Keadaan Umum Manggarai
terletak di Kecamatan Tebet di wilayah Ja i merupakan daerah dataran rendah dengan .15 m di atas permukaan laut, terletak pada 6 1060 48’ 00” Bujur Timur (BT). Pada Gamba
anggarai.
Gambar 2 Peta Administrasi Wilayah Manggarai
ah Manggarai sesuai dengan keputusan G ahun 1989 adalah 0,953 km2. Manggarai mem
erbatasan dengan Kali CIliwung
berbatasan dengan Kelurahan Manggarai Se erbatasan dengan Pasaraya Manggarai
erbatasan dengan Kelurahan Bukit Duri ah penduduk di Wilayah Manggarai pad
iwa dan jumlah rumah tangga sebanyak 7.3 sar 0,953 km2. Sehingga kepadatan pendudu wa/Km2. Manggarai terdiri dari 12 rukun wa
camatan Tebet tertinggi diantara berbagai
Jakarta Selatan. ketinggian rata- 60 15’ 80” Lintang bar 2 ditampilkan Gubernur KDKI miliki batas-batas elatan da tahun 2010 .368 dengan total duk di Manggarai arga. Kepadatan ai kecamatan di
wilayah Jakarta Selatan. Jenis penggunaan lahan di Manggarai dikelompokkan sebagai berikut: perumahan, industri, dan lain-lain. Persentase penggunaan lahan di Manggarai paling besar digunakan untuk perumahan yaitu sebesar 80.59 %, untuk industri 10.7 % dan paling kecil adalah lainnya yaitu sebesar 8.71 % (BPS 2011).
Manggarai memiliki identitas sebuah wilayah yang kumuh. Kesan tersebut timbul karena aktivitas di lingkungan tersebut yang identik dengan bangunan liar serta rakyat kelas bawah yang mengakibatkan masalah sosial seperti tingkat kriminalitas yang cukup tinggi. Bangunan-bangunan liar tersebut dibangun berdampingan pada bantara sungai Ciliwung, akibatnya terjadi pendangkalan dasar sungai sehingga mengakibatkan banjir.
Karakteristik Anak Balita
Karakteristik anak balita yang diidentifikasi dalam penelitian ini adalah jenis kelamin dan umur. Tabel 4 berikut menunjukkan sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin dan umur.
Tabel 4 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin dan umur
Karakteristik anak balita n %
Jenis Kelamin
Laki-laki 20 48.8
Perempuan 21 51.2
Total 41 100
Umur balita (bulan)
12-23 bulan 8 19.5
24-35 bulan 18 43.9
36-47 bulan 9 22.0
48-60 bulan 6 14.6
Total 41 100
Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa sebagian besar anak balita berjenis kelamin perempuan (51.2%) dan sisanya berjenis kelamin laki-laki (48.8%). Umur balita dikelompokkan ke dalam empat kategori, yaitu 12-23 bulan, 24-35 bulan, 36-47 bulan, dan 48-60 bulan. Umur balita berkisar antara 13-50 bulan dengan rata-rata 30.4±9.9. Sebagian besar anak balita berumur antara 24- 35 bulan (43.9%), sisanya berumur 12-23 bulan (19.5%), umur 36-47 bulan (22%), dan umur 48-60 bulan (14.6%). Tiga tahun pertama dalam kehidupan anak-anak merupakan masa yang paling sensitif karena masa tersebut dikaitkan dengan golden age atau masa pesat perkembangan otak. Hawadi (2001) dalam Khomsan (2010) menyatakan bahwa usia batita (anak di bawah usia tiga tahun)
adalah usia dimana anak menuju pada penggunaan bahasa, motorik, dan kemandirian.
Status Gizi Anak Balita
Status gizi merupakan keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan (absorb) dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara, salah satunya dengan antropometri.
