• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kadar Air

Gambar 4 menunjukan perubahan kadar air bibit bawang merah dengan beberapa perlakuan kadar air, yaitu kadar air ±85% (K1), ±83% (K2), dan ±81% (K3) dengan perlakuan penyimpanan suhu rendah 5°C (P1) di dalam cold storage

dan suhu ruang (P2) disimpan selama 8 minggu. Perlakuan kadar air bibit bawang merah dengan cara pengeringan pada awal penelitian memberikan nilai kadar air yang berbeda-beda. Semakin lama pengeringan, maka kadar air bibit bawang merah akan semakin kecil. Untuk kadar air pengeringan 2 hari (K1) rata-rata sebesar 85%, untuk pengeringan 7 hari (K2) rata-rata kadar air sebesar 83.6% dan untuk pengeringan selama 14 hari (K3) kadar air rata-rata sebesar 81.8% (Lampiran 3). Beda penurunan kadar air mencapai ±1.5%.

Grafik perubahan kadar air bibit bawang merah pada Gambar 4 menunjukkan bahwa terjadi fluktuasi kadar air selama penyimpanan. Menurut Andreas (2013) fluktuasi kadar air selama penyimpanan karena pengambilan sampel yang berbeda tiap minggunya. Kadar air yang diharapkan selama penyimpanan adalah bibit bawang merah dengan kadar air yang tidak tinggi. Hal ini sesuai pernyataan Sutopo (2002) yang menyatakan bahwa pada umumnya bibit tidak dianjurkan disimpan pada kadar air tinggi, karena akan cepat kehilangan viabilitasnya, dengan banyak air dalam bibit maka pernapasan akan dipercepat sehingga bibit akan kehilangan banyak energi.

Suhu dan RH udara dalam penyimpanan juga mempengaruhi fluktuasi kadar air bibit bawang. Menurut penyataan Rubatzky dan Yamaguchi (1998) hubungan suhu penyimpanan terhadap perubahan kadar air adalah semakin tinggi suhu maka laju respirasi akan meningkat hal ini yang menyebabkan kadar air bibit bawang merah turun begitu pula sebaliknya jika suhu turun maka respirasi akan menurun dan kadar air bibit bawang merah meningkat. Hubungan RH udara penyimpanan dengan perubahan kadar air adalah semakin tinggi RH udara maka udara mengandung banyak air yang cenderung akan diserap oleh bibit bawang merah sehingga kadar air akan meningkat dan sebaliknya jika RH udara rendah maka udara mengandung lebih sedikit air sehingga kadar air bibit bawang merah akan turun.

Berdasarkan grafik perubahan kadar air (Gambar 4), lama pengeringan berpengaruh terhadap perubahan kadar air. Untuk kelompok K1, perubahan kadar air memiliki kisaran 83-85%, kelompok K2 memiliki kisaran 82-83%, dan kelompok K3 memiliki kisaran 80-83% selama penyimpanan 8 minggu. Pada minggu ketujuh terjadi penurunan kadar air pada semua kemasan. Penurunan kadar air terendah pada minggu ke-7 terjadi pada kemasan K3P2 sebesar 80.85%. Hal ini menunjukkan bahwa pada minggu ke-7 terjadi kenaikan suhu dan penurunan RH udara yang menyebabkan penurunan kadar air. Namun hanya pada kemasan K2P1 yang mengalami kenaikan kadar air pada minggu ke-7. Hal ini disebabkan oleh faktor diluar kontrol yang dapat mempengaruhi perubahan kadar air.

