• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sifat Fisis Papan Partikel Kerapatan

Dalam penelitian papan partikel tersebut di peroleh nilai kerapatan dengan rata-rata antara 0,63–0,69 g/cm3.Nilai tersebut dilampirkan pada Gambar 5.

Gambar 5. Kerapatan papan partikel

Berdasarkan Gambar 5 terlihat bahwa penggunaan bambu sebagai pahan pelapis pada papan partikel dari kotoran gajah mengakibatkan peningkatan nilai kerapatan papan partikel. Beberapa penelitian oleh Rita et al. (2015), Umam et al.

(2017), dan Santoso et al. (2018) menunjukkan bahwa dengan adanya penambahan pelapis maka terjadi peningkatan di nilai kerapatan terhadap papan partikel yang dihasilkan.

Papan partikel yang dilapis bambu pada bagian surfacenya memiliki nilai kerapatan yang lebih tinggi dari dibanding kontrol.Hal tersebut dikarenakan bambu memiliki kerapatan yang lebih tinggi dari serat kotoran gajah. Nilai dari kerapatan bambu petung sebesar 0,78 g/cm3, bambu tali sebesar 0,93 g/cm3 (Barly et al. 2012) sedangkan serat bkotoran gajah memiliki kerapatan sebesar 0,110

tersebut dapat meningkatkan nilai kerapatan dari papan partikel tersebut. Xu et al.(2004) menyatakan bahwa kerapatan dari bahan baku dalam pembuatan papan partikel sangat mempengaruhi kerapatan papan partikel yang dihasilkan dikarenakan bahan baku dengan kerapatan rendah memiliki tingkat pemadatan yang relatif tinggi saat ditekan dengan kempa panas.

Hasil pada Gambar 5 menunjukan bahwa nilai tersebut telah masuk dalam syarat SNI 03-2105-2006 dengan nilai 0,4 sampai 0,9 g/cm3, Namun hasil tersebut tidak memenuhi target kerapatan dengan nilai 0,8 g/cm3. Hal tersebut dikarenakan nilai dari spring back (SB) atau nilai dari pembebasan tekanan pada sampel diwaktu pengempaan yang cukup tinggi sehingga mempengaruhi hasil yang diperoleh. Rata-rata papan pada penelitian ini memperoleh nilai spring back sebesar 44% yang menyebabkan semakin tinggi nilai dari spring back maka nilai kerapatan papan partikel semakin rendah.

Hasil sidik ragam terhadap papan partikel disajikan pada Tabel 3.Berdasarkan Tabel 3 perlakuan papan partikel menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata terhadap nilai kerapatan papan partikel pada selang kepercayaan 95%.

Tabel 3. Sidik ragam terhadap kerapatan papan partikel

Sum of disajikan pada Lampiran 5 menunjukkan bahwa pelapis berupa bambu petung tidak berbeda nyata dengan pelapis bambu tali dan kuning, tetapi berbeda nyata dengan lainnya. Papan partikel dengan pelapis bambu lemang tidak berbeda nyata dengan kontrol dan pelapis bambu tali, tetapi berbeda nyata dengan lainnya.Pelapis bambu belanke tidak berbedanyata dengan bambu kuning tetapi berbeda nyata dengan lainnya.

Kadar Air

Dalam penelitian papan partikel ini diperoleh nilai kadar air papan partikel dengan nilai berkisar antara 7,87-10,35%. Nilai kadar air dilampirkan pada Gambar 6.

Gambar 6. Kadar Air papan partikel

Berdasarkan Gambar 6 terlihat bahwa penggunaan bambu sebagai pelapis pada papan partikel dari kotoran gajah tidak berpengaruh terhadap penilaian kadar air. Kadar air tinggi terdapat pada papan tipe E dengan nilai 10,35% sedangkan kadar air terendah terdapat pada papan tipe A dengan nilai 7,88%.

Papan partikel yang dibuat pada penelitian ini menggunakan bahan yang mengandung material lignoselulosa. Widyorini et al. (2020) menyatakan kandungan holoselulosa 72,99%, alfaselulosa 43,41%, hemiselulosa 29,58%, dan lignin 24,00% pada bambu petung, dan kotoran gajah mengandung lignin dan selulosa (Farah et al.,2014). Bahan tersebut memiliki sifat higoskopis yang mengakibatkan tidak berpengaruhnya penambahan pelapis pada papan partikel dari kotoran gajah.