Indeks status gizi balita antara lain berat badan (BB), tinggi badan (TB), dan umur (U). Status gizi dinilai berdasarkan indikator berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Pemantauan status gizi anak balita menggunakan baku Depkes RI (2008) dan dihitung berdasarkan skor simpang baku (z-skor). Status gizi anak balita dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Sebaran status gizi anak balita (BB/U) berdasarkan jenis kelamin Status Gizi
Jenis Kelamin
Laki-laki Perempuan Total
n % n % n %
Buruk 2 10 2 9.5 4 9.8
Kurang 2 10 4 19.0 6 14.6
Baik 16 80 15 71.4 31 75.6
Total 20 100 21 100 41 100
Status gizi anak balita berdasarkan berat badan menurut umur (BB/U) sebagian besar berstatus gizi baik (75.6%) yang tersebar seimbang pada balita berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, sedangkan sisanya memiliki status gizi buruk (9.8%) dan status gizi kurang (14.6%).
Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran massa tubuh. Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan yang mendadak, misalnya karena terserang penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Berat badan adalah parameter antropometri yang sangat labil. Berdasarkan karakteristik berat badan, maka indeks berat badan menurut umur digunakan sebagai salah satu cara pengukuran status gizi. Mengingat karakteristik berat badan yang labil, maka indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini (Supariasa 2002).
Tabel 6 Sebaran status gizi anak balita (TB/U) berdasarkan jenis kelamin Status Gizi
Jenis Kelamin
Laki-laki Perempuan Total
n % n % n %
Sangat pendek 4 20 4 19.0 8 19.5
Pendek 6 30 4 19.0 10 24.4
Normal 10 50 13 61.9 23 56.1
Total 20 100 21 100 41 100
Status gizi anak balita berdasarkan tinggi badan menurut umur pada Tabel 6 diatas dapat dilihat bahwa anak balita memiliki status gizi normal dengan proporsi sebanyak 23%, sedangkan yang berstatus gizi sangat pendek sebanyak 19.5% dan status gizi pendek sebanyak 24.%.
Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relatif kurang sensitif terhadap masalah kekurangan gizi dalam waktu pendek. Indeks ini menggambarkan status gizi pada masa lalu. Beaton dan Bengoa (1973) dalam Supariasa (2002) menyatakan bahwa indeks TB/U disamping memberikan gambaran status gizi masa lampau, juga lebih erat kaitannya dengan status sosial ekonomi.
Tabel 7 Sebaran status gizi anak balita (BB/TB) berdasarkan jenis kelamin Status Gizi
Jenis Kelamin
Laki-laki Perempuan Total
n % n % n %
Kurus 2 10 1 4.8 3 7.3
Normal 18 90 20 95.2 38 92.7
Total 20 100 21 100 41 100
Status gizi anak balita berdasarkan BB/TB sebagian besar normal (92.7%), sebagian kecil kurus (7.3%), dan tidak terdapat balita dengan status gizi sangat kurus atau gemuk (Tabel 7). Menurut Supariasa (2002) berat badan memiliki hubungan yang linier dengan tinggi badan. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menilai status gizi saat ini. Indeks BB/TB merupakan indeks yang independen terhadap umur.
Status Kesehatan
Status kesehatan seseorang berkaitan dengan keadaan penyakit yang dideritanya dan merupakan hasil dari proses interaksi antara faktor host, agen penyakit, dan lingkungan. Penyakit sendiri dipengaruhi oleh faktor lingkungan,
keadaan gizi dan imunitas serta akses terhadap layanan kesehatan (Patriasih et al 2009).
Status kesehatan yang diteliti pada anak balita adalah kejadian sakit, jenis penyakit, frekuensi penyakit, dan lama sakit yang pernah diderita selama dua minggu terakhir. Tabel 8 menunjukkan bahwa sebagian besar anak balita (61.0%) pernah mengalami sakit dan sebanyak 39.0% anak balita tidak mengalami sakit selama dua minggu terakhir. Menurut Notoatmodjo (2007) menyatakan bahwa indikator kesehatan individu adalah bebas dari penyakit atau tidak sakit, dan tidak cacat.
