Kondisi Umum Penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan di Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat. Kabupaten Langkat memiliki luas hutan mangrove 50.650,93 ha dan merupakan yang paling dominan di Sumatera Utara. Kondisi hutan mangrove di Kabupaten Langkat menempati posisi pertama yang mengalami kerusakan terbesar di hutan mangrove Sumatera Utara. Desa Lubuk Kertang merupakan desa yang mengalami kerusakan terluas (Hafni, 2016).
Kegiatan rehabilitasi telah dilakukan guna mengurangi kerusakan yang terjadi.
Selain itu, masyarakat juga telah memanfaatkan hutan mangrove sebagai bahan pangan.
Desa Lubuk Kertang merupakan salah satu desa dari 7 Desa/Kelurahan di Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Desa Lubuk Kertang memiliki luas hutan mangrove 617,73 ha (Desa, 2019). Kondisi geografis Desa Lubuk Kertang terletak di 04o 04’ 00.6” LU dan 098o 17’ 00.1” BT dengan ketinggian 16 m (BMKG, 2019). Kondisi Curah Hujan pada saat penelitian berfluktuasi yaitu 105 mm, 177 mm, dan 157 mm pada bulan Juli, Agustus, dan September 2018.
Penelitian dilaksanakan dirumah warga yang merupakan ketua dalam kelompok lestari hutan mangrove. Pakan daun api-api (A. marina) diambil dari hutan mangrove yang berdekatan dengan lokasi tambak sedangkan pakan rumput lapangan diambil di lahan perladangan dan semak belukar. Jenis rumput lapangan yang digunakan terdiri atas rumput bebek (Echinochloa colona), rumput belulang (Eluisine indica), rumput suket lorodan (Centotheca lappaceae), rumput bobontengan (Leptochloa chinensis) dan rumput jarum (Chrisopogon ariculatus).
Kandang yang digunakan merupakan kandang individu dengan luas ± 30 m2 yang terbagi kedalam 6 bagian. Setiap ekor kambing diberi pakan dengan bobot awal yang sama pada perlakuan yang sama namun berbeda pada taraf perlakuan.
Pemberian minum kambing menggunakan ember dan air diambil dari keran yang berdekatan dengan lokasi kandang. Pakan daun A. marina dan RL disajikan pada Gambar 4.
20
Gambar 4. Pakan Daun A. marina (A) dan Rumput Lapangan (B) Analisis Kandungan Nutrisi
Kandungan nutrisi pakan mempengaruhi konsumsi pakan, bobot badan dan produktivitas ternak. Ternak membutuhkan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Penentuan kualitas nutrisi pakan harus dipertimbangkan karena berkaitan dengan sumber zat makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksinya. Kualitas nutrisi bahan pakan terdiri atas komposisi nilai gizi, serat, energi serta aplikasinya pada nilai palatabilitas dan daya cerna (Sejahtera, 2012).
Rataan kandungan nutrien pakan RL dan daun mangrove A. marina pada penelitian yang dilakukan tertera pada (Tabel 3).
Tabel 3. Kandungan Nutrien Pakan Kambing Kacang (C. aegagrus)
Nutrien Jenis sampel
RL Avicennia marina
Kadar Air (%) 57,54 ± 7,90 55,08 ± 3,99
Kadar Abu (%) 6,40 ± 0,19 6,09 ± 0,10
Kadar Protein Kasar (%) 14,21 ± 0,55 6,08 ± 0,24
Kadar Lemak Kasar (%) 2,50 ± 1,18 4,26 ± 1,28
Kadar Karbohidrat (%) 19,35 ± 9,05 28,48 ± 5,15
Kadar Serat Kasar (%) 31,44 ± 0,13 15,15 ± 0,35
Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN) (%) 45,45 ± 1,13 68,41 ± 1,39
Berat Kering (%) 42,46 ± 7,90 44,92 ± 3,99
Kadar Vitamin C (mg/100g) 7,50 ± 0,99 11,58 ± 1,06 Data merupakan nilai rata-rata dari tiga pengulangan (n=3)
Analisa kandungan proksimat pakan yang dilakukan menunjukan kandungan nutrien rumput lapangan lebih rendah dibandingkan dengan A. marina.