13 Menurut pernyataan Nurkomar (2001) molekul-molekul pada permukaan air yang berinteraksi dengan udara mengalami pergerakan untuk membebaskan diri menuju udara yang molekulnya lebih sedikit dan lebih bebas. Gerakan pelepasan molekul yang disebut evaporasi atau penguapan ini menyebabkan permukaan air mempengaruhi tekanan atmosfer menjadi Water Vapour Pressure (WVP). Air pada suhu tertentu memiliki WVP konstan, sedangkan uap air sesuai dalam udara memiliki tekanan parsial yang dikenal sebagai WVP udara. Jika molekul-molekul air terus melepaskan diri menuju udara dalam suatu sistem tertutup, konsentrasinya akan meningkat. Gerakan acak yang dilakukan mengakibatkan molekul-molekul ini makin terpusat, dan terjadi gaya tarik-menarik yang semakin kuat hingga akhirnya kembali membentuk fase cair, baik dalam bentuk kabut atau embun. Pada konsentrasi maksimum, udara dikatakan jenuh dengan uap air dan tekanan parsial dari uap air di udara sama dengan WVP permukaan air. Pada keadaan jenuh dan temperatur merata, air dan uap air atmosferik berada dalam keadaan kesetimbangan dinamik dan terjadi pertukaran molekul antara fase cair dan fase uap. Jika udara dan air jenuh berada pada temperatur sama, air akan mengalami evaporasi sampai kesetimbangan dinamik tercapai pada WVP jenuh. Pengaruh dari Water Vapour Pressure (WVP) ini yang menyebabkan pada kemasan K2P1 mengalami kenaikan kadar air pada minggu ke-7 sedangkan pada kemasan K1P1, K1P2, K2P2, K3P1, dan K3P2 mengalami penurunan kadar air.

Penurunan kadar air dari awal penyimpanan sampai akhir penyimpanan tertinggi terjadi pada kemasan K1P1 sebesar 1.75%. Hal ini menunjukkan bahwa kemasan K1P1 yang disimpan di cold storage mampu mempertahankan viabilitasnya karena mampu mempertahankan kadar airnya untuk tetap rendah.

Gambar 4 Perubahan kadar air bibit bawang merah selama penyimpanan dengan perlakuan kadar air (±85%, ±83%, dan ±81%) dan perlakuan suhu (5°C dan suhu ruang)

80.00 81.00 82.00 83.00 84.00 85.00 86.00 0 2 4 6 8 K ad ar air ( % )

Lama penyimpanan (minggu)

14

Berdasarkan grafik analisis regresi linear perubahan kadar air (Gambar 5), kemasan K1P1 memiliki nilai koefisien regresi tertinggi sebesar -0.170, hal ini menunjukkan bahwa laju penurunan kadar air paling cepat terjadi pada kemasan K1P1 dibandingkan dengan kemasan yang lainnya.

Gambar 5 Analisis regresi linear perubahan kadar air bibit bawang merah selama penyimpanan dengan perlakuan kadar air (±85%, ±83%, dan ±81%) dan perlakuan suhu (5°C dan suhu ruang)

Tabel 3 Pengaruh interaksi kadar air awal dan suhu terhadap kadar air bibit bawang merah selama penyimpanan

Perlakuan Kadar air bawang merah pada minggu ke-

0 1 2 3 4 5 6 7 8

Kadar air bibit bawang merah (%) a

K1 P1 85.3a 84.3a 84.4a 84.1a 84.3a 83.9a 84.0a 83.2a 83.8a P2 84.7a 83.6a 83.2a 83.9a 84.0a 83.6a 83.8a 83.3a 83.9a K2 P1 83.6a 83.1a 83.7a 83.5a 83.9a 83.5a 82.6a 82.8a 83.2a P2 83.6a 83.3a 83.0a 82.7a 83.2a 82.5a 82.7a 82.3a 83.0a K3 P1 81.9a 83.1a 82.7a 82.2a 82.8a 83.4a 82.9a 82.0a 82.4a P2 81.8a 82.1a 82.1a 81.6a 81.8a 82.6a 82.0a 80.8a 81.2a

a

Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji DMRT

y = -0.1709x + 84.845 R² = 0.69 y = -0.0466x + 83.994 R² = 0.0834 y = -0.0786x + 83.657 R² = 0.2539 y = -0.0998x + 83.342 R² = 0.4754 y = 0.004x + 82.61 R² = 0.0006 y = -0.0901x + 82.134 R² = 0.23 80.00 81.00 82.00 83.00 84.00 85.00 86.00 0 2 4 6 8 K ad ar air ( % )

Lama penyimpanan (minggu)

Linear (k1p1) Linear (k1p2) Linear (k2p1)

15 Namun hasil uji statistik pada Tabel 3, menunjukkan bahwa interaksi antara kadar air awal dengan suhu tidak berbeda nyata terhadap kadar air bibit bawang merah. Artinya tidak ada pengaruh yang signifikan antara interaksi kadar air awal dengan suhu terhadap kadar air bibit bawang merah selama penyimpanan. Sehingga seluruh perlakuan tidak berpotensi menahan penurunan kadar air bibit bawang merah yang akan berpengaruh terhadap susut bobot.