Hasil sidik ragam terhadap kadar air papan partikel disajikan pada Tabel 4.

Berdasarkan Tabel 4 perlakuan papan partikel menunjukkan pengaruh yang

9.78bc

berbeda nyata terhadap nilai kerapatan papan partikel pada selang kepercayaan 95%.

Tabel 4. Sidik ragam terhadap kadar air papan partikel

Sum of

Hasil uji lanjutan Duncan multiple range test (DMRT) yang disajikan pada Lampiran 6 menunjukkan bahwa pelapis bambu kuning tidak berbeda nyata dengan pelapis bambu petung, belangke, kontrol, dan tali, tetapi berbeda nyata dengan pelapis bambu lemang. Pelapis bambu lemang tidak berbeda nyata dengan pelapis bambu tali, kontrol, dan petung, tetapi berbeda nyata dengan pelapis bambu belangke.

Daya Serap Air

Nilai daya serap air (DSA) papan partikel yang dihasilkan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Daya Serap Air papan partikel

67.74c

Berdasarkan Gambar 7 terlihat bahwa penggunaan bambu sebagai bahan pelapis pada papan partikel dari kotoran gajah mengakibatkan penurunan daya serap air papan partikel. Daya serap air tertinggi terdapat pada papan partikel kotrol dengan nilai 67,74%, sedangkan yang terendah pada papan partikel tipe A. dengan nilai 36,96.SNI 03-2105-2006 tidak mensyaratkan nilai daya serap air, Tetapi nilai dari daya serap air termasuk kedalam sifat fisis pada papan partikel, hal ini juga harus diperhatikan karena termasuk aspek mempengaruhi nilai papan partikel yang dihasilkan.

Hasil penelitan ini menunjukkan bahwa perendaman mempengaruhi nilai dari daya serap air. Hal ini dikarenakan papan partikel terbuat dari material yang mengandung bahan berligninselulosa dimana hal tersebut memiliki sifat higroskopis hal ini di perkuat oleh pernyataan Anggrainie et al. (2013) semakin lama perendaman maka lapisan lilin yang ada pada bahan baku berlignoselulosa akan semakin tipis, sehingga air dapat mudah memasuki pori-pori bahan baku tersebut dan penyerapan air tersebut akan menyebabkan mengembangnya dinding sel serat.

Penambahan pelapisan bambu pada papan partikel mempengaruhi daya serap air dikarenakan penyerapan air pada papan partikel kotoran gajah tidak berpelapis bambu memiliki partikel yang lebih banyak sehingga penyerapan air semakin banyak seperti pada penelitian papan partikel dari meranti rawa dengan pelapis anyaman rotan (Sarinahet al.,2015) yang menyatakan dengan adanya penambahan pelapis pada papan partikel tersebut menyebabkan daya serap air semakin sedikit.

Pada nilai daya serap air papan partikel dengan pelapis tipe A lebih rendah dibandingkan dengan papan partikel pelapis bambu lainya. Hal ini dikarenakan nilai kerapatan dari papan partakel dengan pelapis tipe A lebih tinggi dibangdingkan lainya. Maloney (1993) dalam peneletiannya menyimpulkan adanya pengaruh kerapatan dalam papan partikel, dikarenakan hubungan setiap partikel semakin tinggi yang mengakibatkan ruang kosong dalam papan partikel

semakin tipis.Ini yang menyebabkan air maupun uap air dari luar papan menjadi sulit masuk kedalam papan partikel.

Hasil sidik ragam terhadap daya serap air papan partikel disajikan pada Tabel 5. Berdasarkan Tabel 5 perlakuan papan partikel menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata terhadap nilai daya serap air papan partikel pada selang kepercayaan 95%.

Tabel 5. Sidik ragam terhadap daya serap air papan partikel

Sum of

Squares

Df Mean Square F Sig.

Between Groups

1454.972 5 290.994 18.884 .000

Within Groups 184.914 12 15.410

Total 1639.886 17

Hasil uji lanjutan terhadap daya serap air selama 24 jam berupa Duncan multiple range test (DMRT) disajikan pada Lampiran 8 menunjukkan bahwa penambahan pelapis bambu tali tidak berbeda nyata dengan pelapis bambu kuning, petung, dan lemang, tetapi berbeda nyata dengan pelapis bambu belangke dan kontrol. Pelapis bambu lemang berbeda nyata dengan lainnya. Pelapis bambu belangke berbeda nyata dengan lainnya.

