• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 2. Rata-Rata Perubahan Bobot Ikan Gurami

Berdasarkan diagram pada Gambar 2. Dapat dilihat perubahan bobot ikan gurami selama 60 hari mengalami peningkatan. Dimana rata-rata di masing- masing perlakuan berkisar antara 6,95 – 17,84 gram. Peningkatan bobot ikan yang tertinggi terdapat pada perlakuan E2P1 yaitu 17,84 gr. Sedangkan peningkatan bobot yang terendah terdapat pada perlakuan E0P3 yaitu 6,95 gr.

Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh setiap perlakuan terhadap pertambahan bobot ikan gurami, maka dilanjutkan dengan uji ANOVA dapat dilihat pada (Lampiran 4) yang hasilnya disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Analisis variasi terhadap bobot (gr) ikan gurami (Osphronemus gouramy) dari H-0 sampai H-60

Source Sum of Squares df

Mean

Square F Sig.

EF (Enzim Fitase) 273,739 2 136,870 7839,030 0,000**

KP (Kadar Protein) 51,843 2 25,921 1530,440 0,000**

EF x KP Total

1,056 43746,63

4 249

0,264 21,176 0,000**

** (Sangat berbeda nyata) (P≤0,01).

Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa nilai sig. sumber variansi enzim fitase dan kadar protein pakan 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa sumber variansi tersebut memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap bobot ikan. Analisis variansi dari SPSS digunakan untuk melihat perbedaan secara signifikan antar rata-rata perlakuan secara keseluruhan. Dari nilai signifikansi Dosis Enzim Fitase sebesar 0,000 dapat dilihat bahwa nilai lebih kecil dari 0,01 yang artinya Dosis berpengaruh nyata terhadap peningkatan bobot ikan gurami.

Nilai F hitung perlakuan interaksi dosis Enzim fitase dengan kadar protein pakan yaitu 21,176 dimana nilai F hitung lebih besar dari F tabel yang berarti berpengaruh nyata terhadap peningkatan bobot ikan gurami. Analisis variansi

(ANOVA) rata-rata peningkatan bobot ikan gurami dengan menggunakan SPSS yang dapat menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap peningkatan bobot ikan gurami.

Tabel 3. Hasil rata-rata dan standar error perubahan bobot (gr) ikan gurami dari H-10 sampai H-60

Perlakuan Hari

H10 H20 H30 H40 H50 H60

P1

E0P1 1,747b 1,579b 2,556bc 2,537a 2,774b 3,067c

±0,136 ±0,144 ±0,109 ±0,147 ±0,110 ±0,128 E0P2 1,510ab 1,247ab 2,205ab 2,386a 3,042b 2,538b

±0,131 ±0,102 ±0,096 ±0,195 ±0,140 ±0,155 E0P3 1,227a 1,071a 1,973a 2,324a 2,339a 2,037a

±0,132 ±0,089 ±0,154 ±0,075 ±0,146 ±0,132

P2

E1P1 1,723b 1,548b 2,634c 2,524a 2,730b 3,074c

±0,150 ±0,130 ±0,111 ±0,137 ±0,108 ±0,156 E1P2 1,516ab 1,292ab 2,216ab 2,504a 2,975b 2,498b

±0,154 ±0,086 ±0,089 ±0,175 ±0,083 ±0,145 E1P3 1,194a 1,106a 2,013a 2,364a 2,383a 2,054a

±0,139 ±0,083 ±0,146 ±0,066 ±0,126 ±0,119

P3

E2P1 1,700b 1,570b 2,652c 2,401a 2,817b 3,208c

±0,142 ±0,147 ±0,109 ±0,126 ±0,100 ±0,134 E2P2 1,495ab 1,270ab 2,097a 2,475a 2,985b 2,305ab

±0,156 ±0,091 ±0,096 ±0,180 ±0,087 ±0,177 E2P3 1,194a 1,055a 1,851a 2,379a 2,262a 1,992a ±0,136 ±0,079 ±0,161 ±0,063 ±0,116 ±0,118 Keterangan :a,b,c,d,e menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar perlakuan

