Hasil Penelitian
Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Dalam penelitian ini, uji validitas yang digunakan adalah uji korelasi pearson dengan membandingkan nilai R hitung dan nilai R tabel dengan signifikansi 5% dan N = 110.
Pernyataan dinyatakan valid jika nilai R hitung lebih besar dari nilai R tabel yaitu 0,195.
Sedangkan untuk uji reliabilitas dilakukan dengan uji Cronbach’s Alpha. Dalam uji Cronbach’s Alpha, suatu pernyataan dinyatakan reliabel jika memiliki nilai lebih dari 0,6.
Tabel 2
Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas
No. Variabel Indikator Validitas Reliabilitas Keterangan
1 Dukungan Sosial
20
Sumber : Data Olahan SPSS, 2016
Berdasarkan pada tabel diatas, dapat diketahui hasil uji validitas untuk keempat variabel yaitu Dukungan Sosial, Self Efficacy, Stres, dan Burnout seluruh indikator pernyataannya memiliki R hitung > R tabel, sehingga seluruh indikator pernyataan tersebut dinyatakan valid.
Untuk hasil uji reliabilitas pada tabel diatas dapat diketahui bahwa keempat variabel memiliki
21 nilai Cronbach’s Alpha lebih dari 0,6 sehingga seluruh indikator pernyataan dalam keempat variabel tersebut reliabel dan layak digunakan untuk pengujian hipotesis.
Uji Asumsi Klasik 1. Uji normalitas
Uji normalitas ini bertujuan untuk menguji apakah variabel terikat dan variabel bebas dalam model regresi mempunyai distribusi normal. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan analisis Grafik Normal P-Plot. Pada gambar yang terlampir, sebaran titik-titik pada grafik normal P-Plot relatif mendekati garis lurus dan mengikuti arah garisnya. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa variabel terikat dan variabel bebas pada data terdistribusi normal.
2. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menunjukkan hubungan langsung antara variabel bebas (independen). Bila nilai Variance Inflation Factor (VIF) lebih besar dari 10 atau nilai tolerance kurang dari 0,10 maka dapat dinyatakan bahwa variabel tersebut memiliki gejala multikolinearitas. Nilai VIF untuk variabel dukungan sosial adalah 1,357, variabel self efficacy adalah 1,294, dan variabel stres kerja adalah 1,062. Sedangkan nilai tolerance variabel dukungan sosial adalah 0,737, variabel self efficacy adalah 0,773 dan variabel stres kerja adalah 0,942. Nilai VIF dari ketiga variabel tidak lebih besar dari 10, maka dapat dikatakan bahwa tidak ada gejala multikolinearitas pada ketiga variabel tersebut.
3. Uji Linearitas
Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah regresi bersifat linear atau tidak.
Dalam penelitian ini, uji linearitas menggunakan grafik scatter plot. Jika sebaran titik-titik pada grafik menyebar atau tidak membentuk pola tertentu, dapat dikatakan bahwa hubungan bersifat linear. Dari hasil uji linearitas menggunakan scatter plot, semua grafik menunjukkan sebaran titik-tikik yang tidak membentuk pola atau menyebar. Artinya, keempat variabel mempunyai hubungan yang linear.
4. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi menujukkan bahwa variance dari setiap error bersifat heterogen atau homogen. Model
22 regresi yang baik seharusnya tidak terjadi heteroskedastisitas, yang berarti melanggar asumsi klasik yang mensyaratkan bahwa variance dari error harus bersifat homogen. Pada uji heteroskodesitas dengan grafik scatterplot, dapat diketahui bahwa jika titik dalam grafik tersebar (tidak membentuk pola) maka tidak terjadi heteroskodesitas. Gambar grafik pada lampiran dapat dilihat bahwa sebaran titik tidak membentuk suatu pola atau alur, sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas.
Karakteristik Responden
Responden dalam penelitian ini adalah guru tetap di SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 3 Salatiga yang berjumlah 110 orang. Dalam penelitian ini terdapat 6 karakteristik, yaitu usia, jenis kelamin, status pernikahan, jumlah anak, latar pendidikan, dan lama bekerja.
