• Tidak ada hasil yang ditemukan

g /c m 3 ) JIS A 5908 : 2003 ρ 0,40 - 0,90 (g/cm3)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sifat Fisis OSB Bambu Betung, Andong dan Tali

Kerapatan

Berdasarkan hasil pengujian, nilai rata-rata kerapatan dari keenam jenis papan berkisar antara 0,77-0,84 g/cm3 (Gambar 9). Kerapatan yang dihasilkan dalam penelitian ini sedikit lebih besar dibandingkan kerapatan sasaran yaitu 0,75 g/cm3. Seluruh papan yang dibuat memenuhi standar yang ditetapkan dalam JIS A 5908-2003 yaitu sebesar 0,4-0,9 g/cm3. Kerapatan tertinggi terdapat pada perlakuan yang menggunakan bambu Betung dengan komposisi perekat Isosianat-MF sedangkan perlakuan terendah adalah bambu Tali dengan komposisi perekat Isosianat-UF.

Gambar 9 Histogram kerapatan OSB bambu

Dalam penelitian ini dilakukan koreksi data pada kerapatan yang sama yaitu 0,75 g/cm3 untuk setiap parameter sifat fisis dan mekanis papan dengan tujuan menghilangkan pengaruh perbedaan kerapatan papan.

0,77 0,84

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00

Iso-UF Iso- MF Iso-UF Iso- MF Iso-UF Iso- MF

Betung Andong Tali

Perlakuan K a d a r a ir ( % ) JIS A 5908 : 2003 KA 5 - 13% Kadar Air

Rata-rata kadar air hasil pengujian dari keenam jenis papan berkisar antara 5,47-7,15% (Gambar 10). Seluruh papan yang diuji memenuhi standar yang ditetapkan dalam JIS A 5908-2003 yaitu berkisar antara 5-13%. Analisis sidik ragam (Lampiran 8) menunjukkan adanya pengaruh jenis bambu terhadap kadar air OSB dan hasil uji lanjut Duncan menunjukkan kadar air papan yang terbuat dari bambu Tali lebih tinggi dibandingkan bambu Betung dan Andong. Menurut Nuryatin (2000), dinding serabut bambu Tali (16,564 µ)lebih tipis dibandingkan bambu Betung (18,737 µ) dan Andong (18,205 µ). Hal ini menyebabkan perekat semakin sulit untuk berpenetrasi ke dalam strands bambu Tali. Selain itu viskositas perekat campuran yang digunakan agak tinggi sehingga kemampuan perekat untuk membasahi permukaan yang direkat semakin rendah akibatnya terjadi proses perekatan yang lemah karena berkurangnya daerah kontak dan tercipta celah/rongga udara yang memungkinkan uap air di sekeliling OSB dapat diserap oleh strands.

Gambar 10 Histogram kadar air OSB bambu

Pengembangan Tebal

Rata-rata nilai pengembangan tebal papan selama 2 jam berkisar antara 1,32-3,86%. Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 9) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh interaksi antara jenis bambu dan komposisi perekat terhadap pengembangan tebal setelah perendaman 2 jam dan hasil uji lanjut Duncan

5,47

menunjukkan papan yang terbuat dari bambu Andong dengan menggunakan perekat Isosianat-UF dan Isosianat-MF lebih tinggi dibandingkan papan yang terbuat dari bambu Betung dan bambu Tali. Bambu Betung dan bambu Tali memiliki nilai CR lebih tinggi masing-masing 1,30 dan 1,19 dibanding bambu Andong 1,07. Menurut Bowyer et al. (2003), untuk mendapatkan papan dengan kontak yang memuaskan antar partikel-partikelnya, dibutuhkan CR yang berkisar 1,2 – 1,6. Hal ini didukung oleh pernyataan Maloney (1993) bahwa nilai CR 1,3 dapat menghasilkan papan dengan kualitas yang baik.

