• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identifikasi Individu

Kelompok Boti di kandang TMR terdiri dari empat individu dengan komposisi dua ekor betina dewasa, satu ekor jantan muda dan satu ekor betina muda (Tabel 2). Pengamatan perilaku pada kelompok ini dimulai pada bulan September 2013 hingga bulan Nopember 2013 dengan total jam pengamatan sebanyak 220 jam, sehingga masing-masing individu mendapatkan jam pengamatan yang sama yaitu 55 jam.

Kelompok Boti di kandang PPS terdiri dari lima individu dengan komposisi satu ekor jantan dewasa, dua ekor betina dewasa, satu ekor jantan muda dan satu ekor bayi betina (Tabel 3). Pengamatan perilaku pada kelompok ini dilakukan setelah pengamatan di lokasi 1 selesai yaitu mulai bulan Desember 2013 hingga bulan Maret 2014. Pada kandang PPS, waktu pengamatan lebih lama karena terkendala cuaca hujan dan banjir di sekitar lokasi penelitian pada bulan

Januari 2014. Masing-masing individu Boti mendapatkan jam pengamatan yang sama yaitu 55 jam dan total jam pengamatan adalah 275 jam di lokasi 2, sehingga total jam pengamatan untuk kedua lokasi penelitian yaitu 495 jam.

Tabel 2 Individu Boti di kandang Taman Margasatwa Ragunan No Gambar Jenis Kelamin Nama Tanggal Lahir* Perkiraan Umur Saat Diteliti Induk* ♂ ♀ 1 Betina Huti 20-03-2002 Dewasa: 11 tahun 6 bulan Digo Desy 2 Betina Ochi 17-07-2003 Dewasa: 10 tahun 2 bulan Digo Dely

3 Jantan Okto Oktober

2010

Muda: 2 tahun 11 bulan

Huta Huti

4 Betina Febri Februari

2011

Muda: 2 tahun 7 bulan

Huta Ochi

Ket.: * Data diperoleh dari dokumen inventaris satwa Taman Margasatwa Ragunan Jakarta.

Boti hidup berkelompok yang terdiri atas beberapa jantan dan betina dewasa, remaja serta anak/bayi (Fleagle 1988). Komposisi umur dan jenis kelamin pada kandang TMR kurang lengkap, hal ini mungkin merupakan akibat dari terbatasnya luasan kandang. Selain itu, Huti yang merupakan betina dewasa dan induk dari Okto sebaiknya dipisahkan karena Okto sudah menunjukkan perilaku seksual kepada Huti. Pemisahan ini penting dilakukan untuk menghindari terjadinya inbreeding pada kelompok Boti TMR.

Untuk kelompok Boti kandang PPS memiliki struktur kelompok yang cukup lengkap. Rasio jantan dan betina dewasa pada kelompok Boti PPS menunjukkan keadaan yang normal dan sudah sesuai dengan Boti di alam yaitu 1:2. Rasio jantan dan betina dewasa M. tonkeana di Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah berkisar antar 1:1.2 dan 1:1.3 (Pombo 2004), sedangkan menurut Napier dan Napier (1985) rasio jantan dan betina dewasa untuk kelompok sosial multimale-multifemale umumnya 1:2. Struktur kelompok dan

rasio jantan dan betina ini sangat penting agar individu Boti dapat melakukan perilaku seksual seperti di habitat alaminya.

Data yang diperoleh dari dokumen inventaris satwa menunjukkan bahwa individu-individu Boti di kedua lokasi kandang berasal dari induk yang sama dan masih ada hubungan kekerabatan. Pada tahun 1994, Digo yang merupakan hasil sitaan diterima oleh pengelola Taman Margasatwa Ragunan. Kelompok Boti ini terbentuk ketika betina Dely dan Desy dipasangkan dengan Digo di tahun 1996. Silsilah dan hubungan antar individu Boti di kedua lokasi kandang ditunjukkan pada Gambar 4.

