• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil penelitian menunjukka n bahwa konsentrasi karbondioksida dan sukrosa memberikan pengaruh terhadap parameter yang diamati. Pengaruh konsentrasi karbondioksida dan sukrosa terhadap parameter yang diamati dapat dijelaskan di bawah ini.

Pengaruh konsentrasi karbondioksida terhadap parameter yang diamati

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi karbondioksida memberikan pengaruh terhadap total asam, pH, kadar vitamin C, total padatan terlarut dan uji organoleptik (warna, aroma dan rasa) minuman ringan rosela yang dihasilkan.

Pengaruh konsentrasi karbondioksida terhadap parameter yang diamati dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Pengaruh konsentrasi karbondioksida terhadap parameter yang diamati Konsentrasi karbondioksida (ppm) TPT (OBrix) Total Asam (%) KVC (mg/100 gr bhn) pH Warna Aroma Dan Rasa C1 = 0 12,93 1,63 60,23 5,19 3,27 3,07 C2 = 1000 14,33 1,57 53,42 5,30 3,42 3,16 C3 = 2000 14,50 1,46 51,84 5,42 3,43 3,23 C4 = 3000 14,99 1,38 51,56 5,51 3,54 3,31 Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa konsentrasi karbondioksida memberikan pengaruh terhadap parameter yang diuji. Total padatan terlarut (TPT) yang tertinggi terdapat pada perlakuan C4 (3000 ppm) yaitu sebesar 14,99 oBrix dan terendah terdapat pada perlakuan C1 (0 ppm) yaitu sebesar 12,93 oBrix. Total asam tertinggi terdapat pada perlakuan C1 (0 ppm) yaitu sebesar 1,63% dan terendah terdapat pada perlakuan C4 (3000 ppm) yaitu sebesar 1,38%. Kadar vitamin C Uji Organoleptik

yang tertinggi terdapat pada perlakuan C1 (0 ppm)yaitu sebesar 60,23 mg/100 g bahan dan terendah terdapat pada perlakuan C4 (3000 ppm) yaitu sebesar 51,56 mg/100 g bahan. pH tertinggi terdapat pada perlakuan C4 (3000 ppm) yaitu sebesar 5,51 dan terendah terdapat pada perlakuan C1 (0 ppm) yaitu sebesar 5,19. Uji Organoleptik terhadap warna tertinggi terdapat pada perlakuan C4 (3000 ppm) yaitu sebesar 3,54 dan terendah terdapat pada perlakuan C1 (0 ppm) yaitu sebesar 3,27. Uji Organoleptik terhadap aroma dan rasa tertinggi terdapat pada perlakuan C4 (3000 ppm) yaitu sebesar 3,31 dan terendah terdapat pada perlakuan C1 (0 ppm) yaitu sebesar 3,07.

Pengaruh konsentrasi sukrosa terhadap parameter yang diamati

Hasil penelitian menunjukka n bahwa konsentrasi sukrosa memberikan pengaruh terhadap total asam, pH, kadar vitamin C, total padatan terlarut dan uji organoleptik (warna, aroma dan rasa) minuman ringan rosela yang dihasilkan.

Pengaruh konsentrasi sukrosa terhadap parameter yang diamati dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Pengaruh konsentrasi sukrosa terhadap parameter yang diamati Konsentrasi Sukrosa (%) TPT (oBrix) Total Asam (%) KVC (mg/100 gr bhn) pH Warna Aroma Dan Rasa S1 = 0 1,53 1,75 59,92 5,28 3,07 2,73 S2 = 10 10,45 1,63 56,58 5,30 3,40 3,22 S3 = 20 19,03 1,47 51,50 5,35 3,50 3,40 S4 = 30 25,74 1,31 49,04 5,49 3,69 3,41

Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa konsentrasi sukrosa memberikan pengaruh terhadap parameter yang diuji. Total padatan terlarut (TPT) yang tertinggi terdapat pada perlakuan S4 (30 %) yaitu sebesar 25,74 oBrix dan terendah Uji Organoleptik

terdapat pada perlakuan S1 (0 %) yaitu sebesar 1,53 oBrix. Total asam tertinggi terdapat pada perlakuan S1 (0 %) yaitu sebesar 1,75% dan terendah terdapat pada perlakuan S4 (30 %)yaitu sebesar 1,31%. Kadar vitamin C yang tertinggi terdapat pada perlakuan S1 (0 %)yaitu sebesar 59,92 mg/100 g bahan dan terendah terdapat pada perlakuan S4 (30 %) yaitu sebesar 49,04 mg/100 g bahan. pH tertinggi terdapat pada perlakuan S4 (30 %) yaitu sebesar 5,49 dan terendah terdapat pada perlakuan S1 (0 %) yaitu sebesar 5,28. Uji Organoleptik terhadap warna tertinggi terdapat pada perlakuan S4 (30 %) yaitu sebesar 3,69 dan terendah terdapat pada perlakuan S1 (0 %) yaitu sebesar 3,07. Uji Organoleptik terhadap aroma dan rasa tertinggi terdapat pada perlakuan S4 (30 %) yaitu sebesar 3,41 dan terendah terdapat pada perlakuan S1 (0 %) yaitu sebesar 2,73.

Total Padatan Terlarut (oBrix)

Pengaruh konsentrasi karbondioksida terhadap total padatan terlarut (oBrix)

Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 1) dapat dilihat bahwa konsentrasi karbondioksida memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap total padatan terlarut (TPT) minuman ringan rosela yang dihasilkan.

Hasil uji LSR terhadap total padatan terlarut dari setiap perlakuan dengan konsentrasi karbondioksida dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Uji LSR efek utama pengaruh konsentrasi karbondioksida terhadap total padatan terlarut (oBrix)

Jarak LSR Konsentrasi Rataan Notasi

0.05 0.01 Karbondioksida 0.05 0.01

- - - C1 = 0 ppm 12.93 b B

2 0.850 1.170 C2 = 1000 ppm 14.33 a A

3 0.892 1.229 C3 = 2000 ppm 14.50 a A

4 0.915 1.260 C4 = 3000 ppm 14.99 a A

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5 % (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1 % (huruf besar)

Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa perlakuan C1 berbeda sangat nyata terhadap C2, C3, dan C4. Perlakuan C2 berbeda tidak nyata terhadap perlakuan C3

dan C4. Perlakuan C3 berbeda tidak nyata terhadap C4. Total padatan terlarut tertinggi terdapat pada perlakuan C4 yaitu sebesar 14,99 oBrix dan terendah terdapat pada perlakuan C1 yaitu sebesar 12.93 oBrix.

Hubungan konsentrasi karbondioksida terhadap total padatan terlarut dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Hubungan konsentrasi karbondioksida terhadap total padatan terlarut (TPT) minuman ringan rosela

Dari Gambar 2 dapat dilihat bahwa pada perlakuan C4 dengan konsentrasi karbondioksida 3000 ppm memiliki total padatan terlarut tertinggi dan terendah pada perlakuan C1 dengan konsentrasi karbondioksida 0 ppm. Semakin tinggi konsentrasi karbondioksida maka total padatan terlarut semakin meningkat. Hal ini sesuai pendapat (Affandi, 2009) yang menyatakan bahwa karbondioksida memiliki sifat kelarutan yang tinggi, sehingga dapat mengikat partikel-partikel zat seperti asam yang menyebabkan total padatan terlarutnya semakin meningkat.

Pengaruh konsentrasi sukrosa terhadap total padatan terlarut (oBrix)

Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 1) dapat dilihat bahwa konsentrasi sukrosa memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap total padatan terlarut minuman ringan rosela yang dihasilkan.

Hasil uji LSR terhadap total padatan terlarut dari setiap perlakuan dengan konsentrasi sukrosa dapat dilihat pada Tabel 9 .

Tabel 8. Uji LSR efek utama pengaruh konsentrasi sukrosa terhadap total padatan terlarut (oBrix)

Jarak LSR Konsentrasi Rataan Notasi

0.05 0.01 Sukrosa 0.05 0.01

- - - S1 = 0 % 1.53 A A

2 0.850 1.170 S2 = 10 % 10.45 B B

3 0.892 1.229 S3= 20 % 19.03 C C

4 0.915 1.260 S4 = 30 % 25.74 D D

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5 % (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1 % (huruf besar)

Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa perlakuan S1 berbeda sangat nyata terhadap S2, S3 dan S4. Perlakuan S2 berbeda sangat nyata terhadap S3 dan S4. Perlakuan S3 berbeda sangat nyata terhadap S4. Total padatan terlarut tertinggi

terdapat pada perlakuan S4 yaitu sebesar 25,74 oBrix dan terendah pada perlakuan S1 yaitu sebesar 1,53 oBrix.

