Hasil Dekomposisi Jerami dan Crotalaria juncea
Pelapukan biomas krotalaria terlihat lebih cepat jika dibandingkan dengan jerami. Pada bulan ketiga, bobot kering biomas krotalaria tinggal sekitar 36 %, sedangkan bobot kering jerami masih sekitar 52 %. Pada umumnya pemupukan media inkubasi tidak berpengaruh terhadap kecepatan pelapukan bahan organik. Walaupun demikian, pada tiga bulan setelah inkubasi, jerami yang diinkubasikan pada lahan yang diberikan pupuk organik jerami melapuk lebih cepat dibandingkan pada lahan tanpa pemupukan maupun dipupuk inorganik. Hasil pengamatan bobot kering sebagai peubah pelapukan disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Sisa Persen Bobot Kering Biomas setelah Inkubasi Bahan
Organik
Media Inkubasi Persen Bobot setelah Inkubasi (%)
Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Krotalaria Tanpa Pupuk 51,2bcd 48,5bc 36,1b Krotalaria Pupuk Inorganik 46,6d 42,6c 35,5b Krotalaria Pupuk Organik 47,5cd 48,5bc 38,3b Jerami Tanpa Pupuk 60,3abc 67,4a 55,7a Jerami Pupuk Inorganik 62,9ab 63,4ab 57,7a Jerami Pupuk Organik 67,0a 59,0abc 43,5b Keterangan: Angka-angka pada kolom dan peubah yang sama yang diikuti huruf yang
sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%
Selain pelapukan krotalaria yang lebih cepat apabila dibandingkan dengan pelapukan jerami, pelepasan unsur hara pada krotalaria juga terjadi lebih cepat. Unsur N yang terkandung pada biomas krotalaria setelah satu bulan diinkubasi tinggal sekitar 25 %, sedangkan pada jerami masih diatas 90 %. Pada akhir bulan ketiga setelah inkubasi, unsur N yang masih tersisa pada bahan organik krotalaria tinggal sekitar 16 %, sedangkan pada jerami masih sekitar 61 %. Kecenderungan yang sama juga terjadi pada unsur P dan K. Unsur P yang tersisa pada bahan organik krotalaria pada bulan pertama sekitar 26 % dan pada akhir bulan ketiga setelah inkubasi sekitar 13 %. Pada bahan organik jerami, satu bulan setelah inkubasi unsur P tersisa sekitar 64 %, sedangkan pada tiga bulan setelah inkubasi sekitar 30%.
Unsur K yang tersisa pada krotalaria satu bulan setelah inkubasi berkisar 20 – 24 % dan setelah tiga bulan tinggal berkisar 13 – 19 %. Unsur K pada jerami pada satu bulan setelah inkubasi masih berkisar 66 – 77 %, sedangkan setelah tiga bulan berkisar 48 – 60 %. Hasil analisis kandungan unsur hara krotalaria awal adalah 2.94 % N, 0.51 % P dan 1.24 % K, sedangkan jerami adalah 0.66 % N, 0.2 % P dan 0.37 % K (Tabel 3).