Tabel 3
Distribusi Karakteristik Responden
Identitas Diri Distribusi Responden Jumlah
Orang Persentase (%)
Usia
21-30 15 14
31-40 19 17
41-50 42 38
≥ 50 34 31
Jumlah 110 100
Jenis Kelamin
Laki-laki 47 43
Perempuan 63 57
Jumlah 110 100
Status Pernikahan
Belum menikah 17 15
Menikah 93 85
Jumlah 110 100
Jumlah anak
1 14 13
2 48 44
3 20 18
23
4 5 5
≥ 4 4 4
Jumlah 91 83
Latar Pendidikan
SMA/Sederajat 12 11
S1 82 75
≥ S1 16 15
Jumlah 110 100
Lama Bekerja
≤ 1 1 1
1-5 10 9
5-10 23 21
≥ 10 76 69
Jumlah 110 100
Sumber : Data Olahan Kuesioner, 2016
Berdasarkan tabel diatas, dapat ditunjukkan bahwa berdasarkan usia, guru di SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 3 Salatiga terdiri atas responden berusia 21-30 tahun sebanyak 15 orang atau 14%, responden berusia 31-40 tahun sebanyak 19 orang, responden berusia 41-50 tahun sebanyak 42 orang, dan responden berusia lebih dari 50 tahun sebanyak 34 orang.
Berdasarkan jenis kelamin, dapat dilihat bahwa sebagian besar guru di kedua sekolah tersebut adalah perempuan, yaitu sebanyak 63 orang. Sedangkan guru laki-laki sebanyak 47 orang.
Berdasarkan status pernikahan, responden yang belum atau tidak menikah sebanyak 17 orang dan responden yang sudah menikah sebanyak 93 orang. Berdasarkan jumlah anak yang dimiliki, reponden yang memiliki 1 anak sebanyak 14 orang, responden yang memiliki 2 anak sebanyak 48 orang, responden yang memiliki 3 anak sebanyak 20 orang, responden yang memiliki 4 anak sebanyak 4 orang, dan responden yang memiliki lebih dari 5 anak sebanyak 4.
Berdasarkan latar belakang pendidikan, sebagian besar guru di SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 3 Salatiga mempunyai latar pendidikan S1. Dapat ditunjukkan bahwa responden yang mempunyai latar belakang pendidikan SMA/Sederajat sebanyak 12 orang, responden dengan latar belakang pendidikan S1 sebanyak 82 orang, sedangkan responden dengan latar belakang pendidikan diatas S1 sebanyak 16 orang. Berdasarkan lama bekerja, responden yang bekerja
24 kurang dari 1 tahun hanya 1 orang, responden yang bekerja selama 1-5 tahun sebanyak 10 orang, responden yang bekerja selama 5-10 tahun sebanyak 23 orang, dan responden yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun sebanyak 76 orang.
Dukungan Sosial, Self Efficacy, Stres Kerja, dan Burnout
Dalam penelitian ini, terdapat 4 variabel yang akan dianalisis yaitu dukungan sosial, self efficacy, stres kerja, dan burnout. Penilaian masing-masing variabel dapat dilihat dari nilai rata-rata yang dimiliki. Untuk menentukan rentang skala likert dari rata-rata-rata-rata jawaban responden, maka digunakan rumus sebagai berikut:
Interval = Nilai Maksimum – Nilai Minimum Jumlah Kelas
= 5 – 1 5 = 0,8
Sehingga dapat diperoleh kategori tingkat variabel sebagai berikut:
Tabel 4
Tingkat Kategori Variabel
Range Keterangan
4.20 – 5.00 3.40 – 4.19 2.60 – 3.39 1.80 – 2.59 1.00 – 1.79
Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Sumber : Danny dan Wijaya, 2013
25 Berikut adalah hasil nilai rata-ratadari variabel dukungan sosial, self efficacy, stres kerja, dan burnout :
Tabel 5 Nilai Rata-rata
Variabel Mean
Dukungan Sosial 3,83
Self Efficacy 3,80
Stres Kerja 3,18
Burnout 2,70
Sumber : Data Olahan Excel, 2016
Pada tabel 4, ditunjukkan nilai rata-rata tertinggi dari variabel dukungan sosial adalah indikator pertama yaitu pernyataan keluarga menunjukkan perhatian kepada saya ketika saya menceritakan masalah saya, dengan nilai rata-rata sebesar 4,4 dari 110 jawaban responden. Nilai rata-rata dari 14 indikator pernyataan variabel dukungan sosial (X1) adalah sebesar 3,83 yang artinya dukungan sosial termasuk dalam kategori tinggi.