Tabel 8 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan
Status Kesehatan n %
Sehat 16 39.0
Sakit 25 61.0
Total 41 100
Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan bakteri, virus, jamur, protozoa, cacing, dan alga (Entjang 2000). Jenis penyakit yang sering dialami anak balita adalah batuk (46.3%), pilek (39.0%), dan demam (22.0%). Sebagian kecil anak balita mengalami sesak napas (2.4%) dan lain-lain (7.3%). Soemanto (1990) menyatakan bahwa jenis penyakit yang sering diderita anak balita adalah batuk, pilek, diare, dan panas badan. Sebanyak 39.0% anak balita mengalami lebih dari satu keluhan seperti batuk dan pilek, sisanya hanya mengalami satu keluhan (22.0%) dan tidak ada keluhan (39.0%). Menurut Sukarni (1989), masih tingginya angka kesakitan akibat ISPA di Indonesia disebabkan masih terbatasnya penyediaan air bersih, sarana pembuangan sampah dan air limbah, dan lingkungan perumahan yang kotor. Penyakit ISPA merupakan penyakit yang mudah ditularkan melalui udara.
Tabel 9 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit
Jenis Penyakit n % Batuk 19 46.3 Pilek 16 39.0 Sesak Napas 1 2.4 Demam 9 22.0 Lain-lain 3 7.3
∗ Jumlah n dipengaruhi oleh kejadian penyakit
Tabel 10 menunjukkan bahwa sebagian besar anak balita menderita sakit selama 1-3 hari yaitu batuk (22.0%), pilek (17.1%), dan demam (17.1%). Batuk, pilek, dan sesak napas termasuk infeksi pada saluran pernapasan (ISPA). Infeksi akut yaitu infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil
untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang digolongkan dalam ISPA. Proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari (Depkes 2004 dalam Fitriyani 2008).
Tabel 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama sakit (hari) Jenis Penyakit Lama Sakit 1-3 4-7 8-14 n % n % n % Batuk 9 22.0 8 19.5 2 4.9 Pilek 7 17.1 6 14.6 3 7.3 Sesak Napas 0 0.0 1 2.4 0 0.0 Demam 7 17.1 2 4.9 0 0.0 Lain-lain 1 2.4 2 4.9 0 0.0
Frekuensi sakit anak balita selama dua minggu terakhir, seluruhnya mengalami sakit dengan frekuensi 1 kali, namun tidak terdapat anak balita yang mengalami sakit dengan frekuensi 2 kali dan lebih dari 3 kali dalam dua minggu terakhir. Seluruh anak balita menderita penyakit batuk, pilek, dan demam sebanyak 1 kali (46.3%, 39.0%, dan 22.0%).
Tabel 11 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit Jenis Penyakit
Frekuensi Sakit (kali)
1 2 ≥3 n % n % n % Batuk 19 46.3 0 0.0 0 0 Pilek 16 39.0 0 0.0 0 0 Sesak napas 1 2.4 0 0.0 0 0 Demam 9 22.0 0 0.0 0 0 Lain-lain 3 7.3 0 0.0 0 0
Berdasarkan penelitian Dijaissyah (2011) dan untuk keperluan analisis, data skor status kesehatan diperoleh dengan cara mengalikan antara lama sakit dalam hari dengan frekuensi penyakit pada setiap jenis penyakit. Skor kesehatan anak balita dibagi menjadi tiga kategori melalui interval kelas, yaitu tinggi (0-4), sedang (5-9), dan rendah (10-14). Skor kesehatan anak balita dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12 Sebaran anak balita berdasarkan skor kesehatan
Skor Kesehatan n %
Rendah 3 7.3
Sedang 8 19.5
Tinggi 30 73.2
Tabel 12 menunjukkan bahwa skor kesehatan anak balita sebagian besar berada pada kategori tinggi ( 73.2%), dan sisanya skor kesehatan anak balita berada pada kategori sedang (19.5%) dan rendah (7.3%). Banyaknya anak balita dengan skor kesehatan dengan kategori tinggi menunjukkan bahwa sebagian besar anak balita memiliki status kesehatan yang baik yaitu dalam proses penyembuhan penyakit yang cepat. Skor kesehatan yang tinggi tersebut dipengaruhi oleh lama sakit dan frekuensi sakit yang diderita oleh anak balita.
