4.1 Sejarah Perusahaan
PT. Socfin Indonesia (disingkat PT. Socfindo) berdiri sejak tahun 1926 dengan nama Socfin Medan SA (Societe Financiere Des Caunthous Medan Societe Anoyme). Didirikan berdasarkan Akte Notaris William Leo No. 45 tanggal 7 Desember 1930 yang berkedudukan di Medan yang mengelola perusahaan perkebunan di provinsi Sumatra Utara dan Aceh.
Pada tahun 1960 pemerintah Republik Indonesia menjalin hubungan kerjasama dengan investor-investor yang berasal dari belgia yang bergabung dalam Plantation Nort Sumatra dengan maksud untuk mendirikan suatu perusahaan patungan yang diberi nama Socfin Medan SA yang berorientasi pada hasil kerja dari suatu area perkebunan yang berkedudukan di kota Medan (Sumatra Utara) dengan kawasan yang mencakup daerah perkebunan khususnya Sumatra Utara dan Aceh.
Berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia No. 6 tahun 1965 dengan instruksi-instruksi yang ada memutuskan bahwa Socfin Medan SA, Belgia yang dinyatakan sebagai suatu perusahaan perkebunan yang berada dibawah pengawasan Pemerintah Republik Indonesia. Berdasarkan keputusan yang dikeluarkan Pemerintah Republik Indonesia tahun 1968 di Jakarta No. E3-/Pers/6/94/KPTS/OP/8/1968 Socfin Medan SA berubah nama menjadi PT. Socfin Indonesia (PT. Socfindo), yaitu perusahaan patungan yang berkedudukan dikota Medan dengan mengadakan perbandingan
modal yaitu, (a). Plantation Nort Sumatra, Belgia 60 persen dan (b). Pemerintah Republik Indonesia 40 persen.
Pada tanggal 31 Desember 2001 sejalan dengan privatisasi beberapa BUMN oleh pemerintah RI telah terjadi perubahan kepemilikan saham PT. Socfindo yaitu, (a). Plantation Nort Sumatra, Belgia 90 persen dan (b). Pemerintah Republik Indonesia 10 persen.
PT. Socfindo berkantor pusat di Jl. KL Yos Sudarso No. 106 Medan. Wilayah perkebunannya yang berada di provinsi Aceh yang diusahakan PT. Socfindo disajikan pada tabel 2 :
Tabel 2. Wilayah Perkebunan Provinsi Aceh
Komoditas Provinsi Kecamatan Perkebunan Luas Area (ha) Kelapa Sawit Aceh Kejuruan Muda Sei Liput 3 659.58
Aceh Singkil Lae Butar 4 44o.56 Darul Makmur Seumanyam 4 475.31 Kuala Pesisir Seunagan 4 851.99
Jumlah 17 427.44
Sumber : Departemen Tanaman PT. Socfindo, 2013
Batas-batas wilayah perkebunan PT. Socfindo Seumanyam adalah : 1. Sebelah Utara berbatasan dengan Gampong Alue-Wakie
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Gampong Simpang Deli dan Gampong Panton Bayu
3. Sebelah Timur berbatasan dengan PT. Kalista Alam 4. Sebelah Barat berbatasan dengan Gampong Alue-Bilie
4.1.1 Pembukaan Lahan Perkebunan Kelapa Sawit
Dibukanya lahan perkebunan kelapa sawit milik NV. Socfin (saat ini sudah berubah menjadi PT. Socfindo) pada awal tahun 1920 di daerah Seumanyam dan Seunagan Kabupaten Nagan Raya, yang pada awalnya merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Barat. Pilihan kebun dilokasi tersebut dimungkinkan karena keamanan yang sudah terjamin untuk investasi dan kondisi lahan yang berbentuk dataran dan hutan tegakan dilahan kering yang memungkinkan pertumbuhan produksi sawit bisa maksimal.
Ketika itu crude oil yang dihasilkan kelapa sawit baru saja dikembangkan dan teknologi budidaya dan proses kilangnya juga masih sangat sederhana. Crude sebagai alternatif minyak goreng masih kalah pamor dengan minyak kelapa dan arealnya, terutama di Hindia Belanda dan Malaka juga masih terbatas.
Paska kemerdekaan, ketika semua perusahaan perkebunan Belanda mengalami nasionalisasi menjadi Perusahaan Negara Perkebunan (PNP), NV Socfin luput dari nasionalisasi karena merupakan perusahaan milik partikulir murni dan tidak memiliki keterkaitan saham dengan perusahaan Belanda manapun. Kebun Seumanyam dan Kebun Seunagan untuk saat ini berada persis di ruas Jalan Meulaboh-Tapaktuan, mulai dibangun pada pertengahan tahun 1920 usai penaklukan Aceh oleh Belanda.