Komposisi nutrien yang tinggi dari RL berupa kadar air, abu, protein kasar, dan serat kasar berdasarkan rataan sampel. Kandungan nutrien RL memiliki 4
A B
21
komposisi nutrien sedangkan daun mangrove A. marina memiliki 5 komposisi nutrien yang lebih tinggi yakni lemak kasar, karbohidrat, BETN, berat kering dan vitamin C dari 9 contoh uji. Sumber energi pakan berupa karbohidrat, lemak, dan protein yang ketiga komponen tersebut berfungsi sebagai energi bagi ternak untuk melakukan aktifitas.
Karbohidrat merupakan sumber kalori utama yang berperan dalam menentukan karakteristik bahan makanan seperti warna, rasa, dan tekstur (Wulandari et al., 2016). Peningkatan nutrien yang dikonsumsi terutama karbohidrat mudah larut akan digunakan oleh rumen sebagai sumber energi, sehingga populasi mikroba rumen meningkat menyebabkan enzim yang dikeluarkan untuk mencerna zat-zat makanan terutama serat akan meningkat pula (Wirawan et al., 2008). Nilai rataan karbohidrat daun A. marina sebesar 28,48%
dan RL 19,35%.
Lemak adalah senyawa organik yang tidak larut dalam air, namun larut dalam pelarut organik sebagai sumber energi terpenting untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Penelitian (Yurleni et al., 2016) menyatakan pemberian asam lemak pada pakan memberikan kualitas karkas dan irisan komersial karkas lebih baik. Kandungan lemak daun A. marina sebesar 4,26% sedangkan RL 2,50%.
Kandungan protein kasar RL 14,21% lebih baik dibandingkan daun A. marina 6,08%. Nilai kandungan protein kasar daun A. marina tidak jauh berbeda dengan (Wibowo et al., 2009) yaitu 5,09%. Perbedaan ini mungkin dikarenakan rumput yang digunakan sebagai pakan lebih dari satu jenis sehingga menghasilkan nilai protein yang lebih tinggi. Menurut Banjarnahor et al. (2017) kandungan protein kasar yang tinggi pada rumput gajah dipengaruhi fase pertumbuhan yakni semakin tua akan semakin menurun. Pemberian pupuk nitrogen juga akan mempengaruhi kandungan protein kasar bahan pakan.
Pemberian pupuk nitrogen pada rumput gajah meningkatkan kandungan protein kasar dan menurunkan serat kasar (Febriani, 2018).
Protein kasar adalah semua zat yang mengandung nitrogen. Menurut (Iskandar et al., 2017) protein berperan penting dalam pertumbuhan, karena mengandung asam amino esensial dan non-esensial. Sari et al. (2014) menyatakan
22
asupan protein berupa asam amino yang masuk ke dalam tubuh ternak akan digunakan untuk pertumbuhan dan metabolisme sel-sel dalam tubuh ternak.
Faktor yang mempengaruhi asupan protein yaitu bahan pakan, konsumsi protein dan kecernaan protein (Varianti et al., 2017).
Kadar air RL 57,54% lebih tinggi dibandingkan daun A. marina 55,08%.
Kadar air merupakan indikasi dari kandungan air di dalam pakan. Air berfungsi sebagai sirkulasi di dalam tubuh yang digunakan untuk aktivitas metabolik baik yang dimanfaatkan maupun tidak. Kadar air berkaitan erat dengan penyimpanan.
Kadar air yang terlalu tinggi dapat menurunkan kualitas pakan akibat tumbuhnya mikroorganisme sehingga diperlukan penanganan yang baik terhadap pakan yang diberikan untuk mempertahankan kualitas pakan (Retnani et al., 2009).
Penentuan kadar air digunakan untuk mengetahui berat/bahan kering pakan.
Ramadhan et al. (2017) menyatakan semakin tua umur tanaman maka semakin sedikit kandungan airnya dan proporsi dinding sel menjadi lebih tinggi yang demikian akan mempengaruhi bahan kering dari tanaman tersebut. Menurut Salim et al. (2016) bahan kering bahan juga dipengaruhi oleh naungan. Faktor naungan berinteraksi menurunkan hasil bahan kering rumput B. humidicola.
Kadar abu berhubungan dengan kandungan mineral dalam bahan pakan.
Abu merupakan zat anorganik atau mineral yang melalui proses pembakaran dalam tanur dengan suhu 400-600oC. Kadar abu dalam pakan merupakan salah satu faktor penentu dalam menghitung kadar BETN. Penurunan kadar abu mengindenfikasikan peningkatan bahan organik substrat (Samadi et al., 2015).
