• Tidak ada hasil yang ditemukan

14

Wawancara mendalam dilaksanakan selama 2 minggu mulai dari tanggal 6 - 20 Oktober 2016 dengan 9 responden. Responden adalah konsumen berasal dari berbagai profesi, yang sering menggunakan internet (lebih dari 4 jam/hari) dan sering melihat iklan banner dengan kategori produk high involement, serta konsumen yang pernah membeli maupun belum pernah membeli produk high involvement pada iklan banner. Tahap pertama dalam melakukan in depth interview tersebut adalah penyampaian knowledge produk high involvement pada iklan banner yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan awal kepada responden guna menjembatani jalannya in depth interview. Setelah penyampaian knowledge, peneliti memberikan pertanyaan yang kemudian di tanggapi oleh partisipan atau responden dalam wawancara tersebut. Dari hasil in depth interview yang dilaksanakan, lalu peneliti melaksanakan observasi selama beberapa minggu terhadap responden. Observasi dilaksanakan selama 2 minggu, sejak tanggal 21 Oktober- 4 November 2016. Observasi tersebut berguna untuk menggali lebih dalam kegiatan yang dilakukan oleh responden saat sedang memakai internet dan ketika melihat iklan banner apakah sesuai dengan yang diucapkan responden saat dilaksanakan wawancara sebelumnya atau tidak.

Persepsi Konsumen terhadap High Involvement Product pada Iklan Banner di Media Website

Saat in depth interview dilaksanakan, sebanyak 7 responden yaitu responden A (mahasiswa, 25 tahun), responden B ( mahasiswa, 25 tahun), responden C ( mahasiswa, 22 tahun), responden D ( mahasiswa, 22 tahun), responden E ( ibu rumah tangga, 39 tahun), responden G ( wirausaha, 45 tahun) dan responden H ( dosen, 62 tahun) menyatakan bahwa responden tidak membenci iklan apapun yang ditayangkan di website atau mempersulit responden dalam menggunakan web page asalkan iklan tersebut memiliki kriteria sebagai berikut: 1) sesuai dengan kebutuhan dan hobby 2) adanya kongruitas (kesesuaian) iklan dengan halaman web, 3) tidak mengganggu kenyamanan pengguna seperti menghalangi atau menutupi konten yang menjadi fokus tujuan pengguna saat sedang menggunakan website, 4) jumlah iklan dalam batas yang wajar dalam suatu halaman website, 5) tampilan iklan banner yang menarik dan kreatif, 6) iklan banner mengikuti perkembangan trend.

Berdasarkan hasil pra survei dan hasil pengamatan yang dilakukan peneliti sebelumnya pada mahasiswa, ditemukan bahwa mahasiswa cenderung memiliki persepsi yang negatif terhadap iklan banner dan menganggap iklan banner sebagai suatu spam. Namun, ternyata hasil penelitian menyatakan bahwa tidak semua yang profesinya sebagai mahasiswa memiliki

15

persepsi yang negatif terhadap iklan banner khususnya kategori high involvement product jika itu sesuai dengan kriteria di atas, bahkan dua di antara tiga mahasiswa yang menjadi responden dalam penelitian ini menyatakan pernah membeli produk high involvement dari iklan banner yang mahasiswa jumpai di website.

Enam responden juga berpendapat bahwa iklan banner khususnya high involvement produk yang membutuhkan perencanaan yang matang karena harga dari produk yang bisa dibilang mahal dan jarang di beli konsumen menarik untuk dilihat dan efektif dalam menarik perhatian publik karena media internet merupakan media yang paling efektif dan efisien untuk melakukan promosi asal tidak disalahgunakan dan tidak mengganggu kenyamanan pengguna.

Tiga responden lainnya berpendapat sebaliknya karena menurut responden iklan banner yang ada di website banyak dihindari oleh penggunanya karena dianggap mengganggu dan kurang menarik. Berikut ini adalah beberapa pernyataan yang diberikan oleh responden mengenai persepsi high involvement pada iklan banner yang baik.

“ iklan banner yang baik itu ya yang dalam satu halaman web Cuma berisi 2 sampai 3 iklan pokoknya jangan terlalu banyak jangan numpuk-numpuk, supaya konsumen juga bisa menikmati iklan tersebut.

yang desainnya juga tidak norak dan sesuai baik dari segi tampilan maupun penempatannya.”

