang kadang-kadang tidak merata.
Pengaruh Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan
Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 4 MST
[image:40.596.111.504.507.676.2]Tabel 4. menunjukkan jenis stek berpengaruh nyata pada tolok ukur persentase stek bertunas, persentase stek berakar, berat kering akar, berat basah akar, panjang akar, jumlah akar, jumlah tunas dan jumlah kalus. Dapat dilihat bahwa stek pucuk pada tanaman gmelina memiliki persentase stek bertunas dan berakar lebih tinggi daripada stek batang. Faktor jenis stek secara nyata mempengaruhi jumlah kalus, persentase stek bertunas, jumlah tunas, persentase stek berakar, jumlah akar, panjang akar, berat basah dan berat kering stek. Tolok ukur keberhasilan stek yang lain tidak dipengaruhi secara nyata oleh jenis stek (Tabel 4.).
Tabel 4. Pengaruh Faktor Tunggal Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) (Gmelina arborea Linn) ada 4 MST
Tolok Ukur
Perlakuan Batang Pucuk Persentase Stek Hidup (%) 73.33 85.56
Jumlah Kalus 2.86b 6.01a
Persentase Stek Bertunas (%) 66.24b 98.15a
Jumlah Tunas 2.05b 4.68a
Panjang Tunas (cm) 2.29 3.7
Persentase Stek Berakar (%) 13.74b 81.60a
Jumlah Akar 0.74b 3.47a
Panjang Akar (cm) 1.46b 10.07a
Berat Kering Akar (g) 0.17b 0.55a
Keterangan Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%.
dan akar sebagai bahan stek. Pada tanaman gmelina yang berumur 4 MST terlihat bahwa stek pucuk memiliki tingkat keberhasilan lebih baik dibandingkan dengan stek gmelina yang berasal dari batang, dapat dilihat pada Tabel 4. bahwa rata-rata persentase stek berakar tertinggi didapat dari stek yang berasal dari pucuk dengan rata-rata stek berakar sebesar 81.60%. Pada Gambar 3. dapat dilihat bahwa pada 4 MST sudah terlihat perbedaan pertumbuhan tunas stek yang berasal dari batang dan stek yang berasal dari pucuk. Pertumbuhan tunas terbaik didapat dari stek yang berasal dari pucuk, beberapa stek yang berasal dari batang mengalami kematian karena stek mengering.
[image:41.596.116.512.269.421.2](A) (B)
Gambar 3. Pertumbuhan Tunas Stek Gmelina Pada 4 MST, (A) Blok I Batang Celup, Batang Oles, Pucuk Celup (dari kiri ke kanan), (B) Blok II Batang Kontrol, Pucuk Oles, Pucuk Kontrol (dari kiri ke kanan)
Stek batang pada umumnya lebih mudah dan sangat menguntungkan karena batang mempunyai persediaan bahan makanan yang cukup, terdapat tunas-tunas dan jaringan meristem yang membentuk akar pada kondisi lingkungan tumbuh yang sesuai. Stek batang lebih mudah membentuk bagian-bagian vegetatif yang lain dan tumbuh menjadi individu yang sempurna. Persediaan makanan yang terdapat didalam stek berupa persenyawaan karbohidrat dan senyawa-senyawa nitrogen diperlukan bagi pembentukan akar dan pertumbuhan tunas. Stek yang kandungan nitrogennya tinggi dan karbohidratnya rendah tidak menghasilkan akar yang baik karena pertumbuhannya berlebihan, sukulen dan lunak. Stek tersebut memiliki warna batang hijau, lunak dan lentur (Hartmann and Kester, 1978).
oleh Prawiranata et al. (1992) bahwa auksin diproduksi dalam jumlah besar di bagian pucuk dan ditranspor secara polar ke bagian bawah tanaman (basipetal). Komposisi auksin berubah secara gradual dari bagian pucuk, bagian batang yang masih membesar hingga bagian batang yang telah tua.