Kadar abu RL tidak terlalu jauh dengan daun mangrove A. marina yakni 6,40%
sedangkan daun api-api 6,09%.
Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN) merupakan kandungan suatu bahan pakan yang sangat tergantung dari komponen nutrien lainnya seperti air, abu, protein kasar, serat kasar dan lemak kasar. Perbandingan nilai BETN RL dan daun A. marina 45,45% : 68,41%. Penurunan kadar BETN dipandang dari aspek nutrisi kurang menguntungkan, karena semakin sedikit BETN, berarti semakin sedikit komponen bahan organik yang dapat dicerna sehingga semakin sedikit pula energi yang dapat dihasilkan (Sari et al., 2015).
23
Vitamin C merupakan vitamin yang larut dalam air dan memiliki peranan penting dalam menangkal berbagai penyakit. Vitamin C berfungsi sebagai antioksidan dan efektif untuk menangkal radikal bebas yang merusak jaringan sel (Putri et al., 2015). Vitamin yang larut dalam air berfungsi sebagai enzim dalam berbagai reaksi metabolisme tertentu. Penelitian (Wicaksono et al., 2015) menunjukan pemberian vitamin C dapat mengurangi stress pada saat pengangkutan sapi sehingga meminimalisir penyusutan bobot badan sapi. Vitamin C yang dimiliki daun A. marina 11,58 mg/100 g lebih baik dibandingkan RL 7,50 mg/100 g, hal ini menunjukan daun A. marina layak digunakan sebagai pakan ternak berdasarkan suplai gizi yang
terkandung.
Serat kasar merupakan komponen dinding sel yang kehadirannya di dalam ransum sangat penting karena serat kasar ternyata mempunyai fungsi fisiologis dan nutrisi bagi ternak unggas (Bidura, 2016). Andriawan et al. (2014) menyatakan serat kasar pakan mempengaruhi produksi susu 7,6% dan kandungan lemak 3%
pada sapi perah. Konsumsi serat kasar juga berfungsi sebagai peningkatan total solid dan lemak susu, yakni semakin tinggi konsumsi serat akan meningkatkan komponen tersebut (Nurhajah et al., 2016). Kandungan serat kasar yang dimiliki RL jauh lebih tinggi yakni 31,44% dan daun ap-api 15,15%. Menurut (Pangestu et al., 2018) menyatakan kandungan serat kasar dalam ransum yang diberikan berpengaruh terhadap konsumsi pakan karena serat kasar bersifat bulky (pengganjal).
Kandungan Mineral Pakan
Mineral merupakan unsur yang dibutuhkan tubuh ternak. Mineral terdiri atas mineral makro (dibutuhkan dalam jumlah besar) dan mikro (dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit). Mineral makro diperlukan untuk pembentukan organ di dalam tubuh contohnya adalah Ca yang berfungsi dalam pembentukan tulang.
Mineral mikro berperan dalam sirkulasi darah seperti pembentukan hemoglobin.
Manggara et al. (2018) menyatakan Fe dalam tubuh berfungsi untuk pembentukan hemoglobin (pencegahan terhadap anemia), sistem kekebalan tubuh, dan komponen enzim sitokrom (enzim dalam respirasi).
Rataan kandungan mineral pakan RL dan daun mangrove api-api (A. marina) berdasarkan penelitian yang telah dilakukan disajikan pada (Tabel 4).
24
Tabel 4. Kandungan Mineral Pakan Kambing Kacang (C. aegagrus)
Unsur mineral Jenis sampel Data merupakan nilai rata-rata dari tiga pengulangan (n=3)
Kadar mineral tertinggi dari RL yaitu unsur mineral P, K, Fe, Zn, Cu,S dan Mn sedangkan A. marina yaitu unsur Ca dan Na. Kandungan mineral dalam hijauan dipengaruhi oleh kandungan air, tanah, dan udara di sekitar tempat tumbuhnya hijauan tersebut (Irma et al., 2012). Kandungan mineral makro yang tinggi memperkaya nutrisi pakan ternak.
