• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil penelitian pengaruh pakan komersial dan pakan nabati terhadap performa ayam broiler antara lain : konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, indek performa, mortalitas, dan persentase karkas pada ayam broiler yang dapat dilihat pada Tabel 7 dan 8.

Tabel 7. Performa Ayam Broiler yang Diberi Pakan Komersial dan Pakan Nabati selama 3 minggu.

Peubah Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Rataan

Komersial Nabati Komersial Nabati Komersial Nabati Komersial Nabati Pertambahan Keterangan : Superskrips huruf kapital menunjukkan sangat berbeda nyata (P<0,01)

Tabel 8. Performa Broiler yang Diberi Pakan Komersial dan Pakan Nabati dengan atau Tanpa Penambahan DSP pada Minggu 4-5

Keterangan : Superskrips huruf kapital menunjukkan sangat berbeda nyata (P<0,01). P1= Pakan komersial, P2= Pakan komersial + DSP, P3= Pakan nabati, dan P4= Pakan nabati +DSP

Konsumsi Pakan

Konsumsi diperhitungkan sebagai jumlah pakan yang dimakan oleh ternak dalam jangka waktu tertentu selama periode pemeliharaan. Rataan konsumsi pada minggu ke-1 sampai minggu ke-3 (Tabel 7) memperlihatkan bahwa konsumsi pakan pada perlakuan yang diberi pakan nabati sangat nyata (P<0,01) lebih sedikit daripada pakan komersial. Rataan konsumsi pakan selama 3 minggu untuk pakan komersial 361,12 gram/ekor dan pakan nabati 284,56 gram/ekor. Hal ini menunjukkan bahwa pakan nabati sebagai pakan alternatif tidak disukai oleh ayam broiler, walaupun penggunaan jagung dan protein kedelai tinggi. Menurut Pond et al. (1995),

Peubah Minggu 4 Minggu 5 Rataan

palatabilitas pakan merupakan daya tarik pakan atau bahan pakan yang dapat menimbulkan selera makan ternak. Hubungan pakan dengan palatabilitas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu rasa, bau, dan warna bahan pakan. Pakan nabati yang digunakan berwarna kuning cerah dan bau anyir.

Penambahan DSP (Dysapro Protein) pada minggu ke-4 dan minggu ke-5 memberikan pengaruh nyata menurunkan konsumsi pakan (Tabel 8). Ayam broiler yang diberi pakan dengan penambahan DSP (komersial dan nabati) menunjukkan konsumsi yang sama dengan pakan yang tidak ditambah DSP, tetapi pakan nabati yang ditambah DSP sangat nyata (P<0,01) lebih rendah dibanding dengan konsumsi pakan yang lain. Rataan konsumsi pakan pada perlakuan P1 sebesar 951 gram/ekor, P2 sebesar 876,5 gram/ekor, P3 sebesar 614,3 gram, dan P4 sebesar 543,6 gram/ekor.

Konsumsi pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu secara umum konsumsi meningkat dengan meningkatkan umur dan bobot badan karena bobot badan ayam yang besar mempunyai kemampuan menampung makanan lebih banyak (Wahju, 2004).

Menurut Pedoman Techical Service PT. Charoen Pokphand (2006), standar konsumsi pakan untuk strain Cobb adalah 2912 g/ekor selama lima minggu pemeliharaan. Selain itu, konsumsi pakan juga dipengaruhi oleh suhu lingkungan.

Suhu lingkungan selama penelitian berkisar antara 26-330C, lebih tinggi dibanding suhu lingkungan yang dianjurkan PT. Charoen Pokphand yaitu 24-310C. Perbedaan suhu tersebut berpengaruh terhadap penurunan konsumsi pakan. Hal ini sesuai pernyataan Bell dan Weaver (2002), bahwa ayam broiler akan membutuhkan banyak energi dalam keadaan dingin sehingga konsumsi akan lebih cepat bahkan lebih banyak dan konsumsi pakan ayam broiler akan menurun bila suhu lingkungan tinggi.

Gambar 1 menunjukkan bahwa konsumsi pakan ayam broiler pada perlakuan pakan komersial nyata lebih tinggi dibandingkan ayam dengan perlakuan pakan nabati, hal ini di sebabkan karena jenis pakan dan bobot tubuh ayam. Sebagaimana menurut National Research Council (1994), bahwa konsumsi pakan tiap ekor ternak berbeda, salah satu faktornya dipengaruhi oleh bobot tubuh ayam. Semakin besar tubuh ayam maka semakin banyak membutuhkan zat-zat makanan yang dikonsumsinya untuk hidup pokok dan pertumbuhan.