Tabel 3 Individu Boti di kandang Pusat Primata Schmutzer No Gambar Jenis Kelamin Nama Tanggal Lahir* Perkiraan Umur Saat Diteliti Induk* ♂ ♀ 1 Jantan Godes 09-06-2005 Dewasa: 8 tahun 5 bulan Digo Desy 2 Betina Iyos 24-02-2005 Dewasa: 8 tahun 9 bulan Digo Dely

3 Betina Elly 09-11-2007 Dewasa:

6 tahun Digo Dely

4 Jantan Godel Februari

2011

Muda: 2 tahun 9 bulan

Digo Dely

5 Betina Meilan 08-05-2013 Bayi:

6 bulan Godes Iyos

Gambar 4 Silsilah individu Boti di kedua lokasi kandang

Kondisi fisik lingkungan kandang

Kandang Primata 3 TMR berbentuk menyerupai trapesium dengan luas 25.18 m2, dibatasi oleh dinding tembok dengan alas keramik. Tembok bagian depan dan atap kandang dibuat dari bahan jeruji besi. Didalam kandang terdapat dua batang kayu yang diletakkan menyilang di atas sebuah paralon besi serta terdapat sebuah balon karet dan beberapa tali dari bahan karet sebagai sarana bergelantungan dan bermain (Gambar 5). Pada jarak 4 m diluar kandang, terdapat beberapa pohon naungan yaitu pohon nangka (Artocarpus integra Merr.) dan beringin (Ficus benjamina L.). Kelompok Boti pada kandang ini sering terlihat mengkonsumsi daun yang jatuh dari pohon tersebut terutama pada pagi hari. Suhu udara rata-rata pada pagi, siang dan sore hari berturut-turut adalah 26.9±0.8 °C, 28.6±1.3 °C dan 28.5±1.6 °C, sedangkan kelembaban udara rata-rata pada pagi, siang dan sore hari berturut-turut adalah 71.2±5.2%, 63.7±7.5% dan 66.3±8.1%.

Gambar 5 Foto dan skema kandang TMR. A. Kandang tidur, B. Pintu slot kandang tidur, C. Kandang peraga

2 m 6 m 7.4 m A B C

Kandang PPS memiliki luasan 182.89 m2 dengan dinding tembok dan sebagian dinding terbuat dari bahan kaca. Atap kandang terbuat dari kawat dengan alas kandang berupa tanah yang didominasi oleh rumput gajah paitan (Axonopus compressus). Di dalam kandang terdapat beberapa pohon alami maupun pohon buatan yang dilengkapi dengan tali dan mainan yang terbuat dari bahan karet (Gambar 6). Kandang PPS juga dilengkapi dengan kandang tidur dan beberapa kandang jebak yang berfungsi sebagai kandang perlakuan satwa. Suhu udara rata-rata pada pagi, siang dan sore hari berturut-turut adalah 28.2±0.9 °C, 29.3±1.5 °C dan 29.1±1.4 °C, sedangkan kelembaban udara rata-rata pada pagi, siang dan sore hari berturut-turut adalah 76.4±8.8%, 72.5±12.8% dan 75.0±13.5%.

Gambar 6 Lokasi kandang PPS

Sistem perkandangan adalah salah satu elemen yang penting dalam lingkungan fisik dan sosial satwa. Menurut National Institute of Health (1985), sistem perkandangan seharusnya: 1) memberikan ruang yang memadai, memungkinkan kebebasan bergerak dan menyesuaikan postur normal dan memiliki tempat peristirahatan yang sesuai dengan spesies; 2) memberikan lingkungan yang nyaman; 3) memiliki akses keluar yang memperhatikan batas-batas keselamatan hewan; 4) memberikan akses yang mudah ke pakan dan sumber air; 5) memberikan ventilasi yang cukup; 6) memenuhi kebutuhan biologis dari hewan seperti memelihara suhu tubuh, urinasi, defekasi, dan reproduksi; 7) menghindari pengekangan fisik yang tidak perlu; dan 8) mampu melindungi hewan dari bahaya yang diketahui. Luasan minimal untuk hewan laboratorium seperti primata berdasarkan National Institute of Health (1985) disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan bobot badan, kelompok Boti yang diamati masuk ke dalam grup tiga dan empat dan luasan kedua lokasi kandang telah memenuhi standar luasan minimal yang direkomendasikan. Saat pengamatan di lokasi kandang TMR ditemukan Ochi terluka pada bagian bantalan duduk (ischial callosity) karena tersangkut pintu slot kandang tidur. Selain itu, kedua individu muda yaitu Okto dan Febri sering terjatuh ke lantai ketika sedang bermain kejar-kejaran karena kurangnya pengkayaan sarana bermain seperti tali yang digunakan untuk bergelantungan. Kejadian ini mungkin bisa menjadi pertimbangan untuk perbaikan konstruksi kandang di TMR.

