• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Umum Kecamatan Parung, Kecamatan Ciseeng dan Kecamatan Gunung Sindur

Kondisi Geografis dan Sosial Budaya Kecamatan Parung

Kecamatan Parung merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bogor yang memiliki luas 2 552 478 Ha dengan ketinggian 125 dpl. Secara administrasi Kecamatan Parung mempunyai batas wilayah sebagai berikut :

a. Sebelah Utara : Kecamatan Gunung Sindur dan Kota Depok b. Sebelah Selatan : Kecamatan Kemang

c. Sebelah Barat : Kecamatan Ciseeng d. Sebelah Timur : Kecamatan Tajur Halang

Kecamatan Parung berjarak ke Ibu Kota Provinsi Jawa Barat di Bandung yaitu 140 Km, dari Ibu Kota Negara berjarak 40 Km sedangkan dengan Ibu Kota Kabupaten di Cibinong berjarak 23 Km.

Secara umum kondisi sosial budaya dari sisi jenjang pendidikan formal, dimana sebagian masyarakat masih didominasi kaum laki-laki untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dibandingkan dengan kaum perempuan. Salah satu penyebabnya adalah faktor budaya dan faktor ekonomi masyarakat Kecamatan Parung.

Tabel 10Persentase jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan formal diKecamatan Parung

No Desa Jumlah penduduk Tingkat pendidikan (%)

SD SMP SMA PT 1 Parung 3590 7.78 5.70 7.52 0.60 2 Pemagersari 724 1.57 0.27 0.27 0.45 3 Jabon Mekar 1423 3.08 3.85 0.70 0 4 Waru 3829 8.30 5.63 5.35 2.77 5 Waru Jaya 3498 7.58 5.78 3.84 1.02 6 Bojong Indah 1029 2.23 2.02 1.05 0.04 7 Bojong Sempu 878 1.90 0.12 0.67 0.21 8 Iwul 2231 4.83 2.73 3.97 0.76 9 Cogreg 720 1.56 2.73 2.07 0.31 Jumlah 46146 38.83 28.83 25.44 6.16

Kondisi Geografis dan Sosial Budaya Kecamatan Ciseeng

Secara administratif Kecamatan Ciseeng mempunyai batas wilayah sebagai berikut :

a. Sebelah Utara : Kecamatan Gunung Sindur b. Sebelah Selatan : Kecamatan Kemang c. Sebelah Timur : Kecamatan Parung d. Sebelah Barat : Kecamatan Rumpin

Secara umum kondisi sosial budaya masyarakat Kecamatan Ciseeng cenderung menunjukkan profil masyarakat pedesaan. Kondisi sosial pendidikan masyarakat cenderung masih sangat rendah.

Tabel 11 Persentase penduduk menurut tingkat pendidikan di Kecamatan Ciseeng

No Desa Jumlah

penduduk

Tamatan Pendidikan Tingkat (%)

SD SMP SMA PT 1 Babakan 7771 12.86 4.51 2.71 0.10 2 Cibentang 2314 2.42 1.98 1.53 0.08 3 Cibeuteung Muara 4077 5.65 3.52 1.35 0.06 4 Cibeuteung Udik 2388 2.90 2.53 0.73 0.04 5 Cihowe 2009 3.06 1.36 0.74 0.06 6 Ciseeng 4379 4.07 4.27 2.97 0.07 7 Karihkil 3922 6.52 2.21 1.36 0.09 8 Kuripan 4998 8.53 2.81 1.55 0.03 9 Parigi Mekar 3961 4.05 3.82 2.29 0.13 10 Putat Nutug 2694 5.39 0.90 0.65 0.06 Jumlah 38493 55.45 27.91 15.88 0.72

Kondisi Geografis dan Sosial Budaya Kecamatan Gunung Sindur

Kecamatan Gunung Sindur juga merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Bogor yang memiliki luas wilayah 4.881 Ha. Secara administratif Kecamatan Parung mempunyai batas wilayah sebagai berikut :

a. Sebelah Utara : Kabupaten Tangerang Selatan

b. Sebelah Selatan : Kecamatan Parung dan Kecamatan Ciseeng c. Sebelah Timur :Kecamatan Parung dan Kota Depok

d. Sebelah Barat : Kecamatan Rumpin.