Pengaruh Interaksi Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina Pada 8 MST
[image:42.596.107.513.490.734.2]Hasil uji statistik menunjukkan terdapat pengaruh nyata pada beberapa tolok ukur keberhasilah stek gmelina. Tabel sidik ragam disajikan pada Tabel Lampiran 3. sampai dengan Tabel Lampiran 13., sampai dengan pengamatan minggu ke-8 interaksi antara cara pemberian Rootone-F dan jenis stek terhadap pembentukan akar dan tunas stek menunjukkan pengaruh yang nyata pada rata-rata jumlah tunas, jumlah kalus, berat kering akar, berat basah akar dan persentase stek berakar (Tabel 5.). Ini menunjukkan bahwa dengan jenis stek yang tepat dan cara pemberian Rootone-F yang tepat akan mampu meningkatkan keberhasilan stek gmelina di lapangan.
Tabel 5. Rekapitulasi Nilai F dari Sidik Ragam Pengaruh Cara Pemberian
Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) Pada 8 MST
Parameter/
Perlakuan Tolok Ukur Keberhasilan Stek
Cara Pemberian Jenis Stek Interaksi
Rootone -F
(R) (J) (RxJ)
Persentase Stek Hidup (%) tn * tn
Persentase Stek Berkalus (%) tn tn tn
Jumlah Kalus tn ** *
Persentase Stek Bertunas (%) tn ** tn
Jumlah Tunas tn ** *
Panjang Tunas (cm) tn * tn
Persentase Berakar (%) ** ** *
Jumlah Akar tn tn tn
Panjang Akar (cm) tn * tn
Berat Basah Akar (g) ** ** **
Berat Kering Akar (g) ** ** **
Keterangan * Berbeda nyata
Rata-rata persentase stek hidup, stek bertunas, stek berkalus, jumlah akar, panjang tunas dan akar pada minggu ke-8 tidak berbeda nyata antar perlakuan. Hal ini dapat disebabkan sudah mulai munculnya tunas dan kalus serta akar pada setiap stek yang telah diberi perlakuan hampir sama sehingga tidak terdapat keragaman dalam rata-rata tersebut. Interaksi cara pemberian Rootone-F dan jenis stek terhadap induksi akar stek gmelina sampai dengan 4 MST sudah memperlihatkan hasil yang baik, pada 8 MST interaksi paling baik juga ditunjukkan oleh kombinasi perlakuan stek pucuk dengan direndam dalam larutan
[image:43.596.113.511.356.598.2]Rootone-F. Hasil uji lanjut cara pemberian Rootone-F dan jenis stek ini dapat kita lihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Interaksi Cara Pemberian Rootone-F dan Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea
Linn) pada 8 MST
Tolok Ukur Cara Pemberian
Jenis stek Batang Pucuk
Jumlah Kalus Kontrol 3.47a 9.41c
Rendam 2.54a 11.44b
Pasta 3.09a 6.98a
Jumlah tunas Kontrol 2.33a 4.03a
Rendam 2.00a 5.37b
Pasta 2.67a 3.17a
Berat Kering Akar (g) Kontrol 0.05a 1.77a
Rendam 0.20a 2.33b
Pasta 0.07a 0.49c
Berat Basah Akar (g) Kontrol 0.31a 7.56c
Rendam 1.16a 8.81b
Pasta 0.51a 2.41a
Persentase Stek Berakar (%) Kontrol 17.90a 100.00b Rendam 32.10ab 100.00b
Pasta 14.80a 58.90a
Keterangan Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%
adalah stek pucuk dengan perendaman dengan larutan Rootone-F 100 ppm selama 24 jam.
Pemilihan jenis stek sangat berpengaruh terhadap persentase stek berakar, ini ditunjukkan pada stek pucuk persentase berakarnya lebih besar dibandingkan dengan stek batang gmelina. Dari tabel diatas, kita juga dapat melihat bahwa kontrol memiliki persentase berakar lebih tinggi daripada pemberian Rootone-F
dengan pasta, ini disebabkan antara lain batang dan pucuk yang dijadikan kontrol merupakan tanaman yang sehat sehingga resiko kematiannya relatif kecil dibandingkan dengan stek yang diberi pasta. Penyebab lainnya adalah letak tanaman yang dijadikan kontrol lebih intensif pemeliharaannya dibandingkan dengan stek dengan pasta yang letaknya agak dibelakang rumah stek. Faktor penyebab lainnya adalah terkurasnya cadangan makanan pada stek sehingga stek tidak mampu menumbuhkan akar.