Tabel 3. Persen Kandungan unsur N, P, dan K pada Jerami dan Krotalaria setelah Inkubasi terhadap Kandungan Awal
Bahan Organik
Media Inkubasi Persen N Setelah Inkubasi (%)
Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Persen N Setelah Inkubasi (%) Krotalaria Tanpa Pupuk 25,3d 19,3b 16,7b Krotalaria Pupuk Inorganik 23,2d 19,2b 15,3b Krotalaria Pupuk Organik 27,9d 20,9b 16,7b Jerami Tanpa Pupuk 91,9b 73,1a 61,9a Jerami Pupuk Inorganik 98,3a 71,8a 61,1a Jerami Pupuk Organik 84,6c 67,5a 59,4a
Persen P Setelah Inkubasi (%) Krotalaria Tanpa Pupuk 26,8c 16,3b 12,4b Krotalaria Pupuk Inorganik 23,5c 18,9b 14,3b Krotalaria Pupuk Organik 28,1c 16,9b 13,1b Jerami Tanpa Pupuk 61,7b 38,3a 30,0a Jerami Pupuk Inorganik 76,7a 38,3a 30,0a Jerami Pupuk Organik 58,3b 38,3a 26,7a
Persen K Setelah Inkubasi (%) Krotalaria Tanpa Pupuk 21,8d 18,8cd 16,4cd Krotalaria Pupuk Inorganik 20,4d 14,8d 13,4d Krotalaria Pupuk Organik 23,7d 22,6c 19,4c Jerami Tanpa Pupuk 71,2b 64,9a 60,4a Jerami Pupuk Inorganik 76,6a 66,7a 60,4a Jerami Pupuk Organik 65,8c 54,9b 47,7b Keterangan: Angka-angka pada kolom dan peubahyang sama yang diikuti huruf yang
sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%
Pengaruh Pemupukan Akumulasi Hara Tanah
Kondisi hara tanah (C-organik, N-total, NH4+, dan NO3-) pada awal percobaan
tersebut tidak berbeda antarperlakuan. Hal ini menunjukkan kondisi hara tanah sebelum percobaan atau saat percobaan dimulai relatif seragam. Hasil analisis kandungan C-organik, N-total, NH4+, dan NO3- tanah pada awal penelitian dan setiap
akhir musim tanam hingga tiga musim tanam disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Kandungan C-Organik, N Total, NH4+, dan NO3- sebelum
Percobaan dan pada setiap Akhir Musim Tanam
Perlakuan Awal MT-1 MT-2 MT-3
C-Organik (%)
Pupuk Inorganik 1,70 0,77ab 1,52 Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 1,57 0,70b 1,50 Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 1,89 0,76ab 1,54
Jerami 1,50 0,81ab 1,57 Krotalaria 1,45 Tidak Diamati 0,84a 1,58 N-Total Tanah (%) Pupuk Inorganik 0,14 0,13 0,10 0,12ª Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,14 0,12 0,09 0,10b Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,17 0,12 0,11 0,11ab
Jerami 0,14 0,13 0,12 0,11ab Krotalaria 0,13 0,12 0,11 0,10b
NH4-Tanah (ppm)
Pupuk Inorganik 34,88b 21,24b 52,63a 47,04 Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 72,67a 20,17b 40,81b 42,25 Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 79,54a 22,40b 42,96ab 44,72
Jerami 61,57ab 32,55a 46,18ab 40,37 Krotalaria 58,51ab 20,40b 41,89b 42,25
NO3-Tanah (ppm)
Pupuk Inorganik 421,8 213,4 517,9a 396,2 Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 518,1 240,8 304,3b 389,1 Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 520,2 200,1 325,5ab 404,6
Jerami 468,8 310,7 340,7ab 384,9 Krotalaria 490,4 173,5 373,6ab 403,3 Keterangan: Angka-angka pada kolom dan peubahyang sama yang diikuti huruf yang
sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%
Dari Tabel 4 terlihat bahwa C-organik tanah pada akhir MT-3 hampir sama dengan sebelum pelaksanaan percobaan dan tidak berbeda nyata antar perlakuan. Pada MT-2 terjadi penurunan bahan organik yang cukup besar namun secara umum tidak terdapat perbedaan antar perlakuan. Aplikasi jerami saja dan krotalaria saja cenderung menunjukkan kadar bahan organik yang lebih tinggi jika dibandingkan
dengan pemupukan inorganik saja dan jerami + ¼ pemupukan inorganik. Perlakuan jerami, jerami + pupuk inorganik, maupun krotalaria tidak menyebabkan kadar bahan organik tanah yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan pupuk inorganik tanpa bahan organik sampai dengan MT-3.
