• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil sidik ragam menunjukkan penambahan Aclinop dalam ransum dan penaburan zeolit pada litter serta interaksi keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap bobot potong, bobot dan persentase karkas, proventrikulus, rempela, ileum, hati, ginjal, dan pankreas serta terhadap panjang relatif duodenum, jejunum dan ileum. Penambahan Aclinop dalam ransum berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot dan persentase duodenum, jejunum dan sekum. Penaburan zeolit pada litter berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot dan persentase kolon.

Bobot Potong Ayam Broiler

Data rataan bobot potong ayam broiler berdasarkan perlakuan ditunjukkan pada Tabel 3. Rataan bobot potong ayam broiler yang dihasilkan selama penelitian adalah 1838,3±12,06 g/e.

Tabel 4. Rataan Bobot Potong Ayam Broiler Hasil Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Zeolit pada Litter.

Taraf Aclinop dalam ransum (kg/100kg)

Taraf zeolit pada litter (kg/m2)

Rataan Peningkatan bobot potong (%) 0,0 (L0) 2,5 (L1) 5,0 (L2) --- (g/e) --- 0 (R0) 1836,3 1829,8 1720,3 1795,5 0,0 1 (R1) 1842,7 1792,0 1868,2 1834,3 2,2 2 (R2) 1837,3 1846,5 2001,0 1894,9 5,5 3 (R3) 1781,3 1799,2 1904,8 1828,4 1,8 Rataan 1824,4 1816,9 1873,6 1838,3 % Peningkatan bobot potong 0,0 -0,4 2,7 0,8

Hasil analisis ragam menunjukkan penambahan Aclinop dalam ransum dan penaburan zeolit pada litter tidak memberikan pengaruh nyata terhadap bobot potong ayam broiler. Namun demikian, perlakuan R2L2 menghasilkan bobot potong ayam broiler tertinggi (2001,0 g/e) dibandingkan dengan perlakuan yang lain (Tabel 3). Bobot potong terendah dihasilkan oleh perlakuan R0L2 yaitu sebesar 1720,3 g/e. Penambahan Aclinop dalam ransum hingga taraf 2 kg/100 kg ransum meningkatkan bobot potong hingga 5,5% lebih tinggi daripada bobot potong ayam broiler tanpa penambahan Aclinop. Yenita (1993) juga menemukan bahwa penambahan zeolit hingga taraf 3 kg/100 kg dalam ransum menghasilkan bobot potong yang lebih tinggi

20 daripada kontrol atau 3,51% lebih tinggi daripada bobot potong ayam broiler tanpa penambahan zeolit dalam ransumnya.

Zeolit mempunyai kemampuan dalam mengikat sejumlah molekul dan ion yang terdapat dalam larutan maupun gas. Penambahan Aclinop (zeolit) dalam ransum akan mengefektifkan penyerapan ransum dalam tubuh ayam broiler sehingga pembentukan daging lebih maksimal. Mekanisme aksi zeolit dalam pencernaan ternak diperkirakan terpusat pada struktur klinoptilolit yang stabil pada lingkungan asam dan dapat melakukan pertukaran ion serta penyerapan tanpa terjadi pencernaan zeolit (Papaionnou, 2002).

Aktivitas zeolit di saluran pencernaan ternak diduga berhubungan langsung dengan penyerapan senyawa berbentuk nitrogen melalui strukturnya (Pond et al., 1995). Dibantu aktivitas mikroba di saluran pencernaan, diperkirakan terjadi modifikasi senyawa-senyawa nitrogen yang dapat menguntungkan seperti mensintesis vitamin, mensintesa asam-asam amino esensial, menghasilkan enzim untuk proses pencernaan dan mencegah mikroba patogen masuk saluran pencernaan (Coates, 1982). Penyerapan zat makanan yang maksimal akan berkorelasi dengan pembentukan daging sehingga bobot potong ayam broiler yang didapat dari penambahan Aclinop dalam ransum lebih tinggi dari pada ayam broiler kontrol (tanpa penambahan Aclinop).