Kalus
Munculnya kalus setelah stek bertunas berpengaruh nyata pada sampai dengan minggu ke-8 setelah stek ditanam. Menurut Waluyo (2000), pada potongan atas ada yang berkalus dan tidak, yang berkalus lama kelamaan kalus tersebut berubah menjadi jaringan kulit atau floem. Kalus yang di pangkal stek terus berkembang sejalan dengan pertumbuhan tunas. Jika tunas layu maka hal itu menunjukkan kalus tersebut telah mati, yang dicirikan dengan warna kalus yang gelap atau kehitaman. Kalus ini dapat berkembang membentuk akar jika kondisi internal dan lingkungan menguntungkan, ini dapat dilihat pada Tabel 6.
Rata-rata jumlah kalus pada kombinasi perlakuan stek pucuk dengan direndam adalah 11.44 buah tiap tanaman atau sekitar 11 buah kalus per tanaman, ini menunjukkan bahwa banyaknya kalus akan menentukan juga banyaknya akar pada stek. pada stek yang berkalus terlihat adanya tonjolan-tonjolan kecil yang merupakan awal terbentuknya wounded root. Apabila wounded root ini tidak berkembang maka stek tidak akan tumbuh akar ditunjang dengan faktor internal yang tidak menguntungkan akan menyebabkan stek mati (Waluyo, 2000).
Kalus dan tunas sama-sama menyerap cadangan makanan yang ada pada batang sehingga mempercepat habisnya cadangan makanan sebelum stek tumbuh akar. Akar yang tidak terbentuk ini menjadi penyebab seluruh stek akhirnya mati karena kehabisan cadangan makanan yang tersedia pada batang.
Tunas
Dari Gambar 4. histogram, dapat dilihat bahwa rata-rata persentase stek bertunas pada perlakuan stek pucuk dengan direndam dan stek pucuk kontrol adalah 100%. Ini menunjukkan bahwa interaksi cara pemberian stek dan jenis stek memiliki hasil yang baik pada tolok ukur keberhasilan stek. Angka paling rendah didapatkan dari interaksi perlakuan stek batang dengan pasta, ini menunjukkan bahwa cara pemberian Rootone-F dengan pasta untuk stek batang gmelina menunjukkan nilai rendah yait u 18.50% pada 8 MST. Cara pemberian Rootone-F
dengan pasta tidak begitu baik hasilnya, dikarenakan salah satunya adalah tidak meratanya pemberian Rootone-F pada pangkal batang atau bisa juga disebabkan hilangnya Rootone-F pada saat akan ditanam dalam pot tray.
Gambar 4. Histogram Tolok Ukur Hidup Stek Gmelina 8 MST
Keterangan : 1 = stek batang kontrol 4 = stek pucuk kontrol 2 = stek batang direndam 5 = stek pucuk direndam 3 = stek batang dengan pasta 6 = stek pucuk dengan pasta
Perbedaan persentase stek bertunas sangat dipengaruhi oleh jenis stek, dapat dilihat bahwa stek pucuk memiliki persentase paling tinggi karena kandungan C/N rasionya juga kandungan hormon endogen yang dimilikinya.
0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 100.00
1 2 3 4 5 6
Perlakuan
Persentase
Nilai C/N rasio merupakan suatu nilai yang menyatakan perbandingan antara karbohidrat dengan nitrogen yang dikandung dalam stek (Waluyo, 2000). Hormon endogen yang mendukung pertumbuhan stek adalah hormon-hormon dari golongan auksin, apabila tidak mencukupi maka hormon tersebut dapat kita tambahkan dengan pemberian Rootone-F, cara perendaman menyebabkan tanaman menyerap Rootone-F lebih banyak dibandingkan tanaman dengan cara pemberian pasta. Perendaman dilakukan 24 jam, sedangkan pasta dioleskan sebelum tanaman ditanam dalam media, pengolesan pasta yang tidak rata dan menempelnya pasta pada media dapat menyebabkan perbedaan persentase stek bertunas. Stek yang memiliki hormon auksin yang cukup akan mampu bertunas, sedangkan fungsi dari C/N rasio adalah untuk mendukung pertumbuhan tunas tersebut.