Hubungan konsentrasi sukrosa terhadap total padatan terlarut dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Hubungan konsentrasi sukrosa terhadap total padatan terlarut (TPT) minuman ringan rosela.

Dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi sukrosa maka total padatan terlarut akan semakin besar. Hal ini dikarenakan sukrosa dapat terlarut sempurna dalam minuman ringan rosela, sehingga semakin banyak sukrosa yang terlarut maka nilai total padatan terlarut semakin tinggi.

Pengaruh interaksi konsentrasi karbondioksida dan sukrosa terhadap total padatan terlarut (oBrix)

Dari daftar sidik ragam (Lampiran 1) dapat dilihat bahwa interaksi antara konsentrasi karbondioksida dan sukrosa memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0.05) terhadap total padatan terlarut minuman ringan rosela yang dihasilkan, dapat dilihat pada Tabel 10 :

Tabel 9. Uji LSR efek utama pengaruh interaksi konsentrasi

karbondioksida dan sukrosa terhadap total padatan terlarut (oBrix)

Jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi 0.05 0.01 0.05 0.01 - - - C1S1 0.60 h H 2 1.699 2.339 C1S2 1.20 fgh FGH 3 1.784 2.458 C1S3 1.30 fgh FGH 4 1.829 2.520 C1S4 3.00 fg FG 5 1.869 2.571 C2S1 10.00 f F 6 1.892 2.605 C2S2 10.60 e E 7 1.909 2.645 C2S3 10.60 e E 8 1.920 2.673 C2S4 10.60 e E 9 1.931 2.696 C3S1 18.50 d D 10 1.943 2.713 C3S2 18.80 d D 11 1.943 2.730 C3S3 19.10 d D 12 1.948 2.741 C3S4 19.70 cd CD 13 1.948 2.753 C4S1 22.30 abc ABC 14 1.954 2.764 C4S2 26.65 ab AB 15 1.954 2.775 C4S3 26.90 b B 16 1.960 2.781 C4S4 27.10 a A

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5 % (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1 % (huruf besar)

Hubungan interaksi antara konsentrasi karbondioksida dan sukrosa terhadap TPT (oBrix) minuman ringan rosela dapat dilihat pada Gambar 4 :

Dari Gambar 4 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi sukrosa dengan konsentrasi karbondioksida yang semakin besar maka total padatan terlarut akan semakin besar dibandingkan dengan kombinasi perlakuan yang lain. Total padatan terlarut tertinggi terdapat pada perlakuan C4 yaitu dengan konsentrasi karbodioksida 3000 ppm dan konsentrasi sukrosa 30 % dan terendah pada perlakuan C1 yaitu konsentrasi karbondioksida 0 ppm dan sukrosa 0 %. Hal ini sesuai dengan pendapat (Tampubolon, 2010) yang menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi sukrosa yang ditambahkan, maka total padatan terlarut semakin meningkat, dan pendapat (Affandi, 2009) yang menyatakan bahwa karbondioksida memiliki sifat kelarutan yang tinggi, sehingga dapat mengikat partikel-partikel zat seperti asam yang menyebabkan total padatan terlarutnya semakin meningkat.

Total Asam (%)

Pengaruh konsentrasi karbondioksida terhadap total asam (%)

Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 2) dapat dilihat bahwa konsentrasi karbondioksida memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0.01) terhadap total asam minuman ringan rosela yang dihasilkan.

Hasil uji LSR terhadap total asam dari setiap perlakuan dengan konsentrasi karbondioksida dapat dilihat pada tabel 11.