Gambar 1. Konsumsi Pakan Ayam Broiler selama 3 minggu.

Gambar 2. Konsumsi Pakan Ayam Broiler pada Minggu ke-4 Sampai Minggu ke-5.

Gambar 2 memperlihatkan konsumsi pakan meningkat dengan bertambahnya umur ayam broiler. Scott et al. (1982) menyatakan bahwa konsumsi pakan

109,50

dipengaruhi oleh umur ayam. Pada minggu ke-1 sampai minggu ke-3 peningkatan jumlah konsumsi sangat cepat, sedangkan pada minggu ke-4 sampai ke-5 peningkatan jumlah konsumsi lambat sesuai dengan laju pertumbuhan dan bobot badan. Pada pakan yang diberikan pada minggu ke-4 sampai ke-5 DSP (Dysapro Protein) mengakibatkan penurunan konsumsi pakan. Ketersedian asam amino dalam pakan dapat mempengaruhi konsumsi pakan. Kandungan asam amino yang tidak sesuai dengan kebutuhan ternak akan menyebabkan selara makan menurun. Selain ketersedian asam amino, ketidakserasian asam amino dan antagonisme asam amino juga dapat menyebabkan penurunan konsumsi pakan dan penyusutan bobot badan (Sutardi, 1980). Menurut Hani’ah (2008), adanya anatagonisme asam-asam amino dalam protein kedelai yaitu antara metionin dengan leusin, alanin, isoleusin, fenilalanin, tirosin, dan treonin mengakibatkan penurunan selera makan.

Pertambahan Bobot Badan

Pertambahan bobot badan (PBB) merupakan salah satu parameter yang dapat mengukur laju pertumbuhan ayam. Menurut Tillman et al. (1991) bahwa pertambahan bobot badan ayam diperoleh melalui pengukuran kenaikan bobot badan dengan melakukan penimbangan berulang-ulang dalam waktu tiap hari, tiap minggu atau tiap bulan. Rataan PBB per minggu pada minggu ke 1 sampai minggu ke-3 dapat dilihat pada Tabel 7, memperlihatkan bahwa pertambahan bobot ayam broiler yang diberi pakan nabati sangat nyata lebih rendah dibandingkan dengan yang diberi pakan komersial (P<0,01). Penggunaan pakan nabati pada ayam broiler meningkatkan bobot badan ayam, tetapi tidak sebesar pada penggunaan pakan komersial. Rataan PBB selama 3 minggu adalah berturut-turut untuk ayam yang diberikan pakan komersial dan pakan nabati sebesar 256,03 gram/ekor dan 86,97 gram/ekor. Hal ini mengakibatkan PBB yang sangat berbeda akibat efisiensi penggunaan pakan yang berbeda dan jumlah konsumsi pakan nabati sangat rendah dibandingkan dengan pakan komersial. Bell dan Waever (2002) menyatakan bahwa jumlah konsumsi dan kebutuhan yang diperlukan oleh seekor ayam sejalan dengan bertambahnya umur dan besarnya PBB yang dihasilkan.

Pemberian DSP dalam pakan pada minggu ke-4 sampai minggu ke-5 tidak mempengaruhi PBB ayam broiler (Tabel 8). Ayam broiler yang diberi pakan nabati dengan penambahan DSP sangat nyata (P<0,01) lebih rendah pertambahan bobot

badan apabila dibandingkan dengan pakan komersial. Secara statistik penambahan DSP tidak mempengaruhi pertambahan bobot badan, tetapi secara numerik mengalami peningkatan. Rataan penambahan bobot badan ayam broiler pada perlakuan P1 sebesar 430,3 gram/ekor, P2 sebesar 455,1 gram/ekor, P3 sebesar 114,5 gram/ekor dan P4 sebesar 140,4 gram/ekor.

Dysapro Protein (DSP) merupakan protein kedelai yang mengandung protein tinggi. Analisis proksimat pakan komersial dan pakan nabati menunjukan bahwa kandungan protein tidak berbeda jauh yaitu 19,55% protein kasar pada pakan komersial dan 20,93% protein kasar pada pakan nabati. Kandungan protein dalam pakan tidak berbeda dan memenuhi standar protein yang dibutuhkan ayam broiler, tetapi kondisi tersebut menyebabkan rataan pertambahan bobot badan yang berbeda.