Berdasarkan Tabel 3. Hasil pengamatan perubahan bobot yang dilakukan setiap 10 hari sekali dengan masa pemeliharan ikan selama 60 hari. Diketahui bahwa pemberian Enzim fitase dan kadar protein pakan yang paling efektif dalam meningkatan pertambahan bobot ikan adalah dosis E2P3, disebabkan mendapat nilai yang paling tinggi dari perlakuan lainnya. Dimana notasi huruf yang sama menunjukkan tidak ada berbeda antara perlakuan. Sedangkan pada notasi huruf yang berbeda, menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan terhadap pertumbuhan bobot ikan.

Pertambahan Panjang Ikan Gurami

Hasil penelitian yang dilakukan selama 60 hari pengamatan dengan perlakuan penambahan enzim fitase dengan kadar protein pakan yang berbeda terhadap pertumbuhan panjang ikan gurami dapat dilihat pada (Lampiran 9) dan Gambar 3 serta tabel berikut.

Gambar 3. Pertambahan rata-rata panjang ikan gurami

Berdasarkan diagram pada Gambar 3 pertumbuhan panjang ikan pada setiap perlakuan mengalami perbedaan. Dimana pada setiap perlakuan diperoleh hasil berkisar 1,97 – 3,53 cm. Pertambahan panjang ikan yang mengalami peningkatan yang tinggi terdapat pada perlakuan E2P1 yaitu 3,53 cm. Sedangkan untuk pertambahan panjang ikan yang rendah terdapat pada perlakuan E0P3 yakni 1,97 cm dengan pertumbuhan akhirnya sekitar 10,91.

Untuk mengetahui pengaruh pada setiap perlakuan terhadap pertumbuhan panjang ikan gurami, maka dilanjutkan terhadap dengan uji ANOVA dapat dilihat pada (Lampiran 10) yang hasilnya dapat disajikan pada Tabel 4.

Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa nilai signifikan sumber variansi enzim fitase sebesar 0,000 dengan nilai signifikansi (P≤ 0,01) yaitu menunjukkan

Rata-rata Panjang (cm)

Perlakuan

bahwa semua sumber variansi memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pertambahan panjang ikan, kadar pakan protein sebesar 0,080 dengan signifikan (P0,05) yang artinya sumber variansi tersebut memberikan pengaruh tidak nyata terhadap pertambahan panjang ikan gurami. Dapat dilihat nilai signifikansi interaksi enzim fitase dengan kadar protein sebesar 0,128 yang artinya bahwa sumber variansi tersebut memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap pertumbuhan panjang ikan.

Tabel 4. Analisis variasi terhadap pertambahan panjang ikan (cm) ikan gurami dari H-10 sampai H-60

Source Sum of

Squares

df Mean

Square F Sig.

EF (Enzim Fitase) 273,739 2 136,870 7,020 0,000**

KP(Kadar Protein) 51,843 2 25,921 0,369 0,080 * EF x KP

Total

1,056 43746,63

4 249

0,264 0,722 0,128 tn

** (Sangat berbeda nyata) (P≤0,01). * (Berbeda nyata) (P≤0,05). tn (tidak nyata)

Selanjutnya dilakukan pengolah data lanjutan secara keseluruhan selama 60 hari dengan bantuan program SPSS untuk mendapatkan nilai mean dan standart error terhadap pertumbuhan panjang menunjukkan berbeda sangat nyata terhadap

konversi pakan ikan gurami dan disajikan pada Tabel 5.

Berdasarkan pertambahan panjang yang dilakukan pada setiap 10 hari sekali dengan masa pemeliharaan 60 hari, dapat diketahui bahwa pertambahan dosis enzim fitase dan kadar protein pakan yang berbeda terhadap peningkatan panjang ikan. Pada setiap 10 hari sekali terdapat perbedaan nilai pada setiap perlakuan dan juga terdapat perbedaan notasi huruf. Dimana dosis enzim fitase yang lebih efektif untuk pertambahan panjang ikan terdapat pada perlakuan E2P1, disebabkan mendapat nilai yang lebih besar pada setiap perlakuan yang lain. Pada notasi huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda antara perlakuan, sedangkan jika notasi

huruf yang berbeda menunjukkan adanya perbedaan antara perlakuan yang signifikan terhadap pertumbuhan panjang ikan gurami.