(Narasumber D)

“ iklan banner yang baik yang sesuai pada tempat sih. Kaya misalnya kita sedang streaming tiba-tiba muncul iklan banner seperti pop up kan biasanya akan cenderung langsung ditutup, karena kurang efektif dan mengganggu kenyamanan pengguna itu sendiri. Sama yang tidak menutupi kontent yang mau dilihat. Iklan banner yang high involvement product menurut saya sudah baik sih, karena sangat memperhatikan baik itu penempatan, isi, tampilan, yang membuat iklan itu sendiri bisa dinikmati oleh konsumen” (Narasumber E)

Pernyataan responden D yang profesinya sebagai mahasiswa (22 tahun) dan responden E yang profesinya sebagai ibu rumah tangga (39 tahun) di atas berhubungan dengan kesesuaian (congruity). Kongruitas iklan online dengan laman website dapat diartikan sebagai suatu bentuk penyesuaian warna iklan dengan halaman website, penyesuaian konten iklan dengan laman website, ukuran iklan dengan space website (Sukandar, 2012). Hal ini juga berhubungan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan (fitzpatrick, 2000:53) dalam sukandar (2012) yang menyatakan bahwa adanya faktor ketidak sesuaian iklan dalam suatu website berpotensi memiliki dampak negatif bagi pengunjung website , yaitu munculnya resistensi terhadap iklan yang dapat berujung pada keengganan pengguna internet untuk kembali mengunjungi website tersebut. Tampilan iklan yang memiliki kongruitas atau kesesuaian yang tinggi akan lebih mudah untuk mengarahkan pembentukan sikap ke arah yang lebih positif.

16

Secara logis dapat dipahami mengapa para pengguna internet seringkali memiliki persepsi dan sikap yang negatif terhadap eksistensi iklan pada suatu website. Ada beberapa alasan, pertama, penambahan iklan pada suatu website akan memperlambat proses loading.

Kedua, penempatan iklan pada suatu website seringkali mengganggu kenyamanan pengguna website. Ketiga , penempatan iklan yang tidak sesuai pada akhirnya justru mengurangi aspek estetika website itu sendiri. Padahal estetika merupakan suatu nilai tambah daya tarik bagi suatu website dalam menarik para pengguna internet ( Newman, dk., 2004 : 274) dalam Sukandar (2012)

Hal tersebut sejalan dengan hasil in depth interview pada semua responden khususnya responden yang memiliki persepsi negatif terhadap iklan banner menyatakan bahwa iklan yang berukuran besar dan terlalu menutupi objek yang mau dilihat, iklan yang muncul secara tiba-tiba seperti Popup banner, adanya inkongruitas (ketidaksesuaian) iklan dengan laman web, iklan yang berisi konten tidak berbobot, dan iklan yang melebihi batas wajar dalam satu halaman web (adanya penumpukan iklan) serta membuat loading web menjadi lama membuat responden merasa risih dan terganggu. Jenis iklan Pop-up banner yang paling banyak tidak disukai oleh responden (6 responden). Iklan Pop-up adalah jendela iklan yang biasanya muncul tiba-tiba ketika ada pengunjung yang mengunjungi sebuah halaman web. Tanpa melakukan apapun, ketika pengunjung membuka sebuah halaman website, maka otomatis akan ada iklan yang tampil di jendela baru browser. Lebih jelas dapat dijelaskan dengan gambar sebagai berikut.

Gambar 6. Penumpukan iklan dan Pop Up banner

Gambar 6 yang terlampir di atas merupakan salah satu contoh jenis iklan banner yang paling banyak tidak disukai dan dihindari oleh responden. Adanya penumpukan iklan dalam

17

satu halaman website membuat estetika (keindahan ) web itu sendiri menjadi kurang. Selain itu, hadirnya Popup banner dalam web , isi banner yang kurang menarik dan tidak berbobot, serta penempatan iklan yang tidak sesuai membuat iklan banner itu sendiri tidak bisa dinikmati oleh konsumen dan justru membuat responden merasa risih dan terganggu karena membuat loading web tujuan responden menjadi lebih lama.

Dalam hal iklan banner dengan kategori high involvement product , keenam responden berpendapat bahwa iklan yang dipasang oleh pengiklan sudah dinilai baik dari segi tampilan yang menarik dan atraktif , isi dan penempatan yang sangat diperhatikan sehingga tidak mengganggu dan dapat dinikmati oleh responden.