Tabel 13 Sebaran anak balita yang sakit berdasarkan tindakan pengobatan
Tindakan Pengobatan n % Puskesmas 13 52.0 Klinik 3 12.0 Dokter Praktek 0 0.0 Rumah sakit 1 4.0 Rumah 8 32.0 Total 25 100
Berdasarkan Tabel 13 di atas dapat dilihat bahwa pelayanan kesehatan yang banyak dimanfaatkan dalam tindakan pengobatan untuk anak balita ketika sakit adalah puskesmas (52.0%). Akan tetapi, upaya pengobatan sendiri tanpa memanfaatkan pelayanan kesehatan yaitu di rumah saja dengan membeli obat warung masih banyak dilakukan ketika anak balita sakit (32.0%). Menurut Skinner (1938) dalam Notoatmodjo (2007) menyatakan bahwa perilaku pencarian pengobatan merupakan salah satu perilaku yang berhubungan dnegan kesehatan.
Karakteristik Keluarga Balita Besar Keluarga
Besar keluarga adalah banyaknya anggota keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak, dan anggota lain yang tinggal bersama dalam satu rumah dari pengelolaan sumberdaya yang sama. Sebaran responden berdasarkan besar keluarga dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga
Besar Keluarga n %
Kecil (≤4 orang) 26 63.4
Sedang (5-6 orang) 9 22.0
Besar (≥7 orang) 6 14.6
Jumlah anggota keluarga anak balita berkisar antara 2-9 orang dengan rata-rata 4.6±1.6. Sebagian besar contoh merupakan keluarga kecil dengan jumlah anggota ≤4 yaitu dengan proporsi 63.4%. Sebagian kecil anak balita merupakan keluarga sedang (22%) dan keluarga besar (14.6%). Menurut Sukarni (1989), besar keluarga mempengaruhi kesehatan seseorang atau keluarga karena akan mempengaruhi pula kesehatan anak-anak. Rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 2007).
Umur Orangtua
Umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas seseorang. Orang yang masih muda memiliki produktivitas yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh kondisi fisik dan kesehatan orang muda yang masih prima (Khomsan et al. 2007). Dilihat dari umur, baik ayah maupun ibu balita masih berada dalam usia produktif, yaitu rata-rata ayah 34.5 tahun dan rata-rata ibu 30.3. sebaran umur orangtua anak balita dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15 Sebaran orangtua berdasarkan umur
Kategori Umur Ibu Ayah
n % n % <20 tahun 1 2.4 0 0.0 20-40 tahun 36 87.8 32 80.0 41-65 tahun 4 9.8 8 20.0 Total 41 100.0 40 100.0 Rata-rata±Stdev 30.3±8.3 34.5±8.3
Berdasarkan Tabel 15 dapat dilihat bahwa baik umur ayah (76.9%) maupun umur ibu (85.4%) sebagian besar berada pada umur antara 20-40 tahun. Umur pada kisaran tersebut termasuk dalam kategori dewasa awal. Hurlock (1980) mengatakan bahwa orangtua muda, terutama ibu cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak, sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtua terdahulu.
Pendidikan Orangtua
Tingkat pendidikan orangtua merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pola asuh anak termasuk pemberian makan, pola konsumsi pangan, serta status gizi. Orang yang berpendidikan tinggi akan cenderung memilih makanan yang murah namun kandungan gizinya tinggi, sesuai dengan jenis pangan yang tersedia dan kebiasaan makan sejak kecil
sehingga kebutuhan zat gizi dapat terpenuhi dengan baik (Suhardjo 1989). Tabel 16 menunjukkan sebaran responden berdasarkan pendidikannya.
Tabel 16 Sebaran orangtua berdasarkan pendidikan
Tingkat Pendidikan Ayah Ibu
n % N % SD 16 40.0 17 41.5 SMP 7 17.5 10 24.4 SMA 14 35.0 14 34.1 Perguruan Tinggi 3 7.5 0 0 Total 40 100 41 100
Berdasarkan Tabel 16 dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan orangtua masih tergolong rendah. Sebagian besar pendidikan ayah yaitu SD dengan proporsi sebesar 40.0%, begitu pula dengan pendidikan ibu yang sebagian besar adalah SD (41.5%). Namun terdapat 7.5% responden ayah yang berpendidikan Perguruan Tinggi. Menurut Madanijah (2003) yang diacu dalam Ulfah (2008), pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak, karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya terhadap perawatan kesehatan, higiene, dan kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga. Menurut Sukarni (1989), pendidikan orangtua akan menentukan kesehatan, fertilitas, dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana.