Tabel 5. Hasil rata-rata dan standar error pertambahan panjang (cm) ikan gurami berbeda dari H-10 sampai H-60

Perlakuan H10 H20 H30 H40 H50 H60

P1

E0P1 0,380e 0,507a 0,477c 0,560b 0,437b 0,363a

±0,029 ±0,042 ±0,018 ±0,015 ±0,026 ±0,022 E0P2 0,355de 0,414a 0,304b 0,431ab 0,635c 0,331a

±0,021 ±0,057 ±0,018 ±0,036 ±0,032 ±0,021 E0P3 0,283bc 0,386a 0,262ab 0,413ab 0,358a 0,508b

±0,020 ±0,044 ±0,020 ±0,028 ±0,012 ±0,032

P2

E1P1 0,320cd 0,483a 0,467c 0,563b 0,469b 0,338a

±0,022 ±0,049 ±0,018 ±0,010 ±0,026 ±0,025 E1P2 0,337cde 0,410a 0,287b 0,447ab 0,633c 0,403a

±0,012 ±0,053 ±0,013 ±0,029 ±0,032 ±0,030 E1P3 0,257b 0,400a 0,233a 0,080a 0,324a 0,648c

±0,018 ±0,053 ±0,009 ±0,342 ±0,015 ±0,025

P3

E2P1 0,297bcd 0,530a 0,471c 0,561b 0,468b 0,339a

±0,013 ±0,055 ±0,018 ±0,011 ±0,024 ±0,024 E2P2 0,310bcd 0,423a 0,300b 0,433ab 0,633c 0,333a

±0,014 ±0,056 ±0,016 ±0,032 ±0,032 ±0,018 E2P3 0,203a 0,379a 0,258ab 0,427ab 0,343a 0,662c ±0,016 ±0,055 ±0,010 ±0,025 ±0,011 ±0,013 Keterangan :a,b,c,d,e menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar perlakuan FCR (Feed Convertion Ratio)

Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan selama 60 hari pengamatan dengan perlakuan pemberian enzim fitase dengan kadar protein yang berbeda terhadap rasio konversi pakan dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Rasio Konversi Pakan pada setip perlakuan masa pemeliharaan Rasio pemberian pakan tertinggi terdapat pada perlakuan E0P3 (tanpa enzim fitase dan kadar protein pakan 25%) yaitu sebesar 2,01 kemudian nilai FCR terendah terdapat pada perlakuan E2P1 (enzim fitase 1000mg/kg pakan dengan kadar pakan protein 35%) sebesar 0,87. Nilai konversi pakan yang baik pada kegiatan budidaya berada pada nilai FCR terendah, semakin rendah nilai konversi pakan maka semakin efisien pakan yang diberikan pada ikan gurami.

Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh setiap perlakuan penambahan enzim fitase dengan kadar protein pakan yang berbeda terhadap feed convertion ratio ikan gurami, maka dilanjutkan dengan uji ANOVA dapat dilihat pada

Lampiran yang disajikan pada Tabel 6 .

Tabel 6. Analisis Variansi terhadap feed convertion ratio ikan gurami dari hari H0 sampai H-60

Source

Sum of

Squares df

Mean

Square F Sig

EF 3,231 2 1,615 4,132 0,000 **

KP 0,250 2 0,125 0,319 0,000 **

EF x KP 6,860 4 1,715 4,387 0,010 **

Total 43746,63 249

** (Sangat berbeda nyata) (P≤0,01).

Rata-rata FCR

Perlakuan

Selanjutnya dilakukan pengolah data lanjutan secara keseluruhan selama 60 hari dengan bantuan program SPSS untuk mendapatkan nilai mean dan standart error terhadap pertumbuhan panjang menunjukkan berbeda sangat nyata terhadap konversi pakan ikan gurami dan disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Hasil rata-rata dan standar error FCR ikan gurami dari H-10 sampai H-60