Tabel12Persentase jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Kecamatan Gunung Sindur

NO Desa Jumlah Penduduk Tingkat Pendidikan (%) SD SMP SMA PT 1 Jampang 296 2.07 0 0 0 2 Cibandung 728 4.50 0.60 0 0 3 Cibinong 1056 6.67 0.73 0 0 4 Cidokom 949 6.09 0.55 0 0 5 Curug 963 5.59 1.16 0 0 6 Rawa Kalong 2410 10.03 6.86 0 0 7 Pengasinan 1665 6.79 4.08 0 0 8 Gunung Sindur 3675 13.75 8.71 3.31 0 9 Pabuaran 1776 8.83 3.62 0 0 10 Padurenan 744 4.80 0.42 0 0 11 Jumlah 14263 69.12 26.72 3.31 0

Sekolah Menengah di Kecamatan Parung, Kecamatan Ciseeng dan Kecamatan Gunung Sindur

Sekolah-sekolah menengah yang terdapat di Kecamatan Parung, Kecamatan Ciseeng, Kecamatan Gunung Sindur belum ada yang meraih penghargaan sekolah Adiwiyata yaitu sekolah yang mendapatkan penghargaan lingkungan hidup baik tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional.

Tabel 13 SMA/SMK yang ada di Kecamatan Parung, Kecamatan Ciseeng, Kecamatan Gunung Sindur

No Kecamatan Parung Kecamatan Gunung Sindur

Kecamatan Ciseeng 1 SMA Al Ashriyyah Nurul

Iman

SMA Al Ghozali SMA Al Mukhlisin 2 SMA Dwi Warna SMA 1 Gunung Sindur SMAN 1 Ciseeng 3 SMA Muhammadiyah

Parung

SMA Panca Darma SMA Riyadhul Jannah 4 SMA School Of Universe SεA Darul Qur’an εulia SMK Garuda Satya 5 SMAN 1 Parung SMK Panti Karya 3

Gunung Sindur

SMK Harapan 5 SMK Mutiara Insani SMK Islam Darul Khoir SMK Bina Harapan 6 SMK Yapia Parung SMK Bistek SMK Joyorejo Putat

Nutug

7 SMK Sirajul Falah SMK Garuda Satya

8 SMK YPUI Parung SMK Wiradikarya

9 SMK Muhammadiyah Parung

Perilaku Pelajar Terhadap Lingkungan

Penelitian tentang perilaku pelajar terhadap lingkungan dilakukan dengan menggunakan kuisioner. Kuisioner disebar ke9 sekolah yang berada di Kecamatan Parung, Kecamatan Ciseeng, Kecamatan Gunung Sindur.Kemudian di uji reliabilitas dan validitasnya menggunakan SPSS 16.00.

Hasil uji validitas product moment pada lampiran 16 semua variable didapatkan r hitung > r tabel. Hasil uji reliabilitas alpha cronbach pada Lampiran 17 di dapatkan 4 variabel yang tidak reliabel yaituVariabel manifest lingkungan Keluarga ke 4 (LK4) tentang pemanfaatan barang bekas (recycle), Variabel manifest lingkungan Keluargake 5 (LK5) tentang penghematan energi listrik, Variabel manifes lingkungan Keluargake 6 (LK6) tentang pembagian tugas piket dirumah, Variabel manifes lingkungan keluarga ke 7(LK7)tentang penghematan air. Untuk selanjutnya variabel ini tidak diikut sertakan dalam uji Structural Equation Modeling (SEM).

Hasil uji reliabilitas dari nilai korelasi Gutman Split-Half dibandingkan dengan rTabel taraf signifikan 5% dengan n = 363 (rTabel 0.103) disimpulkan bahwa r hitung variabel kuisioner lebih besar dari pada rTabel maka variabel eksogen dan variable endogen kuisioner secara keseluruhan reliabel.

Analisis Structural Equation Modeling (SEM) Perilaku Pelajar Terhadap Lingkungan

Persentase Peubah Laten dan Peubah Manifes Berdasarkan Kualitas Sekolah Sampel

Analisa kuisioner mengunakan skala pengukuran likert 4 poin dengan deskripsi seperti yang tertera pada Tabel 4. Selanjutnya dilakukan persentase responden tiap variabel peubah manifes.Setiap sekolah dengan kategori baik, sedang dan kurang dihitung perolehan nilai skala likert tiap variabel manifes, kemudian di bagi jumlah total responden pada sekolah baik, sedang, kurang dan dikali 100%. Hasil persentase skala likert 3 dan 4 dijumlahkan.