Penaburan zeolit pada litter tidak berpengaruh nyata terhadap bobot potong ayam broiler, akan tetapi penaburan zeolit pada taraf 5,0 kg/m2 (L2) meningkatkan bobot potong menjadi 1873,6 g/e atau sebesar 2,7% lebih tinggi dibandingkan bobot potong ayam broiler yang pada litternya tidak ditaburi zeolit (L0: 1824,4 g/e). Zeolit dapat ditambahkan dalam litter karena menurunkan kandungan amonia dan H2S yang menimbulkan bau yang tidak diinginkan dan mempunyai daya serap yang tinggi (Kocakuşak et al., 2001). Kondisi ini akan menyebabkan suasana nyaman dalam kandang ayam broiler sehingga akan berpengaruh tidak langsung terhadap bobot potong ayam broiler. Berbeda dengan penaburan taraf 5,0 kg zeolit/m2 litter,

penaburan zeolit pada taraf 2,5 kg/m2 litter (L1) justru menurunkan bobot potong sebesar 0,4% (Tabel 4) dibandingkan bobot potong ayam broiler tanpa penaburan zeolit pada litternya (L0). Hal ini dapat dikarenakan kondisi zeolit yang jenuh akibat terlalu banyak menyerap air yang terkandung dalam ekskreta dan litter dan hanya

21 dilakukan sekali penaburan. Sesuai dengan hasil penelitian Kamaluddin (2011) kadar air pada taraf penaburan 2,5 kg zeolit/m2 litter adalah yang paling tinggi (80,77%) dibandingkan taraf penaburan 0 kg zeolit/m2 litter (80,63%) dan taraf penaburan 5,0 kg zeolit/m2 litter (79,75%). Kondisi ini tentunya akan mempengaruhi kondisi kandang menjadi kurang nyaman bagi ayam broiler sehingga mempengaruhi secara tidak langsung terhadap bobot potongnya.

Bobot dan Persentase Karkas Ayam Broiler

Data rataan bobot dan persentase karkas ayam broiler hasil penambahan zeolit (Aclinop) dalam ransum dan penaburan zeolit (alam) pada litternya disajikan pada Tabel 4. Hasil analisis ragam menunjukkan penambahan zeolit (Aclinop) dalam ransum dan penaburan zeolit (alam) pada litter tidak memberikan pengaruh nyata terhadap bobot dan persentase karkas ayam broiler. Rataan bobot karkas ayam broiler adalah 1261,4 g/e sementara rataan persentase karkas ayam broiler adalah 68,6%.

Tabel 5. Rataan Bobot dan Persentase Karkas Ayam Broiler Hasil Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Zeolit pada Litter.

Taraf Aclinop dalam ransum (kg/100kg)

Taraf zeolit pada litter (kg/m2)

Rataan 0,0 (L0) 2,5 (L1) 5,0 (L2) ---Bobot Karkas (g / e ) --- 0 (R0) 1256,3 1232,8 1194,3 1227,8 1 (R1) 1276,6 1196,8 1274,5 1249,3 2 (R2) 1271,8 1287,0 1389,5 1316,1 3 (R3) 1240,5 1219,3 1297,5 1252,4 Rataan 1261,3 1234,0 1288,9 1261,4 ---Persentase Karkas ( % ) --- 0 (R0) 68,4 67,4 69,4 68,4 1 (R1) 69,3 66,8 68,2 68,1 2 (R2) 69,2 69,7 69,4 69,5 3 (R3) 69,6 67,8 68,1 68,5 Rataan 69,1 67,9 68,8 68,6

Penambahan zeolit (Aclinop) yang semakin meningkat pada ransum dapat menaikkan bobot karkas, meskipun sedikit menurun pada R3 (1252,4 g/e) namun

22 masih lebih tinggi daripada R0 (1227,8 g/e). Hasil ini tidak diikuti hasil persentase karkas sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 5. Data rataan bobot karkas ayam broiler (Tabel 5) memperlihatkan bahwa rataan tertinggi yang dihasilkan dari penelitian ini terdapat pada perlakuan R2L2 yaitu sebesar 1389,5 g/e, sementara untuk nilai terendahnya terdapat pada perlakuan R0L2 yaitu sebesar 1194,3 g/e. Kedua perlakuan ini juga menghasilkan bobot potong yang tertinggi dan terendah masing-masing 2001,0 g/e (R2L2) dan 1720,3 g/e (R0L2) sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 4. Bobot karkas yang tinggi tidak selalu diiringi persentase karkas yang tinggi. Data rataan persentase karkas memperlihatkan persentase karkas tertinggi terdapat pada perlakuan R2L1 yaitu sebesar 69,7% dan terendahnya terdapat pada perlakuan R0L1 yaitu sebesar 67,4%.

Persentase karkas selain disebabkan oleh bobot hidup yang dihasilkan, dipengaruhi pula oleh penanganan dalam proses pemotongan. Faktor lingkungan juga mempengaruhi laju pertumbuhan dan komposisi bobot karkas dan persentase karkas yang biasanya meningkat seiring dengan meningkatnya bobot hidup ayam. (Soeparno, 1994).