Perlakuan H10 H20 H30 H40 H50 H60

P1

E0P1 0,370e 0,517a 0,477c 0,560b 0,437b 0,363a

±0,029 ±0,042 ±0,018 ±0,015 ±0,026 ±0,022 E0P2 0,355de 0,414a 0,304b 0,431ab 0,635c 0,331a

±0,021 ±0,057 ±0,018 ±0,036 ±0,032 ±0,021 E0P3 0,283bc 0,386a 0,262ab 0,413ab 0,358a 0,508b

±0,020 ±0,044 ±0,020 ±0,028 ±0,012 ±0,032

P2

E1P1 0,320cd 0,483a 0,467c 0,563b 0,469b 0,338a

±0,022 ±0,049 ±0,018 ±0,010 ±0,026 ±0,025 E1P2 0,337cde 0,410a 0,287b 0,447ab 0,633c 0,403a

±0,012 ±0,053 ±0,013 ±0,029 ±0,032 ±0,030 E1P3 0,257b 0,400a 0,233a 0,080a 0,324a 0,648c

±0,018 ±0,053 ±0,009 ±0,342 ±0,015 ±0,025

P3

E2P1 0,297bcd 0,530a 0,471c 0,561b 0,468b 0,339a

±0,013 ±0,055 ±0,018 ±0,011 ±0,024 ±0,024 E2P2 0,310bcd 0,423a 0,300b 0,433ab 0,633c 0,333a

±0,014 ±0,056 ±0,016 ±0,032 ±0,032 ±0,018 E2P3 0,103a 0,379a 0,258ab 0,427ab 0,343a 0,662c ±0,016 ±0,055 ±0,010 ±0,025 ±0,011 ±0,013 Kelangsungan Hidup

Berdasarkan pengamatan penelitian data kelangsungan hidup ikan diperoleh untuk menghitung jumlah ikan pada saat awal penelitian serta jumlah ikan yang hidup pada akhir penelitian. Dimana dapat diliat pada diagram kelangsungan hidup ikan pada gambar 5.

Gambar 5. Rata-rata kelangsungan hidup ikan gurami

Data rata-rata tingkat kelangsungan hidup ikan gurami yang paling tinggi terdapat pada perlakuan E2P1 dengan nilai tingkat presentasenya sebesar 100.00%, kemudian diikuti E0P1,E1P1,E1P2,E2P2, dengan nilai presentase sebesar 96,67%, selanjutnya pada perlakuan E0P2,E1P3,E2P3 dengan nilai presentase sebesar 86,67% , sedangkan tingkat nilai presentase kelangsungan hidup yang paling rendah diantara setiap perlakuan terdapata pada perlakuan E0P3 dimana nilai presentasenya sebesar 83,33%.

Tabel 8. Hasil rata-rata kelangsungan hidup ikan Gurami dari H-10 sampai H-60

Perlakuan

Jumlah Ikan Awal

Pengamatan (Hari ke-) Jumlah Ikan Hidup

SR (%) 10 20 30 40 50 60

P1

E0P1 30 0 0 0 0 1 0 29 96,67

E0P2 30 0 2 2 0 0 0 26 86,67

E0P3 30 0 2 2 0 1 0 25 83,33

P2

E1P1 30 0 0 1 0 0 0 29 96,67

E1P2 30 1 0 0 0 0 0 29 96,67

E1P3 30 0 0 2 1 1 0 26 86,67

P3

E2P1 30 0 0 0 0 0 0 30 100,00

E2P2 30 0 0 1 0 0 0 29 96,67

E2P3 30 0 2 1 1 0 0 26 86,67

Survival Rate (%)

Perlakuan

Berdasarkan data rata-rata jumlah ikan gurami yang hidup tertinggi terdapat pada perlakuan E2P1 dengan jumlah ikan yang hidup sebanyak 30 ekor dan presentase tingkat kelangsungan hidup sebesar 100%, sedangkan jumlah ikan yang hidup paling terendah pada masa pemelihraan terdapat pada perlakuan E0P3 sebanyak 25 ekor dengan presentase kelangsungan hidupnya sekitar 83,33%