Pada variabel Self Efficacy, ditunjukkan nilai rata-rata tertinggi adalah indikator ke-6 yaitu pernyataan saya yakin mampu menyelesaikan tugas yang saya kerjakan, dengan nilai rata-rata sebesar 4,12 dari 110 jawaban responden. Nilai rata-rata-rata-rata dari 7 indikator pernyataan variabel self efficacy (X2) adalah sebesar 3,80 yang artinya self efficacy termasuk dalam kategori tinggi.
Variabel Stres Kerja mempunyai nilai rata-rata tertinggi pada indikator ke-12 yaitu pernyataan saya tidak mudah menyerah ketika tuntutan pekerjaan semakin berat, dengan nilai rata-rata sebesar 3,99 dari 110 jawaban responden. Nilai rata-rata dari 12 indikator pernyataan variabel stres (Z1) adalah sebesar 3,18 yang artinya stres termasuk dalam kategori sedang.
Nilai rata-rata tertinggi dari variabel Burnout adalah indikator pertama yaitu pernyataan saya sering merasa lelah secara emosional ketika bekerja, dengan nilai rata-rata sebesar 3,32 dari 110 jawaban responden. Nilai rata-rata dari 10 indikator pernyataan variabel burnout (Y1) adalah sebesar 2,70 yang artinya burnout termasuk dalam kategori sedang.
26 Uji Path Analysis
Pengaruh Dukungan Sosial dan Stres Kerja terhadap Burnout Jalur 1 : Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Stres Kerja
Tabel 6 Hasil Regresi
Model Summary
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .215a .046 .038 4.848
a. Predictors: (Constant), Dukungan_Sosial
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 28.195 4.380 6.438 .000
Dukungan_Sosial .186 .081 .215 2.291 .024
a. Dependent Variable: Stres_Kerja
Sumber : Data Olahan SPSS, 2016
Tabel diatas menunjukkan nilai koefisien (R2) sebesar 0,046 atau 4,6% yang berarti bahwa variabel dukungan sosial mempengaruhi variabel stres sebesar 4,6%. Sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain.
Berdasarkan tabel coefficients, terlihat bahwa variabel dukungan sosial memiliki nilai standardized beta sebesar 0,215 dan nilai signifikan sebesar 0,024 lebih kecil dari 0,05 (0,024 <
0,05) yang berarti dukungan sosial mempengaruhi stres kerja.
27 Jalur 2 : Pengaruh Dukungan Sosial dan Stres Kerja Terhadap Burnout
Tabel 7 Hasil Regresi
Model Summary
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .587a .345 .333 5.090
a. Predictors: (Constant), Stres_Kerja, Dukungan_Sosial
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 1.927 5.409 .356 .722
Dukungan_Sosial -.069 .087 -.063 -.789 .432
Stres_Kerja .754 .101 .598 7.461 .000
a. Dependent Variable: Burnout
Sumber : Data Olahan SPSS, 2016
Tabel diatas menunjukkan nilai koefisien (R2) sebesar 0,345 atau 34,5% yang berarti bahwa variabel dukungan sosial dan variabel stres kerja mempengaruhi variabel burnout sebesar 34,5%. Sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain.