Susut Bobot

Hubungan kadar air dengan susut bobot adalah semakin tinggi kadar air maka bobot bibit bawang merah akan meningkat, susut bobot akan berkurang dan sebaliknya jika semakin kecil kadar air, bobot akan menurun yang menyebabkan susut bobot akan meningkat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rubatzky dan Yamaguchi (1998), respirasi akan berjalan cepat dengan meningkatnya suhu, sehingga lapisan sekulen terluar dari bawang merah akan lambat laun mengering dan akan mengurangi kandungan air dari lapisan sekulen bagian dalam. Proses ini akan berlanjut, yang berakibat menurunnya lapisan sekulan, bersamaan dengan berkurangnya diameter bibit bawang merah. Faktor yang menentukan tinggi rendahnya hasil produksi bawang merah diantaranya adalah umbi bibit yang digunakan. Faktor yang menentukan kualitas umbi bibit bawang merah adalah diameter umbi. Diameter umbi bibit yang besar cenderung dapat menyediakan cadangan makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya di lapangan (Suwandi dan Hilman 1996).

Grafik perubahan susut bobot per umbi bibit bawang merah pada Gambar 6 menunjukkan bahwa susut bobot bibit bawang merah per umbi jika dikaitkan dengan grafik perubahan kadar air (Gambar 4), seharusnya jika kadar air meningkat maka susut bobot akan berkurang dan sebaliknya jika kadar air turun maka susut bobot akan meningkat. Namun yang terjadi adalah ketika kadar air meningkat susut bobot ikut meningkat, begitu pula saat kadar air turun maka susut bobot juga turun. Seperti pada kemasan K1P2 dan K3P2 pada minggu ke-8, berdasarkan grafik perubahan susut bobot per umbi mengalami peningkatan susut bobot dan pada grafik perubahan kadar air minggu ke-8 (Gambar 4) juga mengalami peningkatan kadar air. Hal ini dikarenakan penggunaan sampel untuk kadar air dan susut bobot yang berbeda dan pengaruh Water Vapour Pressure

(WVP).

Grafik perubahan susut bobot per umbi bibit bawang merah pada Gambar 6 menunjukkan bahwa susut bobot bibit bawang merah per umbi mengalami fluktuasi selama penyimpanan 8 minggu. Perubahan susut bobot per umbi pada penyimpanan suhu 5°C (P1) lebih kecil dibandingkan dengan penyimpanan suhu ruang (P2). Perubahan susut bobot tertinggi terjadi pada minggu ke-8 kemasan K3P2 susut bobot sebesar 5.08%. Total kenaikan susut bobot tertinggi dari awal penyimpanan sampai akhir penyimpanan terjadi pada kemasan K2P2 sebesar 29.83%. Total kenaikan susut bobot terkecil dari awal penyimpanan sampai akhir penyimpanan terjadi pada kemasan K2P1 sebesar 8.95%. Penyimpanan pada suhu 5°C (P1) dengan rata-rata RH udara sebesar 71.55% dapat mempertahankan kenaikan susut bobot yang paling baik.

16

Gambar 6 Perubahan susut bobot per umbi bibit bawang merah selama penyimpanan dengan perlakuan kadar air (±85%, ±83%, dan ±81%) dan perlakuan suhu (5°C dan suhu ruang)

Berdasarkan grafik analisis regresi linear perubahan susut bobot per umbi (Gambar 7), kemasan K2P2 memiliki nilai koefisien regresi tertinggi sebesar 0.722, hal ini menunjukkan bahwa laju kenaikan susut bobot paling cepat terjadi pada kemasan K2P2 selama penyimpanan 8 minggu.