Persentase karkas dari penambahan Aclinop dalam ransum penelitian ini menunjukkan hasil yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan hasil penelitian Wijaya (2010) yang menambahkan cassabio pada ransum yang hanya sebesar 61,65-63,82%. Hal ini menunjukkan bahwa zeolit dapat membantu proses penyerapan zat-zat makanan ayam broiler sehingga dapat membantu proses pembentukan karkas menjadi lebih baik.

Bobot dan Persentase Saluran Pencernaan Ayam Broiler

Saluran pencernaan yang diukur dan diamati dalam penelitian ini meliputi proventrikulus, rempela, duodenum, jejunum, ileum, sekum dan kolon.

Bobot dan Persentase Proventrikulus

Data rataan bobot dan persentase proventrikulus ayam broiler hasil penambahan zeolit (Aclinop) dalam ransum dan penaburan zeolit (alam) pada

litternya disajikan pada Tabel 6. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa penambahan

Aclinop dalam ransum tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot dan persentase proventrikulus ayam broiler demikian pula penambahan zeolit dalam litter

23 maupun interaksi dari penambahan Aclinop dalam ransum dan penaburan zeolit pada

litter (Tabel 6).

Rataan bobot proventrikulus hasil penambahan Aclinop dalam ransum dan penaburan zeolit pada litter sebesar 7,10 g/e dengan persentase 0,39%. Bobot proventrikulus yang tinggi selalu diikuti persentase proventrikulus yang tinggi. Dapat dilihat pada Tabel 6, bobot proventrikulus tertinggi ayam broiler hasil penambahan zeolit (Aclinop) dalam ransum dan penaburan zeolit (alam) terdapat pada perlakuan R1L2 yaitu sebesar 8,31 g/e, sementara bobot terendahnya terdapat pada perlakuan R3L0 yaitu sebesar 6,13 g/e. Persentase tertinggi terdapat pada perlakuan R1L2 yaitu sebesar 0,44% dan terendah terdapat pada perlakuan R3L2 sebesar 0,32%.

Tabel 6. Rataan Bobot dan Persentase Proventrikulus Ayam Broiler Hasil Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Zeolit pada Litternya.

Taraf Aclinop dalam ransum (kg/100kg)

Taraf zeolit pada litter (kg/m2)

Rataan 0,0 (L0) 2,5 (L1) 5,0 (L2) --- Bobot Proventrikulus (g / e ) --- 0 (R0) 6,51 6,99 7,40 6,97 1 (R1) 6,32 7,40 8,31 7,34 2 (R2) 7,32 7,22 7,19 7,24 3 (R3) 6,82 7,57 6,13 6,84 Rataan 6,74 7,30 7,26 7,10 --- Persentase Proventrikulus ( % ) --- 0 (R0) 0,35 0,38 0,43 0,39 1 (R1) 0,34 0,41 0,44 0,40 2 (R2) 0,40 0,39 0,36 0,38 3 (R3) 0,38 0,42 0,32 0,37 Rataan 0,37 0,40 0,39 0,39

Bobot proventrikulus ini terbilang lebih rendah bila dibandingkan hasil penelitian Elfiandra (2007) yang memberi pakan komersial terhadap ayam broiler yaitu sebesar 0,45% dari bobot hidup. Hal ini diduga karena kandungan serat kasar ransum penelitian lebih rendah dan tidak mengandung antitripsin sehingga kerja proventrikulus tidak terlalu berat. Proventrikulus, atau juga disebut dengan perut kelenjar yang mensekresikan pepsinogen dan HCl untuk mencerna protein dan

24 lemak. Kandungan antitripsin dalam pakan yang tinggi akan meningkatkan kinerja proventrikulus sehingga akan berakibat pula pada peningkatan bobot proventrikulus.

Bobot dan Persentase Rempela

Data rataan bobot dan persentase rempela ayam broiler hasil penambahan Aclinop dalam ransum dan zeolit pada litternya disajikan pada Tabel 7 berikut. Penambahan Aclinop dalam ransum dan penaburan zeolit pada litter tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot dan persentase rempela ayam broiler. Hasil analisa menunjukkan rataan bobot rempela sebesar 23,33 g/e dan rataan persentase rempela adalah sebesar 1,27%.

Tabel 7. Rataan Bobot dan Persentase Rempela Ayam Broiler Hasil Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Zeolit pada Litter.