Tabel 4 Ukuran kandang minimal yang direkomendasikan untuk satwa primata Grup Bobot badan Luas lantai/ekor Tinggi

1 < 1 kg 0.15 m2 50.8 cm 2 1 kg – 3 kg 0.28 m2 76.2 cm 3 3 kg – 10 kg 0.40 m2 76.2 cm 4 10 kg – 15 kg 0.56 m2 81.28 cm 5 15 kg – 25 kg 0.74 m2 91.44 cm 6 > 25 kg 2.33 m2 213.36 cm

Sumber: National Institute of Health (1985)

Suhu dan kelembaban juga merupakan dua faktor yang paling penting dalam lingkungan fisik hewan karena dapat mempengaruhi metabolisme dan perilaku. Kelembaban dan suhu yang direkomendasikan untuk satwa primata yaitu 30-70% dan 18-29 °C (ILAR 1973). Pada kandang TMR, suhu dan kelembaban sudah sesuai dengan rekomendasi namun kelembaban sedikit tinggi pada pagi hari yaitu mencapai 71.2%. Suhu pada kandang PPS sedikit lebih tinggi dari yang direkomendasikan yaitu 29.3 °C pada siang hari, sedangkan kelembabannya juga melebihi dari nilai yang direkomendasikan yaitu mencapai 76.4% pada pagi hari. Suhu yang tinggi pada kandang PPS salah satunya disebabkan oleh kurangnya pohon besar di sekitar kandang yang berfungsi sebagai naungan dari sinar matahari.

Perilaku Harian Boti

Pengamatan perilaku harian antara kedua kelompok Boti dilakukan pada individu-individu yang memiliki kelas umur yang sama. Perbandingan perilaku harian dilakukan pada betina dewasa yaitu antara Huti dan Ochi (kandang TMR) dengan Iyos dan Delly (kandang PPS) (Gambar 7). Selain itu, juga dilakukan pengamatan perilaku harian individu muda yaitu antara Okto dan Febri (kandang TMR) dengan Godel (kandang PPS) (Gambar 8). Perilaku harian betina dewasa antara kandang TMR dengan betina dewasa kandang PPS menunjukkan hasil yang berbeda nyata (t = 9.11, d.f. = 11, P<0.05), begitu juga perilaku harian pada individu muda juga menunjukkan hasil yang berbeda nyata (t = -1.77, d.f. = 11, P<0.05) antara kedua lokasi kandang.

Gambar 7 dan 8 memiliki pola yang sama yaitu pada Boti TMR perilaku istirahat memiliki persentase tinggi sedangkan perilaku makan dan lokomosi memiliki persentase rendah kemudian persentasenya kembali tinggi pada perilaku selisik (self-grooming dan allo-grooming). Berbeda dengan kelompok Boti kandang PPS memiliki persentase perilaku makan lebih tinggi dibandingkan perilaku istirahat dan lokomosi serta persentase perilaku selisik juga rendah. Jaman dan Huffman (2008) melaporkan pada monyet jepang (M. fuscata) yang dipelihara di penangkaran dengan pengkayaan vegetasi menghabiskan waktu makan dua kali lebih besar dibandingkan yang dipelihara di penangkaran tanpa vegetasi. Pada monyet ekor panjang (M. fasicularis) ditemukan bahwa tingginya perilaku makan akan menurunkan perilaku istirahat dengan kata lain perilaku makan berbanding terbalik dengan perilaku istirahat, sedangkan perilaku selisik berasosiasi dengan perilaku istirahat (Hambali et al. 2012).