Perkembangan kondisi N-total, NH4, dan NO3-, menunjukkan kecenderungan
yang hampir sama selama tiga musim. Data seluruh perlakuan baik pupuk inorganik, jerami + inorganik maupun krotalaria menunjukkan penurunan. Pada MT-3, secara statistik kandungan N total tidak berbeda antara perlakuan pupuk inorganik saja, pupuk inorganik + ½ jerami, dan jerami saja, sedangkan perlakuan krotalaria saja dan jerami + ¼ pupuk inorganik memiliki residu N yang lebih rendah daripada perlakuan pupuk inorganik dosis rekomendasi. Di antara perlakuan bahan organik, penurunan kadar N total selama tiga musim terjadi terus menerus pada krotalaria, sedangkan perlakuan yang lain pada MT-3 telah mulai meningkat ataupun sudah tidak mengalami penurunan. Pola perubahan kadar NH4+ tanah terlihat bahwa terjadi
penurunan pada MT-1 dan kemudian meningkat pada musim tanam selanjutnya pada seluruh perlakuan. Walaupun demikian, pada perlakuan pupuk inorganik tidak terjadi penurunan yang besar jika dibandingkan dengan kondisi awal dan bahkan terjadi peningkatan pada MT-2 dan MT-3. Pada perlakuan jerami baik sendiri maupun ditambah pupuk inorganik serta perlakuan krotalaria saja terjadi penurunan NH4+
yang besar dan hingga MT-3 belum kembali sama dengan kondisi awal sebelum percobaan. Pola perubahan NO3- selama tiga musim tanam hampir sama untuk
seluruh perlakuan, demikian pula residu pada akhir MT-3 tidak berbeda antar seluruh perlakuan.
Jika dibandingkan dengan kondisi awal, terdapat kecenderungan peningkatan kandungan P tanah. Pada perlakuan aplikasi jerami serta krotalaria, terdapat kecenderungan akumulasi unsur P yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan pupuk inorganik saja, walaupun pada akhir MT-3 tidak terdapat perbedaan antar perlakuan. Pada perlakuan bahan organik lebih konsisten terjadinya peningkatan akumulasi unsur P jika dibandingkan dengan perlakuan pupuk inorganik
yang berfluktuasi. Kadar unsur P, K, dan S tanah pada berbagai perlakuan pemupukan selama tiga musim tanam disajikan pada Tabel 5.
Kadar K tersedia dalam tanah pada setiap akhir percobaan selama tiga musim tanam untuk perlakuan pupuk inorganik dan jerami + ½ pupuk inorganik mengalami penurunan, sedangkan perlakuan jerami + ¼ dosis pupuk inorganik, serta jerami dan krotalaria tanpa pupuk inorganik cenderung tetap atau meningkat. Pada MT-3, tidak terlihat perbedaan K tanah tersedia pada semua perlakuan walaupun pada MT-2 terlihat bahwa perlakuan aplikasi jerami saja memiliki kadar K tanah tersedia lebih besar daripada perlakuan pupuk inorganik Walaupun relatif kecil, peran jerami dalam meningkatkan unsur K tanah telah kelihatan.
Tabel 5. Hasil Analisis Unsur Hara P, K, dan S Tanah selama Tiga Musim Tanam
Perlakuan Awal Musim-1 Musim-2 Musim-3
P Tanah (ppm)
Pupuk Inorganik 3,65 4,29 3,43b 3,71 Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 3,29 4,08 4,55a 3,65 Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 3,67 4,26 4,74ª 3,99
Jerami 3,10 4,37 4,66ª 3,73
Krotalaria 3,16 4,37 4,67ª 3,81
K-Tanah (me/100g)
Pupuk Inorganik 0,09 0,05c 0,05b 0,06 Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,05 0,07b 0,05b 0,06 Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,11 0,08a 0,06ab 0,06
Jerami 0,06 0,07b 0,07a 0,07
Krotalaria 0,06 0,07b 0,06ab 0,06
S-Tanah (ppm)
Pupuk Inorganik 19,7 15,9c 35,1 47,4 Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 20,6 14,6d 16,7 42,3 Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 21,4 16,1c 36,4 44,7
Jerami 19,3 19,6ª 27,6 40,4
Krotalaria 24,8 17,4b 28,9 42,3 Keterangan: Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak
berbeda nyata pada uji DMRT 5%
Hasil analisis unsur S tanah menunjukkan bahwa pada MT-1 kadar S tanah perlakuan bahan organik secara umum lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan pupuk inorganik, tetapi pada MT-2 dan MT-3 tidak terdapat perbedaan antarperlakuan.