Pekerjaan Orangtua
Pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan (Sukarni 1989).
Tabel 17 Sebaran orangtua berdasarkan pekerjaan
Jenis Pekerjaan Ayah Ibu
n % n % Tidak bekerja 0 0 0 0 Pedagang 6 15 2 4.8 Buruh 8 20 1 2.3 Pemulung 3 7.5 0 0 Jasa 11 27.5 1 2.3 IRT 0 0 37 92.6 Lainnya 4 10 0 0 PNS/ABRI/Polisi 1 2.5 0 0 Karyawan 7 17.5 0 0 Total 40 100 41 100
Berdasarkan Tabel 17 diatas menunjukkan bahwa sebagian besar ayah bekerja dibidang jasa (25%) contohnya bekerja sebagai tukang ojek. Sedangkan sebagian besar ibu berstatus sebagai ibu rumah tangga (85.4%). Pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan (Sukarni 1989).
Pendapatan dan Pengeluaran Keluarga
Pendapatan perkapita per bulan anggota keluarga anak balita dihitung berdasarkan jumlah pendapatan keluarga dibagi dengan besar keluarga. Rata- rata pendapatan per kapita anggota keluarga anak balita adalah Rp 533.388,00 dengan standar deviasi adalah Rp 294.027,00. Tabel 18 menunjukkan sebaran responden berdasarkan pendapatan menurut garis kemiskinan.
Tabel 18 Sebaran responden berdasarkan pendapatan keluarga
Kategori n %
Miskin 16 39.0
Tidak Miskin 25 61.0
Total 41 100.0
Berdasarkan Tabel 18 di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar (61%) responden termasuk keluarga tidak miskin dengan pendapatan perkapita anggota rumah tangga >Rp 379.052, dan sisanya sebanyak 39% termasuk rumah tangga miskin dengan pendapatan perkapita anggota keluarga ≤Rp 379.052. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. Pendapatan keluarga akan menentukan alokasi pengeluaran pangan dan non pangan sehingga apabila pendapatan keluarga rendah maka akan mengakibatkan penurunan daya beli (Firlie 2010). Pada Tabel 19 menunjukkan pengeluaran pangan responden.
Tabel 19 Sebaran responden berdasarkan pengeluaran pangan
Pengeluaran pangan n %
>45% 34 82.9
<45% 7 17.1
Total 41 100.0
Berdasarkan Tabel 19 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden (82.9%) menggunakan lebih dari 45% pendapatannya untuk pangan. Kelompok yang berpendapatan rendah pada umunya mempunyai proporsi paling besar untuk pengeluaran pangan. Berlawanan, dengan kelompok masyarakat berpendapat tinggi, mereka mengalokasikan lebih pendapatan untuk non pangan
(Sukandar 2007). Di negara-negara berkembang, orang-orang miskin hampir membelanjakan pendapatannya untuk makanan. Di India Selatan keluarga- keluarga yang miskin menghabiskan 80 persen anggaran belanjanya untuk makanan, sedangkan di negara-negara maju hanya 45 persen (Berg 1986).
Pengetahuan Gizi Ibu
Pengetahuan gizi merupakan salah satu jenis pengetahuan yang dapat diperoleh melalui pendidikan. Pengetahuan gizi merupakan aspek kognitif yang mencirikan seseorang memahami tentang gizi, pangan, dan kesehatan (Sukandar 2007). Tabel 20 menunjukkan sebaran responden berdasarkan pengetahuan gizi.
Tabel 20 Sebaran responden berdasarkan pengetahuan gizi
Kategori n %
Baik (>80%) 13 31.7
Sedang (60-80%) 24 58.5
Kurang (<60%) 4 9.8
Total 41 100
Tabel 20 menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan gizi sedang dengan proporsi 58.5%, sedangkan responden dengan pengetahuan gizi tinggi sebesar 31.7% dan masih ada responden yang memiliki pengetahuan yang rendah dengan proporsi 9.8%. Notoatmodjo (2007) mengatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.
Sikap Gizi Ibu
Sikap adalah suatu reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu. Sikap akan mempengaruhi proses berpikir, respon afeksi, kehendak, dan perilaku berikutnya (Notoatmodjo 2007).