Dari pernyataan responden dapat ditarik kesimpulan bahwa ada baiknya jika perusahaan yang ingin menggunakan iklan banner sebagai media promosi lebih memperhatikan tampilan dan isi iklan banner agar lebih menarik lagi, harus sesuai pada tempatnya yang tidak menutupi konten web dan yang tidak mengganggu kenyamanan pengguna. Adanya ketidak sesuaian (inkongruitas) iklan pada suatu halaman website, dapat menimbulkan dampak negatif baik dari segi persepsi dan sikap konsumen terhadap iklan dan website itu sendiri. Terutama pada produk, akan menimbulkan citra yang buruk di mata konsumen.

Perbandingan Persepsi Positif dan Negatif Konsumen Mengenai High Involvement Produk pada Iklan Banner

Dari hasil in-depth interview dengan sembilan responden, maka perbandingan persepsi positif dan negatif konsumen terhadap high involvement product pada iklan banner dengan tabel sebagai berikut.

Tabel 2. Persepsi positif dan negatif narasumber terhadap high involvement produk pada iklan banner di media website

KATEGORI PERSEPSI POSITIF PERSEPSI NEGATIF

Produk Sesuai dengan Kebutuhan dan Hobby Yang tidak relevan dengan kebutuhan dan hobi

Pesan atau isi iklan serta penempatan iklan

Sesuai dengan halaman web ( Congruity ), tidak menumpuk, tidak menutupi fokus tujuan

Adanya penumpukan iklan , menghalangi penglihatan dan muncul tiba-tiba seperti Pop up banner , isi biasa saja dan tidak berbobot

Lay Out Menarik dan kreatif Kurang menarik

18

Promosi, kualitas dan citra merek Mengganggu kenyamanan, slow down web browsing,sering tidak berhubungan dengan web,

Sumber : Data primer yang sudah di olah, 10 November 2016

Ketertarikan dan Tanggapan Konsumen terhadap High Involvement Product pada Iklan Banner di Media Website

Fenomena yang menarik di Indonesia saat ini pada konsumen atau pengguna internet ketika melihat iklan banner khususnya pada kategori produk high involvement adalah konsumen cenderung menghindari iklan di internet. Kebanyakan dari konsumen biasanya menutup adanya iklan-iklan yang masuk pada saat mereka melakukan searching di internet Lancot (Cho dan Choan, 2004:89). Bahkan banyak dari konsumen menggunakan aplikasi sejenis Adblock demi tidak melihat iklan lagi di jendela webiste konsumen.

Penelitian yang dilakukan mulai tanggal 6 Oktober- 4 November 2016 ini melibatkan 9 responden, semua responden menyatakan bahwa pernah melihat iklan banner dengan kategori produk high involvement di media website. Kategori iklan high involvement product yang sering dilihat adalah tiket perjalanan, elektronik, otomotif, teknologi atau peralatan rumah tangga, fashion dan kosmetik. Tiket perjalanan adalah kategori iklan banner high involvement yang paling banyak dijumpai. Ditemukan hasil yang berbeda dalam penelitian ini dari fenomena yang ada serta penelitian terdahulu tentang banyaknya penghindaran iklan di internet. Responden saat diberi pertanyaan mengenai ketertarikan mereka terhadap high involvement product pada iklan banner, 6 dari 9 responden mempunyai ketertarikan yang positif. Berdasarkan hasil in-depth interview yang sudah dilaksanakan, responden C , responden D, responden E, dan responden G mengatakan bahwa kebutuhan dan hobby merupakan faktor yang membuat responden tertarik untuk memperhatikan isi dari high involvement produk pada iklan banner tersebut karena relevan dengan apa yang responden butuhkan atau yang sedang dicari. Berikut adalah pernyataan yang dikemukakan oleh responden mengenai alasan ketertarikan terhadap iklan banner tersebut.

19

Terkadang kalau lagi tidak butuh melihat diskon yang gede tertartik, tetapi kebutuhan juga menjadi faktor ya buat tertarik. Oh, saya lagi cari barang ini, tiba-tiba ada iklan banner tiket pesawat misalnya, diskon lagi 40% membuat saya tertarik. “ (Narasumber C)

“Kalau yang sesuai dengan hobi ku yang berhubungan dengan fotografi seperti kamera, lensa, ya menarik, kalau ga ya ga.. kadang diskon terus update-update terbaru, desain nya ya sesuai sama tulisan menarik.” (Narasumber D)