Kandungan, Serapan, Ketersediaan dan Kecukupan Hara Tanaman
Nitrogen
Pada MT-1, kandungan N total tanaman maupun N gabah perlakuan jerami + pupuk inorganik lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan pupuk inorganik saja maupun pupuk organik saja. Secara rinci rata-rata hasil pengamatan kandungan hara N selama tiga musim disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Kandungan Unsur N pada Akar, Jerami, dan Gabah saat Panen Perlakuan M T-1 (%) MT-2 (%) MT-3 (%)
Kandungan N-Akar
Pupuk Inorganik 0,59a 0,64c 0,74 Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,58ab 0,66bc 0,73 Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,59a 0,65bc 0,75
Jerami 0,55c 0,68b 0,74
Krotalaria 0,57bc 0,78a 0,74
Kandungan N-Jerami
Pupuk Inorganik 0,73b 0,66b 0,81 Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,77a 0,67ab 0,80 Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,77a 0,69a 0,81
Jerami 0,73b 0,65bc 0,82
Krotalaria 0,68c 0,63c 0,82
Kandungan N-Gabah
Pupuk Inorganik 1,01c 1,38a 1,36 Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 1,12b 1,28b 1,35 Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 1,20a 1,30b 1,36
Jerami 1,07bc 1,28b 1,36
Krotalaria 1,04c 1,30b 1,36
Kandungan N-Total Tanaman
Pupuk Inorganik 0,78c 0,89ab 0,97 Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,83b 0,88ab 0,96 Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,86a 0,87b 0,97
Jerami 0,79c 0,87b 0,97
Krotalaria 0,76c 0,90a 0,97
Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%
Dari Tabel 6 terlihat bahwa kandungan unsur hara N total pada MT-2 perlakuan krotalaria lebih tinggi dibandingkan perlakuan jerami walaupun tidak berbeda dengan pupuk inorganik. Pada MT-3, tidak terlihat perbedaan kandungan unsur hara N baik pada akar, tajuk, gabah maupun secara total seluruh tanaman.
Kandungan nitrogen pada seluruh perlakuan cenderung meningkat selama tiga musim. Hal tersebut menggambarkan keterbatasan unsur N pada MT-1 yang diduga mencerminkan efek imobilisasi unsur hara N oleh bahan organik baik jerami maupun krotalaria.
Serapan unsur hara N (g/rumpun) menunjukkan bahwa pada MT-1 perlakuan pupuk organik saja (jerami maupun krotalaria saja) lebih rendah jika dibandingkan dengan perlakuan pupuk inorganik saja maupun jerami + pupuk inorganik baik pada akar, jerami, gabah, maupun total tanaman. Secara rinci rata-rata hasil analisis serapan unsur nitrogen pada setiap perlakuan pemupukan disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Serapan Unsur N pada Akar, Jerami, Gabah, dan Total saat Panen
Perlakuan MT-1 MT-2 MT-3
Serapan N Akar (g/rumpun)
Pupuk Inorganik 0,18a 0,14 0,15a Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,14bc 0,13 0,12ab Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,17ab 0,14 0,13ab
Jerami 0,11c 0,13 0,12ab
Krotalaria 0,13c 0,14 0,11b
Serapan N Jerami (g/rumpun)
Pupuk Inorganik 0,35a 0,20ab 0,30 Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,24bc 0,20ab 0,30 Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,32ab 0,22a 0,31
Jerami 0,18c 0,20ab 0,33
Krotalaria 0,20c 0,19b 0,33
Serapan N Gabah (g/rumpun)
Pupuk Inorganik 0,31a 0,43 0,59a Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,28ab 0,39 0,48b Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,31a 0,42 0,48b
Jerami 0,23bc 0,38 0,54ab Krotalaria 0,21c 0,35 0,48b
Serapan N Total (g/rumpun)
Pupuk Inorganik 0,84a 0,77 1,04a Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,66b 0,72 0,91b Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,79a 0,79 0,92ab
Jerami 0,52c 0,71 1,00ab
Krotalaria 0,54c 0,68 0,92ab Keterangan: Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf yang
Terdapat pola yang hampir sama antara kandungan unsur hara N dengan serapan unsur hara N oleh tanaman. Secara total, kandungan unsur hara N maupun serapan unsur hara N pada perlakuan pupuk organik saja (baik jerami maupun krotalaria) pada MT-1 menunjukkan nilai yang rendah. Pada MT-2 dan MT-3 secara umum tidak terdapat perbedaan kandungan unsur hara N maupun serapan unsur N antarperlakuan. Jika dibandingkan dengan MT-1, baik kandungan maupun serapan unsur hara N pada MT-2 dan MT-3 mengalami peningkatan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan unsur hara N masih terbatas pada MT-1 terutama pada perlakuan pupuk organik saja, sedangkan pada MT-2 dan MT-3 ketersediaan unsur N telah mengalami perbaikan.