Interaksi ini berpengaruh pada jumlah tunas 8 MST sehingga dilakukan uji lanjut. Rata-rata jumlah tunas tertinggi didapat dari kombinasi perlakuan stek pucuk dengan direndam sebesar 5.97 atau sekitar enam buah tunas setiap tanaman diikuti oleh stek pucuk kontrol sebesar 4.21 atau sekitar empat buah tunas setiap tanaman. Pada 8 MST rata-rata jumlah tunas yang muncul sedikitnya adalah dua buah tunas setiap tanaman. Stek pucuk yag diinduksi NAA memiliki kandungan karbohidrat dan auksin yang lebih besar (Hartmann and Kester, 1978) sehingga memungkinkan stek pucuk memiliki persentase bertunas yang lebih tinggi dibandingkan dengan stek batang.
Persentase Stek Berakar
Dari Tabel 6. kita dapat melihat uji lanjut yang dilakukan pada tolok ukur yang berpengaruh nyata pada uji f, dari beberapa tolok ukur tersebut kita dapat melihat bahwa interaksi yang terbaik yang diperoleh pada penelitian ini adalah stek pucuk tanaman gmelina dengan cara perendaman dengan larutan Rootone-F. Rata-rata persentase stek berakar pada kombinasi stek pucuk dengan cara direndam adalah 100%, angka yang sama juga didapat dari kombinasi stek pucuk kontrol, sedangkan untuk stek pucuk dengan pemberian pasta adalah sebesar 58.9%. hal ini menandakan bahwa stek pucuk tanaman gmelina tanpa pemberian
Berat Kering dan Berat Basah Akar
Berat kering dan berat basah akar pun berpengaruh terhadap tolok ukur keberhasilan stek. rata-rata berat basah akar tertinggi didapat dari kombinasi perlakuan stek pucuk dengan cara direndam yaitu sebesar 8.81 gram, sedangkan rata-rata berat basah akar terkecil didapat dari kombinasi perlakuan stek batang kontrol sebesar 0.31 gram.
Pada Gambar 4. kita dapat melihat perbandingan tolok ukur keberhasilan stek yaitu persentase stek hidup, persentase stek berkalus, persentase stek bertunas dan persentase stek berakar dengan enam kombinasi perlakuan yang berbeda. Histogram tersebut menunjukkan bahwa stek pucuk tanaman gmelina dengan direndam dalam larutan Rootone-F 100 ppm merupakan cara yang paling baik dalam meningkatkan keberhasilan stek gmelina. Rata-rata persentase terendah didapatkan pada kombinasi perlakuan stek batang kontrol, ini menunjukkan bahwa cara pemberian Rootone-F dengan cara perendaman dan pasta serta jenis stek khususnya pucuk berpengaruh dan memberikan hasil terbaik pada stek gmelina.
Pengaruh Cara Pemberian Rootone-F Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina pada 8 MST
Hasil pengujian statistik pada faktor cara pemberian Rootone-F pada 8 MST dapat dilihat pada Tabel 7. Beberapa tolok ukur seperti jumlah kalus, panjang tunas, persentase stek berakar, panjang akar, berat basah akar dan berat kering akar menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap tolok ukur keberhasilan stek. Pada minggu ke-8 setelah penanaman, hasil cara pemberian yang menunjukkan hasil paling baik adalah dengan cara perendaman dengan larutan
Rootone-F 100 ppm. Ini juga terjadi pada minggu ke-4 setelah penanaman sehingga cara yang paling efektif diterapkan pada penyetekan tanaman gmelina adalah dengan cara perendaman.
pemberian ini tidak berpengaruh nyata pada tolok ukur persentase stek hidup, stek bertunas, stek berkalus, jumlah akar dan jumlah tunas, sedangkan cara pemberian ini berpengaruh nyata pada tolok ukur persentase stek berakar, berat kering akar, berat basah akar, panjang tunas, kalus, akar dan jumlah kalus.
Tabel 7. Pengaruh Faktor Tunggal Cara Pemberian Rootone-F Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea
Linn) pada 8 MST
Tolok Ukur
Perlakuan
Kontrol Rendam Pasta Persentase Stek Hidup (%) 71,67 85,00 66,67 Persentase Stek Berkalus (%) 33,19 32,16 35,70 Persentase Stek Bertunas (%) 65.60 66.17 56.43
Panjang Tunas (cm) 2.04 3.65 4.22
Jumlah Akar 3.51 4.74 3.95
Panjang Akar (cm) 11.26 12.81 7.15
Keterangan Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%.