“Ya aku orangnya suka kaya lihat-lihat kalau ada iklan-iklan gitu, terus kalau lagi ada promo kaya diskon terus sesuai sama apa yang mau aku cari ya aku klik iklan banner itu. Sama kalau tampilan iklannya menarik lah.” (Narasumber E)

“Biasanya sih aku lihat promo ya, kalau promo nya bikin aku tertarik terus cocok sama yang aku butuhkan, contohnya aku lagi butuh set alat-alat masak, kemudian ada iklan banner yang sesuai terus ada promo diskon, ya aku lihat iklan banner itu.” (Narasumber G)

Berdasarkan dari hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti, tanggapan responden ketika dihadapkan dengan iklan banner yang sesuai dengan hobby atau yang sedang responden cari, responden spontan meng-klik iklan banner tersebut untuk mencari informasi lebih lanjut terhadap produk yang ada di dalam iklan banner di website. Seperti responden C yang berumur 22 tahun dan profesinya sebagai mahasiswa, responden tersebut mengatakan bahwa sedang membutuhkan tiket pesawat untuk bulan Desember nanti. Berdasarkan hasil observasi, tanggapan responden C ketika melihat iklan banner tiket pesawat yang sedang dicari, responden langsung meng-klik iklan banner tersebut secara spontan dan melakukan pencarian informasi untuk membandingkan harga mana yang terbaik untuk responden C melakukan pembelian. Hasil dari observasi dan pernyataan dari keempat responden diatas sama dengan penelitian terdahulu yang dilakukan Siahaan (2011) yang menyatakan bahwa pada high involvement product, konsumen akan mencari informasi tentang produk, membandingkan harga, dan melakukan perencanaan yang matang untuk membeli produk dari iklan banner tersebut jika sesuai dengan hobby atau kebutuhan konsumen.

Faktor promosi menjadi salah satu pertimbangan responden dalam memperhatikan isi dari iklan banner selain faktor kebutuhan dan hobby. Beberapa jenis promosi yang sering disebut sebagai bauran promosi menurut Swastha (2009) adalah: (a) periklanan; (b) promosi penjualan; (c) personal selling; dan (d) public relation. Berdasarkan pernyataan yang dikemukakan 6 responden yang memiliki ketertarikan positif terhadap high involvement produk pada iklan banner, diskon adalah salah satu bentuk promosi penjualan yang ditawarkan perusahaan pengiklan yang membuat responden tertarik pada iklan banner tersebut dan mencari informasi lebih lanjut. Hal tersebut relevan dengan penelitian sebelumnya yang

20

dilakukan oleh Putra, Kumadji dan Yulianto (2016) yang menyatakan bahwa adanya diskon yang diberikan oleh masing-masing perusahaan dalam pemasaran produknya menimbulkan ketertarikan konsumen untuk memiliki dan membeli produk tersebut.

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, iklan banner yang membuat responden akhirnya tertarik untuk melakukan pencarian informasi lebih lanjut adalah seperti adanya iklan yang menampilkan potongan harga mulai dari puluhan ribu, ratusan, hingga jutaan seperti yang terlampir di gambar 3 (iklan banner JD.id), gambar 4 (iklan banner Belanja.com) dan gambar 5 (iklan banner Blibli.com). Iklan banner yang menawarkan kode voucher diskon dengan harga murah serta cicilan 0% seperti yang terlampir di gambar 4 (iklan banner Belanja.com) dan gambar 5 (iklan banner Blibli.com), yang biasanya jarang ditemukan di toko offline. Namun, biasanya juga terdapat syarat dan ketentuan yang berlaku dari perusahaan pengiklan atau hanya berbatas waktu beberapa hari saja. Lebih lanjut dapat dilihat gambar yang terlampir di bawah ini.

Gambar 3. Iklan Banner JD.id Gambar 4. Iklan banner Belanja.com

Gambar 5. Iklan Banner Blibli.com

21

Tanggapan responden jika responden dihadapkan dengan jenis iklan banner seperti pada gambar 3, gambar 4 dan gambar 5 yang terlampir di atas saat dilaksanakannya observasi, 4 dari 6 responden juga merekomendasikan ke teman-temannya. Rekomendasi yang diberikan berkaitan dengan informasi berupa diskon besar atau ketika terdapat promo yang menarik pada produk dalam iklan banner tersebut .