Rata-rata nilai pengembangan tebal papan selama 24 jam berkisar antara 4,30-8,55%. Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 10) menunjukkan adanya interaksi antara jenis bambu dan komposisi perekat terhadap pengembangan tebal setelah perendaman 24 jam dan hasil uji lanjut Duncan menunjukkan papan yang terbuat dari bambu Tali dengan perekat Isosianat-UF dan bambu Andong memiliki nilai pengembangan tebal lebih tinggi dibandingkan bambu Betung dan bambu Tali dengan perekat Isosianat-MF. Hal ini disebabkan karena nilai CR yang rendah pada bambu Andong dan reaksi perekat UF dengan kandungan air lebih tinggi pada bambu Tali dengan perendaman 24 jam menimbulkan tegangan yang cukup kuat untuk mematahkan ikatan perekat dengan papan. Pengembangan tebal 24 jam dipersyaratkan dalam JIS A 5908-2003 yaitu maksimum 25%. Dengan demikian semua papan yang dihasilkan memenuhi standar. Gambar 11 memperlihatkan nilai rata-rata pengembangan tebal setelah perendaman dalam air selama 2 jam dan 24 jam.

0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00

Iso-UF Iso- MF Iso-UF Iso- MF Iso-UF Iso- MF

Betung Andong Tali

Pe rlakuan P e n g e m b a n g a n t e b a l (% ) PT 2 jam PT 24 jam JIS A 5908 : 2003 PT 24 jam < 25 %

Gambar 11 Histogram pengembangan tebal OSB bambu

Pengembangan tebal dapat menentukan apakah suatu papan dapat digunakan untuk keperluan interior atau eksterior. Pengembangan tebal yang tinggi menyebabkan stabilitas dimensi papan tersebut rendah sehingga tidak dapat dipakai untuk penggunaan eksterior dalam jangka waktu yang lama, karena sifat mekanis yang dimilikinya akan menurun secara drastis dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.

Pengembangan Linier

Nilai rata-rata pengembangan linear setelah perendaman 2 jam berkisar antara 0,13-0,32%. Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 11) menunjukkan adanya pengaruh jenis bambu terhadap pengembangan linier setelah perendaman 2 jam dan hasil uji lanjut Duncan menunjukkan papan yang terbuat dari bambu Andong memiliki nilai pengembangan linier lebih tinggi dibandingkan bambu Tali dan bambu Betung. Berdasarkan nilai CR, bambu Andong memiliki nilai CR lebih rendah dibandingkan bambu Betung dan Tali sehingga kontak antar strand kurang

kuat.

Rata-rata nilai pengembangan linier setelah perendaman 24 jam berkisar antara 0,36-0,67%. Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 12) menunjukkan adanya pengaruh interaksi antara jenis bambu dan komposisi perekat terhadap pengembangan linier setelah perendaman 24 jam dan hasil uji lanjut Duncan menunjukkan papan yang terbuat dari bambu Tali dengan perekat Isosianat-MF

8,55

1,32

0.00 0.20 0.40 0.60 0.80

Iso-UF Iso- MF Is o-UF Iso- MF Iso-UF Iso- MF

Betung Andong Tali

Perlakuan P e n g e m b a n g a n l in ie r ( % ) PL 2 jam PL 24 jam

dan bambu Andong lebih tinggi dibandingkan dengan bambu Betung dengan perekat Isosianat-MF dan bambu Tali dengan perekat Isosianat-UF. Hal ini berkaitan dengan nilai CR bambu Andong yang rendah dan nilai viskositas perekat Isosianat-MF yang lebih tinggi dibanding Isosianat-UF sehingga kemampuan perekat untuk membasahi permukaan yang direkat semakin rendah dan masih ada rongga antar strand yang dapat menyerap air pada saat dilakukan

perendaman. Nilai rata-rata pengembangan linier setelah papan direndam selama 2 jam dan 24 jam untuk setiap OSB yang dihasilkan disajikan pada Gambar 12.

Gambar 12 Histogram pengembangan linier OSB bambu

Nilai pengembangan linier dalam JIS A 5908-2003 tidak dipersyaratkan. Meskipun demikian, hal tersebut dapat menimbulkan masalah jika papan yang dibuat tidak diharapkan ada pengembangannya.