Sampai dengan tahun 1990-an hutan rawa gambut tripa masih tetap utuh, Pembangunan ruas jalan Meulaboh-Tapaktuan sepanjang 225 km yang dibangun pertengahan tahun 1980 tidak membuka kawasan rawa, karena sepanjang 45 km digeser lebih keatas untuk menghindari kawasan rawa.
4.1.2. Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan
Pelaksanaan pekerjaan di Perkebunan Seumanyam dipimpin oleh seorang Pengurus yang bertanggung jawab kepada Group Manager. Pengurus memimpin seluruh kegiatan yang di lakukan di lapangan, pabrik, dan administrasi. Dalam kegiatan dilapangan dan pabrik Pengurus dibantu oleh Asisten Kepala (Askep), Asisten Divisi, Tekniker I (Kepala Pabrik), dan Tekniker II. Dalam bidang adminstrasi Pengurus dibantu oleh seorang Kepala Tata Usaha (KTU).
Group Pengurus
Askep Tekniker-I
Asisten Tekniker-II
Mandor I Atas Mandor I
Bawah Mandor
Kerani Perawat
Gambar 4.1. Struktur Organisasi Perkebunan PT. Socfindo Seumanyam
Tugas Pokok (job description) dari Pengurus meliputi : (1) Pengurus memiliki tugas dan kewajiban untuk menyusun anggaran tahunan yang meliputi prediksi produksi, rencana kerja, kebutuhan tenaga kerja dan kebutuhan biaya dengan berpedoman kepada tuntutan Management dan disesuaikan dengan kebutuhan lapangan dan pabrik; (2) Pengurus melaksanakan pekerjaan sesuai instruksi Management dan Budget yang telah disetujui Management dengan mengoptimalkan kerja sama dengan seluruh Staf, Pegawai, dan karyawan; (3) Pengurus mengontrol produksi, pengolahan, pemeliharaan lapangan dan pabrik berdasarkan standar mutu kerja perusahaan.
Asisten Kepala (Askep) memiliki tugas untuk mengkordinir asisten dalam hal penyebaran tenaga kerja, membantu Pengurus dalam hal penyusunan anggaran (Budget) tahunan, pengamanan kebun, dan mengontrol pekerjaan asisten divisi dalam hal produksi, perawatan tanaman, dan adminstrasi divisi, serta melakukan perbaikan terus-menerus di kebun. Askep juga bertugas untuk mengambil alih pekerjaan apabila Pengurud dan Asisten Divisi sedang cuti. Askep dalam kinerjanya bertanggung jawab kepada Pengurus.
Asisten Divisi memiliki tugas untuk membuat rencana kerja harian, bulanan, dan laporan bulanan. Asisten divisi juga memiliki tugas untuk
memberikan instruksi kerja kepada mandor-mandor, mantra-mantri dan krani-krani setiap pagi (antrian pagi), mengawasi pelaksanaan dan disiplin kerja di lapangan sesuai dengan instruksi dan rencana kerja yang telah direncanakan, serta mengawasi mutu dan output setiap jenis pekerjaan di lapangan. Selain itu tugas Asisten Divisi juga menjamin hasil produksi sampai ke pabrik dan bertanggung jawab terhadap keamanan di divisinya. Asisten Divisi dibantu oleh mandor I (produksi dan perawatan), kerani keliling, kerani buah (bunch recorder), kerani transport (opas kantor). Mandor I produksi membawahi mandor panen dan mandor tunas. Mandor I perawatan membawahi mandor pupuk, mandor semprot, mandor Bongkar Tanaman Pengganggu (BTP), dan mandor Kasatri (apabila ada tanaman belum menghasilkan). Dalam hal administrasi Asisten Divisi dibantu oleh kerani keliling.
Proses pengolahan di pabrik dipimpin oleh seorang Tekniker-I yang bertanggung jawab atas seluruh aktivitas di pabrik, seperti
mengendalikan/mengawasi proses pengolahan, dan
mengendalikan/mengawasi pemeliharaan mesin-mesin dan bangunan pabrik. Dalam kinerjanya Tekniker-I dibantu oleh Tekniker-II yang mempunyai tugas membantu Tekniker-I dalam mengendalikan/mengawasi proses pengolahan di pabrik, mengendalikan/mengawasi pemeliharaan mesin-mesin dan bangunan pabrik, dan mengendalikan adminstrasi produksi, tenaga kerja, transport, dan gudang. Seorang Tekniker-II dibantu oleh kerani pabrik, mandor transport, dan operator-operator mesin yang ada di pabrik.