Menurut Dobermann dan Fairhurst (2000) ketersediaan unsur hara tanah optimum apabila serapan N gabah sebesar 14 – 16 kg/ton gabah, terbatas pada serapan 11-13 kg/ton gabah, dan sangat terbatas kurang atau sama dengan 10 kg N/ton gabah (Tabel 1). Berdasarkan pendekatan tersebut terlihat bahwa selama MT-1 dan MT-2, seluruh perlakuan jerami menunjukkan ketersediaan unsur hara N yang terbatas, tetapi pada MT-3 kondisi ketersediaan unsur hara N tersebut telah tergolong optimum (Tabel 8).
Tabel 8. Ketersediaan Unsur Hara N Tanaman Padi Sawah
MT-1 MT-2 MT-3 Perlakuan Kg N/ton gabah Status Kecu- kupan Kg N/ton gabah Status Kecu- kupan Kg N/ton gabah Status Kecu- kupan
Pupuk Inorganik 10,1c ST 13,7a O 13,6 O
Jerami + ¼ Dosis Pupuk
Inorganik 11,2b T 12,8b T 13,6 O
Jerami + ½ Dosis Pupuk
Inorganik 12,0a T 13,0b T 13,5 O
Jerami 10,7bc T 12,8b T 13,6 O
Krotalaria 10,4c ST 13,0b T 13,6 O
Keterangan: ST : sangat terbatas, T : terbatas, O : optimum
Dari Tabel 8 diketahui bahwa pada MT-1 kisaran ketersediaan unsur hara N pada perlakuan pupuk inorganik tergolong sangat terbatas, sedangkan pada perlakuan bahan organik jerami dan krotalaria, serta jerami + inorganik berkisar sangat terbatas hingga terbatas. Pada MT-2, ketersediaan N meningkat untuk perlakuan pupuk
inorganik dosis rekomendasi sehingga ketersediaannya menjadi optimum, sedangkan perlakuan bahan organik jerami dan krotalaria serta jerami + pupuk inorganik masih dalam kondisi terbatas. Pada MT-3, seluruh perlakuan menunjukkan kondisi ketersediaan hara yang optimum. Kondisi tersebut sesuai dengan kondisi serapan maupun hara terangkut yang menunjukkan nilai yang rendah di awal dan terus meningkat hingga MT-3. Kondisi tersebut juga mendukung dugaan adanya imobilisasi N pada perlakuan bahan organik.
Bagan warna daun dapat digunakan untuk mengidentifikasi kandungan hara N tanaman karena hasil pengamatannya berkorelasi sangat tinggi dengan hasil pengamatan alat chlorophyll meter (Boyd 2001). Nilai kritis pengamatan bagan warna daun untuk padi jenis indica dengan cara tanam pindah adalah pada skala 4 (IRRI- CREMENT, 1998). Rata-rata hasil pengamatan disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9. Rataan Hasil Pengamatan Bagan Warna Daun Selama Tiga Musim Tanam
Perlakuan 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST
MT-1
Pupuk Inorganik 3,0b 4,1a 3,9a 4,0a Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 2,8b 3,7bc 3,3b 3,7ab Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 2,9b 3,9ab 3,6ab 3,8ab Jerami 2,6b 3,7bc 3,2b 3,4b
Krotalaria 3,6a 3,6c 3,9a 3,7ab
MT-2
Pupuk Inorganik 3,9 3,9 3,8 4,0 Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 3,9 4,0 4,0 4,0 Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 3,9 4,0 4,0 4,0
Jerami 3,9 4,0 4,0 4,1
Krotalaria 3,7 3,9 3,9 4,0
MT-3
Pupuk Inorganik 4,0a 4,5a 4,9 5,1a Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 3,7ab 3,9b 4,9 4,9ab Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 3,9a 4,2ab 4,9 5,0ab
Jerami 3,3b 3,5c 4,8 4,8bc
Krotalaria 3,3b 3,2c 4,3 4,7c Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama
tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%
Hasil pengamatan bagan warna daun (Tabel 9) menunjukkan bahwa pada MT- 1 hanya perlakuan pupuk inorganik dosis rekomendasi yang mencapai skala 4,
sedangkan perlakuan yang lain <4. Aplikasi jerami saja sampai tanaman berumur 6 MST berkisar dari 2,6 hingga 3,7. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada MT-1 unsur hara N yang dapat diserap tanaman masih terbatas. Pada MT-2 maupun MT-3 terlihat bahwa seluruh perlakuan menunjukkan kecukupan N dengan hasil pembacaan skala bagan warna daun mendekati hingga >4, kecuali perlakuan pupuk organik jerami dan krotalaria.