Gambar 7 Perbandingan perilaku harian betina dewasa

Kandang PPS dilengkapi dengan pengkayaan pakan berupa pakan alternatif yang diperoleh dari lingkungan kandang serta luasan kandang yang lebih besar dibandingkan kandang TMR. Hal ini yang menyebabkan Boti di kandang PPS memiliki persentase perilaku makan yang tinggi sehingga persentase perilaku istirahat dan selisik rendah. Pada Boti di kandang TMR dengan luasan kandang yang terbatas dan tanpa pengkayaan pakan memiliki persentase perilaku istirahat dan selisik yang lebih tinggi dibandingkan dengan persentase perilaku makan. Perilaku makan yang tinggi juga akan menurunkan aktivitas lokomosi (Riley 2007). Perbedaan luasan kandang serta ketersediaan pengkayaan pakan mempengaruhi perilaku harian kedua kelompok Boti.

Gambar 8 Perbandingan perilaku harian individu muda

Perilaku harian serta perilaku sosial yaitu agonistik, seksual dan selisik dapat digunakan dalam penentuan hirarki individu dalam masing-masing kelompok Boti. Individu dominan memiliki akses terbesar terhadap pakan, pasangan kawin, selisik dan sering melakukan agresi (Martin dan Bateson 1986). Pada kandang TMR, hirarki hanya dapat ditentukan pada individu betina karena individu jantan hanya satu ekor. Hal ini menyebabkan hirarki Okto belum bisa ditentukan. Huti merupakan betina dewasa dominan dengan hirarki paling tinggi sedangkan Ochi merupakan subordinan (hirarki yang lebih rendah). Febri

memiliki hirarki terendah dalam kelompok Boti ini. Pada kelompok Boti kandang PPS, Godes merupakan jantan dewasa dominan sedangkan Godel merupakan subordinan. Pada hirarki betina, Iyos adalah betina dewasa dominan sedangkan Elly merupakan subordinan (Gambar 9).

Gambar 9 Hirarki individu Boti

Perilaku Makan

Perilaku makan yang diamati pada kedua lokasi kandang ditunjukkan pada Tabel 5. Perbandingan perilaku makan pada betina dewasa di dua lokasi kandang menunjukkan hasil yang berbeda nyata (t = -0.0001, d.f. = 4, P<0.05). Begitu juga dengan perbandingan perilaku makan pada individu muda juga menunjukkan hasil yang berbeda nyata (t = -3.48, d.f. = 4, P<0.01). Perilaku mencari makan memiliki persentase tinggi pada kelompok Boti di kandang PPS dibandingkan dengan kelompok Boti kandang TMR. Hal ini disebabkan kandang PPS memiliki kandang yang lebih luas dan dilengkapi dengan beberapa pengkayaan pakan. Oleh karena itu, individu Boti akan aktif mencari pakan alternatif di lingkungan kandang ketika pagi hari sebelum diberi pakan dan sore hari ketika pakan yang disediakan telah habis.

Perilaku memilih dan menolak makanan pada kelompok Boti kandang PPS memiliki persentase lebih rendah dibandingkan kelompok Boti kandang TMR. Hal ini disebabkan tingginya kompetisi dalam mendapatkan makanan pada kelompok Boti ini sehingga tidak ada kesempatan untuk memilih terutama untuk individu dengan status sosial rendah. Persentase perilaku membawa makanan juga lebih rendah pada kelompok Boti kandang PPS. Individu Boti di kandang PPS lebih sering memasukkan sebanyak-banyaknya makanan ke dalam mulut sambil

Kandang PPS Kandang TMR

sedikit dikunyah dan kemudian disimpan di dalam kantong pipi (cheek pouch). Berbeda dengan kelompok Boti di kandang TMR yang sering membawa makanan menggunakan tangan, mulut (digigit) dan kaki menuju ke suatu tempat yang aman untuk kemudian dimakan. Perilaku membawa makanan dengan berjalan atau berlari lebih sering dilakukan oleh individu Boti dengan status sosial yang rendah (Ochi dan Febri). Hal ini untuk menghindari perilaku agresif maupun perebutan makanan yang dilakukan oleh individu dominan, sedangkan individu dominan lebih terlihat menguasai sumber pakan karena mereka selalu makan dekat dengan sumber pakan.