Hal ini berkaitan dengan perbedaan penggunaan nutrisi oleh ayam broiler dan kandungan asam amino dalam protein. Konsumsi protein lebih tinggi, yang berarti jumlah asam amino esensial (terutama metionin, lisin, dan triptofan) yang dikonsumsi ayam broiler lebih tinggi dan penggunannya lebih efisien (Nuraini, 2009).

Gambar 3. Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler selama 3 minggu 108,30

268,70

391,10

58,00

83,10

119,80

0 50 100 150 200 250 300 350 400 450

Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3

Pertambahan Bobot Badan (gram/ekor)

Pakan Komersial Pakan Nabati

Gambar 4. Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler pada Minggu ke-4 Sampai Minggu ke-5.

Pertambahan bobot badan ayam broiler pada Gambar 3 menunjukan perbedaan yang sangat nyata. Pemberian pakan nabati pada perlakuaan selama 3 minggu memiliki peningkatan pertambahan bobot badan yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan pakan komersial. Bahan pakan nabati banyak yang mempunyai kandungan protein tinggi seperti bungkil kelapa, bungkil kedelai, dan bahan pakan asal kacang-kacangan, tetapi pakan nabati ini umumnya mempunyai serat kasar tinggi. Penambahan DSP (komersial dan nabati) tidak mempengaruhi pertambahan bobot badan. Perlakuan pakan komersial pada minggu ke-4 dan ke-5 mengalami penurunan pertambahan bobot badan, hal ini terjadi mungkin disebabkan kurang tepatnya manajemen pemeliharaan dan pemberian pakan yang dilakukan (Gambar 4). Pertambahan bobot badan dapat diartikan kemampuan untuk mengubah zat-zat nutrisi yang terdapat dalam pakan menjadi daging (Tillman et al., 1991).

Konversi Pakan

Menurut Lacy dan Veast (2000) konversi pakan berguna untuk mengukur produktivitas ternak dan didefinisikan sebagai rasio antara konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan (PBB) yang diperoleh selama kurun waktu tertentu.

Konversi pakan menunjukkan ukuran efisiensi dalam penggunaan pakan. Semakin 488,50

tinggi nilai konversi pakan menunjukan semakin banyak pakan yang dibutuhkan untuk meningkatkan bobot badan per satuan berat. Rasio konversi pakan yang rendah berarti untuk menghasilkan satu kilogram daging ayam dibutuhkan pakan dalam jumlah yang semakin sedikit (Wahju, 2004). Rataan konversi pakan pada minggu ke-1 sampai minggu ke-3 dapat dilihat pada Tabel 7, memperlihatkan konversi pakan ayam broiler yang diberi pakan nabati sangat nyata lebih buruk (P<0,01) dibandingkan pakan komersial. Pemberian pakan nabati selama 3 minggu memiliki nilai konversi pakan 3,11 dan pakan komersial memiliki nilai konversi pakan 1,32.

Hal ini diduga disebabkan oleh penggunaan pakan nabati yang kurang disukai oleh ternak, sehingga banyak pakan yang terbuang dan tidak dikonsumsi oleh ayam broiler.

Ayam broiler yang diberi pakan komersial sangat nyata lebih baik (P<0,01) dibandingkan dengan ayam yang diberi pakan nabati, tetapi penambahan DSP dalam pakan nabati dapat memperbaiki konversi pakan (Tabel 8). Hal ini berkaitan dengan pertambahan bobot badan yang lebih tinggi dan konsumsi pakan yang rendah pada perlakuan pakan nabati ditambah DSP dibandingkan pakan nabati tanpa DSP. Selain itu, kemungkinan disebabkan oleh DSP yang mengandung antibiotik enramisin yang dapat menjaga keseimbangan mikroorganisme dalam usus dan menghambat pertumbuhan bakteri patogen, sehingga saluran pencernaan ayam broiler dapat bekerja dengan baik. Hal ini menyebabkan pemanfaatan pakan lebih efisien, sehingga mampu untuk diubah menjadi daging walaupun konsumsi pakan lebih sedikit.

Gambar 5 menunjukkan perbedaan yang sangat nyata setiap perlakuan.