Tabel 21 Sebaran responden berdasarkan sikap gizi
Kategori n %
Baik (18-20) 17 41.5
Sedang (15-17) 17 41.5
Kurang (12-14) 7 17.1
Tabel 21 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu memiliki sikap gizi dalam kategori baik dan sedang (41.5%) dan hanya 17.1% ibu memiliki sikap gizi dalam kategori kurang. Sikap gizi ibu merupakan sikap ibu yang dapat membedakan mengenai makanan yang bergizi dan aman untuk dikonsumsi serta dalam pemilihan makanan dan zat gizi. Sikap biasanya memainkan peranan utama dalam membentuk perilaku. Sikap yang positif akan menumbuhkan perilaku yang positif dan sikap negative akan menumbuhkan perilaku yang negatif.
Perilaku Gizi Ibu
Perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktifitas seseorang yang bersangkutan. Perilaku merupakan hubungan antara perangsang (stimulus) dan respon (Skinner 1933 dalam Notoatmodjo 2007). Perilaku adalah pola praktek yang terjadi berulang-ulang dan telah menjadi kebiasaan.
Tabel 22 Sebaran responden berdasarkan perilaku gizi
Kategori n %
Baik (21-25) 14 34.1
Sedang (20-16) 18 43.9
Kurang (11-15) 9 22.0
Total 41 100
Berdasarkan Tabel 22 dapat dilihat bahwa sebagian besar perilaku gizi ibu yang memiliki anak balita berada dalam kategori sedang (43.9%), baik (34.1%), dan masih terdapat ibu yang memiliki perilaku gizi kurang (22%). Menurut Sumintarsih et al. (2000), menyatakan bahwa meskipun didukung oleh pengetahuan yang menumbuhkan suatu sikap dan keyakinan atas sesuatu, belum menjamin bahwa seseorang akan bertindak sesuai dengan apa yang diketahui dan dipahaminya. Perilaku gizi tidak muncul dalam individu tersebut (internal), melainkan merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungannya (Khomsan 1993 dalam Jayanti 2011).
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Ibu
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan cerminan pola hidup keluarga yang senantiasa memperhatikan dan menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga. Menurut Yoon et al. (1997) dalam Safitri (2010), perilaku hidup sehat adalah perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya. Tabel 23 menunjukkan sebaran responden berdasarkan PHBS.
Tabel 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS Kategori n % Baik (13-16) 13 31.7 Sedang (9-12) 17 41.5 Kurang (5-8) 11 26.8 Total 41 100
Tabel 23 menunjukkan bahwa secara umum perilaku hidup bersih dan sehat ibu yang memiliki anak balita sebagian besar masih tergolong sedang (41.5%), sebagian kecil sudah baik (31.7%), namun masih ada yang tergolong rendah (26.8%). Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan perilaku yang berkaitan dengan kegiatan seseorang dalam meningkatkan dan mempertahankan kesehatan. Rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat ibu diduga ibu belum memahami mengenai pentingnya untuk berperilaku bersih dan sehat. Nilai perilaku hidup sehat contoh yang baik diharapkan dapat mencerminkan kondisi kesehatan contoh, karena denga perilaku hidup yang sehat berarti telah melakukan usaha pencegahan terhadap penukaran penyakit.
Sanitasi Lingkungan
Sanitasi lingkungan adalah usaha-usaha pengendalian dari semua faktor- faktor lingkungan fisik manusia yang menimbulkan atau dapat menimbulkan hal yang merugikan bagi perkembangan fisik, kesehatan, dan daya tahan hidup manusia. Rumah yang ditempati oleh responden ada yang milik sendiri, milik orangtua, dan ada yang mengontrak, dengan luas rumah rata-rata rumah 21.5 m2. Luas rumah bila dibandingkan dengan jumlah penghuni (luas ruangan perorang) akan menggambarkan tingkat kepadatan suatu rumah. Menurut Sukarni (1989), luas ruangan perorang yang baik adalah >10 m2/orang, cukup antara 7-10 m2/orang, dan yang kurang <7 m2/orang.