Tabel 5 Perilaku makan dua kelompok Boti

Perilaku Makan Kandang TMR (%) Kandang PPS (%)

Huti Ochi Okto Febri Godes Iyos Elly Godel Meilan Mencari 4.64 7.59 9.82 9.09 17.05 36.28 34.52 34.48 11.88 Memilih 3.55 6.55 4.81 3.91 0.92 1.10 0.00 0.00 0.38 Membawa 7.92 16.37 9.82 19.45 5.07 4.24 5.86 4.80 10.73 Gigit dan kunyah 83.47 68.75 75.24 67.55 76.73 58.38 59.41 60.72 77.01 Menolak 0.41 0.74 0.31 0.00 0.23 0.00 0.21 0.00 0.00 Total 100 100 100 100 100 100 100 100 100

Pada kedua kandang, terdapat perbedaan dalam jenis pakan yang diberikan maupun pakan alternatif yang dikonsumsi, kuantitas pakan dan jam pemberian pakan. Jenis pakan yang diberikan di kandang PPS lebih beragam dibandingkan dengan kandang TMR (Tabel 6). Kelompok Boti di kandang TMR mengkonsumsi 16 spesies dari 14 famili tanaman pakan dan juga mengkonsumsi pakan alternatif dari sekitar kandangnya yaitu berupa daun beringin dan daun nangka yang jatuh ke dalam kandang, serangga klanceng dan beberapa serangga lain. Selain itu, kelompok Boti ini juga mengkonsumsi pakan yang diberikan oleh pengunjung seperti kacang tanah, biskuit, makanan ringan, minuman kemasan dan es krim. Frekuensi pemberian makanan oleh pengunjung menurun selama penelitian berlangsung. Persentase komposisi pakan berdasarkan berat yang dikonsumsi meliputi buah sebanyak 78.55%, daun 1.59%, umbi 19.43% dan lainnya berupa serangga dan pakan dari pengunjung sebanyak 0.42% (Gambar 10a).

Kelompok Boti di kandang PPS mengkonsumsi sebanyak 34 spesies dari 20 famili tanaman pakan. Pakan alternatif yang dikonsumsi kelompok Boti kandang PPS adalah cacing tanah, daun jambu biji, jamur pada kayu dan tanah, rumput gajah paitan serta beberapa serangga yang merupakan sumber beberapa nutrien terutama mineral. Persentase komposisi pakan untuk kelompok Boti kandang PPS meliputi buah 73.11%, daun termasuk rumput gajah paitan 13.56%, umbi 9.81%, bunga 0.65%, biji 0.42%, tunas 0.32%, telur ayam 0.87% dan lainnya berupa serangga, jamur, moluska tanah sebesar 1.26% (Gambar 10b).

Tabel 6 Jenis pakan yang dikonsumsi kedua kelompok Boti

No. Pakan yang diberikan (Provisioned Food) Lokasi Nama Lokal Nama Ilmiah Famili TMR PPS 1 Apel Malus domestica Borkh. Rosaceae