Seorang KTU bertanggung jawab terhadap pelaksanaan administrasi keuangan bulanan dan tahunan kebun, membuat laporan penerimaan dan pengeluaran (cash flow) kebun, dan mengumpulkan data-data untuk penyusunan anggaran biaya (budget) kebun. Dalam kinerjanya seorang KTU dibantu oleh beberapa pegawai dan karyawan kantor besar Perkebunan Seumanyam. Struktur organisasi Perkebunan Seumanyam dapat dilihat pada lampiran.
Sistem ketenagakerjaan Perkebunan Seumanyam mempunyai pekerja staf dan non staf. Pekerja staf terdiri dari Pengurus, Asisten Kepala (Askep), Asisten Divisi, Tekniker-I dan Tekniker-II. Sedangkan pekerja non staf terdiri dari Karyawan Harian Tetap (KHT), mandor dan pegawai.
Pekerja di Perkebunan Seumanyam memiliki 6 hari kerja setiap minggunya dengan total jam kerja 40 jam/minggu yang terdiri dari jam kerja setiap harinya untuk I HK yaitu 7 jam/hari, kecuali hari jum’at yaitu 5 jam/hari. Waktu kerja setiap harinya adalah pukul 06.30-14.00 (dengan waktu istirahat pukul 09.00-09.30), sedangkan untuk hari jum’at waktu kerjanya adalah pukul 06.30-12.00 (dengan waktu istirahat pukul 09.00-09.30).
Sistem pembayaran dan jumlah upah pekerja di Pekerbunan Seumanyam berbeda-beda pada setiap jabatan pekerja. Pekerja staf menerima upah pada akhir bulan setiap bulannya, sedangkan untuk pekerja non staf menerima upah dua kali dalam sebulan, yaitu upahan besar (tanggal 5 tiap bulannya) dan upahan kecil (tanggal 19 tiap bulannya). Selain itu, pekerja staf maupun non staf mendapatan bonusan pada setiap tahunnya.
Untuk upah yang dibayarkan, upah pekerja staf perkebunan sepenuhnya ditentukan oleh Payroll Departement PT. Socfindo, sedangkan untuk pekerja non staf pembayaran upah berbeda-beda tergantung pada tingkat golongannya. Perbedaan terletak pada jumlah upah dan tunjangan yang ditetapkan oleh PT. Socfindo. Ketentuan pembayaran upah yang dilakukan oleh perusahaan adalah :
Mandor/Pegawai: 1) Mendapatkan upah terendah (golonganI/1) seberapa Rp 1 644 800,00/ buan dan mendapatkan upah tertinggi (golongan VIII/10) sebesar Rp 2 974 100,00/ bulan ditambah dengan premi apabila pekerjaan melebihi dari output yang telah ditentukan oleh perusahaan 2) Mendapatkan tunjangan beras, 3) mendapat fasilitas rumah dan listrik, 4) Mendapatkan tunjangan JAMSOSTEK dan tunjangan biaya kesehatan apabila sakit.
Karyawan Harian Tetap: 1) Upah minimal per bulan dihitung sesuai dengan UMR perusahaan yaitu Rp 1 500 000,00/ bulan ditambah dengan premi apabila pekerjaan melebihi dari output yang telah ditentukan oleh perusahaan, 2) Mendapatkan tunjangan beras, 3) Mendapatkan fasilitas rumah dan listrik, 4) Mendapatkan tunjangan JAMSOSTEK dan fasilitas biaya kesehatan apabila sakit.
4.1.3 Fasilitas Kebun
Untuk kegiatan operasional, Perkebunan Seumanyam mempunyai Pabrik Kelapa Sawit (PKS), satu unit kantor pengurus untuk mengelola kegiatan administrasi yang dilengkapi dengan computer dan sistem Aplikasi Harvest,
kantor divisi pada setiap divisi, gudang pupuk, gudang material, dan gudang pembantu di setiap divisi.
Untuk meningkatkan produktivitas pekerja dalam bekerja, Perkebunan Seumanyam menyediakan fasilitas kesehatan (Poliklinik), olahraga (lapangan sepak bola, voli, tenis, dan bulu tangkis), Masjid, Tempat Penitipan Anak (TPA) dll.