Berdasarkan Tabel 18, sebesar 31 % responden memiliki luas ruangan per orang dengan kategori kurang (<7 m2/orang). Sebagian besar responden memiliki lantai rumah dari keramik (51.2%) namun dengan atap seng ( 61%). Sebesar 73.2% keluarga yang memiliki jendela namun hanya 29.3% memiliki ventilasi yang memadai. Tidak lebih dari separuh responden yang memiliki kamar mandi dan jamban yaitu sebesar 46.3% dan 39.0, serta tidak satu responden pun yang memiliki septic tank.
Tabel 24 Sebaran responden berdasarkan kondisi fisik rumah
Kondisi Fisik Rumah n %
Jenis lantai
a. Tanah 0 0.0
b. Keramik 21 51.2
c. Semen 10 24.4
d. Papan/bamboo 10 24.4
Bagian rumah berupa tanah
a. Ya 0 0.0 b. Tidak 41 100.0 Atap a. Seng 25 61.0 b. Genteng 3 7.3 c. Asbes 13 31.7 Jendela a. Ada 30 73.2 b. Tidak 11 26.8
Kepemilikan kamar mandi
a. Ya 19 46.3
b. Tidak 22 53.7
Kepemilikan jamban/WC
a. Ya 16 39.0
b. Tidak 25 61.0
Kepemilikan septic tank
a. Ya 0 0.0 b. Tidak 41 100.0 SPAL a. Ya 16 39.0 b. Tidak 25 61.0 Ventilasi memadai a. Ya 12 29.3 b. Tidak 29 70.7
Kepadatan luas ruangan
a. kurang (<7m) 31 75.6
b. cukup baik (7-10) 5 12.2
c. baik (>10m) 5 12.2
Lebih dari separuh responden tidak memiliki saluran pembuangan air limbah (61%). Hal ini karena anggota keluarga mengalirkan limbah langsung ke sungai. Pemukiman yang sanitasinya tidak baik seperti tidak tersedia air bersih, jamban, tempat pembuangan sampah, tidak tersedia saluran pembuangan air kotor memungkinkan seseorang dapat menderita penyakit infeksi yang menyebabkan seseorang kurang gizi.
Tabel 25 Sebaran responden berdasarkan sanitasi lingkungan Kategori n % Rendah (14-18) 21 51.2 Sedang (19-23) 10 24.4 Baik (24-28) 10 24.4 Total 41 100
Berdasarkan Tabel 25 menunjukkan bahwa sebagian besar sanitasi lingkungan responden berada pada kategori rendah (51.2%), sisanya pada kategori sedang dan tinggi sebanyak 24.4%. Pemukiman yang sanitasinya tidak baik seperti tidak tersedia air bersih, jamban, tempat pembuangan sampah, tidak tersedia saluran pembuangan air kotor memungkinkan seseorang dapat menderita penyakit infeksi yang menyebabkan seseorang kurang gizi.
Sumber Air
Air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman, sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. 2002).
Tabel 26 Sebaran responden berdasarkan sumber air
Sumber Air Minum Masak Lain-lain
n % n % n % Sungai 0 0.0 0 0.0 0 0.0 Sumur/mata air 13 31.7 26 63.4 40 97.6 PAM 1 2.4 1 2.4 1 2.4 Air pikulan 2 4.9 7 17.1 0 0.0 Air gallon 29 70.7 7 17.1 0 0.0
Tabel 26 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (70.7%) menggunakan air galon untuk minum, sedangkan untuk masak sebanyak 63.4% responden menggunakan air sumur/mata. Sumber air yang digunakan untuk mandi dan mencuci, sebagian besar responden (97.6%) menggunakan sumber air sumur/mata air. Pada umumnya, sumber air bagi keperluan rumah tangga berasal dari sumur. Air sumur harus memenuhi syarat kesehatan sebagai air rumah tangga, maka air sumur harus dilindungi dari pencemaran dan harus memperhatikan bahwa jarak sumur dengan sumber kotoran minimum 10 m (Sukarni 1989).
Positive Deviance
Positive deviance merupakan suatu keadaan penyimpangan positif yang
tertentu dengan anak-anak lain di dalam lingkungan masyarakat atau keluarga yang sama (Zeitlin et al. 1990). Kebiasaan keluarga yang menguntungkan sebagai inti positif deviance dibagi menjadi tiga atau empat kategori utama yaitu