Daya Serap Air

Berdasarkan hasil pengujian, nilai rataan daya serap air keenam jenis papan setelah perendaman 2 jam berkisar antara 4,44-8,69%. Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 13) menunjukkan adanya pengaruh interaksi antara jenis bambu dan komposisi perekat terhadap daya serap air setelah perendaman 2 jam dan hasil uji lanjut Duncan menunjukkan papan yang terbuat dari bambu Andong dan bambu Betung serta bambu Tali dengan perekat Isosianat-MF lebih tinggi dibandingkan dengan papan yang terbuat dari bambu Betung dengan perekat Isosianat-UF. Hal ini disebabkan karena nilai CR yang rendah pada bambu

0,67

0,36

0,32

0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00

Iso-UF Iso- MF Iso-UF Iso- MF Iso-UF Iso- MF

Betung Andong Tali

Perlakuan D S A ( % ) DSA 2 jam DSA 24 jam Andong dan viskositas perekat campuran Isosianat-MF lebih tinggi sehingga perekat sulit untuk masuk ke dalam strand sehingga tercipta rongga/ruang udara

antar partikel dalam papan yang dapat menampung dan menyerap air saat dilakukan perendaman.

Nilai rataan daya serap air setelah perendaman 24 jam berkisar antara 19,84-25,21%. Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 14) menunjukkan adanya pengaruh jenis bambu dan komposisi perekat terhadap daya serap air setelah perendaman 24 jam dan hasil uji lanjut Duncan menunjukkan papan yang terbuat dari bambu Andong dan bambu Betung lebih tinggi dibandingkan dengan bambu Tali, sedangkan komposisi perekat Isosianat-UF memiliki nilai daya serap air lebih tinggi dibandingkan dengan Isosianat-MF. Tingginya nilai daya serap air pada bambu Andong dan bambu Betung dengan perekat Isosianat-UF disebabkan karena memiliki sudut kontak yang lebih besar (Lampiran 48). Semakin besar sudut kontak maka semakin sedikit pembasahan sehingga penetrasi perekat semakin sedikit (Ruhendi 2007). Penyerapan perekat yang tidak maksimal menyebabkan penyerapan air ke dalam strand atau celah antar strand semakin

besar. Gambar 13 memperlihatkan nilai rata-rata daya serap setelah perendaman 2 jam dan 24 jam.

Gambar 13 Histogram daya serap air OSB bambu 25,21

8,69 4,44

Nilai daya serap air dalam JIS A 5908-2003 tidak dipersyaratkan. Meskipun daya serap air tidak dipersyaratkan, namun hal ini perlu dilakukan pengujian karena untuk mengetahui ketahanan papan terhadap air dan dalam penggunaannya jika ditempatkan dalam cuaca yang ekstrim dalam hal ini hujan dan kelembaban tinggi.

Sifat Mekanis OSB Bambu Betung, Andong dan Tali Keteguhan Rekat (Internal Bond)

Keteguhan rekat merupakan kekuatan tarik tegak lurus serat permukaan panel serta ukuran tunggal terbaik terhadap kualitas dari produksi karena mengindikasikan kekuatan ikatan antar partikel. Hal ini merupakan pengujian yang penting untuk pengendalian kualitas karena menunjukkan kemampuan

blending, pembentukan lembaran dan proses pengempaan (Bowyer et al. 2003).

Nilai rata-rata keteguhan rekat keenam jenis papan berkisar antara 4,52-7,10 kgf/cm2 yang disajikan pada Gambar 14. Nilai keteguhan rekat yang dipersyaratkan dalam JIS A 5908-2003 minimum 3,10 kgf/cm2. Seluruh papan dalam penelitian ini memenuhi standar. Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 15) menunjukkan adanya pengaruh jenis bambu, dan interaksi kedua faktor terhadap keteguhan rekat dan hasil uji lanjut Duncan menunjukkan papan yang terbuat dari bambu Andong dan bambu Betung dengan perekat Isosianat-MF lebih tinggi dibandingkan dengan bambu Tali. Hal ini disebabkan karena dinding serabut bambu Tali lebih tipis dibandingkan bambu Betung dan Andong sehingga perekat semakin sulit untuk berpenetrasi ke dalam strands bambu Tali.

