4.1.Hasil
Berdasarkan hasil pengamatan dan analis data teknik sambung yang berbeda berpengaruh nyata tehadap luas daun, jumlah daun, panjang tunas sambung, diameter batang bawah dan berangkasan kering akar. Sedangkan terhadap panjang tangkai daun, diameter batang atas, persentase hidup dan berangkasn kering tajuk, teknik sambung tidak berpengaruh, (Tabel 1).
Tabel 1. Rangkuman hasil analisis variabel pertumbuhan dan perkembangan hasil sambung selama 42 hari setelah penyambunga (HSP)
Parameter Umur sambungan
14 HSP 21 HSP 28 HSP 35 HSP 42 HSP
Jumlah daun S S S S S
Luas daun S S S S S
Panjang tangkai daun S S S S NS
Panjang tunas sambung S S S S S
Diameter batang atas NS NS NS NS NS
Diameter batang bawah S S S S S
Persentase hidup NS NS NS NS NS
Berangkas Kering Akar - - - - S
Berangkas Kering tajuk - - - - NS
Keterngan : NS : Non Signifikan S: Signifikan
HSP: Hari setelah penyambungan
Tabel 2. Jumlah daun bibit jarak pagar hasil sambungan pada berbagai teknik
Keterangan : angka – angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata berdasarkan BNJ 5%.
Tabel 2 tampak bahwa teknik sambung berpengaruh nyata pada jumlah daun hasil sambung jarak pagar selama periode pertumbuhan (42 Hsp). Teknik sambung cemeti, teknik tangga dan teknik celah atas memiliki jumlah daun yang paling banyak dibandingkan jumlah daun bibit hasil sambung teknik celah bawah dan teknik sambung samping 2 entris
Tabel 3. Luas daun bibit jarak pagar hasil sambungan pada berbagai teknik sambung selam 42 HSP berbeda tidak nyata berdasarkan BNJ 5%
Berdasarkan Tabel 3 tampak bahwa teknik sambung berpengaruh nyata terhadap luas daun bibit jarak pagar selama periode 42 Hsp. Pada akhir pengamatan
luas daun pada bibit hasil sambung teknik cemeti, tangga dan celah atas lebih baik dibandingkan dengan luas daun teknik sambung samping 2 entris dan celah bawah.
Tabel 4. Panjang tangkai daun bibit jarak pagar hasil sambungan pada berbagai teknik sambung selam 42 HSP
Keterangan : angka – angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata berdasarkan BNJ 5%
Tampak pada Tabel 4 bahwa teknik sambung berpengaruh nyata pada panjang tangkai daun sambungan, kecuali pada umur 42 HSP, tetapi teknik sambung celah atas, teknik cemeti dan teknik tangga cendrung lebih baik dibandingkan dengan teknik celah bawah, teknik tangga dan teknik samping 2 entris.
Tabel 5. Panjang tunas bibit jarak pagar hasil sambungan pada berbagai teknik sambung selam 42 HSP
Teknik
Sambung Tunas sambungan (cm)
14 HSP 21 HSP 28 HSP 35 HSP 42 HSP
Keterangan : angka – angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata berdasarkan BNJ 5%
Seperti yang tampak pada Tabel 5 bahwa teknik sambung berpengaruh nyata terhadap panjang tunas sambungan. Pada umur 42 HSP tampak bahwa panjang tunas hasil sambung teknik cemeti, teknik tangga dan teknik celah atas lebih panjang (18,9-20,6 cm) dibandingkan teknik celah bawah dan teknik samping 2 entris (12-14,8 cm).
Tabel 6. Diameter batang atas bibit jarak pagar hasil sambungan pada berbagai teknik sambung selam 42 HSP
Teknik
Sambung Diameter batang atas (cm)
14 HSP 21 HSP 28 HSP 35 HSP 45 HSP
Keterangan : angka – angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata .
Tabel 7. Diameter batang bawah bibit jarak pagar hasil sambungan pada berbagai teknik sambung selam 42 HSP
Teknik
Sambung Diameter batang bawah (cm)
14 HSP 21 HSP 28 HSP 35 HSP 42 HSP
Keterangan : angka – angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata berdasarkan BNJ 5%
Pada Tabel 6 tampak teknik sambung tidak berpengaruh terhadap diameter batang atas selama periode pertumbuhan. Tetapi teknik sambung berpengaruh nyata
tehadap diameter batang bawah. Teknik sambung celah atas, teknik cemeti, teknik tangga dan teknik samping 2 entris memiliki ukuran yang lebih baik (2,4-2,6 cm), dibandinkan dengan teknik celah bawah (2 cm) (Tabel 7).
Tabel 8. Berat kering akar dan tajuk bibit jarak pagar hasil sambungan pada berbagai teknik sambung.
Teknik
Sambung Berat akar (g) Berat tajuk (g)
Celah atas 2,4 a 10,6
Celah bawah 0,9 b 9,7
Cemeti 2,2 a 10,6
Tangga 2,4 a 12,9
Samping 2E, 2,7 a 15,2
BNJ 0,05 1,4 -
Keterangan : angka – angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata berdasarkan BNJ 5%
Seperti yang tampak pada Tabel 8 bahwa teknik sambung berpengaruh nyata pada berat kering akar. Berat berangkas kering akar bibit hasil sambung teknik 2 entris sebesar 2,7 gram dan menunjukan berat tertinggi diantara teknik sambung lainya. Sedangkan berat berangkasan akar terendah ditunjukan oleh bibit hasil sambung dari teknik sambung celah bawah. Sedangkan terhadap berat kering tajuk teknik sambung tidak berpengaruh.
Tabel 9. Persentase hidup bibit sambung jarak pagar pada berbagai teknik sambung
Teknik Sambung Persentase hidup %
Celah atas 100
Keterangan : angka – angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada uji lanjut BNJ 5%
Pada Tabel 9 teknik sambung tidak berpengaruh terhadap persentase hidup, hal tersebut ditunjukan dengan tingkat sambungan hidup mencapai seratus 100 % Tabel 10. Laju Pertumbuhan panjang tunas dan jumlah daun sambungan pada
berbagai teknik sambung
Perlakua Laju pemanjangan panjang tunas (cm / minggu)
Keterangan : angka – angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada uji lanjut BNJ 5%
Pada Tabel 10 tampak bahwa teknik sambung berpengaruh nyata terhadap laju tumbuh panjang tunas sambung bibit jarak pagar periode 42 hari. Tampak bahwa laju pertumbuhan paling cepat terlihat pada teknik celah atas dan teknik tangga (2,2 cm) sedangkan teknik sambung celah bawah adalah terendah yaitu 0,8 cm. Pada Tabel 10 juga tampak bahwa teknik sambung berpengaruh nyata terhadap laju tumbuh jumlah daun sambungan bibit jarak pagar periode pertumbuhan. Laju
pertumbuhan paling cepat terlihat pada teknik tangga (1,7 helai) sedangkan terendah teknik samping 2 entris (0,8 helai)
4.2. Pembahasan.
Respon keberhasilan penyambungan telah dapat dilihat sejak bibit hasil sambungan telah mencapai fase dimana pertautan batang bawah (rootstock) dengan batang atas (entries). Keberhasilan awal dari penyambungan sudah dapat dilihat dari sejumlah sambungan yang tetap hidup (jadi) saat hari ke 14 hari setelah penyambunga dilakukan. Persentase sambungan hidup dari hasil penyambungan seluruhnya mencapai 100 %. Hal itu dikarena pertautan batang atas dan batang bawah mampu membentuk sambungan dengan baik dan kompatibel. Kompatibilitas tersebut juga didukung oleh jenis jaringan yang berasal dari tanaman satu jenis yaitu sesama Jatropha curcas walaupun beda genotipe. Menurut Santoso, (2009), kompatibilitas sambungan terjadi dengan baik dan cepat bilamana keduanya satu variatas atau memiliki kekerabatan yang dekat satu sama lainya. Hal itu juga diperkuat oleh pendapat Hartmann et al. (2002) proses penyatuan sambungan dimulai dengan pembentukan kalus pada kedua permukaan sambungan, lalu diferensiasi kalus menjadi kambium dan jaringan veskuler serta pembentukan xylem dan floem sekunder.