Faktor lain yang juga turut mendukung ketertarikan konsumen terhadap iklan banner adalah desain tampilan atau daya tarik iklan banner itu sendiri. Iklan yang menarik adalah desain iklan yang mampu mencuri perhatin konsumen mulai dari penyusunan pesan kunci, pemilihan warna yanng kontras, pemilihan kata-kata dan gaya bahasa, dan konsep desain yang kreatif. Sebuah iklan harus berani menawarkan suatu kreativitas, agar di mata konsumen terlihat berbeda atau unik dari iklan-iklan yang lainnya. Penyampaian pesan pun harus jelas dan terarah, agar dapat menciptakan daya tarik tersendiri terhadap produk yang di iklankan tersebut. Iklan yang menarik akan terus diingat oleh konsumen dan menciptakan tindakan lebih lanjut yang akan dilakukan oleh konsumen. IkIan yang menarik dan kreatif tentunya akan mempenaruhi keputusan pembelian (Swisstiani, 2014).

Hasil dari in depth interview menunjukkan bahwa Hobby, kebutuhan, tampilan lay out atau daya tarik iklan dan promosi yang diberikan perusahaan pengiklan menjadi alasan responden tertarik dengan iklan banner khususnya kategori high involvement. Promosi menjadi faktor utama yang membuat responden tertarik dengan iklan banner khususnya kategori high involvement product, selanjutnya adalah kebutuhan dan hobi. Jika itu sesuai dengan kebutuhan hobi atau kebutuhan responden, maka tanggapan responden bisa menuju ketahap selanjutnya yaitu pencarian informasi yang nantinya akan berujung ke arah keputusan pembelian atau berhenti di tahap itu. Di luar faktor-faktor tersebut, tanggapan responden ketika dihadapkan dengan iklan banner yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan hobby, isi dan tampilan iklan

22

yang biasa saja dan tidak terdapat promosi yang menarik, responden akan cenderung untuk mengabaikan atau menutup iklan banner tersebut karena dianggap mengganggu kenyamanan dang menghalangi fokus tujuan saat menggunakan internet.

Sikap Konsumen terhadap High Involvement Produk pada Iklan Banner di Media Website

Menururt Fishbein dan Ajzen (Engel, et al.) dalam Marhaini (2008), sikap adalah organisasi yang relative menetap dari perasaan, keyakinan, dan kecenderungan perilaku terhadap orang lain, kelompok, ide, ataupun objek tertentu. Terbentuknya sikap tidak terlepas dari pembelajaran yang dilakukan oleh konsumen, yakni melalui pengamatan, pengalaman, dan kesimpulan yang dibuat terhadap suatu objek sehingga akan dapat terbentuk sikap. Sikap memiliki variasi nilai, dimana variasi tersebut berupa sikap suka-netral-tidak suka maupun sikap positif-netral-negatif (Munandar dan Priatna, 2007)

Sikap terhadap iklan merupakan respon pengguna internet yang umumnya menggambarkan kesukaan atau ketidaksukaan pengguna terhadap iklan. Respon yang positif umumnya akan menghasilkan sikap yang positif terhadap iklan, dan respon yang negatif akan menghasilkan sikap negatif terhadap iklan. Saat ini, iklan internet telah menjadi kekuatan pendorong bagi inisiatif dan upaya periklanan (Kotler & Amstrong, 2009). Terdapat sikap positif dan negatif yang dirasakan oleh pengguna internet ketika melihat sebuah iklan yang ada di internet. Dari sisi positif, Menurut Korgaonkar dan Wollin (2002) yang Meneliti perbedaan antara pengguna web berat , menengah dan pengguna web ringan, hasil penelitian meyatakan bahwa “pengguna web berat cenderung memiliki keyakinan yang kuat tentang sikap terhadap iklan web yang berkemungkinan untuk niat pembelian yang kuat”. Hal ini juga dipertegas dengan penelitian yang dilakukan oleh Lau. Et,. Al. (2011) yang menyatakan bahwa pengguna internet berat percaya bahwa iklan online lebih bisa dipercaya, menghibur, informatif, dan bermanfaat, tetapi lebih sulit untuk dimengerti . Konsumen merasakan bahwa iklan web adalah hal yang baik , cukup penting, dan mengurangi biaya produk .