Pengembangan Tebal

Nilai pengembangan tebal yang dihasilkan pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8. Pengembangan tebal papan partikel

Berdasarkan Gambar 8 terlihat bahwa penggunaan bambu sebagai pelapis pada papan partikel dari kotoran gajah mengakibatkan penurunan nilai pegembangan tebal papan partikel. Nilai tertinggi terdapat pada papan kontrol yaitu 36,50% dan nilai terendah pada papan pelapis tipe A yaitu 9,95%.

Penambahan pelapis tersebut mempengaruhi nilai pengembangan tebal karena bambu memiliki stabilitas dimensi yang baik (Davinsi et al. 2019) sehingga dengan penambahan pelapis tersebut penyerapan air menjadi lebih sulit pada papan partikel. Berdasarkan standar SNI 03-2105-2006 nilai pengembangan tebal hanya variasi papan partikel pelapis tipe memenuhi standar, dikarenakan standar maksimum pengembangan tebal sebesar 12%.

Pada penelitian ini nilai pengembangan tebal papan partikel dengan pelapis tipe A yang memenuhi standar SNI 03-2105-2006. Hal tersebut disebabkan pelapis yang digunakan berupa bambu yang jika menyerap air pengembangan cendrung kearah tebal karena bambu tidak mempunyai sel jari-jari yang mempunyai fungsi mengatasi pengambangan kearah tebal bambu (Nuriyati,2000). Pada penelitian Umam et al. (2017) dengan menggunakan pelapis finir memiiliki nilai pengembangan tebal yang lebih rendah dibandingkan

36.50c

dengan pelapis bambu karena finir jika menyerap air akan mengembang kearah lebar.

Hasil sidik ragam terhadap pengembangan tebal papan partikel disajikan pada Tabel 6. Berdasarkan Tabel 6 perlakuan papan partikel menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata terhadap nilai pengembangan tebal papan partikel pada selang kepercayaan 95%.

Tabel 6. Sidik ragam terhadap pengembangan tebal papan partikel

Sum of

Squares

Df Mean Square F Sig.

Between Groups

1264.172 5 252.834 34.351 .000

Within Groups 88.324 12 7.360

Total 1352.495 17

Hasil uji lanjutan berupa Duncan multiple range test (DMRT) disajikan pada Lampiran 10 menunjukkan bahwa pelapis bambu lemang tidak berbeda nyata dengan pelapis bambu tali, petung, dan kuning, tetapi berbeda nyata dengan pelapis bambu belangke dan kontrol. Kontrol berbeda nya dengan lainnya. Pelapis bambu belangke tidak berbeda nyata dengan bambu tali, tetapi berbeda nyata dengan lainnya.

Sifat Mekanis Papan Partikel

Keteguhan Lentur atau Modulus of Elasticity (MOE)

Hasil penelitian ini diperoleh nilai MOE papan partikel memiliki rata-rata yang berkisar antara 19520,45-72827,09 kg/cm3.Rata-rata nilai MOE papan partikel hasil penelitian disajikan pada Gambar 9.

Gambar 9. Keteguhan lentur papan partikel

Berdasarkan Gambar 9 terlihat bahwa penggunaan bambu sebagai bahan pelapis pada papan partikel dari kotoran gajah mengakibatkan peningkatan nilai MOE pada papan partikel.Nilai MOE tertinggi terdapat pada papan partikel pelapis tipe C dan yang terendah terdapat pada papan partikel kontrol.

Peningkatan nilai MOE pada papan partikel sebesar 320,70-373,08% dari kontrol , seperti pada penelitian Umam et al.(2017) menyatakan penambahan bahan pelapis berupa bambu dan finir dapat meningkatkan nilai MOE dikarenakan sifat mekanik pada pelapis yang tinggi, sehingga dapat menahan beban yang lebih besar. Hasil serupa juga dinyatakan oleh Prayitno dan Ringgar (2011) dengan pembuatan papan partikel menggunakan bambu jenis petung dengan berlapiskan luar feses dari sapi, dijelaskan bahwa nilai MOE semakin tinggi dengan bertambahnya serutan bambu. Hal ini menjelaskan kembali bahwa serutan bambu mempengaruhi secara nyata untuk nilai MOE.