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00

Iso-UF Iso- M F Iso-UF Iso- M F Iso-UF Iso- M F

Betung Andong Tali

Perlakuan K e te g u h a n r e k a t (k g f/ c m 2 ) JIS A 5908 : 2003 KR > 3,10

Gambar 14 Histogram keteguhan rekat OSB bambu

Modulus Elastisitas (MOE) Kering Sejajar Panjang dan Lebar OSB

Hasil pengujian MOE kering sejajar panjang berkisar 10,26-16,11 x 104 kgf/cm2. Semua papan yang dihasilkan memenuhi standar yang ditetapkan dalam JIS A 5908-2003 yaitu nilai MOE kering sejajar panjang minimum 4,08 x 104 kgf/cm2. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam (Lampiran 16), jenis bambu berpengaruh terhadap MOE kering sejajar panjang dan hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bambu Tali dan bambu Andong lebih tinggi daripada bambu Betung. Menurut Janssen (1981), nilai MOE ditentukan oleh persentase sklerenkim yang dicerminkan dalam perbedaan nilai BJ. Berdasarkan sifat fisis bambu (Lampiran 2) diperoleh nilai BJ Bambu Tali (0,63) dan bambu Andong (0,70) lebih tinggi dibandingkan bambu Betung (0,57). Sklerenkim merupakan jaringan penguat pada bambu.

Nilai MOE kering sejajar lebar berkisar antara 3,63-6,69 x 104 kgf/cm2. Semua papan yang dihasilkan memenuhi standar yang ditetapkan dalam JIS A 5908-2003 yaitu nilai MOE kering sejajar lebar minimum 1,33 x 104 kgf/cm2. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam (Lampiran 17) komposisi perekat berpengaruh terhadap MOE kering sejajar lebar dan hasil uji lanjut Duncan menunjukkan komposisi perekat Isosianat-UF lebih tinggi dibandingkan dengan Isosianat-MF. Nilai viskositas perekat Isosianat-UF lebih rendah dibandingkan

7,10

0.00 4.00 8.00 12.00 16.00 20.00

Iso-UF Iso- MF Iso-UF Iso- MF Iso-UF Iso- MF

Betung Andong Tali

Perlakuan M O E k er in g (x 1 0 4 kg f/ cm 2 ) // pjg // lbr

JIS A 5908 : 2003, // panjang > 4,08x104, // lebar > 1,33 x 104

Isosianat-MF (Lampiran 3) sehingga perekat dengan mudah berpenetrasi ke dalam

strand. Berdasarkan hasil pengujian, nilai MOE kering sejajar panjang lebih besar

dibandingkan nilai MOE kering sejajar lebar. Pada pengujian MOE sejajar arah memanjang, beban seolah-olah memotong serat sehingga dibutuhkan beban yang lebih tinggi sedangkan untuk pengujian MOE sejajar lebar, beban seolah-olah membelah orientasi serat strands pada lapisan permukaan sehingga dibutuhkan

beban yang lebih rendah. MOE berhubungan dengan kekakuan papan. Semakin meningkatnya nilai MOE maka papan akan semakin tahan terhadap perubahan bentuk. Nilai rata-rata MOE kering sejajar panjang dan MOE kering sejajar lebar disajikan pada Gambar 15.

Gambar 15 Histogram MOE kering sejajar panjang dan sejajar lebar OSB bambu

Modulus Elastisitas (MOE) Basah Sejajar Panjang dan Lebar OSB

Berdasarkan hasil pengujian, nilai rata-rata MOE basah sejajar panjang berkisar antara 8,01-10,85 x 104 kgf/cm2. Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 18) menunjukkan adanya pengaruh jenis bambu dan komposisi perekat terhadap MOE basah sejajar panjang dan hasil uji lanjut Duncan menunjukkan papan yang terbuat dari bambu Tali dan bambu Andong lebih tinggi dibandingkan dengan bambu Betung. Komposisi perekat MF lebih tinggi daripada