Gambar 7 Analisis regresi linear susut bobot per umbi bibit bawang merah selama penyimpanan dengan perlakuan kadar air (±85%, ±83%, dan ±81%) dan perlakuan suhu (5°C dan suhu ruang)

0 1 2 3 4 5 6 0 1 2 3 4 5 6 7 8 S u su t b o b o t (% )

Lama penyimpanan (minggu)

k1p1 k1p2 k2p1 k2p2 k3p1 k3p2 y = 0.271x R² = 0.3741 y = 0.630x R² = 0.157 y = 0.203x R² = 0.281 y = 0.7227x R² = 0.3993 y = 0.291x R² = 0.493 y = 0.5609x R² = 0.715 0 1 2 3 4 5 6 7 0 1 2 3 4 5 6 7 8 S u su t b o b o t (% )

Lama penyimpanan (minggu)

Linear (k1p1) Linear (k1p2) Linear (k2p1)

17 Hasil uji statistik pada Tabel 4, menunjukkan bahwa interaksi kadar air dan suhu tidak berbeda nyata terhadap susut bobot per umbi bibit bawang merah. Artinya interaksi antara kadar air dengan suhu tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan susut bobot bibit bawang merah selama penyimpanan. Interaksi kadar air dan suhu menunjukkan hasil berbeda nyata hanya pada minggu ke-6. Seperti pada kemasan K1P1 dengan K2P2 pada minggu ke-6 yang menunjukkan hasil interaksi kadar air dan suhu berbeda nyata terhadap susut bobot per umbi bibit bawang merah.

Tabel 4 Pengaruh interaksi kadar air dan suhu terhadap susut bobot per umbi bibit bawang merah selama penyimpanan

Perlakuan Susut bobot bawang merah pada minggu ke-

0 1 2 3 4 5 6 7 8

Susut bobot bibit bawang merah (%) a

K1 P1 0 0.54a 1.17a 1.55a 0.85a 1.48a 1.96bc 2.35a 1.09a P2 0 1.42a 3.99a 3.94a 4.75a 2.98a 2.98ab 3.57a 3.82a K2 P1 0 0.69a 0.84a 1.45a 1.58a 1.21a 0.88c 1.34a 0.95a P2 0 1.70a 4.05a 2.95a 4.19a 3.63a 4.01a 4.62a 4.68a K3

P1 0 0.28a 0.88a 0.70a 2.03a 1.21a 3.02ab 1.59a 1.48a P2 0 1.13a 2.45a 1.86a 2.39a 1.98a 1.91bc 4.46a 5.08a

a

Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji DMRT

Kekerasan

Tekstur (kekerasan) sayuran seperti halnya tekstur buah-buahan atau tanaman lainnya dipengaruhi oleh turgor dari sel-sel yang masih hidup karena turgor berpengaruh terhadap keteguhan sel-sel parenkhima. Tingkat kekerasan bawang merah menunjukkan perubahan fisik bawang merah selama penyimpanan. Kekerasan merupakan salah satu parameter mutu untuk menentukan tingkat kesegaran dari bawang merah (Permadi 1995). Grafik perubahan kekerasan pada Gambar 8 menunjukkan fluktuasi kekerasan bibit bawang setiap minggunya, hal ini disebabkan oleh pengambilan sampel yang berbeda-beda pada setiap minggunya (Andreas 2013). Penyimpanan suhu 5°C bibit bawang merah memiliki tingkat kekerasan lebih tinggi dibandingkan dengan suhu ruang. Nilai kekerasan bibit bawang dengan yang disimpan pada suhu 5°C rata-rata berkisar 4-6 kgf/mm2. Sedangkan kekerasan bibit bawang merah yang disimpan pada suhu ruang rata-rata adalah 3-4 kgf/mm2. Hal ini menunjukkan bahwa penyimpanan suhu 5°C bibit bawang merah dapat mempertahankan kekerasannya. Menurut pernyataan Nugraha et al. (2009), pada umumnya kekerasan akan menurun selama penyimpanan, hal ini dikarenakan terjadi perubahan komposisi penyusun dinding sel maupun komponen makro lainnya, pelunakan dinding sel juga disebabkan oleh perubahan turgor sel yang menyebabkan hilangnya sifat getas dan kesegaran sayuran selama penyimpanan. Namun pada penelitian terjadi peningkatan kekerasan pada kemasan K3P2 setelah penyimpanan 8 minggu sebesar 2.62%.

18

Hal ini dikarenakan kemasan K3 dengan kadar air kisaran 80-83% dan disimpan pada suhu ruang cenderung untuk menyerap air lebih banyak sehingga kekerasan meningkat. Hal ini dipengaruhi juga oleh suhu dan RH udara penyimpanan (Andreas 2013).