Fosfor
Hasil pengamatan kandungan unsur P tanaman padi pada perlakuan pemupukan seperti terlihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Kandungan Unsur P Tanaman Padi pada Perlakuan Pemupukan selama Tiga Musim Tanam
Perlakuan MT-1 (%) MT-2 (%) MT-3 (%)
Kandungan P-Akar
Pupuk Inorganik 0,16b 0,13c 0,14c Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,17a 0,14c 0,13d Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,19a 0,14c 0,15b
Jerami 0,18a 0,16b 0,14c
Krotalaria 0,19a 0,18a 0,16a
Kandungan P-Jerami
Pupuk Inorganik 0,21b 0,20b 0,18c Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,19c 0,23a 0,22a Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,19c 0,22a 0,20b
Jerami 0,18c 0,19b 0,19c
Krotalaria 0,22a 0,20b 0,22a
Kandungan P-Gabah
Pupuk Inorganik 0,27b 0,39bc 0,28b Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,25b 0,37c 0,26c Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,26b 0,39bc 0,28b
Jerami 0,27b 0,43b 0,28b
Krotalaria 0,31a 0,46a 0,30a
Kandungan Total Serapan P
Pupuk Inorganik 0,21b 0,21 0,20c Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,21b 0,22 0,20c Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,21b 0,23 0,22b
Jerami 0,21b 0,22 0,20c
Krotalaria 0,24a 0,23 0,23a
Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%
Kandungan unsur P tanaman padi menunjukkan bahwa perlakuan krotalaria saja secara konsisten selama tiga musim tanam menghasilkan kandungan unsur hara P yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan jerami, jerami + pupuk inorganik, maupun pupuk inorganik dosis rekomendasi. Aplikasi pupuk inorganik dosis rekomendasi dan aplikasi jerami saja cenderung menghasilkan kandungan P tanaman yang terendah.
Rata-rata hasil pengamatan serapan unsur P disajikan pada Tabel 11. Serapan P tersebut merupakan perkalian kandungan dan biomas tanaman padi.
Tabel 11. Serapan Unsur Hara P Tanaman Padi pada Perlakuan Pemupukan selama Tiga Musim Tanam
Perlakuan MT-1 MT-2 MT-3
Serapan P Akar (g/rumpun)
Pupuk Inorganik 0,05 0,03 0,03 Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,04 0,03 0,02 Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,05 0,03 0,02
Jerami 0,04 0,03 0,02
Krotalaria 0,04 0,03 0,02
Serapan P Jerami (g/rumpun)
Pupuk Inorganik 0,10a 0,06b 0,07 Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,06bc 0,07ab 0,08 Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,08ab 0,08a 0,08
Jerami 0,05c 0,06b 0,07
Krotalaria 0,07bc 0,06b 0,09
Serapan P Gabah (g/rumpun)
Pupuk Inorganik 0,08a 0,09 0,12a Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,06bc 0,09 0,09c Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,07b 0,10 0,10bc
Jerami 0,05c 0,09 0,11ab
Krotalaria 0,06bc 0,08 0,11ab
Serapan P Total (g/rumpun)
Pupuk Inorganik 0,22a 0,18 0,22a Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,16c 0,18 0,19b Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,20ab 0,20 0,21ab
Jerami 0,14c 0,18 0,21ab
Krotalaria 0,17bc 0,18 0,22a Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama
Pada MT-1, perlakuan jerami + ¼ pupuk inorganik maupun pupuk organik saja menghasilkan serapan hara P lebih rendah jika dibandingkan dengan perlakuan pupuk inorganik dosis rekomendasi dan jerami + ½ dosis pupuk inorganik. Pada MT-2 dan MT-3, serapan hara P total (g/rumpun) cenderung tidak berbeda antar perlakuan. Apabila dibandingkan antara MT-1 dengan MT-3, serapan unsur hara P pada perlakuan pupuk inorganik dosis rekomendasi cenderung tetap, sedangkan pada perlakuan pupuk organik maupun pupuk organik + pupuk inorganik terlihat meningkat. Hal tersebut disebabkan meningkatnya biomas yang dihasilkan, karena serapan hara P relatif tetap dari musim ke musim hingga MT-3.