Tabel 10. Uji LSR efek utama pengaruh konsentrasi karbondioksida terhadap total asam (%)

Jarak LSR Konsentrasi Rataan Notasi

0.05 0.01 Karbondioksida 0.05 0.01 - - - C1 = 0 ppm 1.63 a A 2 0.123 0.169 C2 = 1000 ppm 1.57 b AB 3 0.129 0.177 C3 = 2000 ppm 1.46 bc BC 4 0.132 0.182 C4 = 3000 ppm 1.38 c C

Dari Tabel 10 dapat dilihat bahwa perlakuan C1 berbeda nyata terhadap perlakuan C2, berbeda sangat nyata terhadap C3 dan C4. Perlakuan C2 berbeda tidak nyata terhadap C3 dan berbeda sangat nyata terhadap C4. Perlakuan C3

berbeda tidak nyata terhadap C4. Total asam tertinggi terdapat pada perlakuan C1

yaitu sebesar 1.63 % dan terendah pada perlakuan C4 yaitu sebesar 1.38 %.

Hubungan konsentrasi karbondioksida terhadap total asam minuman ringan rosela yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Hubungan konsentrasi karbondioksida terhadap total asam minuman ringan rosela.

Dari Gambar 5 diatas dapat dilihat bahwa total asam tertinggi terdapat pada perlakuan C1 yaitu dengan konsentrasi karbondioksida 0 ppm, dan terendah pada

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5 % (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1 % (huruf besar)

perlakuan C4 dengan konsentrasi karbondioksida 3000 ppm. Hal ini disebabkan karena karbondioksida memiliki tingkat kelarutan yang tinggi dan dapat mengikat partikel-pertikel zat seperti asam yang terdapat dalam larutan rosela. Hal ini sesuai pendapat (Affandi, 2009) yang menyatakan bahwa karbondioksida memiliki sifat kelarutan yang tinggi, sehingga dapat mengikat partikel-partikel zat seperti asam.

Pengaruh konsentrasi sukrosa terhadap total asam (%)

Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 2) dapat dilihat bahwa konsentrasi sukrosa memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0.01) terhadap total asam minuman ringan rosela yang dihasilkan.

Hasil uji LSR terhadap total asam dari setiap perlakuan dengan konsentrasi sukrosa dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Uji LSR efek utama pengaruh konsentrasi sukrosa terhadap total asam (%)

Jarak LSR Konsentrasi Rataan Notasi

0.05 0.01 Sukrosa 0.05 0.01

- - - S1 = 0 % 1.75 a A

2 0.123 0.169 S2 = 10 % 1.63 b AB

3 0.129 0.177 S3= 20 % 1.47 bc BC

4 0.132 0.182 S4 =30 % 1.31 c C

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5 % (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1 % (huruf besar)

Dari Tabel 11 dapat dilihat bahwa perlakuan S1 berbeda nyata terhadap perlakuan S2, berbeda sangat nyata terhadap S3 dan S4. Perlakuan S2 berbeda tidak nyata terhadap S3 dan berbeda sangat nyata terhadap S4. Perlakuan S3 berbeda tidak nyata terhadap S4. Total asam tertinggi terdapat pada perlakuan S1 yaitu sebesar 1.75 % dan terendah pada perlakuan S4 yaitu sebesar 1.31 %.

Hubungan konsentrasi karbondioksida terhadap total asam minuman ringan rosela yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 6.

Dari Gambar 6 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi sukrosa yang ditambahkan maka total asam yang diperoleh akan semakin rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat (Poedjiadi, 1994) yang menyatakan bahwa semakin tinggi sukrosa yang terkandung dalam suatu bahan pangan maka total asamnya semakin rendah dan berlaku untuk sebaliknya.

Pengaruh interaksi antara konsentrasi karbondioksida dan sukrosa terhadap total asam (%)

Dari daftar sidik ragam (Lampiran 2) dapat dilihat bahwa interaksi antara konsentrasi karbondioksida dan sukrosa memberikan pengaruh berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap total asam, sehingga uji LSR tidak dilanjutkan.

Kadar Vitamin C (mg/100 g bahan)

Pengaruh konsentrasi karbondioksida terhadap kadar vitamin C

Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 3) dapat dilihat bahwa konsentrasi karbondioksida memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P< 0,05) terhadap kadar vitamin C minuman ringan rosela yang dihasilkan. Hasil uji LSR

Gambar 6. Hubungan konsentrasi sukrosa terhadap total asam minuman ringan rosela.

pengaruh konsentrasi karbondioksida terhadap kadar vitamin C tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 13 .