Gambar 8 Perubahan kekerasan bibit bawang merah selama penyimpanan dengan perlakuan kadar air (±85%, ±83%, dan ±81%) dan perlakuan suhu (5°C dan suhu ruang)

Berdasarkan grafik analisis regresi linear kekerasan bibit bawang merah pada Gambar 9, kemasan K1P1 memiliki nilai koefisien regresi tertinggi sebesar -0.119, hal ini menunjukan bahwa laju penurunan kekerasan selama penyimpanan tertinggi terjadi pada kemasan K1P1. Penurunan kekerasan dipengaruhi oleh penyimpanan suhu rendah 5°C selama penyimpanan yang dapat meningkatkan kekerasan. 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6 1 2 3 4 5 6 7 8 K e ke rasan ( kgf /m m 2)

Lama penyimpanan (minggu)

19

Gambar 9 Analisis regresi linear kekerasan bibit bawang merah selama penyimpanan dengan perlakuan kadar air (±85%, ±83%, dan ±81%) dan perlakuan suhu (5°C dan suhu ruang)

Tabel 5 Pengaruh interaksi kadar air dan suhu terhadap kekerasan bibit bawang merah selama penyimpanan

Perlakuan Kekerasan bibit bawang merah pada minggu ke-

1 2 3 4 5 6 7 8

Kekerasan bibit bawang merah (kgf/mm2) a

K1 P1 5.35a 5.26a 4.9a 4.28a 4.62a 4a 4.77a 4.6a P2 4.16a 3.92a 3.60a 3.29a 3.60a 3.42a 3.63a 3.62a K2 P1 5.08a 4.99a 4.85a 4.59a 4.32a 4.80a 4.70a 4.83a P2 4.11a 3.79a 3.59a 3.69a 3.54a 3.45a 3.93a 3.81a K3 P1 5.01a 4.57a 4.41a 4.17a 4.45a 4.44a 4.71a 4.66a P2 3.63a 3.71a 3.63a 3.39a 3.28a 3.63a 3.73a 3.73a

a

Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji DMRT

Hasil uji statistik pada Tabel 5 menunjukkan bahwa interaksi kadar air dan suhu tidak berbeda nyata terhadap kekerasan bibit bawang merah. Artinya tidak ada pengaruh yang signifikan antara interaksi kadar air dan suhu terhadap kekerasan bibit bawang merah. Sehingga seluruh perlakuan tidak berpotensi menahan perubahan kekerasan bibit bawang merah.

y = -0.1194x + 5.26 R² = 0.4133 y = -0.066x + 3.9527 R² = 0.348 y = -0.0432x + 4.9674 R² = 0.1967 y = -0.0233x + 3.8453 R² = 0.0705 y = -0.0164x + 4.6296 R² = 0.0262 y = 0.0075x + 3.5595 R² = 0.0123 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6 1 2 3 4 5 6 7 8 K e ke rasan ( kgf /m m 2)

Lama penyimpanan (minggu)

Linear (k1p1) Linear (k1p2) Linear (k2p1)

20

Kerusakan

Kerusakan bibit bawang merah disebabkan oleh bibit bawang yang keropos, bibit bawang yang terserang penyakit, dan bibit bawang yang berakar. Bibit bawang merah yang keropos dikarenakan pengeringan bibit bawang merah terkena sinar matahari langsung secara berlebihan terhadap bibit, sehingga terjadi kerusakan keropos pada bibit bawang merah. Kerusakan bibit bawang merah karena penyakit disebabkan oleh hama dan jamur yang merusak stuktur bibit bawang merah. Kerusakan bibit bawang merah yang berakar disebabkan oleh penyimpanan bibit bawang yang tidak tepat dan bibit bawang merah telah melewati masa dormansinya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rubatzky dan Yamaguchi (1998) bahwa bawang melewati masa dormansi pada suhu dan kelembaban yang sesuai akan diikuti munculnya akar dan tajuk daun.