Angka konversi pakan broiler pada umur lima minggu menurut Cobb Vantress (2008) sebesar 1,61. Rataan konversi pakan setiap minggu meningkat secara berturut-turut dari minggu ke-1, 2, dan 3 yaitu pada perlakuan pakan komersial 1,01;

1,45; 1,52 dan pada perlakuan pakan nabati 1,60; 3,55; 4,18. Konversi pakan tinggi disebabkan oleh jumlah pakan yang dikonsumsi tinggi, tetapi pertambahan bobot badan yang rendah. Selain itu, faktor yang mempengaruhi konversi pakan adalah suhu lingkungan, bentuk fisik pakan, komposisi pakan, dan zat-zat nutrisi yang terdapat dalam pakan National Research Council (1994)

Gambar 5. Konversi Pakan Ayam Broiler selama 3 minggu.

Gambar 6. Konversi Pakan Ayam Broiler pada Minggu ke-4 Sampai Minggu ke-5 Gambar 6 menunjukkan konversi pakan pada minggu ke-4 sampai minggu ke-5. Konversi pakan minggu ke-4 dan minggu ke-5 pada pakan komersial lebih baik dibandingkan pakan nabati dengan atau tanpa penambahan DSP. Secara rataan,

1,01 1,45

penambahan DSP cenderung memperbaiki konversi pakan (Tabel 8 dan Gambar 6).

Hal ini disebabkan oleh penggunaan zat nutrisi yang lebih efisien.

Mortalitas

Mortalitas atau kematian merupakan salah satu parameter yang sering digunakan untuk bahan evaluasi pemeliharaan tiap minggu dan sekaligus sebagai salah satu penentu keberhasilan usaha ternak ayam broiler. Persentase kematian ayam broiler selama penelitian sebesar 0,5% atau 1 ekor dari 200 ekor selama pemeliharaan.

Mortalitas ayam broiler secara keseluruhan tidak dipengaruhi oleh perlakuan pakan. Mortalitas hasil penelitian ini lebih disebabkan olah gangguan pernapasan, dehidrasi dari lesio pada ureter dan stres terhadap panas. Hal ini dibuktikan dari hasil uji patologi, Laboratorium Patologi Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor (keterangan terlampir pada lampiran 9).

Tabel 9. Data Mortalitas Ayam Broiler selama Lima minggu Pemeliharaan Minggu

Pelakuan

P1 P2 P3 P4 1 0 0 0 0 2 0 0 0 0 3 0 1 0 0 4 0 0 0 0 5 0 0 0 0

Jumlah (ekor) 0 1 0 0

Jumlah (%) 0 0,5 0 0

Mortalitas yang terjadi pada penelitian dapat dinyatakan normal, yaitu tidak lebih dari 4%. Hal ini sesuai pernyataan Bell dan Weaver (2002) bahwa persentase kematian selama periode pemeliharaan tidak boleh lebih dari 4%. Mortalitas terjadi pada perlakuan pakan komersial yang ditambah DSP (P2) pada minggu ke-3 atau umur 16 hari. Pemberian pakan komersial yang ditambah DSP tidak mempengaruhi kematian pada ayam. Kematian yang terjadi karena gangguan pernapasan yang disebabkan kandungan amonia yang tinggi di dalam kandang dan dehedrasi yang tinggi.

Amonia (NH3) dapat menyebabkan kematian pada ayam broiler karena pengaturan ventilasi yang kurang tepat dan litter yang basah sehingga meningkatkan konsentrasi NH3. Jumlah kadar NH3 yang lebih tinggi dari 25ppm pada ayam broiler dikandang menyebabkan gangguan pernafasan ayam (Fairchild dan Lacy 2006).

Indeks Performa

Indeks Performa (IP) adalah angka yang menunjukkan suatu prestasi yang dicapai pada akhir pemeliharaan. Nilai indeks performa yang semakin besar menunjukkan bahwa pemeliharaan lebih efisien dan baik. Hasil yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Indeks Performa Ayam Broiler Peubah Perlakuan

P1 P2 P3 P4

Indeks Performa

284,20 + 19,41B 316,8 + 24,7A 37,00 + 6,67D 48,60 + 3,29C Keterangan : Superskips huruf kapital menunjukkan sangat berbeda nyata (P<0,01). P1= Pakan

komersial, P2=Pakan komersial +DSP, P3=Pakan nabati, dan P4= Pakan nabati +DSP Analisis ragam menunjukkan indeks performa yang sangat berbeda nyata pada setiap perlakuan, disebabkan bobot badan rata-rata dan konversi pakan pada ayam broiler selama pemeliharaan juga berbeda pada setiap perlakuaan. Indeks performa untuk perlakuaan P1, P2, P3, dan P4 berturut-turut adalah 284,20 + 19,41;