Hasil rata-rata persentase peubah laten dan peubah manifes pada Tabel 14menunjukkan bahwa sekolah dengan kualitas baik memiliki persentase lebih besar dari pada sekolah dengan kategori sedang dan kurang kecuali pada variabel lingkungan sekolah ke 7 (LS7) tentang sanksi,variabel lingkungan keluarga ke 4 (LK4) tentang recycle, variabel lingkungan keluarga ke 6 (LK6) tentang jadwal pembagian tugas piket rumah dan menanam tanaman hias, variabel sikap ke 2 (S2) tentang kesadaran, variabel persepsi ke 1 (P1) tentang persepsi dilingkungan sekolah.

Tabel 14 Rata-rata persentase peubah laten dan peubah manifes berdasarkan kualitas sekolah sampel

No

Peubah Laten

Eksogen Peubah Manifes Eksogen Simbol

Kualitas sampel sekolah (%) Baik Sedang Kurang 1 Lingkungan

sekolah (LS)

Nilai karakter

lingkungan setiap materi

mata pelajaran LS1 86.62 84.72 70.21 Kantin sehat LS2 32.55 37.50 29.78 Memanfaatkan lahan sekolah LS3 86.62 55.55 38.30 Lomba lingkungan hidup LS4 30.37 16.66 6.37 Sarana dan prasarana

kebersihan

LS5

94.77 50.00 25.53 Kondisi sarana dan

prasarana LS6 46.51 30.55 23.41 Sanksi LS7 47.09 82.64 44.68 2 Lingkungan masyarakat(LM

) Kerja bakti lingkungan LM1 67.43 76.38 48.93 Bank sampah LM2 17.44 21.52 10.63 Ketersediaan sarana dan

prasarana kebersihan LM3 29.64 27.77 12.77 3 Lingkungan

Keluarga (LK) Pendidikan ayah LK1 19.77 2.78 0 Pendidikan ibu LK2 13.37 2.78 6.38 Sarana kebersihan LK3 76.74 48.61 31.91 Recycle LK4 70.92 82.63 85.09 Penghematan energi listrik LK5 86.04 81.24 76.59 Jadwal pembagian tugas

piket rumah dan

menanam tanaman hias LK6 43.59 47.90 57.43 Penghematan air LK7 85.46 81.94 80.84 Bekal makanan kesekolah LK8 20.94 2.08 0 4 Sikap (S) Tanggungjawab lingkungan S1 50.05 43.05 36.16 Kesadaran S2 26.15 77.08 19.14 Pengetahuan S3 73.24 48.60 44.66 Pengalaman S4 28.48 27.77 21.26 5 Norma subjektif (NS) Norma Personal NS1 73.25 45.83 46.81 Norma subjektif di sekolah NS2 79.06 65.28 59.57

6 Persepsi (P) Persepsi di lingkungan sekolah P1 96.51 94.44 100 Persepsi di lingkungan masyarakat P2 94.18 79.87 85.10 Persepsi di lingkungan keluarga P3 95.34 90.28 89.36

Tabel 14 Rata-rata persentase peubah laten dan peubah manifes berdasarkan kualitas sekolah sampel (lanjutan)

No Peubah Laten Endogen

Peubah Manifes Endogen

Simbol Kualitas sekolah (%) Baik Sedang Kurang 1 Intensi perilaku (IP) Intensi Perilaku dilingkungan keluarga IP1 93.01 85.42 82.98 Intensi perilaku di lingkungan masyarakat IP2 81.97 84.72 87.23 Intensi perilaku di lingkungan sekolah IP3 93.60 93.06 91.49 2 Perilaku lingkungan (PL) Perilaku lingkungan dirumah PL1 73.83 59.72 51.06 Perilaku lingkungan dimasyarakat PL2 88.37 88.19 80.81 Perilaku lingkungan ditempat umum PL3 97.09 91.36 91.49 Variabel eksogen LS7 yaitu tentang sanksi lingkungan hidup sekolah dengan kategori sedang memiliki persentase yang lebih tinggi dari pada sekolah dengan kategori baik, yaitu sebesar 82.64% menyebutkan bahwa sekolah sering dan selalu memberikan sanksi apabila mereka melanggar peraturan seperti mencoret-coret dinding, membuang sampah sembarangan. Sedangkan sekolah dengan kategori baik 47.09% menyebutkan bahwa sekolah sering dan selalu memberikan sanksi apabila mereka melanggar peraturan seperti mencoret-coret dinding, membuang sampah sembarangan dan sekolah dengan kategori kurang baik sebesar 44.68%.