Grafik kerusakan bibit bawang merah pada Gambar 10 menunjukkan bahwa kerusakan tertinggi bibit bawang merah selama disimpan diakibatkan bibit bawang merah keropos. Kerusakan karena keropos terendah terjadi pada kemasan K2P1 mencapai 1.68% selama penyimpanan 8 minggu. Kerusakan karena keropos tertinggi terjadi pada kemasan K2P2 mencapai 11% selama penyimpanan 8 minggu. Hal ini disebabkan oleh penggunaan suhu ruang yang tinggi dengan kisaran 25-30°C yang menyebabkan terjadinya penguapan yang berlebih pada bibit bawang merah saat penyimpanan (Widiawati 2014). Bibit bawang merah yang mengalami kerusakan karena keropos memiliki kadar air yang kecil yaitu kurang dari 80% karena kehilangan banyak air.

Kerusakan karena penyakit tertinggi mencapai 7.91% terjadi pada terjadi pada kemasan K2P2 yang disebabkan oleh serangan Aspergillus sp. yang menyebabkan bibit bawang menjadi busuk dan hitam yang disimpan dengan suhu ruang.Hal ini menunjukkan bahwa pada kemasan K2P2 dengan kadar air kisaran 82-83% dan disimpan pada suhu ruang selama penyimpnan 8 minggu tidak mampu menahan laju pertumbuhan mikroba.

Kerusakan karena bibit bawang berakar tidak terjadi pada semua kemasan baik pada penyimpanan suhu ruang dan suhu 5°C. Pertumbuhan akar bibit bawang disebabkan oleh pengaruh penyimpanan yang kurang tepat. Hal ini menunjukkan bahwa penyimpanan bibit bawang merah sudah tepat tidak mengalami kerusakan akibat bibit bawang merah berakar dengan kadar air kisaran 80-85% dapat menahan kerusakan bibit bawang merah akibat berakar.

Total persentase kerusakan keseluruhan (penyakit, keropos, dan berakar) dari awal penyimpanan hingga akhir penyimpanan tertinggi terjadi pada kemasan K2P2 sebesar 19.12 %. Hal ini menunjukkan bahwa kemasan K2P2 dengankadar air kisaran 82-83% dan disimpan pada suhu ruang tidak mampu menahan kenaikan persentase kerusakan selama penyimpanan 8 minggu. Total kerusakan pada kemasan K1P1, K2P1, dan K3P1 yang disimpan pada suhu 5°C memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan dengan kemasan K1P2, K2P2, dan K3P2 yang disimpan pada suhu ruang. Hal ini disebabkan oleh penyimpanan suhu rendah 5°C mampu menahan laju kerusakan. Kerusakan yang dialami pada kemasan dengan penyimpanan suhu rendah 5°C tidak lebih dari 3%.

21

Gambar 10 Persentase kerusakan bibit bawang merah selama penyimpanan 8 minggu dengan perlakuan kadar air (±85%, ±83%, dan ±81%) dan perlakuan suhu (5°C dan suhu ruang)

Berdasarkan grafik analisis regresi linear kerusakan bibit bawang merah pada Gambar 11, kemasan K2P2 memiliki nilai koefisien regresi tertinggi sebesar 2.492, hal ini menunjukkan bahwa semakin lama penyimpanan maka laju kenaikan kerusakan paling cepat bertambah pada kemasan K2P2 dibandingkan dengan kemasan yang lainnya.

Gambar 11 Analisis regresi linear kerusakan bibit bawang merah selama penyimpanan dengan perlakuan kadar air (±85%, ±83%, dan ±81%) dan perlakuan suhu (5°C dan suhu ruang)

0 2 4 6 8 10 12 k1p1 k1p2 k2p1 k2p2 k3p1 k3p2 K e ru sakan ( % ) Kemasan

keropos penyakit berakar

y = 0.3713x R² = 0.2858 y = 1.4687x R² = 0.9262 y = 0.36x R² = 0.5423 y = 2.492x R² = 0.8872 y = 0.3945x R² = 0.8772 y = 1.4206x R² = 0.7575 0 5 10 15 20 0 1 2 3 4 5 6 7 8 K e ru sakan t o tal (% )

Lama penyimpanan (minggu)

Linear (k1p1) Linear (k1p2) Linear (k2p1)

22

Hasil uji statistik pada Tabel 6 menunjukkan bahwa interaksi antara kadar air dengan suhu tidak berbeda nyata terhadap kerusakan bibit bawang merah dari minggu ke-1 sampai minggu ke-3. Namun interaksi kadar air dengan suhu menunjukkan hasil berbeda nyata antara minggu ke-4 sampai ke-8. Sehingga perlakuan berpengaruh signifikan terhadap perubahan kerusakan bibit bawang merah.