Isosianat-10,26

16,11

6,69

0.00 4.00 8.00 12.00

Iso-UF Iso- MF Iso-UF Iso- MF Iso-UF Iso- MF

Betung Andong Tali

Perlakuan M O E b a sa h ( x 1 0 4 kg f/ cm 2 ) // pjg // lbr UF. Bambu Tali dan bambu Andong memiliki nilai BJ lebih tinggi dibanding bambu Betung. Perbedaan nilai BJ mencerminkan perbedaan persentase sklerenkim yang merupakan jaringan penguat pada bambu. Pada pengujian MOE basah dilakukan perebusan contoh uji dalam air mendidih selama 2 jam kemudian direndam dalam air dingin selama 1 jam. Diduga perlakuan yang diberikan mempengaruhi ketahanan perekat terhadap air. Perekat Isosianat dan MF pada bambu Betung yang bersifat lebih tahan terhadap air menyebabkan daya rekat papan tetap kuat dan semakin tahan terhadap perubahan bentuk dibandingkan komposisi perekat Isosianat dan UF pada bambu Tali dan bambu Andong.

Nilai rata-rata pengujian MOE basah sejajar lebar 2,55-4,20 x 104 kgf/cm2. Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 19) menunjukkan adanya pengaruh komposisi perekat terhadap MOE basah sejajar lebar dan hasil uji lanjut Duncan menunjukkan papan dengan komposisi perekat Isosianat-MF lebih tinggi daripada Isosianat-UF. Seperti halnya dengan MOE basah sejajar panjang, sifat perekat Isosianat dan MF yang tahan air menyebabkan nilai MOE basah sejajar lebar dengan komposisi perekat Isosianat-MF lebih tinggi dibandingkan Isosianat-UF. Nilai rata-rata pengujian MOE basah sejajar panjang dan pengujian MOE basah sejajar lebar disajikan pada Gambar 16.

Gambar 16 Histogram MOE basah sejajar panjang dan sejajar lebar OSB bambu

Nilai MOE pada kondisi basah tidak dipersyaratkan dalam standar JIS A 5908-2003. Nilai MOE pada kondisi basah lebih kecil dibandingkan nilai MOE

8,01 10,85

2,55

kering. Hal ini disebabkan karena adanya perlakuan perebusan selama 2 jam dan perendaman air dingin selama 1 jam sehingga melemahkan ikatan perekat antar

strands.

Modulus Patah (MOR) Kering Sejajar Panjang dan Lebar OSB

Hasil pengujian terhadap nilai rataan MOR kering sejajar panjang berkisar 1133-1458 kgf/cm2. Semua papan yang diuji memenuhi standar yang ditetapkan dalam JIS A 5908-2003 yaitu minimum 245 kgf/cm2 untuk nilai MOR sejajar panjang. Analisis sidik ragam (Lampiran 20) menunjukkan jenis bambu, komposisi perekat dan interaksi kedua faktor tidak berpengaruh terhadap MOR kering sejajar panjang. Hal ini karena dimensi strands yang digunakan memiliki

ukuran hampir sama. Beradasarkan hasil pengukuran strands diperoleh nilai aspect ratio 3 sampai 4. Penelitian Nishmura (2004) dalam Nuryawan (2007)

menyatakan bahwa untuk menghasilkan MOR yang tinggi dapat diperoleh dari

strands dengan nilai aspect ratio antara 3 sampai 4.

Nilai rata-rata MOR kering sejajar lebar berkisar antara 591-920 kgf/cm2. Semua papan yang diuji memenuhi standar yang ditetapkan dalam JIS A 5908-2003 yaitu minimum 102 kgf/cm2 untuk nilai MOR sejajar lebar. Analisis sidik ragam (Lampiran 21) menunjukkan adanya pengaruh jenis bambu, komposisi perekat dan interaksi kedua faktor terhadap MOE kering sejajar lebar dan hasil uji lanjut Duncan menunjukkan papan yang menggunakan komposisi perekat Isosianat-UF untuk jenis bambu Andong dan bambu Tali memiliki nilai MOR sejajar lebar lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan karena nilai BJ pada bambu Andong dan Tali lebih tinggi dibanding bambu Betung. Nilai BJ yang tinggi menyebabkan persentase sklerenkim lebih besar sehingga papan yang dihasilkan lebih kuat menahan beban yang diberikan.

Nilai rata-rata pengujian MOR kering sejajar panjang dan pengujian MOR kering sejajar lebar disajikan pada Gambar 17.