Berdasarkan tabel coefficients, ditunjukkan bahwa nilai standardized beta pada dukungan sosial sebesar -0,063 dan stres sebesar 0,598. Sedangkan nilai signifikan pada dukungan sosial adalah 0,432 dan stres kerja adalah 0,000 yang artinya dukungan sosial tidak berpengaruh signifikan terhadap burnout, sedangkan stres kerja berpengaruh signifikan karena nilai lebih kecil dari 0,05.
28 Gambar 1
Kerangka Pengaruh Dukungan Sosial dan Stres Kerja Terhadap Burnout
Hasil analisis jalur diatas menunjukkan bahwa dukungan sosial dapat berpengaruh langsung terhadap burnout dan dapat juga berpengaruh tidak langsung melalui stres kerja sebagai variabel intervening. Karena dukungan sosial tidak berpengaruh signifikan terhadap burnout, maka hubungannya adalah tidak langsung. Besarnya pengaruh tidak langsung dapat diketahui dengan mengalikan koefisien tidak langsungnya yaitu (0,215) (0,598) = 0,12857. Artinya dukungan sosial berpengaruh terhadap burnout sebesar 0,128 melalui stres kerja sebagai variabel imtervening.
Pengaruh Self Efficacy dan Stres Kerja terhadap Burnout Jalur 1 : Pengaruh Self Efficacy Terhadap Stres Kerja
Tabel 8 Hasil Regresi
Model Summary
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .004a .000 -.009 4.964
a. Predictors: (Constant), Self_Efficacy
Stres Kerja
Burnout Dukungan
Sosial
0,215 0,598
-0,063
29
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 38.001 4.216 9.013 .000
Self_Efficacy .006 .157 .004 .041 .967
a. Dependent Variable: Stres_Kerja
Sumber : Data Olahan SPSS, 2016
Tabel diatas menunjukkan nilai koefisien (R2) sebesar 0,000 atau 0% yang berarti bahwa variabel self efficacy tidak mempengaruhi variabel stres kerja, melainkan dipengaruhi oleh variabel lain.
Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa variabel self efficacy memiliki nilai standardized beta sebesar 0,004 dan nilai signifikan sebesar 0,967 lebih besar dari 0,05 (0,967 < 0,05) yang berarti self efficacy tidak mempengaruhi stres kerja.
Jalur 2 : Pengaruh Self Efficacy dan Stres Kerja Terhadap Burnout Tabel 9
Hasil Regresi
Model Summary
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .585a .342 .329 5.103
a. Predictors: (Constant), Self_Efficacy, Stres_Kerja
30
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) -.009 5.737 -.002 .999
Stres_Kerja .737 .099 .584 7.448 .000
Self_Efficacy -.042 .162 -.020 -.257 .798
a. Dependent Variable: Burnout
Sumber : Data Olahan SPSS, 2016
Tabel diatas menunjukkan nilai koefisien (R2) sebesar 0,342 atau 34,2% yang berarti bahwa variabel self efficacy dan variabel stres kerja mempengaruhi variabel burnout sebesar 34,2%. Sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain.
Berdasarkan tabel coefficients, terlihat bahwa nilai standardized beta pada self efficacy sebesar -0,020 dan stress kerja sebesar 0,584. Sedangkan nilai signifikan pada self efficacy adalah 0,798 dan stres kerja adalah 0,000 yang artinya self efficacy tidak signifikan karena nilai lebih besar dari 0,05, sedangkan stres kerja signifikan karena nilai lebih kecil dari 0,05.
Gambar 2
Kerangka Pengaruh Self Efficacy dan Stres Kerja Terhadap Burnout
Hasil analisis jalur diatas menunjukkan bahwa variabel self efficacy mempunyai nilai signifikan sebesar 0,004 terhadap variabel stres kerja dan -0,020 variabel burnout, sehingga dapat dinyatakan bahwa self efficacy tidak berpengaruh terhadap stres dan burnout. Dengan kata lain self efficacy tidak berpegaruh terhadap burnout baik secara langsung maupun tidak langsung.
Stres
Burnout Self Efficacy
0,004 0,584
-0,020
31 Berikut adalah kerangka pemikiran dari keempat variabel :
Gambar 3 Kerangka Pemikiran
Pembahasan
Variabel dukungan sosial mempunyai nilai rata-rata yang termasuk kategori tinggi.