Kriteria ketersediaan unsur P berdasarkan serapan P gabah menurut Dobermann and Fairhurst (2000) adalah apabila setiap ton gabah mengandung 1,6 kg P tergolong sangat terbatas, 1,7-2,3 kg P tergolong terbatas, 2,4-2,8 kg tergolong optimum, 2,9-4,8 tergolong berlebih dan >4,9 tergolong sangat berlebih. Analisis ketersediaan unsur hara P (Tabel 12) menunjukkan bahwa dari MT-1 hingga MT-3 ketersediaan unsur hara P tergolong optimum hingga berlebih. Ketersediaan unsur hara P pada perlakuan pupuk inorganik dosis rekomendasi, ¼ dan ½ dosis pupuk inorganik + jerami, dan jerami saja cenderung tidak berbeda. Perlakuan krotalaria dengan dosis benih 40 kg/ha menghasilkan ketersediaan unsur hara P optimum hingga berlebih dan lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan yang lain.
Tabel 12. Ketersediaan Unsur Hara P pada Perlakuan Pemupukan
MT-1 MT-2 MT-3 Perlakuan (kg P/ton gabah) Ketersed iaan Hara (kg P/ton gabah) Keterse diaan Hara (kg P/ton gabah) Keterse diaan Hara Pupuk Inorganik 2,69b O 2,99 B 2,79b O Jerami + ¼ Dosis Pupuk
Inorganik 2,59b O 2,80 O 2,55c O Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 2,62b O 2,90 B 2,83b O Jerami 2,67b O 2,96 B 2,76b O Krotalaria 3,05a O 3,05 B 3,01a B
Kalium
Hasil analisis kandungan K biomas padi setiap perlakuan pemupukan disajikan pada Tabel 13. Kandungan unsur hara K cenderung meningkat yang menggambarkan perbaikan ketersediaan unsur hara tersebut di dalam tanah.
Tabel 13. Kandungan K Tanaman Padi pada Perlakuan Pemupukan selama Tiga Musim Tanam
Perlakuan MT-1 MT-2 MT-3
Kandungan K-Akar (%)
Pupuk Inorganik 0,33c 0,35b 0,35b Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,38b 0,34b 0,35b Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,42ab 0,35b 0,39a
Jerami 0,38b 0,37b 0,38a
Krotalaria 0,42a 0,41a 0,38a
Kandungan K-Jerami (%)
Pupuk Inorganik 0,94d 1,15 1,16d Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,98c 1,06 1,20c Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,99bc 1,06 1,29b
Jerami 1,03b 1,06 1,28b
Krotalaria 1,09a 1,14 1,35a
Kandungan K-Gabah (%)
Pupuk Inorganik 0,15c 0,39bc 0,47e Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,24b 0,37c 0,56b Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,30a 0,39bc 0,51d
Jerami 0,26b 0,43ab 0,53c
Krotalaria 0,22b 0,46a 0,58a
Kandungan K-Total (%)
Pupuk Inorganik 0,48d 0,63b 0,66e Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,54c 0,62b 0,69d Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,57ab 0,59c 0,75b
Jerami 0,55bc 0,62b 0,73c
Krotalaria 0,58a 0,67a 0,77a
Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5%
Pada MT-3 terlihat pola yang jelas pada kandungan unsur hara K pada jerami, gabah, serta total tanaman yaitu dari rendah ke tinggi berturut-turut perlakuan pupuk inorganik dosis rekomendasi, jerami + ¼ dosis pupuk inorganik, jerami, jerami + ½ dosis pupuk inorganik, dan krotalaria. Pada MT-1 sebenarnya telah terlihat pula kecenderungan bahwa perlakuan pupuk inorganik dosis rekomendasi memiliki
kandungan unsur hara K pada jerami, gabah, dan total tanaman lebih rendah jika dibandingkan dengan perlakuan pupuk organik maupun pupuk inorganik + pupuk organik. Kandungan unsur hara K secara total tanaman pada perlakuan pupuk organik krotalaria juga terlihat tertinggi sejak MT-1 hingga MT-3. Hal tersebut menunjukkan adanya peran bahan organik baik jerami serta krotalaria dalam meningkatkan ketersediaan unsur K bagi tanaman.