Variabel eksogen lingkungan keluarga untuk variabel manifest LK1 dan LK2 tentang pendidikan orang tua. Sekolah dengan predikat baik persentase pendidikan orang tua yang berpendidikan tinggi (D3/S1 atau S2) lebih banyak dari pada siswa yang bersekolah di sekolah dengan predikat sedang atau kurang baik. Untuk variabel manifes LK1 tentang pendidikan ayah untuk sekolah dengan kategori baik memiliki persentase 19.77%, ini artinya 19.7% pelajar yang bersekolah di sekolah baik memiliki ayah dengan tingkat pendidikan setara D3, sarjana atau pascasarjana. Sedangkan sekolah dengan kategori sedang sebesar 2.78% pendidikan ayah mereka setara D3, sarjana atau pascasarjana, dan di sekolah dengan kategori kurang baik dengan persentase 0%, ini menunjukkan bahwa siswa yang bersekolah disekolah dengan kategori kurang baik ayah mereka tidak ada yang lulus D3/S1 atau pasca sarjana.Dari hasil penelitian Simanungkalit (2011) bahwa kepala keluarga yang memiliki pendidikan tinggi lebih memiliki perilaku hidup bersih dan sehat daripada kepala keluarga yang berpendidikan menengah dan pendidikan dasar. Sedangkan hasil penelitian Hasni (2012) bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan kepala keluarga dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Lebih lanjut dikatakan bahwa responden yang memiliki pendidikan tinggi dan memiliki perilaku hidup bersih dan sehat lebih baik dan lebih besar daripada responden yang berpendidikan rendah tetapi memiliki perilaku hidup bersih dan sehat yang baik. Pada variabel manifes LK2 tentang pendidikan ibu. Sekolah dengan kategori baik sebesar responden sebanyak 13.37% ibu mereka berpendidikan D3, sarjana atau pasca sarjana. Untuk sekolah dengan kategori sedang memiliki persentase sebesar 2.78% sedangkan sekolah dengan kategori tidak baik memiliki persentase 6.38%. Hasil penelitian

Hermawan (2011) menunjukkan tingkat pendidikan memiliki hubungan yang positifdengan perilaku ibu rumah tangga dalammemelihara kebersihan lingkungan. Semakintinggi tingkat pendidikan akan semakin baikperilaku ibu rumah tangga dalam memeliharakebersihan lingkungan.Pendidikan orang tua mempengaruhi perilaku anak terhadap lingkungan. Pada variabel manifes LK3 tentang sarana kebersihan. Penyediaan sarana kebersihan dalam hal ini tempat sampah dirumah pada siswa yang bersekolah di sekolah dengan kategori baik memiliki persentase lebih tinggi yaitu sebesar 76.74% dari pada siswa yang bersekolah dengan kategori sedang 48.61 % dan sekolah yang kurang baik sebesar 31.91%. Begitu pula pada variabel manifes LK4, LK5, LK7 dan LK8 mengenai penggunaan kembali barang bekas (recycle), penghematan air, penghematan listrik, dan bekal makan siang. Siswa yang orangtuanya berpendidikan tinggi memiliki persentase yang lebih tinggi yaitu sebesar 70.92%, 82.63%, 85.09% untuk LK4. 86.04%, 81.24%, 76.59% untuk LK5.43.59%, 85.46%, 81.94%, 80.84% untuk LK7 dan 20.92%, 2.36% dan 0% untuk LK8. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan orang tua berpengaruh terhadap perilaku anak ramah lingkungan. Pada variabel LK6 tentang jadwal pembagian tugas dirumah untuk siswa yang bersekolah di sekolah dengan kategori baik sebesar 43.59%, 47.90%, 57.43% untuk LK6.