Persentase stek berakar dengan cara perendaman memiliki rata-rata yang paling tinggi yaitu 66.07% dibandingkan dengan cara pemberian dengan kontrol dan pasta yaitu sebesar 58.93% dan 36.86%. pada minggu ke-8 rata-rata persentase stek yang hidup adalah diatas 65%, kematian stek diduga karena tidak terbentuknya akar sampai akhir penelitian. Akar yang tidak terbentuk ini menjadi penyebab seluruh stek akhirnya mati karena kehabisan cadangan makanan yang tersedia pada batang. Hasil pengamatan ini dapat dilihat pada tabel 7.
pada batang maka waktu yang diperlukan untuk pemberian hormon semakin lama san begitu juga sebaliknya.
Pengaruh Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina pada 8 MST
[image:49.596.114.512.383.514.2]Sampai dengan minggu ke-8, jenis stek yang paling tepat untuk penyetekan tanaman gmelina adalah stek pucuk, seluruh tolok ukur berpengaruh nyata terhadap jenis stek yang digunakan (Tabel 8.). Menurut Hartmann and Kester (1978) bahwa bagian-bagian pada tanaman memiliki respon yang berbeda terhadap penyetekan sehingga dapat kita lihat setelah delapan minggu di lapang terdapat perberdaan yang sangat nyata dari seluruh tolok ukur keberhasilan stek ini terhadap faktor jenis stek yang digunakan.
Tabel 8. Pengaruh Faktor Tunggal Jenis Stek Terhadap Induksi Akar dan Tolok Ukur Keberhasilan Stek Gmelina (Gmelina arborea Linn) pada 8 MST
Tolok Ukur
Perlakuan Batang Pucuk Persentase Stek Hidup (%) 64,44b 84,44a Persentase Stek Berkalus (%) 38,51 28,86 Persentase Stek Bertunas (%) 27,35b 98,11a
Panjang Tunas (cm) 4.15a 2.45b
Jumlah Akar 3.52 4.61
Panjang Akar (cm) 7.44b 13.37a
Keterangan Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%.
Berdasarkan pengamatan sampai dengan minggu ke-8, pertumbuhan stek paling baik berasal dari stek pucuk, ini disebabkan kandungan C/N rasio yang terdapat di pucuk tanaman lebih besar dibandingkan dengan pada batang tanaman, sehingga besarnya batang stek tidak mempengaruhi stek cepat bertunas dan panjang tunasnya. Besarnya nilai C/N rasio ini mempengaruhi kemampuan stek dalam pertumbuhan akar dan tunas (Waluyo,2000). Pengaruh jenis stek ini berpengaruh nyata pada semua tolok ukur keberhasilan stek tanaman gmelina, ini menunjukkan bahwa stek pucuk lebih cocok untuk tanaman gmelina.
persentase stek berakar. Pada tolok ukur persentase stek berakar, rata-rata persentase stek berakar yang berasal dari stek pucuk sebesar 86.30% sedangkan yang berasal dari stek batang sebesar 21.61%. Stek belum dikatakan berhasil jika belum mempunyai daun, batang dan akar seperti tanaman normal (Waluyo,2000). Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan yang sangat nyata pada stek batang dan sek pucuk terutama pada tunas dan akarnya (Gambar 5.). Bagian dasar pucuk yang diinduksi dengan cara perendaman lebih mudah terjadi pembentukan akar karena sifat sel dan jaringannya lebih muda (Hartmann and Kester, 1978).
[image:50.596.114.502.270.413.2]
(A) (B)
Gambar 5. Tunas dan Akar Stek Gmelina 8 MST, (A) Pucuk ,(B) Batang
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, cara pemberian Rootone-F dan jenis stek mempengaruhi secara nyata induksi akar stek gmelina. Jenis stek yang terbaik adalah stek pucuk dan cara pemberian Rootone-F terbaik adalah dengan cara perendaman selama 24 jam.
Interaksi yang paling baik ialah pada stek pucuk dengan cara perendaman dalam larutan Rootone-F selama 24 jam. Kombinasi ini berpengaruh nyata pada rata-rata persentase stek berkalus dan berat basah akar pada pengamatan minggu ke-4 yaitu sebesar 100% untuk tolok ukur persentase stek berkalus dan 8.95 g untuk tolok ukur berat basah akar. Sedangkan pada pengamatan minggu ke-8 kombinasi ini berpengaruh nyata pada tolok ukur jumlah kalus, jumlah tunas, berat kering akar, berat basah akar dan persentase stek berakar, nilai yang didapat adalah 11.44 atau 11 buah kalus per tanaman.