Mineral makro merupakan mineral yang dibutuhkan tubuh ternak dalam jumlah lebih dari 100 mg/hari sedangkan mineral mikro dibutuhkan dalam jumlah kurang dari 100 mg/hari. Kandungan mineral makro utama yang dimiliki pakan RL yaitu unsur 2,24 K-total, 0,21 P-total, dan 0,28% S sedangkan pakan A. marina memiliki 2 unsur yang lebih tinggi yakni Ca dan Na dengan nilai berturut-turut (0,58) dan (1,53%). Arifin (2007) menyatakan pemberian mineral tembaga (Cu) memiliki peranan penting dalam kelangsungan hidup hewan, bila kelebihan atau kekurangan akan menyebabkan penyakit.
Penelitian Gunawan et al. (2016) memperlihatkan bahwa pemberian mineral berpengaruh sangat nyata meningkatkan lingkar dada sapi bali jantan.
Ditambahkan oleh (Adelina, 2007) bahwa perlakuan dengan penambahan mineral Ca + P + S memberikan pertambahan bobot badan dan (Zainuddin, 2010) penambahan Ca dan P di dalam pakan menyebabkan perubahan pertumbuhan bobot relatif,efisiensi pakan, komposisi proksimat tubuh dan kandungan mineral tubuh juvenil ikan kerapu.
Pendapat yang berbeda dari (Sriagtula, 2008) yang menyatakan penambahan mineral Ca, P, Mg dan S dalam ransum menyebabkan status mineral Ca, P dan Mg dalam plasma kambing kacang semakin menurun sedangkan S tidak. Status mineral Ca dan P dalam tuIang juga mengalami penurunan, namun status mineral
25
ini secara angka masih berkisar normal. Unsur mineral pakan dibutuhkan ternak sesuai dengan kebutuhan dan keseimbangan dalam tubuh. Kelebihan maupun defisiensi unsur mineral menyebabkan gangguan fisiologis terhadap ternak.
Pendugaan Bobot Badan
Bobot badan ternak dapat diketahui dengan cara penimbangan dan metode pendugaan. Metode pendugaan dilakukan dengan cara pengukuran vital tubuh ternak dan mengkonversinya kedalam rumus tertentu. Ukuran vital tubuh yang dapat digunakan untuk estimasi bobot badan kambing kacang yaitu panjang muka, panjang telinga, lingkar dada, lebar dada, panjang badan, tinggi pundak, lebar pinggul dan panjang kaki belakang. Lingkar dada memiliki tingkat korelasi yang lebih tinggi dibandingkan ukuran vital tubuh lainnya berdasarkan berbagai penelitian sebelumnya.
Estimasi bobot badan telah banyak dilakukan karena mudah dan praktis dalam pelaksanaannya. Pendugaan bobot badan kambing kacang dalam penelitian ini menggunakan parameter Lingkar Dada dan Panjang Badan dengan menggunakan rumus Winter. Nilai rataan lingkar dada, panjang badan, dan bobot badan dirangkum pada (Tabel 5).
Tabel 5. Lingkar Dada, Panjang Badan, dan Bobot Badan Kambing Kacang No Parameter Data merupakan nilai rata-rata selama pengamatan (n=3 bulan)
Nilai rataan panjang badan, lingkar dada, dan bobot badan tertinggi pada pakan RL terdapat pada kambing U3 yakni (46,00 cm), (57,25 cm), dan (15,45 kg). Selanjutnya, disusul pada kambing U2 yaitu (44,00 cm), (55,25 cm), (13,60 kg) dan terakhir pada kambing U3 dengan nilai rataan (42,00 cm), (53,00 cm), dan (11,91 kg). Penggunaan rumus Winter pada penelitian ini mengasumsikan bias yang kecil terhadap bobot badan ternak sebenarnya.
Berdasarkan penelitian (Syamyono et al., 2013) rumus Winter merupakan rumus pendugaan bobot badan dengan tingkat akurasi yang lebih baik dibandingkan rumus Ningsih, Schoorl dan Denmark pada kambing kejobong.
26
Rumus Winter memadukan pengukuran lingkaran dada dan panjang badan dengan bias yang dihasilkan ≤0,2 kg.
Parameter Lingkar Dada merupakan ukuran yang paling baik dalam pendugaan. Menurut (Trisnawanto et al., 2012) lingkar dada mempunyai nilai korelasi yang tertinggi diantara ukuran tubuh yang lain pada pendugaan dombos jantan. Ukuran vital tubuh merupakan visualisasi dari pertumbuhan dan perkembangan ternak sehingga dapat digunakan sebagai pendugaan bobot badan.
Pertambahan bobot badan diikuti dengan bertambahnya ukuran vital tubuh ternak.