Perkembangan berikutnya adalah tampak segarnya batang sambungan dan dimulai dengan munculnya bakal daun, kemudian berkembang menjadi sehelai daun yang dilengkapi dengan organ tangkai sebagai penyokong. Itu berarti diharapkan entris mampu melakukan peran sebagai bidang dasar melekatnya dua organ penting seperti tangkai dan daun, selama proses bertambahnya ukuran.
Jumlah daun paling banyak ditunjukan oleh tiga teknik sambung yaitu teknik celah atas, teknik cemeti dan teknik tangga, sedangkan untuk jumlah daun yang paling sedikit yaitu teknik celah bawah dan teknik samping 2 entris. Sedikitnya jumlah daun dari kedua teknik sambung tersebut (celah bawah dan samping 2 entris) diduga yaitu disebabkan oleh bidang sambung pada masing-masing teknik tersebut.
Pada teknik celah bawah terindikasi bidang sambung tidak terjadi secara sempurna (rapat), yang berakibat lambatnya adaptasi tanaman hasil sambung dengan lingkungan tumbuhnya. Jika dibandingkan dengan teknik celah atas bidang sambung antar kedua batang, rekatnya kambium lebih luas dan himpitanya (tautan) lebih kuat.
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Marwatin (2013), bahwa teknik sambung celah atas adalah cara penyambungan yang paling aman, karena bidang perekatan antara batang atas dan batang bawah cukup besar.
Jumlah daun yang lebih sedikit pada sambung samping 2 entris diduga karena adannya beban fisiologis dan beban berat (fisik), yaitu tertautnya 2 batang atas (dua bidang sambung) pada satu batang bawah, sehingga calon daun yang baru tumbuh mendapat pasokan nutrisi yang tidak maksimal dari batang bawah. Menurut Kimball (1991) dalam Parsaulian (2012), pertumbuhan daun terjadi akibat pembelahan, pemanjangan dan diferensiasi sel-sel pada meristem dari kuncup terminal dan kuncup lateral yang memproduksi sel-sel baru secara periodik, sehinggga akan membentuk daun baru. Terbentuknya daun baru akan meningkatkan laju fotosintesis.
Semakin cepat laju ketiga proses tersebut, maka semakin cepat daun terbentuk dan sekaligus pertumbuhan, berikutnya yakni luas daun.
Teknik samping 2 entris memperoleh luas daun terkecil selama periode pertumbuhan. Hal ini diduga teknik sambung 2 entris dalam hal menggunakan energi tersimpan lebih besar, sedangkan kemampuan batang bawah menyuplai energi sama dengan teknik yang lainya karena berasal dari genotipe yang sama. Pada prinsipnya pertumbuhan daun dikendalikan faktor genetis tetapi juga dipengaruhi oleh faktor luar seperti pasokan air dan nutrisi (Mulyani, 2006). Jika dihitung secara matematis 2 cabang tunas kebutuhan energinya lebih besar jika dibandingkan dengan 1 tunas, ini berarti persediaan atau pasokan hara dan nutrisi dari perakaran (rootstock) lebih terbatas untuk individu tunas berikut dengan daunya sehingga kebutuhan berikutnya tidak terpenuhi dengan baik. Nitrogen adalah salah satu unsur hara yang diharapkan tetap ada dalam jumlah yang memadai agar dalam proses pertumbuhan bagian daun, ataupun batang tetap optimal. Hal ini didukung oleh pernyataan Lakitan (1996)
bilamana kosentrasi N tinggi umumnya menghasilkan daun yang lebih lebar.