Tetapi terdapat tiga indikator yang temasuk dalam kategori sangat tinggi. Seperti indikator pertama yang mempunyai nilai rata-rata 4,4 yang termasuk kategori sangat tinggi dengan pernyataan keluarga menunjukkan perhatian kepada saya ketika saya menceritakan masalah saya. Tujuh responden dari SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 3 yang diwawancarai singkat mengatakan bahwa keluarga responden sangat bersimpati ketika responden mengalami masalah dan menceritakan kepada keluarganya. Perhatian tersebut ditunjukkan dengan memberikan solusi atau nasihat tentang masalah yang responden hadapi, bahkan ada pula yang ditunjukkan dengan menghibur dan memberikan semangat kepada responden.
Indikator kedua termasuk kategori yang sangat tinggi, dengan nilai rata-rata sebesar 4,35 dengan pernyataan keluarga memahami kebutuhan saya. Guru di kedua SMA Negeri ini mengatakan bahwa keluarga responden memahami kebutuhan yang responden perlukan.
Beberapa kebutuhan tersebut adalah kebutuhan primer atau kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi, kebutuhan jasmani, dan kebutuhan rohani. Responden B mengatakan,
“Anak-anak saya mengerti jika biaya kebutuhan sehari-hari itu banyak, jadinya mereka tidak boros.”
Responden A mengatakan,
“Kalau saya pulang sehabis kerja, keluarga memberikan waktu untuk beristirahat, sehingga tidak ada yang mengganggu dan istirahat saya cukup.”
Stres Kerja Burnout
Self Efficacy Dukungan
Sosial
0,215
0,598
32 Reponden C mengatakan,
“Di hari libur atau waktu luang biasanya saya sempatkan untuk rekreasi atau berkumpul bersama keluarga saya untuk melepas penat atau rasa bosan.”
Keluarga saya selalu memberikan nasihat yang membangun ketika saya menghadapi masalah adalah pernyataan indikator ke-8 yang termasuk kategori yang sangat tinggi dengan nilai rata-rata sebesar 4,32. Lima responden dari kedua sekolah mengatakan bahwa keluarga memberikan simpati yang ditunjukkan dengan memberikan nasihat ketika responden mengalami masalah. Berdasarkan hasil wawancara singkat, responden A mengatakan,
“Keluarga saya memberikan nasihat kalau saya salah, biar saya bisa membuat diri saya menjadi lebih baik lagi.”
Sebagian besar guru mendapatkan nasihat yang membangun dari pasangan responden, dan beberapa mendapatkan nasihat dari orang tua responden.
Indikator yang mempunyai nilai rata-rata paling rendah adalah indikator ke-13 dengan nilai sebesar 3,04 dengan pernyataan saya merasa teman saya mempunyai kondisi yang sama dengan saya, tetapi termasuk dalam kategori sedang. Responden B mengatakan,
“Jika teman saya cerita tentang sesuatu, saya bisa membayangkan bagaimana atau apa yang dia alami sesuai dengan ceritanya.”
Responden C mengatakan,
“Ketika teman saya curhat, kadang kondisinya sama seperti yang saya alami atau pernah alami, jadi saya bisa memberikan masukan kalau dia minta saran.”
Beberapa responden lain mengatakan bahwa responden sering berbagi atau bercerita tentang diri responden dan tentang apa yang responden rasakan atau hadapi. Dari hal tersebut, sebagian guru pasti memahami atau mempunyai bayangan tentang rekannya. Sehingga responden bisa mempunyai opini jika rekannya sedang mengalami atau merasakan kondisi yang sama.
Variabel self efficacy mempunyai nilai rata-rata yang termasuk dalam kategori tinggi.
Indikator ke-6 adalah indikator yang mempunyai nilai rata- rata paling tinggi yang mencapai angka 4 yaitu 4,12 dengan pernyataan saya yakin mampu menyelesaikan tugas yang saya kerjakan, tetapi masih termasuk dalam kategori tinggi. Menurut enam responden yang diwawancarai, responden dapat menyelesaikan tugas yang diberikan kepada responden.