Pendugaan bobot badan kambing kacang sebelumnya telah dilakukan oleh (Permatasari et al., 2013) dengan koefisien determinasi 81,4% sampai 97,8%.
Menurut (Lake, 2016) terdapat hubungan yang positif antara perubahan ukuran linear tubuh ternak (lingkar dada, panjang badan, tinggi pundak) dengan pertambahan bobot badan harian ternak kambing kacang betina yang diberi kombinasi hijauan berupa rumput alam, lamtoro dan turi.
Nilai rataan panjang badan, lingkar dada, dan bobot badan tertinggi pada pakan A. marina terdapat pada kambing U1 (42, 60 cm), (54,50 cm), dan (12,67 kg) dan diikuti dengan kambing U2 yakni (41,30 cm), (53,25 cm), dan (11,72 kg) sedangkan pada kambing U3 mengalami kematian diduga kembung perut (bloat).
Kembung rumen (bloat) disebabkan oleh eruktasi terganggu dan laju produksi gas melebihi kemampuan hewan untuk mengeluarkannya gejala ini ditandai dengan hilangnya nafsu makan (Yanuartono et al., 2018). Kembung juga disebabkan oleh pemberian pakan. Pemberian pakan hijauan yang masih muda atau basah dan cuaca cukup dingin menjadi penyebab utama terjadinya kembung (Ilham dan Mukhtar, 2018).
Konsumsi Pakan
Konsumsi pakan merupakan faktor yang esensial untuk pertumbuhan dan produktifitas bagi ternak. Konsumsi menentukan jumlah pakan dalam ransum yang dikonsumsi ternak/harinya. Meningkatnya jumlah pakan yang dikonsumsi ternak memaksimalkan aktifitas mikroba rumen dalam menghasilkan nutrisi dan energi yang dibutuhkan ternak (Yustendi et al., 2013). Rataan konsumsi pakan daun mangrove api-api (A. marina) dan RL disajikan pada (Tabel 6).
27
Tabel 6. Konsumsi Pakan Ternak Kambing Kacang (C. aegagrus)
No Ulangan
Data merupakan nilai rata-rata dari tiga pengulangan (n=3)
Perlakuan RL memiliki nilai konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan A. marina. Nilai rata-rata konsumsi pakan tertinggi pada perlakuan rumput yaitu pada U3 sebesar (384,67 g/ekor/hari) sedangkan pada perlakuan A. marina pada U1 sebesar (160,22 g/ekor/hari). Perbedaan konsumsi pakan diduga karena kambing kacang (C. aegagrus) memiliki tingkat kesukaan dan massa adaptasi terhadap pakan RL lebih tinggi dibandingkan dengan A. marina. Selain itu, diduga karena daun A. marina memiliki kadar tanin yang menyebabkan rasa sepat dan bau langu, karena mengandung enzim lipoksigenase. Tanin dihasilkan oleh tumbuhan hijau baik tumbuhan tingkat tinggi maupun tingkat rendah dengan kadar dan kualitas yang berbeda-beda (Soenardjo dan Supriyantini, 2017).
Tanin bersifat positif terhadap tubuh ternak apabila kandungan dalam bahan pakan tidak melebihi 4%. Kusmartono (2018) menyatakan penambahan sumber condense tannin (CT) berupa daun ketela pohon cenderung meningkatkan nilai konsumsi bahan kering (KBK), bahan organik (KBO), dan protein kasar (KPK) tetapi menurunkan nilai kecernaan BK, BO, PK, konsentrasi amonia, dan pertambahan bobot badan (PBB). Salido et al. (2016) menyatakan penambahan 15% bungkil kedelai terproteksi tanin pada level 0,5%, 1%, dan 1,5% dalam pakan komplit tidak memengaruhi komposisi tubuh (air, protein dan lemak tubuh), pada domba ekor tipis jantan yang berumur delapan bulan. Pemberian pakan pada ternak harus mempertimbangkan kandungan gizi serta senyawa yang bersifat toksik yang terkandung di dalamnya sehingga meningkatkan nilai efisiensi terhadap pakan yang diberikan.
Penelitian yang dilakukan oleh (Ngitung et al., 2013) terhadap kambing marica menunjukan bahwa kambing tersebut memiliki palatabilitas yang lebih baik yang diberi pakan rumput unggul. Selain itu, kebiasaan ternak ruminansia mengkonsumsi pakan hijauan rumput menjadi faktor pendukung hal tersebut.