2 Bawang bombay Allium cepa L. Liliaceae -

3 Belimbing Averrhoa carambola L. Oxalidaceae -

4 Bengkuang Pachyrhizus erosus Fabaceae

5 Brokoli Brassica oleracea L. Brassicaceae -

6 Buncis Phaseolus vulgaris L. Fabaceae

7 Jagung manis Zea mays var. saccharata Poaceae

8 Jambu biji Psidium guajava L. Myrtaceae

9 Jeruk Citrus sinensis (L.) Osbeck Rutaceae

10 Kacang panjang Vigna sinensis Fabaceae

11 Kacang tanah Arachis hypogaea Papilionaceae -

12 Kailan Brassica oleracea var.

Alboglabra Brassicaceae -

13 Kangkung Ipomoea aquatica Forsk Convolvulaceae -

14 Klengkeng Euphoria longana Lamk. Sapindaceae -

15 Kuaci Helianthus annuus L. Asteraceae -

16 Kumek Lactuca indica Asteraceae -

17 Markisa Passiflora edulis Sims. Passifloraceae -

18 Melon Cucumis melo L. Cucurbitaceae

19 Nanas Ananas comosus Bromeliaceae

20 Pear Pyrus communis L. Rosaceae -

21 Pepaya Carica papaya Caricaceae

22 Pisang ambon Musa paradisiaca L. Musaceae

23 Rambutan Nephelium lappaceum L. Sapindaceae -

24 Salak Zalacca edulis Reinw. Arecaceae -

25 Sawi Brassica chinensis L. Brassicaceae

26 Semangka Citrullus vulgaris Schrad. Cucurbitaceae -

27 Siomak Lactuca sp. Asteraceae -

28 Tauge Phaseolus radiatus L. Fabaceae -

29 Terong ungu Solanum melongena L. Solanaceae -

30 Telor - - -

31 Timun Cucumis sativus L. Cucurbitaceae

32 Tomat Solanum lycopersicum L. Solanaceae

33 Ubi orange Ipomoea batatas Poir. Convolvulaceae

34 Wortel Daucus carota Apiaceae

Lainnya

35 Cacing - - -

36 Daun beringin Ficus benjamina L. Moraceae - 37 Daun jambu biji Psidium guajava L. Myrtaceae -

38 Daun nangka Artocarpus integra Merr. Moraceae -

39 Jamur - - -

40 Klanceng Trigona sp. Apidae -

41 Rumput gajah

paitan Axonopus compressus Poaceae -

42 Serangga - -

Komposisi pakan Boti di kedua lokasi kandang menunjukkan pakan buah-buahan memiliki persentase tertinggi. Hal ini sudah sesuai dengan sifat M. tonkeana yang merupakan pemakan buah (frugivorous) (Fleagle 1988). Di alam, Boti mengkonsumsi buah (matang dan belum matang) sebanyak 85.8%, daun muda 4.2%, serangga 5.6%, tunas 3.1%, jamur 0.3%, bunga 0.8% dan lainnya (eksudat dan crustacean) sebanyak 0.4% (Riley 2007). Persentase serangga dalam komposisi pakan kedua kelompok Boti sangat rendah sedangkan persentase umbi sangat tinggi terutama pada Boti di kandang TMR. Hal ini berbeda dengan komposisi pakan Boti di alam yang cukup tinggi persentase serangga mencapai 5% dan tidak memilih umbi dalam komposisi pakan harian mereka.

(a) (b)

Gambar 10 Persentase komposisi pakan Boti. (a) Kandang TMR; (b) Kandang PPS

Urutan mengambil makanan ditentukan saat pakan pertama kali diberikan oleh penjaga satwa dan kemudian dicatat secara berurutan individu Boti yang mengambil makanan. Urutan mengambil makanan pada kelompok Boti kandang TMR ditunjukkan pada Tabel 7. Ochi (betina dewasa) memiliki persentase pengambilan makanan pertama terbesar. Urutan kedua dari perilaku pengambilan makanan ditempati oleh Okto, sedangkan Febri sering berada di urutan terakhir. Huti (betina dewasa dominan) tidak menunjukkan persentase yang mencolok pada masing-masing urutan. Perilaku makannya sangat dipengaruhi oleh status fisiologisnya dan keadaan lingkungan kandang. Ketika estrus, Huti cenderung tidak aktif mengambil dan mencari makanan. Saat kandang ramai pengunjung atau ada orang asing ketika waktu makan, Huti akan berjalan mengelilingi kandang beberapa kali hingga akhirnya memulai mengambil makanan.

Pada kelompok Boti kandang PPS menunjukkan urutan mengambil makanan yang cenderung tetap terutama pada urutan pertama dan kedua (Tabel 8). Urutan pertama mengambil makanan selalu ditunjukkan oleh jantan dewasa dominan yaitu Godes. Urutan kedua juga selalu ditunjukkan oleh betina dewasa dominan yaitu Iyos. Urutan ketiga, keempat dan kelima berturut-turut ditempati oleh Godel, Elly dan Meilan. Pada kelompok Boti di TMR maupun di PPS terlihat pengaruh dominansi terhadap urutan mengambil makanan masing-masing individu. Urutan mengambil makanan dipengaruhi oleh status sosial individu Boti

karena individu dengan status sosial tinggi memiliki akses yang lebih besar terhadap pakan (Martin dan Bateson 1986).