Dari keseluruhan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa stek pucuk dengan cara direndam dalam larutan Rootone-F 100 ppm selama 24 jam merupakan cara yang paling baik diterapkan dalam pembiakan vegetatif tanaman gmelina terutama penyetekan. Kematian sek ditimbulkan karena stek kehabisan cadangan makanan sehingga tidak mampu bertahan sampai dengan minggu ke-8.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Alrasjid, H. 1991. Faktor Kualitas Lahan Pembatas Untuk Pertumbuhan Gmelina arborea Linn. Bul. Penelitian Hut. 540 : 1-23.
Audus, L. J. 1963. Plant Growth Substances. Interscience Publ. Inc. New York. pp 123-143.
Avery, G. S. and E. B. Johnson. 1947. Hormones and Horticulture. McGraw-Hill Book Co. Inc. New York. 326p.
Departemen Kehutanan. 2004. Sepuluh Peringkat Benih Marketable. Ditjen Rehabilitasi lahan dan Perhutanan Sosial. Dephut. Jakarta. (www.dephut.go.id)
Fitter, A. H. And R. K. M. Hay. 1992. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Gajah Mada Univ. Press. Yogyakarta. Hal 149-151
Harahap, R. 1972. Percobaan Orientasi Pembiakan Vegetatif Beberapa Jenis Pohon. Laporan no. 155. Lembaga Penelitian Hutan. Bogor.
Hartmann, H. T. and D. E. Kester. 1978. Plant Propagation, Principles and Practice. Prentice Hall of India. New Delhi. 702p.
______________________________ and F. T. Davies Jr. 1990. Plant Propagation, Principle and Practices Fifth Edition. Practice-Hall, Inc., Englewood Cliffs. New Jersey. 754p.
Heddy, S. 1986. Hormon Tumbuhan. Rajawali Press. Jakarta. Hal 2-67.
Hidayat, E. B. 1995. Anatomi Tumbuhan Tinggi. Penerbit ITB. Bandung. 275 hal.
Iriantono, D. 1993. Pemilihan Berbagai Media dan Bagian Stek Pada Pembiakan Vegetatif Gmelina arborea Linn. Balai Teknologi Perbenihan. Bogor.
Jayapari. 2002. Petunjuk Teknis Penangkaran Benih Tanaman Kehutanan dan Perkebunan : Proyek Pelatihan dan Penangkaran Benih Tanaman Kehutanann dan Perkebunan di Kecamatan Ciawi Tahun Anggaran 2002. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pemerintah Kabupaten Bogor. Bogor. Hal 8.
Kasmudjo. 1990. Sifat Kayu Gmelina dan Kemungkinana Penggunaannya. Duta Rimba. XVI (119-120) : 3-8.
Kramer, P. J. and T. T. Kozlowsky. 1960. Physiology of Tree. McGraw and Hill Book Co. Inc. New York. 511p.
Lamb, A. F. A. 1968. Gmelina arborea, A Fast Growing Timber Tree of The Lowland Tropics. Dept. of Forestry Commonwealth Forestry Institute, University of Oxford. Oxford. Hal 31.
Leopold, A. C. 1963. Auxin and Plant Growth. Univ. California Press. Berkeley, Los Angeles. 343p.
Mahlstede, J. P. and T. L. E. S. Haber. 1976. Plant Propagation. Jhon Wiley and Sons Inc. New York. 413p.
Manurung, S. O. 1987. Status dan Potensi Zat Pengatur Tumbuh Serta Penggunaan Rootone-F Dalam Perbanyakan Tanaman. Makalah Seminar Rootone-F ; Ditjen Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan, Dept. Kehutanan. Jakarta. 83 hal.
Prawiranata, W., S. Harran dan P. Tjondronegoro. 1992. Diktat Kuliah Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. IPB. Bogor. 248 hal.
Rochiman, K dan S. S. Harjadi. 1973. Pembiakan Vegetatif. Dept. Agron, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 76 hal.
Smits, W. T. M. dan S. Yasman. 1988. Metode Pembuatan Stek Dipterocarpaceae. Dephut, Balitbanghut. Balithut. Samarinda. 38 hal.
Soerianegara, I. dan A. Indrawan. 1985. Ekologi Hutan Indonesia. Dept. Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, Insitut P