28
Konsumsi pakan RL terendah yaitu pada U1 dengan nilai rata-rata konsumsi pakan (380,45 g/ekor/hari) sedangkan pakan A. marina pada U3 yaitu (15,66 g/ekor/hari). Lama pengamatan konsumsi pakan ternak selama 92 hari kecuali pada kambing U3 selama 38 hari disebabkan karena mati. Faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan yaitu umur, kualitas pakan, kondisi temperatur, dan kondisi tubuh ternak.
Perlakuan pakan A. marina berdasarkan kandungan nutrien layak digunakan sebagai pakan ternak karena memiliki karbohidrat, vitamin C, lemak, dan kandungan mineral yang baik. Namun, kesukaan kambing terhadap pakan A. marina tidak begitu tinggi dibandingkan dengan RL disebabkan rumput merupakan makanan hijauan utama di daerah tersebut. Ternak ruminansia dalam merespon pakan yang diberikan dapat berbeda-beda, karena kemampuan ternak dalam mengkonsumsi ransum dipengaruhi oleh iklim, suhu, kesimbangan zat-zat makanan, kualitas ransum, bangsa ternak, kecepatan pertumbuhan, bobot badan, tingkat produksi, serta faktor ransum yang diberikan seperti palatabilitas ransum tingkat energi ransum, bentuk dan sifat ransum (Syam 2016, 2018).
Tinggi rendahnya konsumsi pakan juga diperngaruhi kandungan bahan/berat kering pakan. Kandungan berat kering menunjukan tersedia zat makanan yang dapat digunakan ternak. Kandungan berat kering pakan RL lebih rendah dibandingkan pakan daun A. marina yaitu 42,46% sedangkan daun A. marina 44,92%. Hasil ini menunjukan pakan daun A. marina berpotensi dikembangkan sebagai pakan ternak ruminansia. Kandungan bahan kering yang menurun dalam suatu bahan pakan akan mengakibatkan kerugian dikarenakan suplai zat gizi yang terkandung didalamnya menjadi lebih sedikit (Sulaksana dan Musnandar, 2013).
Kandungan bahan kering yang sedikit akan mengganggu petumbuhan dan perkembangan ternak.
Pertambahan Bobot Badan
Pertambahan bobot badan merupakan nilai yang penting dalam beternak.
Pertambahan bobot badan mengindikasikan jumlah satuan bobot hidup terhadap pakan yang diberikan serta berkaitan terhadap nilai ekonomis yang dihasilkan.
Hasil rataan pertambahan bobot badan kambing kacang (C. aegagrus) disajikan pada (Tabel 7)
29
Tabel 7. PBBH (g/ekor/hari) Kambing Kacang (C. aegagrus)
Ulangan Perlakuan
BNT 5%
RL A. marina
U1 60,65 26,30
U2 78,70 21,96
U3 84,02 0,00
Rataan 74,46b 24,13a 29,50
Keterangan: superskrip yang berbeda pada baris yang sama berarti berbeda nyata pada taraf α = 0,05 (atau 5%)
Pengaruh pemberian pakan RL dan daun mangrove A. marina terhadap Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) kambing kacang (C. aegagrus) berpengaruh nyata (P<0,05) tetapi berbeda nyata pada setiap perlakuan.
Berdasarkan uji BNT 5% perlakuan terbaik yaitu pada pakan rumput dengan nilai rataan 74,46 (g/ekor/hari) sedangkan pakan daun A. marina 24,13 (g/ekor/hari).
Bobot hidup dipengaruhi oleh jumlah pakan yang dikonsumsi dan nutrien yang diserap sehingga mempengaruhi laju pertumbuhan dan perkembangan ternak (Nuraini dan Hafid, 2006). Selain itu, juga dipengaruhi oleh bobot awal tubuh ternak. Bobot awal pada pakan rumput masing-masing ulangan yaitu (9,36), (10,4), dan (12,24 kg) sedangkan A. marina yaitu (11,5 kg) dan (10,8 kg).
Pertambahan Bobot Badan (PBB) dan Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) disajikan pada (Gambar 5).