Tabel 13. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi karbondioksida terhadap kadar vitamin C (mg/100 gr bahan)

Jarak LSR Konsentrasi Rataan Notasi

0.05 0.01 Karbondioksida 0.05 0.01

- - - C1 = 0 ppm 60.23 a A

2 6.067 8.352 C2 = 1000 ppm 53.42 b A

3 6.370 8.777 C3 = 2000 ppm 51.84 b A

4 6.532 8.999 C4 = 3000 ppm 51.56 c AB Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5 % (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1 % (huruf besar)

Dari Tabel 13 dapat dilihat bahwa perlakuan C1 berbeda nyata terhadap C2, C3, dan C4. Perlakuan C2 berbeda tidak nyata terhadap C3 dan berbeda nyata terhadap C4. Perlakuan C3 berbeda nyata terhadap C4. Kadar vitamin C tertinggi terdapat pada perlakuan C1 yaitu sebesar 60,23 mg/100 g bahan dan terendah pada perlakuan C4

yaitu sebesar 51,56 mg/ 100 g bahan.

Hubungan konsentrasi karbondioksida terhadap kadar vitamin C dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8. Hubungan konsentrasi karbondioksida terhadap kadar vitamin C minuman ringan rosela.

Dari Gambar 8 dapat dilihat bahwa semakin banyak konsentrasi karbondioksida maka kadar vitamin C nya semakin rendah, karena vitamin C mudah teroksidasi dalam air dan terjadi penurunan pada proses pengolahan. Hal ini sesuai pendapat (Buckle, et. al., 1987) yang menyatakan bahwa dalam larutan air vitamin C mudah mengalami hidrolisis dan kerusakan yang disebabkan karbondioksida. Kehilangan vitamin C sering terjadi pada pengolahan, pengeringan dan pencahayaan.

Pengaruh konsentrasi sukrosa terhadap kadar vitamin C (mg/ 100 g bahan)

Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 3) dapat dilihat bahwa konsentrasi sukrosa memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P < 0,01) terhadap kadar vitamin C minuman ringan rosela yang dihasilkan. Hasil uji LSR pengaruh konsentrasi sukrosa terhadap kadar vitamin C tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi sukrosa terhadap kadar vitamin C (mg/100 gr bahan)

Jarak LSR Konsentrasi Rataan Notasi 0.05 0.01 Sukrosa 0.05 0.01 - - - S1 = 0 % 59.92 a A 2 6.067 8.352 S2 = 10 % 56.58 ab AB 3 6.370 8.777 S3= 20 % 51.50 bc BC 4 6.532 8.999 S4 = 30 % 49.04 c C

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5 % (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1 % (huruf besar)

Dari Tabel 14 dapat dilihat bahwa perlakuan S1 berbeda tidak nyata terhadap S2, berbeda sangat nyata terhadap S3 dan S4. Perlakuan S2 berbeda tidak nyata terhadap S3 dan berbeda sangat nyata terhadap S4. Perlakuan S3 berbeda ridak nyata terhadap S4. Kadar vitamin C tertinggi terdapat pada perlakuan S1

yaitu sebesar 59.92 mg/ 100 g bahan dan terendah pada perlakuan S4 yaitu sebesar 49.04 mg/ 100 g bahan.

Hubungan konsentrasi sukrosa terhadap kadar vitamin C dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Hubungan konsentrasi sukrosa terhadap kadar vitamin C minuman ringan rosela.

Dari Gambar 9 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi sukrosa maka kadar vitamin C semakin rendah. Hal ini dikarenakan sukrosa dapat mengikat partikel-partikel asam sehingga mengurangi kandungan asam askorbatnya.

Pengaruh interaksi konsentrasi karbondioksida dan sukrosa terhadap kadar vitamin C (mg/ 100 g bahan)

Dari daftar sidik ragam (Lampiran 3) dapat dilihat bahwa konsentrasi karbondioksida dan sukrosa memberikan pengaruh berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap kadar vitamin C, sehingga uji LSR tidak dilanjutkan.

pH

Pengaruh konsentrasi karbondioksida terhadap pH

Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 4) dapat dilihat bahwa konsentrasi karbondioksida memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap derajat keasaman minuman ringan rosela yang dihasilkan.