4.1.4 Masyarakat di Sekitar Perkebunan
Masyarakat desa yang ada di sekitar perusahaan perkebunan membangun seperti lahan pertanian dan perkebunan kelapa sawit. Proses konversi atau pembukaan lahan pada umunya terjadi setelah tahun 1980 dan marak setelah tahun 1990. Konversi yang dilakukan oleh masyarakat dilakukan didalam dan di areal yang telah menjadi konsesi/HGU (Hak Guna Usaha) menunda proes penanaman kelapa sawit karena berbagai hal utamanya adalah keterbatasan modal dan gangguan keamanan. Konversi lahan yang dilakukan oleh masyarakat pada tahun 1980-an utamanya dipergunakan untuk membuka lahan pertanian (sawah dan non sawah), setelah tahun 2000, banyak masyarakat yang ikut membuka lahan untuk dijadikan kebun kelapa sawit milik swadaya.
Perkebunan Kelapa Sawit telah memberikan dampak ekonomi yang cukup besar terutama dalam hal perubahan mata pencaharian, perubahan pendapatan, peluang kerja dan usaha serta kemajuan daerah.Dari segi pemilikan lahan terdapat perubahan, yaitu lahan garapan masyarakat yang berada di areal HGU perusahaan yang kemudian diganti rugi oleh perusahaan atau lahan garapan milik masyarakat yang di pindah tangankan diantara masyarakat. Lahan-lahan
garapan milik masyarakat di Kecamatan Darul Makmur banyak yang sudah dijual kepada masyarakat dari luar seperti Banda Aceh dan sekitarnya.
Perubahan mata pencaharian terjadi karena lahan pertanian masyarakat dirubah menjadi perkebunan kelapa sawit baik oleh masyarakat sendiri atau oleh perusahaan. Sebagian besar masyarakat pada awal mulanya bekerja sebagai petani sawah (non sawah) atau palawija berubah menjadi petani sawit, bekerja diperusahaan kelapa sawit, menjadi buruh bongkar muat kelapa sawit, sopir pengangkut buah, serta menjadi pedagang/toke kelapa sawit.
Perubahan mata pencaharian tersebut secara umum juga merubah pendapatan masyarakat baik dari segi jumlah maupun pola. Pola pendapatan masyarakat sebagai petani sawah dan palawija yang pada awalnya bersifat musiman, berubah menjadi pendapatan dua mingguan atau bulanan setelah masyarakat membudidayakan kelapa sawit.
Pendapatan masyarakat dari berkebun kelapa sawit lebih besar. Hal ini disebabkan karena untuk membudidayakan kelapa sawit hanya diperlukan satu kali investasi besar dan seterusnya hanya diperlukan pemupukan dan pemeliharaan.
Perkebunan kelapa sawit juga berdampak pada peningkatan lapangan kerja dan kesempatan berusaha. Lapangan kerja yang paling besar berasal dari perusahaan kelapa sawit yang ada, sedangkan kesmpatan usaha utama timbul dari penyediaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan kebun sawit milik masyarakat, perkebunan sawit milik perusahaan dan karyawan yang bekerja diperusahaan.
Analisis ini digunakan sebagai alat analisis pengaruh nilai terhadap variabel terikat yaitu pendapatan karyawan (Y) dengan variabel bebas yaitu Jam Kerja (X1), Pengalaman Kerja (X2), dan Pendidikan (X3). Adapun besaran variable bebas (x) dan variable terikat (y) pada analisis regresi linear berganda dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3. Analisis Regresi Linear Berganda
Model Unstandardized Coeffients
B Std. Error
Constant 0,925 1,056
X1 0,264 0,029
X2 0,193 0,030
X3 0,067 0,020
Sumber : Data primer diolah, 2013
Berdasarkan tabel 2 dapat dibuat persamaan regresi linear berganda yaitu sebagai berikut :
Y = 0,925+ 0,264 X1+ 0,193 X2+ 0,067X3
Dari persamaan diatas dapat diketahui adanya pengaruh antara pendapatan karyawan (y) dengan variabel bebas yaitu Jam Kerja (X1), pengalaman kerja (X2) dan pendidikan (X3).
1. Konstanta (a)
Jika semua variabel (X1, X2dan X3) memiliki nilai nol (0) maka nilai pendapatan karyawan (Y) sebesar0,925.
2. Jam Kerja (X1) terhadap pendapatan (Y)
Nilai koefisien untuk variabel X1sebesar 0,264 hal ini berarti bahwa setiap kenaikan X1satu satuan jam kerja (jam) maka pendapatan (Rp) akan naik
sebesar 0,264dengan asumsi variabel bebas yang lain dari model regresi linear berganda adalah tetap.