Tabel 6 Pengaruh interaksi kadar air dan suhu terhadap kerusakan bibit bawang merah selama penyimpanan

Perlakuan Keruskan bibit bawang merah pada minggu ke-

1 2 3 4 5 6 7 8

Kerusakan bibit bawang merah (%)a

K1 P1 1.34a 1.53a 1.92a 1.92c 2.11c 2.11c 2.31c 2.31c P2 3.44a 4.21a 4.98a 6.31b 7.07b 7.64b 10.48b 11.62b K2 P1 1.38a 1.38a 1.38a 1.84c 1.99c 1.99c 2.14c 2.61c

P2 5.54a 7.55a 9.70a 12.1a 12.5a 13.0a 16.66a 19.12a K3 P1 1.18a 1.18a 1.18a 1.62c 2.07c 2.21c 2.80c 2.95c

P2 4.81a 4.96a 5.41a 6.01b 7.21b 7.81b 9.48b 10.68b

a

Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji DMRT

Pertumbuhan Tunas

Pertumbuhan tunas sebelum ditanam pada bibit bawang merah terjadi karena bibit bawang yang disimpan telah melewati batas waktu dormansi mengakibatkan bibit bawang merah yang awalnya dalam keadaan dormansi mengalami pertumbuhan tunas (Andreas 2013). Pengaruh perlakuan kadar air bibit bawang dan penyimpanan dengan suhu rendah terhadap pertumbuhan tunas adalah dapat memperpanjang masa dormasi selama penyimpanan sehingga bibit bawang yang disimpan tidak tumbuh tunas selama penyimpanan. Bibit bawang yang telah tumbuh tunas saat disimpan, dikatakan bibit bawang yang memiliki mutu yang buruk, karena apabila bibit bawang tersebut ditanam tidak akan tumbuh sebaik bibit bawang yang normal (Nugraha et al. 2009).

Grafik persentase pertumbuhan tunas pada Gambar 12 menunjukkan bahwa persentase pertumbuhan tunas untuk kemasan K1P1, K1P2, K2P1, K2P2, dan K3P2 memiliki persentase pertumbuhan tunas tidak lebih dari dari 2%. Persentase pertumbuhan tunas terendah terjadi pada kemasan K2P1 sebesar 0.15% selama penyimpanan 8 minggu. Sedangkan persentase pertumbuhan tunas tertinggi terjadi pada kemasan K3P1 sebesar 4.8% selama penyimpanan 8 minggu. Pada kemasan K3P1 kenaikan persentase pertumbuhan tunas mengalami peningkatan pada minggu ke-7 dan minggu ke-8. Hal ini disebabkan oleh pengaruh kemasan K3P1 memiliki kadar air awal rata-rata sebesar 81.8% dengan lama pengeringan 14 hari. Dengan kadar air yang rendah dan pengaruh lama pengeringan selama 14 hari dapat mengurangi masa dormansi dan merangsang pertumbuhan tunas sebelum ditanam.

23 Jika dilihat dari pengaruh suhu, penyimpanan dengan suhu yang lebih rendah akan memungkinkan persentase pertumbuhan tunas rendah. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Andreas (2013), bahwa Suhu sendiri memberi pengaruh yang sangat unik terhadap pertumbuhan tunas. Penyimpanan pada suhu 15°C memiliki persentase pertumbuhan tunas yang lebih besar dibandingkan dengan suhu 10°C dan juga suhu ruang. Sehingga kemungkinan penyimpanan dengan suhu yang lebih rendah akan memungkinkan pertunasan yang lebih rendah, begitu juga dengan penyimpanan dengan suhu yang lebih tinggi. Namun berdasarkan grafik persentase pertumbuhan tunas (Gambar 12), kemasan K3P1 memiliki persentase pertunasan yang paling tinggi, hal ini menunjukkan bahwa kemasan K3P1 yang disimpan suhu 5°C tidak mampu menahan kenaikan persentase pertumbuhan tunas selama penyimpanan.