Hasil uji LSR terhadap derajat keasaman dari setiap perlakuan dengan konsentrasi karbondioksida dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Karbondioksida terhadap pH

Jarak LSR Konsentrasi Rataan Notasi

0.05 0.01 Karbondioksida 0.05 0.01

- - - C1 = 0 ppm 5.19 c C

2 0.141 0.194 C2 = 1000 ppm 5.30 c C

3 0.148 0.204 C3 = 2000 ppm 5.42 b B

4 0.152 0.209 C4 = 3000 ppm 5.51 a A

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5 % (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1 % (huruf besar)

Dari Tabel 15 dapat dilihat bahwa perlakuan C1 berbeda tidak nyata terhadap C2, berbeda sangat nyata terhadap C3 dan C4. Perlakuan C2 berbeda tidak nyata terhadap perlakuan C3, berbeda sangat nyata terhadap C4. Perlakuan C3

berbeda tidak nyata terhadap C4. PH tertinggi terdapat pada perlakuan C4 yaitu sebesar 5,51 dan terendah terdapat pada perlakuan C1 yaitu sebesar 5,19.

Hubungan konsentrasi karbondioksida terhadap pH dapat dilihat pada Gambar 10.

Dari Gambar 10 dapat dilihat bahwa pada perlakuan C4 dengan konsentrasi karbondioksida 30 ppm memiliki pH tertinggi dan terendah pada perlakuan C1 dengan konsentrasi karbondioksida 0 ppm. Semakin tinggi konsentrasi karbondioksida maka pH semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh karbondioksida yang dapat mengikat partikel asam sehingga mengurangi kandungan asam bebasnya.

Pengaruh konsentrasi sukrosa terhadap pH

Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 4) dapat dilihat bahwa konsentrasi sukrosa memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap derajat keasaman minuman ringan rosela yang dihasilkan.

Hasil uji LSR terhadap derajat keasaman dari setiap perlakuan dengan konsentrasi sukrosa dapat dilihat pada Tabel 16.

Gambar 10. Hubungan konsentrasi karbondioksida terhadap pH minuman ringan rosela.

Tabel 16. Uji LSR efek utama pengaruh konsentrasi sukrosa terhadap pH

Jarak LSR Konsentrasi Rataan Notasi

0.05 0.01 Sukrosa 0.05 0.01

- - - S1 = 0 % 5.28 c C

2 0.141 0.194 S2 = 10 % 5.30 c C

3 0.148 0.204 S3= 20 % 5.35 b B

4 0.152 0.209 S4 = 30 % 5.49 a A

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5 % (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1 % (huruf besar)

Dari Tabel 16 dapat dilihat bahwa perlakuan S1 berbeda tidak nyata terhadap S2, berbeda nyata terhadap S3, berbeda sangat nyata terhadap S4. Perlakuan S2 berbeda tidak nyata terhadap S3, berbeda sangat nyata terhadap S4. Perlakuan S3 berbeda tidak nyata terhadap S4. PH tertinggi terdapat pada perlakuan S4 yaitu sebesar 5,49 dan terendah pada perlakuan S1 yaitu sebesar 5,28.

Hubungan konsentrasi sukrosa terhadap pH dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11. Hubungan konsentrasi sukrosa terhadap pH minuman ringan rosela. Dari Gambar 11 dapat dilihat dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi sukrosa maka pH minuman ringan rosela yang dihasilkan semakin tinggi. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa peningkatan derajat keasaman

seiring dengan tingginya konsentrasi sukrosa, ini disebabkan karena sukrosa berfungsi sebagai bahan pengawet. Winarno (1993) menyatakan bahwa konsentrasi bahan pengawet (sukrosa) sangat menentukan pH makanan dan minuman.

Pengaruh interaksi antara konsentrasi karbondioksida dan sukrosa terhadap pH

Dari daftar sidik ragam (Lampiran 4) dapat dilihat bahwa interaksi antara konsentrasi karbondioksida dan sukrosa memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0.01) terhadap pH minuman ringan rosela yang dihasilkan.