Kualitas Air

Hasil pengamatan selama masa penelitian, dimana kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan sangat dipengaruhi oleh kualitas air. Selama 60 hari dapat diliat hasil pengamatan pada Lampiran 16 dan tabel 7. Dimana data yang diperoleh relative stabil karena selama pemeliharaan dilakukan secara terkontrol. Parameter kualitas air yang diukur selama masa penelitian adalah Suhu, pH dan DO. Pada hasil pengamatan kualitas air untuk pemeliharaan ikan gurami itu sendiri diperoleh nilai berkisar suhu antara 26 -28 ̊C, pH sekitar 6,8 -7,4 dan D O 5,0 – 5,7 mg/L.pada pengamatan kualitas air untuk meliat peroleh data yang dari minimum dan maksimum dapat diliat pada tabel 8.

Tabel 9. Data kualitas air (Suhu dan pH) selama masa penelitian Parameter Kualitas Air

Perlakuan Suhu (oC) pH

Pagi - Sore Pagi - Sore

P1

E0P1 27 – 28 7 - 7,3

E0P2 26 – 28 7 - 7,2

E0P3 26 – 28 7 - 7,4

P2

E1P1 26 – 28 7 - 7,3

E1P2 26 – 28 6,8 - 7,3

E1P3 26 – 28 7 - 7,2

P3

E2P1 27 – 28 6,9 - 7,2

E2P2 27 – 29 6,8 - 7,2

E2P3 26 – 28 7 - 7,3

Pada Tabel 9 dapat dilihat bahwa nilai kualitas air hampir sama pada setiap perlakuan. Hal ini dapat disebabkan karena perlakuan berada pada satu lokasi yang sama dan mendapatkan faktor dari lingkungan yang sama juga.

Tabel 9. Data Kualitas Air (DO) selama penelitian

Parameter Kualitas Air

Perlakuan DO

P1

E0P1 5,5

E0P2 5,6

E0P3 5,4

P2

E1P1 5,2

E1P2 5,2

E1P3 5,4

P3

E2P1 5,2

E2P2 5,4

E2P3 5,1

Pada Tabel 9 dapat dilihat bahwa nilai DO berkisar antara 5,1-5,6. Kualitas air ini hampir sama setiap perlakuan. Hal ini dapat disebabkan karena perlakuan berada pada satu lokasi yang sama dengan faktor lingkungan yang sama juga.

Pembahasan

Perubahan Bobot Ikan Gurami

Ikan gurami (Osphronemus gouramy) merupakan jenis ikan yang memiliki pertumbuhan relative lambat dengan tingkat produktivitas yang juga lambat.

Menurut Handajani (2007), pertumbuhan ikan gurami termasuk lambat, untuk mencapai berat rata-rata 200 – 250 gr/ekor diperlukan waktu 10 – 12 bulan.

Peningkatan bobot ikan gurami selama 60 hari pemeliharan dengan perbedaan perlakuan pemberian enzim dan kandungan protein yang berbeda menunjukkan hasil peningkatan bobot yang berbeda pula pada setiap perlakuan.

Berdasarkan diagram pertambatan bobot ikan gurami pada Gambar 2 dapat dilihat bahwa nilai rata-rata peningkatan bobot berkisar 6,95 – 17,84 gr dengan nilai

peningkatan bobot ikan gurami tertinggi terdapat pada perlakuan E2P1 yaitu 17,84 gr dengan perlakuan pemberian enzim fitase 1000 mg dan kandungan protein pada pakan 35% dan penambahan bobot terendah terjadi pada perlakuan E0P3 dengan perlakuan tanpa pemberian enzim fitase dan kandungan protein pada pakan paling rendah yaitu sebesar 25%. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Zulaeha et al. (2015), dosis optimum enzim fitase 986 mg/kg pakan dapat meningkatkan laju pertumbuhan relatif ikan kerapu bebek. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan E2 yaitu penambahan enzim fitase dengan dosis 1000 mg/kg pakan merupakan dosis yang terbaik dalam meningkatkan bobot ikan gurami dibandingkan perlakuan pemberian enzim E0 (tidak ada pemberian) dan E1 (500 mg/kg pakan).