Taraf Aclinop dalam ransum (kg/100kg)

Taraf zeolit pada litter (kg/m2)

Rataan 0,0 (L0) 2,5 (L1) 5,0 (L2) --- Bobot Rempela (g / e ) --- 0 (R0) 24,31 23,57 23,61 23,83 1 (R1) 24,96 23,53 23,15 23,88 2 (R2) 22,24 21,79 23,26 22,43 3 (R3) 20,72 24,62 24,16 23,17 Rataan 23,06 23,38 23,55 23,33 --- Persentase Rempela ( % ) --- 0 (R0) 1,32 1,29 1,37 1,33 1 (R1) 1,35 1,31 1,24 1,30 2 (R2) 1,21 1,18 1,16 1,18 3 (R3) 1,16 1,37 1,27 1,27 Rataan 1,26 1,29 1,26 1,27

Bobot rempela tertinggi terdapat pada perlakuan R1L0 yaitu sebesar 24,96 g/e dan bobot terendahnya sebesar 20,72 g/e pada perlakuan R3L0. Persentase rempela terbesar terdapat pada perlakuan R0L2 dan R3L1 dengan nilai yang sama yaitu sebesar 1,37% dan persentase terendah terdapat pada perlakuan R3L0 dan R2L2 juga dengan nilai yang sama yaitu sebesar 1,16%. Hasil penelitian ini lebih rendah dari nilai persentase bobot rempela yang dilaporkan oleh Putnam (1991) yang melakukan pemeliharaan ayam broiler selama 42 hari adalah sebesar 1,60-2,30% dari bobot

25 hidup. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan waktu penelitian, dimana penelitian ini dilakukan selama 35 hari.

Rempela merupakan organ pencernaan yang berperan penting dalam proses pencernaan ayam broiler, terdiri dari otot merah, tebal, kuat dan berfungsi menghancurkan butiran-butiran pakan. Pond et al. (1995) mengungkapkan bahwa fungsi rempela adalah menggiling atau memecah partikel makanan menjadi lebih kecil. Bobot rrempela dipengaruhi oleh jenis makanan yang masuk. Meningkatnya persentase bobot rempela disebabkan karena kadar serat kasar ransum makin tinggi dan kerja rempela semakin berat.

Bobot dan Persentase Duodenum

Data rataan bobot dan persentase bobot duodenum ayam broiler hasil pemeliharaan selama 35 hari disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8. Rataan Bobot dan Persentase Duodenum Ayam Broiler Hasil Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Zeolit pada Litternya.

Taraf Aclinop dalam ransum (kg/100kg)

Taraf zeolit pada litter (kg/m2)

Rataan 0,0 (L0) 2,5 (L1) 5,0 (L2) --- Bobot Duodenum (g / e ) --- 0 (R0) 9,67 8,83 10,5 9,67a 1 (R1) 9,67 8,50 8,83 9,00a 2 (R2) 8,33 8,50 8,67 8,50ab 3 (R3) 7,70 8,17 7,17 7,68b Rataan 8,84 8,50 8,79 8,71 --- Persentase Duodenum ( % ) --- 0 (R0) 0,53 0,48 0,61 0,54a 1 (R1) 0,53 0,47 0,47 0,49a 2 (R2) 0,45 0,46 0,43 0,45ab 3 (R3) 0,43 0,45 0,48 0,45b Rataan 0,49 0,47 0,50 0,47

Keterangan: abSuperskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan ada perbedaan pada

P<0,05

Hasil analisis ragam menunjukkan penambahan Aclinop dalam ransum berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap persentase duodenum, akan tetapi penaburan zeolit pada litter dan interaksi antara penambahan Aclinop dalam ransum dan penaburan zeolit pada litter tidak berpengaruh terhadap bobot dan persentase

26 duodenum (Tabel 8). Rataan bobot duodenum hasil penambahan Aclinop dalam ransum dan penaburan zeolit pada litter adalah sebesar 8,71 g/e dengan rataan persentase 0,47%. Rataan bobot dan persentase duodenum tertinggi terdapat pada perlakuan R0L2 masing-masing 10,50 g/e dan 0,61%, sementara bobot terendahnya terdapat pada perlakuan R3L2 yaitu sebesar 7,17 g/e dan persentase terendahnya terdapat pada perlakuan R3L0 dan R2L2 dengan nilai yang sama yaitu 0,43%. Bobot duodenum yang tinggi tidak selalu diikuti dengan persentase yang tinggi dan demikian pula sebaliknya.