316,8 + 24,7; 37,00 + 6,67; dan 48,60 + 3,29. Perlakuaan penambahan DSP pada setiap perlakuan mempengaruhi indeks performa ayam broiler. Indeks performa sangat erat hubungannya dengan konversi pakan yaitu konversi pakan yang tinggi akan menurunkan indeks performa ayam broiler. Perlakuan pakan komersial yang ditambah DSP (P2) memiliki indeks performa yang paling tinggi dari semua perlakuan yaitu sebesar 316,8. Menurut Santoso dan Sudaryani (2009), bahwa nilai indeks performa ayam broiler yang kisaran 301 – 325 dikatakan cukup sedangkan di bawah 300 dikatakan kurang. Indeks performa pada perlakuan pakan komersial (P1), pakan nabati (P3), dan pakan nabati yang ditambah DSP (P4) memiliki nilai dibawah 300 atau kurang.

Persentase Karkas

Rataan persentase karkas yang diperoleh (Tabel 11) ayam broiler yang diberi pakan nabati sangat nyata lebih kecil dibandingkan ayam yang diberi pakan komersial (P<0,01). Menurut Pesti dan Bakali (1997), persentase karkas ayam broiler berkisar antara 60,52-69,91% dari bobot hidup. Nilai ini masih di atas hasil penelitian yang memperoleh persentase karkas 58,65-77,49%. Pesti dan Bekalli (1997) menyatakan bahwa ada hubungan linier antara protein, energi, dan persentase karkas. Protein dan energi yang terkandung dalam pakan akan digunakan untuk memproduksi daging dalam tubuh. Kandungan energi dan protein pakan yang digunakan dalam penelitian adalah pakan komersial kandungan protein kasar sebesar 19,55 % dan energi sebesar 4085 Kkal/kg, sedangkan pakan nabati kandungan protein kasar sebesar 20,93 % dan energi sebesar 3976 Kkal/kg. Persentase karkas ayam broiler dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Bobot Kosong, Bobot Karkas dan Persentase Karkas Ayam Broiler selama Pemeliharaan. Keterangan : Superskips huruf kapital menunjukkan sangat berbeda nyata (P<0,01). P1= Pakan

komersial, P2= Pakan komersial + DSP, P3= Pakan nabati, dan P4= Pakan nabati +DSP

Analisis ragam menunjukkan persentase karkas yang sangat berbeda pada setiap perlakuan, disebabkan bobot kosong ayam broiler pada umur 5 minggu juga berbeda pada setiap perlakuan, karena persentase karkas diperoleh dari perbandingan bobot karkas dengan bobot hidup. Perlakuan penambahan DSP pada minggu ke-5 cenderung tidak mempengaruhi persentase karkas ayam broiler. Perbadaan persentase karkas, lebih disebabkan oleh perbedaan pakan (komersial dan nabati).

Pemberian pakan nabati mengakibatkan pertambahan bobot badan dan bobot badan yang lebih rendah sehingga dapat menghasilkan persentase karkas yang lebih rendah.

Bobot badan yang sama pada setiap perlakuan pakan yang tidak atau ditambah DSP, menunjukkan penambahan DSP cenderung tidak mempengaruhi persentase karkas. Hal ini bobot badan berkaitan dengan PBB, hasil penelitian penambahan DSP tidak mempengaruhi PBB. Walaupun pada minggu ke-1 sampai minggu ke-3 pakan yang diberikan tanpa penambahan DSP yaitu pakan komersial dan pakan nabati. Hal ini kemungkinan dapat mempengaruhi persentase karkas ayam broiler yang dihasilkan. Produksi karkas sangat erat hubungannya dengan bobot badan akhir yaitu peningkatkan bobot badan akhir akan diikuti oleh peningkatan bobot karkas. Safalaoh (2005) menyatakan bahwa persentase karkas dipengaruhi oleh bobot karkas. Bobot karkas ayam broiler ditunjang oleh bobot hidup akhir yang tinggi pula. Selain disebabkan oleh bobot hidup yang dihasilkan, persentase karkas juga dipengaruhi oleh penanganan dalam proses pemotongan.

Dokumen terkait