Nitrogen dan nutrisi lainya tersedia cukup/banyak bagi teknik sambung yang melibatkan hanya satu tunas sambung.
Luas daun teknik sambung celah bawah lebih kecil dibandingkan jumlah daun pada teknik sambung celah atas, teknik cemeti dan teknik tangga, mengacu pada awal pertumbuhan (14 HSP), terlihat bahwa luas daun pada teknik celah bawah ini sangat rendah dibanding teknik lainnya, artinya bahwa teknik ini memang sudah menunjukan keadaan demikian sejak awal. Hal ini terindikasi bahwa penyatuan bidang sambungan yang lambat. Hartmann et al, (2002), menyatakan bahwa pertumbuhan tunas akan terganggu atau bahkan mati jika terjadi inkompatibilitas sambungan. Adanya perbedaan luas daun tiap macam teknik saambung yang digunakan ternyata tidak mengindikasikan adanya perbedaan yang menonjol untuk panjang tangkai daun pada umur 42 hsp.
Panjang tunas selama periode pertumbuhan dan perkembangan bibit, teknik celah atas, teknik cemeti dan teknik tangga memiliki panjang tunas lebih baik yaitu (18,9-20,6 cm) dibandingkan panjang tunas teknik celah bawah dan samping 2 entris (12,8-14,8 cm). Keberhasilan yang tampak pada teknik sambung celah atas, teknik cemeti dan teknik tangga mengindikasikan bahwa ketiga teknik sambung ini memiliki karakter pelaksanaan lebih mudah dan cepat dalam proses penyatuan pada saat penyambungan. Santoso dan Parwata (2013), menyatakan semakin mudah pembuatan belahan bidang sambung dan juga persiapan entris, maka semakin besar kemungkinan keberhasilan penyambungan karena semakin kecil kerusakan kambium.
Sehingga proses translokasi unsur hara dan dan air dari bawah ke atas atau translokasi hasil fotosintesis dari batang atas ke semua bagian tanaman terlaksana dengan baik.
Hal ini ditegaskan pula oleh Mathius et al. (2007) menyatakan bahwa sambungan yang tidak kompatibel mengakibatkan terjadinya hambatan translokasi nutrisi, air, hormon dan aktifitas enzim yang melewati daerah pertautan antara batang bawah dengan batang atas.
Perihal pertumbuhan dan perkembangan batang bawah perlu diketahui bahwa teknik sambung yang berbeda berpengaruh pada diameter batang bawah. Tampak bahwa diameter paling besar (2,4-2,6 cm) ditunjukan bibit hasil penyambungan dengan teknik celah atas, teknik cemeti, teknik tangga dan teknik samping 2 entris.
Sedangkan untuk diameter dengan ukuran paling kecil ( 2 cm ) di tunjukan oleh bibit hasil sambung teknik celah bawah. Pada teknik celah bawah diduga bahwa kontak batang atas dan batang bawah kurang tepat (klop). Kontak kambium yang tidak tepat atau partial dapat menyebabkan pertautan jaringan pembuluh antara batang bawah dan batang atas tidak sempurna, dan selanjutnya berakibat pada translokasi senyawa-senyawa penting untuk metabolisme pertumbuhan tanaman seperti transpor air dan unsur hara tidak dapat belangsung dengan lancar dari batang bawah menuju batang atas atau traslokasi hasil fotosintesis dari batang atas ke seluruh bagian tanaman (Tirtawinata, 2003).
Keberhasilan penyambungan pada prinsipnya memang ditunjukan dengan perubahan pertumbuhan, baik dalam bentuk jumlah ataupun ukuran. Pertautan antara batang atas dan batang bawah adalah faktor yang sangat menentukan fase selanjutnya. Kategori hasil penyambungan yang baik apabila ada singkronisasi setiap variabel pertumbuhannya baik jumlah daun, luas daun, panjang tangkai, pertumbuhan tunas dan perkembangan diameter batangnya. Selain dari beberapa variabel penting tersebut, variabel berangkasan kering adalah salah satu indikator yang sangat menentukan baik tidaknya hasil bibit yang telah diperlakukan.