Tabel 7 Urutan mengambil makanan kelompok Boti kandang TMR Individu Urutan ke- 1 2 3 4 - % - Huti 21.62 18.92 24.32 35.14 Ochi 54.05 16.22 27.03 5.41 Okto 18.92 56.76 24.32 0.00 Febri 5.41 8.11 24.32 59.46 Total 100 100 100 100

Waktu pemberian pakan berbeda di kedua lokasi kandang. Pada kandang TMR, pakan diberikan satu kali sehari yaitu sekitar jam 09.30–10.30 WIB. Berbeda dengan kandang PPS, pakan utama diberikan pada pagi hari sekitar jam 08.30-09.30 WIB, sedangkan pakan tambahan diberikan saat siang hari sekitar jam 12.00-13.00 WIB. Waktu pemberian pakan sangat mempengaruhi perilaku satwa di penangkaran. Pada monyet beruang (M. arctoides) di penangkaran, penundaan waktu makan meningkatkan perilaku abnormal dan perilaku agresif secara signifikan sebagai akibat terganggunya rutinitas pemberian pakan (Waitt dan Smith 2001). Pakan sebaiknya diberikan pada waktu yang teratur, tidak terlalu awal ataupun ditunda, sehingga manajemen waktu pemberian pakan di penangkaran sangat penting untuk diperhatikan.

Tabel 8 Urutan mengambil makanan kelompok Boti kandang PPS Individu Urutan ke- 1 2 3 4 5 - % - Godes 100 0 0 0 0 Iyos 0 100 0 0 0 Elly 0 0 45.45 54.55 0 Godel 0 0 54.55 36.36 9.09 Meilan 0 0 0 9.09 90.91 Total 100 100 100 100 100

Preferensi pakan diamati sesaat setelah pakan diberikan oleh perawat sehingga individu Boti bebas memilih yang disukai dan penentuan preferensi berdasarkan frekuensi bahan pakan tersebut dipilih pertama, kedua dan seterusnya (Chapman dan Chapman 2002). Untuk satu jenis pakan disediakan beberapa potongan. Hal ini untuk meminimalkan individu Boti tidak mendapatkan pakan yang disukainya. Dari 16 spesies pakan yang dikonsumsi kelompok Boti kandang TMR, menunjukkan nilai preferensi yang bervariasi dengan nilai tertinggi 20

(tomat dan pepaya), sedangkan nilai terendah 4 (wortel) dan 5 (ubi orange) (Tabel 9). Berbeda dengan kelompok Boti kandang PPS yang menunjukkan preferensi yang tinggi terhadap pisang (Tabel 10). Untuk wortel, terong ungu dan brokoli memiliki palatabilitas yang rendah karena jarang dipilih oleh individu Boti di kandang PPS.

Tabel 9 Preferensi pakan kelompok Boti kandang TMR

Jenis Pakan Huti Ochi Okto Febri Total nilai

Pisang (Musa paradisiaca) 3 5 4 5 17

Jagung Manis (Zea mays) 4 4 4 3 15

Sawi (Brassica chinensis) 4 3 3 2 12

Tomat (Solanum lycopersicum) 5 5 5 5 20

Kacang Panjang (Vigna sinensis) 5 3 3 3 14

Apel (Malus domestica) 3 4 2 3 12

Jambu Biji (Psidium guajava) 3 4 2 2 11

Bengkuang (Pachyrhizus erosus) 2 2 1 1 6

Wortel (Daucus carota) 1 1 1 1 4

Timun (Cucumis sativus) 1 2 2 4 9

Pepaya (Carica papaya) 5 5 5 5 20

Ubi Orange (Ipomoea batatas) 2 1 1 1 5

Jeruk (Citrus sinensis) 1 1 4 4 10

Melon (Cucumis melo) 4 4 5 4 17

Buncis (Phaseolus vulgaris) 4 2 3 3 12

Nanas (Ananas comosus) 2 3 2 2 9

Ket.: Sangat suka = nilai 5; Suka = nilai 4; Cukup suka = nilai 3; Kurang suka = nilai 2; Tidak suka = nilai 1.