Berbeda dengan kandungan unsur K, tingkat serapan unsur hara K cenderung tidak berbeda antarperlakuan pada MT-2 dan MT-3. Seacara rinci serapan unsur hara K tanaman disajikan pada Tabel 14.
Tabel 14. Serapan Unsur Hara K Tanaman Padi pada Perlakuan Pemupukan selama Tiga Musim Tanam
Perlakuan MT-1 MT-2 MT-3
Serapan K Akar (g/rumpun)
Pupuk Inorganik 0,10ab 0,07 0,07 Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,10ab 0,07 0,06 Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,11a 0,07 0,07
Jerami 0,08b 0,07 0,06
Krotalaria 0,09ab 0,08 0,06
Serapan K Jerami (g/rumpun)
Pupuk Inorganik 0,45a 0,35 0,43b Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,31bc 0,31 0,45ab Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,40ab 0,36 0,47ab
Jerami 0,26c 0,33 0,52ab
Krotalaria 0,32bc 0,34 0,54a
Serapan K Gabah (g/rumpun)
Pupuk Inorganik 0,04b 0,12 0,20 Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,07a 0,11 0,18 Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,07a 0,13 0,20
Jerami 0,05ab 0,12 0,21
Krotalaria 0,04b 0,13 0,21
Serapan K Total Tanaman (g/rumpun)
Pupuk Inorganik 0,59a 0,55ab 0,70ab Jerami + ¼ Dosis Pupuk Inorganik 0,48abc 0,50b 0,69b Jerami + ½ Dosis Pupuk Inorganik 0,58ab 0,57a 0,73ab
Jerami 0,39c 0,52ab 0,79ab Krotalaria 0,46bc 0,54ab 0,80a Keterangan : Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti huruf yang
Pada MT-1, perlakuan pupuk organik saja menghasilkan serapan hara K yang lebih rendah jika dibandingkan dengan perlakuan pupuk inorganik maupun pupuk inorganik + pupuk organik. Total serapan K tanaman terlihat meningkat dari MT-1 ke MT-3. Peningkatan total serapan K tanaman tersebut menunjukkan adanya peningkatan ketersediaan K tanah, yang juga ditunjukkan oleh meningkatnya serapan unsur hara tersebut dari musim ke musim. Peningkatan terbesar terjadi pada perlakuan pupuk organik sehingga pada MT-2 maupun MT-3 tidak lagi terlihat perbedaan serapan K antara perlakuan pupuk organik dengan pupuk inorganik.
Dobermann dan Fairhurst (2000) mengklasifikasikan bahwa kandungan K (kg) setiap ton gabah sebesar <9 ton menunjukkan ketersediaan hara sangat terbatas; 10 -13 tergolong terbatas; 14 – 16 optimum; 17 – 27 tergolong berlebih; dan >28 tergolong sangat berlebih. Namun dari batasan keseimbangan hara optimal K pada tanaman padi sawah sebesar 14.5 dari perhitungan efisiensi penggunaan hara unsur K (kg gabah yang dihasilkan setiap kg K tanaman) diduga yang dimaksud adalah K bagian atas tanaman.
Berdasarkan kriteria Dobermann dan Fairhurst (2000) terlihat bahwa