Teknik celah atas, teknik cemeti, teknik tangga, teknik samping 2 entris dan memiliki berat berangkasan dengan kisaran 2,2-2,7 g. Sedangkan untuk teknik celah bawah berat berangkasan yaitu 0,9 g. Teknik sambung celah atas, teknik cemeti dan teknik tangga memiliki pertumbuhan yang paling baik, dari sisi jumlah ataupun luas daun. Ketiga teknik ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi jumlah dan luas daun akan memberikan peluang yang lebih besar untuk menghasilkan bahan makan melalui prosses fotosintesis. Hasil fotosintesis berupa senyawa-senyawa penting
inilah yang dikirim kebagian akar dan bagian lainnya. Suplai energi (karbohidrat) yang seimbang dari atas (daun), akan memacu pembelahan sel khususnya maristem pada akar. Setiawan (2009), menyatakan bahwa pada ujung akar terdapat jaringan meristem primer yang aktif membelah, memanjang dan berdifferensiasi yang mengakibatkan akar bertambah panjang
pada laju pertumbuhan tampak bahwa teknik sambung berpengaruh pada laju tumbuh panjang tunas entris (tabel 10) dan laju tumbuh jumlah daun. Pada laju perpanjangan tunas tampak jelas bahwa laju tercepat pada teknik celah atas dan teknik cemeti hal ini terindikasi dengan adanya bentuk penyatuan batang atas dan batang bawah lebih cepat (kompatibal), dengan demikian memberikan nilai positif pada tanaman untuk lebih awal melakukan pertumbuhan, khususnya pada jumlah daun. Keadaan inilah yang tidak dimiliki oleh celah bawah pada proses penyatuannya. Hartmann et al, (2002) jika pertautan kambium dari batang bawah dan batang atas semakin banyak dan jaringan kalus semakin cepat terbentuk, maka kemungkinan keberhasilan penyambungan tinggi. Keberhasilan penyambunagn ditandai dengan entris yang disambung tetap segar dan berwarna hija.
Terhadap laju pertumbuhan jumlah daun teknik sambung berpengaruh terhadap cepat lambatnya pertumbuhan daun tersebut. Teknik samping 2 entris memiliki laju terendah, hal ini diduga karena lambanya penyembuhan luka pada bidang sambungan. Selain itu juga kurangnya pasokan hara atau nutrient dari akar (batang bawah) serta hara dalam tanah cepat habis, akbat adanya penggunaan 2 entris.
Terkait dengan pertumbuhan tunas dan daun yang baru t umbuh pada batang atas, Crabbe dan Barnola, (1996), menyatakan bahwa tunas dan pucuk yang baru tumbuh merupakan sink yang kuat. Periode selanjutnya daun menjadi sink yang kuat agar daun cepat besar sampai ukuran maksimal dan akhirnya sebagai source (sumber fotosintat).
BAB V. PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan maka dapat dibuat beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1. Teknik sambung berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit jarak pagar hasil sambung dari batang bawah genotipe IP-1A dengan batang atas dari genotipe IP-1 NTB
2. Keberhasilan penyambungan mencapai 100 %, namun pertumbuhan bibit hasil sambung yang lebih baik ditunjukan oleh teknik sambung celah atas, teknik sambung cemeti dan tenknik sambung tangga.
5.2. Saran.
Untuk mengetahui kompatibilitas hasil sambungan (teknik sambung celah atas, teknik celah bawah, teknik cemeti, teknik tangga dan teknik samping 2 entris) perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menanam bibit tersebut di lapangan dan diamati hingga menghasilkan buah dan biji, untuk mengetahui potensi hasilnya.