Perbedaan nilai MOE tertinggi (pelapis tipe C) dengan yang terendah (pelapi tipe E) dikarenakan adanya perbedaan jenis bambu tersebut. Hal tersebut di dukung pada penelitian Loiwatu (2008) menyatakan bahwa jumlah sel serat

kekutan bambu tidak hanya ditentukan oleh ketebalan dinding sel serat tetapi juga di tentukan oleh banyaknya jumlah serat pada bambu tersebut.

Hasil sidik ragam terhadap keteguhan lentur papan partikel disajikan pada Tabel 7. Berdasarkan Tabel 7 perlakuan papan partikel menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata terhadap nilai keteguhan lentur papan partikel pada selang kepercayaan 95%.

Tabel 7. Sidik ragam terhadap keteguhan lentur papan partikel

Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

Between

Groups 5697916755.167 5 1139583351.033 86.099 .000 Within

Groups 158828855.333 12 13235737.944 Total 5856745610.500 17

Hasil uji lanjutan Duncan multiple range test (DMRT) yang disajikan pada Lampiran 11 menunjukkan bahwa pelapis bambu belangke tidak berbeda nyata dengan pelapis bambu lemang, kuning, dan tali, tetapi berbeda nyata dengan pelapis bambu petung dan kontrol. Pelapis bambu petung tidak berbeda nyata dengan pelapis bambu kuning dan tali, tetapi berbeda nyata dengan pelapis bambu belangke dan lemang. Kontrol berbeda nyata dengan lainnya. Berdasarkan standart SNI 03-2105-2006 dapat disimpulkan bahwa semua variasi papan partikel yang di uji telah memenuhi standar kecuali pada papan partikel kontrol, dikarenakan nilai dari papan partikel kontrol di bawah standar minimal MOE yaitu sebesar 20400 kg/cm2.

Keteguhan Patah atau Modulus of Refture (MOR)

Hasil penelitian ini diperoleh nilai MOR papan partikel dengan nilai rata-rata berkisar antara 204,49-682,78 kg/cm2.Rata-rata nilai MOR papan partikel hasil penelitian disajikan pada Gambar 10.

Gambar 10. Keteguhan patah papan partikel

Berdasarkan Gambar 10 terlihat bahwa penggunnaan bambu sebagai bahan pelapis papan partikel dari kotoran gajah mengakibatkan peningkatan nilai MOR papan partikel. Nilai MOR tertinggi terdapat pada papan partikel pelapis tipe C dan yang terendah pada papan partikel kontrol. Nilai MOR mengalami peningkatan sebesar 261,46%-333,89%. Hal tersebut didukung pada penelitian Rita et al.(2015) yang menjelaskan bahwa dengan adanya pelapis finir dalam pembuatan papan partikel meningkatkan nilai pada MOE dan MOR dikarenakan pada pengujian papan partikel, sampel yang diuji diberi beban pada permukaan.

Permukaan sampel telah terlapisi oleh finis maka dengan sifat finir memiliki serat yang tinggi dan lurus maka nilai dari MOE dan MOR meningkat.

Perbedaan nilai MOR jelas terlihat pada papan partikel dengan pelapis bambu petung dengan papan partikel pelapis bambu lemang. Hal ini dikarenakan perbedaan jenis bambu pelapis tersebut yang dimana bambu petung memiliki diameter serat yang lebih tebal dari pada bambu lemang.Diameter bambu petung sebesar 4,91 mikron sedangkan diameter bambu lemang sebesar 4,60 mikron dan semakin tebal dingding sel maka semakin kuat bambu tersebut (loiwatu, 2008).

Hasil sidik ragam terhadap keteguhan patah papan partikel disajikan pada Tabel 8. Berdasarkan Tabel 8 perlakuan papan partikel menunjukkan pengaruh

204a

yang berbeda nyata terhadap nilai keteguhan patah papan partikel pada selang kepercayaan 95%.

Tabel 8. Sidik ragam terhadap keteguhan patah papan partikel

Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

Between

Groups 501501.447 5 100300.289 216.438 .000

Within

Groups 5560.963 12 463.414

Total

507062.410 17

Hasil uji lanjutan Duncan multiple range test (DMRT) yang disajikan pada Lampiran 12 menunjukkan bahwa pelapis bambu tali tidak berbeda nyata dengan pelapis bambu kuning dan belangke, tetapi berbeda nyata dengan lainnya. Pelapis bambu petung tidak berbeda nyata dengan pelapis bambu belangke dan kuning, tetapi berbeda nyata dengan pelapis bambu tali, lemang, dan kontrol. Pelapis bambu lemang berbedanya dengan lainnya. Kontrol berbeda nyata dengan lainnya. Berdasarkan nilai MOR yang dimiliki tersebut sudah memenuhi standar SNI 03-2105-2006 dengan nilai minimum 82 kg/cm2.