`

Gambar 12 Persentase pertumbuhan tunas bibit bawang merah selama penyimpanan dengan perlakuan kadar air (±85%, ±83%, dan ±81%) dan perlakuan suhu (5°C dan suhu ruang)

Berdasarkan grafik analisis regresi linear pertumbuhan tunas (Gambar 13), kemasan K3P1 memiliki nilai koefisien regresi tertinggi yaitu 0.328, hal ini menunjukkan bahwa laju kenaikan persentase pertumbuhan tunas paling cepat terjadi pada kemasan K3P1.

0 1 2 3 4 5 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Per tu m b u h an tu n as (% )

Lama penyimpanan (minggu)

24

Gambar 13 Analisis regresi linear pertumbuhan tunas bibit bawang merah selama penyimpanan dengan perlakuan kadar air (±85%, ±83%, dan ±81%) dan perlakuan suhu (5°C dan suhu ruang)

Tabel 7 Pengaruh interaksi kadar air dan suhu terhadap pertumbuhan tunas bibit bawang merah selama penyimpanan

Perlakuan Pertumbuhan tunas bibit bawang merah pada minggu ke-

0 1 2 3 4 5 6 7 8

Pertumbuhan bibit bawang merah (%) a

K1 P1 0 0a 0.19a 0.19a 0.19a 0.19a 0.19a 0.96a 1.16a P2 0 0.19a 0.19a 0.57a 0.57a 0.57a 0.96a 0.96a 1.15a K2

P1 0 0a 0a 0.57a 0a 0a 0.15a 0.15a 0.15a P2 0 0a 0a 0.57a 0.16a 0.16a 0.16a 0.62a 0.94a K3

P1 0 0a 0a 0.57a 0.59a 0.74a 0.89a 2.37a 4.89a P2 0 0a 0.15a 0.57a 0.30a 0.30a 0.30a 0.45a 0.60a

a

Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji DMRT

Hasil uji statistik pada Tabel 7 menunjukkan bahwa interaksi kadar air dengan suhu tidak berbeda nyata terhadap pertumbuhan tunas bibit bawang merah selama penyimpanan 8 minggu. Artinya tidak ada pengaruh yang signifikan antara interaksi kadar air dan suhu terhadap pertumbuhan tunas bibit bawang merah. Sehingga seluruh perlakuan tidak berpotensi menahan kenaikan jumlah pertumbuhan tunas bibit bawang merah selama penyimpanan.

y = 0.0976x R² = 0.6289 y = 0.1428x R² = 0.9486 y = 0.0158x R² = 0.5809 y = 0.0697x R² = 0.6049 y = 0.3287x R² = 0.5695 y = 0.0674x R² = 0.8962 0 1 2 3 4 5 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Per tu m b u h an tu n as (% )

Lama penyimpanan (minggu)

Linear (k1p1) Linear (k1p2) Linear (k2p1)

25 Hari

Kemasan

Hari ke-0 Hari ke-3 Hari ke-7 Hari ke-14

K1P1 K1P2 K2P1 K2P2 K3P1 K3P2

Gambar 14 Uji kemampuan tumbuh tunas bibit bawang merah setelah penyimpanan selama 8 minggu setelah ditanam selama 14 hari Gambar 14 merupakan uji kemampuan tumbuh bibit bawang merah setelah penyimpanan selama 8 minggu pada suhu ruang dan suhu 5°C. Menurut Andreas (2013) penyimpanan pada suhu dingin akan mengakibatkan pertumbuhan yang lebih cepat jika dibandingkan dengan penyimpanan yang

26

dilakukan pada suhu ruang. Berdasarkan Gambar 14 menunjukkan bahwa pertumbuhan tunas setelah ditanam lebih cepat tumbuh pada kadar air awal bibit bawang merah ±81% (K3) dibandingkan dengan kadar air awal ±83% (K2) dan ±85% (K1). Terlihat pada hari ke-3 pada kemasan K3P1 dan K3P2 setelah ditanam tunas sudah muncul di permukaan tanah. Pada hari ke-7 dan hari ke-14 tunas sudah tumbuh dengan baik. Hal ini disebabkan oleh pengeringan yang paling lama yaitu selama 14 hari dengan kadar air ±81% (K3) yang dapat mengurangi masa dormansi dan merangsang pertumbuhan tunas bibit bawang merah setelah ditanam.

Dokumen terkait