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dilihat bahwa bobot dan persentase duodenum menurun seiring dengan meningkatnya taraf penambahan Aclinop dalam ransum. Hal ini dikarenakan semakin menurunnya kandungan serat kasar dalam ransum (Tabel 2) sehingga tidak meningkatkan kerja duodenum, dengan demikian bobot duodenum pun tidak meningkat. Usus halus merupakan tempat terjadinya pencernaan, penyerapan zat-zat makanan dan penggerak aliran ransum (Akoso, 1993). Dinding-dinding usus halus terdapat selaput lendir yang dilengkapi dengan jonjot usus yang lembut seperti villi yang berfungsi untuk memaksimalkan penyerapan sari-sari makanan sehingga pertumbuhan ayam broiler akan maksimal juga (Sturkie, 2000).

Duodenum juga berfungsi sebagai tempat terjadinya lipolisis dalam tubuh ayam broiler. Semakin menurunnya kadar lemak dalam ransum yang diberikan (Tabel 2) menyebabkan kerja duodenum tidak meningkat. Peningkatan kerja pada duodenum akan meningkatkan bobot duodenum, sehingga dengan menurunnya kadar lemak kasar ransum bobot duodenum pun semakin menurun. Dinding duodenum akan mensekresikan enzim yang mampu meningkatkan pH zat makanan yang masuk dalam tubuh, sehingga kelarutan dan penyerapan di jejunum dan ileum akan meningkat (Anggorodi, 1985). Duodenum bermula dari ujung distal rempela. Bagian ini berbentuk kelokan, disebut sebagai duodenal loop. Sepanjang permukaan lumen usus halus terdapat banyak villi. Setiap villus mengandung pembuluh limfe yang disebut lacteal dan pembuluh kapiler. Permukaan villi terdapat banyak mikrovilli yang berfungsi melakukan absorpsi hasil pencernaan (Sturkie, 2000).

27

Bobot dan Persentase Jejunum

Jejunum berperan sebagai tempat penyerapan zat-zat makanan yang terbesar dalam tubuh ayam broiler. Jejunum dan ileum merupakan segmen yang sulit dibedakan pada saluran pencernaan ayam broiler, namun dapat dilihat dengan adanya devertikulum yang tampak di permukaan usus halus. Jejunum memanjang dari duodenum hingga ileum (Grist, 2006). Hasil rataan bobot dan persentase jejunum ayam broiler hasil penambahan zeolit (Aclinop) dalam ransum dan penaburan zeolit (alam) dalam litter tersaji pada Tabel 9. Rataan bobot jejunum ayam broiler hasil penambahan Aclinop dalam ransum dan penaburan zeolit pada litter sebesar 18,15 g/e atau rataan persentasenya sebesar 0,99%.

Tabel 9. Rataan Bobot dan Persentase Jejunum Ayam Broiler Hasil Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Zeolit pada Litter.

Taraf Aclinop dalam ransum (kg/100kg)

Taraf zeolit pada litter (kg/m2)

Rataan 0,0 (L0) 2,5 (L1) 5,0 (L2) ---Bobot Jejunum (g / e ) --- 0 (R0) 18,50 19,67 20,50 19,56a 1 (R1) 20,17 19,00 17,17 18,78a 2 (R2) 17,83 17,83 18,00 17,89ab 3 (R3) 17,00 17,17 15,00 16,39b Rataan 18,38 18,42 17,67 18,15 --- Persentase Jejunum ( % ) --- 0 (R0) 1,01 1,07 1,19 1,09a 1 (R1) 1,09 1,06 0,92 1,02a 2 (R2) 0,97 0,97 0,90 0,95ab 3 (R3) 0,95 0,95 0,79 0,90b Rataan 1,01 1,01 0,95 0,99

Keterangan: abSuperskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan ada perbedaan pada

P<0,05

Penambahan Aclinop dalam ransum berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot dan persentase jejunum, akan tetapi penaburan zeolit pada litter dan interaksi penambahan Aclinop dalam ransum dan penaburan zeolit pada litter tidak berpengaruh nyata terhadap bobot dan persentase jejunum.

28 Seperti halnya bobot dan persentase duodenum, taraf penambahan Aclinop yang semakin meningkat dalam ransum mengakibatkan bobot dan persentase jejunum yang semakin rendah. Kandungan serat kasar yang semakin kecil dalam ransum (Tabel 2) mengakibatkan penurunan bobot jejunum. Kandungan serat kasar yang tinggi akan meningkatkan kinerja usus sehingga akan mengakibatkan peningkatan bobot usus tersebut. Tidak seperti ruminansia yang memiliki kemampuan untuk mencerna selulosa, pada unggas aliran ransum dalam sistem pencernaan sangat cepat. Hal tersebut disebabkan sedikitnya bakteri dalam saluran pencernaan sehingga ransum berserat hanya sedikit yang dapat dicerna. Sebagian besar pencernaan pada ayam broiler terjadi di usus halus (Blakely dan Bade, 1991).