Variabel sikap (S) dengan variabel S1 mengenai tanggungjawab lingkungan, variabel S2 mengenai kesadaran lingkungan, variabel manifes S3 pengetahuan dan variabel S4 pengalaman persentase terbesar adalah sekolah dengan kategori baik, sedang dan kurang baik yaitu 50.05%, 43.05%, 36.16%untuk variabel manifes S1. 26.15%, 77.08%, 19.14 %untuk variabel manifes S2.73.24%, 48.60%, 44.66% untuk variabel S3 dan 28.48%, 27.77%, 21.26% untuk variabel S4. Dari pada sekolah dengan kategori sedang dan kurang baik.

Variabel persepsi dengan variabel persepsi di lingkungan sekolah (P1) dan persepsi di lingkungan masyarakat (P2) dan persepsi di lingkungan keluarga (P3) menunjukkan persepsi pelajar terhadap kebersihan lingkungan di sekolah dengan kategori bagus lebih tinggi dibandingkan dengan persepsi pelajar yang bersekolah di sekolah dengan kategori sedang dan kurang baik kecuali pada variable P1yaitu sebesar 96.51%, 94.44%, 100%. Sedangkan 94.18%, 79.85%, 85.10% untuk variabel P2, dan 95.34%, 90.27%, 89.35% untuk variabel P3. Hasil penelitian Sari (2009) menyatakan bahwa persepsi berpengaruh terhadap perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat nelayan desa Bagan.

Structural Equation Modeling (SEM) Perilaku Pelajar Terhadap Lingkungan

Dari uji Structural Equation Modeling (SEM) pada Gambar 4 bahwa variabel peubah laten eksogen yang berpengaruh terhadap peubah laten endogen intensi perilaku (IP) adalah pertama Norma Subjektif (NS) dengan loading faktor sebesar 0.31. Yang kedua adalahpersepsi (P) dengan loading faktor sebesar 0.28. Yang ketiga adalah lingkungan sekolah (LS) dengan loading faktor sebesar 0.27. Yang empat adalah sikap (S) dengan loading faktor sebesar 0.19. Yang kelima adalah lingkungan keluarga (LK) dengan loading faktor sebesar 0.05. Dan yang keenam adalah lingkungan masyarakat (LM) dengan loading faktor sebesar – 0.02.

Gambar 6 Structural Equation Modeling (SEM) perilaku pelajar terhadap lingkungan

Keterangan : LS = Lingkungan Sekolah LK = Lingkungan Keluarga LM = Lingkungan Masyarakat S = Sikap NS = Norma Subyektif P = Persepsi IP = Intensi Perilaku PL = Perilaku Lingkungan

Variabel peubah laten eksogen yang berpengaruh pertama adalah variabel manifesnorma personal (NS1) dengan loading faktor (λ) sebesar 0.58 yang berpengaruh kemudian adalah norma subjektif di sekolah (NS2) dengan loading faktor (λ) sebesar 0.55. Berdasarkan penelitian Hanung (2011) menyatakan bahwa norma personal berpengaruh terhadap perilaku pro lingkungan. Menurut Wall et all (2007) dalam Hanung (2011) bahwa nilai suatu objek lingkungan dapat dihargai berdasarkan normaharapan diri (normative self-expectation) yaitu norma personal sebagai bentukkonsekuensi dari kesadaran dan tanggung jawab pribadi. Kesatuan antarakesadaran, tanggung jawab, dan norma personal mempengaruhi intensi danperilaku individu dalam pro lingkungan.

Variabel peubah laten eksogen yang berpengaruh ke dua adalah persepsi (P). Hasil penelitian Sari (2009) menyatakan bahwa persepsi berpengaruh terhadap perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat. Variabel peubah manifesnya adalah Pγ dengan loading faktor (λ) sebesar 0.56 tentang persepsi lingkungan di keluarga, Pβ dengan loading faktor (λ) sebesar 0.52 tentang persepsi lingkungan di sekolah, P1 dengan loading faktor sebesar (λ) 0.23 tentang persepsi lingkungan masyarkat.