Responden selalu menyelesaikan tugas sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sehingga responden tidak kewalahan atau tugas responden tidak terlalu menumpuk jika mendapat tugas baru.
33 Indikator dengan nilai tertinggi kedua adalah indikator ke-7 dengan nilai rata-rata sebesar 4,05 dengan pernyataan saya mampu menangani hambatan dalam pekerjaan saya. Menurut para responden yang telah diwawancarai, hambatan dalam pekerjaan adalah hal biasa. Sebagian besar guru di kedua SMA ini sudah berumur lebih dari 40 tahun dan sudah bekerja lebih dari 10 tahun, sehingga responden sudah cukup berpengalaman dalam bekerja. Menurut hasil wawancara singkat, responden D mengatakan,
“Kebanyakan guru disini sudah tua, jadi sudah pengalaman dan bisa menyelesaikan hambatan dalam pekerjaan.”
Responden E mengatakan,
“Saya bekerja sudah lama sekali, jadi kalau ada masalah atau hambatan itu sudah biasa. Kalau tidak terlalu membebani, ya tidak usah terlalu dipikirkan.”
Hal itu dilakukan agar responden tidak terpuruk dengan adanya hambatan, sehingga responden akan menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Nilai rata-rata yang paling rendah terdapat pada indikator kedua dengan nilai rata-rata sebesar 3,48 dengan pernyataan saya yakin mampu menyelesaikan tugas di luar bidang kemampuan saya. Indikator ini masih termasuk dalam kategori tinggi. Menurut tujuh responden yakin bahwa responden dapat menyelesaikan tugas di luar bidang yang responden kuasai karena responden beranggapan dengan melakukan tugas yang baru di luar bidang kemampuan, responden bisa menambah pengetahuan, pengalaman, serta melatih diri agar menjadi lebih profesional. Responden F menjelaskan,
“Kalau saya diberi tugas di luar bidang kemampuan atau zona aman saya, ya dilakukan saja. Itu bisa jadi pengalaman baru dan menambah wawasan untuk memajukan diri.”
Variabel stres kerja termasuk dalam kategori sedang. Indikator pertama mempunyai nilai rata-rata yang paling tinggi yaitu sebesar 3,85 dengan pernyataan badan terasa lelah setelah melakukan pekerjaan. Indikator ini termasuk dalam kategori tinggi. Responden G mengatakan,
“Rekan saya bahkan saya sering mengakui jika setelah bekerja rasanya lelah.”
Responden bekerja dari pagi hingga sore hari. Beberapa guru harus bekerja lebih keras lagi ketika murid kelas 12 akan menghadapi ujian, karena para guru harus mempersiapkan tambahan pelajaran maupun try out sehingga waktu bekerja responden bertambah. Responden G juga menjelaskan,
34
“Saya kerja dari pagi sampe sore, pastinya capek. Apalagi lagi kalau kelas 12 ada jam tambahan buat persiapan ujian.”
Indikator ke-6 dengan pernyataan pekerjaan saya sangat menuntut tanggung jawab, tetapi kewenangan dan kekuasaan saya terbatas adalah indikator dengan nilai rata-rata yang termasuk kategori tinggi yaitu 3,59. Menurut hasil wawancara, responden H mengatakan,
“Jadi guru itu tanggung jawabnya besar, kan harus mendidik murid banyak.”
Responden lainnya juga beranggapan bahwa pekerjaan responden sangat membutuhkan tanggung jawab yang besar karena responden mendidik banyak murid yang nantinya menjadi penerus bangsa. Namun dalam proses mengajar atau bekerja sama dengan rekan, terkadang semua tidak sesuai dengan apa yang diharapkan karena kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki oleh guru tersebut terbatas. Responden H menjelaskan,
“Misalnya saya tidak bisa bekerja karena ada keperluan, padahal di hari tersebut saya mempunyai jam mengajar di banyak kelas. Untuk memenuhi tanggung jawab, saya minta bantuan kepada guru lain yang mempunyai waktu atau bersedia untuk menggantikan.”