Hasil uji LSR pengaruh interaksi konsentrasi karbondioksida dan sukrosa terhadap pH tiap-tiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 17:

Tabel 17. Uji LSR efek utama pengaruh interaksi konsentrasi karbondioksida dan sukrosa terhadap pH

Jarak LSR Perlakuan Rataan Notasi 0.05 0.01 0.05 0.01 - - - C1S1 4.95 e C 2 0.282 0.389 C1S2 5.09 e C 3 0.296 0.408 C1S3 5.21 e C 4 0.304 0.419 C1S4 5.23 d B 5 0.310 0.427 C2S1 5.24 e C 6 0.314 0.433 C2S2 5.25 e C 7 0.317 0.439 C2S3 5.29 d B 8 0.319 0.444 C2S4 5.30 d B 9 0.321 0.448 C3S1 5.38 d B 10 0.323 0.451 C3S2 5.43 d B 11 0.323 0.453 C3S3 5.45 cd B 12 0.324 0.455 C3S4 5.47 bcd B 13 0.324 0.457 C4S1 5.49 cd B 14 0.325 0.459 C4S2 5.57 abc AB 15 0.325 0.461 C4S3 5.60 ab AB 16 0.326 0.462 C4S4 5.75 a A

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5 % (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1 % (huruf besar)

Dari Tabel 17 dapat dilihat bahwa pH tertinggi terdapat pada perlakuan C4S1

yaitu sebesar 5,75 dan terendah pada perlakuan C3S3 sebesar 5,09.

Hubungan interaksi konsentrasi karbondioksida dan sukrosa terhadap pH dapat dilihat pada Gambar 12.

Dari Gambar 12 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi sukrosa dengan konsentrasi karbondioksida yang semakin besar maka pH akan semakin tinggi dibandingkan kombinasi perlakuan yang lain. PH tertinggi terdapat pada perlakuan C4 yaitu dengan konsentrasi karbondioksida 3000 ppm, sukrosa 30 % dan terendah pada perlakuan C1 yaitu dengan konsentrasi karbondioksida 0 ppm, sukrosa 0 %. Dengan konsentrasi sukrosa yang lebih tinggi, pH bahan tidak mengalami perubahan yang drastis karena sukrosa berfungsi sebagai bahan pengawet yang sangat menentukan pH minuman ringan rosela. Hal ini sesuai dengan pernyataan Winarno (1993) yang menyatakan bahwa komposisi bahan Gambar 12. Hubungan interaksi konsentrasi karbondioksida dan sukrosa terhadap pH minuman ringan rosela.

makanan sangat penting karena konsentrasi bahan pengawet sangat menentukan pH makanan dan minuman.

Uji Organoleptik Warna

Pengaruh konsentrasi karbondioksida terhadap uji organoleptik warna

Dari daftar sidik ragam (Lampiran 5) dapat dilihat bahwa konsentrasi karbondioksida memberikan pengaruh berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap uji organoleptik warna minuman ringan rosela yang dihasilkan. Sehingga uji LSR tidak dilanjutkan.

Pengaruh konsentrasi sukrosa terhadap uji organoleptik warna

Dari daftar sidik ragam (Lampiran 5) dapat dilihat bahwa konsentrasi sukrosa memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap uji organoleptik warna minuman ringan rosela yang dihasilkan. Hasil uji LSR terhadap uji organoleptik warna dari setiap perlakuan dengan konsentrasi sukrosa dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Sukrosa terhadap Organoleptik Warna Jarak LSR Konsentrasi Sukrosa Rataan Notasi 0.05 0.01 0.05 0.01 - - - S1 = 0 % 3.07 c C 2 0.382 0.526 S2 = 10 % 3.40 b B 3 0.401 0.552 S3= 20 % 3.50 b B 4 0.411 0.566 S4 = 30 % 3.69 a A

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5 % (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1 % (huruf besar)

Dari Tabel 18 dapat dilihat bahwa perlakuan S1 berbeda sangat nyata terhadap S2, S3, dan S4. Perlakuan S2 berbeda tidak nyata terhadap S3 dan berbeda

sangat nyata terhadap S4. Perlakuan S3 berbeda sangat nyata terhadap S4. Nilai uji organoleptik warna tertinggi terdapat pada perlakuan S4 yaitu sebesar 3,69 dan terendah terdapat pada perlakuan S1 yaitu sebesar 3,07.