Variabel peubah laten eksogen yang berpengaruh ketiga adalah lingkungan sekolah (LS). Variabel manifesnya antara lainδS6 dengan loading faktor (λ) sebesar 0.42 tentang kondisi sarana dan prasarana kebersihan, LS1 dengan loading faktor (λ) sebesar 0.37tentang nilai karakter lingkungan setiap mata pelajaran,LS2 dengan loading faktor (λ) sebesar 0.31 tentang kantin/warung makanan,LS7 dengan loading faktor (λ) sebesar 0.31 tentang kondisi sarana dan prasarana lingkungan hidup di sekolah, δSγ dengan loading faktor (λ) sebesar 0.42 tentang memanfaatkan lahan sekolah, δS5 dengan loading faktor (λ) sebesar 0.22 sarana dan prasarana kebersihan, δSδ dengan loading faktor (λ) sebesar 0.22 tentang lomba lingkungan hidup seperti lomba kebersihan kelas.Dalam penelitian yang dilakukan oleh Balitbang Propinsi Jawa Tengah tentang Perilaku Sosial Anak Sekolah Terhadap Lingkungan Hidup dan Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup disimpulkan bahwa pentingnya peran sekolah dan lingkungan tempat tinggal dalam pendidikan lingkungan hidup (Balitbang, 2007).

Variabel peubah laten eksogen keempat yang paling berpengaruh adalah sikap (S), sedangkan ke empat variabel manifes dari variabel peubah laten sikap yang palingberpengaruh adalah S1 dengan loading faktor (λ) sebesar 0.49 tentang tanggung jawab terhadap lingkungan, Sβ dengan loading faktor (λ) sebesar 0.βδ yaitu kesadaran pelajar terhadap lingkungan. Sγ dengan loading faktor (λ) sebesar 0.β0 tentang pengetahuan lingkungan. Sδ dengan loading faktor (λ) sebesar 0.30 pengalaman pelajar dalam melakukan aksi lingkungan hidup seperti menanam

pohon, kerja bakti lingkungan, membuat lubang biopori.Hasil penelitian Yudha (2012) Tanggung jawab lingkungan dan pengetahuan ekologi dasar berpengaruh positif terhadap partisipasi pemeliharaan lingkungan. Hasil penelitian Puspita Dewi (2012) pengetahuan tentang ekologi berpengaruh positif terhadap partisipasi siswa dalam pemeliharaan lingkungan sedangkanhasil penelitian Hanung (2011) terjadihubungan positif antara tanggung jawab responden dengan intensi perilaku pro lingkungan. Semakin tinggi tanggung jawab responden, maka semakin meningkat intensi perilaku pro lingkungannya. Selanjutnya dijelaskan bahwa pengetahuan berpengaruh signifikan terhadap perilaku pro lingkungan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Strong (1998)dalam Rahayu (2008) bahwa pengetahuan dasar mengenai lingkungan hidup akan mampu mengembangkan perhatian terhadap lingkungan dan mempunyai perilaku positif serta lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Wibowo (2009) menyatakan bahwa pengetahuan tentang masalah lingkungan dan pengetahuan tentang berbagai tindakan yang tepat untuk mengatasinya menjadi salah satu prasyarat bagi perilaku bertanggungjawab. Lendrawati (2013) menyatakan bahwa pengetahuan peserta didik terhadap lingkungan tergolong tinggi, belum menjamin kepedulian peserta didik terhadap lingkungan juga tinggi.

Analisis Strengths, Weakness, Opportunities, Treaths(SWOT) Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/SMK) di Kecamatan Parung, Kecamatan Ciseeng, Kecamatan Gunung Sindur

Untuk menentukan strategi penyusunan Strengths, Weakness, Opportunities, Treaths (SWOT)yang menjadi responden adalah kepala sekolah atau wakil kurikulum sekolah dan guru mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) yang menjadi objek penelitian. Penelitian dilakukan di 9 sekolah sehingga di peroleh 9 responden.

Analisis Lingkungan Eksternal External Strategic Factors Analysis Summary (EFAS)

Kuisioner yang diberikan kepada kepala sekolah atau wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Ada indikator yang di hilangkan yaitu kantin sekolah yang sehat. Karena setelah dilakukan survey ada beberapa sekolah yang tidak memiliki kantin sekolah. Jadi para siswa membeli makanan dari penduduk setempat yang tersebar disekitar sekolah. Hasil analisis menunjukkan bahwa indikator variabel eksternal yang memiliki bobot yang paling besar, berarti yang paling besar berpengaruh terhadap pembentukan sekolah adiwiyata.