0 400 800 1200 1600

Iso-UF Iso- MF Iso-UF Iso- MF Iso-UF Iso- MF

Betung Andong Tali

Perlakuan M O R k er in g ( k g f/ cm 2 ) // pjg // lbr

JIS A 5908 : 2003, // panjang > 245 , // lebar > 102

Gambar 17 Histogram MOR kering sejajar panjang dan sejajar lebar OSB bambu

Modulus Patah (MOR) Basah Sejajar Panjang dan Lebar OSB

Berdasarkan hasil pengujian, nilai MOR basah sejajar panjang berkisar antara 699-1153 kgf/cm2. Nilai MOR basah sejajar panjang yang ditetapkan alam JIS A 5908-2003 minimum 122 kgf/cm2. Dengan demikian seluruh papan yang diuji memenuhi standar. Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 22) menunjukkan adanya pengaruh jenis bambu, komposisi perekat dan interaksi kedua faktor terhadap MOR basah sejajar panjang dan hasil uji lanjut Duncan menunjukkan papan yang terbuat dari bambu Betung , bambu Andong dengan perekat Isosianat-MF, bambu Tali dengan perekat Isosianat-UF memiliki nilai MOR basah sejajar panjang lebih tinggi dibandingkan bambu Andong dengan komposisi perekat Isosianat-UF. Hal ini disebabkan karena CR bambu Andong yang rendah dan reaksi perekat Isosianat-UF saat diberikan perlakuan perebusan dan perendaman melemahkan daya rekat antar strands.

Nilai rata-rata MOR basah sejajar lebar berkisar antara 429-715 kgf/cm2. Nilai MOR basah sejajar lebar yang ditetapkan dalam JIS A 5908-2003 minimum 51 kgf/cm2 sehingga seluruh papan yang diuji memenuhi standar. Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 23) menunjukkan jenis bambu, komposisi perekat dan interaksi kedua faktor berpengaruh terhadap MOR basah sejajar lebar dan hasil uji

1133 1458

920

0 400 800 1200 1600

Iso-UF Iso- MF Iso-UF Iso- MF Iso-UF Iso- MF

Betung Andong Tali

Perlakuan M O R b a sa h ( k g f/ cm 2 ) // pjg // lbr

JIS A 5908 : 2003, // panjang > 122 , // lebar > 51

lanjut Duncan menunjukkan papan yang terbuat dari bambu Andong dengan komposisi perekat Isosianat-MF memiliki nilai MOR sejajar lebar lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Nilai BJ bambu Andong yang lebih tinggi mencerminkan persentase sklerenkim lebih besar. Selain itu sifat perekat Isosianat-MF yang tahan air mampu memberi daya dukung yang baik terhadap papan.

Nilai rata-rata MOR basah sejajar panjang dan nilai MOR basah sejajar lebar setiap papan disajikan pada Gambar 18.

Gambar 18 Histogram MOR basah sejajar panjang dan sejajar lebar OSB bambu

Kuat Pegang Sekrup

Hasil pengujian menunjukkan nilai rata-rata kuat pegang sekrup berkisar antara 79,01-97,70 kgf yang disajikan pada Gambar 19. Nilai kuat pegang sekrup yang dipersyaratkan dalam JIS A 5908-2003 adalah minimum 49,02 kgf sehingga OSB yang dihasilkan semuanya memenuhi standar. Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 24) menunjukkan bahwa interaksi antara jenis bambu dan komposisi perekat berpengaruh terhadap kuat pegang sekrup dan hasil uji lanjut Duncan menunjukkan papan yang terbuat dari bambu Andong dengan perekat Isosianat-MF dan bambu Betung dengan perekat Isosianat-UF memiliki nilai kuat pegang sekrup lebih tinggi dibandingkan dengan papan yang terbuat dari bambu Andong

429 1153

0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00

Iso-UF Iso- MF Iso-UF Iso- MF Iso-UF Iso- MF

Betung Andong Tali

Perlakuan K P S ( k g f) JIS A 5908 : 2003 KPS > 49,02

dengan perekat Isosianat-UF dan bambu Tali dengan perekat Isosianat-MF. Hal ini berkaitan dengan kadar air papan. Kadar air papan yang tinggi menyebabkan daya pegang sekrup lebih rendah. Nilai rata-rata kuat pegang sekrup setiap papan dapat dilihat pada Gambar 19.