Namun, dari sisi negatif, penelitian menurut Lancot (Cho dan Choan, 2004:89) menjelaskan bahwa pihak pengiklan atau pemasar ternyata banyak mengalami kekecewaan setelah mengiklankan melalui media internet.Hal ini disebabkan karena kebanyakan pengguna internet menghindari iklan di internet. Hasil survei Vizu (2008) menyatakan bahwa 48.3%

audiens menganggap bahwa internet adalah media dengan iklan paling mengganggu, dan

23

35.9% menyatakan bahwa internet adalah media yang membutuhkan usaha paling banyak untuk menghindari iklannya. Untuk membuktikan tingginya fenomena penghindaran iklan ini, biro survei Vizu dan Greg Stuart melakukan survei kepada 2000 responden mengenai alasan mereka dalam menghindari iklan. Survei ini bertujuan untuk mengukur pendapat pengguna internet mengenai sikap mereka terhadap iklan di berbagai media, dan perilaku mereka dalam menghindari iklan. Hasilnya, 62% responden sangat tidak menyukai atau tidak menyukai iklan, 73% menganggap iklan sangat mengganggu, dan 56% menginginkan iklan untuk dilenyapkan sepenuhnya dari kehidupan mereka (Vizu, 2008:2). Hal ini dipertegas juga dari hasil penelitian Li, Edwards, dan Lee (dalam Cho dan Choan, 2004:90) menjelaskan bahwa hambatan sasaran yang dirasakan oleh periklanan secara signifikan mampu mempengaruhi penghindaran iklan di internet dikarenakan para pengguna internet terkadang lebih terarah pada sasaran atau objek mereka ketika menggunakan internet, dan pengguna internet mengganggap bahwa iklan melalui internet dirasakan lebih mengganggu dibandingkan dengan periklanan di media lainnya. Pengaruh ini didukung oleh hasil penelitian ini yang menunjukkan bahwa 70,4%

responden menyatakan hambatan yang dirasakan termasuk dalam kategori sedang dan 14,8%

sisanya merasakan bahwa hambatan yang dirasakan termasuk dalam kategori tinggi. Krugman (dalam Cho dan Choan, 2004:90) juga menjelaskan bahwa ketika seorang pengguna sedang berselancar dengan media internet dan tiba-tiba muncul iklan, maka hal tersebut dapat memberikan hasil yang tidak diinginkan, seperti kejengkelan, sikap negatif, dan penghindaran periklanan.

Hasil dari pendapat keenam responden yang menyatakan iklan banner di internet sebagai media yang efektif dan menarik dalam melakukan promosi bertolak belakang dengan hasil pra survei yang telah dilakukan sebelumnya dan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Hasil survei Vizu (2008) dan Lancot (Cho dan Choan, 2004:89) yang menyatakan bahwa iklan banner sebagai sesuatu hal yang negatif. Pada saat responden diberi pertanyaan mengenai sikap ketika menjumpai iklan produk high involvement, sebanyak 7 responden akan memperhatikan isi dari iklan banner tersebut jika sesuai dengan yang responden butuhkan dan inginkan dan 2 responden lainnya menyatakan langsung mengabaikan dan menutup iklan banner tersebut.

Keenam responden, yaitu responden A (mahasiswa, 25 tahun) , responden C (mahasiswa 22 tahun), responden D (mahasiswa 22 tahun), responden E (ibu rumah tangga, 39 tahun), responden G (wirausaha, 45 tahun), dan responden H (dosen psikologi dan bahasa, 62 tahun) bahkan menyatakan bahwa pernah membeli produk dari iklan banner yang mereka lihat.

24

Kategori iklan banner high involvement yang paling banyak di beli adalah tiket perjalanan ( 5 responden ) sisanya adalah fashion dan elektronik seperti gadget.

Hasil dari pendapat keenam responden di atas juga berlawanan dengan hasil penelitian dari Korgaonkar dan Wollin (2002) serta Lau. Et,. Al. (2011) yang menyatakan bahwa pengguna web berat cenderung memiliki keyakinan yang kuat tentang sikap terhadap iklan web yang berkemungkinan untuk niat pembelian yang kuat. Berdasarkan dari data ke enam responden, empat responden yang merupakan pengguna web ringan dan menengah (

Hasil dari pendapat keenam responden di atas juga berlawanan dengan hasil penelitian dari Korgaonkar dan Wollin (2002) serta Lau. Et,. Al. (2011) yang menyatakan bahwa pengguna web berat cenderung memiliki keyakinan yang kuat tentang sikap terhadap iklan web yang berkemungkinan untuk niat pembelian yang kuat. Berdasarkan dari data ke enam responden, empat responden yang merupakan pengguna web ringan dan menengah (

Dokumen terkait