Keteguhan Rekat atau Internal Bond (IB)

Hasil penelitian ini memperlihatkan nilai keteguhan rekat (IB) papan partikel memiliki nilai rata-rata berkisar antara 1,69 -3,81 kg/cm2. Rata-rata nilai papan partikel hasil penelitan disajikan pada Gambar 11.

Gambar 11. Keteguhan rekat papan partikel

Berdasarkan Gambar 11 terlihat bahwa penggunaan bambu sebagai bahan pelapis pada papan partikel dari kotoran gajah mengakibatkan peningkatan nilai IB papan partikel. Nilai IB tertinggi terdapat pada papan partikel pelapis tipe A sedangkan yang terendah terdapat pada papan partikel kontrol.Peningkatan tersebut disebabkan oleh bambu yang memiliki kerapatan yang tinggi yang mempengaruhi keteguhan rekat pada papan partikel. Hal ini didukung oleh pernyataan Siahaan et al.,(2015) yang menjelaskan dengan adanya penambahan pelapis bambu talang pada papan partikel meningkatkan nilai kerapatan dan keteguhan rekat dikarenakan bambu memiliki daya rekat yang baik dari kandungan serat serta memiliki kerapatan yang tinggi.

Perbedaan nilai IB pada pelapis papan partikel dipengaruhi oleh anatomi dari pelapis bambu tersebut.Adanya perbedaaan pada ukuran serat, dimensi lumen, ketebalan dinding serat (Fitrisari dan Hermiati, 2008) yang mempengaruhi kelas mutu dari bambu. Beberapa penelitian oleh Nemli dan Colakoglu (2005), Buyuksari et al.(2010), Ashori dan Nourbakhsh (2008) menyatakan penambahan pelapis pada papan partikel dapat memperbaiki dan meningkatkan sifat mekanis papan partikel.

Hasil sidik ragam terhadap keteguhan rekat papan partikel disajikan pada Tabel 9. Berdasarkan Tabel 9 perlakuan papan partikel menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata terhadap nilai keteguhan rekat papan partikel pada selang kepercayaan 95%.

Tabel 9. Sidik ragam terhadap keteguhan rekat papan partikel

Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

Between

Groups 10.464 5 2.093 7.432 .002

Within

Groups 3.379 12 .282

Total 13.843 17

Hasil uji lanjutan Duncan multiple test (DMRT) yang disajikan pada Lampiran 13 menunjukkan bahwa pelapis bambu petung tidak berbeda nyata dengan pelapis bambu kuning, tali, dan belangke, tetapi berbeda nyata dengan pelapis bambu lemang dan kontrol. Pelapis bambu lemang tidak berbeda nyata dengan pelapis bambu kuning dan kontrol, tetapi berbeda nyata dengan lainnya.

Berdasarkan nilai yang dihasilkan dan mengacu pada standar SNI 03-2105-2006 Seluruh variasi papan partikel memenuhi standar minimum dengan nilai standar IB sebesar 1,5 kg/cm2

Skoring Papan Partikel

Pada penelitian ini dilakukan skoring papan partikel untuk menentukan papan partikel terbaik melalui hasil skoring dengan melibatkan parameter uji fisis dan mekanis serta keterpenuhan parameter tersebut berdasarkan standar yang digunakan. Skoring papan partikel disajikan pada Tabel 3. Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa papan partikel dengan pelapis bambu belangke memiliki nilai skoring tertinggi sehingga dapat disimpulkan bahwa papan terbaik yang dihasilkan pada penelitian ini adalah papan partikel dengen pelapis bambu belangke.

Tabel 10. Skoring papan partikel

Sifat fisis dan mekanis papan partikel

Kontrol Belangke Tali Petung Kuning Lemang

Nilai Skor Nilai Skor Nilai Skor Nilai Skor Nilai Skor Nilai Sk

●Nilai rata-rata 19520 1 63158,1 8

Dokumen terkait