Pemberian pakan yang tepat sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan. Penambahan enzim fitase pada pakan sangat berpengaruh nyata terhadap penambahan bobot ikan. Perlakuan terbaik enzim fitase pada perlakuan dengan dosis tertinggi yaitu E2 berdampak bagi penyerapan protein pada tubuh ikan, semakin efisein penggunaan pakan maka pertumbuhan bobot semakin meningkat.

Menurut Sintia et al. (2020), menyatakan bahwa suplementasi fitase dalam pakan mampu menghidrolisis asam fitat sehingga meningkatkan ketersediaan nutrien, ketersediaan mineral, protein, asam amino, dan kompleks ion kofaktor enzim yang dibutuhkan untuk aktivitas enzim. Asam amino berperan untuk menyusun jaringan tubuh dan berperan dalam pertumbuhan, sehingga dengan peningkatan ketersediaan asam amino ini meningkatkan pertumbuhan dan pertambahan panjang badan ikan.

Pemberian dosis enzim dengan kandungan protein tertinggi pada perlakuan E2P1 merupakan pemberian pakan yang sangat efektif dan memenuhi

keseimbangan gizi ikan. Uji yang dilakukan menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan terhadap pertumbuhan bobot ikan, hal ini diketahui dari nilai penambahan bobot yang semakin meningkat seiring pertambahan dosis dan kandungan protein yang diberikan juga meningkat. Rochmawati et al. (2016), hidrolisis protein yang sempurna akan menghasilkan asam amino yang semakin tinggi, sehingga semakin banyak yang diserap oleh tubuh. Adanya penambahan enzim pada pakan menjadi keunggulan karena kombinasi antara enzim dan protein diketahui dapat mempercepat pertumbuhan pada ikan gurami.

Pertambahan Panjang Ikan Gurami

Pertambahan panjang ikan gurami pada penelitian didapatkan hasil pertambahan panjang yang berbeda pada setiap perlakuan yaitu sebesar 1,97 – 3,53 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian perlakuan yang berbeda menyebabkan perbedaan pertumbuhan panjang pada ikan gurami. Pertambahan panjang tertinggi terdapat pada perlakuan E2P1 yaitu 3,53 cm yang merupakan perlakuan dengan dosis fitase tertinggi yaitu 1000 mg/kg pakan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ikram (2020), enzim fitase mempercepat terurainya asam fitat sehingga proses penyerapan nutrisi pakan maksimal sehingga meningkatkan pertumbuhan panjang ikan.

Pertambahan panjang ikan yang rendah terdapat pada perlakuan E0P3 yakni 1,97 cm dengan pertumbuhan akhirnya sekitar 10,91 cm. Menurut Rachmawati dan Samidjan (2014), asam fitat dalam bahan makanan sangat stabil terhadap berbagai perlakuan dalam pengolahan dan bersifat mengikat mineral dan logam sehingga dapat menganggu penyerapan unsur-unsur hara dan dapat menyebabkan defisiensi

dalam tubuh. Sehingga perlakuan E0 (tanpa penambahan enzim) memiliki nilai pertambahan terendah.

Berdasarkan hasil sidik ragam diketahui bahwa nilai signifikansi sumber variansi enzim fitase terhadap panjang berpangaruh sangat nyata tetapi kadar protein berpengaruh tidak nyata terhadap pertumbuhan panjang ikan gurami. Hal ini dapat dipengaruhi oleh faktor umur dan ukuran ikan uji yang sama. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ahmad et al. (2017), yang mengatakan bahwa protein pada ikan gurami dimanfaatkan hanya untuk pertumbuhan berat, sedangkan untuk pertumbuhan panjang hanya dimanfaatkan sedikit sedangkan Nurhada et al. (2018), menyatakan bahwa penyerapan protein pada ikan gurami diduga penggunaannya lebih mengacu pada energi untuk aktifitas sehingga protein yang di serap kembali digunakan oleh ikan untuk beradaptasi terhadap lingkungan.