3. Pengalaman Kerja (X2) terhadap pendapatan (Y)
Nilai koefisien untuk variabel X2sebesar 0,193 hal ini berarti bahwa setiap kenaikan X2satu satuan pengalaman kerja (Tahun) maka pendapatan (Rp) akan naik sebesar 0,193 dengan asumsi variabel bebas yang lain dari model regresi linear berganda adalah tetap.
4. Pendidikan (X3) terhadap pendapatan (Y)
Nilai koefisien untuk variabel X3sebesar 0,067 hal ini berarti bahwa setiap kenaikan X3satu satuan pendidikan maka pendapatan (Rp) akan naik sebesar 0,067 dengan asumsi variabel bebas yang lain dari model regresi linear berganda adalah tetap.
4.3Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi digunakan untuk menyatakan besar kecilnya sumbangan variabel X (Jam Kerja, Pengalaman Kerja, dan Pendidikan terhadap variabel Y (Pendapatan Karyawan).
Tabel4. Analisis Koefisien Determinasi (R2)
Model R RSquare Adjusted RSquare Std. Error Of the Estimate
1 0,787 0,619 0,612 0,780
Sumber : Data diolah, 2013
Tabel diatas dapat menjelaskan variasi dari variabel Independen (X) mampu menjelaskan sebesar 61,2 % variasi variabel dependen (Y).
Sedangkan 38,8 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.
4.4Pembuktian Hipotesis
Untuk mengetahui pembuktian hipotesis dalam penelitian ini dapat dilihat dengan menggunakan pengujian secara bersama-sama yaitu uji F dan pengujian parsial yaitu uji t. Adapun hasil pengujian sebagai berikut :
4.4.1.Uji F
Uji f dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara bersama-sama. Harga f hitung 83,935 sementara harga f tabel untuk taraf kesalahan 5 % dk pembilang = 3 df = 155 maka diperoleh harga f tabel 2,70 Dengan demikian F hitung > F tabel. Apabila F hitung > F tabel perhitungan terhadap variabel independen dapat disimpulkan bahwa variabel independen secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap pendapatan karyawan.
4.4.2.Uji t
Uji t merupakan uji parsial untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel X terhadap variabel Y yang akan di uji secara satu per satu. Ketentuan pengujian apabila t hitung lebih besar dari pada t tabel maka pengujian secara parsial yang ditemukan berpengaruh secara nyata.
Tabel5. Perhitungan Nilai t hitung
Model t hitung t tabel
Jam Kerja (X1) 9,222 1,974
Pengalaman Kerja (X2)
6,422 1,974
Pendidikan (X3) 3,292 1,974
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa semua variabel mempengaruhi pendapatan karyawan PT. Socfindo Seumanyam hanya saja untuk variabel jam kerja X1memiliki pengaruh lebih besar terhadap pendapatan karyawan. Hal ini dipengaruhi oleh perbandingan t hitung9,222>t tabel1,974.
4.5 Implikasi
Berdasarkan penelitian ini, pada masa yang akan datang apabila seorang manajer berkeinginan meningkatkan pendapatankaryawannya, maka tindakan yang harus dilakukan adalah memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Memperhatikan masa kerja. Denganmemiliki masa kerja yang lama, maka pengalaman dan keahlian dalam bekerjajuga akan meningkat.
2. Penyesuaian antara pendapatan yang diterima karyawan dengan tugas dan tanggung jawab yang dibebankan, pendidikan yang dimiliki, dan kemampuan daya beli dalam memenuhi kebutuhan hidup selama ini. Karena apabila gaji, insentif dan tunjangan yang diberikan pada karyawan memadai maka akan mendorong karyawan lebih semangat dan lebih tenang dalam bekerja disebabkan kebutuhan hidupnya dapat terpenuhi. Disamping itu ketepatan waktu pemberian gaji, insentif dan tunjangan karyawan harus lebih diperhatikan.
3. Disiplinkerja harus tetap dipertahankan bahkan lebih baik lagi apabila ditingkatkan.
4. Kesehatan karyawan harus tetap dijaga, dan perusahaan hendaknya lebih memperhatikan kesehatan karyawan dengan cara memberikan kompensasi yang layak agar karyawan dapat memenuhi kebutuhan kesehatannya.
5. Motivasi kerja karyawan harus tetap dijaga sebab apabila motivasi sekarang karyawan tinggi akan mendorong karyawan tersebut untuk lebih giat dan bersemangat dalam bekerja.