Bobot dan Persentase Ileum

Hasil rataan bobot dan persentase ileum ayam broiler hasil penambahan zeolit (Aclinop) dalam ransum dan penaburan zeolit (alam) pada litternya disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10. Rataan Bobot dan Persentase Ileum Ayam Broiler Hasil Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Zeolit pada Litter.

Taraf Aclinop dalam ransum (kg/100kg)

Taraf zeolit pada litter (kg/m2)

Rataan 0,0 (L0) 2,5 (L1) 5,0 (L2) --- Bobot Ileum (g / e ) --- 0 (R0) 14,17 15,67 17,00 15,61 1 (R1) 14,83 15,67 14,17 14,89 2 (R2) 14,33 14,50 14,67 14,50 3 (R3) 14,17 15,00 14,17 14,45 Rataan 14,38 15,21 15,00 14,86 --- Persentase Ileum ( % ) --- 0 (R0) 0,77 0,86 0,99 0,87 1 (R1) 0,80 0,87 0,76 0,81 2 (R2) 0,78 0,79 0,73 0,77 3 (R3) 0,80 0,83 0,74 0,79 Rataan 0,79 0,84 0,81 0,81

Perlakuan penambahan zeolit (Aclinop) dalam ransum dan zeolit (alam) pada

29 ileum sebesar 14,86 g/e atau 0,81%. Ileum merupakan tempat terjadinya gerak peristaltik (kontraksi otot polos) yang bertujuan untuk mendorong bahan-bahan dalam sistem pencernaan ke sekum dan rektum (Blakely dan Bade, 1991). Berdasarkan Tabel 10 terlihat bahwa semakin tinggi taraf penambahan Aclinop dalam ransum akan menurunkan bobot dan persentase ileum. Hal ini disebabkan kandungan serat kasar dalam ransum yang semakin rendah (Tabel 2) sehingga meringankan kinerja ileum dan mempengaruhi bobot ileum. Berat dari ileum dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi ayam broiler. Terdapat beberapa jenis serat yang sulit dicerna oleh unggas seperti selulosa, lignin dan silika. Bila ransum mengandung tiga serat tersebut maka dapat meningkatkan kerja usus dalam mencerna dan menyerap zat makanan serta meningkatkan bobot ileum (Amrullah, 2004).

Bobot dan Persentase Sekum

Hasil rataan bobot dan persentase sekum ayam broiler hasil penambahan Aclinop dalam ransum dan penaburan zeolit pada litter disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11. Rataan Bobot dan Persentase Sekum Ayam Broiler Hasil Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Zeolit pada Litter.

Taraf Aclinop dalam ransum (kg/100kg)

Taraf zeolit pada litter (kg/m2)

Rataan 0,0 (L0) 2,5 (L1) 5,0 (L2) --- Bobot Sekum (g / e ) --- 0 (R0) 8,00 7,50 6,83 7,44a 1 (R1) 6,83 5,00 8,50 6,78b 2 (R2) 10,5 10,33 8,33 9,72a 3 (R3) 8,17 7,83 8,17 8,06ab Rataan 8,38 7,67 7,96 8,00 --- Persentase Sekum ( % ) --- 0 (R0) 0,44 0,41 0,40 0,42a 1 (R1) 0,36 0,28 0,45 0,36b 2 (R2) 0,57 0,56 0,42 0,52a 3 (R3) 0,46 0,44 0,43 0,44ab Rataan 0,46 0,42 0,43 0,44

Keterangan: abSuperskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan ada perbedaan pada

30 Sekum merupakan sepasang seka (usus buntu) pada ayam broiler. Usus buntu pada ayam broiler berfungsi dalam membantu penyerapan air dan mencerna karbohidrat serta protein dengan bantuan bakteri yang ada dalam sekum. Menurut Pond et al. (1995), sebagian kecil serat dapat dicerna di dalam seka karena adanya bakteri fermentasi. Penambahan Aclinop dalam ransum berpengaruh nyata terhadap bobot dan persentase sekum, akan tetapi penaburan zeolit pada litter dan interaksi penambahan Aclinop dalam ransum dan penaburan zeolit (alam) pada litter tidak berpengaruh nyata terhadap bobot dan persentase sekum ayam broiler.