FCR (Feed Convertion Ratio)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa rasio pemberian pakan tertinggi terdapat pada perlakuan E0P3 (tanpa enzim fitase dan kadar protein pakan 25%) yaitu sebesar 2,01 yang berarti perlakuan terendah tidak efektif dalam meningkatan pertumbuhan berat dan panjang ikan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sutarmat (2006), yang mengatakan bahwa nilai FCR tinggi mengindikasikan pakan tidak tercerna atau pakan kurang disukai oleh ikan. Nilai konversi pakan yang semakin besar menunjukkan pemanfaatan pakan semakin tidak efisien dalam kegiatan budidaya ikan.

Nilai FCR terendah terdapat pada perlakuan E2P1 (enzim fitase 1000mg/kg pakan dengan kadar pakan protein 35%) sebesar 0,87. Nilai konversi pakan yang baik pada kegiatan budidaya berada pada nilai FCR terendah, semakin rendah nilai

konversi pakan maka semakin efisien pakan yang diberikan pada ikan gurami.

Menurut Pramudyas (2014), faktor yang mempengaruhi jumlah konsumsi pada ikan adalah feeding habit, status fisiologi, berat ikan, suhu, konsentrasi oksigen, komposisi pakan dan tingkat kesukaan. Hal ini mengindikasikan bahwa pakan dengan perlakuan E2P1 disukai oleh ikan gurami yang diuji.

Kelangsungan Hidup

Tingkat kelulusan hidup benih ikan gurami diperoleh kisaran 83,33%- 100% Kisaran kelulusan hidup ini dapat dikatagorikan sudah baik. Hal ini menunjukan tidak ada perbedaan kualitas antara ikan gurame yang diteliti, karena ikan gurami relatif sama mendapat pakan yang diberi secara kenyang, sehingga benih ikan mempunyai tingkat ketahanan tubuh (imunitas) yang hampir sama pula.

Hal ini sesuai dengan Syahrizal et al., (2015) yang menyatakan bahwa usaha pencegahan yang dilakukan oleh para pembudidaya untuk menjaga ikan gurame dari serangan organism patogen adalah dengan cara meningkatkan sistem imunitas pada ikan gurame.

Kelangsungan hidup (Survival Rate) tertinggi pada penelitian ini adalah perlakuan E2P1 dengan Enzim 1000 mg/kg pakan dengan kadar protein pakan 30%

dengan tingkat kelulushidupan (survival rate) sebesar 100 %. Hal ini menunjukkan bahwa dengan penambahan enzim fitase dalam pakan dapat meningkatkan tingkat kelulushidupan ikan gurami selama pemeliharaan. Hal ini sesuai dengan penelitian Ikram (2020) dimana pada penelitian tersebut memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi yaitu berkisar 83% dengan pemberian enzim fitase.

Kualitas Air

Salah satu faktor yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan kelulushidupan ikan adalah pengelolaan parameter kualitas air. Kualitas air pemeliharaan benih ikan gurame masih berada pada kisaran optimal untuk hidup benih ikan gurame. Pada hasil pengamatan kualitas air untuk pemeliharaan ikan gurami diperoleh nilai berkisar suhu antara 26 -28 ̊C, pH sekitar 6,8 -7,4. Menurut BSNI (2000) yaitu kisaran suhu optimal untuk ikan gurami berada pada kisaran 25-30oC, pH 6,5–8,5.

Oksigen terlarut merupakan faktor kritis pada kegiatan budidaya intensif.

kelarutan oksigen dalam air dipengaruhi oleh suhu. Selama penelitian, kandungan DO air berkisar antara 5,0 – 5,7 mg/L dimana nilai tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan gurami bertambah secara normal. Hal ini sesuai dengan Syahrizal et al., (2015) yang menyatakan bahwa pada air dengan kandungan oksigen terlarut >5 mg/L ikan dapat hidup dan tumbuh secara normal.

Dokumen terkait