Dari Tabel15diperoleh bobot yang paling besar adalah dukungan pemerintah Kementerian Pendidikan Nasional/ Badan Lingkungan Hidup (KEMENDIKNAS/BLH) dalam bidang lingkungan hidup menunjukkan nilai lingkungan eksternal adalah baik, artinya lingkungan eksternal mendukung terwujudnya sekolah adiwiyata di Kecamatan Parung, Kecamatan Ciseeng, Kecamatan Gunung Sindur.Berdasarkan hasil analisis lingkungan internal dapat diketahui hasil total nilai External Strategic Factors Analysis Summary (EFAS) adalah 2.98.

Tabel 15 Analisa lingkungan strategi eksternal di Kecamatan Parung, Kecamatan Ciseeng dan Kecamatan Gunung Sindur

No Variabel Indikator Eksternal Rating Bobot Rating score

Keterangan 1 Daya saing kompetitor sekolah

sejenis dibidang lingkungan hidup

2.78 0.15 0.44 Baik Peluang

2 Perlombaan/kompetisi

lingkungan hidup antar sekolah saat ini

3.00 0.17 0.51 Baik Peluang

3 Kompetensi lulusannya dalam bidang lingkungan hidup

3.00 0.17 0.51 Baik Peluang 4 Kultur masyarakat yang

berbudaya lingkungan saat ini

3.00 0.17 0.51 Baik Peluang 5 Dukungan pemerintah

(KEMENDIKNAS/KLH) dalam bidang lingkungan hidup (sarana/prasarana, pelatihan, anggaran) saat ini

3.11 0.17 0.57 Baik Peluang

6 Kerjasama dan kemitraan sekolah dengan pihak swasta dalam bidang lingkungan hidup saat ini

2.78 0.15 0.44 Baik Peluang

Jumlah 1.00 2.98

Analisis Lingkungan Internal Internal Strategic Factors Analysis Summary (IFAS)

Perhitungan analisis lingkungan internal sama seperti perhitungan analisis lingkungan eksternal. Dari Tabel 16 dapat diketahui bahwa bobot terbesar pada visi, misi dan tujuan sekolah. Visi, misi dan tujuan sekolah merupakan hal yang utama untuk operasional sekolah.Berdasarkan hasil analisis lingkungan internal dapat diketahui hasil total nilai Internal Strategic Factors Analysis Summary (IFAS) adalah 3.086 dan nilai lingkungan internal dalam kategoribaik.Hal ini menunjukkan posisi sekolah-sekolah yang berada di Kecamatan Parung, Kecamatan Ciseeng dan Kecamatan Gunung Sindur berada dalam posisi yang baik untuk dikembangkan sebagai sekolah adiwiyata atau sekolah berbudaya lingkungan.

Tabel 16 Analisa lingkungan strategi internal sekolah di Kecamatan Parung, Kecamatan Ciseeng dan Kecamatan Gunung Sindur

No Variabel indikator Internal Bobo t

Rating skor Keterangan 1 Pelaksanaan visi sekolah memuat

kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup

0.06 3.44 0.21 Baik Kekuatan

2 Pelaksaan misi sekolah memuat kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup

0.06 3.44 0.21 Baik Kekuatan

3 Pelaksanaan tujuan sekolah memuat kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup

0.06 3.44 0.21 Baik Kekuatan

4 Ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung pembelajaran lingkungan hidup