Rataan bobot sekum hasil penelitian adalah 8,00 g/e atau 0,44%. Bobot dan persentase tertinggi sekum dengan penambahan Aclinop dalam ransum dan penaburan zeolit pada litter terdapat pada R2L0 (10,50 g/e atau 0,57%), sementara bobot dan persentase terendahnya terdapat pada perlakuan R1L1 (5,00 g/e atau 0,28%). Hasil dari penambahan zeolit (Aclinop) dalam ransum dan penaburan zeolit (alam) pada litter serta interaksi keduanya menghasilkan bobot dan persentase sekum ayam broiler yang fluktuatif berkisar dari 5,00-10,50 g/e atau 0,28-0,57%. Seka atau sekum selain dapat membantu penyerapan air, pencernaan karbihidrat, protein dan serat dapat pula berfungsi memeccah selulosa dengan bantuan mikroorganisme, mensintesa vitamin dan sekresi hormon (Grist, 2006).

Bobot dan Persentase Kolon

Rataan bobot dan persentase kolon ayam broiler hasil penambahan zeolit (Aclinop) dalam ransum dan penaburan zeolit (alam) pada litternya disajikan pada Tabel 12. Rataan bobot kolon hasil penambahan Aclinop dalam ransum dan penaburan zeolit pada litternya sebesar 1,76 g/e atau rataan persentase sebesar 0,10%. Kolon berfungsi sebagai tempat penyerapan akhir air dari zat-zat makanan sebelum akhirnya dibuang (Grist, 2006). Apabila makanan yang dimakan ayam broiler terlalu banyak mengandung serat kasar maka akan menyebabkan kerusakan berupa peradangan pada usus. Radang pada usus ditandai dengan menurunnya nafsu makan dan menurunnya kondisi tubuh (Ressang, 1984).

Hasil analisis ragam menunjukkan penambahan Aclinop dalam ransum dan interaksi penambahan Aclinop dalam ransum dan penaburan zeolit pada litter tidak berpengaruh nyata terhadap bobot dan persentase kolon akan tetapi penaburan zeolit pada litter berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot dan persentase kolon. Bobot

31 dan persentase kolon tertinggi terdapat pada perlakuan R2L1 yaitu sebesar 3,00 g/e dan 0,16%, sementara bobot dan persentase terendahnya terdapat pada perlakuan R2L2 yaitu sebesar 1,00 g/e dan 0,05%. Sama halnya dengan bobot dan persentase sekum, hasil pengamatan pada bobot dan persentase kolon ayam broiler juga memperlihatkan hasil yang sangat bervariasi dengan kisaran bobot 1,00- 3,00 g/e atau persentasenya 0,05-0,16%. Kolon atau usus besar tidak mensekresikan enzim, namun di dalamnya terjadi proses penyerapan air untuk meningkatkan kadar air di dalam tubuh dan menjaga keseimbangan air ayam broiler (Bell dan Weaver, 2002).

Tabel 12. Rataan Bobot dan Persentase Kolon Ayam Broiler Hasil Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Zeolit pada Litternya.

Taraf Aclinop dalam ransum (kg/100kg)

Taraf zeolit pada litter (kg/m2)

Rataan 0,0 (L0) 2,5 (L1) 5,0 (L2) ---Bobot Kolon (g / e ) --- 0 (R0) 2,33 1,83 1,67 1,94 1 (R1) 1,67 1,50 1,33 1,50 2 (R2) 1,83 3,00 1,00 1,94 3 (R3) 1,83 1,83 1,33 1,66 Rataan 1,92a 2,04ab 1,33a 1,76 ---Persentase Kolon ( % ) --- 0 (R0) 0,13 0,10 0,10 0,11 1 (R1) 0,09 0,08 0,07 0,08 2 (R2) 0,10 0,16 0,05 0,10 3 (R3) 0,10 0,10 0,07 0,09 Rataan 0,11a 0,11ab 0,07a 0,10

Keterangan: abSuperskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan ada perbedaan pada

P<0,05

Organ Dalam Ayam Broiler

Organ dalam ayam broiler yang diukur dan diamati pada penelitian ini antara lain hati, ginjal dan pankreas.