Gambar 19 Histogram kuat pegang sekrup OSB bambu

Nilai kuat pegang sekrup yang tinggi sangat mendukung dalam pengerjaan papan misalnya pembuatan furniture atau pelapis lantai yang membutuhkan sekrup atau paku sebagai sambungan.

Perbandingan Sifat Fisis dan Mekanis OSB Tahap 1

Perbandingan sifat fisis dan mekanis OSB digunakan untuk melihat kualitas masing-masing OSB. Kualitas OSB yang dihasilkan dirangking berdasarkan nilai hasil pengujian. OSB terbaik adalah OSB dengan jumlah skor terkecil dan paling banyak memenuhi standar JIS A 5908-2003. Hasil perangkingan dapat dilihat pada Lampiran 6.

Hasil perangkingan menunjukkan bahwa OSB terbaik pada tahap 1 adalah OSB yang dibuat menggunakan bambu Betung dengan komposisi campuran perekat Isosianat-MF. Perlakuan OSB terbaik kemudian digunakan untuk penelitian selanjutnya pada kadar perekat yang berbeda. Dalam penelitian ini

79,01 97,70

0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 100 : 0% 80 : 20% 60 : 40% 40 : 60% 20 : 80% 0 : 100% Isosianat : MF Perlakuan K er a p a ta n ( g /c m 3 ) JIS A 5908 : 2003 ρ 0,40 - 0,90 (g/cm3)

semua papan memenuhi standar dimana terdapat 11 parameter sifat fisis dan mekanis.

Sifat Fisis OSB Bambu Betung pada Berbagai Perbandingan Komposisi Perekat

Kerapatan

Berdasarkan hasil pengujian, nilai rataan kerapatan dari keenam jenis papan berkisar antara 0,67-0,76 g/cm3 (Gambar 20). Kerapatan tertinggi terdapat pada papan dengan perlakuan rasio perekat Isosianat-MF 100:0% dan 60:40%. Sedangkan kerapatan terendah adalah perlakuan dengan rasio perekat Isosianat-MF 0:100%. Seluruh papan yang dibuat memenuhi standar yang ditetapkan dalam JIS A 5908-2003 yaitu sebesar 0,4-0,9 g/cm3.

Gambar 20 Histogram kerapatan OSB bambu

Dalam penelitian ini dilakukan koreksi data pada kerapatan yang sama yaitu 0,75 g/cm3 untuk setiap parameter sifat fisis dan mekanis papan dengan tujuan menghilangkan pengaruh perbedaan kerapatan papan.

Kadar Air

Berdasarkan hasil pengujian, nilai rata-rata kadar air keenam jenis papan berkisar antara 3,76-6,23% yang disajikan pada Gambar 21. Menurut standar JIS

0,67 0,76

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 100 : 0% 80 : 20% 60 : 40% 40 : 60% 20 : 80% 0 : 100% Isosianat : MF Perlakuan K a d a r a ir ( % ) JIS A 5908 : 2003 KA 5 - 13%

A 5908-2003 ditetapkan nilai kadar air berkisar antara 5-13%. Perlakuan dengan rasio perekat Isosianat-MF 100:0%, 80:20%, 60:40%, 40:60% memiliki kadar air kurang dari 5%. Sedangkan perlakuan dengan rasio perekat Isosianat-MF 20:80% dan 0:100% memenuhi standar.

Gambar 21 Histogram kadar air OSB bambu

Berdasarkan hasil sidik ragam (Lampiran 29) rasio perekat berpengaruh nyata terhadap kadar air papan. Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa penggunaan rasio perekat Isosianat-MF 0:100% memiliki kadar air lebih tinggi dibandingkan dengan kadar perekat yang lain. Pada Gambar 21 memperlihatkan adanya kecenderungan semakin tinggi kadar MF dalam campuran perekat maka nilai kadar airnya semakin tinggi pula atau semakin rendah kadar Isosianat maka

Dokumen terkait