0.06 3.33 0.19 Baik Kekuatan

5 Ketersediaan anggaran dari sekolah untuk mengembangkan lingkungan hidup disekolah.

0.05 2.89 0.15 Baik Kekuatan

6 Pelaksanaan budaya dan lingkungan sekolah ramah lingkungan saat ini

0.05 2.78 0.14 Baik Kekuatan

7 Pelaksanaan pengelolaan sampah sekolah saat ini

0.05 2.89 0.15 Baik Kekuatan 8 Kompetensi tenaga pendidik

dibidang lingkungan hidup

0.05 3.11 0.17 Baik Kekuatan 9 Kompetensi tenaga kependidikan

dalam bidang lingkungan hidup saat ini

0.05 3.11 0.17 Baik Kekuatan

10 Kualitas peserta didik dibidang lingkungan hidup saat ini

0.05 2.89 0.15 Baik Kekuatan 11 Ekstrakulikuler dibidang

lingkungan hidup

0.05 2.89 0.15 Baik Kekuatan 12 Pelaksanaan aksi lingkungan

hidup saat ini

0.05 3.00 0.17 Baik Kekuatan 13 Memelihara dan merawat gedung

sekolah oleh warga sekolah saat ini

0.06 3.22 0.19 Baik Kekuatan

14 Pengelolaan lahan dan pemanfaatan lahan dalam kegiatan pembelajaran saat ini

0.05 3.00 0.16 Baik Kekuatan

15 Memelihara sarana dan prasarana pendukung

pembelajaran lingkungan hidup

0.06 3.11 0.17 Baik Kekuatan

16 Kondisi sarana dan prasarana pendukung pembelajaran lingkungan hidup saat ini

0.05 3.00 0.16 Baik Kekuatan

17 Pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas sanitasi sekolah saat ini

0.05 3.00 0.16 Baik Kekuatan 18 Penghematan air, listrik dan alat

tulis lainnya

0.05 2.89 0.15 Baik Kekuatan

Validitas Analisis Strengths, Weakness, Opportunities, Treaths (SWOT).

Sekolah Menengah di Kecamatan Parung, Kecamatan Ciseeng, Kecamatan Gunung Sindur

Validitas analisis Strengths, Weakness, Opportunities, Treaths (SWOT) dilakukan berdasarkan pada ketentuan Permen Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2013 tentang sekolah adiwiyata. Validitas ini dilakukan oleh peneliti sendiri terhadap Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/SMK) di Kecamatan Parung, Kecamatan Ciseeng dan Kecamatan Gunung Sindur sertawawancara terhadap guru Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) atau guru mata pelajaran, alumni di sekolah tersebut.

Validitas Analisis Strategi Lingkungan Eksternal

Validitas analisis lingkungan eksternal dilakukan dengan melakukan wawancara kepada guru bidang studi Pendidikan Lingkungan Hidup(PLH) dan data dari kantor kecamatan setempat tentang program-program kebersihan dan dari hasil kuisioner perilaku siswa terhadap lingkungan.

Tabel 17 Validitas penilaian ranting tingkat eksternal

No Variabel Indikator Eksternal Bobot Rating Skor Keterangan

1 Daya saing kompetitor sekolah sejenis dibidang lingkungan hidup

0.16 2.30 0.37 Tidak

baik

Ancaman

2 Perlombaan/kompetisi lingkungan hidup antar sekolah saat ini

0.17 2.40 0.40 Tidak

baik

Ancaman

3 Kompetensi lulusannya dalam bidang lingkungan hidup

0.19 2.70 0.51 Baik Peluang

4 Kultur masyarakat yang berbudaya lingkungan saat ini

0.19 2.80 0.54 Baik Peluang

5 Dukungan pemerintah

(KEMENDIKNAS/KLH) dalam bidang lingkungan hidup (sarana/prasarana, pelatihan, anggaran) saat ini

0.14 2.00 0.28 Tidak

baik

Ancaman

6 Kerjasama dan kemitraan sekolah dengan pihak swasta dalam bidang lingkungan hidup saat ini

0.15 2.20 0.34 Tidak

baik

Ancaman

Jumlah 1.00 2.43

Dari Tabel 17 variabel no 1, 2, 5 dan 6 mendapat rating dibawah 2.5 dengan predikat tidak baik. Pada variabel no 1 tentang daya saing/kompetitor sekolah sejenis di bidang lingkungan hidup. Sekolah yang menjadi sampel hampir tidak ada persaingan antar sekolah di bidang lingkungan hidup. Pada umumnya persaingan antar sekolah mengenai jumlah siswa tiap tahun ajaran baru. Hal ini berkaitan dengan variabel soal no 2 yaitu perlombaan/kompetensi antar sekolah saat ini. Untuk sekolahkejuruan swasta perlombaan/kompetisi antar sekolah dibidang lingkungan hidup seperti lomba sekolah sehat antar kecamatan tidak pernah ada. Pada poin 5 yaitu dukungan pemerintah Kementrian Pendidikan Nasional/Badan Lingkungan Hidup (KEMENDIKNAS/BLH) dalam bidang lingkungan hidup (sarana/prasarana,pelatihan,anggaran) saat ini. Disekolahyang

menjadi sampel yang berstatus swasta tidak ada dukungan dari pemerintah baik sarana/prasarana, pelatihan, anggaran. Pembinaan siswa terhadap lingkungan hidup dilakukan secara mandiri oleh guru pengajar muatan lokal Pendidikan

Dokumen terkait