Gambar 5. PBB dan PBBH kambing kacang (C. aegagrus) Data merupakan nilai rata-rata dari tiga pengulangan (n=3)
Pada gambar tersebut terlihat bahwa pakan RL menaikan PBB dan PBBH jauh dibawah pakan daun A. marina. Nilai rataan PBB pada pakan rumput yaitu 6,85 kg sedangkan pakan daun api-api 2,22 kg. Namun demikian, pakan A. marina juga dapat digunakan sebagai sumber hijauan pakan ternak berdasarkan nutrisi yang terkandung di dalamnya dengan massa adaptasi yang lebih lama dan
30
perlakuan yang baru seperti campuran antara rumput dan api-api sehingga palatabilitas ternak menjadi lebih baik.
Menurut (Rostini dan Zakir, 2017) protein pakan yang lebih tinggi menyebabkan PBBH kambing lebih besar. Hal ini disebabkan karena protein merupakan zat makanan yang berfungsi untuk efesiensi penggunaan energi menjadi daging (Hidayah, 2016). Saputra et al. (2016) menyatakan konsumsi pakan dan kecernaan pakan yang tinggi akan menghasilkan pertambahan bobot badan yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh semakin banyak nutrient yang diserap oleh tubuh ternak tersebut.
Kualitas dan kuantitas pakan yang dikonsumsi berkaitan erat dengan nilai hematokrit (Ht). Rendahnya nilai hematokrit (Ht) disebabkan oleh tidak tercukupinya nutrisi untuk kebutuhan pokok dan produksi ternak yang akan menyebabkan terganggunya proses fisiologis tubuh ternak (Syam 2016, 2018).
Pertambahan bobot badan sangat dipengaruhi oleh pemberian ransum yang berkualitas, dimana formula ransum yang baik akan mempercepat laju pertumbuhan yang optimal (Adriani, 2009).
Pemberian hijauan segar pada ternak harus diperhatiakan kebersihannya sebelum diberikan kepada ternak. Hijauan segar yang diberikan tanpa memperhatikan kebersihannya akan mengakibatkan timbulnya infeksi cacing dan berakibat pada penurunan bobot badan hingga kematian. Menurut penelitian (Purwaningsih et al., 2017) menyatakan hijauan segar merupakan faktor penyebab tingginya infestasi cacing disebabkan larva pada hijauan dan kejadian ini terjadi pada kambing kacang peranakan ettawa yang dipelihara semi intensif sebesar 100%.
Konversi pakan
Konversi pakan merupakan jumlah pakan yang dikonsumsi untuk mendapatkan kenaikan satu-satuan bobot hidup. Angka konversi selain dipengaruhi oleh strain dan faktor lingkungan termasuk juga faktor makanan terutama nilai gizi yang rendah (Rasyid, 2012). Sanan (2018) menyatakan konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan harian dan konversi ransum ternak kambing kacang dapat ditingkatkan dengan penambahan jagung sebagai sumber
31
energi. Nilai konversi pakan kambing kacang (C. aegagrus) disajikan pada Gambar 6.
Gambar 6. Konversi Pakan Kambing Kacang (C. aegagrus) Data merupakan rata-rata dari tiga pengulangan (n=3)
Nilai konversi pakan rumput lapangan lebih rendah dibandingkan dengan daun A. marina. Nilai konversi pakan dihitung berdasarkan rataan kambing setiap perlakuan dan nilai rataan konversi pakan RL 5,24 (g konsumsi/g PBBH) sedangkan pakan daun A. marina 6,46 (g konsumsi/g PBBH). Nilai yang tinggi terhadap konversi pakan memperlihatkan penggunaan pakan yang kurang efisien.
Konversi pakan, khususnya ternak ruminansia kecil, dipengaruhi oleh kualitas pakan, nilai kecernaan dan efisiensi pemanfaatan zat gizi dalam proses metabolisme di dalam jaringan tubuh ternak (Setiadi et al., 2016). Kandungan serat kasar yang tinggi akan menyebabkan sulit terdegradasi oleh mikroba rumen sehingga akan berdampak pada kecernaan.
Penelitian (Rustiyana et al., 2016) menunjukan hasil yang baik pada kercernaan serat kasar yakni dengan substitusi rumput gajah (Pennisetum purpureum) dengan pelepah daun sawit tidak berpengaruh nyata terhadap kecernaan protein kasar, namun berpengaruh nyata terhadap kecernaan serat kasar. Subsitusi rumput dan daun A. marina dapat digunakan sebagai pakan untuk meningkatkan nilai konversi pakan tersebut sehingga akan meningkatkan nilai palatabilitas dari pakan yang diberikan.
32