Bobot dan Persentase Hati

Rataan bobot dan persentase hati ayam broiler hasil penambahan zeolit (Aclinop) dalam ransum dan penaburan zeolit (alam) pada litternya ditunjukkan pada Tabel 13. Hasil penambahan zeolit (Aclinop) dalam ransum dan penaburan zeolit

32 (alam) pada litter tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot dan persentase hati ayam broiler. Rataan bobot hati ayam broiler hasil penambahan Aclinop dalam ransum dan zeolit pada litter adalah 38,07 g/e atau 2,07%. Bobot dan persentase hati tertinggi terdapat pada perlakuan R1L1 masing-masing adalah 44,14 g/e dan 2,46%. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Putnam (1991) yang memperoleh persentase hati 1,70-2,80% dan penelitian Noormasari (2000) yang memperoleh persentase hati 2,04-2,56%.

Tabel 13. Rataan Bobot dan Persentase Hati Ayam Broiler Hasil Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Zeolit pada Litter.

Taraf Aclinop dalam ransum (kg/100kg)

Taraf zeolit pada litter (kg/m2)

Rataan 0,0 (L0) 2,5 (L1) 5,0 (L2) ---Bobot Hati (g / e ) --- 0 (R0) 38,87 36,79 36,9 37,52 1 (R1) 37,53 44,14 39,95 40,55 2 (R2) 34,67 36,38 40,68 37,24 3 (R3) 37,10 37,43 36,29 36,95 Rataan 37,05 38,70 38,46 38,07 ---Persentase Hati ( % ) --- 0 (R0) 2,12 2,01 2,14 2,09 1 (R1) 2,04 2,46 2,14 2,21 2 (R2) 1,89 1,97 2,03 1,96 3 (R3) 2,08 2,08 1,91 2,02 Rataan 2,03 2,13 2,06 2,07

Hati memiliki kaitan yang erat terhadap pertumbuhan ayam broiler. Ayam broiler yang memiliki hati normal akan tumbuh dengan baik. Penelitian ini menunjukkan bahwa persentase hati hasil penambahan zeolit (Aclinop) dalam ransum dan penaburan zeolit (alam) pada litternya tergolong normal. Hal ini dikuatkan dengan hasil penelitian Lunarwan (1994) yang menyebutkan bahwa penambahan zeolit dalam ransum dan litter hingga taraf 4% tidak berpengaruh terhadap bobot organ dalam dan tidak menimbulkan kerusakan sel organ dalam. Hati memiliki fungsi yang kompleks antara lain metabolisme lemak, protein, karbohidrat,

33 zat besi, detoksifikasi racun yang masuk ke dalam tubuh ayam broiler, pembentukan sel darah merah dan penyimpanan vitamin (Ressang, 1984).

Bobot dan Persentase Ginjal

Hasil rataan bobot dan persentase ginjal ayam broiler yang diberi penambahan zeolit (Aclinop) dalam ransum dan zeolit (alam) pada litternya tersaji pada Tabel 14.

Tabel 14. Rataan Bobot dan Persentase Ginjal Ayam Broiler Hasil Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Zeolit pada Litternya.

Taraf Aclinop dalam ransum (kg/100kg)

Taraf zeolit pada litter (kg/m2)

Rataan 0,0 (L0) 2,5 (L1) 5,0 (L2) ---Bobot Ginjal (g / e ) --- 0 (R0) 11,73 11,87 10,63 11,41 1 (R1) 11,71 12,39 13,04 12,38 2 (R2) 10,54 10,55 11,74 10,94 3 (R3) 10,96 11,93 11,20 11,36 Rataan 11,24 11,69 11,65 11,52 ---Persentase Ginjal ( % )--- 0 (R0) 0,64 0,65 0,62 0,64 1 (R1) 0,64 0,69 0,70 0,68 2 (R2) 0,57 0,57 0,59 0,58 3 (R3) 0,62 0,66 0,59 0,59 Rataan 0,62 0,64 0,60 0,62

Hasil penambahan Aclinop dalam ransum dan penaburan zeolit pada litter menunjukkan tidak terdapat pengaruh yang nyata terhadap bobot dan persentase ginjal. Rataan bobot ginjal hasil penelitian adalah 11,52 g/e atau rataan persentase 0,62%. Bobot dan persentase ginjal tertinggi terdapat pada perlakuan R1L2 yaitu sebesar 13,04 g/e atau 0,70% dari bobot tubuh. Persentase tersebut sesuai dengan hasil penelitian Wijaya (2010) yang memperoleh persentase ginjal berkisar 0,61-0,78% dan lebih tinggi daripada hasil penelitian Lubis et al. (2007) yang memperoleh persentasi ginjal sebesar 0,22-0,29% bobot hidup.

Ressang (1984) menyebutkan ginjal berperan dalam mempertahankan keseimbangan susunan darah dengan mengeluarkan zat-zat seperti air yang berlebih,

Dokumen terkait