Indikator yang masih termasuk kategori tinggi adalah indikator ke-10 dengan pernyataan saya sering bertengkar/berbantahan dengan rekan kerja saya. Indikator ini termasuk dalam kategori tinggi dengan nilai rata-rata 3,66. Dari hasil wawancara, responden G mengatakan,
“Dalam lingkungan pekerjaan pastinya pernah, saya pun pernah kalau berselisih pendapat atau berbantahan dengan rekan saya. Tapi lebih baik mengalah atau mencari jalan tengahnya biar sama-sama enak.”
Menurut empat responden, perselisihan dengan rekan kerja mungkin saja terjadi, tetapi responden lebih memilih untuk diam dan tidak bertengkar untuk menjaga hubungan agar tetap baik.
Indikator ke-8 termasuk dalam kategori yang rendah dengan nilai rata-rata 2,41, dengan permyataan saya jarang menerima pengakuan atau penghargaan jika hasil kerja saya baik.
Menurut responden di kedua SMA Negeri ini, responden sering menerima pengakuan baik dari rekan kerja ataupun murid jika pekerjaan responden baik. Empat responden beranggapan bahwa sebenarnya responden tidak terlalu memikirkan jika responden jarang menerima pengakuan atau penghargaan jika hasil kerjanya baik. Para responden beranggapan yang terpenting adalah memajukan sekolah dan menjadikan muridnya berhasil, sehingga orang lain bisa melihat dan menilai bagaimana kualitas guru di sekolah tersebut. Responden I mengatakan,
35
“Saya tidak begitu mementingkan penghargaan tentang kinerja saya. Yang penting itu murid saya bisa berprestasi, nanti pada akhirnya kan bisa dilihat oleh orang lain.”
Variabel burnout termasuk dalam kategori sedang. Indikator tertinggi adalah indikator pertama dengan nilai rata-rata sebesar 3,32 yang masih termasuk dalam kategori sedang dengan pernyataan saya sering merasa lelah secara emosional ketika bekerja. Menurut lima responden yang diwawancarai, responden sering lelah secara emosional ketika menghadapi murid. Selain jumlahnya yang banyak, sifat dan watak yang dimiliki murid pun berbeda. Dari hasil wawancara, Responden J mengatakan,
“Saya suka emosi kalau murid saya suka seenaknya sendiri. Apalagi kalau yang bandel banyak.”
Responden K juga mengatakan,
“Kalau ada yang bandel langsung saya tegur atau marahi biar nurut.”
Tidak sedikit juga yang susah diatur, malas atau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan para guru. Lebih dari setengah responden yang diwawancarai beranggapan ketika merasa kesal dengan murid karena suatu alasan, responden memilih untuk diam saat merasa emosi atau ingin marah. Tetapi ada juga yang memarahi atau berbicara kepada muridnya dengan nada yang terlihat bahwa guru itu sedang emosi.
Nilai rata-rata tertinggi yang kedua adalah sebesar 3,28 pada indikator ke-10 dengan pernyataan saya merasa saya tidak dapat melakukan tugas yang baru jika tugas yang lama belum selesai. Tiga responden dari kedua SMA Negeri ini merasa bahwa responden tidak bisa mengerjakan tugas yang baru ketika tugas yang lama belum selesai, karena responden tidak ingin tugas menjadi menumpuk. Berdasarkan wawancara, responden J mengatakan,
Nilai rata-rata tertinggi yang kedua adalah sebesar 3,28 pada indikator ke-10 dengan pernyataan saya merasa saya tidak dapat melakukan tugas yang baru jika tugas yang lama belum selesai. Tiga responden dari kedua SMA Negeri ini merasa bahwa responden tidak bisa mengerjakan tugas yang baru ketika tugas yang lama belum selesai, karena responden tidak ingin tugas menjadi menumpuk. Berdasarkan wawancara, responden J mengatakan,