Pakan yang tidak disukai Boti akan tersisa cukup banyak di keesokan harinya pada saat koleksi sisa pakan. Sisa pakan tersebut akan terbuang bersama kotoran saat membersihkan kandang. Pemilihan jenis pakan yang tepat berdasarkan tingkat kesukaan individu Boti sangat diperlukan agar pakan yang diberikan efisien dan termanfaatkan secara optimal. Berdasarkan nilai preferensi bahan pakan di kedua lokasi kandang bisa dilakukan seleksi terhadap bahan pakan yang kurang disukai oleh Boti. Dari 16 jenis pakan yang dikonsumsi di kandang TMR, diseleksi bahan pakan yang memiliki nilai preferensi ≥10. Untuk kandang

PPS dari 25 jenis pakan yang dikonsumsi, dipilih bahan pakan yang memiliki nilai

preferensi ≥15. Seleksi bahan pakan ini juga harus memperhatikan kandungan nutrisi masing-masing bahan pakan (Lampiran 1 dan 2). Bahan pakan yang memiliki kandungan nutrisi yang hampir sama harus diseleksi dan diutamakan yang disukai oleh Boti. Seleksi ini sangat penting untuk dilakukan dalam manajemen pakan di penangkaran dalam upaya menghemat anggaran untuk pakan dan agar pakan dapat termanfaatkan secara optimal.

Tabel 10 Preferensi pakan kelompok Boti kandang PPS

Jenis Pakan Godes Iyos Elly Godel Meilan Total nilai

Pisang (Musa paradisiaca) 5 5 5 5 5 25

Jagung Manis (Zea mays) 5 5 4 5 4 23

Pepaya (Carica papaya) 4 4 4 5 5 22

Jambu Biji (Psidium guajava) 4 3 4 4 5 20

Salak (Zalacca edulis) 3 3 2 4 1 13

Apel (Malus domestica) 4 3 3 4 5 19

Pear (Pyrus communis) 3 3 4 4 5 19

Kumek (Lactuca indica) 2 4 3 2 4 15

Kailan (Brassica oleracea) 3 3 4 4 3 17

Markisa (Passiflora edulis) 2 2 2 3 4 13

Kangkung (Ipomoea aquatica) 2 5 2 2 4 15

Jeruk (Citrus sinensis) 4 2 5 3 1 15

Tomat (Solanum lycopersicum) 3 3 5 4 4 19

Kacang Panjang (Vigna sinensis) 4 4 4 5 2 19 Rambutan (Nephelium lappaceum) 3 4 2 2 1 12

Semangka (Citrullus vulgaris) 4 4 5 5 4 22

Melon (Cucumis melo) 4 4 4 3 3 18

Klengkeng (Euphoria longana) 2 2 2 3 1 10

Timun (Cucumis sativus) 4 2 3 3 3 15

Buncis (Phaseolus vulgaris) 2 3 4 4 2 15

Ubi Orange (Ipomoea batatas) 4 1 2 4 1 12

Bengkuang (Pachyrhizus erosus) 2 2 2 3 1 10

Wortel (Daucus carota) 1 1 1 1 1 5

Brokoli (Brassica oleracea) 1 1 2 2 1 7

Terong ungu (Solanum melongena) 1 1 1 1 1 5

Ket.: Sangat suka = nilai 5; Suka = nilai 4; Cukup suka = nilai 3; Kurang suka = nilai 2; Tidak suka = nilai 1.

Chapman dan Chapman (2002) mengamati hubungan komponen nutrisi dan komponen sekunder pada pemilihan diet monyet colobus merah (Procolobus badius) di Taman Nasional Kibale, Uganda. Monyet colobus merah lebih memilih daun muda dibandingkan daun tua dan ada konsistensi perbedaan fitokimia antara

Dokumen terkait