Hubungan konsentrasi sukrosa terhadap uji organoleptik warna minuman ringan rosela yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 13.

Dari Gambar 13 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi sukrosa pada perlakuan S4 menyebabkan warna dari minuman ringan rosela tersebut merah dan lebih pekat dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Hal ini dikarenakan sukrosa dengan konsentrasi yang tepat dapat terlarut sempurna didalam minuman ringan rosela sehingga tidak menyebabkan kekeruhan dan warnanya menjadi lebih baik.

Pengaruh interaksi antara konsentrasi karbondioksida dan sukrosa terhadap uji organoleptik warna

Dari daftar sidik ragam (Lampiran 5) dapat dilihat bahwa interaksi antara konsentrasi karbondioksida dan sukrosa memberikan pengaruh berbeda tidak

Gambar 13. Hubungan konsentrasi sukrosa terhadap uji organoleptik warna minuman ringan rosela.

nyata (P>0,05) terhadap uji organoleptik warna minuman ringan rosela yang dihasilkan. Sehingga uji LSR tidak dilanjutkan.

Uji Organoleptik Aroma dan Rasa

Pengaruh konsentrasi karbondioksida terhadap uji organoleptik aroma dan rasa

Dari daftar sidik ragam (Lampiran 6) dapat dilihat bahwa konsentrasi karbondioksida memberikan pengaruh berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap uji organoleptik aroma dan rasa minuman ringan rosela yang dihasilkan. Sehingga uji LSR tidak dilanjutkan.

Pengaruh konsentrasi sukrosa terhadap uji organoleptik aroma dan rasa

Dari daftar sidik ragam (Lampiran 6) dapat dilihat bahwa konsentrasi sukrosa memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap uji organoleptik aroma dan rasa minuman ringan rosela yang dihasilkan. Hasil uji LSR terhadap uji organoleptik aroma dan rasa dari setiap perlakuan dengan konsentrasi sukrosa dapat dilihat pada Tabel 19.

Tabel 19. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Sukrosa terhadap Organoleptik Aroma dan Rasa

Jarak LSR Konsentrasi Sukrosa Rataan Notasi 0.05 0.01 0.05 0.01 - - - S1 = 0 % 2.73 c AB 2 0.457 0.629 S2 = 10 % 3.22 b A 3 0.480 0.661 S3= 20 % 3.40 a A 4 0.492 0.678 S4 = 30 % 3.41 a A

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5 % (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1 % (huruf besar)

Dari Tabel 19 dapat dilihat bahwa perlakuan S1 berbeda nyata terhadap S2,

S3, dan S4. Perlakuan S2 berbeda nyata terhadap S3 dan S4. Perlakuan S3 berbeda tidak nyata terhadap S4. Nilai uji organoleptik aroma dan rasa tertinggi terdapat pada perlakuan S4 yaitu sebesar 3,41 dan terendah terdapat pada perlakuan S1

yaitu sebesar 2,73.

Hubungan konsentrasi sukrosa terhadap uji organoleptik aroma dan rasa minuman ringan rosela yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 15.

Dari Gambar 15 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi sukrosa pada perlakuan S4 menyebabkan nilai organoleptik aroma dan rasa dari minuman ringan rosela tersebut semakin meningkat, pada perlakuan S1 nilai organoleptik aroma dan rasa menjadi menurun dikarenakan konsentrasi sukrosa sangat rendah sehingga rasanya terlalu asam dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Hal ini disebabkan adanya interaksi antara rasa manis sukrosa dan asam-asam yang terdapat dalam minuman ringan rosela sehingga dihasilkan aroma dan rasa yang enak serta disukai.

Gambar 15. Hubungan konsentrasi sukrosa terhadap uji organoleptik aroma dan rasa minuman ringan rosela.

Pengaruh interaksi antara konsentrasi karbondioksida dan sukrosa terhadap uji organoleptik aroma dan rasa

Dari daftar sidik ragam (Lampiran 6) dapat dilihat bahwa interaksi antara

Dokumen terkait